Rasanya mataku perih melihat bagaimana mengkilapnya pagar yang tinggi menjulang di depan saat ini. Chanyeol turun dari mobil untuk memanggil seseorang yang aku asumsikan adalah penjaga rumahnya. Saat gerbangnya sudah terbuka Chanyeol kembali masuk ke mobil dan menjalankannya masuk ke halaman. Aku bisa melihat rumah besar dengan gaya eropa dan pilar-pilar tinggi yang mengesankan, dindingnya putih dan di halamannya ada kolam air mancur dengan ikan koi yang banyak. Chanyeol orang berada tapi aku tidak tahu, mobilnya bahkan biasa saja, bukan mobil sport atau mobil mahal lainnya.

Kami di sambut oleh kepala pelayan—kata Chanyeol yang sudah tua, senyumnya hangat dan khas. Mau tidak mau aku juga menyunggingkan senyumku.

Lalu saat masuk ke dalam, aku diam.

Suara pecahan, teriakan bersahutan serta geraman yang keras membuatku sedikit mendekat ke Chanyeol.

"Selamat datang di rumahku." bisiknya lirih saat tangannya membawa tanganku untuk menggenggam lengannya, mengusapnya sejenak dan ajaibnya aku merasa aman.

"KAU YA— Ohh..." kulihat wanita paruh baya dengan rambut berantakan serta make up yang luntur akibat air mata tersenyum ke arahku, senyumannya hangat walau aku belum bisa menghilangkan rasa takutku. Wanita itu berjalan mendekatiku dan Chanyeol, ia terlihat seperti orang gila dengan pakaian bergaya serta aksesoris yang mahal.

"Ini Kyungsoo, Ma..."

Kulirik wajah Chanyeol dan yang ada adalah datar. Aku mengerti sekarang.

"Kyungsoo?" Ibu Chanyeol tertawa, suaranya serak mungkin sudah terlalu lelah berteriak lalu ia menuntunku ke sofa empuk yang mahal.

"Kau duduk di sini dulu, aku akan berganti pakaian." kata ibu Chanyeol, ia berlari ke tangga dan aku langsung menoleh pada Chanyeol yang masih berwajah datar.

"Maksudmu apa?" Suaraku menuntut dan pelan, emosiku membuncah untuk suatu hal yang tidak aku mengerti, aku benci, aku tidak mau jadi Chanyeol atau orang-orang yang ada di sini. Buruk.

"Memberitahumu tentang ibuku dan ayahku, memberitahumu tentang rumahku yang tidak ada bedanya dengan neraka, memberitahumu kalau orang tuaku gila, memberitahumu kalau aku ingin orang tua seperti orang tuamu." Pandangan Chanyeol kosong dan dia tidak menatapku. Aku bilang aku lebih suka Chanyeol yang lantang dan berani ketimbang yang ini.

Di sana aku lebih mengerti kalau sebenarnya Chanyeol tidak menuntut apa-apa kepada orang tuanya dan dia hanya meminta kasih sayang.

Ibu Chanyeol datang dengan baju yang lebih santai dan wajah tanpa makeup, kantung mata yang menghitam kentara sekali di wajahnya yang putih. Tidak ada kerutan di ujung matanya atau bibirnya, alisnya terbentuk rapi serta matanya yang bundar dan bibirnya yang tipis membuatku tahu kalau ia awet muda. Ibu Chanyeol tersenyum hangat dan duduk di sampingku, saat itu Chanyeol terlihat murung dan tidak minat.

"Aku menginap di rumah Kyungsoo tadi malam. Aku juga akan mencari flat nanti untuk kutinggali dan kalian bisa bebas bertengkar." kata Chanyeol dengan suara yang lirih. Dia langsung mendapat tatapan tajam dari ibunya yang siap akan memarahinya saat itu, tapi yang aku dengar hanyalah sebuah helaan napas lelah dan sodoran kartu ATM.

"Semua yang kau perlukan,"

Tidak, saat itu aku ingin menyela ibu Chanyeol dengan berteriak Tidak! Chanyeol tidak butuh ATM-mu! Dia butuh kasih sayangmu tapi tidak kulakukan karena aku diajari untuk sopan terhadap orang tua manapun.

Sesuatu yang harus kau tahu adalah bagimana ibu Chanyeol masih bersikap biasa saja saat masalah yang sedang dihadapinya ada di depan mata.


Pulangnya Chanyeol tidak banyak bicara, wajahnya datar dan itu membuatku tidak nyaman. Ia tidak berbicara aneh seperti, "Paus bernapas dengan paru-paru." atau "Kau lebih mirip lumba-lumba daripada paus." Rasanya, kalau bisa, saat itu aku mengumpat dengan suara keras dan meneriaki Chanyeol bodoh. Aku merasa salah pada diriku sendiri karena secara tidak langsung aku sudah terlibat dalam kehidupan Chanyeol yang rumit, aku tidak suka sesuatu yang rumit dan Chanyeol baru saja membawaku ke sana. Ke sebuah keadaan yang tidak aku mengerti dan rumit serta pikiran yang mengambang dengan ketidak tahuan yang menyiksa. Secara tidak langsung Chanyeol menyiksaku dengan caranya sendiri.

Aku masih diam saat mobilnya memasuki perkarangan rumahku, lagu dari Rihanna ia matikan dan setelah mobil berhenti ia membantu membukakan sabuk pengamanku. Wajahnya masih datar dan aku sungguh tidak suka. Tidak ada terimakasih yang keluar dari mulutku saat itu dan aku langsung pergi dengan perasaan yang campur aduk. Tiba-tiba ini menjadi sebuah ketegangan yang tidak aku mengerti dan aku jadi tidak ingin bertemu dengan Chanyeol untuk beberapa hari.


"Kenapa menghindar?" Saat itu hari minggu dan Chanyeol suka berepot-repot ria untuk bertemu denganku. Mungkin karena aku sengaja tidak masuk beberapa hari dan dia merasa aku menghindarinya apalagi telepon atau whatsapp yang tidak kubalas.

"Siapa yang menghindar?" tanyaku balik dengan nada yang menghina. Aku berjalan malas ke kulkas dan mengambil susu di sana. Kami sedang bicara di dapur karena ruang tamu sedang dipakai Mingyu untuk kerja kelompok bersama teman-temannya.

"Kau yang menghindari aku." kata Chanyeol. Kulihat tangannya terkepal di atas meja dan dia menatapku dengan tenang tapi sorot matanya tajam dan aku tahu kalau dia sedang berusaha memendam emosinya.

"Aku tidak," kubalas begitu sambil meminum susuku di gelas. Aku menatapnya dengan berani dan dia menghela napas keras, wajahnya berubah murung.

"Dengar, Kyung—"

"Tidak. Kau yang dengar." kusela dengan cepat dan Chanyeol langsung diam untuk mendengarkanku. Kutaruh gelas susu di meja dan menghadap Chanyeol dengan berani.

"Aku bukan kekasihmu. Terserah aku mau menjauhimu atau memusuhimu, itu hakku. Kau tidak berhak menghakimiku karena aku menjauhimu, sama sekali tidak berhak." Aku menatapnya penuh emosi, suaraku menuntut dan kulihat dia tidak masalah dan malah tenang-tenang saja tentang aku yang marah. Dia malah menyunggingkan senyuman miring yang mengejek.

"Kau menghindariku." Itu pernyataannya setelah dia menyimpulkan semua perkataanku barusan. Aku merasa benci pada diriku sendiri dan Chanyeol, benci pada diriku sendiri karena tidak bisa menahan emosi dan benci pada Chanyeol yang tidak segera pergi.

"Kau bisa keluar lewat pintu depan atau kutendang lewat jendela." kataku dan aku duduk di depannya dibatasi dengan meja dapur.

"Kau tidak akan berani menendangku." Suaranya tenang dan dia malah menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi sambil bersendekap dan menatapku tenang. Wajahnya tidak setegang tadi dan aku juga tidak semarah tadi.

"Kata siapa?"

"Aku bisa mendengar hatimu."

Aku tahu kalau aku memang menghindari Chanyeol untuk beberapa alasan yang mungkin saja sudah kau tahu. Aku sedang tidak ingin berdebat dengan pikiranku sendiri tentang Chanyeol dan satu-satunya cara adalah menghindar. Kukira cara itu akan berhasil tapi malah berantakan saat aku tidak bisa berhenti memikirkan tentang Chanyeol setiap malamnya, aku tidak bisa berhenti membaca whatsappnya setiap malam dan aku benci tidak mengangkat teleponnya.

Kuingat saat itu Mingyu datang ke dapur mengambil kotak susu yang belum dibuka dan pergi setelah berbicara dengan Chanyeol tentang kapan mereka bisa main playstation lagi dan Mingyu yang tidak sabar melihat wajah Chanyeol penuh coretan lipstick. Wajahku kembali datar saat Chanyeol menatapku penuh dengan senyum lebarnya, kutatapi sekali lagi tubuhnya yang duduk di depanku dengan seksama. Dia memakai kaos putih dengan jaket jeans belel dan celana pendek hitam polos, rambutnya ia sisir ke samping tanpa gel dan dia masih terlihat mengagumkan dengan pakaian sederhana seperti ini.

Hening sebentar dan Chanyeol tersenyum jenaka kepadaku.

"Mau pergi?" tanyanya.

Aku diam dulu, lalu menjawab lirih, "Kemana?"

"Kemana saja asal aku bersamamu." jawab Chanyeol sambil tertawa dan aku merasa pipiku panas, aku tersenyum tipis tidak terlihat.

"Aku ambil jaket dulu." Chanyeol mengangguk dan aku pergi bersama detakan jantung yang menggila.


Dari sekian banyaknya tempat, Chanyeol mengajakku ke pantai setelah kami berkeliling kota dan mencicipi berbagai makanan. Sepi, hanya ada beberapa orang yang datang mungkin karena belum banyak yang tahu tentang pantai ini dan juga aku baru tahu kalau ada pantai di sini. Chanyeol membantuku membuka sabuk pengaman dan aku langsung turun setelah mengatakan terimakasih. Sebenarnya aku tidak suka diperlakukan seperti itu tapi Chanyeol membuatnya berubah.

"Kita duduk di sini." Chanyeol membawa kain pantai tipis untuk menjadi alas kami duduk. Mataharinya tidak seterik tadi siang dan anginnya benar-benar tenang.

Kulirik jam yang ada di ponselku dan aku bergerak gelisah karena sudah pukul empat sore.

"Aku sudah mengijinkanmu pada ibumu." kata Chanyeol, dia membuka bungkusan yang tadi kami beli di pasar.

"Dengan bilang: 'Bu, aku pinjam anakmu' lagi?" kutanya begitu dan Chanyeol langsung tertawa.

"Tidak, kubilang kalau aku akan membawa lumba-lumba untuk dilepaskan kehabitatnya."

"Sialan!" kupukul lengannya dan Chanyeol tertawa keras sambil berguling dengan tangannya yang memegang satu udang pedas.

Setelahnya kami makan makanan yang dibawa Chanyeol, dia tampak semangat dan tidak lelah setelah menyetir dalam waktu yang lama bahkan senyumnya tidak luntur. Aku merasakan europhia yang berlebihan saat Chanyeol tersenyum atau tertawa karena rasa pedas yang ia rasakan.

"Udangnya pedas." katanya. Aku mengangguk dan mulai mencopoti kepala udang yang ada di tanganku.

"Tapi kau manis,"

Aku diam.

"Jadi rasanya campur aduk." tambahnya lagi. Aku masih diam dan mulai makan udangku.

Pulangnya, kami di sambut ayah yang duduk di teras dengan kopi dan seseorang yang belum aku kenal. Aku turun dari mobil bersamaan dengan Chanyeol, dia memegangi lenganku seakan-akan dia tahu akan ada yang terjadi.

"Ini Kyungsoo," kata ayahku memperkenalkanku pada rekannya, kulihat rekannya tidak tua dan masih muda. Umurnya sekitar 27-an dan wajahnya tampan serta matanya yang tajam juga rahang yang runcing sedikit membuatku ragu menjabat tangannya.

"Kris." tapi tetap kulakukan karena ayahku yang menatapku penuh harap. Aku ingat wajahku masih datar dan tidak minat serta Chanyeol yang menatap Kris dengan tidak suka.

Aku masuk dengan Chanyeol menggandengku, dia tidak lagi memegangi lenganku tapi menautkan jari-jarinya memenuhi sela-sela jariku. Dia tahu apa yang akan terjadi tapi saat itu aku belum mengerti.


Chanyeol pulang pada pukul sembilan setelah ikut makan malam kami, ibuku menyuruhnya ikut juga karena suasana bertambah ramai seakan-akan dia tidak keberatan kalau keluarganya bertambah satu. Tapi jika kulihat lagi, ibuku memang tidak keberatan kalau anaknya bertambah satu.

Ayahku bercerita tentang rekannya tadi, Kris, aku tidak suka dan malas sekali rasanya untuk mendengarkan.

"Kris kelahiran Kanada, dia pengusaha yang sukses dikalangannya."

Aku mendesis, sup yang masuk terlalu panas untuk lidahku jadi kutiup dengan keras dan kuahnya menciprat kemana-mana.

"Hyung!" Mingyu menggerang, ternyata dia juga kena cipratan kuah supku. Aku tertawa dan mengambilkan tisu untuk kuberikan padanya. Ayahku diam dan aku tahu caraku bisa membuatnya berhenti bicara tentang Si Kris itu.

Aku tidak mau berprasangka, tapi aku merasa kalau Chanyeol sedang menatapku penuh jenaka saat aku tertawa dan memberikan tisu kepada Mingyu. Saat itu aku tidak terlalu memperdulikannya dan kembali makan dengan tenang. Ibuku kembali mendominasi percakapan tentang apa yang sudah dilakukan anak-anaknya.

"Ibu tebak kalian dari pantai?" kata ibuku, matanya mengerling jenaka melirik Chanyeol yang hendak tertawa.

"Melepas lumba-lumba kehabitatnya!" Mingyu tertawa saat menyerukan itu, ternyata Chanyeol juga menceritakan ini ke Mingyu. Semua tertawa kecuali aku, ayahku juga tertawa.

"Aku bukan lumba-lumba!" seruku dengan nada kesal yang tidak terlalu kentara.

"Kau bukan lumba-lumba tapi pinguin!" kata Mingyu lalu sendokku menghantam dahi Mingyu. Anehnya anak itu masih tertawa setelah berteriak kesakitan, tertawa sambil memegangi dahinya.

Makan malam selesai pukul delapan kurang lima menit dan Chanyeol juga membantu ibu membereskan meja makan. Dia membantu ibu mencuci piring dengan mengelapi piringnya selesai di cuci ibu. Aku hendak membantu juga tapi malah di tarik ayah ke teras, dari raut wajahnya kentara sekali kalau ia sedang serius.

"Kau kekasih Chanyeol?"

Aku diam, tidak menggeleng tidak mengangguk. Rasanya berat untuk menggerakan kepala hanya untuk menggeleng.

"Kau kekasih Chanyeol?" tanya ayah sekali lagi.

Tanpa sadar aku mengangguk dan menatapnya dengan tatapan memohon. Ayahku diam sejenak, matanya yang tadi tajam berubah penuh kasih sayang, kulihat dia tidak keberatan dan aku cukup senang untuk tahu dia tidak marah soal aku yang mengaku-ngaku kekasihnya Chanyeol.

"Sudah lama?" tanya ayahku, dia duduk di kursi teras dan aku juga ikut duduk disebelahnya.

"Tadi sore," kujawab ragu-ragu. Ayahku menerawang jauh, dia terlihat murung untuk suatu alasan yang tidak aku mengerti.

Aku merasa malu pada diriku sendiri, sudah bilang aku bukan kekasihnya dan sekarang malah mengaku-ngaku di depan ayah. Rasanya aku ingin tenggelam dalam kursi dan pergi kemanapun di daerah asing lalu tidak ada yang mengenalku untuk membawaku kabur dari situasi yang aku hadapi saat itu.

Beberapa menit kemudian Chanyeol muncul dari pintu, dia memegangi lenganku dan berpamitan pada ayah lalu membungkuk padanya dengan sopan. Rasa bersalahku bertambah saat dia mulai melangkah meninggalkan teras dan masuk ke dalam mobilnya, langkahnya terlihat berat untuk pergi masuk ke dalam mobil dan aku tambah merasa bersalah. Faktanya, Chanyeol tidak mencari flat seperti yang ia katakan pada ibunya tapi malah mengajakku berkeliling kota dan berhenti di pantai.

Malamnya, sekitar jam sepuluh Chanyeol menelponku lewat whatsapp. Aku belum tidur saat itu dan langsung mengangkat teleponnya.

"Tidur di mana?" tanyaku langsung tanpa peduli suaraku yang kedengaran peduli. Aku hanya ingin tahu kalau Chanyeol sudah dapat tempat tinggal dan dapat tidur yang nyenyak di tempat yang layak.

"Rumah Jongin." jawabnya dengan jenaka.

"Sudah ketemu flatnya?" Maksudku flat untuk dipakai tinggal Chanyeol besok.

Chanyeol tertawa, "Masih tinggal di bumi saja aku sudah banyak bersyukur." katanya.

Aku tersenyum, rasanya lega sekali mengetahui Chanyeol tidur di rumah yang layak padahal aku tidak tahu rumah Jongin seperti apa.

"Kyungsoo?"

Kujawab dengan deheman, dia malah tertawa.

"Kau mau tahu caranya membuatku menangis?"

Aku ingin mengatakan tentang orang tuanya tapi tidak jadi karena Chanyeol tidak akan suka membahas sesuatu tentang itu. Jadi kujawab, "Bagaimana?" dengan nada ragu-ragu.

"Menghilanglah dari bumi dan aku akan menangis." jawabnya dengan suaranya yang main-main.

"Kalau aku pindah ke mars?" kutanya begitu mengikuti permainannya.

"Aku tetap menangis."

"Kenapa? 'kan kau sudah tahu aku pindah ke mars?"

"Karena kau pasti akan mati kekurangan oksigen di sana."

Aku tidak bisa menahan tawaku, "Sialan!"

"Aku suka tawamu, Kyungsoo." katanya saat aku sudah diam, kutebak dia sedang tersenyum di sana.

"Kenapa kau suka tawaku?" kutanya begitu karena aku juga sedang tersenyum di sini.

"Karena aku suka mendengarkanmu."

"Kenapa kau suka mendengarkanku?"

"Karena suaramu indah."

"Kenapa suaraku indah?"

"Coba tanyakan pada ayah atau ibumu."

"Kenapa aku harus bertanya pada mereka?"

"Karena mereka yang membuatmu."

Aku tertawa, Chanyeol juga.

Saat itu aku merasa seperti seseorang yang banyak bicara dan bertanya pada Chanyeol, bukan orang yang berwajah datar dengan suara yang datang saat diperlukan saja. Aku merasa kalau aku menyukai diriku saat itu bersangkutan dengan Chanyeol. Aku juga suka bicara dengan Chanyeol, karena dia tidak monoton dan ringan.

"Selamat malam, Kyungsoo..." katanya.

Rasanya berat sekali untuk mengucapkan selamat malam juga dan juga aku tidak mau Chanyeol menutup teleponnya.

"Aku merindukanmu." tambahnya.

Aku merasa seperti seseorang yang kehabisan oksigen setelah Chanyeol bilang begitu. Mungkin kau bilang ini berlebihan tapi saat itu aku merasakan hal semacam itu. Rasanya menyenangkan sekali dengan perut melilit dan senyuman di wajah. Sudah kubilang, aku suka diriku saat itu berkaitan dengan Chanyeol.

Bersambung...

Terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca dan mereview di chapter yang lalu. Aku ga tau dimananya yang manis, beneran;;-;;

Disini kubuat Kyungsoo laki-laki dan aku ga keberatan kalau kamu mau ngiranya Kyungsoo adalah perempuan aku sudah berusaha bikin Kyungsoo kelihatan lebih kelakian beneran:V tolong maafkan akuuuuu tapi aku pas ngetiknya bayangin Kyungsoo laki-laki yaaaaa:V #curhatkayacerpen3

Review sangat amat memperlancar imajinasi:v

(p.s; ada salah satu dialog yg terinspirasi dari Dilan, thx)