MASASHI KISHIMOTO


"P-permisi, a-aku ingin b-bertanya, d-dimana toilet nya?"

Hinata berusaha menahan pipis nya sat bertanya dengan pemuda bertubuh tambun yang berada didekatnya.

.

.

.

That's Devil But I Love Him

.

.

"kau mencari toilet?" dengan nada bicara kurang jelas karena sedang menguyah keripik singkong, Chouji terus memperhatikan Hinata yang terus bergerak-gerak seperti cacing kepanasan.

"A-aku mencari t-toilet, b-bisa tunjukkan dimana tempatnya?"

"Disana" Chouji menunjuk sebuah pintu besar berwarna hitam. Setelah mengucapkan terimakasih, Hinata langsung berlari ke arah pintu yang dimaksud. Didepan pintu tersebut, banyak sekali gadis-gadis sexy yang berdiri, mereka menggoda pemuda-pemuda hidung belang yang menginginkan sentuhan. Hinata sedikit memandang jijik ke arah gadis-gadis itu, bisa-bisa nya mereka menjual tubuh hanya untuk mencari uang padahal masih banyak cara lain untuk mendapatkan uang didunia ini- itulah yang dipikirkan Hinata. Dengan mempercepat langkah melewati koridor panjang yang hanya diterangi cahaya lampu remang-remang, akhirnya Hinata dapat menemuka toilet. Senyuman lebar terlihat jelas dibibirnya, penderitaan nya menahan pipis sudah berakhir.

.

.

That's Devil But I Love Him

.

.

"Ino, dimana Hinata?" Sakura mulai panik saat menyadari Hinata tidak lagi bersamanya.

"Apa mungkin dia sudah pulang duluan?" Ino pun tak kalah paniknya. Jika sesuatu hal buruk terjadi pada Hinata, maka Ino dan Sakura akan menjadi sasaran murka dari Neji.

"Aku tidak bisa menghubungi ponselnya, sepertinya ponselnya mati" Sakura memandang cemas ke arah layar ponsel merah muda miliknya.

"Apa kita pulang saja? Mungkin Hinata sudah benar-benar pulang"

.

.

That's Devil But I Love Him

.

.

"Ahhh~ leganya" senyum sumringah kembali terpampang jelas dari wajah manis Hinata. Dia segera bergegas keluar dari bangunan yang sepertinya adalah club malam. Tidak masalah kan masuk ke dalam club malam hanya untuk menumpang buang air kecil?

Hinata mendekati kerumunan yang dia yakini ada Sakuran Ino disana. Kaki kecilnya berusaha berjinjit untuk berusaha melihat Sakuran Ini, sesekali bahkan dia melompat-lompat kecil. Hinata mulai mencari keberadaan Sakura dan Ino, tapi tidak kunjung menemukannya. Hinata mulai takut, apalagi jika melihat keadaan sekitar yang semakin menggila, ditambah dengan Hinata yang tidak terlalu hapal jalan pulang dari tempat ini karena baru pertama kali dia kesini. Hinata menggigiti bibir bawahnya, keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya, dia berdiri dengan gemetar, diremasnya ujung jaket yang dia gunakan.

'Tin Tin Tin!'

Suara klakson mobil membuat Hinata menjadi kaget dan takut. Bukannya menghindar dan menepi ke pinggir, Hinata justru semakin gemetaran berdiri didepan mobil Ascari A10 tersebut.

"Apa kau tuli hah?! Enyahlah dari sana!" Sasuke mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil untuk meneriaki gadis yang menghalangi jalannya. Karena Hinata tak kunjung bergerak, dengan menahan geram amarah Sasuke langsung keluar dari mobil mewahnya dan langsung menyeret kasar lengan Hinata untuk menyingkir dari jalan tempat mobilnya akan lewat.

"S-sakit, l-lepaskan" Hinata meringis saat lengannya dicengkram kuat.

"Gadis tuli! Aku menyuruhmu untuk menyingkir dari jalanku, kenapa kau masih diam saja? Mau mati heh?!" Sasuke sedikit membentak gadis yang ada dihadapannya ini. Hinata hanya terus menunduk, dia tidak berani memandang balik pria yang terus-terusan memarahi nya.

"Hey aku bicara padamu!" Sasuke benar-benar kesal. Sasuke paling tidak suka diabaikan saat dia sedang berbicara. Dengan cepat Sasuke langsung meraih dagu Hinata agar gadis itu mau menatapnya. Saat Sasuke ingin kembali membentakknya, Sasuke urungkan niatnya itu, dia melihat ada airmata di pipi gadis bersurai biru tua dihadapannya.

"Kenapa kau menangis heh?" Sasuke menjauhkan tangannya dari dagu Hinata.

"A-aku t-tidak tahu a-arah jalan p-pulang" Hinata menangis sesenggukan, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan putihnya. Sasuke menyerengit, kenapa dia bisa datang kemari tapi tidak bisa pulang dari sini- Sasuke memikirkan hal itu.

"Lalu kenapa kau bisa sampai kesini?" Sasuke terus memandang ke arah Hinata yang terus menunduk dan menutupi wajahnya.

"A-aku pergi b-bersama kedua t-temanku, saat a-aku pergi ke t-toilet dan k-kembali lagi, k-kedua temanku s-sudah tidak a-ada" tangisan Hinata semakin menjadi dan Sasuke semakin heran. Baru pertama kalinya Sasuke bertemu dengan gadis cengeng seperti dia.

"A-apa kau m-mau mengantarkanku p-pulang?" Hinata membernaikan diri untuk menatap ke arah pria dihadapannya, dan ternyata Hinata baru sadar kalau sedari tadi dirinya tengah berbicara dengan seorang Uchiha Sasuke. Seketika wajahnya menjadi merah padam.

"Aku? Mengantarkan gadis tuli sepertimu? Cih, jangan harap!" Sasuke memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana denim yang dia kenakan, dia langsung menatap tajam ke arah Hinata. Hinata yang ditatap seperti itu langsung ciut, dia kembali menundukkan dalam-dalam kepalanya. Tanpa pamit, Sasuke langsung pergi meninggalkan Hinata yang masih berdiri mematung. Sasuke membuka pintu mabolnya lalu segera duduk, dia menoleh ke arah Hinata yang masih tetap tidak berkutik.'
Ck, dasar gadis aneh' pikir Sasuke, dia langsung menyalakan mesin mobil dan langsung menancap gas.

Hinata kembali memperhatikan keadaan sekitar, mata amethyst nya menangkap sosok pemuda yang telah membantunya menemukan toilet tadi. Tanpa harus berpikir seribu kali, Hinata kembali mendekatinya.

"P-permisi" dengan gugup Hinata berusaha memanggil pria yang Hinata tidak tahu siapa namanya.

"Kau kan gadis toilet tadi, apa masih belum menemukannya? Apa perlu ku antar?" Chouji tersenyum lebar. Hinata sedikit terkekeh pelan saat disebut 'Gadis Toilet'.

"A-aku sudah menemukan toiletnya, dan s-sekarang aku bingun m-mencari jalan pulang. Apa k-kau mau mengantarkanku?" Hinata sedikit gugup, seharusnya dia tidak meminta pertolongan pada pria yang baru saja dia temui. Tapi apa boleh buat, toh Chouji juga telah membantunya tadi.

"Oh begitu~ dengan se-..."

"Kau akan ku antar pulang!" belum sempat Chouji menyelesaikan kata-katanya, Sasuke langsung memotong pembicaraan Chouji. Tangannya kembali menyeret lengan Hinata, tapi tidak sekasar seperti yang pertama tadi. Hinata terperangah, ini untuk yang kedua kalinya dia diseret paksa oleh Sasuke.

"L-lepaskan aku!" Hinata berusaha melepaskan diri dari Sasuke, tapi tetap tidak direspon oleh Sasuke. Pemuda Uchiha itu terus menyeret Hinata menuju mobilnya.

"K-kenapa kau kembali? B-bukannya kau tidak m-mau mengantarkanku?"

"Aku terus memikirkanmu disepanjang perjalanan. Kau itu masih polos, kalau nanti kau diperkosa oleh sekelompok pria bagaimana?" Sasuke menjawab dengan ketus.

"K-kau m-mengkhawatirkanku?" Hinata sedikit terperangah mendengar jawaban Sasuke, perlahan rona merah mulai merambat ke pipi putih chubby nya.

"Cih, jangan berpikir seperti itu! Aku terus memikirkanmu karena aku takut tempat trek balapanku akan masuk koran dan media pemberitaan lainnya karena seorang gadis yang diperkosa secara bergilir, lalu polisi akan mengetahui lokasi kesenangan kami. Aku tidak ingin tempat ku bersenang-senang menjadi ditutup hanya karena gadis polos dan tuli seperti mu" jelas Sasuke. Kini wajah Hinata semakin memerah, bukan karena rona malu tapi karena dia marah mendengar semua penjelasan Sasuke.

"masuk!" Sasuke memberi perintah agar Hinata langsung masuk kedalam mobilnya, dengan tatapan merengut Hinata langsung masuk ke dalam mobil Sasuke. mata bulannya memandang kagum interior dalam mobil Sasuke, semua nya begitu mewah dan berkelas.

"Jangan sentuh apapun!" Sasuke memperingatkan gadis disampingnya ini saat melihat tangan gadis itu mulai merayap untuk menyentuh isi dalam mobilnya.

"K-kenapa? A-aku hanya ingin p-pegang sebentar saja" Hinata benar-benar jengkel. Ternyata seorang Uchiha Sasuke itu adalah pemuda yang menyebalkan.

"Itu mahal! Aku tidak ingin barang-barang mahal milikku disentuh oleh gadis tuli sepertimu" Sasuke mulai menyalakan mesin mobilnya, suara derungan mesin yang halus terdengar begitu indah ditelingan Hinata. Dia terus memperhatikan bagian dalam mobil Sasuke.

"Pakai sabuk pengamanmu!" perintah Sasuke, Hinata langsung menurut, karena memakai sabuk pengaman itu memang diwajibkan. Tapi Hinata heran, kenapa Sasuke sendiri tidak memakai sabuk pengaman.

"K-kenapa kau s-sendiri tidak m-memakainya?"

"Aku itu seorang driver, jadi tidak membutuhkan perlindungan semacam itu"

"A-aku kira k-kau tidak mengerti cara memakainya" dengan polosnya Honata berkata seperti itu, dan langsung menerima tatapan deathglare dari Sasuke.

"J-jangan menatapku seperti itu" reflek tangan Hinata langsung menepuk pelan pipi Sasuke.

"Kenapa kau memukulku hah?!" Sasuke menggeram, berani-berani nya gadis ini memukul pipi mulus Sasuke.

"M-maaf, maafkan aku. A-aku terbiasa m-menepuk pipi temanku j-jika dia m-memandangku dengan t-tatapan aneh" Hinata langsung mengelus pipi Sasuke yang telah dia pukul tadi, dan itu membuat Sasuke tercengang,

'Deg'

Jantung Uchiha bungsu itu mulai berdetak dengan cepat, dia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya, sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

"Singkirkan tanganmu gadis tuli!" ditepis dengan kasar tangan mungil Hinata. Hinata sedikit memasang wajah kesalnya saat tangannya ditepis, dengan pelan dia mengusap punggung tangannya yang terasa sakit.

Sasuke mulai menjalankan mobil ASCARI A10 miliknya, Hinata juga duduk dengan tenang seraya memandang ke luar jendela.

"Sebutkan dimana alamatnya" kata Sasuke dingin, pandangannya tetap lurus ke depan tanpa menoleh ke samping. Setelah Hinata menyebutkan alamat lengkap rumah Sakura, Sasuke mengangguk mengerti. Sasuke menambahkan kecepatan mobilnya, bahkan Sasuke sama sekali tidak menginjak pedal rem saat banyak mobil-mobil lain yang berlalu lalang. Hinata mulai merasa jantungan, dia berpegangan erat pada bagian atas mobil, dia benar-benar takut.

"A-apa kau gila? ini terlalu cepat" Hinata mengeluh pelan, dia sangat takut jika Sasuke tidak sengaja akan menabrak mobil lain.

"kau bergurau? menurutku ini sangat lamban" mata Hinata sontak membelalak mendengar jawaban gila dari Sasuke.

"A-aku takut U-Uchiha-san"

"Bagaimana kau bisa tahu namaku?" Sasuke semakin menambah kecepatan mobilnya, dia melirik sepintas ke aarh spidometer, seringai tipis kembali muncul.

"A-aku tahu namamu kare-.."

"Kau tidak perlu menjawab, bodohnya aku menanyakan hal itu. Aku ini kan Uchiha Sasuke, aku sudah sangat terkenal dikalangan para gadis" Sasuke langsung memotong pembicaraan Hinata dengan kata-kata narsisnya, dan langsung ditatap dengan tatapan datar oleh Hinata.

"N-namaku Hyuuga Hinata, k-kau bisa memanggilku Hinata" Hinata mengulurkan satu tangannya ke arah Sasuke, tapi tidak direspon sama sekali oleh Sasuke.

"Menyebalkan" Hinata menggerutu, dia kembali menarik tangannya dan kembali berpegangan.

"Sudah sampai"

Hinata sedikit kaget saat Sasuke mengatakan itu.

"C-cepat sekali" Hinata bergumam.

"Tentu saja, karena ini adalah mobil mahal. Gadis payah seperti mu mungkin baru pertama kali naik mobil yang seperti ini" Sasuke berkata dengan nada yang terdengar seperti merendahkan ditelinga Hinata. Tapi Hinata menghiraukannya, lagipula ada benarnya juga perkataan Sasuke.

"T-terimakasih Uchiha-san k-karena telah mengantarkanku" Hinata tersenyum, pipi chubby nya yang terlihat naik semakin menambah kesan manis gadis Hyuuga itu.

"Terimakasih saja? Ck, itu mana cukup" Sasuke menyeringai, sepintas Sasuke melihat sabuk pengaman yang masih menempel ditubuh Hinata. Hinata yang melihat menyeringai pun mulai bergidik ngeri, dia menaruh kedua tangannya didepan dada bidang Sasuke yang semakin merapat ke tubuh mungilnya.

"M-menjauhlah U-Uchiha-san, a-aku harus s-segera turun" rona merah kembali menjalar ke seluruh wajahnya.

"Kalau ku perhatikan dengan baik, kau manis juga" bisik Sasuke tepat ditelinga kanan Hinata, bulu roma Hinata pun langsung berdiri.

"U-Uchiha-san"

"Panggil aku 'Sasuke-kun'"

Kedua mata saling bertatap pandang, kedua jantung saling berdetak cepat, rona merah juga menempati wajah keduanya hanya saja terlihat samar diwajah Sasuke. Wajah mereka yang hanya berjarak 1cm membuat keduanya dapat merasakan hembusan napas masing-masing. Hinata menggigit bibir bawahnya, dia benar-benar gugup. Sedangkan Sasuke yang melihat Hinata menggigiti bibir bawahnya sendiri membuat Uchiha itu menelan ludah, menurut Sasuke, gadis itu sedang menggodanya.

"U-Uchiha-san a-aku ha-..."

Mata bulan Hinata membulat lebar ketika Sasuke menempelkan bibirnya pada bibir Hinata. Mata onyx Sasuke terpejam, bibirnya menekan lembut bibir mungil Hinata, kepala Sasuke juga sedikit dimiringkan kekanan. Hinata dapat merasakan jantungnya memompa cepat aliran darah ke setiap tubuhnya, otaknya masih berusaha mencerna apa yang Sasuke lakukan padanya.

"Aku sudah bilang padamu, panggil aku 'Sasuke-kun'. Ck, dasar gadis tuli! Sudah cepat sana turun dari mobilku!" dengan tampang tidak bersalah, Sasuke langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Hinata yang sudah merah keseluruhan.

"Aku bilang cepat turun!" tangan Sasuke juga langsung melepaskan sabuk pengaman yang Hinata kenakan. Karena Hinata masih shock dengan peristiwa barusan, dia masih diam. Kaki putihnya menuruni mobil dengan gemetar. Mobil berwarna gold itu langsung kembali melesat pergi meninggalkan seorang gadis lugu yang masih diam karena itu adalah ciuman pertamanya. Sedangkan Sasuke, dia menyeringai melihat tingkah Hinata, dia cukup puas karena telah mengerjainya.

"Gadis aneh~ kalau tidak salah namanya Hinata ya? Hyuuga Hinata. Aku akan mengingatnya dengan baik" gumam Sasuke.

.

.

That's Devil But I Love Him

.

.

Sudah dua hari semenjak insiden ciuman pertamanya dicuri oleh Sasuke membuat Hinata selalu tampak kesal jika mengingat hal itu. Hinata sudah membulatkan tekadnya untuk tidak lagi menonton balap liar tidak berguna seperti kemarin, dia tetap tidak akan mau menonton walau Sakura dan Ino terus memaksanya.

"Ayolah Hinata~" Sakura terus merengek agar Hinata mau ikut.

"Jangan seperti itu, kami tidak akan meninggalkanmu lagi seperti kemarin" Ino juga terus merengek dan bergelayut pada tangan Hinata.

"Tidak!" Hinata menggelengkan kepalanya.

"Bukan tentang masalah kalian meninggalkanku, pokoknya aku tetap tidak mau" lanjutnya dengan penuh keyakinan. Sakuran dan Ino saling beradu pandang, lalu mereka beruda menunduk dengan lemas. Sebenarnya Hinata juga tidak tega melihat kedua sahabatnya. Tapi apa boleh buat, Hinata juga tidak mau untuk bertemu Sasuke lagi.

.

.

That's Devil But I Love Him

.

.

"Bagaimana? sudah dapatkan informasi?" tanya Sasuke pada Kiba yang terus mencari sesuatu didalam laptop.

"Hyuuga Hinata; siswi kelas 2SMA di Konoha High School, dia tinggal bersama seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan" jelas Kiba setelah mencari semalaman penuh informasi tentang Hinata, itu juga karena paksaan dari Sasuke.

"Hanya itu?" Sasuke mengangkat salah satu alisnya.

"Iya hanya itu! Sudahlah Sasuke jangan suruh aku mencari tahu hal yang tidak berguna untuk balapan kita. Sudahlah, aku mau tidur" dengan mulut yang menguap lebar, Kiba bergegas pergi meninggalkan Sasuke.

"Aku menemukanmu" seringai iblis nampak jelas dibibir Sasuke. Sudah dua malam Sasuke selalu mencari dikerumunan trek balapnya, tapi Sasuke tidak pernah melihat Hinata lagi. Ya Sasuke sedikit berpikir mungkin Hinata tidak mau kesana lagi karena takut tidak menemukan jalan pulang seperti kemarin.

"Oi Teme! jangan buat gadis murahan itu menunggu terlalu lama, dia sudah siap dikamarmu" seru Naruto.

"Hn" Sasuke berlenggang pergi menuju sebuah kamar yang didalam nya sudah terdapat seorang perempuan bayaran yang Sasuke sewa untuk melayaninya.

Itulah Sasuke, dia tidak berminat untuk menjalin hubungan dengan wanita manapun. Karena Sasuke berpikir, setiap wanita yang mendekatinya hanya karena ingin mendapatkan uang dari pria kaya raya seperti dirinya. Jadi Sasuke lebih milih untuk meniduri mereka, setelah itu Sasuke akan membayar wanita-wanita murahan tersebut dengan harga mahal. Tapi mereka tetap saja murahan dimata Sasuke seberapa mahal pun harga mereka.

.

.

That's Devil But I Love Him

.

.

"Hahhhh~ melelahkan sekali" Hinata menyeka cucuran keringat yang terus menetes dari pelipisnya, baju saragam putihnya juga menjadi lepek akibat keringat. Hinata baru saja mendapat hukuman dari Kurenai-Sensei karena dia terlambat datang ke sekolah, Hinata diperintahkan untuk membersihkan ruangan perpustakaan yang luasnya cukup besar. Tapi sedikitpun Hinata tidak menolak untuk melakukan hukuman tersebut, karena Hinata begitu menyukai buku jadi menurutnya tidak masalah jika harus membersihkan perpustakaan.

Saat Hinata ingin melangkah keluar gedung sekolah, langkah terhenti ketika melihat kerumunan siswi sekolahnya yang entah mereka melihat apa. Hinata juga dapat mendengar sekilas para siswi sekolahnya terus-terusan memuji seseorang yang sepertinya menjadi magnet bagi gadis-gadis itu. Hinata berusaha mengabaikan tapi dia benar-benar penasaran, bahkan Hinata melihat ada Sakura yang ikut-ikutan. Dengan melompat-lompat setinggi mungkin, Hinata ingin melihat dan ternyata...

"U-Uchiha-san"

"Disitu kau rupanya" Sasuke langsung keluar dari kerumunan dan menyeret lengan Hinata untuk masuk kedalam mobilnya. Sontak semua siswi yang melihat hal itu pun terkejut, termasuk Sakura.

"L-lepaskan a-aku Uchiha-san" Hinata berpegangan pada tangan Sakura, dia tidak mau masuk ke dalam mobil sport Sasuke lagi, dia sudah cukup trauma atas kejadian kemarin.

"Keh dasar gadis tuli! Sudah ayo ikut aku" Sasuke melepaskan genggaman Hinata yang semakin menguat pada tangan Sakura, Sakura sendiri hanya melongo melihat hal tersebut.

"S-Sasuke-kun, a-aku bisa p-pulang sendiri. K-kali ini a-aku tahu jalan pulang nya" Hinata terus meronta tapi tidak digubris oleh Sasuke. Dengan hati dongkol, Hinata terpaksa duduk didalam mobil Koeniggsegg Agera R milik Sasuke.

"Pakai sabuk pengamanmu" kata Sasuke dengan nada dingin, mata onyx nya melirik ke arah Hinata yang terus menunduk. Sasuke menghela napas, dia benar-benar bingung menghadapi Hinata. Disaat semua gadis ingin diajak naik mobil bersamanya, justru Hinata malah menolak mentah-mentah itu semua.

"Kalau kau tidak mau pakai, jangan salahkan aku jika tubuhmu terguncang" Sasuke menyalakan mesin mobilnya, dengan gerakan cepat pun Hinata langsung memasang sabuk pengaman ditubuhnya.

"K-kau akan langsung mengantarkanku bukan? Alamat rumah ku di ja-.."

"Kata siapa aku akan mengantarkanmu pulang?" Sasuke menyeringai, Hinata yang melihat jelas bentuk seringai iblis itu langsung mengalihkan pandangan ke luar jendela.

'Sasuke menyeramkan jika seperti itu' pikirnya.

.

.

That's Devil But I Love Him

.

.

Selama diperjalanan, Hinata terus-terusan banyak bicara. Hinata bertanya banyak hal tentang jenis-jenis mobil yang bisa digunakan sebagai ajang balap. Sasuke sendiri hanya menjawab dengan kalimat seperlunya. Mobil Koeniggsegg Agera R yang dikendarai Sasuke memasuki garasi besar Devil Drift.

"I-ini tempat apa?" Hinata kembali bingung dengan tempat baru yang pertama kali dia datangi.

"Ini adalah rumahku Hinata, dan selamat datang diduniaku" Sasuke mengedipkan sebelah matanya ke arah Hinata. Hinata yang melihatnya langsung menelan ludahnya dengan susah.

'S-Sasuke t-tampan sekali j-jika seperti itu' batinnya, wajahnya pun ikut memerah.

"Ayo cepat turun" pintu mobil terbuka otomatis, Hinata dan Sasuke segera turun. Lagi-lagi Hinata berdecak kagum dengan segala kehidupan Sasuke.

Garasi Devil Drift, garasi 2 lantai dengan lebar sangat luas yang didalamnya dipenuhi puluhan supercar dengan harga selangit. Sasuke tidak menggunakan semua supercar nya untuk mengaspal di trek balap, sebagiannya akan dikoleksi didalam garasinya. Sasuke menilai, supercar adalah bak karya seni dari sang maestro otomotif yang diproduksi dalam jumlah terbatas didunia, dan sudah menjadi kebanggaan bagi Sasuke karena mampu menyanggupi maharnya. Sasuke begitu senang mengoleksi ataupun mengendarai roda empat bermesin jet tersebut, itu adalah hobinya- hobi seorang pemuda yang kaya raya.

Mata kelamnya melirik ke arah Hinata yang terus berkeliling garasinya, gadis itu tampak sangat kagum melihat semua mobil milik Sasuke.

"Kau terkejut?" tanya Sasuke seraya menghampiri Hinata.

"A-apa ini semua milikmu?" tangan mungil Hinata mulai merayap menyentuh bagian body mobil berwarna putih.

"Itu namanya McLaren F1, diproduksi tahun 1995 dengan jumlah terbatas, bermesin V12 dengan kapasitas 6,0 liter, mobil ini juga memiliki tenaga hingga 627 horse power. Ingin tahu berapa harganya?" Sasuke menjelaskan profil salah satu supercar kesayangannya. mendengar pertanyaan Sasuke, Hinata langsung menggeleng dengan cepat. Hinata tidak mau jatuh pingsan hanya karena mendengar harga sebuah mobil. Sasuke terkekeh pelan, manik onyx nya terus memperhatikan Hinata yang masih asyik berkeliling.

"Sudah cukup untuk mengagumi, ayo ikut" Sasuke menyematkan jemari besarnya pada jari kecil Hinata, menggandeng Hinata untuk masuk kedalam ruangan pribadinya.

"A-ada kamar juga disini?" Hinata melihat ranjang ukuran besar, lemari yang sangat lebar, sofa panjang berwarna hitam, televisi 50inch, dan sebuah kulkas besar didalam ruangan dilantai 2 garasi.

"Ini kamarku" Sasuke membaringkan tubuhnya disofa, merenggangkan ikatan dasi sekolah lalu membuka cardigan seragamnya.

"K-kau tidur disini? Apa k-kau tidak punya rumah?"

"Tentu saja punya, hanya saja aku lebih nyaman disini" mata onyx nya terpejam.

Hinata duduk ditepi ranjang milik Sasuke, matanya terus memperhatikan sekelilingnya, kamar Sasuke sangat besar, ini adalah ukuran 2x dari kamarnya. Saat dia melihat sepintas ke sofa, Hinata tidak menemukan Sasuke disana.

'T-tadi kan Sasuke sedang berbaring disana'.

.

.

.

.

TBC

Review kalian adalah penyemangatku^^

Adegan hentai nya disimpan untuk chap 3 :D