.

Fragment Memories

.

.

.

Disclaimer: This fanfic is mine and EXO's belong to The God

.

Genre: Romence, Hurt-Comfort, and Drama

.

Warning: GS, OOC, typos, etc.

.

Rated: T+ +

.

Pair: Chanbaek, Kaisoo, slight! Chansoo

.

.

.

"Our Destiny"

.

.

Siang itu cuaca di Seoul cukup cerah. Meski tengah memasuki musim dingin namun matahari tak segan menampakkan dirinya walau hanya sementara. Seorang yeoja pendek berkulit putih memiliki mata bulat tengah sibuk mengorek tas kecilnya mencari-cari sesuatu berbentuk persegi panjang.

Yeoja bernama Kyungsoo itu tersenyum kecil ketika menemukan apa yang ia cari. Segera ditekannya dial speed untuk menelpon namjachingu tercintanya. Park Chanyeol.

"Yeoboseyo..." jawab namja di ujung sana.

"Chanyeol!" seru Kyungsoo girang. "Chanyeol-ah, aku sudah selesai latihan. Kau dimana?"

"Aku masih ada di kantor. Chakkaman ne, kau tak boleh pergi kemana-mana Soo baby. Diam dan tunggu aku sampai aku datang."

Kyungsoo tersenyum tipis. "Ne, aku tunggu kau di tempat biasa."

"Ne, bye baby Soo..."

"ByeBye yeol..." sambungan terputus. Kyungsoo tersenyum sambil menyelipkan ponselnya di dalam tas. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju bangku kecil di pinggir taman kota Seoul. Ia duduk disana sambil menikmati air mancur di hadapannya.

Lama menunggu sambil menikmati hawa sejuk yang menerpa kulit tubuhnya, Kyungsoo nyaris tertidur. Untung saat itu suara mobil yang tak asing di telinganya segera menyapu pendengarannya membuat yeoja bermata bulat itu tersentak dan mencari seseorang.

Namja bertubuh tinggi dengan senyuman tiga jari itu melambaikan tangan. Kyungsoo bangkit dan berlarian mendekati namja tinggi itu.

"Apa aku sampai lebih cepat baby?" tanya Park Chanyeol dengan suara bass yang menggelitik di telinga Kyungsoo.

Kyungsoo mempoutkan bibirnya. "Ani. Aku hampir tertidur Tuan Park. Kau puas huh?" katanya pura-pura marah.

Chanyeol tertawa dan menangkup pipi putih Kyungsoo dengan tangannya yang hangat. "Jangan marah baby. Aku ada urusan di kantor. Meeting-nya mendadak sekali. Aku bahkan tak sempat makan siang."

Kyungsoo tapak cemas. "Kau belum makan siang?"

Chanyeol mengangguk imut. Meski usianya hampir menginjak 24 tahun tapi wajahnya selalu seperti anak-anak. Sangat menggemaskan membuat Kyungsoo selalu tergoda untuk mencubit pipinya dalam-dalam.

"Baiklah, bagaimana kalau kita pergi ke cafe dulu?" tawar Kyungsoo. Kemudian. Tangannya sibuk mengecek ponsel. "Aku rasa butik itu masih buka sekitar dua jam lagi. Kau bisa makan lebih dulu. Setelah itu kita bisa langsung mengambil pakaian pernikahan kita."

Chanyeol memutar bola matanya dan mengangguk. Seulas senyum manis terukir di wajahnya. "Kajja kita berangkat baby." Namja itu mengalungkan lengannya pada sang yeoja. Mereka berjalan mesra menuju mobil sport biru yang terparkir di tepi jalan.

Chanyeol berlarian membuka pintu untuk sang putri. Kyungsoo tersenyum manis dan segera mendudukkan diri di samping kemudi. Tak lama Chanyeol sudah beringsut di sampingnya. Di genggamnya dengan lembut tangan namja yang sebentar lagi akan berstatus sebagai suaminya itu. Chanyeol membalas genggaman lembut Kyungsoo. Mereka bertatapan penuh makna sebelum akhirnya Chanyeol tancap gas menuju cafe tempat mereka akan makan.

.

-O-

.

Satu jam telah berlalu. Chanyeol dan Kyungsoo melanjutkan perjalanan mereka menuju Choi Boutique, tempat mereka memesan pakaian pernikahan mereka. Mobil Chanyeol memasuki area parkir butik itu beberapa menit kemudian. Setelah terparkir rapi keduanya turun sambil bergandengan mesra.

Tepat di pintu utama seorang berparas cantik tersenyum ramah pada mereka. Namanya Choi Sooyoung. Pemilik Choi Boutique tersebut.

"Anyeong, ada yang bisa saya bantu?" sapanya ramah.

Kyungsoo tersenyum sambil mengeratkan genggamannya pada lengan Chanyeol. "Kami ingin mengambil pesanan baju pernikahan kami yang kami pesan satu bulan lalu. Apakah pesanan kami sudah jadi?"

Sooyoung tersenyum lebar. "Ne, tentu saja. Mari saya antar ke dalam."

Dengan cepat Kyungsoo menarik Chanyeol ke dalam. Mereka duduk menunggu sementara Sooyoung sibuk mengambil pesanan yang dimaksud Kyungsoo. Tak lama Sooyoung kembali dengan sebuah jas hitam dan gaun di tangannya.

Kyungsoo dan Chanyeol tampak takjub dengan pakaian pernikahan mereka. Jas hitam milik Chanyeol sangat mewah dengan tambahan bunga di saku dadanya. Sementara gaun Kyungsoo tampak sangat glamour dengan hiasan mutiara dan diamond bertebaran di gaunnya.

Mereka membungkus sepasang baju pengantin itu. Setelah mengucapkan terima kasih yang besar pada Sooyoung—desainer kenamaan Seoul itu, keduanya segera kembali ke mobil dan menuju perjalanan pulang. Banyak hal yang masih harus mereka selesaikan. Pernikahan mereka tinggal satu minggu lagi. Untuk itu mereka benar-benar harus mempersiapkan segalanya dengan baik mulai sekarang. Kyungsoo juga sudah mengulang-ulang daftar mereka berkali-kali. Chanyeol juga selalu membantunya dengan rutin.

Saat ini Chanyeol menjalankan mobilnya dengan pelan. Jalanan di hadapannya cukup lengang. Mereka melewati jalan pegunungan yang sejuk dan menyenangkan. Memang membutuhkan waktu yang lebih lama dari jalan biasa, tapi Chanyeol rela melakukan ini. Alasannya hanya satu, karena Kyungsoo menyukainya. Kyungsoo menyukai jalanan di dekat pegunungan yang sejuk dan tenang. Itu sebabnya Chanyeol rela menempuh perjalanan lebih lama demi membuat yeoja tercintanya bahagia. Apalagi ini waktu yang pas sembari menunggu hari pernikahan mereka tiba.

Kyungsoo menatap pemandangan di luar jendela yang begitu menakjubkan. Tangannya terasa hangat secara tiba-tiba. Yeoja itu menoleh dan tersenyum menatap sang namja yang asik menyetir sambil meliriknya sesekali.

"Kau harus hati-hati Chanyeol-ah. Jalanan disini lumayan curam."

Chanyeol tersenyum menanggapi. "Securam apapun pasti akan kulawan untukmu baby Soo," candanya membuat pipi Kyungsoo bersemu merah.

"Tapi kau tetap harus memperhatikan jalanmu."

"Tenang saja baby." Chanyeol tak mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo. Ia mempererat genggaman di tangannya. Mereka terus berpandangan sampai tanpa sadar sebuah truk melaju dari arah berlawanan dengan cepat. Tiba-tiba terdengar suara teriakan melengking dari Kyungso yang begitu keras.

"Chanyeol, awasss! Kyaaaaa..." jerit Kyungsoo membuat Chanyeol mengangkat wajah dan melihat sebuah truk hampir bersenggolan dengan mobilnya.

Chanyeol mulai panik dan segera membanting setir ke arah lain agar menghindari truk itu. Namun naas mobil sport itu malah menembus pembatas tol di ujung jalan. Hingga besi beton itu hancur dan mobil yang menubruknya terperosok ke dalam aliran sungai di bawah.

SRAAAKK...

DUAARR...

Seketika terdengar suara letupan kecil dari bagasi mobil. Percikan api kecil menyala dari ujung bagasi. Hingga pada akhirnya mobil itu mulai meledak. Untung kedua namja dan yeoja yang ada di dalam sudah terlempar keluar dari mobil ke arah pinggiran sungai.

.

.

-O-

.

.

Seoul International Hospital

Suara dering alarm berbunyi dari ruang UGD rumah sakit. Beberapa perawat nampak berlarian menyadari bunyi itu. Mereka mulai mempersiapkan alat-alat yang diperlukan untuk menangani kecelakaan yang terjadi.

Beberapa menit lalu sebuah panggilan dari orang tak dikenal masuk dan mengatakan bahwa telah terjadi kecelakaan di kaki gunung Seorak. Tim ambulans dibantu beberapa perawat segera menuju tempat kejadian.

Seorang berpakaian serba hijau tampak berseru ke arah dua orang yeoja berpakaian senada yang tengah sibuk dengan kotak P3K mereka. Orang itu, Kim Jongdae, kembali berteriak sembari menurunkan tandu dari ambulans.

"Zitao-ya, bantu aku!"

"Nde..." yeoja bernama Zitao segera membantu Jongdae.

"Baekhyun-ah, kau bawa tabung gas itu cepat ne!" interupsi Jongdae lagi.

Yeoja lain yang bernama Byun Baekhyun segera mengeluarkan tabung gas oksigen dari bel akang ambulans dan menyiapkannya. Para medis dan perawat segera berhamburan menuju aliran sungai tempat dimana mobil sport biru di bawah sana meledak.

Seorang korban yeoja bermata bulat dan berkulit putih ditemukan dengan kepala bersimbah darah. Ia tergeletak tepat di samping batu besar pinggiran sungai yang tajam. Lalu korban lain, seorang namja ditemukan tersangkut di ranting-ranting pohon. Sekujur tubuhnya penuh luka dan sayatan.

"Minseok ambil kotak P3K cepat!" seorang perawat berpipi chubby berlarian ke dalam bagasi dan menyambar kotak yang dimaksud.

Jongdae sibuk mengecek suhu tubuh, detak jantung, juga aliran darah, pada kedua korban. Zitao dan Baekhyun segera memasang oksigen pada kedua korban agar pernafasan mereka terbantu.

Kedua korban segera dimasukkan ke dalam ambulans. Tepat saat itu mobil patroli polisi berdatangan dengan suara mengaum-ngaum. Garis kuning dipasang mengelilingi tempat mengerikan itu.

Ambulans kembali berjalan dan para perawat sibuk mencatat kejadian dan satu dari mereka membetulkan alat bantu pernafasan. Jongdae masih terus mengecek bagaimana detakan jantung namja dan yeoja di hadapannya itu. Mereka selamat. Jantung mereka berdetak lumayan baik meski tak sadarkan diri dan penuh luka.

.

-O-

.

Suho langsung menjatuhkan ponselnya begitu mendengar kabar menyakitkan dari pihak rumah sakit itu. Ia hampir tersungkur pingsan kalau sang istri tak segera bertanya padanya dengan raut wajah penuh kecemasan.

"Waeyo Myeonie?"

Segera setelahnya Suho terisak. "Kyungiiee... hiks... hiks..."

Dahi Yixing mengernyit. "Kyungie? Wae? Dia sedang bersama Chanyeol. Bukankah mereka mengambil baju pernikahan sekarang?"

Kepala Suho menggeleng lemah dan isakannya makin keras. "Kyung... hiks..."

"Tolong katakan dengan jelas Myeonie."

"Kyungie kecelakaan, Xingie."

Kedua mata sipit Yixing membelalak. "MWO?" tampak raut wajah cemas menjalarinya. Yeoja China itu menggigiti bibir takut-takut. "La... lalu se... sekarang bagaimana?" suaranya terdengar gemetar.

Tak menghiraukan pertanyaan Yixing lagi, Suho segera menyambar kunci mobilnya dan menarik Yixing pergi menuju rumah sakit.

.

-O-

.

"Namanya Kyungsoo?" seorang dokter bername tag Choi Minho tampak memainkan penanya dengan penuh serius.

"N-ne..." Suho dan Yixing mengangguk dengan serempak. Suho tampak berusaha tegar sementara Yixing masih terus terisak.

"A-apa dia baik-baik saja dokter?" tanya Suho khawatir. Matanya memerah dan wajahnya dipenuhi keringat.

Dokter bernama Choi Minho itu tampak menghela nafas berulang-ulang. Mencari kata yang tepat untuk menjawab. Yixing dan Suho menunggu jawaban dengan sabar.

"Mian, sebelumnya aku ingin membicarakan hal ini dulu pada orang tua Do Kyungsoo." Minho menatap dua orang namja dan yeoja di depannya. "Apa kalian orang tuanya?"

"Ani. Aku adalah kakaknya. Orang tua kami tinggal di China dan rencananya mereka akan pulang minggu depan karena Kyungsoo akan menikah." Suho menunduk sedih. Ia hampir saja kembali terisak kalau Yixing tak segera menepuk-nepuk pundaknya memberi kesabaran.

"Selama ini Kyungsoo hidup bersamaku dan istriku. Sesekali orang tua kami kembali dalam waktu yang hanya sebentar," jelas Suho berusaha terus melanjutkan perkataannya meski air matanya tak tahan lagi untuk menetes.

"Begitu?" Minho kembali menghela nafas baik-baik. "Baiklah, aku hanya ingin mengatakan beberapa kemungkinan saja."

Suho mengangkat wajahnya dan memasang telinga dalam-dalam. Yixing melakukan hal yang sama.

"Setelah kami cek ternyata kepala korban terbentur batu dengan sangat keras hingga tadi sempat terjadi pendarahan hebat." Minho terdiam. Suho berusaha mencerna kalimat yang dilontarkan Minho itu.

"Ta... tapi apa dia baik-baik saja?" tanya Yixing khawatir.

Minho mendesah pelan. "Aku belum bisa memastikan keadaannya. Tapi kusarankan Kyungsoo mendapat penanganan khusus dari dokter spesialis syaraf. Kalian bisa mendatanginya dan meminta CT scan dengan segera. Agar Kyungsoo bisa mendapat penanganan lebih cepat."

Suho menganguk-angguk. "Ne, tentu saja dokter. Apapun asal Kyungie bisa kembali sehat."

Minho tersenyum tipis. "Tentu. Aku akan segera menghubungi dokter itu. Namanya Kim Jongin. Dia masih sangat muda tapi cukup berpengalaman dan tangguh. Hari ini dia sebenarnya tak ada praktek. Tapi khusus untuk kalian aku akan segera menghubunginya."

"Gamsahamnida dokter... Gamsahamnida." Suho memaksakan seulas senyum di tengah tangisnya. Yixing memeluknya erat-erat. "Semuanya pasti baik-baik saja Myeonie..."

Suho mengangguk-angguk dalam tangisnya sambil mempererat pelukan pada Yixing. Minho tampak sibuk dengan ponselnya. Berbincang cukup lama di ujung ruangan. Lalu setelah selesai kembali lagi ke hadapan Suho dan Yixing.

Minho menghela nafas panjang.

Suho kembali cemas. "Bagaimana dokter?"

"Kami akan segera memberi tindak lanjut kepada pasien. Anda dan istri anda bisa segera menangani administrasi karena Dokter Jongin memutuskan melakukan operasi pada kepalanya segera. Keadaan Kyungsoo cukup serius saat ini."

Suho tampak ingin meneteskan air matanya lagi. Yixing segera mengambil alih pembicaraan. "Ne, dokter. Kami akan segera menanganinya."

.

-O-

.

Luhan menangis tersedu sambil sesekali menjerit melihat keadaan dongsaeng-nya sekarang. Di sampingnya tampak Eunhyuk yang mulai histeris melihat aegya namja satu-satunya itu. Donghae dengan setia merengkuh tubuh lemah sang istri yang agak terhuyung. Dan berakhir dengan keduanya yang bersimpuh di kaki ranjang sang aegya.

Luhan menahan isakannya dan mundur perlahan. Tangan mulusnya ia gunakan untuk menghapus sisa-sisa air mata yang tercetak disana. Bibirnya gemetaran dan wajahnya pucat.

"W-wae?" tanya yeoja berambut brunette itu dengan suara bergetar. Isakannya seolah teredam oleh suara seraknya yang meracau. "Wae Chanyeol-ah? Hiks... hiks..."

"Aniya! Aniya!" jeritan Eunhyuk terdengar. Donghae berusaha mengelus pundak sang istri memberi ketenangan. "Gwaenchana..."

Luhan menghapus air matanya dengan kasar. "Kau jangan bicara seenaknya!" desisnya tajam pada seorang namja berkulit putih susu di belakang sana.

Namja bername tag Oh Sehun itu hanya bisa menghembuskan nafas pelan. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Aku hanya mengambil kesimpulan berdasarkan hasil pemeriksaan." Jelasnya dengan raut wajah yang serius.

Luhan benar-benar ingin mendamprat habis-habisan dokter muda bermarga Oh itu. Ini semua pasti salah. Tidak mungkin. Dongsaeng tercintanya tidak mungkin—sebulir air mata mengalir turun kembali. Luhan terduduk lemas di samping kedua orang tuanya.

"Jebaaal hiks... katakan kalau itu tidak benar," isaknya lirih. "Kumohon hiks... Chanyeol tidak mungkin... hiks... koma," jerit yeoja China itu histeris.

"Uisa, sampai kapan?! Sampai kapan aegya kami seperti ini?!" Eunhyuk bangkit dan nyaris menerjang marah pada sang dokter.

Sehun bangkit berusaha menenangkan keluarga pasiennya yang brutal itu. "Kumohon tenanglah Nyonya Park. Kami pihak dokter juga sudah memberikan yang terbaik. Tapi Chanyeol-ssi mengalami shock yang berat sehingga ia mengalami koma."

"Andwae! Itu tidak mungkin! Aku tidak akan percaya!" Eunhyuk berteriak frustasi.

"Hyukie-ya... jebaaal. Jangan seperti ini chagi. Kita harus bersabar." Donghae menarik tangan sang istri lembut. Berusaha menenangkannya dan merangkulnya erat.

"Kau jangan bicara sembarangan uisa! Aku bisa menuntutmu!" teriakan kedua Eunhyuk lebih keras, lalu disusul dengan isakannya yang menderas dan berakhir dengan terkulai di lantai.

"Chagi-ya... sadarlah! Chanyeol masih hidup! Dia masih hidup!" Donghae balas berteriak. Tak mendapat respon, akhirnya pertahanannya runtuh juga. Ia terbaring di lantai dan memeluk istrinya erat-erat. "Percayalah pada Chanyeol kumohon. Dia hanya... tidur sebentar. Dia akan segera bangun."

"Tapi kapan dia akan bangun?" suara Eunhyuk melemah.

"Dia pasti bangun!" tegas Donghae lagi. "Kita hanya perlu menunggu dengan sabar."

Tak tahan dengan itu, Luhan beringsut keluar ruangan dan berlarian sambil terus menitikkan air mata. Sehun meliriknya sebentar dan kembali menenangkan keluarga pasiennya itu.

.

-O-

.

"Bagaimana keadaan Nyonya Park, Tuan?" tanya Sehun yang kini tengah berbicara empat mata dengan Park Donghae. Ayah dari pasiennya yang bernama Park Chanyeol.

"Dia sudah lebih tenang uisa. Aku sangat bersyukur karena dia tak berteriak-teriak lagi seperti tadi. Untung putriku segera mengajaknya pulang untuk beristrirahat sebentar." Seulas senyum muncul di wajah tampan Donghae. "Aku tak ingin dia lelah dan banyak pikiran."

Sehun menganggukkan kepalanya. "Benar. Tuan dan Nyonya tenang saja. Chanyeol-ssi hanya membutuhkan waktu. Dia pasti akan segera sadar dari komanya. Anda tak perlu khawatir, koma yang dialaminya cukup ringan. Kuncinya hanya satu. Bersabar. Aku yakin kalian sanggup."

"Gamsahamnida uisa." Donghae membungkuk kecil. "Aku juga sangat yakin putraku pasti akan segera sadar."

"Ne, tentu saja. Kami akan selalu memantau perkembangannya. Perawatan disini cukup memadai untuk menunjang kehidupan putra anda selama ia koma sampai ia sadar nanti."

Donghae mengangguk sambil tersenyum kecil.

Pintu diketuk. Dua orang perawat masuk ke dalam ruang UGD. Yang satu berwajah imut dan satunya lagi bermata panda.

"Ini data pasien. Namanya Park Chanyeol." Sehun menyerahkan berkas-berkas yang ada di tangannya pada seorang perawat berwajah imut. Baekhyun.

"Ah ne," jawab Baekhyun sambil meletakkan beberapa peralatannya seperti jarum dan botol infus di meja. "Apa akan dipindahkan sekarang?"

"Tentu saja. Kamar 125 B. Kau sudah siapkan semua peralatannya? Chanyeol-ssi mengalami koma."

"Sudah uisa." Yeoja itu membuka beberapa berkasnya dan mengeluarkan pena. "Tao-ya detak jantungnya stabil?"

Zitao yang tengah memasang infusnya menoleh sebentar. "Ne, sangat lancar. Dia cukup baik. Perkembangannya mungkin akan sangat pesat."

Baekhyun mencatat apa yang didengarnya dengan serius.

Donghae hanya bisa tersenyum menerawang ketika ranjang yang membawa aegya kesayangannya itu mulai berjalan keluar dengan didorong dua suster berwajah cantik itu.

Sehun menepuk pelan pundak Donghae. "Tuan Park bersabarlah demi putra anda."

"Ne, tentu uisa. Gamsahamnida."

.

-O-

.

Suasana riuh dan ramai memenuhi area kantin rumah sakit. Berbanding terbalik dengan keadaan di dalam rumah sakit itu sendiri. Terutama ruang rawat pasien dan beberapa ruang praktek yang terasa hening dan mencekam. Namun, kau bisa menemukan kehangatan dan canda tawa disini.

"Anyeong Oh uisa, bagaimana pasienmu?" Jongdae muncul dengan satu nampan penuh makanan dan minuman.

Sehun tersenyum tipis. "Ya hyung, berhenti mengejekku," cecarnya kemudian.

Jongdae tertawa pelan sambil melahap burgernya. "Kau terlalu sensi Sehun-ah" candanya.

"Euhh... berhenti memakan hal yang tidak sehat."

"Wae? Ini enak kok. Lagipula aku suka. Dan kau tak perlu khawatir." Jongdae menghentikan kunyahannya sambil tersenyum bangga. "Aku tidak punya riwayat penyakit. Tubuhku cukup sehat. Haha..." dia tertawa lebar.

Sehun tak menggubris. Ia menatap ke arah lain dan melambai ketika melihat seseorang. "Baek noona, makanlah disini." Katanya pada yeoja yang tadi membantunya mengurus pasiennya yang bernama Park Chanyeol.

"Ternyata kau disini Sehun-ah?" Baekhyun mengambil tempat di samping Jongdae. "Kupikir kau masih berbincang dengan orang tua pasien tadi."

Sehun mengangguk kecil. "Tadi kami berbincang sedikit."

"Geurayo?" Baekhyun menyedot jusnya pelan. "Apa saja yang kalian bicarakan? Kulihat Tuan tadi sangat terpukul."

"Ne, kau benar noona. Bahkan istrinya sampai berteriak-teriak di ruanganku."

"Hem begitu... koma memang hal yang sangat rumit." Baekhyun memasang wajah cemas. "Kita tidak sedang mati. Tapi tidak sedang hidup juga. Jadi—" perkataan Baekhyun terpotong ketika Jongdae menyela dengan cepat.

"Ya, apa yang sedang kalian bicarakan?"

"Tentang kecelakaan tadi siang." Sehun menjawab tak kalah cepat.

"Ah ne, kebetulan aku dan Baek tadi membantu tim ambulans." Jongdae mengunyah burgernya dengan cepat. "Keadaannya memang sangat parah. Kepala mereka terbentur bebatuan. Juga kayu-kayu pohon itu. Huufh... itu mengerikan. Bukankah kayu dan batu sangat keras?"

"Yeah... awalnya kukira mereka gagar otak atau terjadi penggumpalan darah di otak mereka. Ternyata salah..." Baekhyun menyambung dengan wajah serius. Tampak tak cocok dengan wajahnya yang imut dan polos itu.

"Memangnya bagaimana?" Jongdae mengernyit.

"Lebih parah dari sekadar itu hyung... Kau tahu? Dia koma." Raut wajah Sehun lebih serius. Urat-urat ketegangan terpampang disana. "Ini sangat serius. Akh—entahlah aku sanggup menanganinya atau tidak."

"Oh ayolah Sehun-ah kau itu jenius. Kau pasti bisa." Baekhyun tersenyum menyemangati.

"Kau hanya ingin menghiburku saja kan, noona?" selidik Sehun. "Koma itu perkara sulit."

"Benar. Tapi kudengar shock yang dialaminya masih tergolong ringan. Otaknya juga masih dalam keadaan baik."

Jongdae memasang pendengarannya sambil mengangguk sesekali. "Hem... Lalu keadaan korban lain bagaimana? Kudengar dari Minseok-noona syaraf di otaknya cukup bermasalah. Benarkah?"

Sehun mengedikkan bahu. "Aku tak tahu. Sepertinya ia akan ditangani Jongin."

.

-O-

.

"Senang berkenalan denganmu Kim uisa." Suho menunduk sopan diikuti Yixing yang melakukan hal serupa.

"Ne, cheonmanayo. Kau tak perlu seformal itu Suho-ssi. Aku masih cukup muda. Panggil saja Jongin." Namja berkulit tan eksotis itu tersenyum tipis.

"Baiklah Jongin-ssi. Ah, mian sepertinya aku dan istriku mengganggu hari liburmu."

"Aniyo Suho-ssi. Justru aku sangat senang bisa membantu donngsaeng-mu." Jongin tersenyum tipis. "Operasinya tak memakan banyak waktu. Kalian tak perlu khawatir."

"Ne Jongin-ah, gamsahamnida."

Jongin kembali tersenyum. "Kalau begitu aku permisi. Operasi akan dimulai lima belas menit lagi."

Yixing dan Suho menunduk sekilas pada Jongin yang melangkah pergi bersama beberapa perawat. Kemudian mereka duduk di ruang tunggu operasi. Sekelebat rasa cemas dan khawatir menganggu mereka.

Suho terduduk menerawang. Pandangannya tampak kabur dan air matanya menggenang. Dengan segera digenggamnya kuat-kuat tangan yeoja di sampingnya. Yixing menoleh dan membiarkan Suho terus mencengkeram tangannya kuat-kuat.

"Apa yang harus kukatakan pada appa dan eomma?" ratap namja itu sedih.

"Gwaenchana..." dengan lembut Yixing menepuk-nepuk pipi sang suami. "Percayalah pada Kyungie..."

Suho menahan isakannya mencoba tersenyum. "Bertahanlah Kyungsoo-ya. Aku dan Yixing disini."

Yixing tersenyum dan membawa sang suami ke pelukannya. Kemudian ia mengelus-elus punggungnya lembut. "Ne, Kyung. Kami menunggumu disini."

.

-O-

.

Pintu kayu beraksen klasik itu terbuka perlahan. Luhan masuk ke dalam ruangan dengan begitu pelan. Suara langkah kakinya merendah seiring dengan sebulir kristal bening yang meluncur turun dari matanya. Jatuh dan menyentuh lantai porselen dibawahnya.

Luhan berjalan mendekat pada ranjang bersprei biru tua di hadapannya. Suara isakannya semakin terdengar. Makin lama makin kencang hingga ia harus menutup mulutnya rapat-rapat.

"Chanyeol hiks..." tangisnya. "Ireona... hiks... hiks..."

Luhan menatap sendu sosok yang terbaring tak berdaya di hadapannya. Park Chanyeol. Dongsaeng yang sangat dicintainya melebihi nyawanya sendiri. Betapa sakitnya hati Luhan melihat adiknya yang riang, lincah, banyak tawa, dan jahil itu kini terbaring koma di rumah sakit.

Tangisnya terus meleleh melihat wajah pucat pasi sang adik. Seluruh tubuh adiknya terasa kaku tak bergeming sedikit pun. Luka sayatan di dahi dan beberapa memar di bagian tubuhnya terasa begitu menyakitkan. Juga alat-alat asing yang menyokong kehidupannya itu tampak mengerikan. Luhan menggenggam erat tangannya dan membisikkan kata-kata lembut, berharap adiknya itu akan tersadar dari tidurnya. Tapi suara-suaranya seperti angin lalu bagi Chanyeol. Karena ia tak meresponnya sama sekali.

Baru dua bulan lalu Chanyeol mengumumkan perihal rencana pernikahannya dengan Kyungsoo. Yeoja yang sangat dicintainya sejak kuliah. Dan Luhan sangat senang ketika mendengarnya. Setelah sekian lama akhirnya adiknya yang manja itu akan menikah mendahului dirinya yang bahkan sudah hampir berusia 26 tahun. Tapi sayangnnya takdir berkata lain.

Sekarang, tepat satu minggu sebelum pernikahan Chanyeol, namja itu malah terbaring disini. Di ranjang rumah sakit. Dengan bantuan seperangkat alat pendeteksi jantung juga pembantu pernafasan yang sangat mengerikan di mata Luhan.

Luhan menangis di samping Chanyeol. Tangannya masih terus menggenggam tangan Chanyeol dan terus membisikkan rasa kasihnya yang terdalam. Semakin ditahan air mata Luhan semakin menderas. Ia mengambil langkah cepat berlari keluar dan duduk di bangku taman rumah sakit. Menangis sepuasnya disana.

"Semua permasalahan tak akan pernah selesai dengan hanya menangis."

Luhan terkesiap. Secepat kilat ia mendongakkan kepala. Matanya sembab dan merah. Pandangan di depannya kabur. Meski begitu retina matanya menangkap sosok yang berdiri di hadapannya. Wajahnya tampan. Kulitnya seputih susu. Oh Sehun.

"Katakan apa yang bisa kulakukan selain menangis?" balas Luhan dengan sarkatis.

Sehun tersenyum tipis. Tangan putihnya menyurungkan sekotak kecil tisu. "Pada akhirnya menangis itu tak ada gunanya. Kau tak bisa meminta semuanya kembali dengan menangis."

Luhan terdiam merenung. Air matanya nampak mengering di pipi.

Sehun menghela nafas panjang. Lalu beranjak duduk di samping yeoja China itu. "Menangis hanya membuang waktumu. Ada banyak hal yang bisa kau lakukan dan kau hanya membuangnya dengan percuma."

"Tapi menangis bisa mengungkapkan apa yang kau rasakan Oh uisa." Luhan menjawab. Suaranya mengalun lembut dan Sehun merasa hatinya trenyuh mendengar kata-kata selembut beludru itu.

"Yah... kalau itu bisa membuatmu lega, menangislah sepuasmu." Sehun memaksakan seulas senyum. "Aku akan menemanimu menangis disini. Jadi... menangislah."

Luhan terdiam menatap wajah datar di hadapannya. Perasaan kesalnya perlahan-lahan menghilang terganti dengan rasa tenang dan nyaman ketika wajah datar itu ada di sampingnya. Dan yang Luhan lakukan selanjutnya adalah kembali menangis dengan Sehun yang sesekali mengusap lembut punggungnya.

Park Chanyeol kau harus sembuh.

.

.

.

To Be Continued...


Reyn's Cuaps:

Anyeong... seperti yang Reyn bilang, fic ini akan diupdate hari Minggu. Yeay ^^ seputar Fragment Memory, Reyn cuma bilang kalo ff ini bercerita nggak seputar ruMah sakit doang lho wkwk... entar dikiranya ttg rumah sakit hahaha... sebenernya enggak kok...cuma mereka emg byk yg kerja di rumah sakit.. tpi yakin deh ceritanya melenceng banget :D Pokoknya ini cerita ttg empat cast utama kita ChanKaiSooBaek...yeay^^ kita lihat aja besok gimana Chansoo? Apa masih lanjut? Atau tidak? Okey, gamsahamnida semuanyaaa...*bow..

Boleh minta review? Gomawo :D


Big Thanks :D

.

.

.

[readers] [cindy] [Baby Kim] [pecheye] [DJ100] [Guest] [Kaisoo32] [luhanesu] [chika love baby baekhyun] [nur991fah] [chanbaekshipno1] [nvrn] [chanbaek shipper] [ryu] [Lutwinie MA] [sehunpou] [mhoyha] [SuJuXOXO91]


.

.

.

REVIEW