~.~ .~.~ ~.~ .~.~ ~.~ .~.~ ~.~ .~.~

Boy Meets Boy

( SasuNaru Version )

~.~ .~.~ ~.~ .~.~ ~.~ .~.~ ~.~ .~.~


Tittle: Boy Meets Boy (SasuNaru Version)

Author : Shirayuki Sakuya (Yuuya)

Pairing : SasuNaru

Rating : K+ or T ya??!

Genre : Romance

Language : Indonesian

WARNING : YAOI, BOY X BOY, SHOUNEN AI

DO NOT READ IF YOU'RE YAOI HATER OR ANTI FUJOSHI !!!

Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei Do Own Sasuke to Naruto, Boy Meets Boy from A Kim Jho Gwangsoon Film XD

A/N : Yuuya mengambil cerita ini dari Movie Korea yang berjudul Boy Meets Boy, silahkan cari di Youtube. Mungkin hampir sama ceritanya, tapi pengin bikin SasuNaru Version'nya aja, hohoho ^.^v

Movie yang sangat singkat (Singkat karena hanya terdiri dari 2 part, durasinya juga kurang lebih 14-15 menit doank) dan tanpa dialog sama sekali. Dan meskipun Genrenya Boys Love, namun inti ceritanya bener-bener membekas di hati Yuuya -halah-

*Orang yang pernah Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama Nyaaaa~*

( Beware : Kalo liat Movie-nya Hati-hati terhadap penampakan Cupid GaJe yang tiba-tiba muncul, xixixixi XP )

Sa~ Dozo Yoroshiku Onegaishimasu…


Ketika kau menemukan Cinta pada Pandangan Pertama

Tanpa ada kata-kata yang terucap dan kau hanya bisa merasakannya saja


Sasuke POV

Hari itu aku melihatnya. Setelah sekian lama aku mencarinya, akhirnya aku bertemu juga dengannya. Dia tampak menekuni buku pelajarannya, namun tak berapa lama dia tampak cemberut dan dengan kesal memasukkan buku pelajaran itu kedalam tasnya.

Ck, Lucu sekali.

Aku sengaja berdiri di bus dalam perjalanan sekolah pagi ini, selain karena sudah tak ada bangku yang tersisa juga karena dengan begini, aku bisa lebih leluasa melihatnya.

Yaaah, pemuda berambut pirang dan bermata langit di sana itu. Entah dia sadar atau tidak namun sejak memasuki bus ini, aku terus mencuri pandang kearahnya.

Dia itu adalah Uzumaki Naruto, seorang pemuda yang setingkat denganku. Walaupun sekolah kami berbeda, namun dengan mudah aku mendapatkan sedikit Info mengenainya. Lagipula hanya ada satu orang di sekolah itu yang memiliki warna langit di matanya, selain itu dengan tiga pasang luka aneh di masing-masing pipinya, dia mudah sekali untuk di kenali.

Tanpa ku sadari, disetiap kesempatan aku melihatnya. Aku selalu memperhatikan pemuda itu.

Uuuuwwwaaaaahhh! Aku seperti penguntit saja !!! O.O "

Sebenarnya... aku ingin menyapanya, berbicara atau setidaknya aku hanya ingin mengembalikan sesuatu miliknya. Namun aku masih saja mengurungkan niatku itu.

Entah keajaiban atau bukan, tiba-tiba sebuah rol film terjatuh tepat di bawah kakiku. Benar-benar kejadian yang mirip sekali seperti waktu itu, jadi aku yakin rol film inipun juga miliknya.

Saat itu aku melihat kearahnya dan dia pun menatap kearahku.

TA-THUMP !!!

Entah kenapa jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat mata cantiknya yang sedikit melebar itu.

Dia cepat-cepat mengalihkan pandangannya, entahlah… sepertinya dia agak takut. Apa mungkin dia mengenaliku ya?

Aku segera memungut rol film itu. Dan ternyata dia juga hendak beranjak dari tempat duduknya namun segera di urungkannya ketika -lagi-lagi- pandangan kami bertemu.

Aku terus memperhatikannya ketika dia kembali memalingkan pandangannya, dia tampak salah tingkah. Namun pada akhirnya dia menghampiriku juga.

Seperti gerakan slow motion di film-film aku terus menatapnya ketika semakin lama dia semakin mendekat kearahku.

Setelah tepat dia berada di hadapanku, aku segera menyerahkan rol film miliknya dan tanpa sengaja tangan kami bersentuhan. Ada desir halus yang merambat ketubuhku, kulit tangan yang begitu kontras dengan warna kulitku itu tak kusangka begitu hangat dan lembut. Entah kenapa aku ingin menyentuhnya lagi.

Dia hendak kembali ke bangkunya namun ternyata sudah ada seorang wanita yang menduduki bangku itu. Dia akhirnya berdiri karena memang sudah tak ada lagi bangku di kosong, aku bisa merasakan dia berdiri di dekatku dan lagi-lagi pandangan kami bertemu.

Mata biru yang indah itu sedikit melebar, membuatku tenggelam ke dalamnya hingga -hampir saja- aku tak mampu melepaskan pandanganku darinya, namun dengan segera aku berpaling dan berusaha menyembunyikan mukaku yang sudah terasa panas.

Uuggghhh!

Kalau dari dekat begini dia benar-benar terlihat muuuaaaannniiiissss!!! ///

Bus kemudian berhenti di tempat pemberhentian ini. Pemuda yang bernama Naruto itu bergegas turun. Memang seharusnya aku turun di pemberhentian berikutnya, namun entah kenapa aku…

Aku malah mengikutinya lagi. T.T

Di sepanjang trotoar ini aku berjalan mengikutinya dari belakang, berusaha menyamakan kecepatan langkahnya. Terkadang dia berjalan sangat cepat bahkan terkadang lambat, apa dia sedang mempermainkanku karena tahu kalau aku mengikutinya ya?

Rasanya aku harus mengambil jalan pintas, kalau begini jangan-jangan nanti dia salah paham dan mengira aku ini orang jahat yang mau mengincarnya…

Tanpa disadarinya aku sudah taklagi mengikutinya.

Aku melihat dia berpaling ke belakang, sebersit kekecewaan tampak di raut mukanya.

Tunggu!!! Kecewa???

Apa dia berharap aku masih ada di sana dan mengikutinya?

Kali ini dia melangkah dengan gontai, hingga tak memperhatikan kalau kini aku telah berada di hadapannya. Alhasil dia menubrukku dan hampir saja terjatuh. Mata cantiknya terbelalak lebar ketika melihatku.

Lama kami hanya saling bertatapan saja. Hingga akhirnya kuberanikan diriku untuk menghampirinya.

Kuambil sesuatu dari dalam saku celanaku, perlahan mendekatinya dan kuserahkan benda yang selama ini aku simpan hingga datangnya waktu seperti sekarang ini. Semula dia terkejut dan menatapku tak percaya dan dengan ragu-ragu dia menerima benda itu.

Kamera itu…

Adalah awal pertemuanku dengannya.


FLASHBACK

Saat itu aku dan beberapa orang temanku tengah membolos dan nongkrong di salah satu sudut gang yang sepi ketika dia tiba-tiba muncul, waktu itu juga tempat rol film miliknya terjatuh tepat di gerombolan kami.

Jujur saja aku sempat terpana melihat sosok itu. Hampir saja kalimat itu keluar dari mulutku.

'Apa kau ini… Malaikat?'

Hehehe… bagaimana aku tidak berpikir konyol seperti itu ?!! Jarang sekali aku melihat rambut pirang yang terang sepertinya, apalagi warna biru di kedua matanya itu. Jernih. Seperti langit tanpa awan.

Dia benar-benar menjadi sasaran empuk teman-temanku saat mencoba meminta rol film itu kembali. Aku sendiri tak bisa berbuat apa-apa melihat dia dikerjai, namun aku sedikit lega karena teman-temanku tidak sampai berbuat terlalu jauh. Tubuhnya tersungkur ketika Suigetsu mendorongnya keras, namun saat kami lengah dia memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri. Semua barang-barang yang di bawanya jatuh berserakan di tanah, termasuk sebuah kamera yang menarik perhatianku dan pada akhirnya aku pungut.

Kami mengejarnya, namun ternyata larinya kencang juga. Kami melihat dia berhenti di seberang jalan sana, tak mungkin kami mendekatinya karena banyak orang di sana dan itu bisa menjadi masalah buat kami.

Aku memandangnya dan dia juga menatapku, atau lebih tepatnya menatap benda yang kini berada di tanganku. Kameranya.

Mungkinkah ini benda yang berharga baginya?

Walaupun jauh, aku bisa melihat raut kesedihan dari wajahnya.

Dan sejak itulah aku berniat untuk mengembalikan kamera ini bila suatu saat nanti… Takdir mempertemukan kami kembali.(*)

END FLASHBACK


Aku masih memandang mata biru itu, menunggu reaksinya ketika kamera itu telah berhasil ku kembalikan padanya. Namun dia hanya menunduk dan tak berbicara apa-apa. Aku juga sepertinya kehilangan kata-kata. Padahal aku juga ingin mengucapkan kata maaf padanya. Namun lidah ini rasanya kelu untuk digerakan.

Uuughhh! Ya ampun, Sasuke… kau ini bodoh!

Aku jadi mengutuk diriku sendiri.

Saat itulah aku memutuskan untuk pergi, mungkin dia masih marah padaku karena dulu sempat aku membiarkannya di kerjai teman-temanku.

Aku segera melangkah pergi meninggalkannya, sesekali aku menengok ke belakang berharap dia akan mengucapkan sesuatu atau apalah…

Namun sepertinya itu hanya harapan kosong saja. Kali ini dengan langkah gontai aku pergi dari hadapannya.

Apa… akan berakhir seperti ini saja ya?

Sejak aku melihatnya, aku tak berhasil menyingkirkannya dari benakku.

Sekarang kamera itu telah ku serahkan lagi padanya.

Apakah kini, aku tak memiliki alasan untuk bertemu dengannya lagi?

Aku ingin melihatnya.

Ingin terus berada di sisinya.

Ingin menatap jernihnya langit di matanya itu.

Aku ingin…

Tak berapa lama aku mendengar derap langkah menghampiriku, semakin cepat, dan semakin mendekat.

Aku tersenyum dalam hati. Entah kenapa aku yakin itu suara langkahnya.

Aku segera membalikkan tubuhku dan hampir saja jantungku berhenti karena syok. Bagaimana tidak, dia tiba-tiba berlari dan langsung menghambur kearahku. Memelukku begitu erat hingga aku nafasku tercekat.

Namun tak ku lepaskan dia, aku balas memeluknya. Mendekapnya erat ke dadaku.

"Hn," itulah yang aku katakan ketika pemuda bermata biru ini membisikkan 'Arigato' padaku.

Bisa aku rasakan dia tersenyum. Dan akupun tak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum.

Akhirnya…

Aku bisa begitu dekat denganmu...

.

.

.

.

.

END


(*) Jah~ Sasuke! Bicaramu sudah seperti Neji saja =.="

Saa~ Minna-san! Gimana menurut kalian Sasuke POV di Fic ini??!!

R&R Please XDD