Title : Qlavistier

Rate : T (bisa berubah sesuai pergerakan alur dan mood author)

Chara : obvious enough

Pairing: obvious enough (too)

Theme : Fantasy

Note :

(1) bold dan italic words : suara hati character ^^/

(2) Lenn tidak merasa ini adalah crossover, sekalipun Ocs terinspirasi dari LoM. Memang juga tidak sepenuhnya OCs, tapi bukan berarti Lenn mengadaptasi karakteristik dari LoM. Lenn akan berusaha se...Oc mungkin ^^?

(3) Disclaimer : GS, GSD, LoM are not mine.

(4) Rate and review, please? :)

First Page : Separate

"Sempurna, benar-benar tumbal yang sempurna. Pilihanmu tepat, Matilda,"

"Tentu saja, Escad. Manusia dari dunia seberang memang jauh lebih berkualitas daripada manusia di Qlavistier ini,"

Suara-suara tak dikenal berhasil menggelitik kesadaran Cagalli. Ia mengerjap beberapa saat sebelum akhirnya memandang kesekeliling. Lampu kereta memancarkan sinar keemasan, sementara ia berada di posisi terduduk di kursinya dengan tangan dan kaki terikat, serta bangku seberangnya kosong—tunggu dulu. Tangan dan kaki terikat? Bagaimana bisa?

Dan yang lebih penting lagi, di mana Kira?

"Tapi, bahkan tidak semua manusia dari dunia seberang punya essence…sekuat ini. Lihat saja gadis yang bersamanya itu—aku bahkan pernah menjumpai manusia Qlavistier yang punya essence lebih kuat daripada dia,"

Suara tak dikenal kembali terdengar. Cagalli spontan berpaling ke sumber suara. Beberapa langkah di dekat pintu kompartemennya yang terbuka, terlihat sosok 4 orang berdiri membelakanginya. Ia mengenali jubah hijau beserta rambut coklat si anak perempuan diantara keempatnya, namun baru kali ini ia melihat ketiga temannya. Dua diantaranya memakai jubah hitam panjang, dengan tudung yang menutupi kepala mereka, dan satu orang lagi memiliki tubuh kekar dan hanya memakai celana panjang coklat. Pria itu memanggul sosok orang di masing-masing pundaknya; keduanya berada dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sementara ia tidak bisa mengenali sosok orang di pundak kiri pria kekar akibat rambut pink panjang yang menutupi wajahnya, ia bisa melihat dengan jelas sosok orang di sisi pundak kanan. Rambut coklat, kulit kuning langsat, dan wajahnya terasa sangat familier—

"Kira!" spontan Cagalli menjerit, memanggil kembarannya yang berada di pundak kanan si pria kanan, membuat keempat orang tadi spontan berpaling.

"Sepertinya dia sudah sadar, Matilda," Salah seorang dari sosok bertudung bersuara. Suara perempuan. Wajahnya tersembunyi di balik tudungnya.

Anak perempuan berambut ikal mengangguk. "Sepertinya begitu, Daena," Ia berpaling ke sosok bertudung yang lain. "Urusan kita di sini sudah selesai. Ayo, Irwin. Kita pergi,"

Yang disebut Irwin mengangguk. Wajahnya pun juga tersembunyi di balik tudung kepalanya.

"Apa tidak sebaiknya kita bereskan saja perempuan ini, Irwin?" si pria kekar, yang ternyata memakai topeng berbentuk tengkorak, menyahut. "Ia mengenali nama kita—bahkan ia melihat wajah Matilda—"

"Kurasa itu tidak perlu, Escad," sela Matilda, menyunggingkan senyum tipis. "Toh cepat atau lambat ia akan mati. Ia tak akan bisa keluar dari hutan ini hidup-hidup. Perlu kau ingat, saat ini kita berada di Hutan Flosed. Kau tentu tidak lupa pada penghuni bertaringnya kan?"

Cagalli, yang saat ini hanya terfokus pada sosok Kira yang pingsan, sejak tadi berusaha melepaskan diri dari tali yang mengunci tangan dan kakinya. "Apa yang kalian lakukan pada Kira?!" serunya berang. "Lepaskan aku!"

"Tapi Matilda, kenapa harus membiarkan perempuan ini mati dengan sendirinya," Escad kembali menyahut, "Kalau kita sendiri bisa membunuhnya sekarang?"

"Karena dia tidak cukup penting, sampai-sampai kita sendiri yang harus turun tangan dalam kematiannya," jawab Matilda, melangkah ke depan. Kemudian ia terdiam sejenak, sebelum berpaling ke arah Escad seraya menyunggingkan seringai. "Dan, kurasa lebih baik kita tinggalkan Summoner itu di sini, Escad,"

Kali ini Irwin menyahut. "Tidak, Matilda!" raungnya, membuat Cagalli terhenti sejenak dari usahanya melepaskan diri dan memandang ke arah Irwin. Ada sesuatu yang membuat Cagalli was-was ketika mendengar suara Irwin. Bukan berarti ketiga orang yang lain tidak membuatnya khawatir, hanya saja suara ketiga orang sebelumnya masih terdengar normal di telinganya. Sementara suara Irwin…berbeda.

Seperti mendengar suara singa mengaum.

"Irwin," Matilda berpaling, menatap Irwin. "Dengarkan aku—"

"Setelah semua kesulitan yang kita hadapi untuk mengejar perempuan itu," seru Irwin, menuding sosok berambut pink di pundak Escad. "Kau ingin kita melepasnya?!"

Di luar dugaan Cagalli, Matilda mengangguk mantap. Ia mendongak ke arah Irwin, tak ada jejak ketakutan di suara Matilda. "Kita memang menghadapi banyak kesulitan demi Summoner ini. Dan sayangnya,kesulitan itu tidak membuahkan hasil yang kita harapkan. Summoner itu," ia menuding si rambut pink, "Telah tercemar. Ada fairy yang mengunci kekuatannya. Sekalipun kita bisa melepaskan segel tersebut, tapi jejak sihirnya akan terus menempel hingga nafas terakhirnya. Tak ada gunanya mempertahankannya,"

Terdengar Daena menyahut, "Tapi, mungkin kita bisa gunakan dia untuk—"

Matilda berpaling ke Daena. "Yang kita butuhkan saat ini adalah Summoner murni, Daena. Dan dia jelas tidak memenuhi kualifikasi itu. Dan ketika seseorang mendapat segel rune Summoner di tangannya, selamanya ia akan menjadi Summoner. Ia tak akan bisa memanipulasi kekuatan alam seperti Wizardian atau menggunakan essence miliknya seperti Healtran. Jadi, kalau kau bisa memikirkan tugas lain untuk Summoner ini selain menjadi pembantu—yang kau betul kita tidak memerlukannya," Matilda menggeleng pelan, "Katakan, Daena,"

Escad berpaling ke Irwin. "Irwin—"

"Tinggalkan Summoner itu di sini." sahut Irwin. "Kita pergi."

Escad mendengus kesal sementara Matilda berpaling ke arah Cagalli—yang kembali berkutat dengan tali di tangan dan kakinya—menyunggingkan senyum kemenangan. Matilda melangkah mendekat, menghampiri Cagalli perlahan seraya menatapnya lekat-lekat.

Ketika Cagalli menyadari keberadaan Matilda, ia kembali berseru, "Lepaskan aku!", masih berusaha membebaskan diri. "Lepaskan Kira!"

Matilda, masih dengan senyum di bibirnya, hanya menggeleng. Kemudian telunjuk kanannya menyentuh lengan kiri Cagalli—dan entah bagaimana Cagalli mendapati tubuhnya membatu, tidak bisa digerakkan. Bahkan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanya mengerjap dan bernafas. A-ada apa ini? Tubuhku tidak bisa digerakkan—bagaimana bisa—

Matilda mencondongkan tubuhnya, berbisik di telinga kanan Cagalli. "Kau begitu indah, Nona Muda. Sayang sekali hidupmu akan berakhir sebentar lagi." Matilda mengelus pelan rambut pirang Cagalli. "Setidaknya kuharap kematianmu nanti berlangsung cepat—penghuni bertaring biasanya suka menyiksa buruannya sebelum benar-benar membunuhnya dan kurasa kau tak layak menghadapinya." Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Sungguh, kau ini indah sekali, Nona Muda. Kalau saja kau tidak se-indah ini, mungkin aku akan menjadikanmu tawanan bersama kembaranmu."ujarnya dengan penuh kecemburuan. "Sayang sekali."

Dan ketika Matilda mengecup pipi kanan Cagalli, ia merasakan kesadaran kembali memudar…

Kira…

-asucaga-

Too...short, eh?

Lenn