Stage II

Sweet

Hanbin tengah mengulum lolipop, menghabiskan waktu membosankan yang ada karena guru kimia mereka tidak masuk, saat dirasakannya tatapan tajam seseorang menusuki pelipis kanannya. Dia berbalik, sedikit tersentak karena bertemu tatap langsung dengan mata sipit Bobby yang menatapnya nanar dari kursi tempatnya duduk.

Hanya saja namja itu tidak kunjung berpaling. Hal yang biasanya akan seseorang lakukan saat ketahuan me... ngawasi orang lain? Bobby sepertinya tidak sadar. Dia menatapi lekat... bibirnya.

Oh.

OH.

HA! Not worth it, huh?!

Hanbin masih jengkel akan sikap 'sok' Bobby tiga hari yang lalu. Maka dari itu, dia berbalik, dengan sengaja menjauhkan wajah—terutama bibir, yang tengah mengemuti lolipop—nya dari jangkauan mata Bobby. Orang menyebalkan, sepantasnya hanya menerima bagian belakang kepalanya saja.

'Good luck with your own fantasy, Bobby Kim.'

Dan betapa Hanbin serta tindakannya salah besar.

Dia tidak seharusnya memprovokasi Bobby. Lihatlah apa yang terjadi. Namja itu menyudutkannya di... err, holydamn, INI RUANG LOKER! Apa Bobby gila?! Bagaimana kalau ada yang masuk? Omo, bukankah sebentar lagi kelas mereka akan berolah raga?! Itu berarti...

"B – mnnh... Bobby, tunggu! K – nh, teman-teman sekelas a – ahh... akan me-mergoki ki – aaaaaahhhhh..."

Bobby tidak memberi Hanbin kesempatan untuk menyelesaikan kalimat saat tangan yang sebelumnya hanya mencengkerami keras pinggulnya, jemari menelusup ke dalam pinggang celana seragamnya, sekarang meremas kesejatiannya yang seketika menegang. Hanbin mengutuk tubuhnya yang selalu bereaksi spontan akan sentuhan Bobby. Hal ini pulalah yang menyebabkannya bergelimang dalam kubangan ini sejak awal.

"Mereka tidak akan memergoki kita. Kalau kita melakukannya dengan cepat."

Kalimat terakhir terdengar begitu berat, dipenuhi intrik yang malah semakin membuat Hanbin tidak tenang. Dia tidak pernah bisa mempercayai Bobby. Namja itu bukanlah seseorang yang patut dipercayai. "Bobby, please..."

Sret~

Anehnya, Bobby mendengarkan.

"Okay, okay. I got it."

Hanbin akhirnya bebas berbalik, terbelalak menatap namja tampan di depannya sangsi.

"What?"

Yang ditatapi nanar malah bertanya.

"You said 'okay'?"

"E-heum."

Hanbin memiringkan kepala, bingung. Dia tahu apa itu 'okay', hanya saja, 'okay' tidak pernah terucap dan menjadi kosa kata Bobby saat bersamanya selama ini. Apa... namja itu bersungguh-sungguh? Menurutinya?

"Kkkk, kenapa kau melihatku seperti itu?"

Dan sekarang namja itu terkekeh. Kedua pipi Hanbin dijalari rona hangat begitu saja. Bobby tidak pernah terkekeh. Tidak, di saat mereka tidak tengah bergumul dalam hasrat. Dan jujur saja, Hanbin lebih suka melihat Bobby yang seperti ini. "K-kau bersikap aneh!"

Bobby memutar bola mata, "aku tidak bersikap aneh. Ini adalah aku yang normal," gerutunya sembari berdecak.

"Itulah masalahnya, Bobby! Kau, tidak pernah bersikap normal di depanku." Hanbin menjabarkan kenyataan tersebut sembari tersenyum getir. Bahkan mereka 'berbicara' saja seperti sekarang, terasa asing. Mereka tidak pernah benar-benar berbicara. Everytime Hanbin has seen him, he always a man on the mission. No proper words. No proper talk. It's just loosing the build up tension. "Dan kau ingat apa yang kau katakan saat di kantin waktu itu? Not worth it, huh?!"

One of the best thing that Hanbin so proud of himself? He's holding the grudge so well.

"Hei, kau tahu bagaimana posisiku saat itu. Aku melakukannya untuk membelamu dar—"

"Membelaku?" potong Hanbin geram. Ia bahkan tertawa. Hambar. "Dari siapa? Teman-temanmu sendiri? Wow, Bobby, you're so good at playing a heroes," semburnya sarkastis. Hanbin tidak pernah tahu dari mana dia mendapat keberanian ini. Dia tidak pernah membantah Bobby, apalagi bersikap sarkastis di depannya. Semua terasa asing. Sikapnya. Begitu juga Bobby.

Yang paling menyebalkan, namja yang tegah direnteti pertanyaan, hanya diam di sana, menatap Hanbin tanpa ekspresi. Seolah Hanbin adalah orang gila yang baru saja menyampaikan unek-uneknya yang tiada arti. Yah, mungkin Hanbin memang benar sudah gila.

"You know what? Forget it." Menelan gumpalan tak kasat mata di tenggorokannya, Hanbin melangkah pergi. Berharap Bobby tidak menyadari betapa kaburnya pandangannya saat ini oleh genangan air hangat bening yang menyengat ruang mata.

Grep!

Namun tangan lebar Bobby meraih lengan Hanbin, menyentaknya ke belakang hingga namja bertubuh kurus itu kembali bersandar ke loker, tempatnya semula. "Kau ingin aku bagaimana, Hanbin? KAU INGIN AKU MELAKUKAN APA?!"

Deg.

Bobby membentaknya? Wae? Apakah membicarakan realita betapa brengseknya ia dan teman-temannya begitu menyebalkan? Membuatnya kesal? Marah? Huh, sungguh ironis, karena seseorang yang seharusnya marah di sini adalah dia, Kim Han Bin.

"Aku ingin kau menjauh dariku."

Hanbin mendesiskan kalimat tersebut dengan lantang. Tidak ada keraguan sedikitpun. Peduli setan akan perasaannya yang bertepuk sebelah tangan. Toh, kenyataan tersebut sudah lama terbentang di depannya. Hanbin saja yang terlalu keras kepala, berpikir kalau suatu saat Bobby akan membalas perasaannya yang tulus.

Seharusnya ia membuka mata, melihat kenyataan. Bobby bukanlah seseorang yang akan membalas perasaanmu meski seberapa besarpun kau menunjukkan rasa cintamu padanya. Bobby tidak sebaik itu.

Sret!

Hanbin begitu tenggelam dalam pikirannya hingga tidak menyadari pergerakan Bobby yang meraih tengkuknya, menarik wajah mereka mendekat dan...

DEG!

... menciumnya?

Nafas Hanbin tercekat. Ia terkesiap mendapati kelembutan bibir pink yang selama ini hanya berada dalam angan-angannya, benar-benar mengulum bibirnya. Bobby... benar-benar...

Deg, deg, deg, deg~

... mencium bibirnya?

Benarkah? Bobby tidak pernah menciumnya selama ini. Apakah Hanbin bermimpi? Apa lagi-lagi alam bawah sadarnya memilih imajinasi ketimbang realita?

Ckmph~

Tidak. Suara berkecipak yang menghampiri telinganya dengan nyaring terlalu nyata untuk sebuah imajinasi. Dia tidak sedang bermimpi. Bobby benar-benar menciumnya; lembut namun lapar.

"Mnnh~"

Kedua kaki Hanbin mendadak lemas. Dia mendesah dalam kuluman bibir agresif nan intens milik Bobby. Jantungnya yang berdebar kencang bagai mendukung pikirannya, memberinya semangat untuk membalas pergumulan tersebut dalam intensitas yang sama. He's... lost.

Ckmph~

Bobby melepas pergumulan tersebut perlahan, menarik bibir bawah Hanbin bersama gigi serinya saat menjauh. "I have to denied that, Hanbinie. See you after school. Chu~"

Dia bahkan memberi Hanbin kecupan terakhir sebelum beranjak pergi. Seringai menggoda bermain-main di bibir pink-nya yang basah, membengkak, dan... lecet? Tunggu, apakah Hanbin yang menyebabkan semua itu?

Di pintu keluar ruang loker, Bobby berbalik. Seringai yang sama masih terpasang di wajahnya saat melarikan sisi dalam ibu jari ke bibir bawah, yang sontak membuatnya meringis. "Sssk... you taste like a candy. Sweet~"

Holy...

Blam!

Dan Bobby benar-benar pergi. Menghilang ke balik pintu, meninggalkan Hanbin yang masih melongo takjub di tempatnya. Wajahnya yang tampan bersemu hangat hingga ke ujung telinga. Dan jantungnya,

Deg, deg, deg, deg...

Oh, ada pacuan kuda di sana.

Terkadang, ada saatnya seseorang kalah sebelum berperang.

~~~~~~~\(=^ ᵜ ^)/\(^ω^=)/~~~~~~~

'You taste like a candy.'

Deg, deg, deg, deg...

'... Sweet~'

Blush~

Hanbin membenamkan wajah ke dalam lipatan tangannya di meja, berusaha menyembunyikan rona pink mencurigakan yang enggan pergi menghiasi wajahnya sedari tadi. Dia benar-benar menyerah berusaha melakukan hal tersebut. Adegan, serta kata-kata terakhir Bobby sebelum meninggalkannya, terus tergiang. Begitu nyaring dan nyata, bak sebuah lonceng kecil yang terus-menerus ditiupi oleh sapuan angin.

Sweet~

Bobby menciumnya untuk pertama kali. Err, dua atau tiga kali kalau mimpinya juga dihitung. Hanbin serasa melayang sekarang, kalau bisa, dia ingin segera tenggelam ke dalam selimut di ranjangnya; berteriak bahagia, dan menyelami alam bawah sadar untuk kembali memimpikan hal yang sama. Dia bahkan tidak keberatan kalau dunia akan berhenti saat ini juga.

"Kau baik-baik saja, Binie Hyung?"

Hanbin sesegera mungkin memperbaiki postur duduknya, menghadap Sang Adik yang ternyata sudah duduk di seberang meja dengan... kotak sereal di tangan. "Chanu, sebentar lagi makan malam. Kenapa kau makan sereal sore-sore begini?"

"Karena tadi pagi aku lupa kalau Umma sudah membeli sereal yang baru. Aku hanya sarapan dengan roti dan selai tadi pagi, Hyung. Hariku tidak akan lengkap rasanya kalau tidak makan sereal yang kusuka."

Tik, tik, tik, tik...

Okay. Adik tirinya, Jung Chanwoo aka Chanu, memang sedikit aneh. Hanbin akui itu. Dia berusaha mengabaikan sahutan 'kau bisa memakannya besok pagi saja, 'kan?' di kepalanya dan menggantinya dengan celetukan 'oh' sederhana yang disertai anggukan. "Umma dan Appa mana? Rumah tadi kosong saat aku pula – ah, dan sejak kapan kau pulang, Chanu? Aku tidak mendengarmu datang tadi."

"Tsk, bagaimana kau akan mendengar kedatanganku, Hyung, kau melamun. Atau day-dreaming? Aku sempat melihatmu senyum-senyum sembari menangkupi pipi saat menaiki tangga tadi."

Baru Hanbin sadari kalau Chanwoo sudah tidak lagi memakai seragam sekolah. Itu berarti... dia sudah cukup lama melamun di meja dapur. Omo.

"Umma dan Appa tidak meneleponmu, eoh? Mereka akan pergi selama tiga hari ke Busan. Mereka memiliki proyek baru di sana."

Oh, benarkah?

Hanbin meraih ke saku celana... Gosh, okay, dia bahkan belum mengganti seragamnya?—mengeluarkan ponselnya yang tidak kunjung menyala meski telah dipencet berkali-kali. "Eumm... sepertinya aku lupa mencharger ponselku lagi, Chanu. Hehe~"

"Aish, why I'm not even surprise?" celetuk Chanwoo sarkartis, menyendoki satu suapan penuh sereal cokelat ke dalam mulut, membuat pipinya yang chubby semakin chubby saja. "Ah, Umma juga berpesan agar kau menjaga dan merawatku dengan baik. Umma bilang, kau harus membuatkan semua makanan kesukaanku selama tiga hari ini, Hyung."

"Kau pikir bisa membodohiku, Chanu? Itu maumu. Bukan pesan Umma."

Chanwoo nyengir. Ne, pesan yang terakhir memang hanya karangannya. "Kkkk, Umma bilang, kan, menjaga dan merawatku dengan baik, itu berarti juga termasuk membuatkan makanan kesukaanku, Hyung."

Gemas, Hanbin meraih ke seberang meja untuk menarik lebar kedua pipi Chanwoo. Menurutnya, pipi adiknya ini sungguh unik dan lucu. Padahal, untuk seseorang bertubuh sangat tinggi, wajah Chanwoo terbilang kecil, tapi anehnya, dia memiliki pipi yang sangat chubby. Hanbin bahkan pernah bercanda, menghadiahi Chanwoo sebuah roller-face saat ulang tahunnya yang ke empat belas. Tentu saja, dia menerima kuncian leher—Chanwoo seorang atlet judo di sekolah—dari belakang setelahnya.

"Hyung! Jangan menarik pipiku!" gerutu Chanwoo jengkel, begitu berhasil menjauh dari tangan jahil Hanbin. Kedua tangannya langsung mengusapi pipinya yang berdenyut. Hyung-nya ini terkadang tidak pernah mengira-ngira dalam mengeluarkan kekuatan. Ini menyakitkan! Atau daging di pipinnya saja yang terlalu tebal? "Aku bukan anak kecil lagi."

"Kkkk~ ne, ne." Hanbin menyahut sambil lalu, bergerak menuju kulkas dan membukanya, "kau ingin makan malam apa hari ini? Kita memiliki ham, spaghetti, cheese, chicken, meat..., oh, ada gurita juga!"

"Terserah kau saja, Hyung. Kau tahu yang aku suka. Oh, dan mungkin seharusnya kau membuat porsi triple. Tadi seseorang bernama Bobby menelepon dan berkata ingin mengunjungi di rumah. Apa dia teman barumu? Aku baru mendengar na—"

Brugh!

Kentang yang sebelumnya berada dalam genggaman Hanbin jatuh menggelinding di lantai dapur. "W-what...?" tanya-nya linglung.

"Bobby akan berkunjung ke rumah. Kau baik-baik sa—"

"WHAT?!"

TBC