Title : Another
Author's twitter : kjk_partini
Foreword : Anyeonghaseo~ Thanks for follows, favs, and also reviews! It made me fluttered / and always ask a question "Eottohkae? Are they really waiting for the next chapter?". Wah, igo jinjja neomu joahaeyo~ :D
Dan saya nulis chapter ini sambil denger lagu debutnya B1A4..wkwk Kagak nyambung, sumveh XD Hope you guys like it~! ^_^
========== Another - ViZu SHaXo © April 2014 ==========
Di Jepang, Kota Narita.
"Apa yang sedang kau lakukan sekarang?" tanya Chen penasaran.
"Menghubungi seseorang," jawab Suho pendek. Ia sibuk menyentuh layar ponselnya. "Kris, ini aku," ucapnya pada seseorang di seberang line.
"Oh, Suho. Ada apa?"
"Bagaimana keadaan Kyungsoo? Apa dia baik-baik saja sekarang? Aku baru saja mendengar beritanya tadi. Aku khawatir," ucap Suho. Pria berwajah angelic itu tanpa sadar berjalan mondar-mandir, membuat Chen yang melihatnya merasa bingung sendiri.
"Kyungsoo baik-baik saja. Ia terluka tapi kurasa ia akan cepat pulih. Kau tahu, Kyungsoo ternyata benar-benar kuat. Aku takut dia akan depresi karena kehilangan orang tuanya. Tapi ternyata dia tetap bisa tersenyum," jelas Kris semangat.
"Emmm... Kris," ucap Suho ragu-ragu.
"Ya?"
"Kyungsoo tidak sekuat itu. Apa kau bersamanya sekarang?" tanya Suho. Sejak kecil, ia mengenal Kyungsoo selama lima tahun. Dan setahunya, Kyungsoo bukan anak yang tegar. Kyungsoo mungkin kelihatan tegar, tetapi sebenarnya dia hancur.
"Apa maksudmu? Tidak, aku tidak bersamanya. Memangnya kenapa?"
"Kris cepat cari Kyungsoo!" teriak Suho, membuat Kris di seberang line harus menjauhkan benda persegi tersebut dari telinganya. Sedangkan Chen yang melihat kegiatan hyungnya telonjak karena terkejut.
"Mworago? Kenapa kau berteriak? Ish!"
"Kyungsoo bisa melakukan tindakan diluar nalar kita kalau kau membiarkannya sendiri sekarang!" Suho mengacak-acak rambutnya frustasi. Andai ia di Seoul, sekarang pasti ia sudah berlari untuk mencari Kyungsoo dan memastikan keadaan anak itu baik-baik saja.
"Yak! Jangan teriak-teriak! Kyungsoo tidak mung—" ucapan Kris terhenti tiba-tiba, membuat Suho panik.
"Kris? Yeoboseo? Kris? Kenapa kau berhenti bicara? Halo, Kris?" panik Suho.
"Suho! K-Kyungsoo mau bunuh diri ! Nanti aku hubungi lagi !" pip! Dan sambungan telepon tersebut langsung terputus.
Suho terdiam menatap layar ponselnya. Jantungnya berdebar karena panik. Chen yang sedari tadi hanya menyaksikannya mulai mendekatinya, "Hyung, ada apa?"
"K-kyungsoo ingin bunuh diri !" jawab Suho frustasi.
"MWO? Hyung, apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Aku harus ke Seoul," Suho sibuk dengan ponselnya. "Aku sudah memesan tiket pesawat. Kau mau ikut?"
"Tidak, hyung. Kau lupa, aku harus melihat keadaan rumahmu yang satunya," jawab Chen, sedikit menyesal.
"Oke, gwenchana. Tolong kabarkan pihak rumah sakit kalau hari ini aku akan pergi. Aku mengandalkanmu!" Suho menepuk bahu Chen dan keluar dari rumah dengan berlari. Kemudian pria berwajah angelic itu masuk ke dalam mobilnya dan meluncur melewati pusat kota ke bandara.
Kris masuk ke dalam rumah sakit dengan tergesa-gesa. Ia sangat cemas. 'Jangan melompat. Aku mohon jangan melompat, Kyungsoo!' teriak Kris dalam hati. Ia naik ke dalam lift dan memencet tombol teratas dengan kalap. Ding! Kris langsung keluar begitu pintu lift terbuka. Ia kembali berlari menaiki tangga yang merupakan satu-satunya jalan ke atap, tempat Kyungsoo berada.
Tap tap tap! Suara langkah kakinya yang panjang menggema ketika ia mencapai atap. Peluh mengalir dari pelipisnya. Napasnya terdengar pendek-pendek. Matanya menatap sekeliling, mencari keberadaan pria mungil yang ia sayangi. Ada banyak jemuran seprai yang menghalangi penglihatannya untuk mencari Kyungsoo. Kris berjalan berkeliling. Dan saat ia menemukan sosok mungil itu sedang berdiri di pagar pembatas, debaran jantungnya terpacu cepat.
"KYUNGSOO ! ANDWAE !" teriak Kris. Sekuat tenaga ia berlari ke arah pria mungil tersebut.
Bruk!
"Kyungsoo-ya... Kyungsoo-ya... hiks. KYUNGSOO!" raung Kris. Untuk pertama kalinya, ia menangisi seseorang. Bulir-bulir hangat menganak sungai di pipinya, menghilangkan kesan dingin yang selama ini melekat pada wajah itu.
"Hyung..." Kyungsoo membuka matanya. Ia terkejut. Ia telah di dekap seseorang dengan erat. Semuanya terlalu cepat. Tiba-tiba ia ditarik oleh seseorang dan terjatuh dalam dekapannya. Bahunya terasa basah, dan ia yakin kalau Kris menangis. "Maafkan aku..."
"Andwae. Jangan lakukan itu lagi, aku mohon," Kris melepas dekapannya. Ia menghapus air matanya. Kemudian ia menuntun pria mungil di hadapannya untuk berdiri. Kris memegang bahu Kyungsoo dan memandanginya dari atas sampai bawah, meneliti keadaan pria mungil tersebut. Apakah ada yang terluka atau tidak. "Syukurlah," Kris bernapas lega, ia menarik Kyungsoo kembali dalam dekapannya.
Beberapa waktu kemudian, Kris telah mengantarkan Kyungsoo kembali ke kamarnya. Pria mungil itu setengah duduk di atas ranjangnya dan menunduk. Masih merasa bersalah. Sedangkan Kris sendiri melipat kedua lengannya di samping ranjang dan menenggelamkan wajahnya disana. Ia tak ingin melihat wajah pria mungil tersebut untuk sementara.
"Aku keluar sebentar," ucap Kris sambil menegakkan tubuhnya, membuat Kyungsoo menatapnya. Kemudian Kris berjalan keluar tanpa menatap balik pria mungil tersebut.
"Huft," Kyungsoo menghela napas setelah Kris mengilang dari pandangannya. "Kris-hyung pasti sangat marah padaku."
Di sisi lain. "Aarrrgh! Kris bodoh! Kenapa kau malah mendiamkannya seperti itu?" teriak Kris di pinggir jalan, membuat orang yang berlalu lalang memandangnya aneh.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan Kris. Pria tinggi itu terlambat untuk berlari. "Yak! Mau apa kalian?" teriak Kris sambil meronta dari cengkeraman beberapa orang berjas hitam dengan kacamata hitam menutupi mata mereka. Orang-orang itu menyeret Kris masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi entah kemana.
Di Sebuah Perkampungan Tradisional Jepang, Kota Narita.
Chen bersenandung sepanjang jalan. Mengikuti lirik lagu pada earphone yang terpasang di telinganya. Ia masih mengenakan pakaian yang ia pakai saat di rumah utama Suho. Sekarang ia sedang menuju rumah Suho yang kedua. Ia mengenal Suho saat mereka berada di Kyeonggi-do, Korea Selatan. Saat itu ia butuh pekerjaan dan bertemu dengan Suho. Karena Suho bekerja di Jepang dan ke Korsel hanya untuk berlibur, akhirnya Chen ikut ke Jepang dan menjadi bawahan Suho.
Srek! Blam! Suara pintu digeser terdengar ketika Chen masuk ke sebuah rumah bergaya tradisional Jepang. Ia melepas sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu dekat pintu masuk.
"Aku pulang!" teriak Chen sambil melangkah masuk. "Sehun? Kau di dalam?"
"Hm," orang yang dipanggil Sehun keluar dengan selembar roti tawar di mulutnya.
"Aigo," keluh Chen. "Lihat kelakuanmu, Sehun. Kalau kau makan roti terus, kau akan tetap kurus."
"Tapi aku tumbuh ke atas, hyung."
"Ah, benar -_-" jawab Chen menyadari kependekannya. "Oh iya, Luhan-hyung dimana? Aku tidak melihatnya daritadi."
"Luhan mungkin sedang menangkap kupu-kupu," kata Sehun acuh, membuat Chen heran. 'Anak ini kembali bersikap dingin kalau menyangkut Luhan-hyung,' batin Chen.
Sementara di tempat lain, di sebuah taman. Sesosok pria manis sedang tersenyum memandang beberapa kupu-kupu yang beterbangan. Ia mendekati tanaman bunga yang sedang mekar. Tangannya ia katupkan dan berjingkat-jingkat dengan pelan menangkup seekor kupu-kupu. Hap!
"Kena! Yeey!" teriak pria manis itu riang. Kini di dalam tangannya yang seperti kuncup bunga terdapat seekor kupu-kupu indah hasil tangkapannya. "Huaaa.." pria manis itu tiba-tiba membuka mulutnya dan seperti ada yang menggelitik hidungnya. "Huatching!"
'Yahay! Aku bebas! Aku bebas weeeek! Dasar manusia tukang bersin! Aku cantik begini masa ditangkep! Byebye~' ucap seekor kupu-kupu berwarna biru laut.
"Ah, sial !" pekik pria manis itu, seolah bisa mendengar ucapan sang kupu-kupu. "Aku berjanji, aku akan menangkapmu! Siapa sih yang membicarakanku pada saat-saat penting seperti ini? Membuatku bersin tau! Mengganggu saja."
Di Rumah Sakit Seoul, Lantai 3, Kamar nomor 46.
Aku masih berbaring di ranjangku. Enam jam yang lalu, Kris-hyung disini. Tapi setelah itu ia tidak muncul lagi di hadapanku. Apa ia benar-benar marah? Aku tahu tindakanku sangat bodoh. Aku sangat menyesal. Tapi kenapa Kris-hyung tidak kembali lagi setelah itu? Aku tidak punya siapa-siapa bila Kris-hyung juga tak menemuiku lagi.
"Hiks," dadaku terasa sesak bila terus memikirkan bahwa aku telah ditinggalkan lagi.
Grep! Seseorang memelukku. Pelukan hangat yang seakan mengingatkanku pada pelukan seseorang. Siapa orang ini? Aku sama sekali tak mendengar suara orang masuk. Sejak kapan?
"Uljima," suara ini?
Aku menoleh dan melepas pelukannya. Menatap mata sipitnya yang memancarkan kerinduan. Namun disana juga ada kekhawatiran. "Junmyun-hyung?"
"Ini aku," kemudian dia memelukku lagi. "Gwenchana, ada aku. Gwenchana."
Harus kuakui, aku benci kelihatan lemah. Tapi di hadapan Junmyun-hyung, aku bisa menjadi diriku apa adanya. Dia hyung yang pengertian. Kami pernah bertetangga selama hampir lima tahun. Aku sering main ke rumahnya kalau hari libur dan mengganggu belajarnya. Tapi kemudian dia pindah ke Jepang karena pekerjaannya.
"Bogoshippo," ucapku lirih, masih dalam pelukan Junmyun-hyung.
"Nado," jawabnya. Kemudian pria berwajah angelic itu melepas pelukannya. "Jangan lakukan hal bodoh seperti itu lagi."
"?"
"Jangan mencoba bunuh diri lagi," ia menatapku dalam.
"Bagaimana hyung tahu?"
"Kris memberitahuku."
"Kris-hyung? Apa dia menemuimu? Dimana Kris-hyung sekarang?"
"Dia sudah kembali ke China, Kyung."
Mataku melebar. Benar kan? Kris-hyung marah padaku. Aku menunduk dalam. Merenungi kebodohanku.
"Sudahlah," ucap Junmyun-hyung kalem. "Dia pulang ke China karena dipaksa ayahnya, bukan karenamu kok."
"Eum," gumamku. Syukurlah. Meski hatiku belum tenang.
Keesokan harinya. Aku terbangun saat mendengar suara pintu dibuka dengan berisik. Junmyun-hyung mengucapkan maaf karena telah membangunkanku tanpa sengaja, padahal masih jam enam pagi. Ia masuk ke kamarku membawa sebuah koper untuk bepergian. Lalu membuka lemari kecil di samping ranjangku, mengeluarkan baju-bajuku, dan memasukkannya ke dalam koper.
"Kau boleh pulang hari ini," ucapnya ceria. Aku langsung bangkit dan menatapnya cerah.
"Jinjja?"
"Itu kata dokter," ia tersenyum. "Dan lihat betapa senangnya dirimu!"
"Aku tidak suka disini," akuku sambil cemberut. Rumah sakit membuatku teringat pada kedua orang tuaku.
"Hyung tahu," kini Junmyun-hyung hampir mencapai pintu. "Aku akan memasukkan koper ini ke bagasi mobil lalu mengisi bahan bakar dulu. Kau lanjutkan tidurmu saja. Nanti aku bangunkan."
"Oke," jawabku. Dan pintu kamarku akhirnya tertutup bersamaan dengan menghilangnya sosok Junmyun-hyung dari pandanganku.
'Kembali ke rumah? Apa aku akan baik-baik saja?' tanyaku dalam hati. Setelah perampokan itu, aku merasa trauma. Bayangan pembunuhan orang tuaku selalu terbayang bila aku sendirian. Dan kalau aku kembali ke rumah, aku rasa akan semakin buruk.
"Nah, semuanya sudah siap!" serunya saat aku telah masuk ke dalam mobil. Junmyun-hyung kembali ke rumah sakit satu jam kemudian. Ia membangunkanku, menungguku melepas infus dan bersiap-siap keluar dari rumah sakit. Lalu ia menuntunku ke mobilnya. Dan disinilah aku sekarang, duduk di samping kursi kemudi. Memandang ke hamparan jalan di depan kaca mobil. Melihat pohon-pohon dan bangunan yang seolah kejar-kejaran di balik kaca. Hingga mobilnya berhenti di belakang mobil orang di depan rumahku.
"Cepat buang pakaian-pakaian itu!" teriak seorang lelaki yang keluar dari dalam rumahku.
Aku keluar dari mobil dengan debaran jantung yang tak bisa kukendalikan. Ada banyak orang keluar-masuk rumahku. Junmyun-hyung keluar dari mobil dan masuk ke halaman rumah sementara aku mengekor di belakangnya. Bruk! Tiba-tiba sebuah tas berisi pakaian yang berhamburan melayang lalu jatuh di depan kami. Aku langsung berjongkok dan memunguti pakaian itu dan memasukkannya dengan rapih ke dalam tas. Aku tidak bisa membiarkan mereka kotor. Itu sebagian besar pakaianku dan kedua orang tuaku.
"Ada apa ini?" tanya Junmyun-hyung, membuat beberapa orang itu mengalihkan perhatiannya ke arah kami.
"Siapa kau? Cepat pergi dari sini ! Jangan mengganggu pekerjaan kami !"
"Maaf, tapi ini rumahku," ucapku pelan.
"Mwo? Rumah ini sudah dibeli oleh Tuan kami. Jadi kami harus membereskan barang-barang yang ada disini."
"Tidak! Rumah ini tidak dijual !" aku bersikeras. Tapi kemudian mereka menunjukkan surat jual beli rumah kepadaku dan memang rumahku telah dijual oleh orang tuaku sendiri? Tidak mungkin!
"Eottohkae?" hatiku hancur, tapi aku merasa ada yang salah. Aku yakin orang tuaku tak mungkin melakukan itu. Tapi kenapa di surat itu tertulis sebaliknya?
"Aku akan cari tahu, sebaiknya kita cari tempat lain untuk tinggal," saran Junmyun-hyung.
"Chakkaman!" aku menahan lengan Junmyun-hyung. "Aku harus mengambil sesuatu dari dalam rumah."
"Ahjussi, ijinkan aku masuk sekali saja. Ada barang yang harus kubawa," ucapku pada salah seorang diantara mereka.
Mereka tampak berpikir sebentar, saling beradu pandang, dan akhirnya mengangguk setuju. "Oke, aku beri waktu sepuluh menit untuk mengambilnya."
"Kamsahamnida, ahjussi !" aku membungkuk. Lalu berbalik menghadap seseorang di sampingku. "Junmyun-hyung, tunggu disini sebentar ya!"
"Tapi Kyung—" aku langsung masuk ke dalam tanpa menghiraukan ucapannya. Ada sebuah benda yang harus kubawa pergi.
"Aku... pulang!" ucapku ragu saat memasuki rumahku.
Aku memberanikan diri masuk ke dalam. Meski kenyataan masa lalu terus berdatangan di dalam benakku, membuatku sempat gemetar karena bayangan ayah dan ibu jatuh bersimbah darah di hadapanku kembali bermunculan. Aku masih melangkah ke dalam. Mencoba mengusir bayang-bayang tersebut. Ada sebuah kotak berada di atas lemari buku bacaan. Tanganku terangkat untuk mengambilnya. Lalu aku mengusap dan meniup debu yang membuat kotak tersebut tampak kotor.
"Aku menemukanmu," gumamku. "Meski ibu tak bisa memakainya, aku akan berikan kepada orang lain saja."
Lalu aku keluar rumah dan menyambut Junmyun-hyung yang khawatir akan psikologiku. Itu terlihat jelas dari raut wajahnya. Ia memandang kotak yang kubawa. Kemudian menyeretku ke arah mobil.
"Ayo pergi," ucapnya tanpa basa-basi.
Aku mengangguk. Kami kembali masuk ke mobilnya. Tentunya dengan menambah bawaan berupa pakaian dari rumahku dan sebuah kotak berisi hadiah untuk ulang tahun ibuku yang telah terlewat. Aku tidak tahu, Junmyun-hyung akan membawaku kemana. Aku hanya memandang keluar jendela. Lalu tanpa sadar, mataku mulai menutup karena rasa kantuk yang tak terhindarkan.
Aku terbangun beberapa jam kemudian. Masih dalam keadaan duduk di samping kursi kemudi dan memandang ke arah luar. Ada banyak orang berlalu lalang di sekitar mobil. Aku menoleh dan menemukan Junmyun-hyung juga tertidur di kursinya. Kurasa ia tidur usai memarkirkan mobilnya.
"Dimana ini?" gumamku.
"Bandara," aku menoleh mendengar suara serak Junmyun-hyung. Apa ia baru saja bangun?
"Bandara?"
"Eum," ia mengangguk. Kemudian ia mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana. "Aku sudah mengurus paspormu dan memesan tiket pesawat ke Jepang. Untuk sementara, kamu akan tinggal di rumahku."
"Di Jepang?"
"Ya," Junmyun-hyung melepas sabuk pengamannya dan aku juga. "Sebaiknya kita cepat masuk ke bandara, pesawatnya berangkat sepuluh menit lagi."
Hari ini, untuk pertama kalinya Kyungsoo menginjakkan kaki di Jepang. Di bulan Juni ini, musim semi akan berganti menjadi musim panas, musim yang ia sukai. Setelah daun-daun tumbuh, mereka akan diterpa sinar matahari di musim panas ini. Daun-daun itu akan menguning dan gugur di musim gugur nanti.
Gedung rumah sakit itu tinggi dan besar sekali. Kyungsoo harus mendongakkan kepalanya agar bisa melihat bagian puncaknya. Ia menunggu Suho yang duluan masuk ke dalam. Ia sebenarnya disuruh masuk bersama Suho. Tapi pria mungil itu menolak. Rasanya kembali masuk ke rumah sakit meski hanya sekedar mampir kembali mengingatkannya kepada orang tuanya.
Tiba-tiba ada seorang pria berwajah dinosaurus menghampirinya, "Sumimasen. Anata wa Kankokujin desuka." (Permisi. Apa kamu orang Korea?)
"Hai, sou desu. Anata mo Kankokujin desuka. (Ya, betul. Apa kau juga orang Korea?)" tanya Kyungsoo sambil memperhatikannya.
"Yup. Perkenalkan namaku Kim Jongdae. Panggil saja aku Chen," ia mengulurkan tangannya. Kyungsoo menyambut tangannya dengan canggung," Do Kyungsoo imnida."
"Do Kyungsoo?" mata Chen membulat. "Do Kyungsoo yang rumahnya kerampokan itu?"
"Eum," Kyungsoo menunduk, dan Chen menyadari kesalahannya.
"Ah, maafkan aku," kata Chen buru-buru. 'Bodoh!' batinnya sambil memukul kepalanya. "Kau mencari siapa?"
"Aku tidak mencari siapapun. Aku menunggu Junmyun-hyung."
"Oh.." Chen manggut-manggut. "Ayo masuk saja! Sebaiknya kita temui dia !"
"Tidak, aku menunggu disini saja," Kyungsoo menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa!" Chen memegang lengan Kyungsoo dan menyeretnya masuk ke dalam. "Sebaiknya kau masuk daripada menunggu disini."
'Aku kan sudah bilang tidak!' jerit Kyungsoo dalam hati. TT_TT
"Permisi,"kata Kyungsoo saat memasuki ruangan Dr. Kim Junmyun.
Di ruangan itu selain Suho, ada seorang lagi yang berdiri didekatnya. Seorang namja yang lebih tinggi dari Kyungsoo dan rambutnya berwarna blonde.
"Hyung, aku mengantarnya kesini," Chen menunjuk pria mungil di sampingnya.
"Oh! Kau berhasil membujuknya masuk? Thanks, Chen!"
Chen melambaikan tangan," Okeh ! Aku pergi dulu all !"
Setelah Chen keluar ruangan, pandangan Suho mulai beralih pada Kyungsoo, "Kyung, aku tidak bisa terus menjagamu. Aku punya pekerjaan penting sebagai dokter. Tapi tenang saja, kau akan tinggal di rumahku bersama Luhan dan Sehun. Mereka sama sepertimu, jadi anggaplah sebagai saudara."
"Terima kasih banyak hyung sudah mau menerimaku," kata Kyungsoo sambil membungkuk.
"Yah, sama-sama. Oh iya, aku akan sangat jarang pulang. Kalau butuh sesuatu bilang pada Luhan. Dia yang menggantikanku di rumah. Ya sudah, pasienku sudah lama menungguku. Luhan, antar Kyungsoo ke rumah."
"Ne," jawab Luhan kalem.
Kyungsoo berjalan dengan tenang disisi Luhan. Luhan belum berkata apapun sejak tadi. Hal itu membuat pria mungil itu tidak nyaman. Ia berpikir setidaknya Luhan harus menjelaskan tentang Jepang pada pria mungil tersebut.
"Em... Luhan."
"Panggil aku hyung! Aku lebih tua darimu."
"Ah, maaf Lu.. Luhan-hyung. Tolong katakan sesuatu!"
"Kenapa?" Luhan berhenti melangkah dan Kyungsoo juga ikut berhenti.
"Berjalan tanpa berbicara itu membosankan buatku," ungkap Kyungsoo malu.
"Aku hanya membicarakan hal-hal yang penting saja."
"Jadi, sekarang tidak ada hal yang penting?"
"Ada."
"?"
"Di depan itu rumahku," Luhan menunjuk rumah yang ia tinggali, rumah Suho yang kedua.
"Ayo masuk !" ajaknya. Pintu rumah itu dibuka, "Aku pulang !"
"Permisi !" kata Kyungsoo saat masuk rumah itu.
Rumah Suho yang kini ditinggali oleh Luhan dan Sehun lumayan luas. Kyungsoo mengikuti Luhan ke dalam. Rumah ini bergaya khas rumah tradisional Jepang. Pintunya dilapisi kertas dan dapat digeser. Lalu, alasnya ditutupi dengan tatami. Kyungsoo merasa senang bisa tinggal disini. Seperti tempat yang bisa menghilangkan rasa frustasinya, semacam healing.
Luhan menuntun pria mungil itu sampai berhenti di depan sebuah kamar, "Ini kamarmu. Kalau butuh sesuatu, cari aku di halaman belakang. Aku selalu ada disana jika kau membutuhkanku."
"Ne," Kyungsoo menggeser pintu kamar tersebut setelah Luhan pergi. Ia masuk dan mengamati seisi kamar.
Saat pria mungil itu masuk, tiba-tiba mulutnya dibekap seseorang, membuatnya terkejut dan ingin berteriak. Tapi ia tidak bisa, "Jangan bergerak ! Kau akan kulepas setelah Luhan jauh dari tempat ini."
'Apa? Siapa orang ini?' batin Kyungsoo.
"Nah, sekarang sudah tidak masalah. Pfiuuuuuhh..." orang itu melepaskan Kyungsoo.
Kyungsoo menghadapnya. Orang itu memiliki wajah yang hampir mirip dengan Luhan. Tapi tinggi badannya berbeda. Tidak salah lagi dia pasti Sehun, "Apa-apaan kau ini? Apa kau yang bernama Sehun?"
"Yak, maaf-maaf. Soalnya kalau ada Luhan, pasti aku tidak boleh menemuimu."
"Benar sekali. Kalau kau mengetahuinya, kenapa masih berada disitu?" tanpa diduga Luhan muncul dari tempat yang gelap di kamar itu.
"Cih... Ketahuan," gerutu Sehun. Sementara Kyungsoo yang memandang mereka berdua merasa kebingungan. Sebenarnya apa yang terjadi disana? Mengapa kedua orang yang tinggal serumah itu kelihatan tidak akrab? Mereka bersikap dingin satu sama lain.
"Sehun! Jangan ganggu dia !" bentak Luhan.
"Heh, tenang saja ! Aku tidak akan menyakitinya kok."
Tanpa di duga, tangan Luhan terangkat dan hendak diarahkan ke wajah Sehun. Sebelum hal itu terjadi, Kyungsoo secara spontan menahan tangannya, "Hentikan ! Kalian berdua, tolong jangan ribut disini !"
Mereka berdua diam menunduk. Kenapa? Ada apa dengan mereka berdua?
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Jaa !" Sehun memutuskan untuk keluar. Ia beranjak dan berjalan ke arah pintu.
"Mianhae, Kyungsoo ," Luhan membungkuk.
"Gwenchana, hyung."
"Kalau begitu aku juga akan keluar. Maaf mengganggu," Luhan berbalik dan mulai melangkah keluar. Namun Kyungsoo seperti melihat sesuatu yang aneh dari Luhan.
Tanpa sadar Kyungsoo menahan tangannya, "Tunggu sebentar!"
"Kenapa?"
"Aku melihat sesuatu," ucap Kyungsoo pelan. Dan Luhan tiba-tiba merasa takut.
===== To Be Continued =====
Special thanks to : ChangChang, Overdose of EXO – Unique, ArraHyeri2, megajewels2312, taufikunn9, Afi2112, & XxStarLitxX.
Ditunggu RnR nya! Chapter depan, saya usahakan lebih panjang..hehe
Thanks :3
