Disclaimer: I do not own Inuyasha nor Haikyuu!

Chapter 2 – Tetsuro Kuroo.

Pairing: Kagome/Kuroo.

Prompt: Ways to show love.


Tes mengerikan yang berpengaruh besar pada hasil penilaian akhir tahunnya baru saja lewat. Seharusnya Kagome dapat menghela napas lega, tapi kenyataannya nilai buruk pelajaran matematika tahun lalu yang berwarna suram seakan terus mengambang di atas kepalanya. Bila tidak karena bunyi memalukan yang berasal dari perutnya, sudah pasti ia tak menemui ketiga temannya di kantin dan memilih 'tuk menghabiskan waktu istirahatnya dengan menempelkan pipi di atas meja.

Mengapa Kagome tidak membawa bekal seperti biasanya? Ada cerita tersendiri dibalik alasan yang ia miliki.

Dengan enggan, ia mengangkat bokong dan berjalan dengan langkah terseret menuju kantin sekolah. Saat ia melewati pintu kelas III-5_kelas yang bersebelahan dengan kelasnya_ia sempat tertelan oleh segerombolan siswi perempuan yang baru saja keluar dari ruangan itu, sebagian besar dari mereka menggumamkan kekecewaaan. Bila dilihat sekilas, tak ada wajah yang ia kenali dari gerombolan itu, dan bila dicermati dari penampilan mereka, Kagome dapat menebak bahwa kelompok itu adalah adik kelasnya.

Kumpulan fangirls seperti itu sebenarnya bukanlah hal baru, semenjak Tim Voli mereka berhasil mewakili Tokyo di Kejuaraan Nasional, Kagome sering melihat keberadaan mereka di sekeliling sang Kapten Tim Voli, Tetsuro. Pertandingan-pertandingan besar Nekoma disiarkan langsung di beberapa stasiun TV, sejak saat itu, ketenaran Kapten mereka hampir dapat disejajarkan dengan ketenaran Oikawa dari Aoba Johsai dan Ushijima dari Akademi Shiratorizawa. Bahkan, tanpa sengaja ia pernah mendengar bahwa ada beberapa siswi baru yang memilih Nekoma sebagai tempat mengenyam pendidikan hanya agar bisa bertatap muka setiap hari dengan Kuroo. Sejujurnya, Kagome tak terganggu dengan pilihan beberapa orang memilih idola. Akan tetapi, kapten voli yang terkenal sebagai ahli provokasi itu sendirilah yang memaksanya untuk peduli.

Bila ia masih memiliki tenaga lebih, Kagome pasti terkesiap ketika Tetsuro tiba-tiba muncul saat ia berbelok untuk menuruni tangga. Dengan penuh percaya diri, pria itu menyapanya, "Hei, Gome-chan!"

Reaksi spontan Kagome saat pria itu menghadang jalannya adalah sebuah geraman. Dengan menumpukan tubuh pada satu kaki dan melipat kedua tangan di dada, Kagome menatap pria yang jauh lebih tinggi darinya itu.

Untuk sesaat, Kuroo melirik Kenma yang sibuk memainkan game-nya. "Sepertinya kau tidak terlalu senang bertemu denganku dan Kenma?" Tanya laki-laki itu dengan nada meledek.

Kagome menata pria jangkung itu tanpa ekspresi berarti. Pada saat kuota 'keriangannya' berada di level terendah seperti waktu itu, ia telah menarik perhatian laki-laki pengganggu menyebalkan yang terakhir ingin ditemuinya di hari itu. 'Hebat, sangat hebat!' Benaknya berbisik sinis. Dengan wajah datar dan suara tanpa emosi, ia menjawab, "aku senang bertemu dengan Kenma, tapi tidak denganmu. Permisi, aku mau lewat."

"Apa itu karena kau terlalu mencintaiku?"

Kagome memutar bola mata sambil tertawa garing. "Yang benar saja."

"Oya, oya, oya, kau menyakiti hatiku, Gome-chan." Setelah menyelesaikan satu kalimat tanpa kesungguhan, Kuroo menggeser satu langkah ke samping, memberikan ruang untuk Kagome. Ketika kedua tangan Kagome kembali ke sisi tubuhnya dan ia hendak melangkah, Kuroo menangkap lengan kiri gadis bermahkota hitam kelam itu.

Sorot tajam Kagome berpindah-pindah, dari tangan kekar yang mencengkram erat pergelangan tangannya ke wajah pria itu selama beberapa kali sebelum ia terus menatap kedua mata pria itu dan berkata ketus, "Aku? Menyakiti hatimu? Mengapa? Apa karena aku tidak tergabung dalam fansclub yang memuja permainan dan ketampananmu, Kuroo-senpai?" Intonasi Kagome saat melafalkan nama panggilan untuk Kuroo adalah resmi sebuah ledekan.

Senyum sinis yang menjadi ciri Kuroo mulai menipis, kedua alisnya terpaut di tengah, ia mendecak karena jengah.

"Jangan main-main denganku. Sekarang, lepaskan aku." Perintah Kagome dengan nada halus namun terkesan berbahaya.

Suara Kuroo mulai terdengar serius. "Seperti inikah caramu menarik perhatian?"

Dengan raut wajah yang berpura-pura bingung, Kagome menyahut, "Benarkah? Yang kulihat sekarang adalah kau yang haus akan perhatian. Apakah perhatian yang diberi oleh gerombolan penggemarmu itu kurang sehingga kau memintanya dariku?"

Tanpa menarik pandangan dari layar, Kenma berkata dengan nada monoton. "Kurasa kalian berdua sudah berhasil menarik perhatian di sekitar sini."

Dengan itu, atensi keduanya terlepas dari satu sama lain sebelum memindai sekitar dengan sudut mata. Beberapa murid yang sejak tadi menyaksikan drama yang Kuroo dan Kagome pertunjukkan segera membuang muka dan memilih untuk berfokus pada hal lain.

Menyadari bahwa Kenma benar, Kuroo melepaskan Kagome lalu mundur selangkah. Seringaian licik milik Kuroo kembali terukir di wajah maskulinnya. Di detik yang sama, Kagome menyadari bahwa ada sesuatu yang laki-laki itu rencanakan. Dan itu tidak selalu berakhir dengan baik.

Dan, firasat gadis itu terbukti benar. Akan tetapi ia terlambat bereaksi, karena dalam satu tarikan napas ia tak lagi menjejak tanah dan di hembusan berikutnya ia sudah berada di lantai yang berbeda.

Gencatan yang dilakukan Kuroo hanyalah ancang-ancang sebelum ia melakukan manuver selanjutnya. Dalam hitungan mikrodetik, ia berjongkok, melingkarkan lengan kanannya di paha bagian belakang gadis itu, melingkarkan lengan kirinya di pinggang Kagome dan menggendong gadis itu di bahu kanannya. Beberapa anak tangga ia tanjak dalam satu langkah, dalam sekejap, ia sudah menghilang dari tempatnya berdiri dan sudah menuju lantai teratas gedung. Selain Kenma, tak ada yang menyadari apa yang baru saja terjadi dan ke mana perginya Kagome dan Tetsuro.

Kuroo menurunkan Kagome tanpa memberikan kesempatan gadis itu untuk bergerak, laki-laki berambut jabrik itu segera memerangkap gadis itu dengan tubuhnya. Kapten Klub Voli itu menunduk untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Kagome, dengan suara yang dalam, ia bertutur, "Kau cemburu, lalu menjauhiku."

Di tengah adrenalin yang meningkat oleh pertengkaran mereka sebelumnya, Kagome dapat merasakan sapuan napas hangat Kuroo di pipinya. Tak mau tertular arus hasrat yang menguar, ia berkata dengan mantap, "benar aku menjauhimu, tapi kau salah untuk hal yang pertama."

"Tidak perlu malu untuk mengakuinya karena mendengar itu hanya akan membuatku tersanjung, dan kau pun-"

Belum sempat Kuroo mengakhiri kalimatnya, Kagome sudah memotong. "Tidak. Aku tidak cemburu!" Sangkalnya.

"Seharusnya kau mendengarkan-"

"Aku tidak ma- mmph," kalimat Kagome pun tak terselesaikan kala Kuroo sudah membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman yang jauh dari kata lembut. Dengan kedua tangan dan sekuat tenaga yang dimiliki, Kagome mendorong dada remaja pria itu. Meski percuma, ia tak berhenti berusaha hingga pada akhirnya ciuman itu terputus ketika ia berhasil memalingkan wajah.

"Dengarkan aku!" Perintah Kuroo. Kagome masih tak mau memandang laki-laki itu. Dengan satu tangannya, Kuroo menggenggam kedua pergelangan tangan Kagome, sedangkan yang lainnya menangkup rahang dan memaksa gadis itu untuk menatap matanya. "Kau harus belajar untuk tidak memotong pembicaraan lawan bicaramu, apalagi bila lawan bicaramu itu adalah laki-laki yang sudah dua tahun menjadi pacarmu."

Tak mau tunduk begitu saja, Kagome terus mencoba untuk melepaskan diri. Namun, pergulatannya terjeda tatkala laki-laki itu melanjutkan. "Sekarang, biarkan aku menyelesaikan kalimatku minggu lalu." Setelah satu tarikan napas, Kuro melinsankan isi kepalanya, "bento yang mereka berikan memang jauh lebih baik."

"Mereka, para penggemarmu," cibir Kagome dengan intonasi suara yang menunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan, sangat jauh bertentangan dengan pernyataan gadis itu sebelumnya.

'Dia cemburu!' Untuk tiga detik lamanya, seringai lebar penuh kepuasan tertarik di satu sisi wajah Tetsuro sebelum kembali ke ekspresi netralnya. "Tapi bila harus memilih, sudah pasti aku lebih memilih tamagoyaki gosong buatanmu."

Kejengkelan Kagome belum sepenuhnya sirna, tapi pergulatannya berakhir saat itu juga.

Di waktu yang sama, Kuroo melepaskan cengkramannya dan mengambil jarak dari gadis itu.

Mereka saling pandang untuk beberapa waktu lamanya dalam kesenyapan.

Dengan tingginya yang hanya seratus enam puluh sentimeter, Kagome harus menengadah saat menatap sang kekasih yang memiliki tinggi seratus delapan puluh tujuh sentimeter. Ia membuka mulut, tapi tak ada satu pun kata yang keluar. Makna kalimat yang baru saja meluncur dari mulut laki-laki yang kini menguasai hatinya itu begitu sukar dipercaya.

Di lain pihak, Tetsuro mengerti, ada rasa bersalah, dan cinta di sorot mata gadis itu saat menatapnya lekat-lekat. Pria yang menempati posisi sebagai middle blocker itu sudah bersiap-siap dengan sebuah pelukan erat, ciuman penuh hasrat yang akan diakhir dengan sebuah kecupan singkat, dan mengkhayalkan satu malam panas khusus bersama Kagome sebagai pelepas penat atas persiapan ujian akhir yang kian dekat.

Semua imajinasi indah yang tersusun di benak remaja laki-laki itu sontak berhamburan ketika sang kekasih malah berkacak pinggang dan berkata dengan ketus, "Tidak bisakah kau meminta maaf dengan cara wajar?" Kagome menghela napas berat lalu berbalik badan. Sebelum melangkah pergi, gadis itu meluncurkan empat kata yang mengakhiri perang dingin mereka. "Kali ini aku memaafkanmu."

Kuroo yang terkenal licik dan penuh tipu daya memang terkadang bisa lebih manis dari siapapun yang dikenalnya, tapi entah mengapa, ada sesuatu yang membuatnya berusaha sekuat tenaga untuk menata ekspresi sedatar mungkin dan menahan diri agar tidak lantas menghambur ke dalam dekapan kekasihnya saat itu. 'Setidaknya, tidak siang ini. Mungkin malam nanti.' Pikir Kagome. Senyum yang menghias wajah gadis itu kian melebar ditiap anak tangga yang dijejaknya.

Untuk beberapa rentang waktu, Kuroo yang setengah kebingungan menatap punggung pacarnya menjauh. Baru kali ini ia melihat sisi tegas dan galak Kagome. Perkiraannya akan respon gadis itu setelah mendengar ungkapan hatinya memang meleset jauh, tapi ia yakin, bahwa itu tak berlaku untuk waktu yang lama.

Sama seperti cara kucing menunjukkan rasa cinta kepada pemiliknya dengan cara menggigit lembut atau mencakar barang pribadi sang tuan tersayang, seperti itu pula penjelasan yang ia miliki akan sikap pacarnya. Sikap yang juga menjadi tanda bahwa hubungan mereka telah menanjak ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

Dan sama seperti hewan peliharaan keluarga Higurashi, Kagome suka bermain susah-untuk-didapat. Beberapa skema untuk menundukkan sang pacar pun melintas di kepalanya. Laki-laki itu melipat tangan di atas dada dan dengan penuh percaya diri ia menampilkan seringai licik miliknya.

Oh, betapa ia menantikan waktu khusus berdua mereka kelak.