REMAKE NOVEL BY TILLY D
REMAKE NOVEL BY TILLY D
REMAKE NOVEL BY TILLY D
REMAKE NOVEL BY TILLY D
REMAKE NOVEL BY TILLY D
Bab 2
JONGIN POV
Dan ketika aku menuruni anak tangga, aku hampir saja terjatuh karena kakiku tak berhati-hati. Tapi, sebuah tangan memeluk pinggangku dengan erat. Aku menoleh seketika mataku membelalak. "Kau hampir saja mematahkan tulang-tulangmu, Nona. . .." Ia menggeram di balik giginya yang bergemeletuk. Matanya tampak menatapku dengan dingin.
Aku tergagap segera menjauh darinya, namun ia menarikku hingga aku kembali di lantai atas. Ia masih mencekal pergelangan tanganku. Sorot matanya benar-benar dingin. Sungguh, tatapannya menelanjangiku. "Si-siapa kau?!" Suaraku tercekat dan bergetar. Ia tersenyum. Senyum yang benar-benar menakutkan, "Kupikir kau mengenalku."
Bisiknya, membuat bulu kudukku meremang seketika. "Kau adalah ha-hantu, hantu penghuni rumah ini?" Mataku menatapnya dengan takut. "Apa kau berfikir begitu?" Ia menyeringai, "Aku pemilik rumah ini, Nona.. seharusnya aku yang bertanya kau siapa?" Ia menyilangkan tangannya di depan dada. "Kau hantu-"
"Aku bukan hantu, beberapa menit yang lalu aku baru saja pulang."
"Tapi, kau masuk ke dalam lukisan itu. . .."
"Itu bagian dari sulapku. Bukankah kau berpikir aku seorang pesulap?" Ia mengangkat sebelah halisnya. "Ya-ya, a-aku fikir begitu. Kau-tapi-bagaimana bisa kau mengetahui itu? Maksudku-aku tidak bersuara-"
"Aku pesulap, kau tau pesulap bagaimana. Tentu saja, aku bisa membaca pikiranmu itu." Terangnya dengan datar. Aku menggigit bibir bawahku dengan gugup. Bingung, aku bingung dengan apa yang harus kulakukan. Pemilik rumah ini bukan hantu, dia ternyata seorang pesulap. "Apa kau masih berpikiran bahwa aku hantu?" Ia mengerutkan keningnya tak suka.
Aku menggeleng ragu, "Tidak! Tentu tidak, Tuan! Maaf sebelumnya aku lancang masuk ke dalam rumahmu tanpa meminta izin."
"Aku mengerti. Ikutlah ... akan kutunjukkan padamu."
"Eh?" Ia menarik tanganku begitu saja. Kami kembali memasuki kamar tadi. Aku menatapnya dengan takut. Ia menaiki ranjang. "Ayo ... akan kutunjukkan sulapku. Agar kau tak takut." Ujarnya. Dengan ragu aku mengikutinya. Tangannya yang terasa dingin menggenggam tanganku. Ia mengulum senyum.
"Lihatlah. . .." Ia memasukan tangan kami ke dalam lukisan itu. Perlahan tanganku tenggelam, menembus begitu saja ke dalam lukisan. "Bagaimana bisa?" Aku menahan senyumanku. "Tentu bisa, berapa kali aku harus mengatakan bahwa aku pesulap? Kau percaya padaku? Aku bukan hantu." Kekehnya pelan.
Aku melepas jari kami yang bertautan ketika tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Rasanya aliran darahku berdesir. Aku meliriknya sekilas. "Namaku Oh Sehun, aku pemilik rumah ini dan aku pesulap." Ujarnya. "Dan kau?"
"Aku?" Aku menunjuk diriku sendiri seperti orang bodoh. Ia mengangguk pelan. "Aku Jongin." Ia mengulum senyum. Entah apa arti dibalik senyuman itu. Aku hanya dapat menatap kedua bola matanya yang tampak cerah. Bukankah tadi matanya berwarna merah? Mungkin aku salah lihat.
Tidak ada manusia di dunia ini yang memilikki warna mata merah, bukan? Kecuali makhluk penghisap darah ... err ... yang hanya ada dalam cerita-cerita.
oOo
Rumah luas ini tampak ramai karena pemiliknya telah kembali. Dan Hawa dingin diluar masih terasa karena badai belum berhenti. Aku mendesah pelan. Kapan aku pulang? Rasanya aku merasakan hal aneh ketika para pelayan di rumah Sehun menatapku. Seakan-akan mereka akan melahapku hidup-hidup.
Tatapan mereka menyiratkan sesuatu yang tak nyaman bagiku. "Apa pelayanmu selalu menatap semua orang seperti itu?" Bisikku. "Maksudmu?" Sehun mengerutkan keningnya. Tepatnya dua hari yang lalu aku salah paham dan dua hari kemudian kami menjadi akrab. Menurutku, Sehun adalah pria yang baik, dia adalah sosok yang friendly.
Tapi, aku masih heran dengan satu hal, sebenarnya ... siapa yang menciumku? Jujur saja, itu keterlaluan. "Kau tau, tatapan mereka seperti kelaparan. Apa mereka baik-baik saja?" Sehun menyeringai, "mereka memang begitu," tiba-tiba raut wajahnya menjadi datar, "Akan kuperingatkan nanti." Geramnya pelan.
Aku mengusap cangkir dalam genggamanku seraya menatap lurus keluar jendela. "Kapan badainya berhenti?"
"Ini akan lama." Bisik Sehun pelan. "Aku harus pulang,"
"Bukankah kau sedang menghindari keluargamu?" Aku tertegun, "Bagaimana kau tau?"
"Aku bisa meramal. Aku pesulap, ingatlah itu ..." Aku terdiam beberapa saat, lalu kembali berujar. "Maaf aku lancang, aku memasuki rumahmu tanpa permisi dan memakai milikmu." Aku kembali mengingat tingkahku yang seenaknya. "Apa?"
"Jubahmu, parfum milikmu, kamarmu, semuanya aku memakainya seenaknya."
"Aku sama sekali tak keberatan." Ia tersenyum, kemudian berdeham, "Aku senang kau memakainya."
"Senang?" Keningku berkerut. Bibirku membentuk garis simpul. Selang beberapa detik, Aku melumat bibirku sendiri. Sehun tampak tersenyum canggung, "Baiklah, sepertinya kau harus makan malam. Pelayanku telah menyiapkan."
"Kau tak makan?" tanyaku. "Aku tak memakan apapun untuk beberapa waktu."
"Kenapa?" Ia hanya menjawabnya dengan mengulum senyum.
Selesai makan malam, Sehun mengajakku mengelilingi sekitar rumah, sekedar melihat-lihat. Tentunya masih di dalam karena di luar badai. "Kau memiliki banyak barang yang antik." Aku menyentuh sebuah vas bunga yang klasik miliknya. "Dan lukisan... " Tambahku seraya mengusap lukisan sosoknya yang tampak begitu nyata.
"Aku melukisnya sendiri." Sehun berujar dengan datar. "Benarkah?" Mataku berbinar. "Kau begitu pandai membuat lukisan yang nyata." Bisikku kagum. "Hanya dengan sedikit sentuhan." Ia mengangkat bahu. "Aku melukis jika aku bosan, tapi semuanya berjalan begitu saja menjadi kebiasaan. Menjadi banyak koleksi di rumahku."
"Aku juga suka melukis, tapi orang tuaku melarangku. Mereka tak setuju." Bisikku pelan seraya menerawang. Membayangkan ketika kedua orang tuaku-terutama Ibuku-sangat tak setuju aku berkeinginan menjadi pelukis. Sehun mengusap tanganku dengan pelan. "Kau memilikki harum yang berbeda." Ia memejamkan matanya.
Keningku berkerut, "Sehun? Apa kau baik-baik saja?" tanyaku takut. Ia tampak pucat. Sosoknya berubah drastis. "A-aku baik-baik saja, sebaiknya kau segera ke kamarku. Kau tidurlah di sana lagi." Ia memaksakan sebuah senyuman. "Tapi, di mana kau akan tidur nanti?"
"Tidurlah, Jongin ... jangan pikirkan aku." Ia menjauh begitu saja. Sosoknya menghilang di balik sebuah pintu. Rasa penasaran langsung merayapiku. Aku melangkah mengikutinya. Menyusulnya ke dalam ruangan itu. Ruangan itu tampak begitu luas, namun gelap. Hanya ada penerangan seadanya disini. Kakiku melangkah dengan mengendap-endap.
Berharap tak menimbulkan suara. Langkahku terhenti ketika aku melihat sosok Sehun yang mematung. Beberapa pengawal di rumahnya, tampak berada di sampingnya. "Sialan!" Sehun memukul salah satu pengawalnya dengan tangan kosong. Ia tampak menggeram marah, "Jangan membuat kekasihku takut, bodoh!" Bentaknya.
Seorang pengawal yang mendapatkan bogem mentah itu hanya tertunduk. "Tuan, Nona ... dia memilikki harum yang-"
"Aku tak perduli!" bentaknya lagi. Sebenarnya, siapa yang ia bicarakan? "Seujung jari kalian menyentuhnya, apalagi melukainya, aku akan membakar kalian hidup-hidup!" ancamnya. "Ja-jangan, Tuan..." Pengawal itu menjawab dengan suara ketakutan. "Sekarang mana, mana minumanku!"
"Mana? Berikan padaku sekarang!" bentaknya menggelegar. Seorang pelayan di sampingnya menyerahkan satu gelas cairan berwarna merah ke arahnya. Sehun menerimanya dengan cepat. Ia menegak habis minuman itu tanpa sisa. Cairan apa itu? Mataku meneliti dengan seksama.
Ia tampak tersenyum, tepatnya tersenyum lebar. Dua gigi taringnya memanjang. Mataku membelalak. Ia memilikki dua gigi taring, matanya tampak membara, dan tiba-tiba sebuah jubah melingkupi tubuhnya. Ia mengusap bibirnya yang memerah dengan tenang. Apakah cairan itu darah?
Aku begidik. Rasanya aku ingin muntah. Tiba-tiba sebuah benda dengan tak sengaja kugenggam. Aku memekik, Cicak! Aku menatap ke arah Sehun dan para pengawalnya yang kini menatap ke arahku. Sehun tersenyum sinis. Aku menatapnya dengan takut. Ia melangkah mendekat, dan aku semakin mundur.
Ya Tuhan, Mereka bukan manusia! Aku benar-benar takut sekarang, apakah mereka akan melukaiku?! Seseorang tolonglah aku!
oOo
AUTHOR POV
Bugh ... bugh. . ..
Pria itu terus melemparkan bogem mentahnya tanpa henti. Ia sama sekali tak perduli dengan seorang pria yang telah meminta ampun sedari tadi. Ia terus memukuli pria malang itutanpa ampun. "Sehun! Stop! Hentikan!" Hingga sebuah teriakan membuatnya berhenti. Ia mengusap kepalan tangannya yang sedikit memerah.
Kemudian ia menatap pengawal yang ia pukuli tadi dengan geram. "Kau! Jangan lari dariku!" ancamnya. Ia menoleh ke arah pengawal lain yang tampak ketakutan. "Bakar dia!"
"Tu-tuan am-pun, Tuan ... ja-jangan-" pria itu menunduk ketakutan. "Cepat bawa dia!" bentaknya menggema. Para pengawal di sampingnya dengan terpaksa segera membawa pria itu. "Sejun ..." panggil seseorang. "Dia mengetahuinya, rencanaku gagal." Desah pria yang disebut namanya itu.
"Tidak! rencanamu tidak akan gagal." Wanita separuh baya di sampingnya menggeleng. Dengan tenangnya ia duduk diikuti oleh Sehun. Wanita separuh baya itu menyesap cairan merah di tangannya dengan santai. Sejenak ia memejamkan matanya, meresapi betapa nikmatnya cairan itu, pemberi kehidupan dan kekuatan bagi dirinya.
"Dia telah mengetahuinya Bu-"
"Berapa pengawal yang kau bunuh hari ini?" Wanita itu mengalihkan pembicaraan. "Sepuluh." Sehun bergumam setengah menggeram. "Kenapa mereka?" Wanita itu kembali menyesap minumannya.
"Mereka menatap Jongin dengan lapar. Mereka juga telah memilikki rencana untuk mengambil darahnya." Jelas Sehun dengan mata yang menerawang. "Apa Ibu tau mereka juga menyembunyikan harum Jongin dariku?"
"Maksudmu?"
"Mereka dengan sengaja mengalihkan penciumanku. Mereka memberiku darah manusia yang telah di campur air suci."
"Ada baiknya kau mengganti pengawal untuk Jongin- maksudku-harum Jongin berbeda, mereka pasti menginginkannya. Kecuali, jika kau melakukannya pada Jongin. Dia akan memilikki harum yang sama dengan tubuhmu." Wanita itu menghela nafas, "Dan kau, hanya kau yang dapat mencium baunya." Wanita itu mengakhiri ucapannya dengan tegas.
"Kau memang mencium harum di tubuh Jongin, tapi kau tak akan berani seujung jari-pun untuk menyakitinya," tambah wanita itu lagi. "Apa dia sama seperti Kai?" Sehun menggumamkan nama itu dengan sedih. "Bagaimana perasaanmu terhadapnya Sehun?" Wanita itu tak menjawab, melainkan balik mempertanyakan.
"A-aku ... aku sangat menyayanginya."
oOo
JONGIN POV
Aku terbangun ketika mendengar suara keributan. Mataku mengerjap beberapa kali untuk memperjelas penglihatan. Objek pertama yang kutangkap adalah sinar matahari yang begitu menyilaukan. Sinar matahari?! Aku segera bangkit. Kakiku hendak melangkah keluar. Pasti badainya telah berhenti pikirku.
Tapi, tunggu dulu! Aku menatap sekelilingku. Ingatanku kembali berputar pada kejadian itu, kejadian dimana aku bertemu dengan seorang pria tampan bernama Sehun, kemudian melihatnya meminum cairan... Mataku mengerjap. Di mana aku sekarang?! Aku menatap sekelilingku dengan berhati-hati. Aku ada di kamarnya.
Kulirik pakaianku yang telah berganti, lagi! Siapa yang mengganti pakaianku? Aku mengusap wajahku dengan kasar. Ya Tuhan ... aku ingin pulang. Aku tak ingin mati sia-sia di sini, disantap oleh para makhluk penghisap darah itu. Aku terduduk lemas di pinggiran ranjang. Bibirku terkatup rapat. Rasanya tanganku mulai kembali terbanjiri oleh keringat dingin.
Apakah aku akan mati kehabisan darah di sini? Tiba-tiba ketika aku tengah menunduk menatap kedua kakiku, pintu terbuka. Aku mengalihkan pandanganku ke arah sana. Seorang wanita separuh baya tampak tersenyum ke arahku. Aku menatapnya dengan takut. "Waktunya makan siang, Nona ... " ujarnya seraya menyimpan nampan di atas nakas.
"Kau siapa?"
"Aku Shinhye, kepala pelayan di rumah ini. Tuan Sehun memerintahkanku untuk membawakan makan siang untukmu." Jelasnya dengan ramah. Sehun? "Di mana Sehun?!" Ujarku tak sabaran. "Beliau sedang berada-"
"Aku ingin pulang, keluarkan aku dari sini, kumohon ... " bisikku pilu. "Maaf, Nona-"
"Apa kalian akan menyantapku hidup-hidup? Kumohon ... jangan." Shinhye hanya mengulum senyum, "Makanlah, Nona. Tuan Sehun akan marah padaku jika kau tak menghabiskan makananmu. Beberapa menit lagi dia akan ke sini." Ia menjauh begitu saja. Aku melangkah menuju pintu.
Kutarik handle pintu dengan kuat, namun alhasil aku malah terjengkang ke belakang. Aku kembali terduduk lemas di atas ranjang seraya menangis pelan. Aku ingin pulang ... Ya Tuhan ... "Kenapa kau tidak memakan makananmu, Jongin?" Suara bariton yang memanggil namaku membuatku menoleh. Seketika aku terkejut.
Di lukisan besar, tampak Sehun muncul dari sana. Dengan jubah panjang yang ia kenakan, ia melangkah santai di atas ranjang menuju ke arahku. Aku menatapnya dengan takut-takut. Ia tampak begitu menyeramkan dengan mata merahnya yang menyala dan Gigi taringnya yang tampak mencuat keluar.
"Makan, Jongin ... habiskan!" tegasnya. "Aku ingin pulang ... " ujarku dengan bergetar. Sehun menghela napas. Ia memejamkan matanya. Aku masih setia menatapnya tanpa berniat mengalihkan pandanganku darinya. Perlahan, mata merahnya berubah menjadi warna mata cokelat keemasan, kemudian gigi taringnya menghilang begitu saja.
"Kau tak boleh pergi."
"Kenapa?!" Aku membentaknya dengan suara bergetar, "Aku ingin pulang ... aku tak ingin mati sia-sia di sini." Sehun terkekeh, "Aku tidak akan menyakitimu, sayang... " Pria itu mengusap wajahku dengan pelan. Tangannya terasa begitu hangat. Aku memejamkan mataku ketakutan, "Ja-jangan sentuh aku!"
Ia menangkup wajahku dengan kasar, "Tatap aku, Jongin!" Aku memejamkan mataku. Tak sedikitpun kubuka mataku untuk menatapnya. Ia tampak menggeram. Lalu selanjutnya kurasakan bibirnya menyentuh bibirku. Mataku membelalak, aku memberontak memukul dadanya dengan pelan.
Ia melepaskan ciumannya, "Bagus." Sehun tersenyum miring, "tatap aku, sayang.. " bisiknya lembut. Aku menatapnya dengan nanar, "Kumohon.. jangan sakiti aku.." bisikku seraya terisak pelan. "Hei ... aku tidak akan menyakitimu."
"Hiks... " Aku kembali memejamkan mataku, "Biarkan aku pergi ... " lirihku. "Tidak!" Ia menggeram. "Aku ingin pulang ... aku akan mengganti apapun yang pernah kugunakan. Aku janji, aku akan membayar." Ujarku. Ia tampak menyeringai, "sayangnya, bukan itu yang aku mau." Tatapannya berubah menjadi tajam, "Sekarang makan."
Aku menggeleng, "Aku ingin pulang!"
"Kau ingin pulang? Silahkan kalau begitu, kupastikan kau akan kembali ke sini." Sehun melempar kunci mobil milikku. Kunci yang tak utuh lagi melainkan kunci mobilku yang telah patah. Aku melempar kunci mobil itu ke arahnya, namun kunci mobil itu sama sekali tak ia tangkap.
Kunci mobil itu mengambang tepat di depan wajahnya, beberapa detik kemudian kunci mobil itu berubah menjadi abu. Mataku membelalak. Sehun melangkah mendekat ke arahku. Aku terus memundurkan langkahku hingga aku terjatuh ke atas ranjang. Ia menatapku dengan senyum sinis yang terukir di bibirnya.
Aku terus mundur hingga terpojok di kepala ranjang. "Menjauh!" ujarku dengan suara bergetar karena takut. Ia mencekal pergelangan tanganku. Sebelah tangannya meraih sesuatu dari dalam sakunya. Aku hanya dapat memejamkan mataku ketakutan. Beberapa detik kemudian aku membuka mata ketika merasakan sesuatu melingkar di tanganku.
Sehun mengikat kedua tanganku dengan sebuah dasi berwarna hitam. Ia mengikat tanganku tepat di kepala ranjang. "Kumohon ... ja-jangan ..." lirihku pilu. "Diam ..." bisiknya tepat di telingaku. Aku hanya memejamkan mataku, pasrah dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Ucapan dan umpatan dengan kata-kata kotor yang biasa kugunakan untuk mengusir para pria brengsek yang menggangguku hilang begitu saja. Aku sama sekali tak melawan ketika Sehun membuka ikatan piyamaku. Bahkan ketika ia menciumku, aku hanya pasrah. Sebenarnya apa yang terjadi dalam diriku?
Aku seperti orang bodoh yang hanya pasrah ketika Dracula tampan itu melakukan hal tak senonoh padaku. Aku seperti merasakan sesuatu yang tak asing ketika ia menjalankan jari-jarinya di sekitar tubuhku. Dan ketika aku merasakan sesuatu yang membuatku melayang, semuanya terasa tak asing bagiku.
To be continued...
