Pertama-tama, kami ucapkan banyak-banyak terimakasih kepada:

Cocoa2795 [cie hibari ama mukuro kerja sama cuy buat ngelindungin haru sma chrome. btw gue ngerasa haru itu ngepoin hibari soalnya cemburu hibari dpet surat cinta. #ngakak . . . ada pair HibaHaru terselubung nihhhh xD]

_ maaf, itu gak sengaja sebenernya soal Hibari dan Mukuro kerjasama. Karena merasa ada bahaya yang mengancam di sekitar, jadilah mereka bersekutu barang sejenak /halal eh halah bahasamu/ Lalu tentang Haru yang kepo, itu juga murni kepo sih tapi soal cemburu hmm... boleh juga *nyengir* pair HibaHaru ya? OTP kah? /malah nanya/ _

Kiyoharu Gouriki [Kereennnn, lanjut lagi! Lanjut lagi! XDDD . . . Ada slashnya kan ini? /oii/]

_ i-i-iya... ini udah dilanjutin kok ^_^" . . . Slash-nya... slash... ada gak ya? *smirk* /woy/ _

Hikage Natsuhimiko [apa ini? apa ini? apa ini? apa ini? apa ini? . . . parasit? *dilempar* . . . huaaahhh... misterius desu! . . . benda apa itu? . . . makhluk planet mana itu? . . . kenapa hanya bayang hitam? . . . vindice ka? . . . AoDera wa dare? . . . Cocoa-san gimana inii? . . . mereka diculik desu! . . . hm... Tsu-kun... tatapan kosong... seringai... ketawa..psico- *plak! /hentikan pikiran Psiko!Tsuna itu sebesar apapun kau menyukainya! . . . Ah ah ahhh... penasaaraaann]

_ mau tahu jawabannya? Jawabnya ada di ujung langit, kita kesana dengan seorang anak, anak yang tangkas dan juga pemberaniiiiii~ /stop woy stop nyanyi, suara cempreng begitu!/ Uhum! bukan parasit /karena itu fandom lain #lol/, juga bukan Vindice lho... hayooo~ tebak lagiiii~ XD betewe, bukan hanya Tsuna sih yang punya tatapan kosong plus seringai ^_^ kalau penasaran, ikutin terus ya, semoga bisa bersabar... _

zhichaloveanime [Ya ampuuun... . . . Aku jd ikutan tegang sendiri . . . lanjut ya author-san... . . .Byee.. :)]

_ iya ini udah lanjut lagi, walau terlihat diskontinyu sih XD *dijorokin ke jurang* cieee yang tegang, makasih ya :) _

Saegusha Aruhi [Wuaaaaa! lanjutin dong, penasaran! bagus kok ceritanya dan pasti lebih bagus lagi klo udah lanjut. ini mah bikin penasaran beud...]

_ wah makasih ya, kami sangat tersanjung atas pujiannya ^_^ ini aja ngetik lagi mumpung ada waktu luang, mengingat kami harus mengikuti event baru yang tertera di FB... jadi sekalian aja... _

.

.

[Kilas balik chapter sebelumnya]

.

"AoDea? Nama yang unfamiliar sekali. Hmm... atau bisa jadi itu hanya sebuah anagram, tapi tidak mungkin. OH! Saya paham JUUDAIME! Pasti AoDea adalah nama sesosok alien, itu sudah jelas!"

.

"Oniichan, apa oniichan mengerti maksud suratnya? Siapa AoDea itu?"

.

"HAHI? Surat aneh apa ini, de-su?" pekik Haru.

.

.


Disclaimer:

All of KHR characters and their characterizations are belongs to Amano Akira-sensei

All stories contain belongs to KareshiKanojo

Genre:

Random

Pairing:

A slight slash of GxGokudera, a slight slash of AsarixYamamoto, and a slight straight of HibaHaru

Rate:

T – T+

Title:

When It Comes

Warning:

May(be) AU, may(be) fail, may(be) OOC, may(be) typo a lot, may(be) you're gonna NOT enjoying this whole stories until the end and no Reborn in this story, sorry

.

I'VE WARNED YOU

.


.

.

Sweet Orange

.

Sayup-sayup terdengar sebuah suara yang dikenali dengan baik oleh indera pendengaran Tsuna, walau mata terpejam akibat rasa pedih namun gendang telinganya tetap mampu berfungsi optimal sebagai gantinya tanpa ia sadari. Bocah brunette jabrik itupun berusaha mempertajam pendengarannya.

"...kun? Tsu-kun?"

Sebuah suara mengalun manis, milik Sawada Nana seorang.

"Kaa... san...?"

Tsuna justru bertanya, ia masih tak percaya pada suara yang baru saja memanggilnya.

"Ada apa, Tsu-kun? Ayo cepat bangunlah, dan bersiaplah menuju ke sekolah barumu."

Eh?

Sekolah baru apanya?

Kedua kelopak mata Tsuna bergegas terbuka secara perlahan dan mengerjap beberapa kali sebelum bisa menyesuaikan diri dengan cahaya mentari pagi dari sisi jendela yang tirainya telah terbuka, tentu saja itu hasil perbuatan Nana dalam salah satu upayanya membangunkan sang anak. Iris brunette-nya berpendar indah tatkala cahaya sang surya menerobos seraya mengusap wajah manis pemuda tersebut.

"Apa maksud kaa-san? Bukankah aku sudah kelas dua SMP sekarang ini?"

"Kelas dua SMP? Humm... Tsu-kun sayang, jangan bilang kalau kamu lupa bahwa kemarin... memang mendadak sih... ayahmu dipindahtugaskan ke daerah Namimori ini. Tapi ayahmu sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan matang dan terencana, lalu memasukkan Tsu-kun ke SMA Namimori juga."

Senyum merekah menghiasi wajah manis Nana, ia terlihat sangat sempurna layaknya malaikat penghuni surga di mata Tsuna –si anak semata wayang– yang terpukau.

Tapi... tunggu dulu!

Apa yang ibunya bilang tadi?

Pemuda bertubuh kecil itu heran, bagaimana mungkin ia yang notabene sudah kelas dua SMP sekarang ini mendadak menjadi murid baru di SMA? Kemungkinan aneh macam apa yang terjadi padanya?

Tsuna kembali mengerjapkan iris brunette miliknya sembari mengacak-acak surai berwarna senada, meninggalkan model yang begitu awut-awutan. Melihat hal yang dilakukan oleh anak kesayangannya itu, Nana tersenyum. Ia tahu bahwa Tsuna sedang kelimpungan, namun tak menyurutkan niatnya untuk terus menyemangati anak satu-satunya untuk pergi ke sekolah lebih awal.

"Segeralah membersihkan dirimu, Tsu-kun. Kaa-san akan membuatkan bento spesial untukmu."

"Ta-tapi...,"

Pintu kamar telah menutup sempurna sebelum Tsuna sempat meneruskan kalimatnya. Dirinya benar-benar kebingungan. Ya sudahlah... sesekali mengikuti skenario aneh ini pun tak mengapa, karena sebelum-sebelumnya juga ia sudah banyak didera hal-hal tak masuk akal disekitarnya.

Tsuna bergegas mengambil handuk kemudian menuju ke dalam kamar mandi, kemudian menikmati detik demi detik guyuran air dari shower itu membasahi rambut dan seluruh anggota tubuhnya yang sudah tak terjamah sebalut pakaian pun.

Dalam diam, sebersit memori muncul dan membuat alisnya bertaut.

Apa itu tadi?

Sebuah surat dengan tulisan berwarna merah kecoklatan?

"AoDea?"

Pemuda pendek itu mencoba mengingat keseluruhan detil yang tertancap di otaknya, namun ia gagal. Justru yang didapatkannya hanyalah sakit kepala. Ada apa ini? Sepertinya ada yang tidak beres. Lamunannya buyar ketika suara lembut Nana kembali terdengar bagai alarm untuknya.

"Tsu-kun? Bento-nya sudah siap. Ayo cepat turun!"

'Perasaanku tidak enak soal ini.'

Tsuna menepuk kedua pipinya seraya menggelengkan kepalanya yang mungil, mencoba menenangkan dirinya sendiri sekaligus ingin tahu sebenarnya apa yang telah terjadi padanya dan juga pada keadaan yang tengah dialaminya.

Pemuda bersurai brunette tersebut bergegas mengeringkan anggota tubuhnya dari sisa-sisa air yang masih tertempel untuk kemudian berganti baju seragam sekolah –yang tentu saja sudah disiapkan oleh ibunya– dengan terburu-buru, dan hampir saja ia salah memakai seragam yang terkesan simple itu. Sangat lucu. Ah... barangkali tidak, biasa saja.

"Tsu-kun?" panggil Nana kembali.

"Ha-hai', kaa-san. Matte kudasai!" teriak Tsuna menimpali.

Segera setelah dirasa persiapannya selesai, pemuda imut itu turun ke lantai bawah meloncati setiap dua anak tangga supaya cepat sampai ke bawah menuju dapur. Namun Tsuna terkejut bukan main ketika sudah berada di ambang pintu dapur, mendapati di depan meja makan ada sosok yang hampir mirip dengannya, hanya saja tampilannya lebih dewasa dan surainya lebih cenderung pada warna yellow blonde daripada brunette.

"Gi-Giotto?"

Sebuah pengaduk sup mendarat ke kepala malang Tsuna.

PLETAK!

"A-aduh! Sa-sakit, kaa-san!" pekik Tsuna sembari jongkok tiba-tiba, mengusap-usap kepalanya yang terkena sasaran.

Dari sudut matanya, Tsuna melihat sekilas Giotto mengucap kata maaf melalui bahasa bibir tanpa Nana sadari. Wajah teduhnya yang bersinar secerah mentari di kala pagi hari, membuatnya terlihat bagai malaikat di mata si surai brunette jabrik.

"Sudah dong kaa-san, Tsuna juga tidak sengaja. Ya kan?"

'Eh? Giotto memanggil ibuku dengan kaa-san juga? Apa maksudnya ini?'

Giotto mengerling pada Tsuna, mengharuskan si jabrik untuk memberikan jawaban dari pertanyaannya secepat mungkin.

"Aa~ i-iya... maafkan aku... Giotto-nii."

Tsuna berharap kali ini ia memanggilnya dengan benar, semoga. Tapi yang masih belum dipahami olehnya adalah kenapa situasi dimana Giotto –sang pemimpin Vongola Primo– ada di rumah ini dan berperilaku sebagai seorang kakak yang mana ibu dan ayahnya sama sekali tidak merasakan keganjilan tentang hal ini. Si brunette jabrik menggelengkan kepalanya perlahan, ia tak mau mengalami sakit kepala dadakan lagi seperti tadi.

Giotto mengusap pipi kiri Tsuna, dengan wajah inosen miliknya yang entah kenapa membuat Tsuna merasa tak enak hati.

"Ada apa? Apa kamu sedang tidak enak badan hari ini, Tsucchan?"

'Eh? Panggilan macam apa itu?' pekik Tsuna dalam hati.

Tsuna menggeleng perlahan.

"Ma-maaf Giotto-nii, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir."

Pemuda itu berusaha tersenyum, supaya 'kakak'nya tak merasa cemas berlebihan. Ia sudah merasa sangat aneh diberi perhatian berlebih. Dunia apa yang sebenarnya dirinya huni sekarang?

.

Sexy Red

.

"Nghh..."

Sebuah lenguhan terdengar begitu dekat memasuki gendang telinga milik Gokudera. Bukan... itu bukan lenguhan yang datang dari pita suaranya, tapi milik seseorang yang lain tepat disebelah ia tidur.

Huh?

Ada yang tidur disebelah sang tangan kanan Juudaime?

Siapa?

Gokudera cepat-cepat membuka matanya dan membelalakkan matanya ketika menemukan G –sang tangan kanan Vongola Primo– tengah mendekapnya dalam tidur. Entah mengapa mendadak jantungnya berdebar hebat. Tunggu... tunggu! Gokudera bukannya menyukai sesama tapi ia bereaksi begitu karena murni kaget dengan situasi yang masih belum nalar di pikirannya tersebut.

"Kampret! Ngapain lo disini? Bangun WOY!"

Pemuda pengguna sistema C.A.I itu berang, G ditendangnya hingga terjatuh dari atas tempat tidur.

DUAGH!

G yang sudah tersadar, kini menatap Gokudera tanpa berkedip. Ia masih lumayan bingung dengan keadaan yang dialaminya akibat perbuatan si surai putih silver dihadapannya barusan, membuat punggungnya terkena imbas padahal dirinya tak memiliki salah apa-apa. G kemudian menghela nafas.

"Kamu ini, nggak ada sopan-sopannya sama kakak sendiri." Ujar G sembari merangkak ke atas tempat tidur, "Apa-apaan tadi maksud tendangan yang kamu tujukan padaku sih?"

"WHAT? Kakak? Candaan macam apa ini?"

"Ya ampun... jangan bilang kalau kamu amnesia lagi."

Gokudera semakin marah, emosinya meluap-luap. Sementara si surai merah magenta dengan hiasan tattoo di wajahnya itu tampak tenang dan kembali merebahkan dirinya kembali diatas tempat tidur empuknya, meninggalkan si 'adik' jengkel sendirian. Sebuah bantal empuk dihantamkan ke muka G tanpa basa basi, lalu Gokudera memilih untuk melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya yang sekarang justru terasa pusing.

"Ck! Apanya yang kakak?" gumamnya.

"Hei, aku mendengarnya." Teriak G pelan.

BLAM!

Setelah pintu kamar mandi ditutup tanpa dikunci, Gokudera bergegas menatap wajahnya sendiri di depan cermin diatas wastafel warna merah. Matanya dikedipkan beberapa kali dan telunjuknya mencolek-colek pipinya tanpa henti selama kira-kira satu menit. Bukan senam wajah kok, tapi hanya pembuktian bahwa sekarang ini ia tak bermimpi.

Gokudera memutuskan untuk memikirkan apa yang sebenarnya tengah terjadi padanya sambil menggosok gigi dan mencuci muka. Wajar... kebiasaannya setelah bangun dan memasuki kamar mandi memang harus begitu.

'Yang tadi itu dekat sekali, hampir saja.'

'Seingatku, aku pulang bersama Juudaime dan si yakyuu-baka kemarin dan bertengkar dengannya soal surat berisi tulisan aneh dari darah.'

'Sepertinya kalau aku tidak salah ingat, pengirimnya bernama AoDea.'

Dalam hitungan detik setelahnya, otak Gokudera terasa kram dan kepalanya ngilu seperti habis dipukul palu. Mulutnya bereaksi cepat dengan berteriak kesakitan, menyebabkan G menghambur masuk ke dalam kamar mandi kemudian memegang bahu Gokudera.

"Ada apa? Go-chan, bertahanlah!"

Gokudera sibuk memegangi kepalanya yang semakin sakit, ia tak memerdulikan sekitarnya lagi. Yang pasti kenapa pusing itu mendera hebat ketika ia mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum sekarang. Pasti ada sesuatu yang tak beres, ia harus segera berkumpul dengan para anggota Vongola terutama Juudaime untuk memastikan hal aneh ini.

Sementara, dirinya harus terlibat dengan dunia yang ia tempati terlebih dahulu dan berpura-pura menjadi 'adik' yang baik bagi G. Si surai putih silver itu harus belajar bersabar.

"G-nii... maaf aku sudah kasar padamu tadi. Mungkin yang barusan adalah hukuman bagiku karena telah kasar padamu."

"Aku tahu. Sudah... tenangkan dirimu dulu."

"Baiklah."

Gokudera mengangguk lemas, dan kembali ke kamar bersama G. Sekembalinya disana, alarm berbentuk perpaduan antara kucing dan leopard yang agak aneh berbunyi nyaring. G melirik sembari memapah adik kesayangannya itu kemudian mendudukkannya ke atas tempat tidur, diikuti desahan kecil yang tak bermakna.

"Ayo, sudah saatnya kita pergi sekolah. Go-chan sudah mencuci muka dan menggosok gigi kan?"

Gokudera mengangguk dan menggumamkan kata 'hn' saja, tanpa ada bantahan. Alih-alih takut dirinya terkena karma lagi nanti kalau mencoba membantah sang 'kakak'.

"Kalau begitu, cepat Go-chan ganti baju seragam dan tunggulah dibawah. Mungkin Bi-tan sudah menyiapkan kita makan pagi sekarang, lalu aku akan menyusul. Jadilah adik yang baik dan jangan mengajak bertengkar Bi-tan ya?" lanjut G dengan tambahan saran.

"Hn..."

Dalam hitungan detik, G melesat menuju ke kamar mandi, meninggalkan Gokudera yang kini tercengang menatap setiap lekuk seragam sekolahnya. Di bagian badge-nya terdapat cetakan kapital NAMIMORI HIGHSCHOOL. Jadi... Gokudera sudah SMA? Bukankah dirinya baru kelas dua SMP? Lalu siapa Bi-tan yang disebut-sebut oleh G tadi? Jangan-jangan Bianchi? Tunggu... tunggu..

Kalau tidak salah tadi G menyebutkan soal si Bi-tan yang menyiapkan makan pagi.

WHAT? Makan pagi? Bisa-bisa bukannya masuk sekolah, Gokudera harus masuk ke rumah sakit hari ini. Ah tapi sudahlah, menerima masakannya Bianchi juga sering ia dapatkan dan berakhir membuat pencernaannya kejang-kejang selalu.

Akhirnya Gokudera memutuskan berganti seragam dan turun menuju ke ruang makan tanpa lebih banyak bertanya lagi, takut menciptakan kubangan depresi di hati.

.

Romantic Blue

.

PLETAK! TAK! SRAK! TAK!

Yamamoto mengerjapkan kedua kelopak matanya supaya iris biru gelap miliknya dapat menerawang dunia nyata kembali setelah ia berhasil memutus mimpinya.

Mencoba bangun dan duduk perlahan di atas futon-nya, Yamamoto menguap lebar sambil mengusap-usap rambut jabrik raven-nya yang sedikit berantakan, atau memang begitulah adanya rambut pemuda murah senyum itu.

Ia memutar kepalanya perlahan, mengamati setiap inci bangunan yang menaunginya dari sinar mentari pagi. Ini benar rumahnya sendiri, rumah kediaman keluarga Yamamoto.

Sedikit heran, suara pedang bambu yang tadi membuatnya terjaga dari tidur nyenyaknya sekarang menghilang, tergantikan oleh gesekan fusuma atau pintu kayu geser model kuno Jepang yang berderit membuka dan menampilkan sesosok wajah familiar-nya disana. Dengan baju dan topi kebesaran tradisional zaman dulu a la kaisar kerajaan zaman sebelum Meiji, Asari melongokkan wajah tampannya yang penuh senyum pada Yamamoto Takeshi.

"Asari... san?"

"Ya ampun, aku sudah seperti orang asing saja dipanggil seperti itu. Maaf ya kemarin aku memukul kepalamu cukup keras, Takeshi."

"Hahahaha, Asari-san bisa bercanda juga rupanya."

Senyuman lima jari milik Yamamoto semakin terkembang, justru membuat Asari mengerutkan kedua alisnya. Ia bingung, apa mungkin adiknya yang terkesan periang ini nyawanya belum genap karena separuhnya masih berada di alam mimpi?

"Aku ini... kakakmu lho, Takeshi. Apakah kepalamu masih sakit?"

Yamamoto kicep.

Senyumnya luntur seiring otaknya diperas paksa untuk memikirkan bahwa 'Sejak kapan Asari, yang notabene adalah ancestor-nya sekarang ini menjadi kakaknya? Memangnya anggota Vongola Primo Famiglia yang satu ini benar-benar manusia? Bukankah mereka semua hanya arwah?'

Sebentar.

Yamamoto terlihat mengingat-ingat kejadian sebelum bangun tidur.

Bukankah kemarin ia dan dua orang sahabatnya berjalan pulang bersama setelah dirinya mendapati sebuah surat aneh dalam lokernya, lalu akibatnya si surai putih silver itu memarahinya habis-habisan? Lalu kenapa sekarang...

"Takeshi? Aku bertanya, apakah kepalamu masih sakit?"

Tiba-tiba Yamamoto menggigiti bibir bawahnya sembari menjambak rambut jabriknya sendiri, kepalanya berdenyut tak keruan. Hampir saja kepala bagian belakangnya menampar ubin kayu jika Asari tak cepat-cepat memegangi pundak adiknya.

"Sa-sakit... nii-san...," gumamnya tanpa sadar.

Asari panik, ia harus berbuat apa? Belum pernah ia melihat adiknya dalam keadaan seperti barusan.

"Ma-maaf... hahahaha... maaf sudah membuatmu takut, nii-san...,"

Hanya selang beberapa detik, Yamamoto tersenyum –yang sepertinya dipaksakan–, menurunkan tangannya dari mode penjambakan rambut ke mode aman. Asari hanya menghela nafas dan menempelkan dahinya ke dahi Yamamoto segera.

"Tidak apa-apa Takeshi, aku yang seharusnya minta maaf padamu. Jadi aku akan bertanya sekali lagi, apakah kepalamu masih sakit?"

"Maa... maa... yang tadi bukan gara-gara nii-san kok. Mungkin karena aku memikirkan hal yang seharusnya tak perlu kupikirkan, hahahaha."

Tawa renyah kembali membahana, tapi kali ini bukan dipaksakan melainkan mengalir dari dalam diri. Sang 'kakak' pada akhirnya menghela nafas kembali –kali ini helaan lega– lalu mendaratkan telapak tangan kanannya ke pipi kiri Yamamoto dan membelainya perlahan.

"EHEM! Kalian berdua malah disini rupanya, mau membuat drama incest ya?"

Sebuah dehaman menyadarkan keduanya, dan Asari buru-buru menarik tangannya. Yamamoto hanya cengengesan seperti biasa ketika melihat tingkah sang 'kakak'. Sang ayah berdecak sambil menggelengkan kepalanya, tak bisa membayangkan kalau kedua anak laki-lakinya benar-benar menjadi incest. Bisa malu digosipkan tetangga kanan kiri.

Yamamoto berdiri terlebih dahulu, berjalan ke depan pintu hanya untuk menyapa ayahnya.

"Selamat pagi, Oyaji."

"Anak ini...! Panggil aku dengan Otou-san dong. Sudah berapa kali kukatakan padamu?"

Di belakang mereka, Asari mengarahkan direksi matanya ke arah lain. Tubuhnya berguncang sedikit dan gemetaran. Satu tangannya ia tutupkan pada mulutnya. Ia mati-matian menahan tawa.

"Maa... maa... Otou-san jangan marah, aku hanya bercanda."

"Apanya yang bercanda? Dasar anak durhaka! Lupa ya kalau setiap pagi kau memanggilku begitu?"

"Hahahaha... masa sih Oya... eh Otou-san?"

"Dasar...,"

Tsuyoshi menggelengkan kepalanya lagi, kemudian memegang kedua bahu Yamamoto. Tampaknya ia mulai serius, terlihat dari kedua netranya yang berbinar tajam.

"Dengar Takeshi, mulai hari ini kau akan menjadi anak SMA. Jadi kalau bisa kurangi ketawamu yang bodoh itu. Apalagi ada kakakmu disana, tolong jangan permalukan dia."

'SMA?'

'Bagaimana bisa dalam semalam aku menjadi anak SMA?'

"Otou-san tadi bilang apa?"

Yamamoto memasang tampang bodohnya. Salah kalau ia memasangnya karena berpura-pura bodoh, namun karena ia memang tidak paham. Asari yang sudah bisa mengendalikan dirinya, sekarang berada disamping Yamamoto untuk mengatakan kebenarannya.

"Takeshi sudah menjadi anak SMA sekarang, omedetou...,"

"Maa... tapi aku masih kelas dua SMP lho... masa langsung naik tingkat ke SMA?"

"Asari, adikmu ini kenapa? Kepalanya terbentur?"

"Aku rasa, tidak."

Hening sejenak, keadaan mulai menjadi canggung.

Akan tetapi, yang dikatakan Yamamoto memang bukan kebohongan, malah itu yang sebenarnya. Sebenarnya ini dimana? Semuanya terlihat sama, meskipun sedikit aneh.

Oke, fix.

Yamamoto akan mengikuti aturan mainnya dulu, kalau dirasa sudah mendekati bahaya barulah ia menjauh.

"A-ahahahaha... joudan yo... joudan... sekarang jam berapa?" Yamamoto nyengir kuda.

"Yabe! Aku kemari mau memperingati kalian soal itu, supaya kalian tidak terlambat. Lekas kalian berdua bersiap-siap, kalau tidak mau terlambat ke sekolah."

"Hai', Otou-san!"

Yamamoto dan Asari menjawab dengan serempak.

.

Active Yellow

.

Celingak-celinguk.

Sebuah gerakan kepala dengan rambut rumput berwarna abu-abu pucat atau sebangsanya itu seolah seperti sedang mencari sesuatu, sesuatu yang hanya dirinya ketahui.

Namun gerakan itu terhenti setelah kedua iris abu-abu miliknya memandang ke arah dalam kamar adik perempuannya yang sekarang tengah berbaring nyaman dalam tidurnya yang nyenyak, menampilkan wajah damai disana.

"Kyoko...," gumamnya.

"Ada apa?" tegur seseorang dari arah belakang.

Beruntung, Ryohei hanya terlonjak kaget tanpa meneriakkan kata kyokugen andalannya. Takut adiknya yang masih tidur jadi terganggu oleh volume suara maksimal miliknya.

"O... Okaa-san?"

"Ya, dan hanya satu-satunya. Jadi... ada apa? Kenapa memandangi adikmu seperti itu?"

"Ti-tidak ada. Aku hanya sedang mencari dimana baju training-ku yang biasanya kupakai jogging pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah."

Ibunya menyunggingkan senyum kecil.

"Kaa-san taruh di laundry semalam, habisnya basah sih. Jadi ini sudah kaa-san siapkan gantinya."

"WOOOOOOO~ HEBAT KYOKUGEEEEEEN!"

"Sssshhttttt~"

Terlambat, Kyoko rupanya telah terbangun.

Keberadaannya yang kini tengah memeluk pinggiran pintu dan memandang kedua orang di depannya sembari mengucek mata, menjadi bukti otentik atas bangunnya Sasagawa Kyoko berkat teriakan kakaknya.

Ah... sebenarnya bukan karena teriakan Ryohei juga kok.

Tidak mungkin juga bukan kalau gara-gara teriakan sang kakak, sang adik terbangun. Apalagi dalam kurun waktu belum lima detik itu.

"Nah, karena Kyoko-chan sudah bangun. Ayo kita temui kakak kalian dulu di gereja depan rumah, mumpung kakak kalian sedang memberikan ceramah pagi pada para jemaatnya."

Ryohei dan Kyoko saling berpandangan.

Setahu mereka...

Ryohei adalah yang tertua di keluarga Sasagawa, jadi tidak mungkin ada 'kakak' lainnya lagi kan? Ada apa ini sebenarnya? Lagipula, Okaa-san tadi bilang apa? Sang 'kakak' yang lain sedang memberikan ceramah pagi? Pendeta?

"Ada apa kalian berdua? Cepat siap-siap, ke gereja juga ke sekolah. Terutama Kyoko-chan. Ini hari pertamamu menjadi seorang gadis SMA lho."

Huh?

Belum juga reda dari rasa terkejut yang pertama, kedua kakak-beradik itu langsung dihantam dengan kejutan yang kedua.

Bukankah harusnya yang benar itu begini,

Kyoko adalah anak SMP tahun kedua dan Ryohei menempati tahun ketiga, lalu sekarang gadis tersebut sekolah di SMA kelas satu? Jadi oniichan-nya berada di kelas dua dan 'kakak'nya yang satu lagi ada di kelas tiga, begitu?

Lagipula, seingatnya... ia, kakaknya juga Lambo sedang berada di lapangan olahraga SMP Namimori. Lalu kejadian aneh itu terjadi ketika mendadak Tsuna-kun dan kedua sahabatnya di kelas datang menemui mereka, hingga Lambo menangis dan oniichan memasang kuda-kuda untuk melindungi kami.

Kejadian aneh? Tu-tunggu... apa yang...

"A-aduh!"

Kyoko ambruk, kepalanya pening.

Mungkin dirinya berpikir terlalu rumit, faktanya Ryohei tak mengalami hal yang sama. Memang karena dari dulu kakak kebanggaannya itu tak pernah terlihat serius dalam memikirkan suatu hal.

"KYOKO!"

Ryohei membopong tubuh adik manisnya tersebut masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuh kecilnya di atas tempat tidur. Sang ibu bergegas keluar, mungkin memanggil sang ayah serta 'kakak' mereka berdua.

"Ma-maaf oniichan...,"

"Tidak apa-apa Kyoko, istirahatlah."

"A-aku tidak apa-apa, oniichan. Ta-tapi keadaan sekarang ini cukup aneh...," lanjut sang adik.

"Aku tahu Kyoko, aku tahu. Tapi kita tidak perlu memikirkannya sekarang ini. Yang perlu kita lakukan adalah mencoba berkumpul dengan anggota Vongola yang lain."

Kyoko memandang takjub pada sang kakak, tidak biasanya ia bicara begitu. Sampai-sampai lupa pada sakit kepala yang tiba-tiba mendera kepalanya tadi, membuat Ryohei sedikit menampakkan senyuman pepso-nya.

"Un~"

Gadis manis itu mengangguk setuju dan segera mengajak kakaknya bersiap-siap sebelum dipertemukan dengan 'kakak' tertua mereka.

.

Blithe Green

.

Sebuah teriakan keras membahana di dalam aula mansion megah milik keluarga Bovino, salah satu keluarga yang mengadakan hubungan aliansi dengan Vongola.

Well...

Harusnya perkataan tadi diralat, bukan teriakan keras melainkan tangisan luar biasa.

Siapa lagi kalau si empunya suara cengeng tersebut berambut hitam keriting –atau bisa kita sebut afro– ditambah baju berkostum totol-totol hitam putih –bukan Dalmatian tapi sapi– tengah meraung-raung gila-gilaan di dekat sofa aula.

Sudut bibirnya robek sedikit, segaris merah menyala hadir menyapa. Ditambah luka di lutut yang lumayan manusiawi, dan meninggalkan guratan perpaduan warna hitam dan merah pula.

Entah apa yang dilakukannya tadi sehingga dirinya menerima hasil yang cukup parah untuk ukuran anak kecil seusianya.

Di dekatnya, berdiri seorang pemuda dengan wajah malasnya. Kedua tangannya ia katupkan pada masing-masing telinganya sambil melirik ke arah sang bocah yang masih menangis minta tolong. Rambut hijau wavy-nya ikut bergerak setia mengikuti arah gelengan pelan darinya.

'Aku malas menenangkannya. Apa yang sebaiknya kulakukan ya?'

Tergopoh-gopoh, seorang maid datang berlari ke tempat Lambo dan Lampo –duo bersaudara itu– untuk memberitahukan sesuatu. Sepertinya kabar penting, atau justru kabar yang biasa.

"Tu-tuan muda sekalian, ada berita gawat!"

Lambo tak perduli, ia tetap menangis –menangisi setiap luka-lukanya– lalu sang maid unjuk gigi memperlihatkan kepiawaiannya membalut luka dengan perban setelah diobati. Lambo takjub, Lampo tidak. Barulah setelah selesai, gadis berumur sekitar 22 tahun itu melanjutkan berita utama yang dibawanya.

"Jangan lama-lama, aku sedang malas."

"Begini, Lampo-sama... Lambo-sama... tuan besar hari ini tidak mengijinkan anda berdua pergi keluar mansion, bahkan untuk bersekolah. Ji-jika Lampo-sama dan Lambo-sama merasa keberatan, silahkan menemui tuan besar sendiri di ruang kerja nanti. Ka-kalau begitu, saya permisi dulu."

Maid itu akhirnya undur diri dari hadapan kedua setelah memastikan Lambo tak lagi menangis.

Lampo berdecak kesal, sembari duduk di salah satu sofa didekatnya. Seolah tak perduli pada pengumuman barusan, ia malah sibuk memikirkan bagaimana caranya supaya bisa keluar dari mansion ini bersama adik kecilnya itu tanpa sepengetahuan baik ayahnya dan para penjaga di luaran sana.

Otaknya kusut seperti benang. Lampo bukanlah tipe pemikir yang baik, karena dirinya hanya melakukan apa yang ia sukai tanpa memikirkan sebab-akibat.

Mari kita sebut itu sebagai spontanitas.

Terlebih Lambo, ia masih bocah yang tak tahu apa-apa kecuali segala hal yang berkaitan dengan kata 'manis' seperti permen misalnya.

"Kaa-san? Kaa-san dimanaaaaa~? Hiks... lambo-san ingin bertemu... hiks...,"

Lampo memandangi adiknya, sedikit kesal.

"Lambo... siapa yang kamu sebut-sebut itu? Kita tidak punya ibu."

"Uweeeeeee~ Lambo-san punya kaa-san kok! Paman aneh! Uweeeeeeeee~"

"Paman?" sebuah sudut siku-siku muncul di dahi Lampo, "Aku ini kakakmu, bakagaki. Kamu minta dihukum di ruang bawah tanah ya?"

Tangisan Lambo pecah secara gamblang memenuhi ruangan lagi, kali ini justru lebih nyaring.

Lampo memutar bola matanya dalam waktu 0,01 detik, dan tak lama ia memutuskan untuk memberitahu adik cengengnya itu satu hal yang sedari tadi terus mendesaknya agar cepat melarikan diri dari sini –tempat ini– lalu menemui Giotto.

"Lambo... mau bertemu kaa-san kan? Berhenti menangis dulu. Setelah itu nanti kuajak kamu ke tempat kaa-san berada. Tapi jangan sampai ketahuan para penjaga, oke?" Lampo berbisik di telinga Lambo yang sedang mencoba menahan rasa nyeri akibat terjatuh sebelumnya.

Lambo berhenti menangis. Ditatapnya wajah Lampo dengan binar-binar mata moe moe kyun andalannya, namun sayang sang kakak sama sekali tak terpengaruh.

Ia jengah.

Sebelum pada akhirnya sang adik mengangguk cepat beberapa kali.

Dirinya setuju untuk kabur dari mansion Bovino bersama sang kakak, tanpa memikirkan rencananya. Karena ia kan masih kecil. Karena ia juga penakut. Karena ia tak bisa banyak berpikir, membuat kepalanya sakit saja. Karena... karena... uhh... pokoknya macam-macam. Yang penting, Lambo bisa bertemu kaa-san. Menurutnya.

.

Tranquil Purple

.

Dua pasang iris onyx kini tengah melayangkan pandangannya ke segala penjuru ruangan kantor komite kedisiplinan sekolah Namimori –SMP dan SMA kantornya digabung–, setelah sempat sebelumnya ia mengalami denyutan keras tak mengenakkan pada kepalanya ketika dirinya memikirkan tentang bagaimana ia bisa berakhir di tempat ini bersama seorang gadis dari sekolah lain yang hampir selalu menyebut-nyebut nama si pendek di Namimori-chuu yang diakuinya sebagai herbivore lemah.

Ya... ya...

Gadis itu bernama Miura Haru.

Dan sekarang kepala gadis tersebut sedang ditumpu oleh lengan kiri Hibari. Alih-alih pergi dan membiarkannya terlelap disitu sendirian, Hibari Kyouya justru menunggu dengan sabar hingga Haru siuman.

Tapi... Hibari rasa sudah dua jam dirinya menunggu, lengan kirinya sudah mati rasa dari sejam yang lalu. Toh gadis manis berkuncir dengan rambut berwarna pine-cone itu tetap tak kunjung sadar.

"Kamikorosu!" gumamnya lirih.

Hibari memandang rupa sendu nan tenang yang dipancarkan oleh Haru, entah sudah yang ke berapa kalinya. Anehnya, pemuda itu tak pernah merasa bosan. Malahan, semakin dirinya memandangi Haru, yang ada ia ingin sekali membelai setiap inci rambut Haru... mendekapnya erat... dan... mencium bibirnya.

Tunggu sebentar...

Apa yang telah dipikirkannya?

Mencium Haru? Salah seorang dari herbivore lemah diluar sana?

Aww... ayolah Hibari, buang pikiran itu jauh-jauh dari hatimu. Kalau ingin mencari pasangan, carilah yang sesama carnivore juga dong.

"Sial... aku memikirkan hal yang tidak-tidak dan dimana ini? Heh herbivore, bangun sekarang atau ku-kamikorosu kau!"

Sedikit bentakan Hibari tak mengubah apapun, nyatanya Haru masih saja tertidur tenang. Gadis ini rupanya ingin benar-benar dicium ya. Cepat sadarkan dirimu, Haru.

"Herbivore! Jangan salahkan aku kalau nanti aku berbuat sesuatu padamu supaya kau bangun. Cepat bangun sekarang juga!"

Tak sabaran, nada yang dikeluarkan dari tenggorokan Hibari sedikit melengking tinggi. Geram. Lengannya ia guncangkan serandom mungkin, berharap setidaknya gadis ini membuka mata dan mengerjapkannya perlahan.

Nihil.

Hibari kalah, lengan kirinya sekarang terasa kesemutan.

"Bangun, herbivore!"

"Bangun atau ku-kamikorosu!"

"Hey... ayo cepat bangun!"

Hibari seperti orang gila, ia bermonologue sendirian. Parahnya, Haru sama sekali tak bergeming. Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya?

Mendadak rasa cemas meliputi Hibari. Pemuda itu sampai memikirkan beberapa kemungkinan terburuk yang dialami Haru. Salah satunya adalah bahwa Haru sudah meninggal. Apa iya? Hibari mencoba menempelkan telapak kirinya ke pipi kanan Haru, takut daging empuk yang ditutupi kulit halus itu sudah dingin. Tidak. Pipi Haru masih hangat, itu artinya ia masih hidup bukan?

Seolah tak rela tangannya menjauh, yang dilakukan Hibari justru membelai pipi itu perlahan. Sambil mencondongkan kepalanya dan mengarahkan telinganya beberapa senti di depan lubang hidung Haru yang tenyata masih bernafas teratur walau lemah, Hibari sempat bernafas lega.

Setelahnya, ia kembali menatap sang gadis. Wajah mereka berdekatan.

Iris onyx Hibari melayangkan pandangannya, memusatkannya ke arah bibir peach Haru yang ranum.

'Jangan macam-macam, Hibari Kyouya. Atau... kamikorosu!'

'Tidak apa-apa... tidak apa-apa, Kyouya. Ini kesempatan sekali seumur hidup.'

'Sudah kubilang, jangan macam-macam!'

'Sudah kubilang juga, tidak apa-apa.'

'Apa kau mau menodai karirmu sebagai orang baik, Hibari Kyouya?'

'Orang baik? Kau ditakuti satu sekolah itu, bisakah disebut orang baik?'

'Diam kau, pikiran jahat. Hibari Kyouya, kuperingatkan kau untuk menjauhi gadis ini!'

'Tenang Kyouya, tak ada siapa-siapa disini selain kalian berdua, cepat lakukan.'

'Pikiran jahat, dasar kau...,'

'Apa? Pikiran baik jangan marah dong...,'

Dan selagi kedua perasaan hati Hibari berseteru, pemuda itu memilih untuk melepaskan ikat rambut yang menahan rambut halus Haru menjadi satu sampai tergerai lalu menyisirnya dengan jari jemari kanannya. Jantungnya berdebar-debar. Kenapa?

Pada akhirnya, Hibari memang memilih untuk mencium Haru.

Hibari dapat merasakan bibir Haru yang lembut dan mencoba untuk memasukkan lidahnya ke dalam, menjebol pertahanan mulut Haru yang masih mengatup.

"Nghh...,"

'Gawat, gawat. Dia sudah bangun.'

Sudah tahu hatinya memberontak ingin menyudahi perbuatan buruk ini, namun mulut dan lidah Hibari seakan tak mengizinkan. Hibari kehilangan kendali, kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Lidahnya semakin masuk ke dalam, terimakasih pada Haru yang tak sengaja membuka mulutnya ketika ia melenguh sesaat. Hibari rasa, ia menyukai apa yang ia lakukan sekarang. Ternyata ciuman itu begini, ternyata rasanya seperti ini.

Merasakan ada sesuatu yang basah yang mengganggu mimpi indahnya menjadi Namahage yang bisa terbang diantara awan cokelat yang bisa dimakan, Haru membuka matanya perlahan. Mendapati iris onyx menatapnya dengan sayu, lalu bibirnya... bibirnya... Haru benar-benar tak mampu untuk mendeskripsikannya.

"Nghh... mmmmhhnhhh...,"

Ingin rasanya Haru memeluk erat tubuh prefect kebanggaan SMP Namimori tersebut jika saja Hibari adalah pasangannya. Sontak Haru yang sudah sepenuhnya sadar segera mendorong tubuh Hibari menjauh dari dirinya.

Haru kini berangsur-angsur mengembalikan nafas serta detak jantungnya ke posisi normal, sembari memandangi pemuda komite kedisiplinan yang sedang sibuk memijati lengan kirinya itu.

"Ada apa?"

Hibari berbalik memandangi Haru. Gadis itu tak sadar bahwa pipinya memerah semerah kulit tomat.

"HAHI!? Ti-tidak ada kok, de-su."

Malu, keduanya merasakan aura canggung yang luar biasa.

"Maaf...,"

Hibari membuka suara pertama kali, lagi.

"HAHI!? Ke-kenapa Hibari-san meminta maaf, de-su?"

"Untuk yang tadi."

"HAHI!? Ti-tidak apa-apa. Haru senang, de-su."

Haru menunduk malu-malu saat Hibari sedikit terkesiap atas jawabannya barusan. Apa ini yang dinamakan 'menyukai seseorang'? apakah begini rasanya 'disukai oleh seseorang'? keduanya bergumul dalam pikiran masing-masing hingga mereka tak menyadari kemunculan seekor burung kenari mungil berbulu kuning –Hibird– ditambah seorang pemuda dengan rambut 'unik'nya yang memanjang ke depan –Kusakabe– disana, di dalam ruangan itu juga.

Hibari... Hibari... Hibari...

"Maaf Kyouya-sama, tapi situasi genting ini harus segera saya laporkan pada anda!"

Hibird terlihat berputar-putar sejenak kemudian mendarat di atas punggung tangan Haru, membuat gadis itu meneriakkan kata 'kawaii' berulang-ulang dalam hati. Sementara Hibari menatap Kusakabe intens dibalik pandangan stoic-nya tersebut.

"Ada apa?"

"Kakak anda, Alaude-sama, sedang dalam perjalanan menuju kesini. Anda harus segera menyelamatkan Miura-sama sekarang juga, sebelum kakak anda berbuat sesuatu yang mengerikan."

'Huh? Aku memiliki kakak? Berani-beraninya mengaku sebagai kakakku, kamikorosu!'

'HAHI!? Hibari-san punya kakak, de-su?'

Hibari... Hibari... Hibari...

"Saya mohon, Hibari-sama. Sebelum ada pertum... pah...,"

Kusakabe tak jadi melanjutkan kata-katanya, karena ia sekarang ini melihat Hibari tengah menggendong Haru ke dalam pelukannya a la bridal style. Emosinya sedikit membuncah. Haru yang terkejut tak mampu berkata apapun selain membelalakkan mata.

Hibari memutuskan untuk keluar dari ruangan. Ia sedang malas adu duel dengan Alaude, ancestor Cloud dari Vongola Primo, yang terkesan dingin dan tak banyak bicara. Apalagi dirinya masih bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi padanya, Haru, juga Hibird waktu itu. Sakit kepala yang kembali datang langsung diabaikannya. Yang penting gadis ini selamat terlebih dahulu.

.

Mischievous Indigo

.

Lagi...

Mimpi itu lagi...

Mimpi tentang sebuah keluarga dimana terdapat pasangan suami istri beserta ketiga anaknya, namun tiba-tiba saja anak laki-laki yang kedua membunuh satu-persatu anggota keluarganya dimulai dari ayah, ibu, adik perempuannya, dan kakak laki-lakinya yang sempat mencoba melindungi diri.

Kemudian...

Sepasang manik heterochrome terbuka paksa. Bau rumah sakit menguar, memenuhi udara, membuat sesak nafas saja. Ada sesuatu yang membungkus area mulut, sebuah masker oxygen yang selangnya menyambung dengan tabung panjang namun tak terlalu besar disamping kanannya.

'Dimana aku?'

Sebuah tangan terulur kemudian membelai lembut rambut yang hampir mirip buah kesukaan Chrome. Itu rambut sang Mist dan itu tangan milik Chrome.

"Mukuro-sama?"

"Chrome...," suara parau Mukuro terdengar lemah.

"Mukuro-sama, syukurlah Mukuro-sama tidak apa-apa. Maaf karena telah membuat Mukuro-sama seperti ini, bahkan Spade-sama juga khawatir akan keadaan Mukuro-sama."

'Spade? Rasanya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi dimana?'

"Mukuro...,"

Mukuro kini melihatnya, seseorang yang Chrome maksudkan tadi. Memiliki bentuk rambut yang hampir mirip dengannya hanya beda lekukan dan panjang, bentuk seringaian yang sama-sama menyebalkan, juga tatapan mata yang mengandung misteri. Ah... Mukuro sepertinya ingat. Spade sang Mist Guardian Vongola Primo yang selalu ber-cosplay ria dengan kostum Napoleon Bonaparte itu sekarang tengah memandang Mukuro. Raut wajahnya terlihat sedih.

'Kenapa dia memandangiku seperti itu? Kenapa tubuhku jadi lemah seperti ini? Apa yang... tunggu sebentar. Bukankah aku, Chrome, dan gadis yang menyukai Sawada itu datang ke SMP Namimori dan memergoki Hibari Kyouya sedang ingin membuka amplop?'

"Mukuro-sama?"

"Hey Mukuro...,"

'Ya... sebuah amplop berisikan surat aneh dari AoDea, sepertinya begitu. Khufufufu~ lalu setelah itu ada yang menyerang Chrome dan gadis kuncir kuda itu, lalu...,'

Mukuro tak melanjutkan pemikirannya, dikarenakan kepalanya bagai terhantam sesuatu yang keras. Bagian dalam telinganya berdengung. Nafasnya memburu, dilihat dari balik masker oxygen transparan kepulan asap transparan membuat titik-titik air embun menempel. Kedua tangannya meremas sprei tempat tidur rumah sakit yang menampung badannya.

"Chrome, cepat panggil dokter kesini!"

"Ba-baiklah, Spade-sama."

"Kakak, Chrome. Panggil aku kakak!"

Chrome tak mendengarnya, karena ia sudah keluar dari ruangan tempat Mukuro dirawat dan bergegas menuju ke tempat dokter jaga.

Mukuro secara kasar membuka masker yang dipakainya, mencabut jarum infus yang menancap di pergelangan tangan kirinya. Spade yang sempat terkejut akhirnya memegangi lengan sang Mist Vongola Decimo dengan erat, takut si 'Nappo' memperburuk keadaannya sendiri yang masih lemah.

"Kamu kenapa? Jangan bertindak bodoh!"

"Khufufufu~ a-apa hakmu bilang begitu padaku? Kau ini hanyalah arwah."

Suara lemah Mukuro sedikit mengintimidasi, membuat Spade mendengus.

"Arwah? Mukuro, tidak sopan mengatakan kakakmu ini sebagai arwah."

'Huh? Apa tadi dia bilang? Khufufufu~ kuharap telingaku salah dengar.'

"Tentu saja tidak salah. Aku memanglah kakakmu dan juga kakak dari Chrome."

Mukuro membalikkan badannya serta merta, menatap Spade dengan tatapan tak percaya. Pasalnya, ia yang selalu sendirian semenjak kejadian 'itu' sama sekali tak pernah memiliki sosok 'kakak'. Bahkan Lucia pun tak pernah ia anggap sebagai kakak, entah bagaimana keadaan orang itu. Tapi sekarang, Spade yang seharusnya cuma menjadi ancestor Mist malah menjadi 'kakak'nya?

'Khufufufu~ dunia paralel lagi rupanya.'

"Sudah kuduga kamu menjadi aneh sejak bebas dari Vindice, Mukuro. Seharusnya aku tidak mengeluarkanmu dari sana. Ini semua salahku. Astaga Chrome, lama seka...,"

"Spade-sama, tunggulah sebentar...,"

Chrome menyeruak masuk, langkah kecilnya tertatih akibat terburu-buru.

"Panggil aku kakak, Chrome."

"Ka-kakak...,"

"Ufufufufu~ itu lebih baik."

"Dokter jaganya sedang...," tak sengaja iris abu-abu keunguan Chrome terpatri pada area pergelangan tangan Mukuro, "Kyaaaaaaa~! Mu... Mu... Mukuro-sama berdarah!"

Mukuro tersenyum.

"Khufufufu~ tidak apa-apa Chrome, aku baik-baik sa...,"

Pandangan Mukuro berkunang-kunang, rasanya ingin muntah. Tak lama kemudian dirinya pingsan dipegangi oleh Spade, samar ia dengar suara seorang gadis. Bukan Chrome.

.

.

~ Tsuzuku ~

.


Author's Note,

Alhamdulillah akhirnya bisa juga kesampaian membuat lanjutannya walau harus makan waktu hampir satu tahun. Satu dari kami mendadak sakit keras, setelah sembuh malah tubuhnya jadi sering sakit-sakitan sementara kami semua harus sibuk di dunia nyata sampai-sampai lupa bahwa kami ada tanggungan fic T-T

Mungkin chappie ini sama sekali belum memuaskan, maklum ngejar deadline juga di dunia nyata, sambil ngejar-ngejar DPS /bagi yang sudah memasuki bangku perkuliahan pasti tahu.../

Sempat juga leppi bermasalah, charger mati minta diganti yang baru. Setelah diganti yang baru ternyata belum beberapa hari sudah mati lagi, mana garansinya sudah game over #ampunah

Bakal ada omake juga untuk penjelasan chappie ini, tapi kami bingung mau kapan ngetiknya lagi /curhat lagi/ dikarenakan kami sekarang ngetik fanfic ketika bener-bener luang, harus mengumpulkan waktu yang tersedia. Duh... pikiran kami terbagi, antara ingin menyenangkan readers dan yang udah merelakan waktunya untuk me-review karya kami yang gak jelas juntrungannya ini sama buat mereka-mereka yang masih berada di alam nyata. #sedih