あなたが輝いている

(Anata ga Kagayaite iru)

Summary : Lucy heartfilia adalah seorang idol yang sedang naik daun meski umurnya masih 17 tahun. Memiliki nama Lucia sebagai nama panggungnya. Di atas panggung dia adalah idol yang sempurna namun siapa mengira bahwa dia menyimpan kesedihan dan kesepian seorang diri, sampai seorang lelaki datang di kehidupannya dan membuat dirinya merasa berarti. AU! OOC! Want to RnR minna?

Rate: T

Pair : Lucy .H, Natsu .D, Gray .F,Juvia L

Genre: Romance,Comedy

Fairy tail belong to Hiro Mashima

Author : Arigatou kepada teman-teman yang sudah membaca FF ini. Maaf kalau update-nya lama. Selamat membaca… Author harap kalian suka.


Chapter 2 : Do not Understand

"G-Gray…"

Plakk

What?Dia menepis tanganku?!

"Hey maniak! Kalau kamu memang fans yang baik dan benar,tolong bertingkahlah layaknya fans biasa. Jangan begini caranya!" Ucap Gray dengan nada tinggi.

"Sudah kubilang beberapa kali,kalau aku bukan fansnya." Jawab Natsu dengan suara yang lebih tinggi.

Kejadian di depanku ini benar-benar membuatku sakit kepala. Seseorang bantulah aku….

"KALIAN BERTIGA!" Sesosok wanita berambut merah panjang mendatangi kami bertiga.

"Tahukah kalian,kalau kalian mengganggu ketenangan proses belajar mengajar disini?! Sekarang juga ikut aku! Ini perintah!"

Ahh… Syukurlah,siapapun dia, dia benar-benar berhasil melumpuhkan kedua pria di hadapanku.

"E-Er-ERRZAA !" Ucap mereka berdua bersamaan.

Tunggu dulu,sepertinya aku pernah melihat nama itu,dimana ya?

. . . . . .

"ARGHH! Kau Erza Scarlet?!" seketika itu pula,sepasang bola mata berwarna merah menatapku tajam. Dan mendekat ke arahku. Seharusnya aku menjaga mulutku dengan baik. Dasar mulut ini…

"Kau… Anak baru ya?" Tanyanya. Rambut panjangnya yang terurai teterpa sinar mentari. Lama-kelamaan aku merasa tatapannya sedikit melembut padaku. Aku hanya membalas dengan anggukan kecil. Dan selanjutnya ia berbalik melihat Natsu dan Gray.

"Natsu! Gray! Apa yang kalian lakukan dengan gadis pirang ini HAH?!"

"M-maaf, namaku Lucy."

"Hmm.. iya namamu Lucy. Maksudku apa yang kalian lakukan pada Lucy?! Berani sekali membolos pelajaran dan bertengkar karena seorang gadis." Natsu dan Gray tampak lemas,namun entah kenapa tiba-tiba keberanian mereka muncul dan mereka berdiri kembali.

"Aku tidak melakukan apa-apa kepadanya!" Ucap mereka berdua serempak. Sekilas Erza nampak kesal,kemudian dia menarik nafas lega.

"Syukurlah… Syukurlah kalian tidak melakukan hal aneh lagi di depan anak baru." Erza memeluk Gray dan Natsu,sedangkan aku hanya terdiam seperti orang bodoh yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

"Apa maksudmu Erza? Waktu itu kami tidak menakuti anak baru." Gray dan Natsu saling menatap tajam. Woah! Lagi-lagi mereka mengatakan hal itu bersamaan.

"Natsu! Jangan terus menerus mengikuti perkataanku!"

"HAH?! Bukannya kau yang sedari tadi mengikuti perkataanku."

"GRRR!" Hoo… mereka berdua kembali mengambil ancang-ancang untuk bertarung.

PLETAK!

"Beraninya kalian berdua menghiraukanku." Ucap Erza geram. Entah hanya fantasiku,tapi Erza benar-benar tampak menyeramkan,dan dari mana pedang kayu itu muncul?! Kulihat Natsu dan Gray segera lari tunggang langgang.

"Huwh.. mereka berdua selalu tidak bisa akur bagaikan es dan api. Maaf ya Lucy kamu harus melihat kejadian tadi,oh iya aku sudah menghukum orang-orang yang mengejarmu. Dengan hukuman yang sepantasnya… Kikikiki…" Errr… Dia terlihat menyeramkan. Erza menyadari bahwa aku sudah berada lima langkah dibelakangnya dengan tatapan ngeri.

"Ehem… pokoknya ini bajumu. Segeralah dipakai,aku akan menunjukkan ruang ganti yang ada di dekat sini." Ucapnya dengan wajah memerah.

Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang. Erza banyak bercerita tentang Natsu dan Gray. Sehingga aku penasaran,apakah mereka bertiga sangat dekat?

"A-anu.. Erza-san? Boleh aku bertanya?"

"Hmm?"

"Apa Natsu dan Erza-san dekat?"

"Ohh.. mengenai itu,memang aku dan Natsu sangat dekat karena dia adalah adik tiriku."

"HAH?! Tidak bisa kupercaya…" Ucapku pelan.

"Yah.. secara umur sih memang kami seumur,namun dia memutuskan untuk menjadikan aku kakaknya. Dan aku senang dia menjadi adikku." Erza tersenyum lembut,tampaknya dia memang benar-benar menyayangi Natsu.

"Oh iya, kalau kau dekat dengannya,tolong bilang kalau dia harus cepat pulang ke rumah,ayah sangat mengkhawatirkannya."

"Eh?Bukannya kalian dekat. Kenapa tidak bilang langsung saja?"

"Sebenarnya beberapa minggu ini,dia tidak pulang ke rumah, dan tidak membalas pesan atau telepon, di sekolah pun kami jarang bertemu. Jadi tolong kau bilang kepadanya. Bisakah?"

"Baiklah,kalau aku bertemu akan aku sampaikan."

"Terimakasih Lucy,by the way kau bisa berganti pakaian sekarang,aku akan menunggu di luar."

"Un! Maaf merepotkan."

Aku masuk ke gudang olahraga yang sepi. Dan aku memikirkan banyak hal, apakah Natsu punya masalah dengan keluarganya? Kenapa dia meninggalkan rumah? Dan lagi kenapa kemarin dia dikejar-kejar mafia? Aku benar-benar ingin tahu,tapi aku tidak terlalu dekat dengannya,apalagi dengan pekerjaanku sebagai idol,mana mungkin aku bisa mendekatinya. Tapi,aku ingin berteman dengannya.

"Sudah selesai?"

"Sudah,maaf merepotkan. Padahal bel sudah berbunyi…"

"Ah,tidak usah dipikirkan. Ini sudah tugasku sebagai ketua OSIS."

Tiba-tiba saja Erza melihat 2 orang anak lelaki sedang merokok diam-diam,wanita ini segera berlari ke arah mereka dengan marah. Dan meninggalkan aku sendiri. Akhirnya aku mencoba untuk mencari jalan ke arah kelasku. Beruntunglah aku bertemu dengan Juvia.

"Ah! Lucy-sama!"

"Juvia! Apa yang sedang kau lakukan? Bukankah bel sudah berbunyi?"

"Hehe,Juvia menuju ke UKS."

"Kenapa?Kamu sakit?" Tanyaku khawatir.

"Ehm, ya… ya Juvia sakit." Juvia tampak menyembunyikan sesuatu.

"Baiklah,jangan terlalu memaksakan diri ya."

"Un! Ah,kalau Lucy-sama mencari kelas,Lucy sama tinggal mengikuti lorong ini lalu naik tangga dan belok ke kanan."Jelas Juvia.

"Terimakasih Juvia! Maaf selalu merepotkanmu."

"Tidak apa-apa,justru Juvia senang dapat membantu Lucy-sama."

"Kalau begitu,Juvia pamit."

"Okeh…" Aku berjalan mengikuti petunjuk Juvia.

"Maafkan aku Lucy-sama,Juvia benar-benar tidak boleh menangis di depan Lucy-sama,apalagi Juvia sebenarnya iri pada Lucy-sama."

Apa yang dilakukan Gray dan Natsu setelah melarikan diri dari Erza?

"Damn! Onee-san selalu tampak mengerikan." Ucap Natsu sambil tersengal-sengal.

"Cih! Salahmu mendekati Lucy!" Tanggap Gray.

"HAH?!Bukannya kau seharusnya berterimakasih aku sudah menyelamatkan idolmu yang berharga itu dari incaran para fans gilanya?"

"Kau mengharap rasa terimakasih?GAK!"

"Grrr… Wajahmu selalu membuatku kesal."

"Kapan kau pertama kali bertemu lagi dengan Lucy?"

"Kemarin,saat aku dikejar mafia. Tadinya aku tak menyadari kalau dia adalah Lucy. Saat sorot lampu mobil menerpa wajahnya,barulah aku menyadari kalau dia Lucy. Kenapa ada masalah dengan hal itu?!"

"Jangan bilang kau lupa janjimu waktu itu. Setelah apa yang kau lakukan pada keluarga Lucy,jangan harap dia akan memaafkanmu. Ingat itu!" Gray segera meninggalkan Natsu yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Ouch!" Gray bertubrukan dengan seorang gadis manis berambut biru.

"Juvia?"

"Gray-sama? Maaf sudah menabrakmu."

"Hahaha don't mind, jarang sekali kita bertemu selain urusan kantor. Terimakasih sudah mengurus Lucy dengan baik."Gray memperlihatkan senyum terbaiknya.

"Uhm,iya… sama-sama…" Juvia terlihat canggung,dia membawa tumpukan kertas dengan kedua tangannya.

"Kamu mau ke kelas?"

"Tidak,aku disuruh ke ruang staf." Tanpa pikir panjang,Gray langsung mengambil sebagian kertas yang dibawa oleh Juvia.

"Karena kau selalu ada di sisi Lucy,aku akan membantumu. Karena kita teman kan?"

"Ya… kita teman…" Jawab Juvia tertahan. Kenapa yang ada di pikiran Gray hanya Lucy-sama? Padahal Juvia dan Gray sudah berteman sejak lama,tapi tidak sekalipun dia pernah bertanya mengenai Juvia. Tapi,Juvia menyukainya. Lebih dari apapun juga…


"Hoahm! AKhirnya Lunch Break!" Aku berada di atap sekolah sekarang. Malangnya nasibku,kesepian di sekolah yang luas ini. Aku hanya bisa menikmati keramaian dari jauh.

"Hoi kamu!" Eh?Sepertinya aku mengenal suara ini.

"Ah,benar ternyata kamu Lucy."

"Natsu? And the blue cat?"

"Ah,maksudmu dia. Namanya Happy,aku mengecat bulunya menjadi biru,biar keren."

Ahh.. aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran cowo ini sama sekali.

"So Natsu-kun, Erza menyuruhku menyampaikan pesan bahwa kamu disuruh pul…."

"Gak!"

*Angin bertiup… Fyuuu…

"Aku belum menyelesaikan kalimatku!"

"Aku tidak peduli apa yang kakakku katakan,tapi aku benar-benar tidak mau pulang." Raut wajahnya berganti,dia nampak sedikit kesal dan juga sedih.

"Tapi,bukankah mereka keluargamu?"

"Heh… keluarga ya? Oh iya,apa kau senggang setelah pulang sekolah?"

"Hmm.. sayangnya tidak. Aku ada latihan koreografi hari ini. Memang kenapa?"

"Aku akan mengenalkanmu pada keluargaku yang sesungguhnya. Kalau kau senggang teleponlah aku. Ok?" Ucapnya dengan senyum yang bisa melelehkan setiap wanita yang melihatnya. Kami berdua memakan bekal kami dan dia lebih banyak menceritakan lelucon-lelucon yang membuatku selalu tertawa. Orang seperti apa Natsu ini? Aku benar-benar ingin tahu. Sayangnya,bel sudah berbunyi.

"Ja.. kalau begitu,sampai jumpa Lucy."

"Un! Terimakasih sudah menolongku hari ini. Maaf atas sikap Gray."

"Hahaha tidak usah dipikirkan. Lagipula aku dan Gray memang selalu seperti itu." Setelah mengatakan hal itu,Natsu segera beranjak pergi. Ah,Scarfnya tertinggal.

"Natsu! Scarf mu!" Dia segera menoleh dan dengan tatapan yang tidak bisa kujelaskan,dia merebut scarf itu dari tanganku.

"Terimakasih… "

BLAM!

Dia menutup pintu atap dengan sedikit kasar,atau hanya perasaanku,namun kenapa ekspresinya berubah saat aku memegang scarf miliknya? Aah.. aku benar-benar tidak mengerti pikiran pria.


"Yosh! Terimakasih semuanya!" Ucapku kepada seluruh penari dan staf. Juvia datang membawakan handuk untukku.

"Kerja yang bagus Lucy-sama!" Ucap Juvia sembari mengelap keringatku.

"Aku bisa melakukannya sendiri kok." Aku merebut handuk kecil itu dari tangan Juvia dan mengelap sendiri keringatku.

"Mou… Lucy-sama selalu saja tidak mau dilayani."

"Karena kamu kan temanku bukan pembantuku. Ya kan?"

"Hehehe… iya. Oh! Aku baru ingat, tadi handphone Lucy-sama berbunyi."

"Oh ya? Telepon?"

"Iya, dari Gray-sama. Terus aku bilang kalau Lucy-sama sedang latihan."

"Memang kenapa dia menelepon?"

"Juvia tidak tahu." Geleng Juvia.

"Ya sudah nanti aku akan meneleponnya." Aku segera mencari tempat untuk menelepon Gray.

"Halo?" Ucap-nya dari balik telepon.

"Halo Gray. Tadi kamu menelepon?"

"Ah,iya aku menelepon."

"Ada apa?"

"Apa kau senggang?" Tanyanya

"Iya,aku sudah selesai latihan. Kenapa?"

"Pergi yuk!"

"Hah? Ke mana? Kau tahu sendiri kan kalau aku tidak boleh sembarangan keluar."

"Sekali-sekali dong. Sudah lama kan kita tidak main bareng."

"Okeh,aku akan mengajak Juvia."

"Eh? Oh, ya sudah ajak saja. Aku akan mengirim mobil ke sana."

"Okeh…"

Aku menutup pembicaraan,dan segera mencari Juvia. Setelah berjalan cukup lama,aku menemukan Juvia.

"Juvia!" Panggilku sambil melambaikan tangan.

"Lucy-sama. Bagaimana? Sudah menelepon Gray-sama?" Tanyanya.

"Ya,dia mengajak kita untuk pergi bermain."

"Oh ya? Jam berapa?" Entah hanya perasaanku,tapi Juvia tampak sangat senang.

"Sekarang, kita hanya harus menunggu mobil saja."

"Baiklah, Juvia akan berdandan dulu."

"Oke… Dandan yang cantik ya.. hehehe."

Juvia segera menuju ruang rias,dan aku hanya memakai pakaian biasa yang tidak mencolok. Aku harus terlihat seperti orang biasa. Semoga tidak ada yang menyadari penyamaranku. Aku mengenakan kacamata dan rambutku kuikat dua serta mengenakan jaket bertudung. Yup! Sempurna!

Akhirnya mobil yang ditunggu datang. Aku dan Juvia segera masuk ke dalam,dan menemukan Gray dengan pakaian kasualnya.

"Yo!" Salamnya.

"Hai Gray." Sapaku.

"Halo,Gray-sama." Sapa Juvia malu-malu. Awalnya aku berpikir kalau Juvia menyukai Gray. Tapi,dia tidak pernah bilang apa-apa padaku.

"Jadi,kita akan kemana?" Tanyaku penasaran.

"Ke taman bermain yang baru saja dibuka siang tadi. Aku dikasih tiket gratis oleh pemiliknya."

"Woah! Hebat juga kau Gray." Ucapku kagum.

Dengan latar belakang keluarga yang terhormat serta kedudukan ayahnya yang berpengaruh di masyarakat tidak heran kalau Gray juga memiliki hubungan sosial yang baik di masyarakat. Setelah 30 menit menempuh perjalanan,akhirnya kami sampai juga di taman bermain ini. Di situ tertulis "WELCOME TO FAIRY LAND".

"Gray-sama,tempat ini besar sekali." Ucap Juvia sedikit tertegun.

"Tentu saja,lagipula bulan depan Lucy akan manggung di sini."

"Hah?! Di sini? Wow…" Ucapku senang. Aku tidak sabar ingin menghibur orang-orang di tempat ini.

Aku,Gray,dan Juvia segera masuk ke dalam. Permainan yang pertama kali kucoba adalah roller coaster. Benar-benar seru banget.

"WOAAA!" Teriak kami bertiga bersamaan. Dibelakang kami duduk beberapa remaja yang juga sama ributnya.

"HOEEEKK! Aku sudah tidak kuat. Turunkan aku.." Kata seorang pria.

"Mou! Natsu,kapan kamu akan terbiasa menaiki hal seperti ini kalau tidak latihan dari sekarang." Ucap gadis di belakang kami. Mendengar nama Natsu,aku dan Gray langsung menengok ke belakang.

"NATSU?!" Ucapku dan Gray bersamaan. Juvia hanya menoleh sebentar dan kemudian kembali menikmati roller coaster.

"Gray!Lucy! Kenapa kalian berada disini? Hoeekk…"

"Argh.. Natsu,setiap aku melihatmua,kau selalu tampak menyedihkan ya?" Ejek Gray. Natsu yang merasa di ejek langsung melupakan rasa mualnya. Dan melotot kearah Gray.

"APA KATAMU?!" Gray dan Natsu kembali bertengkar. Gadis manis yang berada bersama Natsu seperti ingin menenangkan. Kemudian dia melihat ke arahku dan tersenyum.

Akhirnya kami berhasil turun dari roller coaster dengan selamat. Natsu kembali merasa mual,sehingga kami semua berusaha menopangnya ke kursi taman.

"Maaf ya sudah merepotkan." Ucap gadis itu.

"Namaku Lissanna." Lanjutnya.

"Namaku Lucy,ini Gray dan gadis ini Juvia." Kataku sambil memperkenalkan Gray dan Juvia.

"Juvia senang sekali bertemu gadis manis." Kata Juvia dengan senyum manisnya.

"Terimakasih… Juvia juga cantik." Puji Lissanna membuat Juvia menjadi malu.

"Kyaa.. Lucy-sama dengar kan? Juvia di puji!" Juvia mulai hilang kendali.

"Juvia…" Ucapku datar. Juvia kembali menyadari sekitarnya dan tertawa kecil.

"Apa kamu pacar Natsu?" Tanya Gray tanpa basa-basi.

"Gray! Tidak sopan bertanya langsung begitu." Kataku sambil menyenggol lengannya.

"Hahaha tidak apa-apa Lucy. Lagipula aku bukan pacar Natsu. Kami hanya teman sejak kecil tidak lebih."

"G-Gray… jangan menanyakan hal yang aneh-aneh ke Lissanna." Dengan sekuat tenaga Natsu bangun dari kursi taman.

"Haha akhirnya kamu bangun juga. Dari dulu rasa mualmu saat menaiki kendaraan tidak pernah hilang ya. Kasihan.." Ejek Gray

"Aku gak butuh rasa kasihanmu. Ayo pergi Lissanna." Ucap Natsu seraya menarik tangan Lissanna dan menggenggamnya lalu mereka pergi meninggalkan kami. Aku hanya bisa melihat Lissanna mengangguk kecil pada kami.

"Natsu-sama terlihat menyebalkan." Ucap Juvia. Mungkin dia tidak terima kalau Gray diperlakukan menyebalkan oleh Natsu. Aku hanya bisa menarik napas.

"Oh iya Gray,sebenarnya aku agak heran dan ingin menanyakan ini sejak lama. " Jelasku.

"Kau mau bertanya apa Lus?"

"Kamu dan Natsu seperti sudah lama saling kenal. Kau dan Erza juga dekat. Ada apa?"

"Ooh.. Keluargaku dan keluarga Natsu kan merupakan rival bisnis. Jadi kami pertama kali bertemu saat pesta. Di sana aku melihat Natsu dan Erza. Penasehatku menyuruh untuk menjauh dari mereka karena keluarganya adalah rival kami,tapi tak lama aku dan Natsu bertubrukan dan kami bertengkar di tengah pesta. Orang yang menghentikan kami adalah Erza. Huwwhh.. gadis itu benar-benar menakutkan." Gray tampak ketakutan saat menceritakan Erza. Yah,mau bagaimana lagi. Adiknya saja takut kepada Erza. Aku hanya bisa menghela napas.

"Gray-sama,Lucy-sama! Ayo kita bermain lagi!" Ajak Juvia. Aku dan Gray mengikuti Juvia menuju ke wahana berikutnya. Kami bersenang-senang hingga malam,lalu Gray mengantar kami pulang.

Setelah kejadian hari ini,aku mulai memikirkan banyak hal mengenai Natsu. Pria misterius yang baru kutemui. Dan aku memikirkan mengenai Natsu dan Lissanna. Kenapa aku merasa sedikit kesal saat Natsu bergandengan tangan dengan Lissanna. Argh.. Aku tak mengerti. Lebih baik aku tidur saja.

Di waktu yang sama di Fairy Land…

"Yo semuanya!" Sapa Natsu kepada seluruh penghuni di Base Camp itu. Tempat ini terlihat lebih mirip istana daripada basecamp.

"Yo Natsu! Lissanna!"

"Konbanwa!" Sapa Lissanna.

Natsu menuju ke sebuah bar yang dilayani oleh gadis cantik berambut panjang.

"Mira-nee apakah Master ada?" Tanya Natsu.

"Master Makarov sebentar lagi akan datang. Tunggu saja,kau mau minum apa?"

"Apa saja yang penting segar." Jawab Natsu.

"Hei Lissanna,bagaimana? Apa kalian bersenang-senang?" Tanya gadis yang setengah mabuk.

"Cana-san,jangan minum terlalu banyak. Aku tidak ke fairy land untuk bersenang-senang." Jawab Lissanna dengan muka menggemaskan.

Brak!

Pintu utama terbuka dan tampaklah seorang pria tua dengan tampang kesal.

"Master!" Sambut semua penghuni.

"Natsu!" Panggil Master Makarov.

"Hoi…" Jawab Natsu santai.

Pletak!

"Ouch! Sakit tau kakek tua!"

"Siapa yang kau panggil kakek? Bagaimana kegiatan mata-matamu? Berjalan baik?" Tanya master Makarov.

"Huwh… sama sekali tidak master. Natsu mengacaukan semuanya. Tadinya kami hanya ingin memata-matai,tapi cowo ini malah memporak-porandakan tempat penjualan narkotika itu." Jelas Lissanna. Seluruh penghuni tertawa termasuk Makarov.

" Hahahaha seperti yang diharapkan darimu Natsu."

"Mou.. mereka membuatku kesal."Ucap Natsu dengan wajah memerah.

"Terus? Terus? Mereka mengejarmu?" Tanya yang lain.

"Tentu saja. Tapi kemudian kami berdua terpaksa menaiki roller coaster. Dan mereka kehilangan jejak kami." Jelas Natsu. Lissanna hanya tertawa kecil. Makarov tampak shock juga setelah mendengar bahwa anak-anak buahnya melakukan hal yang tidak ia perintahkan. Namun beliau sudah terbiasa dengan kejadian ini.

"Karena hal ini aku pasti dipanggil lagi ke kepolisian pusat." Makarov menghela napas panjang.

"Hahaha Kakek tua,ini kan sudah biasa. Lebih baik kita merayakan dengan minum."

"Karena inilah kami dikenal sebagai Fairy Tail. Ya kan?" Lanjut Natsu.

"OUUU!" Jawab yang lain. Setelah itu mereka kembali bersenang-senang. Hanya disinilah Natsu merasa nyaman. Ia menganggap bahwa merekalah keluarganya. Daripada dia harus tinggal di rumah besar dan diperlakukan seperti orang asing.

To be continue… ^^