Kuroshitsuji Yana Toboso
Warning! AU, Sho-ai, OOC, typo (maybe), dll
Chapter 2 : Warmth
.
Previously, in the past...
I can laugh with freely
Knows no fear of anything,
and the minds of children like me become so shallow
But now everything was different
It feels too hard for me to be able to smile,
and I've always being afraid of the world
Then, you're being there to remove those difficult feelings,
and carve the new feelings within my heart
.
Ciel's Pov
Aku tak tahu apa yang sebelumnya terjadi pada diriku, namun saat aku tersadar aku telah berada di dalam sebuah ruangan yang dipenuhi oleh warna putih. Kepalaku terasa sangat pusing dan berat. Saat itulah aku mulai sadar bahwa aku telah dibawa ke tempat ini oleh pria yang menolongku malam itu. Tempat ini pasti rumah sakit, dan pasti pria itu yang membawaku ke sini.
Aku mencoba untuk bangkit dan duduk dengan susah payah. Namun setiap bergerak, pasti ada bagian dari tubuhku yang terasa sakit. Akupun sadar bahwa ternyata banyak perban yang bersarang di tubuhku. Apa lukaku memang sebanyak ini? Malam itu, aku memang disiksa habis-habisan di depan mata Ayah dan Ibu. Bahkan dalam posisi sedang menahan rasa sakit pun, aku masih dapat melihat raut wajah mereka berdua dengan jelas.
Ekspresi kemarahan dan kekecewaan di wajah Ayah, dan rasa takut yang terpancar jelas dari Ibu. Aku tahu, mereka pasti marah dan takut melihat anak mereka diperlakukan seperti itu. Namun, separah apapun luka yang ditorehkan padaku, tetap saja aku tak ikut terbunuh seperti Ayah dan Ibu. Justru mereka lah yang dibunuh tepat di depan mataku. Dan apa yang bisa kulakukan? Tidak ada.
Semua perban ini, semua rasa sakit dan kepedihan ini, semuanya nyata. Aku tahu, ternyata ini memang bukan mimpi. Tak ada lagi sosok Ayah dan Ibu yang akan tertawa bersamaku. Tidak ada lagi Ibu yang akan menggodaku, tak akan ada lagi Ayah yang akan mengajariku banyak hal. Mereka telah pergi, untuk selamanya. Mereka meninggalkanku sendirian.
Aku meremas selimut pasien dengan sangat kuat. Kutundukkan kepala dan kugigit bibir bagian bawahku tanpa peduli akan cairan asin yang keluar dari dalamnya. Mengingat tentang kejadian malam itu benar-benar membuatku semakin frustasi. Sebanyak apapun aku meyakinkan diri bahwa semua itu hanyalah mimpi, tetap tak ada satu pun yang dapat membuktikannya.
TES
Ayah, Ibu...
Akhirnya, air mata itu muncul kembali. Dengan tiba-tiba, dan tanpa bisa kutahan. Aku hanya terisak pelan di ruangan ini, dengan seorang diri. Dapat kurasakan cairan asin berwarna merah semakin keluar dari bibirku dan mulai merembes ke pakaianku.
CEKLEK
Terdengar suara pintu yang terbuka dari arah samping kiriku. Saat kulihat, pria yang menolongku malam itu tengah berdiri di depan pintu dengan ekspresi wajah yang datar. Jarak kami terpisah beberapa meter. Jadi, tentu saja ia dapat melihat dengan jelas tampangku yang jelas sedang kacau seperti ini. Masih ada setetes-dua tetes air mata yang mengalir di wajahku, walaupun aku tak lagi menggigit bibir bagian bawahku dengan ganas. Dari ekspresi yang sangat datar itu, aku yakin dia pasti sudah mengira bahwa kondisiku akan menjadi seperti ini.
Tak butuh waktu lama, pria itu kemudian mulai berjalan mendekat ke arahku. Raut mukanya tak berubah. Dan cara berjalannya nampak santai sekali. Sekali lihat, aku tak akan menemukan adanya bahaya pada pria itu.
"Jangan pernah percaya kepada siapapun!"
Seketika, tubuhku langsung menegang dan kaku. Kedua tangan dan kakiku terasa mendingin, dan berbagai macam perasaan muncul dalam hatiku. Perasaan bingung, marah, benci, sedih, takut, semuanya berkumpul menjadi satu. Tak kusadari, pria itu telah berdiri di samping kiri ranjangku. Aku hanya terpaku saat melihat kedua iris ruby yang dimilikinya, namun aku langsung sadar saat tangan kanannya mulai terjulur menuju ke arah wajahku.
PLAK!
Secara spontan, aku langsung menepis tangannya dengan kasar. Aku takut dan aku sadar, bahwa aku tidak boleh mempercayai orang lain lagi. Dapat terlihat olehku raut wajah datarnya yang tergantikan dengan rasa kaget yang sama sekali tak dibuat-buat.
"J-jangan sentuh aku!" Seruku dengan suara yang sedikit bergetar, begitu pula dengan tangan yang kujadikan untuk menepisnya tadi. Setelah aku membentaknya, barulah raut wajahnya berangsur-angsur kembali menjadi normal. Namun, secara sekilas aku seperti melihat adanya sorot keibaan dari kedua matanya.
GREP!
Tanpa memedulikan tanganku yang bergetar, dia—pria yang menolongku malam itu menarik lenganku hingga wajah kami terpisah dalam jarak yang terbilang cukup dekat. Aku kaget, tentu saja. Namun—entah karena kerasukan apa—tiba-tiba saja aku tak dapat menggerakkan tubuhku. Dengan jarak sedekat ini, aku dapat merasakan hembusan napas beraroma mint dari pria itu yang benar-benar membuatku tak dapat berkutik apalagi memberontak—walau aku ingin sekali memberontaknya.
Tubuh sialan! Kapan kau mau bekerja sama dengan isi hatimu, ha?
Dengan cepat, satu tangannya yang bebas langsung mengeluarkan sesuatu dari balik jas hitam yang dikenakannya.
Sebuah sapu tangan berwarna biru tua.
Kemudian, ditempelkannya permukaan sapu tangan itu di bagian bawah bibirku, lalu mulai dihapusnya pelan sisa-sisa darah yang masih menempel di sana. Darah yang telah mengering tak lagi dapat dihilangkan dengan sapu tangan itu. Dia membasahi sapu tangannya dengan sedikit air, sebelum kembali mengusapkannya pada bibirku. Dia juga menghapus air mataku yang hampir mengering dengan tangannya. Dan setelahnya, ia menarik kembali wajahnya menjauh dariku.
Kehangatan itu muncul kembali. Mengingatkanku akan malam dimana pria ini memelukku, malam ketika tragedi itu terjadi. Lagi-lagi, aku teringat akan kedua orang tuaku. Rasa sakit itu muncul kembali. Keraguan terus-menerus berkuasa di dalam hatiku.
Pria yang berada di hadapanku kini adalah orang yang telah menyelamatkan nyawaku. Siapapun yang melihat bagaimana caranya memperlakukanku, pasti akan langsung yakin bahwa dia bukanlah orang yang jahat. Tapi, sekeras apapun aku berusaha untuk meyakinkan diri bahwa dia adalah orang yang baik, tetap saja hatiku menolaknya. Aku takut, jika kejadian yang sama akan terulang lagi. Aku takut, jika dibalik semua kebaikannya ini dia juga menyimpan sesuatu yang tak kuketahui. Aku takut, jika orang ini mengkhianatiku.
Lalu... aku harus bagaimana?
"Kau takut, ya?"
Aku tersentak kaget ketika ia tiba-tiba bertanya. Dia bilang, takut? Apa aku memang terlihat segitu ketakutannya di mata pria ini?
"Maaf jika semua ini membuatmu bingung. Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu..." tanpa memedulikan rasa terkejutku, ia terus berbicara. Aku hanya dapat diam mendengarkan. Sebelum ia memperkenalkan diri, aku sudah tahu tentang namanya. Walau yang kutahu hanya 'Sebastian' saja—karena orang-orang yang kuyakini sebagai teman-temannya memanggil dengan nama itu.
"Namaku Sebastian. Sebastian Michaelis."
Mataku sedikit melebar kala melihat wajahnya. Dia, pria itu... tersenyum lagi padaku. Hanya saja, senyuman itu berbeda. Bukan senyuman yang mengingatkanku akan Ayah, namun senyuman hangat yang benar-benar membuatku tenang. Tanpa sadar, mulutku pun menggumamkan namanya yang sebenarnya sudah kuketahui.
"Sebas... tian," untuk pertama kalinya, aku menyebut nama pria itu. Senyumnya makin melebar, hingga membuat kedua manik ruby yang indah itu tersembunyi.
Tiba-tiba, wajahku terasa panas. Ah, apa karena suhu di ruangan ini, ya? Jendelanya juga tidak dibuka. Ya, pasti karena itu... bukan? Tapi, rasanya jantungku berdetak cepat sekali. Sial. Senyuman Sebastian ternyata membawa pengaruh buruk pada jantung dan tubuhku...
"Nah, karena sepertinya kondisimu sudah membaik, aku tidak akan sungkan lagi..." Sebastian kemudian berdiri dan berjalan ke arah jendela, lalu langsung menyibak tirainya dengan tiba-tiba. Sinar matahari pagi pun masuk menembus kaca jendela, membuat kedua mataku menyipit karenanya.
"Ukh!" Refleks, aku mencoba menghalangi sinar matahari yang masuk ke mataku dengan sebelah tangan. Sebastian tidak menghentikan aksinya sampai disitu saja. Dia juga membuka jendela, membiarkan udara pagi masuk ke dalam ruangan. Aku hanya sedikit bingung melihatnya. Bukan, yang kumaksud bukan Sebastian, tapi sinar mataharinya!
"Oke! Begini lebih baik. Kau tidak bisa terus-terusan tidur sementara matahari sudah berada di atas, bukan?" ucapnya sambil berbalik dan berjalan ke arahku sebelum kemudian duduk di kursi yang tersedia di samping ranjangku.
Jadi, sebenarnya ini sudah jam berapa? Mengalihkan pandangan dari Sebastian, aku pun sibuk melirik kesana-kemari hanya untuk mencari jam. Mungkin Sebastian tahu apa yang tengah kucari. Dia kemudian duduk kembali di samping ranjangku, "Ini sudah pukul 9 pagi, lho..." ucapnya dengan nada mengejek. Aku hanya diam dan menundukkan kepalaku sedikit, menatapi selimut. Sudah berapa lama aku tertidur?
"Kenapa aku bisa berada disini?" tanyaku dengan nada lirih, ditujukan lebih kepada diriku sendiri. Entah Sebastian mendengarnya atau tidak, yang jelas dia hanya menghela napas pelan setelahnya.
"Lukamu lumayan parah, karena itu aku membawamu kesini. Lebam dimana-mana, beberapa patah tulang, benturan di pelipis, dan luka-luka gores lainnya... aku benar-benar kagum semua rasa sakit itu tergantikan oleh kesedihanmu," jelasnya dengan nada prihatin dan kagum sekaligus. Aku benar-benar spechless dibuatnya.
Apa memang lukaku separah yang disebutkannya tadi?
Kemudian, aku meringis pelan. Rasa sakit yang aneh terasa di kedua lengan dan tubuhku. Saat kucoba untuk menggerakkan kakiku, rasa sakit itu juga muncul. Kepalaku juga kembali terasa sakit, diikuti dengan munculnya rasa nyeri dan perih di permukaan kulitku.
Setitik keringat mengalir di pelipisku. Aku kembali meringis, menahan rasa sakit yang muncul saat aku terbangun tadi dan juga kini. Walaupun aku tahu aku memiliki luka yang pastinya sangat banyak, aku tetap tak menyangka bahwa orang itu benar-benar menghajarku sampai se-babak belur ini.
Aku hanya menghela napas dan mencoba untuk menyandarkan punggungku dengan hati-hati—karena rasa sakitnya yang sungguh luar biasa. Saat kulirik ke arah samping kiriku, Sebastian tengah memasang senyuman yang terlihat sedikit misterius di mataku.
'Apa yang sebenarnya direncanakan oleh orang ini?' batinku dengan sedikit was-was.
"Sepertinya keadaanmu sudah membaik dari malam sebelumnya, ya? Kalau begitu, aku juga harus segera menjalankan tugasku..." Sebastian mulai berbicara, membuatku mau tak mau harus menatapnya. Senyum misterius itu masih ada, hanya saja ekspresi wajahnya terlihat lebih serius daripada yang sebelumnya. Walau aku tahu bahwa dia ini adalah orang yang telah menyelamatkanku, tetap saja aku harus waspada. 'Menjalankan tugas', katanya? Bukanah itu cukup mencurigakan, mengingat aku bahkan tak teralu yakin dengan pekerjaan aslinya?
Sejenak kemudian, Sebastian pun mengeluarkan sebuah buku tulis kecil dan sebuah pulpen. Jadi, apa yang akan dilakukan olehnya setelah ini? Mencatat—sudah pasti, tapi mencatat apa?
"Ciel Phantomhive. Lahir di London, Inggris, pada tanggal 14 Desember tahun XX* dan kini telah berumur 13 tahun. Anak dari seorang pengusaha sukses, Vincent dan Rachel Phantomhive. Tinggal untuk sementara waktu di Los Angeles karena alasan pekerjaan orang tua, dan kemudian hampir menjadi korban dari pembunuhan oleh orang kepercayaan keluarga yang sebenarnya adalah seorang pembunuh bayaran yang masuk ke dalam daftar buronan internasional."
Aku hanya terperangah mendengar apa yang tadi keluar dari mulut Sebastian. Kepalaku hanya bertambah sakit mendengarnya. Aku mencoba menerka-nerka, apa dia ini memang seorang detektif atau orang dari kepolisian? Mengenai kedok asli dari orang itu, aku sudah mengetahuinya. Well, orang itu sendiri yang mengaku kepada kami. Tapi, buronan internasional? Demi apa, seberapa kejinya kah sebenarnya orang itu?
"Setidaknya itulah yang kami dapatkan dari pelaku. Kau pastinya sudah tahu tentang apa pekerjaanku, bukan? Aku berasal dari kepolisian di bidang yang mengurusi segala hal yang berkaitan dengan kriminalitas. Dan mengenai mengapa aku dan rekan-rekanku bisa mengetahui tentang apa yang terjadi di rumahmu malam itu... ya, itu adalah karena pesan dari Ayahmu. Dia sudah mengetahui sosok asli dari rekan kepercayaannya itu, karenanya ia mengirimkan pesan kepada kami dengan sangat hati-hati." Sebastian melanjutkan penjelasannya. Dan kini, terjawab sudah. Seluruh pertanyaan yang sebelumnya selalu mengganggu pikiranku, tentang bagaimana bisa nyawaku sempat terselamatkan oleh orang lain, tentang paman yang tiba-tiba berkhianat, tentang pekerjaan Sebastian.
Rasanya ada yang menusuk hatiku saat Sebastian mengatakan hal tentang 'sosok asli dari rekan kepercayaan' ayahku. Sakit hati, sudah pasti menggerogoti hatiku sampai ke bagian-bagian terdalamnya. Aku sungguh tak ingin lagi merasakan penyesalan hanya karena mempercayai orang lain. Manusia di dunia ini, siapapun dan dimanapun memanglah sama. Tukang tipu yang ulung. Pendusta besar. Mungkin aku, atau Sebastian juga termasuk ke dalamnya.
Tanpa sadar, kedua tanganku kembali meremas dengan kuat selimut yang kukenakan. Aku mengalihkan tatapanku dari Sebastian. Aku tahu, pasti ia masih belum selesai berbicara.
"Karena kondisi pelaku saat ini, kami tak mendapat cukup banyak informasi tentang kejadian malam itu. Jadi, Ciel..." Sebastian menggantung ucapannya, walau sesungguhnya aku pun juga sudah tahu apa yang akan ia katakan selanjutnya.
"Sanggupkah kau menceritakan tentang kejadian malam itu padaku?" sambungnya dengan sedikit penekanan di awal kata. Ketika mendengarnya, yang muncul dalam hatiku bukan hanya perasaan takut dan benci. Tapi aku juga merasa seperti direndahkan. Dia bahkan memberi penekanan di kata 'sanggupkah', yang dengan kata lain ia sendiri menganggapku sangat lemah sehingga aku tak sanggup walau hanya bercerita saja. Heh! Dia pikir aku selemah itu? Walaupun aku memang menangisi semua ini, tetap saja aku tak selemah yang ia kira!
Kutatap kembali wajah serius Sebastian dengan tatapan tajam. Walau aku ingin sekali meneriaki pria di hadapanku ini dengan kata-kata kasar, tetap saja tak ada yang keluar dari mulutku. Aku sendiri juga tak mengerti. Masih saja ada rasa ragu di dalam hatiku, kalau-kalau orang ini memanglah orang yang dapat kupercaya atau tidak.
Namun, alangkah terkejutnya aku saat melihat tatapan tajam dan sinis yang kuhadiahi untuknya malah dibalas dengan sorot mata yang sendu. Tiba-tiba saja, aku merasa gugup. Kenapa Sebastian berwajah seperti itu dengan tiba-tiba? Aku bahkan belum mengucapkan sepatah kata dari mulutku. Dia pun berpindah duduk di tepi ranjang, bersebelahan denganku. Tangannya kanannya terjulur dan mengarah ke wajahku, dan berhenti tepat di atas pipiku. Dia mengelusnya perlahan, dan menyingkirkan beberapa helai rambut ke samping telingaku.
Rasa gugupku semakin bertambah. Mau apa lagi orang ini? Sial! Ternyata bukan hanya senyumannya saja yang memberikan dampak buruk padaku! Sentuhannya, juga tatapannya—semuanya memberikan dampak yang sangat aneh pada diriku. Sampai-sampai, cara bernafas saja aku hampir lupa! Sialan!
Kulihat dia mulai membuka mulutnya, "Hei, Ciel..." ucapnya lebih seperti berbisik. Aku hanya menelan ludah dengan susah payah, menanti-nanti lanjutan dari ucapannya.
"Apa kau mau mempercayaiku?"
Mataku melebar kala mendengarnya. Apa yang ia katakan? Mempercayainya?
"Apakah kau percaya... bahwa aku tak akan mengkhianatimu?"
Aku semakin terdiam. Kenapa tiba-tiba ia bertanya seperti itu padaku? Lalu, aku harus menjawabnya seperti apa?
Kurasakan bahwa tangan kanannya telah terangkat dari wajahku. Tanpa dapat kuduga, ia memelukku. Sebastian memelukku, membawaku ke dalam dekapan hangatnya—seperti malam itu. Aneh. Aku tidak merasakan sakit apapun. Kehangatan Sebastian seolah-olah dapat kujadikan sebagai obat bius dan menghilangkan rasa sakit di sekujur tubuhku ini.
Dengan perlahan, kupejamkan kedua kelopak mataku. Aku balas memeluknya, berharap agar dia sadar bahwa aku tak ingin dia pergi. "Kau berjanji, tak akan mengkhianatiku...?" aku berucap lirih. Walau banyak hal yang ingin kusampaikan, yang dapat keluar dari mulutku hanyalah satu pertanyaan itu saja. Aku sungguh tak mengerti. Padahal aku masih merasa ragu untuk percaya, namun tetap saja keraguan itu akan langsung lenyap tak berjejak ketika aku berhadapan dengan pria ini.
Sebastian mempererat pelukannya padaku. Rasa sakit itu masih saja hilang, membuatku semakin yakin bahwa kini aku sedang diberi obat bius olehnya. Oleh Sebastian.
Seolah pemikiran akan obat bius itu benar-benar nyata, rasa kantuk pun mulai dapat kurasakan. Meski kedua mataku tertutup, aku dapat dengan jelas merasakan bahwa aku tengah memikul rasa kantuk. Semakin lama berada di pelukan Sebastian, rasa hangat dan rasa kantuk itu semakin terasa. Nyaman sekali.
"Tentu saja, Ciel. Aku berjanji tidak akan pernah mengkhianatimu..." jawaban Sebastian pun menjadi satu-satunya suara yang terakhir kudengar sebelum aku benar-benar tertidur. Ah, padahal aku baru saja terbangun. Tapi biarlah...
Mungkin, aku memang harus mempercayai orang ini.
.
Iknow I've said this many times,
but you must know that I said it so that you know
Always,
I became comfortable by the warmth you gave me
The soft gaze of yours,
as if can be ward of all badness that come after me
You would promise me, will and keep on my side,
right?
.
"Ayolah, Phantomhive... tidak bisakah kau memberitahu kami? Jawaban yang kau berikan akan menjadi sangat penting untuk kasus ini!"
Aku berusaha untuk berpura-pura tidak mendengar mereka. Sejak setengah jam yang lalu, dua pria di hadapanku ini masuk dan langsung saja berbicara padaku layaknya orang yang sudah lama saling mengenal. Menyebalkan, memangnya mereka pikir mereka siapa? Main masuk seenaknya lalu tiba-tiba bertanya tentang kejadian yang paling tidak ingin kuingat-ingat lagi. Jika mereka mengaku sebagai penyelidik yang profesional, harusnya mereka tahu bahwa sopan-santun itu sangatlah penting!
Ah, aku lupa. Mereka memang tak mengenal sopan-santun saat menginterogasi seseorang, bukan?
Aku yang sedang dalam posisi berbaring dan membelakangi mereka, langsung menaikkan selimut sampai belakang telingaku.
"...jika kau tetap—ah, hei! Apa kau mendengarkan, Phantomhive?!"
Orang-orang itu sangat berisik! Tidak tahukah mereka bahwa ini adalah rumah sakit? Mereka hanya akan membuatku semakin lama dirawat di tempat membosankan ini jika terus-terusan membuka mulut seperti itu. Lagipula, kenapa malah mereka yang datang kesini? Kemana Sebastian pergi? Jiwaku akan merasa lebih nyaman jika mereka bisa bersikap sesopan Sebastian. Dia juga tidak cerewet seperti orang-orang ini.
Melihatku yang tidak memiliki niat untuk mendengar, dapat kudengar salah satu dari orang-orang berisik itu menghela napas berat. "Hah... jika tahu akan jadi begini, mestinya aku menolak permintaan agen Michaelis itu. Apa dia yakin anak ini sudah dapat diajak bicara? Mendengarkan saja sepertinya tidak..." ucap orang itu. Telingaku sedikit berjengit saat mendengar nama Sebastian.
"Jangan berkata seperti itu! Agen Michaelis adalah agen khusus yang didatangkan dari luar negeri! Dia itu sudah profesional, harusnya kita belajar darinya..." balas orang yang satunya.
Aku menautkan kedua alisku. 'Jadi, Sebastian adalah orang yang meminta orang-orang ini untuk datang kesini? Dan lagi, agen khusus katanya?' batinku bingung. Untuk apa Sebastian meminta mereka melakukan pekerjaan ini jika dia sendiri adalah seorang yang profesional? Lagipula, bukankah dia sendiri bisa datang kesini?
Aku menolehkan kepalaku sedikit, dan melihat kedua orang itu sudah berdiri dari duduknya. Mereka mengemasi barang dan merapikan pakaian masing-masing. Sambil berjalan ke luar ruangan, mereka berkata padaku, "Baiklah, nak. Sepertinya kau tetap tak akan mau berbicara kepada kami. Mungkin memang hanya Sebastian saja yang bisa membuatmu buka mulut. Kalau begitu, kami permisi," dan kedua pria itu pun menghilang di balik pintu.
Aku merasa sedikit lega. Akhirnya, serangga-serangga musim panas itu pergi. Jadi, ruangan ini akan kembali tenang dan sunyi seperti sedia kala.
Tapi, ternyata terus-terusan seperti ini juga membosankan. Tak dapat melakukan apapun, merasa dikekang, dan itu sungguh menyebalkan. Aku ingin sekali pergi jalan-jalan, walau mungkin hanya di sekitar rumah sakit saja. Tapi ada daya? Kalau kupaksakan berjalan, yang ada kedua kakiku akan semakin hancur.
Kuturunkan sedikit selimutku, sambil melanjutkan lamunan yang tak jelas ini. Aku rindu Ayah dan Ibu. Meski mereka sering pergi dalam jangka waktu yang lama—karena urusan bisnis, tetap saja rasa rindu ini berbeda. Aku memang masih berumur 13 tahun, tapi selama ini aku selalu mandiri jika ditinggal pergi oleh kedua orang tuaku. Aku tak merasa takut, toh nanti mereka akan kembali ke rumah.
Tapi kini berbeda. Mereka telah pergi dan tak akan pulang kembali. Katakan aku cengeng, katakan aku manja, atau semacamnya, tak masalah bagiku. Memangnya, orang-orang yang mengataiku itu tahu bagaimana perasaanku? Ditinggal pergi oleh satu-satunya kelurga yang kau miliki, dan menjalani hidup seorang diri. Ya, aku tak memiliki kerabat atau apapun. Setiap aku menanyakannya kepada Ayah dan Ibu, mereka pasti akan beralasan bahwa aku masih cukup kecil untuk mengetahui kenyataannya.
Hei, aku sudah bukan anak-anak lagi! Dan lihat sekarang? Sampai akhir mereka tetap tak memberitahuku, membuatku tak akan pernah mengetahui kenyataan yang mereka maksud. Aku benar-benar sendirian. Dan itu membuatku takut.
Itu juga mengingatkanku. Setelah diperbolehkan pulang, aku akan langsung mengunjungi makan mereka. Aku akan mengatakan hal yang saat ini sangat ingin kukatakan pada mereka, hal yang kini kurasakan.
KRIEETT
Suara decitan pintu itu membuyarkan lamunanku. Kukira yang membukanya adalah dokter atau perawat-perawat itu, namun tebakanku salah.
"Hai, Ciel. Bagaimana kabarmu?" lantunan suara yang sangat familiar bagiku, itulah yang terdengar. Ekspresi bosanku langsung berganti dengan sambutan yang antusias. Itu adalah Sebastian! Dengan beberapa buah-buahan di tangannya.
"Sebastian!" Ucapku sedikit kaget. Langsung saja aku bangkit bangun dan duduk di atas ranjang, tanpa peduli akan rasa sakit yang diakibatkannya. Kulihat orang yang kumaksud itu hanya tertawa kecil. Dia berjalan ke samping ranjangku, meletakkan buah-buahan yang dibawanya di atas meja sebelum duduk di kursi yang tersedia di sana.
Sebastian tersenyum tipis, "Sepertinya kau bertambah sedikit ceria, ya? Apa karena orang-orang yang tadi?" ucapnya sambil menopang dagu di tepi ranjangku. Aku hanya merengut mendengar kata-katanya. Aku ceria? Dan lagi, disebabkan oleh serangga-serangga berisik tadi? Heh! Jangan membuatku tertawa...
"Justru orang-orang berisik seperti merekalah yang menyebabkanku harus dirawat lebih lama di rumah sakit ini! Apanya yang membuat ceria? Mereka malah membuat kepalaku tambah sakit! Tak punya sopan-santun pula..." semburku pedas ketika mengingat saat-saat dimana aku harus menanggung penderitaan karena dipaksa bicara oleh orang-orang tak jelas itu. Sebastian hanya tertawa mendengar ocehan kemarahanku. Aku hanya semakin bingung dengan tingkahnya.
"Ahaha! Tidak kusangka, ternyata bocah berumur 13 tahun sepertimu sudah bisa mengatakan hal sarkastis seperti itu..." ucapnya di sela-sela tawa.
"..."
Dia barusan bilang, 'bocah', ya? 'Bocah', kan?
Sebastian menghentikan tawanya. "Eh? Ada apa, Ciel? Kenapa wajahmu jadi seram begitu?" tanyanya dengan mulus. Hm? Jadi, wajahku berubah seram ya? A-ha-ha. Jadi begitu...
"Tak apa. Aku hanya sedikit tidak senang saat mendengar kata 'bocah' yang barusan kau ucapkan. Aku sudah 13 tahun, kau tahu itu kan?!" Ujarku kesal. Aku melipat kedua tanganku di dada memalingkan wajah darinya. Apa-apaan dia? Seenaknya menyamakanku dengan bocah. Well, aku sudah berumur 13 tahun dan masih saja dipanggil bocah? Siapa juga yang tidak kesal?
Kurasakan sebuah tangan yang besar mendarat di puncak kepalaku. Hal itu tentu saja memaksaku untuk menoleh ke arah Sebastian. Kulihat dia tersenyum, lembut sekali. Rasanya aku bingung, sedang berhadapan dengan malaikat atau apa. Kemudian, dia mengacak pelan rambutku dan membuat mereka menjadi berantakan.
"Maaf, maaf... aku hanya bercanda, kok!" Tuturnya dengan senyuman yang tetap bertahan. Sejenak, hatiku dibuat luluh oleh senyumannya. Aku bahkan sudah lupa bahwa aku sedang merasa kesal dengannya. Ya, sejenak...
"Habis, kau tidak terlihat seperti remaja yang berusia 13 tahun, sih! Jangan salahkan orang lain kalau mereka salah mengiramu sebagai anak kecil..."
Twitch!
"Bahkan, dengan wajah semanis ini kau bisa dikira sebagai anak perempuan, lho!"
Twitch! Twitch!
Aku mengepalkan erat tanganku. Ternyata aku salah. Orang ini lebih menyebalkan daripada serangga-serangga musim panas tadi!
"Jika kau hanya ingin mengejekku, lebih baik tak usah saja bicara!" Pekikku murka.
"Ahahaha..." Sebastian terus tertawa dengan tangan besarnya yang masih bertengger di kepalaku. Walaupun merasa kesal, aku tidak bisa menolak segala perlakuannya padaku. Entah karena tak sanggup atau apa, aku tak tahu.
Sudah satu jam berlalu sejak Sebastian masuk ke ruangan ini. Kami hanya mengobrol santai seperti sebelumnya, tak ada tanda-tanda pembicaraan ini akan beralih ke tragedi malam itu. Aku tak mengerti. Mengumpulkan informasi itu juga termasuk tugas Sebastian, bukan? Tapi dia bahkan seperti tak tahu akan tugas itu. Yang kami bicarakan hanyalah hal-hal yang biasa saja.
"Hei, Sebastian," ucapku sambil menerawang ke arah luar jendela. Sebastian hanya menggumam untuk meresponnya, sambil mengupas salah satu apel merah yang dibawanya. "Kenapa kau tidak bertanya tentang kejadian malam itu lagi? Bukankah itu salah satu tugasmu?" sambungku. Setelahnya, tak lagi terdengar respon dari Sebastian.
"Bahkan, orang-orang yang tadi datang kesini langsung saja menanyaiku tentang hal itu—tanpa basa-basi apapun."
Sebastian tetap tak merespon, apalagi menjawab. Penasaran, aku pun mengalihkan pandanganku padanya. Dia masih sibuk memotong-motong kecil buah apel itu, dengan senyuman yang terpampang di wajah rupawannya. Matanya yang berwarna semerah batu ruby itu terlihat tak terusik sama sekali. Masih fokus.
Tak butuh waktu lama bagi Sebastian untuk menyelesaikan kegiatannya. Dia menyodorkan sepiring kecil penuh berisikan potongan-potongan apel. "Untukmu," ujarnya dengan senyuman khas yang selalu mengakibatkan dampak buruk terhadap jantungku itu. Aku hanya diam menatapi piring kecil itu.
"Ah! Jangan-jangan, kau ingin kusuapi, ya?" aku tersentak kaget saat mendengar Sebastian berkata seperti itu. Wajahku juga tiba-tiba serasa memanas. Terdengar lagi suara tawa Sebastian yang kuanggap merdu itu. Aku menjadi salah tingkah, takut pria di hadapanku ini salah mengartikannya.
"Bu-bukan begitu! Aku hanya melamun saja, kok! Sungguh!" Tukasku dengan wajah yang masih memanas. Sebastian semakin tertawa geli melihatku. Aku tahu dia pasti mengerti, buktinya kini dia membiarkanku saja ketika aku mengambil piring kecil itu dari tangannya.
Karena efek dari salah tingkah yang masih bersisa, aku jadi sulit memfokuskan pikiranku. Yang dapat kupikirkan hanyalah 'lakukan segala hal yang dapat menyibukkan pikiranmu'. Walau tak terlihat begitu jelas, sepertinya Sebastian sedang tersenyum ke arahku yang sedang mengunyah potongan-potongan apel renyah itu.
"Apa kau tahu, Ciel? Aku selalu hampir lupa akan tugasku setiap kali aku bersamamu disini..." Sebastian kembali memulai pembicaraan. Aku menoleh padanya yang tengah menatap wajahku lekat-lekat. Aku berusaha menelan kunyahan apel di dalam mulutku dengan susah payah. Ini gara-gara Sebastian!
"A-apa maksudmu?" tanyaku setelah kegiatan telan-menelan itu terselesaikan. Perkataan Sebastian benar-benar membingungkan. Apa maksudnya, memang?
Sebastian hanya tersenyum geli melihatku. Dia mengambil satu potongan kecil apel dengan garpu kecil dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Dia mengunyahnya perlahan, dan menelannya dengan mudah. Tidak sepertiku yang saking kagetnya sampai-sampai bisa lupa bagaimana cara menelan.
"Aku selalu berusaha untuk kembali menjalankan tugas. Namun setiap kali melihat wajahmu yang seperti ingin menangis itu, aku jadi lupa tentang tugas-tugasnya. Aku jadi berambisi melakukan hal yang dapat membuatmu tersenyum, dan tanpa sadar waktuku telah habis hanya dengan duduk disini dan mengobrol denganmu. Sudah beberapa hari ini aku selalu seperti itu. Karenanya aku mencoba meminta tolong kepada rekan-rekan kerjaku, tapi malah kau yang tak ingin berbicara dengan mereka. Aku jadi bingung..." Sebastian menggantungkan kalimatnya. Dia menatapku dengan cara yang aneh. Seperti, kesulitan?
"Dan setiap aku meyakinkan diri untuk bertanya tentang kejadian di malam itu padamu, aku selalu saja dapat dikalahkan oleh perasaan takut. Aku takut kau kembali memasang wajah sedih itu jika aku menyinggung tentang hal itu. Aku tak tahu kenapa, namun aku merasa takut sekali..." Sebastian memejamkan kedua matanya. Dia benar-benar terlihat sangat kebingungan.
Aku tak dapat mempercayai ini. Sebastian itu adalah agen profesional, kan? Tapi, dia bahkan memperlihatkan sisi-nya yang seperti ini. Harusnya, akulah yang seperti itu. Aku sangat ketakutan saat ini, sungguh. Banyak hal yang membuatku lemah saat ini. Semenjak kejadian itu...
"Kalau kau memang seorang pekerja yang profesional, harusnya kau mampu melakukan tugasmu dengan baik! Lagipula, aku tidak selemah itu samapi-sampai harus menangis setiap saat... dan kalaupun aku akan menangis, bukankah kau akan kembali membuatku tersenyum? Kau tidak keberatan untuk menghiburku kalau aku sedang sedih, kan?" senyumku merekah seketika. Sebastian terlihat terkejut saat aku mengatakannya—well, aku juga tak kalah terkejut, sih.
Entah karena tertular olehku atau apa, Sebastian pun ikut mengulum senyum. Wajahnya nampak lega sekali, seakan-akan semua masalah dalam hidupnya telah lenyap.
"Sudah kuduga, kau memang lebih manis saat tersenyum, Ciel..."
.
.
TBC
A/N
*XX : tahun lahir Ciel serta tahun di cerita ini tak sya tentukan. Terserah anda semua, mau menganggap Ciel lahir tahun berapa :)
Hallo hallo, para fujoshi*plak*sekalian! Apa kalian menikmati chapter ini? Sebenarnya saya adalah org yang nggk pandai nyusun kata2 yg menarik. Saya jga bingung mau ngasih adegan apa di chap ini... tpi syukurlah, ternyata sya bisa membuatnya walau rasanya ada yg ilang xD oh, soal kepolisian itu sbnarnya sya cuman ngarang2 doang. Habis, sya kan bukan polisi...*dihajar*dan juga, mohon maaf atas puisi berbhasa inggris yg salah grammar serta segala kesalahan lainnnya.
Saya nggk akan banyak cincong lagi disini, jadi saya ingin ngucapin banyak terima kasih untuk yg udah nge-review, nge-fave, dan jg yg nge-follow :)
For HakuneAn : Thank's untuk review-nya! :D thank's juga untuk pujiannya! xD ini udh update, kok :)
Sekali lagi, thank you so much for you all! *hug*
So, everyone... Give me review, please? *angel smile*
.
Sign, Dicchan
