Disclaimer : Cast milik Tuhan. Saya hanya meminjam nama tanpa berniat mengambil keuntungan apapun.

Cast :

-Kim Jongin

-Do Kyungsoo

Genre : Romance & Humor for this chapter

Warning : Anggap saja dalam ff ini di Korea hubungan sesama jenis sudah menjadi hal lumrah :'v/? Typo(s), YAOI, Boys Love.

Kim Jongin 24 tahun

Do Kyungsoo 22 tahun

.

Happy reading!

.

•Just Married•

.

Chapter 2: Cemburu

.

.

Semenjak kuliah jika ditanya siapa yang paling cemburuan, jawabannya sama saja. Kyungsoo yang selalu cemberut dan mengamuk saat ada cewek yang cari perhatian pada Jongin pacarnya. Padahal lelaki berkulit tan itu mah cuek saja dan Jongin yang hobbynya mengunci Kyungsoo dimanapun ia berada.

Terkadang Jika Jongin cemburu pada sikat gigi yang menyodok-nyodok mulut namja imutnya. ia akan mengunci Kyungsoo dikamar mandi sambil memainkan lampu lalu menakuti si pendek dengan Drakula botak di kartun Spongebob. Jika Jongin cemburu pada teflon yang selalu Kyungsoo perhatikan didapur. Ia akan membakar semua benda didapur dan menjadi amat menyesal keesokan harinya karena tidak dapat makan tanpa adanya mereka. Jika Jongin cemburu pada apapun dikamar mereka, ia akan mengunci Kyungsoo dikamar sambil minta ehem sampai pagi. Memang pada dasarnya Kyungsoo punya bibit masokis (kata Baekhyun sahabat Kyungsoo di kampus) dia mah senang-senang aja kalau Jongin berulah.

Minggu pagi di Seoul begitu cerah. Kim Jongin pria tampan yang sudah gak bujangan lagi, masih tepar diatas kasur besarnya. Meraba-raba sisi kosong yang biasa diisi oleh pemuda bahenol, berharap ada tubuh mungil hangat yang dapat ia peluk, kini sirna. Kosong! Kyungsoonya sudah bangun. Didalam kepalanya inner Jongin berteriak tidak rela.

"Sayang! Kyungsoo! Do-eh Kim Kyungsoo!" teriak Jongin membayangkan si mungil akan menghampirinya lalu memberikan ciuman mesra panas dan bergelora berakhir uhuk diranjang. Ehhe

"Kenapa kamu nyengir?" Sebuah suara yang paling indah baginya, membuyarkan hayalan tidak senonohnya.

"Kamu mengagetkanku saja Kyung" Gumam Jongin memakai selimut. Berniat bobo tampan lagi. Istrinya pasti tak tahan melihat wajah (sok)polosnya ketika tidur. Jongin menghitung mundur dalam hati. Kyungsoo pasti naik lagi kekasur memeluknya dari belakang, lalu ia akan jual mahal sedikit sebelum memeluk balik pujaan hatinya itu, mula-mula mereka akan berciuman lalu-

"Hyung aku tahu isi kepala kotormu itu" Dengan tidak berprikesuamian Kyungsoo menggeplak kepala Jongin sambil meleos jutek, membuka gorden kamar mereka. sukses manghancurkan pagi indah khayalan Jongin yang hot dan romantis.

Suaminya mendelik, sebelum sempat -tiba terdengar suara gaduh diluar kamar.

"Permisi, ini ditaruh dimana?" Tanya seorang pria entah siapa.

Tidak sadar suaranya memancing singa hitam yang baru bangun tidur. 'APA! BERANI SEKALI KYUNGSOO MEMASUKAN LELAKI LAIN KEDALAM RUMAH' pikir Jongin lebay. Aku akan mencunci Kyungsoo didalam hatiku selamanya. Ehhe. Jongin nyengir lagi.

"Iya tunggu sebentar"

Jongin tidak akan membiarkan siapapun! lelaki diluar sana itu memandang Kyungsoonya apalagi menyetuh-nyentuh Bahkan menghirup udara yang sama dengan Kyungsoo, ia tidak akan rela. Sehun dengan senang hati pasti mau membantu menyembunyikan mayat jika tidak mau kehilangan pendonor bubblete terbesar. Haha dengan kecepatan cahaya dia mengejar Kyungsoo keluar melihat siapa yang berani bertamu pagi-pagi.

Tanpa memperdulikan penampilannya saat ini Jongin tergopoh-gopoh (sebelumnya ia masih dililit selimut) menyusul istrinya ke tempat suara gaduh itu berasal. Disana ia dapat melihat sebuah mesin cuci baru dan seorang pria yang mengobrol dengan Kyungsoo. Masalahnya adalah jarak diantara mereka terlampau dekat. Dan senyum kurir itu yang terlalu manis.

"EHEM OHOKOHOKK" Jongin terbatuk seraya memandang kurir itu dengan tampang segalak mungkin.

"Sayang aku bilang kan jangan suka minum air es saat malam." nasehat Kyungsoo tanpa memandang Jongin. Masih fokus pada mesin cucinya. sementara si kurir hanya tersenyum singkat.

"Kamu gak bilang-bilang sama aku kalau memesan mesin cuci baru" Karena kesal diabaikan, tanpa sadar nada suara Jongin pada Kyungsoo menjadi sinis, hal yang tidak pernah ia lakukan bahkan selama dua tahun mereka berpacaran.

Sementara Kyungsoo yang mood paginya sedang bagus tidak mempersalahkan nada suara Jongin, mesin cucinya datang lebih awal. Yes.

"Mesin cuci kita sepertinya rusak hyung, jadi aku memesan ini."

Permasalahannya bukan karna uang tapi, kurir yang menatap istrinya sok kecakepan. "Arraseo" jawab Jongin jutek.

"Oh ya, nama kamu siapa? Terimakasih sudah mengantarnya lebih awal" Kyungsoo tersenyum ramah. Namun bagi Jongin senyum itu hanya boleh dimilikinya, kurir itu tak pantas.

Kedua mata Jongin yang tajam melirik kurir itu, berharap dia mengerti bahwa Jongin gerah. Ingin menyingkirkannya.

"Namaku Insung" sahutnya sopan.

Dia tak peka rupanya, batin Jongin berniat mengambil pisu kedapur. Tetapi sebelum ada pembunuhan Kyungsoo yang kegenitan menghentikan langkah Jongin. Ia shock ketika kedua matanya menangkap sang Istrinya berdiri mendekati Insung hampir saja menyender pada punggung si kurir. "Kamu tinggi sekali" Kyungsoo memuji polos, memandingkan tubuhnya dengan Insung. Dia memang gampang kagum pada semua hal. Tapi tidak pada pria lain selain dirinya. Jongin tidak bisa tinggal diam.

"Mangkanya tumbuh tuh ke atas jangan ke samping" Jongin kebawa iklan rupanya. Ia mengambil air putih, cemburu membuatnya haus.

"Aishh Hyuung~" protes Kyungsoo manja. Kalau saja dia sedang tidak kesal pada istrinya pasti Jongin akan mencubit dan memakan kedua pipi gemuk lelaki bermata belo itu. Sayangnya dia gengsi dong.

"Insung-ssi ayo kemari aku akan menunjukan tempatnya"

PFFFTHHHHHHH

Air yang sedang Jongin teguk terdesak keluar. Panas pada tenggorokannya tak sebanding dengan panas dalam dadanya.

Kyungsoo kalau bicara suka ambigu. Bikin orang salah paham saja.

"Kemana! kalian mau kemana?!" tanya Jongin galak, dengan mata melotot. Ia meletakkan gelas bekas minum dengan kasar di atas meja.

Kyungsoo mendelik. "Tempat untuk mesin cuci lah hyung. Memang kau kira apa"

"Sudah sudah. Letakan saja disitu" perintah Jongin ngebos mengibaskan lengannya pada Insung.

"Memangnya nanti kamu bisa memindahkannya sendiri?" Kyungsoo mengangkat alis ragu.

"Tentu, kau tidak lihat otot-ototku?" Jongin pamer hampir membuka baju. Umpung Kyungsoo cepat tanggap dengan segera menyikut suaminya yang hitam itu.

"Ih" Kyungsoo mulai risih. "Awas ya minta bantuan aku" ancamnya bete. Memindahkan barang berat seperti itu kan memang tugas kurir. Kenapa harus Jongin yang repot-repot memindahkan sendiri, kan berat. Nanti Jongin capek. Kyungsoo tidak suka.

"Iyaiya," tanpa berfikir panjang Jongin setuju. "Sudah pergi sana" usirnya sinis pada Insung yang masih betah menontonnya dan Kyungsoo. Memangnya mereka sedang berdrama?

"Ah baiklah" Insung tersadar dari kelancangannya. "Kalau begitu tuan, boleh saya meminta nomor telpon anda?" tanya kurir itu pada Kyungsoo. Karena diantara pasangan Kim. Lelaki bermata bulat itu terlihat paling ramah. "Jika nanti ada masalah dengan mesin cucinya. Anda bisa segera menghubungi saya"

Jongin menganga tak percaya. Be-berani sekali! Tubuhnya bergetar bagaikan gunung berapi yang siap meletuskan larva kapan saja. Sementara itu si mungil yang pada dasarnya polos dan tak peka. Langsung merogoh celana Pendeknya mencari keberadaan ponselnya. "Tentu saja Insung-ssi" sahut Kyungsoo ceria, tak menyadari raut murka sosok gelap dibelakangnya.

"0101561000" dalam satu tarikan nafas Jongin menyebutkan nomor ponsel satpam komplek dengan backsoud suara Kyungsoo yang memprotes.

"Itu bukan nomorku!" pekik Kyungsoo bingung dan heran. Jongin sih cuek saja. Dia menutup mulut Kyungsoo gemas kemudian memberikan serangan ciuman pada kedua pipi istrinya.

Insung melongo. Tak mengerti mengapa ia berada disitusi seperti ini. "Jika sudah selesai" ia sedikit berdehem agar pasangan keluarga Kim yang sedang asik mesra-mesraan mengalihkan perhatian padanya. "Saya pamit" lanjut Insung seraya membungkuk sopan.

Kyungsoo balas membungkuk, disampingnya Jongin hanya mengangguk sedikit lega kurir yang lumayan good-looking itu pergi juga, lenyap sudah saingannya. Kini Perhatian Kyungsoo hanya akan tertuju padanya seorang.

Selepas kepergian sang kurir pengacau pagi indah Kim Jongin. Kediaman Kim kini ramai oleh suara benda yang diseret paksa.

"Sudah ku bilang biarkan Insung yang membawa itu!" Kyungsoo memekik bagai nyonya besar. "Mesin cuciku tergores kan!" protesnya tak rela ketika menyadari mesin cuci baru beli sudah cacat saja.

"Ini semua gara-gara kamu!" Jongin tak terima, suruh siapa pagi-pagi bikin jealous?

"Kok aku?" tanya Kyungsoo sambil cemberut.

"Sudahlah" Pria berkulit tan menyerah sambil mengatur napas. Berat juga itu mesin cuci. "Kamu mana pernah mengerti perasaanku" sambungnya mendramatisir.

"Aku ngerti kok!" Kyungsoo tidak mau kalah walau sebenarnya belum sepenuhnya paham maksud suaminya.

"Apa coba?"

"Kamu minta jatah kan?" tebak Kyungsoo asal-asalan membuat Jongin melongo, tak habis pikir dengan jalan pikir istrinya. Walau dalam hati Jongin mengiyakan.

"Kurang tepat" Jongin geleng kepala.

Tak menyerah, Kyungsoo berfikir keras. "Apa ya" gumamnya imut.

Beberapa menit berlalu dan Kim Jongin masih setia, sabar menunggu. Tanpa sadar mimiknya tertekuk kesal.

"Kalau wajah mu seperti itu, pasti lagi cemburu kan hyung?" Kyungsoo meledeknya. Tetapi Jongin tidak bisa marah apalagi melihat senyum menggemaskan dan kedua mata besar Kyungsoo. Rasa kesal dan jengkelnya menguap entah kemana berganti dengan hangat yang menjalari dadanya.

"Kamu senang?!" tanya Jongin tak percaya. Dia sudah mengambil kuda-kuda, siap memberikan serangan kelitikan pada Kyungsoo.

Kyungsoo tertawa berlari menuju kamar mereka "Iya dong, berarti kamu masih sayang aku" serunya. Bersusah payah menyelamatkan diri dari beruangnya tersayang.

"Aish jangan lari kamu" gemas Jongin berusaha menangkap tubuh mungil Kyungsoo yang lincah bagai belut.

"Cemburunya lihat kondisi dong! Kan Insung tidak bermaksud menggoda ku" Kyungsoo melempar bantal pada Jongin kesal, sehingga Jongin terkapar dikarpet.

"Ah beruangku!" segera Kyungsoo menyelamatkan Jongin yang terlihat terbujur kaku. "Hei kau hyung!" panggilnya seraya menepuk pipi Jongin lumayan keras membuat suaminya merintih nyeri. Tapi Jongin tidak mau membuka mata juga, padahal hanya ditimpuk bantal bukan lemari.

"Hyuuung" rengek Kyungsoo. Apa dia keterlaluan menyakiti hati dan fisik Jongin? Batin si pendek bertanya-tanya.

Tanpa disadari Kyungsoo, dibawahnya Jongin mengintip dari balik bulu mata. "Kena kau!" teriak Jongin girang. Menarik Kyungsoo menjatuhkan tubuh si belo ke sampingnya. Secepat kilat Jongin menindih Kyungsoo memastikan agar istrinya itu tidak bisa kabur begitu saja.

"Aaaaaa hyung lepas!" wajah Kyungsoo merah bagaikan tomat. Sesak karena ditindih tubuh Jongin yang sebesar beruang ditambah malu dengan posisi mereka yang cukup intim.

Cup

Cup

Jongin mencium bibir berbentuk hati itu terus menerus tak memperdulikan sang empu yang melotot padanya.

"Jongi"-cup

"Hentika"-cup

"Yaak!" emosi. Kyungsoo menoyor kepala Jongin.

"Jangan berdekatan dengan orang lain, aku tidak suka" perintah Jongin mutlak seraya menjauhkan tubuhnya dari atas Kyungsoo. Ia membantu Kyungsoo duduk kemudian memangku tubuh mungil istrinya itu.

"Itu namanya sosialisasi." Kyungsoo sok tahu. Menyenderkan kepalanya pada pundak Jongin yang lebar.

"Terserah, kamu cukup bersosialisasi denganku" putus Jongin egois, bibirnya tak henti menciumi perpotongan leher Kyungsoo membuat si mungil terkekeh kegelian.

"Baiklah" Kyungsoo memang anak penurut. Ia pun menyadari, tak bisa hidup tanpa lelaki yang sedang memangkunya ini. Jongin memberikan segalanya. Tanpa Kyungsoo pinta, materi yang sangat cukup. Cinta, kasih sayang. Kehangatan rumah tangga. "Kenapa memangnya kamu kok cemburuan sekali?" tanya Kyungsoo iseng.

"Aku takut, kamu berpaling pada orang lain. Tak bisa ku bayangkan kalau kamu pergi Kyungsoo" ungkap Jongin serius membingkai wajah Kyungsoo. Merasakan betapa lembutnya kulit pipi Kyungsoo ditelapak tangannya.

"Apa kamu akan mati berdiri?" Kyungsoo bercanda, tertawa membayangkannya.

Tawa lelaki bersurai hitam itu terdengar merdu ditelinga Jongin. Ia rela membayar berapapun dengan nyawa sekalipun, agar tawa itu selalu ada di hari-harinya.

"Mungkin lebih dari itu." bisik Jongin serius. Mengusap pipi tembem Kyungsoo dengan kedua ibu jarinya. "Kamu tidak tahu, begitu berharga kamu untukku Kyungsoo-ya."

"Lebih berharga dari monggu?" tanya Kyungsoo polos membuat Jongin terkekeh geli.

"Ya berkali-kali lipat dari semua anjingku"

Kening mereka bersentuhan. Kedua mata Kyungsoo menutup merasakan hangat napas Jongin menerpa hidungnya. Perlahan namun pasti bibir lembabnya menempel sempurna dengan bibir milik Jongin.

Mereka saling merasakan, membagi kasih sayang lewat ciuman.

Benang saliva terlihat ketika Jongin menjauhkan wajahnya sedikit. Ia tersenyum begitu menyadari wajah Kyungsoo merona hingga ketelinga karena ulahnya. Ia kembali mencium Kyungsoo. Sedikit memberikan gigitan gemas.

"Berjanjilah padaku" kata Jongin dengan bibir yang masih menempel pada bibir Kyungsoo. "Kamu tak'kan pernah meninggalkanku."

Kyungsoo membuka mata, menatap kedua onyx Jongin dengan pandangan berkabut.

"Aku berjanji" jawabnya pelan, memeluk leher Jongin manja. Kembali membiarkan suaminya itu menciumnya dan membawa tubuhnya ke kasur mereka.

End for this chapter

.

.

Coming soon.

Chapter 3: Orang Ketiga

"Pilih saja kebahagiaanmu, aku atau dia."

Stay tune.

.

(A/N)

Halo~ apa kabar ^o^

Akhirnya aku bisa kembali aktif di dunia ffn ini.

Adakah yang menantikan kelanjutan fanfic-fanficku? Kalau ada aku akan menyelesaikannya secepat mungkin. Hiat!

Aku mengucapkan terimakasih pada teman-teman yang sudah fav/follow/ripiu chap1. Senang sekali XD

Ayo riview lagi, aku ingin tau pendapat kalian tentang Ff abal ku ini.

Oke cukup sekian dari ku. Nantikan kisah rumah tangga Kaisoo selanjutnya nya~ dadah :3/

Shinkyu