Butterfly
A fan fiction by Top to the Toe
Super Junior, TVXQ!, SHINee © S.M Entertainment
BIGBANG ©Y.G Entertainment
JYJ © C-JES Entertainment
Pairing(s): EunHae, Slight!KyuMin, Slight!YeWook
Warning: AU (Alternate Universe), OOC (Out of Character), BL/Slash/Shounen-Ai
2012
.
-b-
.
Hyukjae melangkahkan kakinya dengan tenang. Kedua telinganya ditutupi oleh earphone yang tersambung dengan MP3 player yang ia letakkan di dalam saku celananya. Sesekali meliuk-liukkan badannya sesuai dengan irama musik, menciptakan sebuah harmonisasi yang apik. Ia sedang dalam perjalanan menuju sebuah taman dekat rumahnya. Ia sudah berjanji dengan Kim Junsu, sahabatnya sejak kecil, untuk latihan dance bersama dengan teman-temannya yang lain. Sebenarnya Hyukjae sedang malas untuk keluar rumah. Kalau saja ia tak ingat bahwa ia telah berjanji pada Junsu yang merengek-rengek karena sudah beberapa kali ia tidak ikut berkumpul karena sibuk dengan ujian sekolahnya, mana mungkin ia pergi keluar sekarang ini. Toh, dengan dance ia juga bisa mengekspresikan kebahagiannya yang melingkupinya sejak pertemuannya dengan Donghae.
Begitu ia sampai, terlihat beberapa orang telah berkumpul. Ada Jung Yunho—ketua klub mereka, Kwon Jiyong—fashionista yang juga seorang rapper, Lee Taemin—magnaemereka yang sering dikira perempuan karena rambut panjangnya, dan tak ketinggalan Junsu. Mereka semua berasal dari berbagai umur dan kalangan, berkumpul menjadi satu. Menyadari keberadaan Hyukjae, Taemin melambaikan tangannya. "Hyukkie-hyung!" pekiknya. Hyukjae membalas lambaian Taemin sembari melepaskan earphone yang menempel di kedua telinganya, tak lupa mematikan player yang ada disakunya.
"Lama!" protes Jiyong.
Hyukjae meringis kecil. "Maaf, Jiyong-ah. Sesekali tidak apa 'kan?" Jiyong mendengus kesal. Ia memang paling benci menunggu. Yunho menatap Hyukjae dengan pandangan teduh. "Tak apa, Hyukjae-ah. Jiyong saja yang berlebihan, kau tidak telat kok." Jiyong melemparkan pandangan tak terima ke arah Yunho. Junsu yang menyaksikan kejadian itu, menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudahlah, ini tidak penting. Kenapa dibesar-besarkan?" Taemin menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Hyukjae mengedarkan pandangannya. Merasa ada sesuatu yang ganjil. "Lho? Seunghyun-hyung mana?" tanya Hyukjae.
Jiyong melipat kedua tangannya di dada, ekspresinya semakin kesal mendengar nama Choi Seunghyun, sahabat Jiyong yang juga rapper. "Dia bilang masih sedang konsultasi soal skripsinya. Yah…mungkin 15 menit lagi dia baru datang," jelas Yunho.
"Lalu, apa yang kita tunggu? Ayo latihan!" seru Junsu penuh semangat.
Mereka menghentikan kegiatannya sejenak, setelah menari selama limabelas menit tanpa jeda. Hyukjae berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan sembari duduk. Peluh mengalir deras di sekujur tubuhnya. Junsu mengulurkan sebotol air putih yang langsung diterimanya dengan senang hati. Dibukanya tutup botol itu, lalu ditenggaknya cairan di dalamnya perlahan. Ia mengerang pelan ketika merasakan segarnya air putih yang membasahi kerongkongannya yang kering. Tak jauh darinya, Junsu mengelap keringatnya dengan sebuah handuk biru miliknya. Sedangkan Taemin masih terlihat mengulang koreografi yang mereka ciptakan tadi. Magnae di kelompok mereka ini memang begitu aktif—nyaris tak berhenti bergerak malah. Jiyong yang sedang duduk santai sambil membetulkan penampilannya yang sedikit berantakan, sesekali membetulkan gerakan Taemin yang salah. Yunho? Ia berbaring sejenak, menggunakan paha Hyukjae sebagai bantalan kepalanya. Entah karena dorongan apa, Hyukjae membelai perlahan rambut Yunho. Ia juga menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi mata Yunho, bermaksud untuk membuat Yunho berisitrahat lebih nyaman.
Kejadian ini tentu tak dilewatkan oleh Junsu, Jiyong, maupun Taemin. Walaupun hal ini sudah biasa terjadi, secara otomatis mata mereka selalu tergerak untuk memandang mereka, barang sejenak. Mungkin dikarenakan hubungan Hyukjae dan Yunho yang sebenarnya tidak terlalu dekat. Sepengetahuan mereka bertiga, Yunho dan Hyukjae tak pernah bertemu selain untuk latihan dance. Namun entah mengapa dan sejak kapan, mereka selalu terlihat dekat—cenderung 'intim'—dengan Yunho yang selalu tidur dipangkuan Hyukjae, ditiap jeda istirahat mereka. Sayangnya, kedua objek yang menjadi perhatian ini sama sekali tak menyadarinya. Justru melanjutkan kegiatan mereka dengan tenang.
Merasa bosan, Jiyong membuang pandangannya ke arah lain. Dari kejauhan, ia melihat sosok yang familiar. Dipincingkannya kedua matanya, berusaha untuk melihat lebih jelas. Ekspresi penasarannya berubah seketika menjadi kesal begitu mengenali sosok itu. "Seunghyun-hyung!" seru Jiyong tak sabaran.
Tak pelak, semua mata memandang Seunghyun yang berjalan mendekati mereka. Tetapi Seunghyun tak sendirian. Di sampingnya, seorang pria juga berjalan mendekat, yang Hyukjae kenali sebagai Lee Donghae. Kontan, wajah Hyukjae sedikit memanas melihat Seunghyun berdiri bersama Donghae di depannya. Sama sekali ia tak memikirkan kemungkinan untuk bertemu dengan Donghae saat ini.
"Maaf aku telat. Oh ya, kenalkan. Ini Lee Donghae, dia ini dosen pembimbingku." Tak pelak semua terkejut dengan penuturan Seunghyun—kecuali Hyukjae, tentunya. Pria dihadapan mereka saat ini terlihat lebih muda dari Seunghyun, tentu saja mereka kaget. "Ah, aku Lee Donghae. Senang berkenalan dengan kalian dan senang bertemu lagi denganmu, Hyukjae-ssi."
Donghae melemparkan senyumnya kepada Hyukjae tak lupa membungkuk menyapa yang lain. Kali ini, semua mata mengarah kepada Hyukjae. Hyukjae otomatis berdiri, bermaksud membungkuk, membalas sapaan Donghae untuknya. Namun, Yunho yang masih berada dipangkuannya, nyaris bagian belakang kepalanya terantuk tanah kalau saja ia tak memiliki reflek yang baik.
"Ah, Yunho-hyung! Maaf…" Hyukjae berlutut menahan kedua bahu Yunho. Yunho tersenyum menyakinkan, "Nggak apa, Hyukkie-ah."
Seunghyun tertawa melihat posisi Hyukjae dan Yunho. "Yunho-ah, aku baru tahu kalau kau pacaran dengan Hyukjae. Kenapa nggak bilang-bilang, eh?" godanya.
Hyukjae melemparkan tatapan tajam pada Seunghyun, "Aku dan Yunho-hyung tidak pacaran, Hyung!" protesnya. Bibirnya mengerucut lucu, dengan dahi yang dikerutkan. Tujuannya untuk menunjukkan kalau ia sedang kesal. Yang ada malah Senghyun tertawa semakin kencang, menatap geli ekspresi Hyukjae. Merasa semakin kesal, Hyukjae menoleh ke arah Yunho, mencari bantuan untuk meluruskan semuanya. Namun dilihatnya Yunho yang sudah berdiri di sampingnya juga berusaha menahan tawanya. Muka Hyukjae memerah, antara menahan malu dan marah.
"Gimana kau nggak diperlakukan kayak anak-anak, kelakuanmu memang nggak jauh sih…" ucap Junsu. Seringai lebar terpatri di wajahnya.
Kali ini, Yunho berbaik hati. "Sudahlah, jangan digoda lagi, Hyung. Aku takut wajahnya bisa meledak karena memerah."
Tak pelak tawa pun meledak dari mereka semua, kecuali Donghae yang hanya tersenyum. Taemin yang pertama kali berhasil menghentikan tawanya, kemudian bertanya pada Seunghyun, "Hyun-hyung, kenapa dosenmu ikut kemari?"
"Ah, sebenarnya Donghae ini penanggung jawab klub dance yang ada di kampusku, sekaligus instrukturnya. Dia benar-benar jago," jawab Seunghyun sembari menepuk-nepuk bahu Donghae.
"Donghae?" Kali ini Jiyong yang angkat bicara.
Donghae kembali tersenyum. "Aku bilang pada Seunghyun-hyung untuk berbicara informal denganku di luar kampus. Bagaimana pun kan dia lebih tua dibandingkan denganku. Kalian juga bisa berbicara informal denganku kalau mau."
Hyukjae menggeleng. "Tidak bisa. Donghae-ssi lebih tua dariku, aku tidak bisa melakukan itu," tolaknya.
"Apakah dia selalu begitu? Bicaranya formal sekali…" tanya Donghae pada Seunghyun yang juga menatap kepadanya.
"Itu sudah kebiasaannya. Mana mau dia bicara informal dengan orang yang lebih tua? Bicara denganku yang teman sejak kecilnya saja juga begitu," keluh Junsu sekaligus menjawab pertanyaan Donghae. Donghae mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Tunggu apalagi? Ayo lanjutkan latihannya!" seru Jiyong. Semua mengangguk setuju sembari bersiap di posisi masing-masing.
.
-b-
.
Donghae sedang bersiap-siap beranjak dari meja kerjanya ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. "Halo?"
"Ah, Donghae-ah? Kau sibuk sekarang?" terdengar suara Heechul dari seberang.
"Tidak, hyung. Memangnya ada apa?" tanya Donghae sembari menata tas kerjanya, merapikan beberapa barang bawannya.
"Aku, Jungsoo, dan Jongwoon mau makan bersama di tempat biasa, sekaligus merayakan kelulusan Jungsoo. Nanti Youngwoon akan menyusul dengan yang lain. Kau mau ikut?"
"Tentu saja, hyung. Mana mungkin aku mau melewatkan pesta kelulusan Jungsoo hyung. Aku kan mau balas dendam padanya," jawabnya riang.
"Hahaha. Kalau begitu sampai bertemu jam 5 nanti. Annyeong."
"Ne…" Donghae menatap ponselnya sejenak, lalu menengadahkan kepalanya ke atas. "Huh, untung saja aku sudah membelikanmu hadiah, hyung. Kau harus beterimakasih padaku nanti," gumamnya pelan.
.
-b-
.
Yunho melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Entah sudah berapa kali ia mengulang aktivitas yang sama. Ia sedang berdiri di sebuah halte bus, menanti seseorang, sejak sepuluh menit yang lalu. Sebenarnya orang yang sedang ditunggunya tidaklah terlambat, melainkan dirinya yang datang lebih awal. Ia terlalu bersemangat. Kembali ia melihat jam tangannya yang menunjukkan tepat pukul sepuluh pagi. Dalam hati ia sedikit menyesal datang lebih cepat. Penampilan Yunho akan terlihat sempurna, apabila ia tak memasang wajah cemas. Ia mengenakan sebuah kemeja kotak-kotak berwarna biru muda dengan sebuah coat biru tua yang senada. Penampilannya semakin lengkap dengan celana panjang hitam dan sepasang sepatu oxford berwarna coklat. Beberapa wanita yang berdiri tak jauh darinya, menatapnya penuh kekaguman. Beberapa diantaranya bahkan tak berkedip. Namun sayang Yunho tak menyadarinya sama sekali. Tak lama, dari kejauhan terlihat seorang pemuda berambut coklat kemerahan, berlari menuju Yunho. Dilambaikannya tangan kanannya, sembari berteriak, "Yunho-hyung!"
Merasa dipanggil, Yunho menolehkan kepalanya, menuju sumber suara. Wajahnya berubah cerah, melihat kedatangan pemuda, yang ternyata Hyukjae. Hyukjae berhenti tepat dihadapan Yunho, sedikit terengah-engah karena berlari tadi. Peluh mengalir di pelipisnya, namun tak memudarkan pesona seorang Lee Hyukjae. Sebuah t-shirt putih yang dilapisi dengan cardigan berwarna hitam, celana jins biru muda, dan sepatu canvas putih. Leher indahnya ditutupi oleh sebuah syal berwarna biru tua. Yunho nyaris tak berkedip melihat penampilan Hyukjae.
"Maaf aku terlambat, hyung pasti sudah menunggu lama," ujar Hyukjae pelan. Ia masih berusaha mengatur nafasnya.
Yunho tersenyum. "Enggak kok. Aku saja yang datang lebih awal. Oh ya, ngomong-ngomong, warna pakaian kita senada, ya?"
"Eh?" Hyukjae pun membandingkan penampilannya dengan Yunho. "Kita jadi seperti terlihat seperti pasangan kekasih yang mau kencan saja," tambah Yunho.
Muka Hyukjae memerah mendengar perkataan Yunho. "Berhenti bercanda, Yunho-hyung…" protes Hyukjae sembari menundukkan wajahnya yang masih merah padam.
"Hahaha, baiklah," ujar Yunho sambil mengusap perlahan kepala Hyukjae.
Sebuah bus kemudian berhenti tepat dihadapan mereka. Keduanya naik secara bergantian, dengan Hyukjae yang berada di depan. Lalu ia berjalan menuju bagian tengah bus yang sedang sepi, mengambil tempat duduk di sebelah jendela. Yunho pun menyusul duduk di sampingnya. "Jadi, kira-kira apa yang akan hyung berikan untuk eomeoni?"
"Haa…entahlah. Aku juga masih bingung. Eomma bukan orang yang suka barang mewah. Dan lagi Eomma bilang aku nggak perlu repot memberinya hadiah. Tapi itu nggak mungkin 'kan? Anak macam apa yang nggak memberikan apapun untuk ulangtahun ibunya?" keluh Yunho.
Hyukjae mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau begitu, tidak perlu barang mewah 'kan? Beri saja eomeoni barang yang bisa dipakai setiap saat."
"Aku juga sudah sempat kepikiran itu. Nah, itu sebabnya aku mengajakmu, Hyuk-ah. Eomma lebih dekat denganmu daripada aku dan Jihye, makanya aku butuh rekomendasi darimu."
"Aku tidak sedekat itu dengan eomeoni. Justru hyung yang lebih dekat dengan eomeoni. Kalau tidak, mana mungkin eomeoni selalu bercerita tentang Yunho-hyung setiap aku datang berkunjung," kilahnya.
Yunho tersenyum. "Itu sih karena aku anak kesayangannya yang paling tampan, benar 'kan?"
"Narsis. Tentu saja hyung paling tampan, Jihye 'kan perempuan…" Yang ditanggapi Yunho dengan sebuah cengiran yang menghiasi wajah tampannya.
.
-b-
.
Heechul menekuk wajahnya. Terlihat jelas kalau ia sedang kesal. Dilipatnya kedua lengannya di depan dadanya sembari duduk. Donghae berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari Heechul. Jungsoo yang terbiasa dengan tabiat Heechul, memakan kue yang ada dihadapannya dengan tenang, sama sekali tak berusaha untuk mengusir suasana kaku yang menyelimuti mereka bertiga. Sesekali Donghae menatap Jungsoo, memberi tanda untuk meredam amarah Heechul. Namun, Jungsoo sama sekali tak mengindahkan sinyal yang diberikan oleh Donghae. Yang bisa Donghae lakukan saat ini hanya mendoakan keselamatan Youngwoon karena akar penyebab kekesalan Kim Heechul ialah keterlambatan Youngwoon dari waktu yang ia janjikan.
"Apanya yang 15 menit? Ini sudah 30 menit dan dia belum muncul…" desis Heechul sembari menatap tajam ke arah luar café.
Donghae menyeruput minumannya dengan kaku. 'Youngwoon-hyung! Kemana kau?!' jeritnya dalam hati.
Jungsoo yang akhirnya menyelesaikan acara memakan kuenya, akhirnya angkat bicara, "Sabarlah, Chullie-ah. Sudah biasa 'kan Youngwoon terlambat seperti ini?"
Heechul tak membalas perkataan Jungsoo. Ia memejamkan kedua matanya, berusaha menetralkan emosinya yang siap meledak kapan saja. Di tariknya nafas panjang sebelum ia hela secara perlahan. Jungsoo yang sedang meminum tehnya sambil menatap keluar café, melihat sosok yang familiar.
"Hyukjae? Sedang apa dia disini?"
Mendengar nama Hyukjae, spontan Heechul dan Donghae menoleh ke arah pandangan Jungsoo. Terlihat oleh mereka, Hyukjae yang sedang berjalan dengan Yunho, membawa beberapa kantong belanja. Yunho dengan santai merangkulkan tangan kanannya di pundak Hyukjae dan Hyukjae pun tak terlihat keberatan sama sekali. Senyum terkembang di wajah mereka berdua. Mereka terlihat sangat menikmati kehadiran masing-masing, seolah mereka sepasang kekasih yang sedang berkencan.
.
.tbc.
.
Lil's Note: I don't mind about silent readers, but I'll be grateful if you leave some review. I won't promise you I'll update faster if you reviewed, cause I have my own life, but reviews will always be a great energy for an author to make a better story. Thanks and see ya in the next chapter :))
Oh, and for the last, just call me Lil.
