Chapter 2 – Kanji vs Crazy Shopkeeper

Malam itu semuanya nginap di rumah Dojima (emang muat?). Jam dinding masih berdetak seirama detak jantung anggota Investigation Team. Tidak ada yang bisa tidur meski mata terpejam. Saat itu sudah jam 00.00 (kalau di P3 uda Dark Hour, nih!). Yosuke membuka mata, bangun, dan pergi ke lantai 1 (karna gak bisa tidur). Ketika hampir sampai di lantai 1, ia mendengar isak tangis seorang gadis (kuntilanak kah itu? Hiiii…). Karena penasaran, cowok yang sekarang sudah jadi manager di Junes itu mencoba mengintip dan…… Chie?! (ooo… kuntilanak nya Chie toh! BRAK BRUK KRAK GEDUBRAK!! = suara author di 'titik-titik' sama kuntilanak, eh salah sama Chie!)

Melihat Chie tersedu-sedu di pojok kiri kanan atas, BRUK! (Author kena gampret kunti…eh, Chie). RALAT!! Melihat Chie mojok di samping sofa (gak kena gigit nyamuk ya tuh orang?), Yosuke menghampirinya dengan bawang putih (Chie: 'Emang gua vampir apa?! Dasar author brengsek, rasakan ini! CIAT, HIYAH, WACAA…!')

"Chie, kau kenapa?" Yosuke memegang pundak Chie pelan.

Chie menoleh dengan mata sembab, hati sakit, perih, pedih, air mata bercucuran, air liur deras, en hidung memproduksi cairan yang ah-kau-jijik-la. (DHUAKK!! Disepak Chie tuh author!). Sambil mengusap air matanya dan (DHUAKK!! Chie: 'Mau bilang apa lu, author?!') diam.

Kemudian katanya, "Yo-Yosuke, kau belum tidur rupanya. Kenapa kau ada di sini?"

"Justru pertanyaan itu untukmu. Kenapa kau belum tidur? Dan kenapa kau di sini sendirian?" tanya Yosuke sembari duduk di sebelah cewek rambut coklat pendek yang suka film Jackie Chan itu.

Chie diam sejenak kemudian berkata, "Apakah benar kita dapat menemukan Yukiko meskipun ada Souji-kun?"

"Tentu saja bisa, kalau kita berusaha!" ujar Yosuke menyemangati 'ehm-ehm' nya itu. (Wkwk)

"Tapi, Souji-kun belum tau tentang hal 'itu' kan?"

"*sigh* Besok aku akan memberitahunya."

"Tapi…!"

Yosuke merangkul cewek di sampingnya tersebut mencoba menenangkannya dan katanya, "Sudahlah, tenang saja. Kita pasti menyelamatkan Yuki-chan. Pasti! Aku janji."

(STOP! Lanjutan cerita Yosuke-Chie tidak bisa diceritakan Author!)

* * * Keesokan harinya…

Semuanya sudah berkumpul di ruang tamu, kecuali Souji. "Heee, ke mana Sensei, kuma?" Tanya Teddie celingak-celinguk.

"Masih tidur, kelelahan mungkin," jawab Yosuke sambil duduk di depan kopinya.

"Kalau begitu aku akan membangunkan Senpai dulu," ujar Naoto setelah meneguk tehnya.

Saat hendak berdiri, Naoto dicegat Rise secepat kilat, "Aku, aku, aku! Aku saja! Aku saja yang membangunkan Senpai!" Rise langsung berlari ke atas, kamar Souji. Tap…tap…tap…tap…!

"KYAAA…!"

"WAAA…!"

Mendengar teriakan yang ah-kau-budek-la, Yosuke dkk berlari pontang-panting ke kamar Souji.

"Ada apa?! Apa yang terja…di…? Souji?! Rise?!" kata-kata Yosuke tersendat melihat pemandangan yang ah-biasa-la. Rise memeluk Souji yang tengah telanjang dada (mau pakai baju maksudnya) en mereka berdua di kamar lagi, makanya yang lain kelabakan.

"Tu-Tunggu! Kalian salah paham! Aku bisa menjelaskan semua ini!" kata Souji cepat-cepat.

"Sou-! Souji-kun! Kau kan sudah punya Yukiko, tapi kenapa-!" ujar Chie hendak menghantam Souji, tapi ditahan Kanji, "Senpai, Souji-senpai bukan orang yang seperti itu. Kita dengarkan dulu apa yang terjadi sebenarnya. Souji-senpai, kata-"

"Senpaaai! Badanmu makin keren aja! Six pack! Risette makin cintaaaa deh sama Senpai! Gyaa!" kata Rise kagum dengan tubuh Souji yang ah-kerennya sambil tetap memeluk pemuda itu dengan erat, makin erat. Semua yang ada di ruang itu pada ber-sweatdrop ria, kecuali Chie.

Cewek yang sekarang berumur 19 tahun itu mendekati Rise-Souji, "Risee! Lepaskan Souji-kun! Dia itu punya Yukiko!"

"Enggak mau! Senpai itu punya Risette! Weeek!"

Maka dimulailah kejar-kejaran antara Chie-Rise for a long time.

* * *

Semuanya kembali ke ruang tamu setelah permainan kucing dan tikus selesai.

"Baiklah, kita susun dulu rencana penyelamatan Yukiko," ujar Souji memulai rapat Investigation Team.

"Err, Souji, bisa tunggu sebentar?" tanya Yosuke.

"Ada apa?" tanya Souji balik.

"Err, begini… Gimana ya? Naoto-chan, kau saja deh…"

"…??" Souji makin tambah bingung 'Ada masalah apa lagi sih?'

Naoto diam sesaat, menatap tajam Souji yang sabar menunggu. Setelah itu Naoto berkata, "Waktu kita hanya sampai jam 6 sore ini, saat festival kembang api dimulai, sekitar 10 jam lagi. Dan selama itu, kita harus mencarinya di dalam TV yang tidak ada tanda keberadaan manusia sama sekali. Jika sudah lewat dari jam yang ditentukan, maka…"

"Yuki-senpai akan dibunuh. Nasibnya ada di tangan kita, Senpai," sambung Kanji mengakhiri kata-kata Naoto yang terhenti.

Mata Souji nanar. Ia merasakan badannya beku serasa di dalam kulkas yang bersuhu -100°C.

.

=O=

.

"Waktu kita 10 jam lagi. Nasib Yuki-senpai ada di tangan kita."

"Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?"

"…" sunyi, tidak ada yang menjawab pertanyaan cowok rambut abu-abu itu. Semuanya menunduk tidak berani menjawab ataupun menatap Souji.

"*sigh*… Sudahlah, kita segera siap-siap saja. Kita pergi beli beberapa item, armor, dan weapon dulu. Setelah itu kita pergi ke Junes. Bagaimana?" tanya Souji memberikan pendapat.

Yang lainnya mikir dulu donkz. Selagi yang lainnya mikir, Naoto mengambil topi biru tuanya dan memakainya. Setelah itu ia berdiri, membetulkan topinya, lalu berkata, "Aku setuju dengan Souji-senpai."

Demi cintanya terhadap Naoto, Kanji pun mengacungkan jarinya. "Setuju!" dan Yosuke, Teddie, dan Rise pun ikut serta. Semuanya sudah setuju, kecuali Chie, cewek rambut coklat susu.

"Kau kenapa Chie?" tanya Yosuke heran ia tidak ikutan setuju.

"Kurasa kita tidak perlu beli armor dan weapon, deh…" katanya sambil tersenyum kepada teman-temannya "…karena aku masih menyimpannya. Lengkap!"

Terlihat senyuman sumringah teman-temannya terlintas di wajah masing-masing. "Wow Chie-senpai, kau memang the best!" teriak Rise di telinga Teddie, hingga ia (Teddie) pingsan. Kau kan tau suara Rise yang ah merdunya hingga aku mau pingsan jika ia teriak… (digebukin fans Rise!)

"Bagus, Chie!!" puji Yosuke yang diikuti muka merah padamnya Chie.

"Hahaha! Senpai, tumben-tumbennya kau pintar? Hahaha…" puji (?) Kanji yang sudah tertular virus haha-hihi-nya Yukiko.

Muka Chie merah, tapi kali ini karena menahan amarah dan… "Apa kau bilang?! Otakku lebih encer dibanding otak tepung kanji sepertimu!"

"What the-?!"

---

Souji: hei zero, pertarungan Chie-Kanji nanti aja deh. Aku udah gak sabaran mau ketemu Yukiko, nih!

Zero: OK, OK!

(Author kembali nulis. Souji pergi)

Zero: haaaaah… OK, para pembaca, karna MC kita gak sabaran lagi mau nolong Snow Black-nya (digebukin Souji)! Eh, maksud saya Snow White-nya (Souji: Ya, ya, betul), kita lanjut aja ke next story!

(Author nendang Souji)

---

* * *

Rise, Chie, Yosuke, en Teddie pergi ke rumah Chie mengambil senjata dan lainnya. Sedang Souji, Naoto en tepung Kanji (Kanji: dasar author sialan! Digebukin ama fans gue baru tau rasa lo! Zero: emang lu punya fans apa? Kanji: …)

Souji dkk pergi ke tempat langganannya dulu, Shiroku Store (ATLUS gak bikin 2 item shop sih…). Beberapa item seperti Heal Jelly, Mega Leaf, Balm of Life, Hiranya, Amrita Soda, Vanish Ball, Goho-M mereka beli. Sudah selesai, SNK (Souji, Naoto, Kanji… bukan SMK! Kalo SMK mah jadi Souji, Maoto, Kanjrit… Whahaha-! DHUAK! Dijitak Kanjrit, eh Kanji) membawa item-item itu ke kasir. Kemudian diletakkan, shopkeeper menghitung harganya tanpa diskon.

"Berapa harganya, bik?" tanya Kanji, sok banget! (diceburin Kanji)

'Bik, bik, bik,! Emang gua mak ayu yang jualan di pasar apa?!' batin si kasir yang yah tua dikit lah… (dilempar pake panci!) "86.750 yen," jawab shopkeeper sambil memasukkan belanjaan mereka ke dalam kantong.

"BUSET DAH! MAHAL AMAT, BIK?! BUDI, EH AMAT AJA KAGAK MAHAL TO…!" Kanji terkejut bukan main… Ia menoleh ke Senpai-nya dan Naoto yang daritadi diam en cuek, "Naoto-chan…" katanya minta tolong.

Naoto tidak menoleh, masih sibuk mengamati item 'Dr. Pepper NEO', tapi tetap menjawab, "Maaf Kanji-kun, aku tidak bawa uang."

Kanji langsung down! Sekali lagi ia melirik ke Senpai-nya, "Senpai…"

"Tadi aku sudah bilangkan, jangan beli terlalu banyak, aku hanya membawa segini…" kata Souji sambil menyodorkan uang 20.000 yen.

Kanji menerimanya, merogoh lubang celananya (kantong celana, WOI!) dan mendapati uang 5.000 yen (miskin banget sih lu, Kanji). TOTAL=25.000 yen, masih kurang 61.750 yen.

Melihat anak-anak itu hanya membawa 25.000 yen, shopkeeper berujar, katanya, "Barang yang sudah dimasukan ke dalam kantong gak bisa dikembalikan ke rak barang lagi!"

"BUSET! KOK GITU SIH?!" mata Kanji terbelalak, kayak mata ikan teri (tu mah kecil o'on! Mata Kanji tu lebih gedueek! PLETAK! Digampar Kanjrit… ACAT! Dibacok Kan-ji…rit! DHUAKK!)

---

Zero: uda dulu ya, author mu istirahat dulu nih. Belur babak gampar di Kanji… (Babak belur digampar Kanji) Hanjut hi hep herihutha… (Lanjut di chap berikutnya)

Rise: Kanji-kun! Kasian kan zero lu gebukin ampe ngomong aja tebalek plus aneh!

Kanji: ya uda, lanjutin gih sono! Awas kalo ngolok-ngolok lagi!

Zero: hohe heh… (Oke deh). Hanjrit! (Kanjrit!)

DHUAK! BRAK! BRUK! GEDUBRAK! PLETAK! Dkk berbunyi. Author di*** sama Kanji.

---

"Kalian bisa aja sih ngutang, tapi nanti bayar 2x lipat ya… hehe," kata nenek Shiroke Store memberi option.

"BUSET (LAGI)! Gilakah tuh nenek?!" bisik Kanji ke Souji.

Dikatakan bisik tetap aja suara Kanji nyaring, en so pasti kedengaran ama tuh nenek. Dia mencoba sabar dan tanyanya, "Kalian ingin beli daganganku atau…aku??"

HUEK! HUEK! Hiiii…! Genit banget sih tuh nenek, uda tua gitu. Amit-amit, amit-amit! Sejak kapan aku buat cerita kayak gini?! Najis! Tapi it's OK la, selama ada Kanji yang ngeladeni tuh nenek… (ditendang Kanji ampe 100 km)

"Atau kalian ingin ku laporkan ke polisi dan dipenjara selama 5 tahun?!" katanya memberi option lagi sambil melotot-tot-tot-tot-tot…

Kanji menatap Souji sambil menelan ludah, lalu ujarnya "Senpai, pilih yang mana? Tiga-tiganya sama extremenya! Aku tidak mau ada hutang sebanyak itu bisa merepotkan mama (anak mami lo! Digebuk Kanji!) Aku juga tidak mau berurusan lagi dengan polisi…" Kanji menelan ludah sekali lagi sembari melirik nenek itu, "Dan aku juga gak mau ama nenek-nenek tua, keriput, gendut itu!" Kanji menoleh ke Souji lagi, "Jadi gimana, Senpai?"

PLOP! Bukan sulap bukan sihir! Souji-Naoto tidak ada di TKP lagi!

"Teman-temanmu sudah ku suruh pulang duluan, kalau mereka tidak pulang harga belanjaanya kunaikan," kata nenek itu menjelaskan sambil memeluk Kanji. Spontan Kanji menghindar. Nenek itu melanjutkan, "Tenang mereka sudah bayar 25.000 yen. Jadi sisanya kau bayar. Dan kebetulan kita hanya berdua di sini… hihihi…"

Kanji menutup mulutnya dengan tangannya yang gede, hendak HOEKK!!

"HUAAAA…! SENPAAAI!" Kanji lari tunggang langgang.

Nenek itu berlari nyusul, "HEI! TUNGGUUU…! BAYAR DULU!"

Kalau dilihat dari jauh, Shiroku Store – yang merupakan TKP – bergetar, bergoyang, ada suara teriakan yang merdu (?), dan barang dagangan yang lari turun ke lantai (jatuh maksud ai).

Dari luar, Souji dan Naoto hanya bisa sweatdrop dan berdoa, "Maafkan kami, Kanji-kun. Semoga kau baik-baik saja."

* * * Meanwhile…

"Ada apa, Teddie?" tanya Chie yang heran melihat beruang atau apalah itu diam, bengong sendirian.

"Aku merasakan firasat buruk dengan Sensei, kuma!"

"Hah?! Apa yang terjadi dengan Senpai, Teddie?!" tanya Rise khawatir berat dengan seniornya yang ter*** (cari sendiri lanjutannya).

"Teddie tidak tahu, kuma," kata Teddie geleng-geleng, leng-geleng-geleng-geleng, duh pusing jadinya… (Author gila!)

"Kita sudah selesai! Ayo kita ke Shiroku Store sekarang!" ajak Yosuke yang juga khawatir dengan partner-nya itu.

"OK!"

* * *

Setelah 1 jam, 5 menit setelah semua kejadian berlalu, Souji dkk (termasuk Kanji) berkumpul di Junes…

"Snrk… BUAHAHAHA!" tawa Yosuke menggelegar mendengar cerita rakyat (digampret Kanji) Souji tentang Kanji.

"WAHAHAHA!" Chie ikutan.

Melihat Yosuke-Chie tertawa, Teddie ikutan, meskipun dia gak dengar, "HAHAHA… HEHEHE… HOHOHO…!" (ketawa apa ketawa tuh?)

"Gee, Kanji… ternyata ku punya hubungan yang seperti itu rupanya…" kata Rise salah paham.

"Aku sudah bilangkan aku tidak seperti itu!!!" ujar Kanji sambil memukul meja ampe jus yang dipesan pun ikut kaget.

"Tidak yang seperti 'itu', tapi yang seperti 'ini' kan, Kanji?" tanya Teddie sembari berlari memeluk seorang nenek tua, kriput, gendut, hidup lagi.

Akibat perbuatan Teddie itu, Inaba hancur berantakan gara-gara gelegar tawa 4 muda-mudi itu. Kanji menangkap Teddie, menghajarnya, mengigitnya, melemparnya, dan kau pikir aja yang lainnya (jangan aneh-aneh!). 4 muda-mudi itu tertawa terpingkal-pingkal (Yosuke, Chie, Rise, Naoto. Souji mana?).

Souji diam, kemudian menghabiskan jusnya, berdiri, lalu katanya, "Tidak ada waktu lagi, ayo cepat!" Souji pergi meninggalkan teman-temannya yang terdiam, diikuti Naoto. Aneh, tuh anak nurut banget ma Souji, kayak anak anjing (digampar ma fans Naoto).

* * *

Mereka berkumpul di depan TV sebesar (kira-kira) 40 inch (mungkin, author juga gak tau), yang biasa mereka gunakan dulu (untuk masuk ke Mayonaka TV). Souji memandang teman-temannya yang hanya dibalas dengan sebuah anggukkan besar (tu mah angkutan bukan anggukan, o'on). Ia berbalik berhadapan dengan TV itu, meletakkan telapak tangannya, dan PLOP! Tangannya masuk ke dalam, kemudian kepalanya, lalu badannya, lalu…lalu…lalu…lintas. (AUTHOR BODOH!!)

* * *

BRUK! Souji jatuh padahal yang lain cuma 'Tap!' dia 'BRUK!' maklumlah uda 3 taon gak ke Mayonaka TV lagi.

Rise berlari ke arah Souji, membantunya berdiri sambil berkata, "Senpai, kau tak apa-apa? Apa kau terluka? Apa perlu aku menggunakan Diarahan?" pertanyaan yang begitu panjang yang dilontarkan Rise hanya dibalas dengan 2 kata, "No worries," dan Souji pun pergi. Rise?? Nangis deh! Uda untung 'No worries' bukan 'No comment'.

"Rise, jalannya yang mana?" tanya Souji bingung (inget! Saat di Mayonaka TV, semuanya pake kacamata, kecuali Teddie)

"Eng…sebentar…" Rise berkonsentrasi dan 'tuing' keluar kartu tarot yang bersinar, dan dihancurkannya, maka keluarlah persona miliknya, Kanzeon! "Eng… Di sana, Senpai," kata Rise setelah mengetahui arah mana yang harus dituju dengan kekuatan dari personanya.

Investigation Team pergi ke arah barat yang ditunjukkan Rise.

* * *

Mereka sudah berjalan sekitar setengah jam. Waktu menunjukkan 9.30 WIT (Waktu Inaba bagian Tepi). Di ujung jalan terlihat 2 pintu aneh, satunya hidung babi, satunya hidung Kanji (di semek don Kanji).

Karena Rise tidak bisa mengetahui pintu mana yang dituju, Souji memutuskan membagi dua kelompok. Souji, Yosuke, Chie ke kanan, sisanya ke kiri. Maka masuklah mereka…

* * *

Sama seperti tadi, 30 menit perjalanan mereka tempuh, dan jam menunjukkan pukul 10.00. Di dalam kabut yang setidaknya sudah terang berkat kacamata yang mereka pakai, kedua tim (yang masing-masing dipimpin Souji dan Naoto) itu menyadari ada 'sesuatu' di ujung sana yang sedang menunggu 'tamunya'…

"Teman-teman, siapkan senjata kalian! Mereka tangguh!" ujar Rise memperingati.

Apa yang akan mereka hadapi? Mampukah mereka menyelamatkan Yukiko?

To be continued


Behind the screen

Zero: lalala… (author baru plg skul)

Kanji: woooi author brengsek…! Ke sini lu!

Zero: opo mas?

Kanji: opo, opo! Gue mau protes! Kok aku ngomong dikit banget sih?!

Teddie: benar, kuma! Teddie cuma dapat 3 kalimat doank, kuma!

Zero: sabar ya, mas2… begini, kalo kalian dpt lbh dari 3 kalimat, gak muat jadinya… lht tuh mas Souji, kalimatnya cuma 2,3 kata aja, gak phrothes! Wonk dpt 3 kalimat uda lucky to…

Chie: author sialan! Kok aku dibuat jadi cengeng gitu, sih?! Pake mojok di samping sofa n dipeluk ma Yosuke lagi…! (sambil malu2… hohoho)

Zero: baru datang kok udah ngomel sih? lho, emang mbak Chie gak suka ya dipeluk ma mas Yosuke??

Chie: enngg, suka seeeh… tapi kan-! (wajahnya merah merona)

Zero: ya uda kalo gitu… (lariiiiii!)

Chie, Kanji, Teddie: woi! Tunggu, author sialan!!

.

Zero dkk (dan kambing2) kejar-kejaran di sekitar Riverbank, ampe Rise datang…

Rise: ouw, Zeeerooooooo! Ke mana kaaau?!

Zero: waduh! Troublemaker datang nih! LAARIIIIIIIIIIIIIIIIII!!!

Chie, Kanji, Teddie: TUNGGUUUUU!!

Rise: OUW, ZEROOOOO!!