I HATE MOS!

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance, Humor (maybe?)

Warning(s): OOC, typos, garing, hancur, aneh, dll.

Summary: Sakura membenci MOS. Karena MOS, ia harus berpacaran dengannya. Dan karena MOS pula, kehidupan Sakura yang "biasa saja" berubah menjadi "luar biasa".

Don't like, don't read!

Enjoy! ^^

.

.

.

Sakura's POV

.

.

Chapter 2: All About Ayam Kutub

"KRRRIIIINGG! KRRRIIINNGGGG!"

Aku terbangun dari alam bawah sadarku ketika aku mendengar bunyi nyaring dari jam bekerku. Mataku terbuka sebentar, kemudian kututup kembali. Rasa kantuk kini tak bisa kuatasi.

"KRRRIIIINGG! KRRRIIINNGGGG!"

Lagi-lagi suara nyaring itu kudengar. Memaksaku untuk membuka mataku dan memaksaku untuk bersiap-siap ke sekolah pada hari ini –hari kedua MOS di Konoha High School. Jujur saja, kini aku lebih senang bergelut dengan selimut, bantal, dan gulingku daripada bersiap-siap untuk MOS pada hari ini. Yah, walaupun kuakui, kemarin aku memang sangat semangat untuk MOS. Tapi hari ini berbeda. Mood-ku berubah setelah kejadian itu menimpa diriku…

FLASHBACK: ON

"Sasuke Uchiha-senpai, aku menyukaimu! Aku sangat ingin menjadi pacarmu!" kataku dengan nada yang dibuat-buat dan dengan raut wajah dibuat-buat. Dalam hati aku merasa ingin muntah.

"Benarkah?"

"Eh?"

Aku bingung dengan perkataannya, hmm—maksudku, pertanyaannya. 'Benarkah?' Tentu saja tidak benar! Ini semua aku katakan hanya karena aku membutuhkan tanda tangannya!

"Baiklah. Aku bersedia memenuhi permintaanmu."

Apa yang dia katakan? Aku sungguh tidak mengerti! Permintaan apa? Tanda tangan?

"Mulai hari ini, kau adalah pacarku!"

Aku kaget dan secara spontan aku berteriak, "Tidak mau! Kau pikir kau siapa, hah? Jangan seenaknya mengatakan kalau aku adalah pacarmu!"

"Aku? Kau bertanya siapa aku? Aku Sasuke Uchiha. Kau tidak tahu aku?"

"Aku tahu namamu Sasuke Uchiha! Memangnya ada apa dengan dirimu? Kau hanya panitia MOS yang sungguh-sungguh sangat-sangat begitu MENYEBALKAN!" balasku dengan penekanan pada kata 'menyebalkan'.

"Kau benar-benar tidak tahu siapa aku?"

"Apa maksudmu, hah? Aku sudah mengatakan apa yang kau suruh padaku! Tentu saja aku tidak sungguh-sungguh ingin menjadi pacarmu!"

"Sakura…" panggil Ino pelan.

"Ada apa, Ino? Kau tidak lihat aku sedang kesal, hah? Bagaimana bisa orang seperti dia lahir di dunia ini? Sungguh manusia tidak bermoral! MENYEBALKAN!"

"Sakura, hentikan! Omonganmu sudah kelewat batas! Kau mau mencari masalah dengan kakak panitia MOS, ya?" tegur Ino dengan setengah berbisik kepadaku. Seketika itu pula aku langsung sadar, dan aku langsung menutup mulutku. Wajahku mulai memerah.

"Se-Senpai, ma-maaf," ucapku sambil menunduk sedalam-dalamnya kepada senpai-ayam-kutub di hadapanku. Oh, tidak! Rasanya aku ingin menangis! Bagaimana ini? Aku benar-benar tidak ingin mencari masalah. Oh, Kami-sama, tolong aku!

"Tidak apa," ucap Uchiha-senpai kepadaku, kemudian dia meletakkan tangannya di puncak kepalaku dan mengelusnya lembut.

"Maaf," lirihku. Bagaimana ini? Aku sudah sangat takut.

"Hmm, aku sih, mau saja memaafkanmu. Tapi bagaimana, ya? Hmm, rasanya berat untuk memaafkanmu. Kecuali—"

"A-Apa?" Aku menegakkan kepalaku.

"Kau mau menuruti perintahku."

"Perintah apa?"

"Kau harus menjadi pacarku," ucapnya dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya. Arrggghhh! Sungguh menyebalkan! Mengapa harus menjadi pacarnya, sih?

"Apa tidak ada yang lain?" pintaku.

"Kau ini! Masih untung aku mau memaafkanmu! Tidak ada tawar-menawar lagi!"

Huh! Dasar ayam kutub menyebalkan!

"Baiklah!" kataku dengan ogah-ogahan. Sedangkan ayam kutub itu… menyeringai?

FLASHBACK: OFF

Huh! Kalau mengingat-ingat hal itu selalu membuat kesal!

Setelah kejadian itu, aku langsung mendapatkan tanda tangan 25 panitia MOS dalam waktu kurang dari 45 menit! Bukan aku yang meminta, tapi Si Ayam Kutub itu yang minta! Aaarrrgghh! Bikin kesal saja! Rasanya aku ingin mencincang-cincangnya, lalu merebusnya dalam kuali besar yang berisi cuka, kemudian aku aduk-aduk pakai arang, sesudah itu aku sajikan untuk makanan spesial ayam neneknya Ino!

Sungguh-sungguh menyebalkan!

TOK! TOK! TOK!

"Sakura, kau sudah bangun? Cepat siap-siap! Hari ini kau masih MOS, kan?" kata Kaa-san sambil mengetuk pintu kamarku.

"Iya, Kaa-san," sahutku.

Baiklah, dengan malas-malasan aku bangun dari tempat tidur, segera membasuh tubuhku, dan mempersiapkan peralatan untuk MOS nanti. Dan untuk hari ini, ikat rambut menjadi 8 bagian!

"Kaa-san~ Ikat rambutku menjadi 8, ya…," seruku seraya berjalan mendekati Kaa-san.

"Delapan?" ucapnya terkejut.

"Iya, Kaa-san. Besok 16."

"Enam belas? Ya, sudah. Sini Kaa-san ikatkan."

Kini Kaa-san mengikat rambutku. Aku tidak mau berkaca untuk melihat hasil ikatan rambutku. Karena pasti sangat memalukan!

Setelah rambutku telah siap, aku segera sarapan dan melahap dengan malas-malasan makanan yang telah disiapkan Kaa-san untukku. Tiba-tiba…

"Sakura, ada cowok yang menunggumu di depan rumah!" kata Kaa-san tiba-tiba.

"Ha?" Aku hanya mengangkat sebelah alisku. Jangan mengatakan kalau yang dimaksud Kaa-san adalah ayam kutub!

Aku segera menyelesaikan sarapanku dan segera melangkah menuju halaman depan rumahku. Yang benar saja! Mengapa ayam kutub itu ada di sini! Dan… darimana dia tahu rumahku! Ah! Dasar unggas!

"Mengapa kau ada di sini?" tanyaku dengan tidak sepenuh hati. Masa pagi-pagi begini mood-ku langsung lenyap hanya karena dia?

"Menjemputmu."

"Untuk apa?"

"Ya untuk pergi ke sekolah bareng, Jidat!"

APA? Baru saja kemarin bertemu dan langsung jadian -secara paksa- kemudian dia langsung memanggilku dengan kata 'Jidat'? Dasar unggas!

"Aku tidak mau pergi bersamamu," ucapku to-the-point.

"Kau benar-benar mau mencari masalah, ya?"

Huft! Orang ini! Arrrggh! Mengapa hidupku sial begini? Oh, Kami-sama, mengapa kau mengirimkan makhluk tak jelas ini kepada diriku?

Aku menghembuskan nafas singkat. "Baiklah, tunggu aku sebentar."

"Hn."

Aku kembali memasuki rumahku dan mengambil tasku. Aku langsung mengenakan sepatuku dan segera menghampirinya. Dia membawa mobil pribadinya. Anak orang kaya, heh?

Aku dan dia segera memasuki mobilnya setelah aku berpamitan dengan Kaa-san. Kamipun pergi menuju sekolah kami yang tercinta (?).

Selama di perjalanan…

"Hei, ay—eh! Maksudku, Senpai! Darimana kau tahu rumahku?"

"Hn."

Jawaban apa itu? Memangnya sekarang kalau mau bicara harus bayar dulu, ya?

"Senpai, mengapa aku harus menjadi pacarmu? Kau tahu, aku tidak suka padamu!"

"Memangnya apa urusanku kalau kau tidak menyukaiku?"

Arrrgggh!

"Tentu saja! Kau sudah memaksaku untuk menjadi pacarmu!"

"Aku tidak memaksamu. Aku hanya memenuhi keinginanmu. Bukankah kau yang mengatakan sendiri kalau kau ingin menjadi pacarku?"

"Tapi itu karena Senpai yang suruh!"

"Mengapa kau mau menuruti perintahku?"

"Karena aku membutuhkan tanda tanganmu!"

"Memangnya kalau kau tidak mendapatkan tanda tanganku, kau akan mati?"

"…"

"Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan menjadi pacarmu," ujarnya.

Ya ampun, orang ini! Geer tingkat tinggi! Siapa juga yang mau menjadi pacarnya?

"Dulu, aku pernah ditembak 10 cewek dalam waktu 1 minggu."

Hah? Ternyata ada juga yang mau menjadi pacarnya! Padahal jelek seperti pantat ayam begitu!

"Aku memang ganteng. Jadi wajar saja."

Arrgh! Rasanya aku ingin muntah!

"Tidak mungkin ada cewek yang tidak menyukaiku."

Aku yang tidak menyukaimu!

"Yang tidak menyukaiku pasti buta."

Ooh, jadi kau menghinaku, ya? Dasar cowok narsis tingkat maksimum!

"Kita sudah sampai."

Fyuh! Akhirnya!

.

.

End Sakura's POV

.

.

Sasuke dan Sakura telah sampai di sekolah mereka berdua. Sasuke segera memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah disediakan oleh sekolah. Mereka berdua turun bersama-sama. Dan hal itu tiba-tiba menjadi tontonan para murid Konoha High School.

"Sasuke!" teriak seorang pemuda dari kejauhan. Pemuda itu segera berlari menuju Sasuke dan Sakura yang masih berada di tempat parkir.

"Jadi ini pacarmu, ya?" tanya pemuda itu. Pemuda tersebut memiliki rambut jabrik berwarna orange. Mata sapphire-nya menjadi pelengkap kharismanya tersendiri.

"Hn," jawab Sasuke singkat.

"Hai, Pacar Sasuke! Namamu Sakura, bukan? Aku Naruto Uzumaki! Teman dekat Sasuke. Mungkin kau tidak pernah melihatku kemarin, karena aku bukan panitia MOS. Salam kenal," ujarnya.

"Salam kenal, Uzumaki-senpai."

"Panggil Naruto saja. Kau 'kan sudah menjadi pacar temanku."

"Ba-Baiklah, Na-Naruto-senpai."

"Ayo cepat ke kelasmu," ucap Sasuke seraya menarik tangan Sakura.

"Mengapa terburu-buru, Sasuke?" tanya Naruto.

"Ohayou," sapa seorang gadis berambut indigo. Hinata Hyuuga.

"Ah! Ohayou, Hinata-chan," balas Sakura.

"Hi-Hinata?" kata Naruto tak percaya.

"Eng… Naruto-kun?" balas Hinata yang juga tak percaya.

Tiba-tiba saja, Ino datang menghampiri mereka.

"Ohayou, Sakura, Hinata! Ohayou Uchiha-senpai dan err—siapa, ya?" kata Ino.

"Naruto Uzumaki. Aku teman dekatnya Sasuke."

"Oh, Uzumaki-senpai."

"Eng… Hinata-chan, Naruto-senpai, kalian sudah saling kenal?" tanya Sakura.

"Tentu saja!" jawab Naruto mantap.

"Kalian ada hubungan apa?"

"Hinata pacarku!"

"Naruto-kun mantan pacarku!"

Semuanya terdiam.

"Jadi, kalian pacaran atau tidak?" tanya Sakura bingung.

"Pacaran!" sahut Naruto.

"Putus!" sahut Hinata.

"Yang benar itu yang mana? Pacaran atau sudah putus? Kalian membuatku bingung," kata Sakura.

"Pacaran!"

"Putus!"

"Pacaran!"

"Putus!"

"Pacaran!"

"Putuuss!"

"Pacaraaan!"

"Putuuuus!"

"Sudah, sudah!" Ino berjalan mendekati Naruto. "Senpai, saya mewakili Hinata mau mengucapkan, 'Loe! Gue! END!' Arigatou," kata Ino lalu kembali ke tempatnya yang semula.

"Te-Terima kasih, Ino-chan," ucap Hinata.

"No problem."

"Hinata~ Kita belum putus, kan? Hinata~" mohon Naruto.

"Maaf, Naruto-kun, aku tidak bisa."

"Mengapa? Kau meninggalkan daku tanpa alasan yang jelas," kata Naruto sok melankolis.

"So-Soalnya…" Wajah Hinata memerah. "Daku tidak sanggup lagi untuk menemani kau 4 jam sekali ke warung ramen!" tutur Hinata ikut-ikutan melankolis.

Hening.

"Jadi, cuma karena itu?" tanya Naruto mencoba mencairkan suasana yang cukup canggung.

"I-Iya."

"Kalau begitu, maafkan aku, Hinata," ucap Naruto. "Aku tidak akan makan ramen 4 jam sekali lagi."

"Be-Benarkah?"

"Tentu saja!"

"Jadi, ceritanya kalian balikan, nih?" tanya Ino tiba-tiba yang dibalas dengan wajah memerah dari Hinata dan anggukan mantap dari Naruto.

"Tenang saja, Hinata. Aku tidak akan makan ramen 4 jam sekali. Tapi aku akan makan ramen 3 jam sekali. Bagaimana?"

"PUTUS!"

"Hinata!"

Hinata berjalan meninggalkan mereka, sedangkan mereka yang ia tinggalkan (?) hanya menatap bingung minus Naruto.

"Hinata!" jerit Naruto.

"Hah, kau ini memang payah," komentar Sasuke.

"Ah, kau kejam sekali, Sasuke! Huhu, Hinata!"

"Hei, Sakura, kita ke kelas saja berdua," bisik Ino kepada Sakura. Sakura membalasnya dengan sekali anggukan mantap. "Biarkan saja ayam kutub yang menemani Uzumaki-senpai."

"Benar."

Akhirnya, secara diam-diam Sakura dan Ino berjalan menuju kelas mereka berdua, meninggalkan Naruto yang sedang bersedih dan Sasuke yang sedang mencoba menghibur Naruto walaupun hasilnya malah kebalikannya.

.

.

.

"Hei, Sakura," panggil Ino ketika mereka sampai di bangku mereka.

"Ada apa?"

"Kau sudah membuat surat cinta untuk kakak panitia MOS?"

"Ha?"

Isi kepala Sakura: Loading…. 1%... 2%... 3%... TING!

"APA? Su-Surat cinta?" tanya Sakura bingung.

"Iya, surat cinta. Jangan-jangan kau belum membuatnya, ya?"

"Ba-Bagaimana ini?"

"Ha? Jadi kau benar-benar belum membuatnya?"

"Iya, Ino… Bagaimana ini? Lihat punyamu, dong…," pinta Sakura dengan wajah memelas.

"Ooh, tidak bisa… Kau buat saja sendiri…"

"Aih, kau kejam sekali."

"Ya maaf, deh… Mendingan kau cepat buat, deh! Sebentar lagi bakalan bunyi bel masuk."

"Iya, iya! Enakan buat siapa, ya?" tanya Sakura sambil menyiapkan kertas dan pena.

"Lebih baik kau buat untuk Si Ayam Kutub itu," usul Ino.

"Ha? Ogah!"

"Kau kan sudah menjadi pacarnya, yah walaupun aku tahu sebenarnya kau tidak mau berpacaran dengannya. Tapi kau tahu tidak, hubungan kau dan ayam kutub itu sudah tersebar ke seluruh penjuru sekolah!"

"Kau jangan berlebihan, Ino," celetuk Sakura.

"Ini sungguhan! Kenyataan, Sakura! Pikirkan saja jika kau membuat surat cinta untuk kakak panitia MOS yang lain, kemudian suratmu yang terpilih untuk dibacakan kepada semua murid! Lebih baik kau pilih cara aman; membuat surat untuk ayam kutub!" jelas Ino panjang lebar.

"Be-Benar juga! Tapi, kalau aku membuat surat cinta untuk dia, nanti dikira aku benaran suka sama dia! Asal kau tahu saja, ya, dia itu orang yang punya penyakit geer dan narsis tingkat akut!"

"Sudahlah, tak apa! Masa' kau mau mencari masalah dengan Ketua OSIS?"

"Ke-Ketua OSIS? Siapa?"

"Jadi kau belum tahu ketua OSIS kita siapa?"

Sakura hanya geleng-geleng kepala.

"Ketua OSIS kita itu AYAM KUTUB!"

"Apa? Kau berbohong, kan?"

"Sungguh, Sakura! Ayam kutub itu Ketua OSIS kita!"

"Ta-Tapi, masa Ketua OSIS seperti itu, sih?" kata Sakura sambil memikirkan sifat Sasuke yang ia dapatkan saat di dalam mobil.

"Sudahlah, lebih baik kau segera tulis surat cintamu itu, Sakura! Sebentar lagi akan bunyi bel."

"Iya, iya."

.

.

.

Sama seperti hari pertama MOS, para panitia MOS mengarahkan peserta-peserta mereka menuju aula sekolah. Tanpa perlu diperintah lagi, para peserta MOS langsung duduk di deretan kelas mereka masing-masing. Begitu pula dengan Ino dan Sakura.

"Aduh, Ino… Bagaimana ini? Aku takut sekali," ujar Sakura sambil nempel-nempel (?) kepada Ino.

"Kau ini kenapa, sih?" tanya Ino sambil berusaha melepaskan Sakura yang terus bergelayut pada dirinya.

"Aku takut kalau suratku dibacakan sama Temari-senpai," seru Sakura.

"Semua peserta di sini juga sudah harap-harap cemas kalau surat mereka dibacakan."

"Tapi…"

"Sudahlah, tenang saja. Lagipula ayam kutub itu tidak menyakitimu, 'kan?"

Sakura hanya mengangguk.

"Kalau begitu, tenanglah! Jangan nempel-nempel padaku terus, dong! Entar kita dibilang yuri lagi! Secara aku 'kan masih normal!"

Akhirnya Sakura melepaskan diri dari Ino. "Kau masih normal?" tanya Sakura bercanda.

"Tentu saja! Buktinya aku menyukai Shikamaru-senpai! Upps!" Ino menutup mulutnya.

"Shikamaru-senpai? Senpai yang hobby-nya tidur itu?"

"Hush! Kau ini! Walaupun dia suka tidur, tapi dia itu orangnya jenius! Jangan salah," ujar Ino dengan sedikit tersipu.

"Yah, terserah kau sajalah," ucap Sakura mengalah.

Acara MOS hari kedua mulai dilaksanakan. Dimulai dengan doa pembuka kemudian dilanjutkan dengan acara-acara lain yang telah dipersiapkan dengan baik oleh panitia-panitia MOS.

"Adik-adik, masih semangat, nggaaaak?" tanya Temari.

"Nggaaaakk!"

"Yah, harus semangat dong!"

"Gak mauuuu!"

"Kok gak mau? Yak! Biar semangat, berdiri dong, Adik-adik!"

Serentak semua peserta MOS berdiri.

"Capek, nggak?"

"Capeeekk!"

"Kalo capek, duduk!"

Serentak semua peserta MOS duduk kembali.

"Bosan, nggaaaakk?"

"Bosaaaaann!"

"Berdiri dong, kalau begitu!"

Serentak semua peserta MOS berdiri lagi.

"Pegel, nggaaaaaaakk?"

"Nggaaaaakk!"

"Duduk aja, deh!"

Serentak semua peserta MOS duduk lagi.

"Mau istirahat, nggaaaaakk?"

"Maaauuuuu!"

"Kalau begitu, berdiri!"

Semua peserta MOS masih duduk manis di bangkunya.

"Hei, ayo berdiri!"

"Gaaaakk mauuuu!"

"Katanya mau istirahat, berdirilah!"

Serentak semua peserta MOS berdiri lagi untuk kedua kalinya dalam menit itu.

"Duduk aja, deh!"

Serentak semua peserta MOS duduk lagi untuk kedua kalinya dalam menit itu.

"Eh, berdiri aja, deh!"

"Gak mauuuuu!"

"Berdiri!"

"Nggaaaak!"

"Berdiri!"

"Nggaaaak!"

"Ya sudah. Kita bacakan surat cinta aja, ya?"

"Nggaaaak!"

"Semua nggak, jadi maunya apa, dong?"

"Gak tahuuuu!"

"Hah, dasar! Oke, kita bacakan surat cinta, ya!" teriak Temari dengan penuh semangat sambil mengambil secarik kertas dari teman panitia MOSnya.

"Aduh, Ino! Aku deg-degan, nih!" ujar Sakura.

"Aku juga!" sahut Ino.

"Yak. Untuk Sasuke Uchiha-senpai yang tersayang," kata Temari memulai membaca surat cinta yang telah dipilih.

"Gawat, Ino! Itu suratku!" ujar Sakura. Wajahnya sudah keringat dingin.

"Be-Benarkah?" Ino sedikit terkejut.

"Untuk Sasuke Uchiha-senpai yang tersayang. Bagaimana kabarmu? Pasti baik-baik saja. Mengapa aku tahu? Karena tadi pagi kau yang menjemputku."

"CIEEEE!"

"Uchiha-senpai, mengapa ya, setiap kali aku memandangmu, rasanya jantungku langsung melompat-lompat? Setiap berada di dekatmu, hatiku serasa bergetar? Wajahmu yang tampan rupawan, mengingatkanku kepada Obama. Matamu indah bagaikan es, dan hidungmu mancung bagaikan pisang. Rambutmu menarik seperti ayam neneknya Ino, dan keberadaanmu seperti setan yang selalu datang tiba-tiba."

"Hei, kenapa kau membawa-bawa namaku?" tanya Ino kaget.

"Ma-Maaf! Soalnya hanya itu yang ada dipikiranku. Maaf, ya…," pinta Sakura.

"Haaah, kau ini!"

"Hatiku sakit, ketika kau mengatakan kalau kau pernah ditembak 10 cewek dalam 1 minggu. Kau tahu rasanya bagaimana? Hatiku seperti dicucuk-cucuk jarum!"

"OOOWWWHHH!"

"Aku pernah bertanya dalam hati, mengapa Kami-sama mengirimkan makhluk seperti kau kepada diriku? Kau terlalu sempurna untukku."

"AAAAAWWWHHH!"

"Mungkin hanya ini saja surat dariku. Maaf kalau ada yang salah. Tapi sepertinya salah semua, deh!"

"JIIIAAAAAAAHHH!"

"Yah, maklumlah kalau ada yang salah. Karena aku ini memang cantik, baik, ramah, suka menolong, rajin belajar, pintar, suka membantu orang tua, suka menabung, tidak sombong, patuh kepada orang tua, perhatian, pengertian, konsisten, hemat, punya banyak teman, elegan, suka mengalah, berbudi pekerti luhur, bijaksana, tegas, nggak bikin malu, dan eksis tanpa narsis."

"HUUUUUU!"

"Wah, ini anak benar-benar PD!" komentar Temari. "Sekian dariku. Salam manis untukmu selalu, Sakura Haruno."

"CIEEEEE! HUUUUU! CUIT! CUIT! EHEM! EHEM! EAAAA!"

"Sakura Haruno? Ini bukannya pacar Sasuke, ya?" seru Temari. "CIIIEEE! Sasuke! Lampu hijau, nih!"

"CIIIIEEE! CUIT! CUIT!"

"Ya ampun, Sakura! Itu, sih PD yang berada jauh di atas tingkat maksimum!"

"Yah, mau gimana lagi. Hanya itu yang ada dipikiranku," kata Sakura sambil mencoba menahan malu.

"Ckckck."

.

.

.

Sesi membacakan beberapa surat cinta telah usai. Kini saatnya para peserta MOS menjalankan "ritual" mereka dalam MOS, yaitu meminta tanda tangan para panitia MOS.

"Pokoknya, kita jangan berada di dekat Sasuke-senpai!" seru Sakura kepada Ino. Mukanya masih memerah karena suratnya telah dibacakan tadi.

"Tapi, Shikamaru-senpai berada di dekat Sasuke-senpai, Sakura!"

"Haaah, itu, sih urusanmu!"

"Oke, oke." Ino menghembuskan nafas singkat. "Jadi, kita mulai dari siapa, nih?"

"Hmm, bagaimana kalau Sasori-senpai?"

"Sasori-senpai? Hmm, boleh juga."

Akhirnya, Sakura dan Ino memutuskan untuk meminta tanda tangan Sasori terlebih dahulu. Mereka masuk ke dalam kerumunan para peserta MOS yang meminta tanda tangannya.

.

.

Sakura's POV

.

.

Aku bingung. Mengapa setiap kali kalau minta tanda tangan aku selalu mendapatkannya lama sekali? Sedangkan Ino, ia sudah dapat duluan dibandingkan aku. Hah, benar-benar menguji kesabaran.

"Umm, Sakura Haruno?" tanya Sasori-senpai.

"Ya?"

"Mau tanda tangan?"

"Te-Tentu saja!"

"Cium dulu."

"Hah? A-Apa?"

"Cium… Di bibir," kata Sasori sambil menyeringai. Aku terpaku.

A-Apa? Cium? Di bibir? Hanya untuk tanda tangan? Lebih baik tidak usah!

"A-Aku tidak mau!" tukasku.

Bagaimana ini? Kami-sama tolong aku… Aku tidak mau ciuman pertamaku diserahkan oleh orang ini! Tolong! Tolong aku! Sasuke-senpai!

"Mengapa tidak mau? Sedangkan kau disuruh berpacaran dengan Sasuke saja kau mau. Bukankah aku tidak kalah ganteng dengannya?"

Cih! Menjijikkan! Tidak kalah ganteng? Ha! Terlalu cepat 10.000 tahun dia mengucapkan hal itu kepadaku! Tentu saja lebih ganteng Sasuke-senpai! Arrrgghh! Ngomong-ngomong, di mana Sasuke-senpai sekarang? Apa dia ingin aku berciuman dengan orang ini, hah? Dasar pacar tak berguna!

"Aku tidak mau menciummu! Dan tidak akan pernah menciummu!"

Dia makin menyeringai. "Hah, kau lucu sekali."

Dia berjalan mendekatiku. Bagaimana ini? Tidak! Aku tidak mau! Menjauh dariku! Cepat menjauh! Aaaahhh! Sasuke-senpai! Di mana kau sekarang? Dasar ayam kutub! Kini Sasori-senpai semakin mendekat ke arahku. Tidak! Aku tidak mau! Sasuke-senpai, tolong aku!

Tunggu dulu! Mengapa aku malah memikirkan Sasuke-senpai? Bahkan aku berpikiran kalau Sasuke-senpai lebih ganteng darinya. Tidak, ini tidak boleh! Seseorang tolong aku!

BUGH!

"Jangan coba-coba mendekatinya jika kau masih ingin hidungmu utuh!" bentak seseorang.

Sa-Sasuke-senpai?

Dia menolongku?

"Cih! Apa urusanmu, hah?" tanya Sasori-senpai belagu.

"Urusanku? Tentu saja! Aku pacarnya!" kata Sasuke-senpai sambil mendekapku.

DEG! DEG!

Mengapa rasanya jadi begini?

"Pacarnya katamu? Bukankah kamu yang memaksanya untuk berpacaran denganmu? Jadi tidak ada salahnya 'kan jika aku memintanya untuk menciumku?"

"Diam!"

BUGH!

Lagi-lagi Sasuke-senpai memukulnya dengan keras lalu menarikku menjauh darinya menuju ke tempat yang lebih sepi.

"Se-Senpai…"

"Jangan dekat-dekat dengannya!" katanya tegas kepadaku.

"Aku tidak dekat-dekat dengannya. Aku hanya ingin meminta tanda tangannya!"

"Mengapa kau tidak minta bantuanku saja, huh?"

"Mengapa aku harus meminta bantuanmu?"

"Tentu saja karena aku adalah pacarmu! Dan kau adalah pacarku!"

"Tapi kau tidak serius!"

"Aku serius!"

Aku terdiam.

"Kau dari Suna, bukan? Aku juga berasal dari Suna. Dan aku juga berada di sekolah yang sama denganmu dulu, Suna Gakuen. Aku selalu melihatmu dan memperhatikanmu. Namun bisa kupastikan kalau kau tidak pernah menyadari hal itu. Makanya…"

Aku melihat wajahnya sudah memerah. Dari Suna? Benarkah? Jadi, Sasuke-senpai dulu bersekolah di Suna? Dan satu sekolah denganku?

"Makanya ketika aku mengetahui dirimu juga masuk ke SMA yang sama denganku, aku merasa senang. Dan aku tidak ingin kesempatan untukku hilang. Jadi…"

DEG! DEG! DEG!

"A-Aku tahu kalau perbuatanku salah. Kita belum saling mengenal. Jadi, maafkan aku. Jika kau benar-benar tidak ingin bersamaku, baiklah. Tak apa. Aku sudah bisa menduga hal tersebut akan terjadi padaku."

DEG! DEG! DEG!

"Sasuke-senpai, apakah kau benar-benar menyukaiku?"

Wajahnya sangat memerah. Dia memalingkan wajahnya. "Ya."

DEG! DEG! DEG!

"Senpai, sepertinya aku juga merasakan hal yang sama denganmu."

"Eh?"

"Aku ingin selalu bersamamu, Senpai!" ujarku seraya memeluknya. Sedangkan orang yang kupeluk wajahnya semakin memerah dan membalas pelukanku.

Oh, Kami-sama, mengapa kau mengirimkan makhluk tak jelas ini kepada diriku?

Aku tahu. Karena memang dia ditakdirkan untukku.

Kata orang-orang, masa-masa di SMA itu yang paling menyenangkan. Apa benar?

Tentu saja benar! Aku saja sudah mulai merasakannya!

Masa-masa SMA itu yang paliiiiing menyenangkan! Percayalah!

THE END

.

.

.

Aneh, jelek, ending ngegantung, gak lucu, garing, benar-benar semuanya nongol di chapter 2. T.T

Huaaaaa! Maafkan saya yang tidak bisa membuat chapter 2 ini lebih bagus dari chapter sebelumnya. Ini ada sekop, silahkan pukul kepala saya. TT^TT

Saya juga tidak berani untuk membuat fanfic ini lebih dari 2 chapter. Soalnya saya gak mau fanfic ini menjadi salah satu fanifc saya yang terbengkalai. Jadi, maafkan saya (lagi). =="

Mengenai pair yang lain… hmm… saya belum tahu. ==" Saya sudah mencoba untuk memasukkan NaruHina di sini, tapi kayaknya gagal, ya? Huaaaaa! D'X

Yak. Gak mau banyak omong lagi. Langsung saja. Bersediakah readers memberikan saya review? X3

~Special Thanks~

Mizuki Aishi ; Aiko Uchiha-chan ; Parapluei De Fleurs ; HarunoZuka ; Zee konaqii ; .Nightroad ; Ayhank-chan UchihArlinz ; Yusei'Uzumaki'Fudo ; Meity-chan ; Fiyui-chan ; Hikaru Kin ; RestuChii SoraYama ; Tsukiyomi Kumiko ; embun pagi ; Lin Narumi Rutherford ; Kudo Widya-chan Edogawa ; Rachelhimeblossombieber ; cherry ; Angelique rayne

(Maaf jika terdapat kesalahan dalam pengetikan nama)

And YOU!

Thanks for reading! ^^