Chap 2 up!
.
.
.
.
Aku punya kembaran?
.
.
.
.
Jimin terdiam. Sepasang manik hitam kelamnya bertemu dengan manik hitam yang juga menatapnya. Kedua orang itu sama-sama berwajah datar tanpa ekspresi.
Jimin tidak tau apa yang dipikirkan Pemuda-yang sangat mirip dengannya, karena kini otaknya tiba-tiba merasa berputar-putar.
Menampik bayangan samar-samar yang membuat pemuda maroon itu mengernyit tidak mengerti. Hoseok melihatnya.
"Eh jim, kau oke?" Hoseok menepuk bahu tegas Jimin, yang memegangi kepala sebelahnya. Terlihat sesekali meringis.
Jimin menggangguk singkat tanpa menatap teman kudanya. Tepat saat itu bel mapel kedua berbunyi, Sang kepsek yang ternyata sedang mengobrol dengan pria dewasa yang mungkin itu keluarga pemuda itu, akhirnya memyuruh para lautan siswa-siswi yang masih betah dilapangan untuk segera masuk ke kelas masing-masing karena jam kedua mungkin guru akan masuk.
Jimin pun melangkah pergi, sebelumnya melirik kembali pemuda kembarannya yang ia tidak tau siapa. Pemuda itu nyatanya sudah pergi bersama kepsek.
.
.
.
Jimin menghela napas untuk sekian kalinya. Sedikit memijit keningnya. Demi tuhan, para siswa dikelasnya kini sedang bergosip tentang 'Kembaran Jimin yang spektakuler'
Spektakuler darimanya?
"kamprett! Jim hyuunggg.. Kenapa nggak bilang kalau punya kembaran sih?! Tuh anak lumayan tampan loh, Hyung kagak usah malu ngasih tau!" Jimin memutar matanya malas mendengar penuturan heboh Jungkook, si hoobae termudanya.
Kenal aja kagak. Paling cuman kebetulan miripannya.
"Kenapa kau dan alien nyasar ini masih disini? sudah lupa letak kelas?"
bukannya menjawab penuturan Jungkook, Jimin malah balik bertanya-lebih tepatnya mengejek. Membuat si muda mencebik karena diacuhkan. Lain dengan si Taehyung-selalu dipanggil alien karena tingkahnya yang terkadang aneh, pemuda bersurai dark brown itu menggerutu karena dipanggil alien nyasar. Jimin mengabaikannya.
"Ibu guru kami belum juga mau masuk. Mendingan kami disini aja. Aku penasaran dengan kembaran hyung loh!" Taehyung berujar semangat layaknya adik kecil yang mendapat permen lollipop.
"Tai anjirr, dia itu sebelas duabelas denganmu, Jim! Nggak ada bedanya!" Namjoon tanpa badai yang lewat sudah main mukul asal pundak Jimin sekelasnya yang mana membuat si korban meringis sambil memegang pundaknya.
Bangke!. Jimin mengumpat dalam hati.
"Tapi, rambut mereka beda jauh masa. Jimin berambut maroon, sedangkan Pemuda itu rambutnya hitam. tapi- sungguhan Jim, kalau saja rambutmu hitam maka kupastikan kalian jadi hot trending topik sedunia(?) Karena ada kembaran unyu dengan tampang diatas rata-rata." Seokjin, teman kelasnya Jimin yang lain berujar dengan bangga. Dia menatap Jimin bagai permata yang berharga.
Iya, berharga palamu.
Jimin mengerang pelan. Frustrasi dengan sahabat-sahabat bangsatnya. Keningnya yang tadi pusing malah tambah pusing dengan ocehan mereka. Duh
"jadi Jimin.."
"Apa?" perkataan Hoseok dipotong cepat oleh Jimin, membuat Pemuda itu merenggut. Galak sekali.
"Jawab pertanyaan kami. Kenapa tidak kasih tau?" Hoseok mengeluarkan pertanyaannya.
Jimin melirik bergantian wajah absurd sahabat-sahabatnya yang kini menatapnya penuh harap. Kemudian ia menghela napas berat. "Jangan tanya padaku. Aku saja tidak tau kalau aku punya kembaran." jawabnya dengan wajah ogah-ogahan.
Kelima sahabatnya itu mendesah kecewa. Jimin malah tidak menghiraukan mereka. Siapa suruh banyak tanya.
"EH ANJING! BU GURU DATANG. OI, ADIK KELAS! SONO BALIK KE KELAS KALIAN NAPA! AMPUN DEH KENAPA KALIAN SELALU NYASAR KESINI."
ketua kelas Jimin tiba-tiba menjerit tidak santai kala ia tak sengaja melihat siluet Bu guru mereka yang sedang berjalan ke kelas mereka. Jungkook dan Taehyung menatap siswa laki itu dengan muka paling datar.
Woles juga nih makhluk jadi orang-_-.
Kedua hoobae Jimin itu berlari keluar kelas. Tepat saat itu, Bu guru mereka masuk. Bersama seorang Pemuda disampingnya. Seketika kelas mereka jadi rusuh. Hoseok dan Namjoon menganga lebar dengan mata melotot melihat Pemuda tampan itu. Seokjin memanggil Jimin dengan suara pelan. namun Jimin sedang melamun menghadap ke jendela. Ia menghiraukan panggilan Seokjin hingga si Pemuda berbibir tebal itu dengan kurang ajarnya menggoyang kencang tubuh tinggi Jimin sambil mengguman kesal, "Oi, bangke, nyet! Liat kesini dulu napa!"
Jimin mengerang. Ia nyaris mengumpati Seokjin namun tiba-tiba Pemuda minim ekspresi itu terdiam. Dengan mata tajam melurus kedepan. Bertemu dengan manik hitam didepannya.
De javu eh?
.
.
.
"Baiklah Ibu akan langsung saja. Kelas kita akan kedatangan siswa baru. Dan ibu heran dia mirip sekali dengan ketua osis kita." Bu guru itu yang sebelumnya menatap intens Jimin kini melirik Pemuda tinggi disampingnya kemudian menyilahkan ia berkenalan diri.
"Park Jungho. Salam kenal."
Dan sapaan singkat dan datar itu ditanggapi dengan suara heboh para siswa.
"eh njing! mereka miripan pake banget!"
"datar sekali ngomongnya. mirip Jimin sekali!"
"gila! Tatapannya saja nggak ada bedanya sama Jimin."
"percaya atau nggak, mereka kembaran paling spektakuler yang pernah ada."
"Olala, jadi Jimin punya kembaran?!"
Begitulah kira-kira yang sedang diheboin oleh para siswa. Tentang Jimin dan kembarannya-yang belum diketahui. Jimin membuang napas kasar. Mata datarnya kini memandangi kembali jendela disamping kursi duduknya.
Tanpa ia sadari, ada manik tajam meliriknya dengan tatapan tidak dapat diartikan.
.
.
.
Bel stirahat pertama sudah berbunyi 5 menit yang lalu. kini sosok Jimin berada diatap sekolah, sendirian. Kelima sahabatnya tidak tau lagi rusuh dimana. Ia berdiri menatap datar para siswa lain dari bawah atap sekolah yang sepi. Maklum, tidak ada para siswa yang pergi kemari.
Ponsel hitamnya berada disebelah telinganya. Oh lagi menelpon ternyata.
"Halo, Jim. Ad-"
"Nanti pulang sekolah ada yang ingin kutanyakan padamu, Nuna."
Sang kakak sepupu diseberang sana mengernyit. Tidak sopan sekali. Belum saja orang selesai bicara, ini anak sudah main inti saja.
"Tanyakan apa? Kau tau aku sedang sibuk."
Jimin memutar matanya, "Aku tau. Nanti saja kutunggu dirumah."
"Yah! aku sedang si-"
"Aku tidak menerima penolakan."
"Dasar bocah tengik! Biarkan aku bica-"
Pip.
Jimin dengan kurang ajarnya langsung memutus panggilan sepihak. Ia tau kakak sepupunya pasti mengamuk disana.
Jimin kemudian segera berjalan meninggalkan atap sekolah.
.
.
.
Tbc..
Chp 2 selesai yeayy \goyang ala bang jali bareng bang kai/
Huh.. Kepanjangan ya? Lelah nih nulis bnyk. Dihp lgi. Fiuuhh.. 😓
Gimana? bagus ngga? Maap klo bnyk typo, maklumlah mimin juga manusia yg pnya bny kekurangan 🙏
Moga suka ya. Dan maap beribu maap untuk buat Yoongi oppa stan yg masi nggk suka klo namanya oppa diganti nama Jimin 🙇 ini demi kelancaran epep mimin.
Oh iya panggil saya mimin oke? Biar unyu kyk Jungkook *ah masa-_-*
Jgn lupa vote dan commentnyaaa..
