Desclaimer : EXACTLY. Persona 4 is owned by Atlus not me.

.

From Dusk Till Dawn

.

Chapter 2

.

.

Kaze no koe hikari no tsubu madoromu kimi ni sosogu

wasurenai yasashii hohoemi kanashisa kakushita hitomi wo

.

Tooi kioku mune ni hime utau

.

Waratteta naiteta okotteta kimi no koto oboeteiru

wasurenai itsumademo kesshite

.

Itsudatte itsudatte itsudatte sugu yoko de waratteita

nakushitemo torimodosu kimi wo

.

.

-----

Senandung itu terus menjerit-jerit di telinga pemuda yang kini tengah terdiam mematung memandangi sosok di hadapannya. Gadis itu berambut hitam panjang, mungkin hingga lebih dari pinggang, dan mengenakan kimono polos berwarna merah dengan obi hitam melilit perutnya. Dia duduk bersimpuh di depan kolam, dan terus menyenandungkan lirik yang sama. Lirik yang penuh dengan stigma. Sesekali air kolam itu beriak, menandakan penghuninya yang bersembunyi di bawah sana.

Souji terus termenung memperhatikan gadis itu.

"Kamu orang baru di kota ini?" gadis berkimono itu menghentikan nyanyiannya. Sesaat Souji tersentak, tersadar dari lamunannya, "Tidak juga... Sekarang sudah 5 bulan berlalu sejak aku disini.". Mendengar jawaban Souji, gadis itu berbalik memandangi pemuda yang entah sejak kapan berdiri di sebelahnya itu, "Apa kau tersesat? Masuk rumah orang tanpa izin...".

"Maaf. Entah kenapa saat mendengar nyanyian tubuhku serasa bergerak sendiri...".

Gadis itu tersenyum, "Jangan begitu, aku tidak marah padamu kok." ia meletakkan tangannya menyilang di selusur pahanya, "Duduklah." ia menunggu Souji duduk di dekatnya. Dan setelah Souji duduk, ia memperkenalkan dirinya dengan ramah, "Aku Kaede."

"Seta Souji."

----------

Gadis calon manager di Amagi Inn itu berlarian kesana-kemari sambil meneriakkan sebuah nama, "Souji-kun! Souji-kun! Jawablah!" ia melihat kiri dan kanan, membuat rambut lurusnya bergerak berirama. Saat itu ia masih mengenakan seragam Yasogami lengkap dengan sweater dan bando merah yang tetap setia mendampinginya. "Yukiko-senpai!!" suara seorang anak laki-laki memanggilnya. Tak lama mendekatlah sesosok anak seperti seorang anggota gank dengan rambutnya yang berwarna silver, "Bagaimana? Senpai menemukannya disini?". Gadis yang dipanggil senpai olehnya itu hanya menggeleng. Setitik air hampir terjatuh dari matanya yang kecoklatan.

"Wo-Woa... Yukiko-senpai, tenanglah! Souji-senpai pasti baik-baik saja!" Kanji mulai panik ketika melihat air mata Yukiko terjatuh dan membasahi pipinya. Gadis itu tidak menjawab, ia hanya mengangguk. Tidak lama kemudian, muncul beberapa orang lagi berlari ke arah mereka.

Daisuke yang mendekat lebih dulu langsung menghujani mereka berdua dengan berbagai macam pertanyaan. "Tenang dulu, Daisuke... Kalau kamu bertanya seperti itu, mereka akan kebingungan menjawabnya." anak laki-laki yang mengenakan jaket berwarna putih bermaksud melerai. "Kalian bagaimana, Yosuke-senpai? Menemukan sesuatu?" Kanji balik bertanya pada serombongan orang yang baru datang itu.

Sama seperti reaksi Yukiko, Yosuke pun hanya menggeleng. "Aku bingung... Apa benar dengan hal yang dikatakan oleh Kou?" Daisuke menggigit kuku jari tangannya, "....Apa benar gang-nya hilang?". "Yang benar saja, Daisuke, kamu mau menghubungkan hal ini dengan mistis?" sahut Chie sambil gemetaran, ia memang membenci hal-hal yang berbau mistik dan berhubungan dengan hantu.

"Aku... akan mencoba mencarinya lagi!" Yukiko pun segera berlari menjauhi teman-temannya yang lain. Ia berlari ke arah gang itu berasal. "Tunggu, Yuki! Tunggu aku!!" tanpa pikir panjang, Chie langsung mengyusul sahabat baiknya itu. Melihat kelakuan kedua teman perempuannya, Yosuke hanya geleng-geleng kepala dan berusaha menyusul.

Baru saat Kanji juga berpikiran ingin menyusul senpai-senpai-nya, Kou datang sambil berterak-teriak. "Ini gawat! Ini gawat, Daisuke!!" setelah dekat, Kou berhenti dan berusaha mengatur nafasnya. "Gang itu, memiliki sebuah cerita. Aku mengetahuinya dari nenekku...". "Cerita? Jangan bilang ini soal mitos!". "Dengar dulu, Daisuke!!" Kou mengumpat Daisuke karena menyela perkataannya.

Setelah memastikan temannya yang selalu mengenakan baju olehraga itu diam dan Kanji mendengarkannya, ia melanjutkan perkataannya, "Dulu... saat zaman perang, tepat di belakang rumah Tanaka, terdapat sebuah rumah lagi..." mulainya, ia berhenti sejenak untuk mengambil udara, ".... itu adalah rumah seorang tuan tanah. Aku tidak ingat siapa namanya, yang pasti si tuan tanah itu memiliki seorang anak gadis..."

----------

Ketiga orang itu berdiri tepat di samping rumah Tanaka. Memandang ke sekeliling, sekali lagi memastikan keberadaan gang tersebut. Nihil. Tidak ada satu pun dari mereka yang menemukannya. Yosuke mengangkat jamnya, jam 00.09, sudah lewat tengah malam. Saat ini Dojima-san pasti uring-uringan di kantornya, pikirnya. Ia juga mulai merasa khawatir karena tidak bisa memberi tahu Nanako kalau kakak kesayangannya itu tengah menghilang. Jika mereka tidak berhasil menemukan Souji sebelum fajar, Dojima akan menyerahkan kasus ini agar ditangani oleh pihak kepolisian.

"Bagaimana ini, Yosuke? Apa kita serahkan saja pada Dojima-san? Aku khawatir..." usul Chie. "Yah, kurasa kamu benar, Chie. Kita hentikan pencarian kita dan serahkan pada polisi. Kalau mereka mendapat petunjuk, sekecil apa pun itu, berikutnya kitalah yang bergerak." Yosuke mangangguk ke arah Chie yang kemudian disusul oleh anggukan setuju dari gadis tomboi berambut pendek itu.

Chie mengalihkan pandangannya pada Yukiko yang sejak tadi terus diam, "Ayo, Yukiko... Sekarang sudah malam... huh? Yukiko?" ia menyadari ada yang aneh pada Yukiko. "Hei, Yukiko-san, kamu baik-baik saja?" Yosuke berjalan mendekati Yukiko yang termenung memperhatikan sesuatu. "Ia ada disini..." gumamnya.

"Huh? Apa?"

"Kalian tidak merasakannya?" Yukiko melemparkan pandangannya bergantian pada Yosuke dan Chie yang melihatnya dengan bingung, "Souji-kun masih disini.".

"Senpai!!" dari kejauhan Kanji datang sambil memanggil-manggil mereka semua, "Huh? Ada apa? Kenapa wajah kalian serius begitu? Kalian menemukan Souji-senpai?". Baik Yukiko, Yosuke, mau pun Chie, tidak ada yang menjawab Kanji, "Oh, baiklah...".

"Apa maksudmu, Yukiko? Souji-kun ada disini? Dimana?" kali ini Chie merasa agak sangsi mendengar pernyataan Yukiko yang membingungkannya.

"Yukiko-san... apa udara malam sudah terlalu dalam merasukimu? Bicaramu sudah mulai aneh..." Yosuke mengeluh keberatan dengan kata-kata Yukiko barusan, "Kalau memang Souji ada disini...". Belum sempat Yosuke melanjutkan kata-katanya, Kanji ikut bicara, "Kurasa Yukiko-senpai benar." pernyataannya itu membuat semua senpai-nya melihat ke arahnya.

Gelagapan, Kanji pun menjawab, "Dengar... Tadi Kou mendengar cerita dari neneknya. Yaah.... Aku tahu kalau hal ini sulit untuk dipercaya....". "Ya sudah ceritakan saja!!" Chie kesal menunggu Kanji yang bertele-tele. "Baiklah! Baiklah! Dengar! Gang ini ada penghuninya, dan penghuni itu adalah anak dari tuan tanah yang dulu sempat tinggal disini." Kanji terdiam mendengar penjelasannya sendiri, "Aaah salah! Maksudku bukan begitu! Begini...

.

-Flashback-

Jepang, zaman Taisho (1912-1926)

Bertempat di kediaman yang saat itu diketahui sebagai kediaman seorang tuan tanah, ada seorang anak gadis yang berlari menuju ke arah pintu keluar. Rambutnya yang panjang dan berwarna hitam mengkilat membuat nya terlihat seperti boneka jepang, ditambah lagi dengan kimono yang nampak serasi di tubuhnya. "Papa!!" teriaknya, ia kemudian memeluk seorang pria tua berjanggut tebal yang juga membalas pelukannya. "Papa pulang! Aku kangen sekali pada papa..." dengan manja gadis itu menggosokkan kepalanya di dada papanya yang bidang.

"Hahahaha... Selama papa pergi, kau tidak nakal dan membuat susah Suzu-baachan kan?" sahut pria tua itu dengan lembut. "Iya tentu saja!".

"Ayo kita masuk ke dalam. Papa memiliki oleh-oleh untukmu." pria tua itu mengangkat anak gadisnya dan menggendongnya. "Oleh-oleh?! Benarkah??" wajah gadis itu bersemu merah dan merasa sangat senang. Seorang wanita paruh baya mendekati ayah dan anak itu, "Ya ampun, nona... masa sudah besar begitu masih digendong oleh ayahnya?" goda wanita itu yang kemudian diketahui sebagai pengasuh gadis tadi, Suzu-baachan.

Tampaknya gadis itu tidak mempedulikan godaan Suzu barusan, setelah ayahnya menurunkannya, ia melihat ke arah Suzu dan melemparkan senyuman gembiranya, "Suzu-baachan, ayah bilang ia membawakan oleh-oleh untukku.". Melihat wajah bahagia milik nona-nya itu, Suzu hanya bisa tersenyum ikut merasakannya. "Benarkah? Waah... saya tidak sabar melihatnya.".

"Ayo dibuka..." pria tua tadi memberikan bungkusan berwarna merah ke arah putrinya tersebut. Dan tanpa menunggu lama, gadis itu langsung membuka bungkusannya. "Waah!! Kimono merah!!" ia begitu terpesona melihat kimono berwarna merah yang menyembul dari balik bungkusan. Ia memang sangat menyukai warna merah, hal itu adalah karena almarhum ibunya bilang, ia akan terlihat semakin cantik dengan warna merah melekat di tubuhnya, "Aku akan mencobanya!" gadis itu langsung berlari ke kamar sebelah dan memakai kimono barunya.

Ia bahagia, sangat bahagia. Namun, ia tidak menyadari kalau kebahagiannya itu tidak berlangsung lama.

-End of flashback-

.

…. beberapa hari setelahnya perang meletus di daerah ini. Beratus-ratus pesawat menjatuhi tempat ini dengan bom. Sudah pasti rumah itu pun tidak luput." Kanji berhenti sesaat, "....hanya gadis itu yang berhasil selamat. Berhari-hari ia diam di reruntuhan rumahnya, berharap kalau ayah dan bibinya masih hidup. Tapi itu mustahil... Ia pun meninggal setelahnya karena sakit....".

Sesaat hening, semuanya terdiam setelah mendengar cerita Kanji. "....lalu apa hubungannya kisah itu dengan hilangnya Souji?" tanya Yosuke penasaran. "Cerita itu tidak berakhir hanya sampai disitu..." Kanji menatap Yosuke, "Setelahnya, banyak orang yang melihat arwah gadis itu duduk di beranda rumahnya yang telah runtuh... menunggu kepulangan ayah dan bibinya..." ia menghentikan kata-katanya lagi, kali ini ia memandang satu per satu ekspresi wajah orang-orang yang sejak tadi mendengarnya bercerita itu.

Sesaat kemudian, Kanji pun melanjutkan, "... arwah itu juga berusaha untuk mencarinya di wilayah yang berbeda. Tapi masalahnya, arwah gadis itu tidak bisa beranjak dari tempatnya sekarang... sampai ada seseorang yang bisa menggantikan posisinya..."

.

----------

TBC...

.

Kalian tau? Lagu di atas adalah lagu Kimi no Kioku yang menjadi soundtrack Persona 3. Aah saya yakin kalian pasti tahu, jadi buat apa saya beri tahu. *hehe* Sebenarnya, awalnya saya agak ragu untuk memakai lagu itu, tapi entah kenapa cerita ini jadi berjalan ke arah yang sama sekali saya tidak duga! Jujur, rencana awal saya bikin fic ini hanya untuk oneshot saja. Saya tidak menyangka akan sampai ber-multichap-ria seperti ini. Dan entah kenapa, lagu itu pun menjadi cocok. Lagu awal yang saya gunakan (Blurry) jadi melenceng jauh.

Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih bagi kalian yang sudah bersedia me-review fic saya ini. Saya benar-benar sangat senang. Maaf saya tidak menyebutkan nama kalian satu persatu, saya malas. *dicekek* Untuk sekarang juga, saya mohon reviewnya. *nunduk nunduk* Terima kasih banyak sudah sudi membaca fic ini, dan amat sangat terima kasih banyak bagi kalian yang mau me-review kembali. ^^

.

.

Regards,

VanXallsburG