Almost is Never Enough
Ditty Glint
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : NaruHina
Rated : T
Genre : Romance, Friendship
Happy Reading!
Malam ini Hinata sulit untuk memejamkan matanya. Ia sudah beberapa kali mengganti posisi tidur, tetapi semuanya terasa tidak nyaman. Entah kenapa Naruto terus membayang di kepalanya.
Hinata menatap lekat langit-langit kamar. Tangannya bergerak menyentuh leher kirinya. Sensasi aneh saat hidung Naruto menyentuh lehernya masih bisa ia rasakan. Wajahnya kembali memanas.
Untung saja Neji menjemputnya tadi. Jadi, Hinata bisa terlepas dari jeratan Naruto.
Sebenarnya ada apa dengan sikap Naruto?
Apakah yang tadi itu wajar dilakukan oleh seorang sahabat?
Tidak mungkin kan Naruto.. Menyukainya?
Hinata mengambil ponselnya, ia membutuhkan seseorang saat ini.
"Moshi-moshi?"
"Moshi-moshi, Hinata. Ada apa?"
Hinata berkata ragu, "S-sakura..."
Sakura mengernyit di ujung sana, "Katakan saja, Hinata."
"Soal Naruto..." Hinata menggantung kalimatnya. Lidahnya kelu. Ia bingung harus mulai dari mana.
Dalam sekejap Sakura dapat menangkap maksud Hinata menelponnya. Ia tahu cepat atau lambat Hinata akan menanyakan ini.
"Kau ingin tahu pendapatku tentang Naruto? Ku rasa dia menyukaimu, Hinata."
"E-eh! T-tidak-"
"Hinata," Sakura menginterupsi, "Aku tahu kau merasa Naruto begitu, bukan?"
"Tapi Sakura, bukan hanya aku. Maksudku, dia bersikap ramah dan baik pada semua orang. Aku takut kalau aku hanya menganggapnya berlebihan."
"Tapi, sikapnya berbeda padamu."
"Mungkin karena aku sahabatnya?" Hinata mencoba menampik perkataan Sakura.
Naruto memang terlalu baik padanya. Dan Hinata tak ingin salah paham. Ia anggap itu sebagai perlakuan khusus karena mereka bersahabat. Jangan sampai ia terlalu berharap dan sakit pada akhirnya. Apalagi membuat persahabatan mereka hancur.
"Aku tidak ingin menghancurkan persahabatan kita."
Sakura menghela napas, "Kau menyukainya?"
"Aku...tidak tahu."
Hinata memang tidak tahu pasti apa yang ia rasakan. Tapi dari dulu Hinata memang sudah mengagumi sosok Naruto. Lelaki itu sangat ceria, ramah, hangat dan baik pada semua orang. Sikapnya itu membuat ia mudah dikagumi dan disukai banyak orang.
Mungkin Hinata juga sedikit menyukai Naruto.
Menyukai orang seperti Naruto itu wajar. Tapi, kalau Naruto menyukai orang sepertinya apa itu wajar?
Orang seperti Hinata? Yang tidak memiliki hal menarik dalam dirinya?
Mana mungkin.
Hening kembali menyelimuti pembicaraan mereka. Sakura menunggu Hinata melanjutkan ucapannya.
"Aku.. Entahlah. Aku bingung, Sakura," Hinata berkata lirih.
Sakura menghela napas di ujung sana, "Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Kita lihat saja nanti bagaimana sikap Naruto."
.
.
Tak bergairah. Itulah yang orang-orang lihat dari diri Hinata saat ini. Langkahnya gontai menuju kelas. Tatapannya sayu menatap orang-orang. Ditambah gadis itu hanya tersenyum lemah membalas sapaan teman-temannya. Membuat seisi kelas heran dengan keadaan Hinata.
Sampai di bangkunya, Hinata segera menjatuhkan diri dan menenggelamkan wajah lesunya di lipatan tangan. Sakura yang sudah tahu penyebab sang sahabat tak bergairah hanya menepuk-nepuk kecil punggung Hinata. Mencoba memberi semangat pada gadis yang sedang dilanda galau itu.
Tak berselang lama, Kiba dan Naruto memasuki kelas. Tatapan mereka langsung tertuju ke arah Hinata yang tidur di lipatan tangannya. Segera dua pemuda itu menghampiri bangku sahabatnya.
"Hinata kenapa?" tanya Naruto cepat. Kiba hanya melemparkan tatapan bertanya pada Sakura.
Sakura menggeleng pelan. Ia tak ingin memberitahu Naruto bahwa lelaki itulah penyebab Hinata sampai begini. Bahwa lelaki itulah yang membuat Hinata gelisah mencari jawaban atas sikapnya yang membingungkan.
"Hinata, kau baik-baik saja?" tangan Naruto bergerak menyentuh pundak gadis berambut indigo itu.
Hinata mengangguk pelan. Ia tetap menyembunyikan wajahnya, tak berani menatap Naruto saat ini. Dapat dipastikan ada semburat merah di pipinya akibat sentuhan dan kata-kata Naruto yang terdengar khawatir. Pikirannya kembali melayang pada ucapan Sakura tadi malam. Membuat jantungnya berdetak cepat dan tak karuan.
"Kalau kau sakit biar aku antar ke UKS," Naruto menawarkan diri.
Hinata menggeleng pelan di antara lipatan tangannya.
"Kau yakin?"
Hinata mengangguk.
Tangan Naruto beralih mengusap puncak kepala Hinata dan mengelusnya pelan. Membuat Hinata nyaman dan malu dalam waktu bersamaan. Gadis itu memejamkan mata, menikmati sensasi aneh yang bergemuruh di hatinya.
Tak apalah, hanya untuk saat ini saja.
Tanpa Naruto sadari ada dua pasang mata yang menatap menyelidik ke arahnya. Seolah mencari tahu arti perlakuan yang Naruto berikan pada Hinata.
"Kalau kau sakit bilang saja, nanti aku antar ke UKS," Naruto berucap lembut.
Hinata mengangguk mengiyakan.
.
.
Tidak seperti biasanya. Keempat sahabat itu sekarang tak makan siang bersama. Hanya ada Naruto dan Hinata yang menikmati makanan mereka, sedangkan Sakura dan Kiba pergi untuk rapat klub dengan OSIS. Seharusnya, Naruto juga mengikuti rapat itu sebagai perwakilan klub sepakbola. Tapi ia lebih memilih untuk menemani Hinata makan siang di kelas.
"Kau mau sosisnya, Hinata?" Naruto memotong sosis bekalnya menjadi beberapa bagian.
"Bolehkah?" tanya Hinata berbinar.
Naruto mengangguk. Lalu menusuk potongan sosis berbalut mayonnaise dengan garpu dan mendekatkan sosis itu ke arah mulut Hinata.
"A-aku bisa sendiri, Naruto," tolak Hinata dengan sedikit blushing.
Lelaki pirang bermarga Uzumaki itu menggeleng, "Hanya sekali ini saja."
Hinata menghela napas.
Memilih untuk mengalah, Hinata akhirnya menerima suapan lelaki itu. Hinata segera menunduk dan kembali memakan bekal miliknya. Ia berusaha menyembunyikan semu merah di pipinya, apalagi kini Naruto menatapnya dengan senyum menawan.
"Terimakasih."
"Hmm," Naruto bergumam pelan di sela kunyahannya.
"Hinata.."
Hinata mendongkak. Seperkian detik kemudian matanya membelalak mendapati wajah Naruto yang begitu dekat. Dapat Hinata rasakan hembusan napas Naruto menerpa wajahnya. Hinata menahan napas.
Wangi mint.
Ibu jari Naruto menyentuh ujung bibirnya. Rasa panas mulai menjalar di wajah gadis itu saat ibu jari Naruto mulai mengusap ujung bibirnya pelan. Sepasang amethys menatap dalam bola mata safir di depannya. Hinata berdebar melihat kilatan di mata safir Naruto.
"Mayonnaise," ucap Naruto rendah. Hinata terkesiap.
Sekejap kemudian, gadis bersurai indigo itu berdiri dari duduknya. Suara berderit yang tiba-tiba membuat beberapa orang yang ada di kelas menoleh kaget. Termasuk Naruto yang kini mengerjap menatap Hinata. Gadis itu memalingkan wajah.
"A-aku ke toilet dulu."
Naruto memandangi kepergian Hinata dengan tatapan intens. Kemudian tatapannya beralih pada ibu jari miliknya yang baru saja menyentuh bibir Hinata. Tangannya terkepal.
Brukk!
Orang-orang di kelas kembali menoleh terkejut saat Naruto memukul meja dengan cukup keras. Naruto menutup wajahnya, terlihat semburat merah yang menjalar hingga ke telinga.
"Sialan!"
.
.
Hinata segera membasuh wajahnya yang terasa panas. Matanya bergulir menatap pantulan dirinya di cermin. Jelas sekali rona merah mendominasi pipinya. Dengan kasar gadis itu mengusap wajah. Mencoba menghilangkan bayangan Naruto.
Jika Naruto terus bersikap seperti tadi, Hinata tidak yakin ia bisa menahan perasaannya. Sikap Naruto membuatnya salah paham. Kalau terus begini bisa-bisa Hinata tidak akan bersikap normal saat berhadapan dengan lelaki itu. Dan hubungan mereka bisa berubah canggung.
Hinata menghela napas. Dari tadi jantungnya berdetak tak karuan. Apalagi mengingat tatapan Naruto yang tidak ia kenali. Membuat debarannya makin tak karuan.
'Ayolah, Hinata.. Naruto melakukannya karena ada mayonnaise di bibirmu,' ucap Hinata dalam hati memikirkan alasan masuk akal dari kelakuan Naruto tadi.
Hanya membersihkan sisa mayonnaise, tidak lebih. Hinata mengangguk-angguk.
Selesai dengan pemikirannya, Hinata mencuci tangan dan keluar dari toilet.
Tapi Hinata harus menghentikan langkahnya karena seseorang yang kini berdiri di hadapannya. Gadis itu mendongkak hanya untuk mendapati sang idola sekolah menatapnya intens.
"Nata.." nama panggilan spesial yang kembali Hinata dengar setelah beberapa bulan lamanya.
"Toneri?"
.
.
Naruto memandang cemas ke arah pintu. Ia menunggu Hinata yang tak kunjung kembali ke kelas. Sudah tujuh menit berlalu tapi tak ada tanda-tanda Hinata akan kembali. Memangnya sedang apa sih Hinata di toilet?
Apa jangan-jangan...
Hinata pingsan?
Naruto berdiri dari duduknya bersiap menyusul Hinata.
"Juugo, Toneri pergi kemana?"
"Entahlah, tadi ku lihat dia ke arah toilet perempuan, Sui."
Dua orang yang ternyata teman sekelas Naruto melewati lelaki itu dengan santai. Membuat Naruto dapat mendengar pembicaraan mereka.
"Mau apa dia ke toilet perempuan? Ngintip?" Suigetsu terkekeh setelah mengatakan kalimat itu.
Juugo menoyor kepala Suigetsu, "Memangnya kau!"
"Sepertinya dia menyusul Hinata. Ku lihat tadi Hinata juga ke toilet," lanjut Juugo setelah puas menoyor temannya. Sementara Suigetsu hanya mengusap kepalanya yang ditoyor.
"Minta balikan kali dia," ucap Suigetsu acuh tak acuh.
Naruto menegang. Ia segera pergi menyusul Hinata.
.
.
Sudah satu menit berlalu sejak Toneri mengajaknya duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari toilet. Kini, hanya hening yang menyelimuti mereka berdua. Hinata yang memang sudah canggung hanya menunduk menatap sepatunya. Sesekali kedua kakinya ia ayun-ayunkan dengan pelan. Toneri menoleh ke arah Hinata.
"Kebiasaanmu masih belum berubah, ya," ucap Toneri memecah keheningan.
Hinata mendongkak, "hm?"
Toneri menunjuk kaki Hinata dengan dagunya, "Mengayun-ayunkan kaki."
"Ah..ya," Hinata mengangguk-angguk.
"Nata.. Ku lihat kau sekarang sangat bahagia."
"A-ah.. Benarkah?" tanya Hinata dengan senyum kaku.
Cukup lama Toneri memandangi mantan kekasihnya itu, berpikir sudah lama sekali dia tidak melihat wajah Hinata dari dekat. Jika dulu dialah orang yang selalu melihatnya dari dekat tapi sekarang justru sebaliknya.
Toneri tersenyum kecut. Tatapannya beralih ke depan.
Ia bodoh sekali.
"Ya, apalagi saat bersama Naruto."
Hinata melayangkan tatapan bingung. Toneri membalasnya dengan tatapan sayu.
"Dulu kau selalu menatapku dengan bahagia, tapi sekarang tatapan itu kau berikan untuk orang lain."
"Apa maksudmu, Toneri?" tanya Hinata kebingungan. Sebenarnya apa mau mantan kekasihnya ini?
Suara langkah kaki yang tergesa mendekat ke arah mereka. Tapi sayangnya mereka tak dapat mendengarnya. Hinata lekat menatap Toneri.
"Kau menyukai Naruto? Atau kalian sudah berpacaran?"
Seorang lelaki menghentikan langkahnya yang tergesa saat pertanyaan itu keluar dari mulut Toneri. Lelaki yang ternyata Naruto itu kembali melangkah pelan. Dapat ia lihat Hinata sedang menatap Toneri. Membuat jantungnya berdegup tak senang.
Hinata terperangah mendengar pertanyaan Toneri. Sesaat ia terdiam memikirkan pertanyaan lelaki itu. Kemudian ia sadar bahwa kenyataannya..
"Aku dan Naruto hanya sebatas sahabat."
Deg!
Naruto mengernyit merasakan sesuatu yang berdenyut saat Hinata mengucapkan kalimat itu. Tak ada yang salah dari kalimat Hinata, tapi kenapa...
Toneri tersenyum, "Kalau begitu aku masih punya kesempatan, bukan?" tangannya bergerak menyentuh pipi Hinata. Membuat si empunya kaget seketika.
"T-toneri lepaskan!" Hinata mencoba menghindar. Wajahnya mulai pucat pasi.
Naruto menatap nyalang ke arah lelaki berambut putih itu. Ia menggeram tidak suka saat Toneri merangsek maju ke arah Hinata. Tanpa membuang waktu ia berjalan cepat ke arah mereka.
"T-toneri!"
Grep!
Bukk! Brugh!
"Kyaaa!"
Naruto memukul Toneri yang ada di bawahnya dengan brutal. Hingga lelaki berambut putih itu tak bisa membalas hanya untuk satu pukulan. Hinata menutup mulut menyaksikan Toneri yang dipukuli tanpa ampun. Darah keluar dari sudut bibir dan hidungnya. Satu pukulan lagi mendarat di rahang Toneri, lelaki itu meringis.
Air mata Hinata mulai menggenang melihat Naruto yang berubah brutal. Menyeramkan. Naruto tidak boleh seperti ini.
"Naruto! Hentikan!" jerit Hinata kemudian terisak.
Tangan Naruto berhenti di udara, ia melepaskan cengkeramannya dari kerah Toneri dengan kasar. Naruto berdiri diikuti Toneri yang mencoba bangun dari posisinya.
Naruto menoleh ke arah Hinata. Ia menatap gadis yang sedang terisak itu dengan tatapan tajam. Hinata yang di tatap seperti itu hanya mampu menelan ludah.
Tatapan Naruto sangat tajam dan terlihat..marah.
Hinata terisak.
Ia pasti telah membuat kesalahan.
.
.
TBC
Hai, readers! Gimana? Gimana? Lanjut atau tidak? Hehehe.. Ternyata ini di luar perkiraan saya. Saya kira ff ini bakal selesai 2 chapter, tapi ternyata meleset juga.
Yah.. Yang penting readers menikmati ff saya ini, ya!
Yok! Di Fav, Follow, dan Review!
