Saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk semua sambutan dan saran yang diberikan, dan saya akan memperbaiki lagi apa yang teman-teman semua arahkan.

Dan untuk mangekyou ayahnya Naruto saya sudah memasukkannya ke dalam image manager saya yang mempunyai tiga ujung lurus dan untuk mangekyou Naruto yang tiga ujung melengkung, jujur untuk mendeskripsikan sebuah Mangekyou cukup sulit untuk saya, takutnya tidak sesuai dengan apa yang saya pikirkan dengan yang teman-teman bayangkan.

Masih membahas Mangekyou, ada yang mengatakan bahwa Mangekyou Naruto itu terlalu dipaksakan. Tapi menurut beberapa artikel yang saya baca, mata Sharingan itu pada dasarnya akan bangkit sesuai dengan kesedihan dan kebencian yang dirasakan si pengguna. Sama seperti Obito yang membangkitkan Sharingannya yang langsung memiliki dua tomoe saat melihat rekannya Kakashi terluka, dan Mangekyou nya saat melihat Rin terbunuh. Atau Itachi dan Sasuke membangkitkan Mangekyou mereka masing-masing saat menyaksikan orang yang mereka kasihi tewas.

Kesimpulannya, Mangekyou Naruto juga saya samakan dengan rincian kebangkitan seperti di atas. Dan untuk masalah Eternal Mangekyou nya untuk sekarang sepertinya masih terlalu awal, mengingat usia dan pengetahuannya. Naruto memang mengetahui tentang EMS dari monumen batu Uchiha, tapi itu hanya sebatas mengetahui. Karena mengingat usia yang sangat amat muda jadi tidak mungkin ia bisa memahami apa yang diketahuinya itu.

Satu lagi yang akan saya bahas, untuk saat Naruto membaca monumen batu Uchiha. Saya membuat Naruto bisa membacanya murni ketidak sengajaan atau ketidak sadarannya, karena sesaat sebelum membaca Mangekyou Naruto telah bangkit dikarenakan kebencian dan kesedihan yang ia rasakan dan saat membacanya Mangekyou Naruto masih aktif.

Semoga alasan di atas cukup logis untuk menyelesaikan masalah tentang Mangekyou Naruto.

Dan kalau masalah rinnegan bisa iya, bisa juga tidak Naruto miliki. Karena walau hanya dengan Sharingan saja saya sudah bisa menilai bahwa itu termasuk overpower. Tapi lihat keadaan kedepannya dulu.

Untuk pairnya, belum ditentukan sampai batas waktu yang tak ditentukan juga. Jadi, mohon bersabar yang mau pair.

Mungkin itu saja untuk chapter kemarin, selamat menikmati chapter ini...

M

K

.

.

.

Pagi hari menjelang, kehidupan baru pun dimulai bagi semua penduduk desa Konoha. Termasuk bagi siswa akademi yang digadang-gadang menjadi prodigy Uchiha, yakni Uchiha Sasuke.

Duduk di tepi ranjang pasien tenpatnya beristirahat, setelah tadi malam ia ditemukan oleh seorang ANBU bawahan Hokage ketiga. Menundukkan wajahnya yang kini terlihat murung. Masih segar di ingatannya tentang bagaimana kakaknya, kakak yang menjadi panutannya, kakak yang begitu disayanginya, dan kakak yang selalu menemaninya itu dengan kejam dan tanpa perasaan membantai keluarganya sendiri. Merubah dirinya, merubah Uchiha Sasuke yang dulu selalu ingin melampauinya, selalu menyayangi kakaknya. Berubah menjadi pendendam, ia akui bahwa dia kini membenci kakaknya itu. Bahkan untuk memanggilnya kakak saja ia tidak sudi lagi sekarang.

Yang dinginkannya dan sekaligus menjadi tujuannya mulai sekarang adalah kematian Itachi, kematian si penghianat klan itu. Dan ia bersumpah akan membunuhnya dengan tangannya sendiri. Dan kini Sasuke masih mengingat pesan yang diucapkan Itachi saat mengirimnya ke tempat yang penuh rasa sakit itu. Ya, setelah melihat mata kakaknya yang berbeda dari Sharingan yang ia ketahui. Tiba-tiba semua berubah.

Langit bukan lagi dihiasi langit hitam dengan awan yang menutupi bulan, tapi yang dilihatnya saat itu adalah langit merah dengan bulan yang hampir menyamai merahnya darah.

Waktu berputar cepat kala ia menyaksikan bagaimana anggota klan dibunuh satu persatu, semuanya mati tanpa tersisa. Entah itu anak-anak, pria, wanita, ataupun orang tua. Semua dibantai dengan tanpa perasaan.

Dan diakhir penyiksaan itu, Itachi menghampiri dirinya dan berkata dengan nada suara yang sangat datar.

"Kau sangat lemah, aku tidak akan membunuhmu karena kau sangat lemah. Jadilah kuat, jadilah sangat kuat dan datanglah kepadaku. Datanglah dan akan ku bunuh dirimu, Sasuke."

Rahang Sasuke mengeras dikala ia mengingat lagi perkataan Itachi kala itu. Dirinya tak habis pikir, kenapa hanya ia yang disisakan? Kenapa hanya dirinya yang dibiarkan hidup? Kembali perkataan Itachi terlintas di ingatannya. Perkataan tentang rahasia klan Uchiha yang ada di kuil Naka, perkataan tentang mata barunya yang baru ia ketahui bernama Mangekyou Sharingan, tahapan selanjutnya dari Sharingan seorang Uchiha.

"Kalau kau ingin menjadi kuat, datanglah ke kuil Naka. Disana ada sebuah monumen batu, dan di monumen itu berisi semua rahasia klan Uchiha. Rahasia mata terkutuk Sharingan, sampai rahasia dunia shinobi ini sendiri. Pergilah kesana Sasuke, dan datanglah kepadaku dengan kebencian dan niat membunuh yang besar!"

Kini tekad Sasuke sudah bulat, ia akan berlatih untuk menjadi kuat. Terkuat dari yang terkuat, dan pergi mencari Itachi untuk membunuhnya.

'Aku bersumpah akan membunuhmu, Itachi.' batin Sasuke sambil mengepalkan kedua tangannya hingga memutih dan hampir berdarah.

Kemudian setelah itu, Sasuke turun dari ranjangnya dan berjalan ke arah pintu keluar. Kedua tangannya mengepal erat, tujuannya hanya satu sekarang. Yaitu pergi ke kuil Naka dan menemukan semua rahasia Sharingan untuk membunuh Itachi.

Setelah menyentuh gagang pintu ruangannya, Sasuke tanpa membuang waktu langsung menggeser pintu tersebut bersamaan dengan kedua kelopak matanya yang ia kedipkan sekali dan iris matanya pun berubah.

Kini terlihatlah mata merah darah berhiasan tomoe yang berjumlah dua. Walau hanya dua tomoe, tapi rasa sakit yang dipancarkan mata terkutuk itu sangatlah besar. Aura kesengsaraan telah dikeluarkan oleh mata itu membuat beberapa orang yang melihatnya berjalan di koridor rumah sakit itu sedikit bergidik ngeri dan mengambil jarak aman.

Sementara Sasuke sendiri tampak tidak memperdulikan reaksi orang-orang yang melihatnya dan sedikit menjauh darinya. Karena yang ada di pikiran sang Uchiha kini hanyalah bagaimana cara membunuh Uchiha Itachi.

'Cih.. Menyebut namanya saja sudah membuatku ingin membunuhnya. Ia tak pantas menjadi seorang Uchiha.' kata Sasuke dalam hatinya sambil terus melangkah keluar dari Rumah Sakit Desa Konoha.

M

K

Di kuil Naka sendiri, tepatnya di ruangan rahasia terlihat seorang bocah emo tengah tertidur dengan beberapa gulungan berserakan di sekelilingnya. Terlihat juga guratan kekhawatiran yang kentara di wajahnya dan beberapa butir keringan yang mengalir menandakan bahwa bocah itu kini tengah bermimpi buruk.

Dengan sesekali menggerakan tubuhnya ke kanan dan ke kiri ia bergumam 'Tidak' atau 'Kaa-san' terus berulang kali. Hingga...

"TIDAKKK... Hahh.. Hahh.. Hahh.." posisi bocah bernama lengkap Uchiha Naruto itu kini telah duduk. Masih dengan keringat yang mengalir dan pupil mata yang melebar karena efek mimpi buruknya tentang kejadian semalam.

Bahkan efeknya masih hingga beberapa menit kemudian, Naruto bahkan masih membayangi sosok bertopeng dengan satu mata Sharingan di mata kanannya yang seakan menjadi backroundnya kini.

Beberapa menit berlalu dan nafas Naruto kini sudah mulai teratur. Mengedarkan pandangannya, ia pun teringat bahwa saat ini dirinya sedang berada di ruangan rahasia milik orang tuanya yang bahkan semua anggota Uchiha tidak mengetahuinya, termasuk pemimpin klan Uchiha Fugaku.

Ruangan yang tidak besar juga tidak kecil, dengan rak-rak menghiasi kedua sisinya, kanan dan kiri. Dengan pintu keluar di depannya dan serangkaian perlengkapan shinobi di belakangnya yang ia yakini milik kedua orang tuanya, tak lupa di tengah-tengah ruangan tersebut terdapat dua sosok tubuh manusia yang seperti terpenjara di dalam balok es.

Kembali Naruto mengedarkan pandangannya menatap gulungan-gulungan yang mengisi ruangan tersebut. Bukan cuma itu, terlihat juga jubah, berbagai macam syuriken dan kunai di tempat perlengkapan shinobi.

Dan sekarang ekspresi Naruto berubah menjadi seperti orang yang berpikir keras. Bocah yang usianya baru menginjak 8 tahun itu terlihat berpikir keras begitu melihat perlengkapan shinobi milik orang tuanya.

'Sekarang dimana tempat yang cocok untuk ku jadikan tempat latihan?' batin Naruto dengan tangan kanan yang memegang dagunya dan tangan kiri yang bersidekap di dada.

Sebuah ingatan kembali muncul di otaknya, ingatan tentang perkataan ayahnya saat ia pertama kali masuk ke ruangan ini dan menyentuh balok es tempat tubuh ayahnya tersimpan kemarin.

Flashback..

Nuansa oranye menyambut pengelihatan Naruto, saat ini dirinya tidak berada di ruangan tadi. Tempat ini hampir mirip dengan tempatnya bertemu dengan ibunya beberapa saat yang lalu. Namun, yang membedakan hanyalah warna cahayanya saja. Jikalau tempatnya bertemu dengan ibunya untuk yang terakhir kalinya itu bernuansa putih. Berbeda dengan tempat ini yang nuansanya oranye semua, sejauh mata memandang hanya ada oranye.

Tak lama setelahnya muncul beberapa partikel cahaya berwarna biru, partikel cahaya itu perlahan menyatu dan membentuk sosok seorang pria dewasa dengan wajah yang hampir mirip dengan Izuna Uchiha dan memiliki rambut ravel sepanjang bahu. Pria itu memakai baju standar shinobi konoha setingkat Jounin.

Mengerjap beberapa kali hingga pandangannya melihat dengan jelas sosok Naruto kecil yang menatapnya intens.

Melihat itu, Arashi nama pria itu hanya memandang Naruto datar. Dan dengan suara datar khas Uchiha Arashi akhirnya berucap.

"Siapa kau? Kenapa kau bisa masuk ke tempat rahasia ku?"

Naruto tanpa takut maju selangkah dan mendongak menatap wajah datar Arashi. Membalas ucapan pria itu dengan nada biasa, tidak sedingin perkataan pria paruh baya di depannya ini.

"Namaku Uchiha Naruto, aku menemukan tempat itu berkat arahan dari ibuku, Uchiha Miyuki." mendengar jawaban Naruto, Arashi hanya menyeringai kecil yang bahkan tidak bisa dilihat oleh Naruto di depannya. Arashi tentu tidak terkejut, karena yang bisa membuka pintu ruangan itu hanya dirinya dan keluarganya saja.

"Hoo.. Jadi kau putraku, tidak kusangka kau akan menemuiku secepat ini. Ada apa? Dan dimana ibumu?" ucap Arashi kembali dengan nada yang sama seperti ucapan sebelumnya.

Sedetik kemudian raut wajah Naruto berubah, dari biasa-biasa saja menjadi menunduk dengan raut sedih yang tersirat jelas di wajahnya.

Melihat bahwa putranya menunduk dan tidak menjawab pertanyaannya membuat alis Arashi sedikit mengangkat, ia tidak suka bila seseorang tidak menjawab pertanyaannya.

Lantas Arashi kembali bersuara setelah terlalu lama menunggu namun tak kunjung mendapatkan jawabannya. "Jawab Naruto, apa yang terjadi dan dimana ibumu?"

Naruto tetap diam untuk beberapa saat, hingga akhirnya ia memberanikan diri kembali mendongak dan menjawab dengan nada datar yang entah ia kuasai dari mana.

"Ibu telah meninggal, aku disini berkat arahan darinya. Klan dibantai oleh sosok misterius yang sepertinya juga seorang Uchiha. Aku tidak tahu apakah masih ada Uchiha lain yang selamat atau tidak. Yang pasti aku akan membalaskan dendam klan Uchiha kepada pria bertopeng itu." ujar Naruto menjelaskan situasi yang diketahuinya, dan ia pun menunggu respon apa yang diberikan oleh pria yang mengaku sebagai ayahnya ini.

Sedangkan dengan Arashi sendiri, ia terdiam mendengar jawaban anaknya itu. Lebih tepatnya ia terdiam begitu mendengar bahwa Miyuki, istri tercintanya itu telah menyusulnya. Dan kini mereka meninggalkan putra mereka seorang diri di dunia yang kejam itu.

"Apakah Tou-san hanya diam saja?"

Lamunan Arashi pun pecah begitu suara Naruto kembali terdengar oleh telinganya. Pandangannya pun kembali menatap Naruto yang sedang menatapnya seperti menunggu jawaban apa yang akan ia berikan.

Arashi pun menghela nafas dan kembali memandang Naruto. Namun, kali ini pandangannya bukanlah datar seperti tadi. Pandangan Arashi kini menajam dan serius.

Setelah itu Naruto di tanya oleh ayahnya mengenai Sharingan, apakah ia telah membangkitkan Sharingannya atau tidak. Dan Naruto pun menjawab sudah. Naruto juga sempat melihat bentuk Mangekyou ayahnya yang bentuknya seperti sebuah syuriken namun bermata tiga yang tajam dan lurus.

Naruto juga di ajari trik pengendalian dasar mata Sharingan oleh ayahnya, hingga kini ia mengetahui bahwa untuk mengaktifkan dan menonaktifkannya hanya tinggal mengendalikan aliran chakra yang menuju kedua matanya saja. Setelah itu diberikan sedikit cara untuk berlatih dan memasteri Sharingannya.

Naruto juga mengatakan bahwa ia memiliki Mangekyou, tapi ayahnya tidak mengizinkan ia memakai mata tersebut sampai benar-benar memasteri Sharingan tiga tomoe miliknya. Selain itu ia juga menceritakan tujuannya setelah menjadi kuat ia akan membuat rencana untuk mengubah dunia ini. Dan ayahnya hanya mengangguk tanpa berkomentar apapun. Seperti mendukung tapi ada yang mengganjal sedikit. Namun hal itu tidak terlalu difikirkan oleh Naruto, yang penting ayahnya menyetujui rencana yang ia buat.

Brrtttt..

Sebuah suara terdengar membuat lamunan Naruto terganggu. Ketika menoleh, Naruto melihat bahwa pintu yang ia lewati untuk memasuki ruangan ini perlahan tertutup hingga sepenuhnya tertutup menyisakan kegelapan.

Tak lama setelahnya ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat. 'Ada orang? Kalau dia mengetahui tempat ini berarti dia...' mata Naruto melebar karena pikirannya sendiri.

Dengan cepat ia mengaktifkan Sharingannya membuat ruangan itu sedikit tidak bisa melihat ruangan tersebut. Berjalan menuju salah satu sudut ruangan ia pun melihat sebuah lubang disana.

'Sesuai pemberitahuan Tou-san, aku bisa melihat keluar melali lubang ini.' batin Naruto lagi sambil mendekatkan wajahnya dan melihat keluar.

Yang dilihat olehnya adalah seorang anak laki-laki yang mungkin seumuran dengannya tengah berdiri di depan monumen batu dengan Sharingan menyala. Dan tomoe yang dilihat oleh Naruto pada Sharingan anak itu baru berjumlah dua, yang artinya anak itu baru membangkitkan Sharingannya.

"Tunggu dulu, bukankah dia Sasuke Uchiha. Anak dari pemimpin klan, Uchiha Fugaku." gumamnya begitu tersadar bahwa ia mengenali anak yang saat ini dilihatnya. Terlihat anak itu memasang ekspresi sedikit bingung, mungkin dia tidak mengetahui makna yang tertera di monumen batu, ucap Naruto dalam hati sembari terus mengawasi anak bernama Sasuke itu.

M

K

Di tempat yang sama dan waktu yang sama pula, saat ini Sasuke tengah mendecih begitu membaca isi dari monumen batu klan Uchiha di depannya ini. Begitu banyak kata-kata yang tidak ia pahami, dan hanya sedikit informasi yang ia dapatkan.

Mendecih lagi, Sasuke memutuskan meninggalkan ruangan itu setelah membaca keseluruhan pesan yang ada di batu tersebut. Melangkah menaiki beberapa anak tangga, Sasuke mulai meninggalkan tempat rahasia klannya tanpa menyadari bahwa ia tengah di amati oleh sesosok atau lebih tepatnya seseorang yang sama dengannya.

.

Setelah keluar dari ruangan sebelumnya, Sasuke telah di tunggu oleh dua orang bertopeng hewan dengan tanto di punggung dan rompi besi yang membalut tubuh mereka. Salah seorang dari keduanya yang melihat Sasuke yang baru saja keluar segera mendekat dan berkata.

"Uchiha Sasuke, kami di perintahkan oleh Sandaime-sama untuk menjemput anda dan mengantar anda kembali ke rumah sakit." ucap ANBU dengan topeng kucing tersebut yang dari suaranya bisa di tebak bahwa ia adalah seorang perempuan, dilihat dari rambut ungu panjangnya juga telah memastikan bahwa ANBU itu perempuan.

"Hn." tanpa memperdulikan kedua ANBU tersebut, Sasuke terus saja berjalan melewati keduanya yang kemudian di susul di belakangnya kedua ANBU itu terlihat berjalan pelan.

Berjalan di jalanan utama desa, Sasuke terus berjalan dengan muka datarnya. Tak di perdulikan beberapa bisikan-bisikan dari para penduduk desa yang membicarakan tentang dirinya atau klannya yang dibantai.

Terus berjalan bersama dua orang ANBU di belakangnya, hingga Sasuke pun kembali ke ruangannya yang sempat ia tinggalkan tadi. Dan kedua ANBU itu juga sudah pergi setelah dirinya memasuki ruangan.

Memutuskan untuk beristirahat, Sasuke pun menaiki ranjang dan merebahkan tubuhnya. Rasanya ia sangat lelah saat ini, selain badannya, mentalnya juga telah hancur akibat kejadian semalam. Memejamkan matanya, Sasuke pun kembali beristirahat untuk memperbaiki kondisi prikologisnya yang saat ini hancur.

M

K

Berpindah ke sebuah ruangan yang lumayan besar, di tengah ruangan tersebut telah berlutut dua orang ANBU yang tadi ditugaskan untuk membawa Uchiha terakhir, menurut mereka, itu kembali ke rumah sakit. Dan di depan mereka juga terlihat seorang pria tua bersurai putih mengenakan baju kebesarannya tengah duduk di kursi yang hanya boleh diduduki oleh pemimpin desa atau yang disebut sebagai seorang Hokage.

Dan pria tua itu merupakan Hokage generasi ketiga yang berjuluk profesor karena pengetahuannya akan dunia shinobi. Seharusnya Hokage saat ini sudah mencapai generasi keempat. Namun, karena amukan Kyubi beberapa tahun silam membuat Hokage keempat atau bisa disebut Yondaime tewas karena mengorbankan dirinya untuk menyegel Kyubi yang kemudian disusul oleh sang istri akibat kuku tajam Kyubi menembus tubuhnya.

Hokage ketiga menatap kedua ANBU asuhannya itu dengan tangan menompang dagu berjenggotnya. Sementara dua orang yang ditatap hanya diam menunggu. Beberapa saat ruangan tersebut hening tanpa suara, dan keheningan itu terus berlanjut sampai akhirnya Sandaime, sebutan untuk Hokage ketiga, mengeluarkan suaranya.

"Bagaimana Inu, Neko?" tanya Sandaime Hokage yang bernama asli Hiruzen dari klan Sarutobi itu kepada kedua ANBUnya. Dan yang kemudian menjawab adalah ANBU bertopeng Anjing, atau yang dipanggil Inu.

"Misi selesai, Hokage-sama. Uchiha Sasuke ditemukan di pintu masuk kuil Naka yang bekas reruntuhan distrik klan Uchiha. Kini, ia telah berada di rumah sakit Konoha." jawab ANBU Inu setelah tak lupa masih dengan posisi berlutut tanpa mendongakkan kepalanya. Sementara itu, ANBU Neko masih tetap diam membiarkan rekannya itu yang menjawab.

"Baiklah, untuk sekarang Neko kau boleh kembali..!" ANBU Neko segera menjawab patuh dan menghilang dengan sunshinnya, "Dan untukmu, Inu. Kau lanjutkan misimu mengawasi Menma. Aku takut penduduk desa kembali menyiksanya.!" lanjut Hiruzen membuat ANBU Inu segera bergegas setelah menjawab perintah Hokage tersebut.

Ruangan Hokage pun hening kembali dan menyisakan Hokage ketiga yang saat ini telah membalikkan kursinya menghadap ke arah pemandangan desa Konoha yang dipimpinnya. Raut sedih terpampang jelas di wajah tuanya, mengingat anak dari Hokage generasi setelah dirinya yang seharusnya menjadi pahlawan desa malah dianggap iblis dan disiksa oleh penduduk desa itu sendiri. Sungguh miris, batin Hokage tua itu.

"Maafkan aku Minato, Kushina." lirih Hiruzen ditengah keheningannya. Dan setelah itu ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti tadi.

Tapi pekerjaannya kembali terhenti begitu pendengarannya menangkap suara ketukan di pintu masuk ruangannya. Ia pun menyuruh siapa saja yang mengetuk tadi untuk segera masuk.

Pintu ruangan itu terbuka pelan, dan begitu terbuka sepenuhnya yang terlihat adalah seorang anak bersurai merah jabrik tengah tersenyum lebar kepadanya. Anak itu mengenakan baju kaos putih dengan gambar spiral di bagian perutnya, dia juga mengenakan celana pendek hitam dan sandal jepit biru.

"Halo Jiji, kau sedang sibuk ya?" tanya anak itu sambil menutup kembali pintu yang dimasukinya tadi dan berjalan mendekati meja Hokage.

Sementara Hiruzen kini tersenyum lembut dan menjawab, "Tidak juga, Menma-kun. Ada apa kau kemari? Tidak seperti biasanya." anak yang di panggil Menma itu kembali tersenyum tapi tidak selebar yang tadi.

"Yosh.. Jiji, apakah aku boleh masuk akademi shinobi? Aku ingin menjadi shinobi yang hebat, Jiji." jawab Menma dengan semangat yang lagi-lagi membuat Hiruzen kembali tersenyum begitu mendengar penuturan bocah di depannya ini.

"Memangnya kalau kau sudah menjadi shinobi yang hebat kamu mau jadi apa, Menma-kun?" tanya Hiruzen lagi, dan Menma pun memasang raut berpikir sebelum menjawab dengan lantang dan membuat Hiruzen sampai tertegun karenanya.

"Tentu saja menjadi seorang Hokage, Hokage yang bahkan lebih hebat dibanding Hokage-Hokage sebelumnya. Termasuk kau Jiji."

M

K

Matahari agak turun ke arah barat dengan sinar jingganya, menandakan sebentar lagi ia akan digantikan oleh sang dewi malam. Dan kini beralih ke tempat Naruto Uchiha berada, dimana ia tengah berdiri di depan pagar pembatas yang terdapat banyak sekali tanda peringatan. Menurut informasi yang ia peroleh dari gulungan-gulungan peninggalan ayah dan ibunya, hutan di depannya ini ialah hutan kematian. Naruto sendiri juga bingung kenapa dinamai seperti itu, tapi buat apa peduli, pikir Naruto.

Karena tujuannya ke hutan kematian ini bukan untuk menyelidiki kenapa namanya begitu, tapi tujuannya adalah menuju ke suatu tempat yang letaknya berada jauh di dalam sana. Di dalam hutan gelap nan mencekam itu terdapat sebuah tempat yang juga rahasia ayahnya.

Tempat rahasia itu juga terdapat sebuah training ground yang biasa digunakan ayahnya dalam berlatih, dan akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke tempat itu dan akan tinggal disana selama masa pelatihannya. Bersembunyi sebentar sebelum tujuannya dimulai.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, dengan menaikan sedikit tas yang berada di punggungnya ia pun kembali melangkah namun bukan ke arah depan. Melainkan ke arah kirinya, karena di depan gerbangnya terkunci rapat hingga membuatnya harus mencari jalan masuk yang lain.

Cukup lama ia berjalan dengan sebuah gulungan peta di genggamannya sebagai penunjuk jalan. Berjalan terus sambil mengamati sekitarnya, sampai akhirnya ia melihat jalan masuk yang mungkin menjadi akses satu-satunya untuk masuk ke hutan kematian. Akses masuk yang ia lihat itu berupa sebuah lubang yang cukup besar pada pagar pembatas yang menjadi penghubung hutan kematian itu dengan desa Konoha.

Setelah telah sampai di bagian lain atau telah berada di dalam hutan kematian. Naruto semakin memantapkan hatinya dan mulai melangkah kedalam hutan gelap itu yang ditambah dengan matahari yang sebentar lagi tenggelam menambah kegelapan hutan itu. Suara-suara binatang malam mulai terdengar mengiringi perjalanan Naruto, dan sebagai anak kecil tentu ia merasa apa itu yang dinamakan rasa takut. Tapi dengan yakin Naruto terus berjalan sambil mencoba mengabaikan rasa takutnya.

Terus berjalan, dan terus berjalan. Hingga sebuah suara semak-semak yang bergetar mengalihkan pandangannya.

Srrkkk..

Srkk..

Pandangan Naruto mulai menajam mengamati semak-semak itu, suara dan getaran pada semak-semak yang Naruto amati semakin mendekat dan semakin mendekat membuat jantungnya seperti suara seseorang bermain drum dengan cepat.

Ketika getaran dedaunan semak-semak itu semakin mendekat dan hampir mencapai Naruto, tiba-tiba sesosok bayangan terlihat meloncat ke arah Naruto yang membuat kedua pupil mata Naruto melebar dan membuat Naruto berteriak keras. Karena yang melompat ke arahnya itu adalah seekor..

M

K

(tbc)

Okey, chapter ini saya putus sampai disini. Bila masih ada kesalahan mohon dibimbing, karena di pelajaran Bahasa Indonesia nilai saya tidak terlalu tinggi jadi agak kurang mengerti bagaimana cara mendeskripsikan sesuatu apalagi karakter seorang tokoh..

Dan bila ada sesuatu yang masih mengganjal, jangan sungkan untuk bertanya.

Terakhir untuk chapter ini,, sampai jumpa di chapter selanjutnya...