"This Love"
Chapter 2 : This Strange Feeling
Disclaimer Vampire Knight by Matsuri Hino
*saya gak bakalan bisa punya terkecuali saya ***** dia* #frontal #sensor
~Happy Reading~
Rima's POV
Shiki tersenyum padaku. Matanya yang sama denganku memandang sedikit menyembunyikan sesuatu di baliknya.
"Ada apa?" tanyaku heran.
"Rima-chan terlihat rapi. Mau ada pemotretan lagi?" tanyanya.
"Iya, sensei. Uhm...ta-tapi tidak ada yang mengantarkanku kesana. Soalnya supir pribadiku sedang sakit."
Shiki bersimpati padaku. Ia sempat berpikir sebentar, lalu dia mengutarakan usulnya.
"Hari ini aku tidak ada jam kuliah. Dosen sedang sibuk. Hmm...apa boleh aku menjadi supir pribadi Rima-chan untuk sementara?" tawarnya, dan aku merasa sangat surprise.
Mataku berbinar. Ternyata masih ada malaikat penolong di saat seperti ini. Tanpa pikir panjang, aku menggandeng Shiki keluar dan mendapati tawarannya.
Shiki's POV
Dengan canggung, aku mengendalikan setir mobilku demi mengantar Rima ke tempat pemotretan. Bagiku, tempat itu adalah tempat yang menjadi penyebab Okaasan jarang sekali menemuiku, dan aku membencinya. Aku masih bisa membayangkan semua kejadian yang menjadi awal rasa benciku pada dunia model. Meski begitu, aku selalu terlihat seperti biasa saja pada dunia model semenjak aku menjadi guru privat untuk Rima. Aku hanya ingin membuat siswa didikku nyaman denganku.
"Shiki-sensei tidak keberatan menemaniku di tempat pemotretan?" tanya Rima suatu kali di tengah perjalanan.
Aku tidak meresponnya. Aku masih terpikir soal tadi.
"Sensei?" Rima menepuk pundakku, aku terkejut.
"I-iya ada apa, Rima-chan?"
Rima kecewa ternyata aku tidak mendengar pertanyaannya. Wajah cemberutnya nampak.
"Gomen ne. Aku sedikit stres." alasanku sambil memegang kepalaku.
Rima tak menjawabku. Ia memilih sibuk melihat pemandangan di luar jendela mobil.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya sampai di tempat tujuan.
Rima terlebih dahulu turun dibandingkan dengan aku. Wajahnya berubah menjadi sangat bersemangat. Senyumnya juga terlukis di bibirnya yang menurutku manis (?)
Kenapa komentarku seperti itu? tanyaku dalam hati.
Aku tersenyum sendiri memikirkan komentarku tentang bibir Rima. Tidak heran seorang model seperti dia memiliki keistimewaan seperti itu? Jadi aku anggap ini biasa saja.
"Sensei, turun." pinta Rima padaku.
"Iya, Iya, Rima-chan." aku pun turun dari mobil. Lalu dengan reflek Rima menggandengku untuk menemaninya ke tempat kerjanya.
"Wah, Rima sudah datang ya. Bagus sekali. Kau selalu tepat waktu tiap datang kesini." ujar seorang pria pada Rima.
Rima tersenyum. "Tapi Ichijo kemana?" ia celingukan di ruang rias itu. "Rima-chan." seseorang yang duduk di kursi santai menyapa Rima dengan manis.
Rima menoleh padanya. "Ichijo~" lalu ia menghampiri Ichijo. Dipeluknya Ichijo senang.
Aku memandang mereka. Oh, Ichijo? Ternyata dia kenal juga dengan Rima. Seniorku itu seorang model seperti Rima. Meski sebenarnya aku dan Ichijo satu semester, tetapi berbeda jurusan. Aku IT, dia teater.
"Kau kemana saja selama seminggu ini? Tiap aku hubungi, nomormu tidak aktif." cerita Rima pada Ichijo.
"Gomen ne, ai. Aku hanya ingin mencoba fokus sementara dengan kuliahku." jawab Ichijo. "Hey, kau." Ichijo melihat ke arahku. "Tidak kuliah?"
"Iya. Dosen sibuk." jawabku.
Rima memandang aku dan Ichijo tak percaya. "Kalian berdua sudah saling kenal?"
Aku dan Ichijo saling pandang.
"Tentu saja. Kita berdua memang satu angkatan. Ehm...tapi lebih cepat Shiki aku rasa. Dia mahasiswa jenius yang pernah aku kenal." Ichijo melirik pada Rima.
Mukaku sedikit memerah.
Rima mengangguk." Aku percaya itu."
"Ta-tapi sebentar. Kau kenal pacarku darimana? Terus kenapa kau bersama pacarku?" tanya Ichijo padaku.
Dalam hatiku sedikit ada rasa terkejut. "Ehh, maksudnya Rima-chan itu pacarmu?" aku mencoba memastikan.
"Iya." jawab Ichijo santai. "Ehm...aku kenal Rima sudah lama. Kira-kira sejak pertama kali Rima terjun ke dunia model, ya kan Rima?"
Rima hanya mengangguk.
"Terus kebersamaanku dengan Rima disini hanya sekedar ingin mengantarnya. Tadi pagi aku datang ke rumahnya untuk sekadar..."
"Sekadar apa?" tanya Ichijo.
Yah, sebenarnya aku ingin mengajak Rima untuk jalan-jalan. Sudah biasa seperti ini, meski terkadang tidak. Tapi karena yang menanyakan itu adalah pacar Rima, Ichijo, aku sedikit gugup. Aku takut disangka yang tidak-tidak di mata Ichijo. Lagipula statusku sebagai guru privat untuk Rima sangat dirahasiakan. Tetapi kalai boleh, aku menyalahkan Rima yang tidak memberitahuki kalau selama ini dia memiliki pacar yang tak lain adalah orang yang aku kenal.
"Ah, sudahlah, Ichijo. Sebentar lagi pengambilan gambar." kata Rima.
"Oh, iya. sahut Ichijo. "Sampai disini dulu ya, Shiki." salamnya.
Setelah itu ia pergi bersama Rima ke tempat rias. Sebelum menghilang dari pandanganku, Rima sempat menoleh sebentar padaku. Sorot matanya menyiratkan sesuatu. Aku membalasnya dengan pandangan 'kenapa kau tidak memberitahuku tentang itu?'.
Aku menggeleng. Rasanya aku jadi aneh setelah tahu tentang itu. Semangatku untuk selalu tersenyum pada Rima sedikit menurun bahkan mungkin tidak ikhlas. Aku tak tahu kenapa.
Rima kembali menarik pandangannya.
Perasaan ini...
Rima's POV
"Ichijo, hari ini kau ada acara tidak selain ini?" tanyaku pada Ichijo.
"Aku harap tidak." jawab Ichijo sambil tersenyum. "Tapi kita lihat saja nanti."
Aku merangkul lengannya dengan sedikit manja. Aku senang sekali bisa bersama pacarku, meski kebanyakan aku hanya bisa bertemu dengannya di tempat pemotretan. Tetapi itulah yang membuatku semangat ke tempat permotretan.
Sayangnya, tadi hanya perasaanku di saat kemarin. Aku agak sedikit terpikirkan dengan pandangan Shiki tadi. Tidak seperti biasanya dia memandangku seperti itu. Aku merasakan ada perubahan pada dirinya begitu Ichijo mengakui bahwa aku ini adalah pacarnya. Kenapa seperti itu? Ada apa, Shiki-sensei?
Pemotretan ini berlangsung lama sekali. Entah kenapa perasaanku bisa mengatakan seperti itu. Dalam hati, aku ada keinginan untuk cepat-cepat menemui Shiki dan menjelaskan semuanya. Hah? Untuk apa aku menjelaskannya? Kenapa ada keinginan seperti ini di dalam hatiku?
Selesai pemotretan, aku langsung mengambil ponsel Blackberry di tasku. Aku memeriksa timeline akun twitter-nya, melihat aktivitas di facebook-nya, status BBM (BlackBerry Messenger), dan...ARRGH! Untuk apa aku begini? Apa aku khawatir pada Shiki? Tapi untung saja aku tidak menemukan aktivitas apapun di social network-nya. Berarti aku lega sekarang? Tidak!
Aku menghela nafas panjang. Aku taruh kembali ponsel BlackBerry-ku ke tas, tetapi Ichijo menariknya.
"Pinjam ya, Rima." ujarnya.
Aku tersenyum tipis. Pasti dia ngin memeriksanya. Sudah terbiasa seperti ini. Tapi sayang aku tak pernah memeriksa ponselnya. Apa begitu penting?
Normal POV
Ponsel Rima berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Tetai karena Rima sedang ada di ruang ganti, Ichijo membuka pesan itu terlebih dahulu sebelum Rima.
From : Shiki-sensei (+819888xxx)
To : Rima-chan (+819811xxx)
Rima-chan, aku setia menunggumu. Sekarang aku berada di mobilku.
Ichijo meletakkan ponsel Rima di meja yang dekat dengannya. Ia sedikit curiga tentang hubungan antara pacarnya dengan Shiki. Tetapi kenapa nama kontak Shiki ada embel-embel 'sensei'? Apa maksud Rima dengan menamakan Shiki seperti itu?
Tiba-tiba ponsel Ichijo berbunyi. Ada yang memanggil. Ia melihat display ponsel terlebih dahulu, lalu ia menerima panggilan itu di tempat yang agak sepi.
"I'm sorry I can't. This my time with my study, baby." kata Ichijo berbohong. "Ya, see you~" Ichijo mengakhiri panggilan. Tanpa ia sadari, Rima berada di dekatnya.
"Ditelpon siapa? Pakai panggilan seperti itu." tanya Rima.
"Orang tuaku. Aku sudah biasa memanggil mereka seperti itu, sayang." jawab Ichijo santai. "Ini ponselmu." ia mengembalikan ponsel milik Rima. "Tadi Shiki mengirim pesan padamu. Maaf sudah membacanya sebelum sayang."
"Tidak apa-apa." ujar Rima sambil membaca dalam hati sms dari Shiki.
Ichijo kembali memeriksa ponselnya. Ia memeriksa riwayat panggilan terakhir tadi. Sara Shirabuki, 09:39 AM, 00:00:49. Setelah itu ia klik pilihan, dan hapus.
Shiki's POV
Jariku memijit tombol play di iPod-ku saat memilih lagu Doushite kimi wo suki ni natte shimattandarou yang dinyanyikan Tohoshinki. Aku mendengarkan alunan lagu itu lewar headphone putihku. Selain itu, aku juga memainkan gitar kesayanganku yang nadanya mengikuti lagu yang aku dengarkan. Sekalian melancarkan latihan untuk diriku sendiri selama ini.
Tiba-tiba pintu mobilku dibuka seorang dari luar.
"Ri-Rima-chan?" seruku. Permainan gitarku terhenti. Ekspresi Rima menampakkan habis dikesali oleh seseorang.
"Kenapa tidak pergi bersama Ichijo?" tanyaku pelan.
Rima meremas tas selempang yang ia pakai. "Dia sibuk, sensei! Selalu saja begitu. Kemana waktu untuk bersama lama-lama, hm? Aku kesepian!" keluhnya.
Aku mematikan iPod-ku, headphone aku lepaskan, dan gitar aku taruh ke kursi belakang. Ini adalah waktu serius untuk mendengar keluhan dari siswa didikku, Rima Touya.
"Benar?"
"Iya tentu saja! Aku bosan begini terus!" keluh Rima lagi. "Sudah setahun aku bersamanya, tetapi jarang sekali bertemu. Selain itu, hubunganku dengannya sudah direstui oleh kedua orang tuaku. Tiga bulan yang lalu kami tunangan." ia menunjukkan cincin yang terbuat dari emas putih bertuliskan kanji 'Ichijo Takuma'. "tapi, entah kenapa aku sangat menyayanginya."
Aku terdiam. Aku mengerti benar perasaan Rima sekarang. Ia sangat mencintai seseorang tetapi tidak bahagia. Bahkan aku bisa rasa kesepian di hatinya. Aku tahu kedua orang tuanya membiarkan Rima tanpa komunikasi yang sering. Mereka sibuk dengan perusahaannya. Sama seperti orang tuaku.
"Ayah dan ibu mengatakan kalau Ichijo bisa menemani kesepianku. Maka dari itu mereka menjodohkan dia untukku. Awalnya aku sangat bahagia, meski aku harus merahasiakan semua itu ke orang lain, termasuk ke Shiki-sensei yang sudah mendidikku 6 tahun yang lalu. Maaf, sensei."
Aku hanya mengangguk. "Karena aku bukan siapa-siapa di matamu. Aku hanya bertugas untuk membimbing belajarmu. Kau seorang model yang terkenal. Tak jarang kau sering absen dari sekolah untuk menjalani profesimu. Aku berbeda denganmu. Lagipula, kehadiranku juga didasari atas uang. Jadi aku-"
"Cukup!" potong Rima yang membuatku terkejut. "Jangan bicara seperti itu lagi! Aku...aku merasa semakin benci pada diriku sendiri. Aku terlahir sebagai seseorang yang kesepian, rapuh dan haus akan kasih sayang." Rima menarik nafas. "Aku...aku menganggapmu sebagai seorang guru terbaik yang pernah aku kenal." ia menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Shiki-sensei, aku...aku rasa aku harus mengatakannya. Aku...aku membutuhkanmu sekarang." tak terasa air matanya jatuh. "Hibur aku yang kesepian ini. Selagi kau ada di dekatku." perlahan ia mendekat padaku. Entah kenapa setelah itu aku mendekapnya. Aku belai rambut pirangnya yang dikuncir dua itu. Wajahnya aku lihat berubah sedih sekali. Matanya penuh dengan air mata.
"Shiki-sensei, apa yang harus aku lakukan? Hiks...hiks...aku begini..." tanyanya di sela tangisnya.
Aku bingung. Aku tak tahu apa yang harus aku jawab. Aku ingin sekali membantu Rima, padahal aku sendiri ada masalah dan ingin ada yang membantu. "Rima, aku ingin menunjukan sesuatu padamu." ujarku asal.
Rima menatapku, "A-apa itu?"
Aku tersenyum. Tanganku menghapus air matanya yang meleleh. "Ada di apartemenku. Itu pun kalau kau mau ikut denganku ke apartemenku."
Rima menatapku tak percaya. Sesaat, dia mengangguk.
-to be continued-
yooooo! akhirnya Kuran Heroine kembali lagi dengan update-an "This Love" XD
aku update sebelum ulangan umum semester 3 ==v
niatnya mau update sehabis ulangan, tapi kayaknya sekarang aja :3
Aku gak mau draft-ku mengganggu pikiranku =.=
Maaf kalau nomor hp-nya ngaco. Aku gak tau nomor prefiks operator seluler jepang. Taunya cuma kode Negara jepang aja.
Ehm, penasaran dengan lanjutannya? Apa yang akan Shiki Senri berikan pada Rima Touya?
Tunggu chapter 3 yang insya allah sehabis ulangan umum.
Review please. give me suggest, not flame. Make me more better than before
