.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Family

Warning: OOC, Typo(s), Semi-Canon, Authornya masih amatir *geplak*, alur kecepetan, dll

.

.


.

"Ini dimana?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Himawari secara reflek. Ia bisa melihat seorang wanita berambut merah panjang yang sedang memasak. Wanita cantik itu kemudian menoleh dan tersenyum mendapati anak perempuan dengan dua pasang garis di pipinya sudah bangun.

"Konnichiwa...Kamu sudah sadar rupanya-ttebanne. Apa kamu lapar?" tanya wanita cantik itu dengan senyuman lebar. Hima mengangguk pelan, tanda ia cukup lapar. Wanita itu mengambil piring dan mengisinya dengan berbagai macam nasi dan lauk yang sudah di masaknya. Ia kemudian memberikannya kepada Hima dan duduk berhadapan dengan Hima.

"Makanlah. Pasti kamu lelah. Bisa ceritakan siapa dirimu?"

Himawari menyendokkan makanan yang di sediakan wanita cantik itu ke dalam mulutnya dengan pelan.

"Uzumaki Himawari, anak bungsu Nanadaime Hokage..."

"He... Margamu sama denganku. Mungkin kita bersaudara jauh, ya? Seingatku orang yang berketurunan Uzumaki sudah semakin sedikit." tawa Kushina dengan ramah dan kembali menyambungnya, "Ini rumahku. Kamu tadi pingsan tepat di depan rumah dan tidak mungkin aku tega meninggalkan anak kecil yang pingsan di depan rumahku. Ada pertanyaan, Hima-chan?"

"Dimana Boru-nii?"

.

.

"Anda bercandanya tidak lucu sekali-ttebasa," ucap Boruto cepat ke pada paman yang wajahnya mirip dengan patung Yondaime Hokage itu. "Mana Hima? Jangan sampai kamu bilang kalau dia juga mati..."

"Semua orang yang berada di sini sudah mati. Aku pun juga sudah. Mungkin ia terjatuh di tempat yang berbeda denganmu. Lebih baik kamu beristirahat di rumahku untuk malam ini." Ucap paman itu dan dengan senyuman ramah menyambungnya. "Aku Namikaze Minato. Maaf terlambat memperkenalkan diri."

Boruto mengangguk mengerti walau ia masih khawatir dengan keadaan adiknya itu. "Uzumaki Boruto-dattebasa," ucap Boruto memperkenalkan dirinya sendiri. Pria bernama Minato itu mengangguk dan kemudian membantu Boruto untuk berdiri.

"Ayo pulang ke rumah, Boruto-kun."

.

.

Himawari menjatuhkan sendok yang di pegangnya. ekspresi wajahnya yang biasanya lembut kini berubah menjadi kaget dan takut di saat yang bersamaan. "Bibi pasti bohong. Tidak mungkin... aku tidak mau percaya!" Seru Himawari. Bulir bulir air mata menetes keluar menuruni pipinya, sambil sesekali terisak. Kushina mendekatkan dirinya pada Himawari dan memeluknya seerat yang ia bisa, berusaha menenangkan anak perempuan yang tampaknya ketakutan dan tidak mempercayainya. "Aku mau pulang! Biarkan aku pergi!" seru Hima sambil berkali kali mengusapkan tangannya pada pipinya, berusaha menghapus air mata yang menuruni pipinya itu.

"Hima-chan, kendalikan dirimu, kumohon..."

Hima mengusap matanya, masih menangis walau tidak sehisteris tadi. Ia mulai merasa tenang dan nyaman di pelukan Kushina. Tak butuh waktu lama, isakan yang Himawari keluarkan sudah sepenuhnya lenyap.

"Syukurlah kamu sudah tenang..." ucap Kushina sambil mengelus-elus rambut Himawari. Himawari mengangguk pelan. "Aku sudah lebih baik, Bibi Kushina..." jawab Himawari pelan. Kushina tersenyum lembut padanya.

"Tadaima... Ayo masuk saja. Anggap saja rumah sendiri..." Suara seorang pria terdengar dari balik tembok. Kushina lantas berdiri dan menyambut suaminya itu. Hima lantas berjalan mengekori Kushina. Namun, suara seorang anak laki laki yang sangat familiar terdengar di telinganya.

"Aku tahu, aku tahu-ttebasa!"

Hima mempercepat langkahnya, kini ia berlari di depan Kushina, menyongsong orang yang menjadi saudaranya itu.

"BORU-NII!"

Langkah anak laki laki berambut pirang yang berbentuk daun itu terhenti melihat adik kesayangannya berada tepat di depannya.

"HIMA?!"

.

.

"Untunglah kalian bisa bertemu kembali-dattebane!" seru Kushina sambil meletakkan dua piring makanan di atas meja makan. Boruto dan Hima menyunggingkan senyum lebar. "Apa kalian sudah ke Eden?" tanya Kushina lagi yang jelas saja membuat Boruto dan Hima kembali di liputi pertanyaan.

"Eden? Apa itu?"

"Mereka belum pernah kesana, Kushina. Mereka baru tiba. Aku berencana mengantar mereka kesana besok pagi kalau mereka sudah siap." Jawab Minato dan kembali menyambungnya, "Eden adalah gerbang yang memperbolehkanmu masuk ke dunia ini seutuhnya. Kalau namamu ada di buku yang di bawanya, kamu boleh berada di tempat ini. Tapi kalau tidak... tempatmu berada di Neraka."

Tubuh Boruto bergidik ngeri. Ia mulai merasa takut kalau kalau ia masuk ke dalam Neraka. Hima yang melihat nii-channya yang kelimpungan itu cuma bisa terkekeh kecil. "Hayoloh, Boru-nii... siapa ya.. yang suka corat-coret patung Hokage..."

"Ck, Diamlah, Hima!"

.

.

- Pagi Hari -

.

.

"Sudah siap semua?" tanya Minato yang disambut dengan anggukan cepat dari Boruto dan senyuman manis dari Himawari. Kushina tersenyum riang sambil mengunci pintu. "Kalian semua harus kuat mental karena perjalanan kita baru akan dimulai." Ucap Kushina.

"Memangnya butuh berapa lama, Bi Kushina?" tanya Boruto sedikit penasaran. Senyuman lebar hinggap di wajah Kushina.

"Cuma sebentar kok! Hanya 38 hari dan 20 jam kalau jalan kaki-ttebane!"

"GEH! Lama banget-ttebasa! Tidak bisa di persingkat?"

Kushina kemudian membalik tubuhnya dan di punggungnya itu menggembanglah sepasang sayap berwarna putih cemerlang. "Lihat? Kita disini semua memiliki sayap-ttebane! Cobalah, Boruto, Hima-chan!" Seru Kushina riang. Boruto dan Hima memasang ekspresi kaget dan kagum. Keduanya secara serempak segera memasang kuda-kuda seperti yang tadi Kushina lakukan. Sepasang sayap putih mengembang dengan indah di punggung Hima, lain halnya dengan Boruto yang mengeluarkan suara kentut.

'Tuuuuuuuuuut...'

"Boru-nii, kentutmu bau..."

Minato dan Kushina menahan tawa. Hima tersenyum penuh kemenangan pada sang nii-channya itu. Wajah Boruto memerah karena malu. Ia mengulangi langkah yang sama dan tidak ada apapun yang terjadi. Tubuh Boruto gemetar ketakutan.

"Hayoloh nii-chan... kamu nggak punya sayap soalnya kamu kan harusnya di neraka..."

"Berisik, Hima! Jangan mengangguku! Aku cuma butuh monsentrasi saja-dattebasa!"

Boruto melakukan hal yang sama untuk yang ketiga kalinya. Ia menutup kedua matanya agar bisa lebih berkonsentrasi.

'Berkembanglah kumohon! Jangan masukkan aku kedalam Neraka!'

Sepasang sayap putih akhirnya berkembang di punggung Borut. Namun, berbeda dengan kepunyaan Hima, sayap Boruto bentuknya jauh lebih kecil dibandingkan milik Hima, nyaris seperti tempelan saja. Tawa terdengar dari mulut sang Adik yang tampaknya bahagia melihat kakaknya memiliki sayap yang berukuran mini. Kushina dan Minato sama sama tertawa juga, membuat wajah Boruto semakin merah.

"Cukup! Jangan tertawa lagi-dattebasa!"

Minato yang paling cepat berhenti tertawa itu hanya tersenyum dan mengangguk pada Boruto. Boruto mendengus sebal dan melihat beberapa orang lain yang sedang terbang juga.

"Ayo kita berangkat-ttebasa!"

.

.

TBC


.

Gomennasai, minna! Author updatenya kelamaan... Akhir akhir ini tugas author numpuk dan author belom sempet nyentuh laptopkuran lebih selama dua minggu #malah curhat. Oke, By the way saya harap chapter ini sedikit agak panjang.

Oke, daripada kepanjangan. saya udahan dulu deh. Beberapa jam lagi saya juga harus ke sekolah.

Salam subuh,

-PriscallDaiya-