Say It ~Thank You~

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Say It ~Thank You~ © Aria Desu

.

Rating : T

Genre : School Life, Drama, (slight) Romance

Pairing: Akasuna Sasori x Haruno Sakura

.

Warning: AU, OOC, typo (maybe)

.

Chapter 2

Listen to My Heart!

.

.

Hari sudah sangat sore dan langit semakin gelap karena mendung. Awan-awan hitam mulai berkumpul bersiap-siap akan menjatuhkan butiran-butiran air hujan ke bumi yang kering ini. Jalanan sore ini agak lebih lenggang daripada biasanya karena kebanyakan orang sudah stand by di dalam rumahnya tidak mau kehujanan. Namun tidak bagi gadis mungil berambut merah muda yang satu ini.

Haruno Sakura masih berjalan melewati daerah perumahan yang masih cukup jauh dari rumahnya. Hari ini Ia terlambat pulang karena semua tugas piket kelas ditumpahkan padanya. Teman-teman sekelasnya akan mengadakan pesta ulang tahun Sang Ketua Murid, namun Sakura tidak ikut karena takut merusak suasana jika Ia ikut. Mau bagaimana lagi kalau semua murid tampak ketakutan padanya seperti itu. Ino dan Hinata pun terpaksa ikut karena dipaksa oleh teman-teman sekelas. Jadilah hanya Ia sendiri yang melaksanakan tugas piket kelas.

Sakura memperhatikan kedua telapak tangannya. Rasanya kedua telapak tangannya itu sampai terasa kasar karena bekerja keras hari ini. Mulai dari mendorong meja dan kursi, menyapu, mengelap jendela, sampai mengepel.

Dilihatnya setetes air hujan turun membasahi jalan di hadapannya. Menyadari hujan akan segera turun, Sakura berniat untuk mengeluarkan payung dari dalam tas sekolahnya.

Tiba-tiba saja tubuhnya ditarik secara paksa oleh seseorang ke dalam sebuah gang yang gelap.

Sakura mulai panik dan berusaha memberontak, namun sialnya genggaman tangan pada kedua pergelangan tangannya sangat kuat. Saat Sakura menyadari kondisinya bukannya memperbaiki keadaan, tapi malah memperburuknya. Tubuh Sakura mulai gemetar saat melihat terdapat tiga orang pria bertubuh besar yang berdiri di hadapannya. Kedua bola matanya melebar seolah-olah akan terlepas dari tempatnya.

Sakura tidak tahu harus berbuat apa karena panik. Usahanya untuk melepaskan diri pun tidak membuahkan hasil sama sekali. Mulutnya pun tidak dapat mengeluarkan teriakan minta tolong karena sebuah tangan menutup mulutnya dengan kuat.

Hujan deras mulai mengguyur kota.

Air mata Sakura mulai mengalir bercampur dengan air hujan. Matanya tidak bisa lepas dari sebuah pisau yang berkilauan ditengah hujan. Pria yang memegang pisau tersebut berjalan mendekat dan menempelkan ujung mata pisau itu pada leher putih Sakura. Saat dirasa pisau itu mulai melukai lehernya—sekitar 4 cm, Sakura sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

Pada detik-detik keputusasaan, Sakura mendengar suara teriakan berat seorang lelaki. Betapa terkejutnya Sakura saat melihat salah satu dari tiga pria tersebut jatuh tersungkur di tanah. Saat mengedarkan pandangannya Sakura melihat seorang pria berambut merah berantakan dengan seragam sekolah yang sama dengan miliknya berjalan menghampirinya.

"Lepaskan gadis itu."

Meski di tengah hujan Sakura dapat dengan jelas mendengar suara tegas dan penuh ancaman tersebut. Kedua pria bertubuh besar itu melepaskan genggamannya pada Sakura dan mulai menyerang Sang Penolongnya secara bersamaan. Sakura ingin berteriak, namun suaranya tidak dapat keluar sama sekali. Ia hanya bisa duduk sambil memandang ngeri pada kejadian di hadapanya.

Dengan gerakan yang cepat, pria berambut merah tersebut menghindari berbagai serangan dan membalas dengan tendangan dan pukulan. Ia tidak terkena serangan sama sekali selama perkelahian tersebut, namun kedua lawannya sudah jatuh tergeletak di tanah.

"Kau baik-baik saja?"

Tubuh Sakura mulai gemetar, tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Pria berambut merah tersebut berjalan menghampirinya kemudian berjongkok di hadapannya. Tangannya terulur untuk menyentuh luka di leher sebelah kiri Sakura, namun dengan segera ditepis oleh Sakura. Sakura dapat melihat dengan jelas bagaimana mata hazel di hadapannya itu melebar karena terkejut.

Seketika kedua mata emerald Sakura terbuka. Nafasnya terengah-engah seolah baru saja menyelesaikan lari marathon. Sekujur tubuhnya berkeringat. Dengan perlahan Sakura memposisikan tubuhnya untuk duduk di atas kasur berseprai ungu miliknya.

"Mimpi itu lagi…" gumam Sakura pada dirinya. Secara refleks tangan kirinya bergerak untuk menyentuh bekas luka di lehernya yang sudah singgah selama satu tahun lamanya.

Sakura melirik ke arah jam dinding kamarnya. Jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Setelah mengatur nafasnya, Sakura segera turun dari kasurnya dan beranjak menuju kamar mandi. Sepertinya hari ini Haruno Sakura akan tiba di sekolah lebih pagi.

-oOo-

Di Konoha High School, jarang sekali terdapat kelas kosong. Biasanya guru pasti masuk kelas untuk mengajar, namun kali ini berbeda. Karena seluruh guru kelas 2 ada rapat dadakan, maka kelas Sakura saat ini menjadi ribut. Anak-anak banyak yang mengobrol, saling lempar kertas, belajar, dan sebagainya.

Karena mimpinya semalam, Sakura jadi memikirkan banyak hal. Bahkan Ia menolak saat Ino dan Hinata mengajaknya untuk mengobrol. Untuk saat ini Sakura ingin tenggelam dalam pikirannya sendiri. Wow, entah sejak kapan seorang Haruno Sakura menjadi orang yang melankolis seperti ini.

Sakura mengedarkan pandangannya ke luar kelas. Ditatapnya lapangan baseball di bawah. Ah, kebetulan sekali saat ini kelas Sasori lah yang sedang olah raga. Sakura dapat dengan leluasa memerhatikan senpai nya tersebut.

Sakura tidak bodoh. Sakura sudah melakukan berbagai macam penyelidikan dan pada akhirnya hasil menyatakan bahwa Akasuna Sasori lah pria tersebut. Pria berambut merah yang telah menolongnya pada 'hari itu' satu tahun yang lalu.

Semuanya bermula karena niatan Sakura untuk memastikan bahwa Sasori adalah benar orang yang telah menolongnya. Kemudian tanpa dirinya ketahui Sakura jadi lebih ingin mengetahui tentang sosok Sasori. Dirinya sampai-sampai bergabung bersama tim baseball WB dan menjadi manager disana. Entah sejak kapan, semakin hari semakin besar pula rasanya penasaran Sakura pada Sasori.

Sakura sering memerhatikan Sasori, pada awalnya, karena Ia mencari saat yang pas untuk mengucapkan terima kasih padanya. Namun karena satu dan berbagai hal, saat yang pas itu tidak pernah datang. Tidak saat Sakura menyadari keakraban Sasori dengan Konan.

Konan adalah sosok kakak kelas yang dihormati oleh Sakura. Tulisan yang rapi, pengaturan barang yang apik, serta gaya bicaranya yang tegas membuat Sakura kagum. Ia secara diam-diam mempelajari gerak-gerik Konan untuk memperbaiki dirinya sendiri yang kurang becus dalam bekerja. Meski seberapa kacaunya pekerjaan yang dilakukan Sakura, Konan tidak pernah memarahinya. Konan selalu menasihatinya supaya menjadi bisa dan terbiasa.

Di saat Sakura baru mengetahui ternyata Sasori hobi memakai topi. Di saat Sakura mengetahui rute pulang yang biasa dipakai oleh Sasori. Di saat Sakura menyadari bahwa dirinya tertarik pada Sasori, Konan mulai muncul dan membuat hatinya bingung.

Bukanlah pemandangan yang jarang saat Konan dan Sasori terlihat akrab. Pernah Sakura bertanya-tanya pada anggota baseball yang lainnya, termasuk Hidan dan Deidara, mengenai hubungan Sasori dengan Konan. Mereka semua mengatakan bahwa Sasori dan Konan hanyalah teman belaka. Mulanya Sakura percaya akan perkataan mereka, namun semua menjadi kembali semu ketika secara tidak sengaja suatu hari Sakura melihat Sasori dan Konan sedang bicara berduaan… dan terdapat rona merah pada pipi Sasori.

Entah apa yang sedang merasuki Sakura saat itu, namun dadanya terasa sakit sekali saat itu. Sampai-sampai Ia langsung berlari dan meninggalkan tugasnya sebagai manager untuk hari itu. Pada akhirnya sampailah Sakura pada satu kesimpulan.

Sasori menyukai Konan.

Memikirkan hal itu kembali rasanya membuat dadanya sakit. Apalagi saat ini dilihatnya Konan sedang berbincang-bincang akrab dengan Sasori di lapangan baseball sana.

Berkali-kali Sakura meyakinkan dirinya sendiri bahwa bagaimana pun perasaan Sasori terhadap Konan bukanlah urusannya. Yang harus Sakura lakukan hanyalah berterima kasih dan setelah itu kembali mengurusi urusannya sendiri. Tapi semakin hari berlalu, semakin sulit bagi Sakura untuk mengatakannya.

Berkali-kali Sakura meyakinkan dirinya sendiri bahwa Ia hanya sekedar tertarik pada Sasori karena ingin mencari momen yang pas untuk berterima kasih. Namun bersama dengan berlalunya hari, semakin pudar keyakinannya. Benarkah hanya sampai situ perasaannya? Benarkah sedangkal itu alasan Sakura menyimpan ketertarikan pada Sasori?

Selama Ia menjadi manager di klub baseball, entah sudah berapa kali Sasori membantunya. Contohnya saat buku data anggota klub baseball rusak karena kehujanan, Sasori yang membantunya mendata ulang. Atau contoh lainnya saat Sakura dimarahi karena menghilangkan sebuah bola, Sasori yang menemaninya mancari sampai malam. Contoh lainnya adalah ketika Sakura membawa setumpukan pamflet sewaktu hari promosi ekstrakulikuler. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.

Entah ini sebuah kebetulan atau bagaimana, Sasori memutar badannya dan melihat ke atas. Kedua mata emerald dan hazel itu saling bertemu. Mereka terus saling memandang, seolah enggan untuk melepaskan pandangan terlebih dahulu. Dan pada detik itu pula Sakura menyadari perasaannya.

Haruno Sakura menyukai Sasori.

-oOo-

Selama akhir pekan Ino dan Hinata menginap di rumah Sakura. Selama dua hari itu pula lah Sakura menceritakan mengenai segala yang ada di dalam pikirannya. Sakura bercerita mengenai dirinya yang menyukai Akasuna Sasori.

Ino dan Hinata hanya bisa tersenyum ketika mendengar pengakuan tersebut. Bahkan mereka berkata kalau Sakura telat menyadarinya dan mereka berdua telah mengetahui hal itu jauh sebelumnya. Mereka berdua tahu kalau Sakura memang masih pemula dalam hal percintaan, tapi tidak terpikirkan pula sampai butuh waktu satu tahun lebih bagi Sakura untuk menyadari perasaannya sediri.

Dalam kurun waktu dua hari tersebut yang Sakura dapatkan adalah, "Cepat utarakan perasaanmu pada Sasori senpai!" tapi semuanya tidak semudah itu. Ya, tidak mudah apabila Ia telah mengetahui bahwa Sasori memiliki gadis yang disukainya.

Sakura sudah bercerita pada kedua sahabatnya bahwa Sasori dan Konan tampak akrab, bahwa mereka berdua tampak seperti dua orang yang saling menyukai. Ino bersikeras bahwa itu hanya khayalan Sakura saja, tapi Sakura yakin bahwa itu bukan hanya khayalannya. Bagaimana pun Sakura tidak mau jadi penghalang kalau memang benar Sasori menyukai Konan.

Setelah empat jam mendapat 'ceramah' dari Ino dan Hinata, akhirnya Sakura memutuskan—dipaksa untuk mengutarakan perasaannya dalam kurun waktu seminggu ini. Mereka berpendapat bahwa Sakura sudah melewatkan waktu lebih dari cukup dalam menghindari perasaannya sendiri, dan sekarang Ia sudah menerima perasaannya sendiri maka ini saatnya untuk mengutarakannya.

Tapi Sakura malu, dia kan perempuan!

Pada akhirnya Sakura kalah dan Ia berjanji untuk mengutarakan perasaannya dalam seminggu ini. Bahkan sebenarnya Sakura sendiri tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk mengatakannya.

Hari ini Sakura ditugaskan untuk mengumpulkan buku tugas mata pelajaran Sosiologi oleh Kurenai sensei sepulang sekolah. Untung saja hari ini tidak ada latihan baseball jadi Ia tidak perlu terburu-buru.

Sakura menghela nafas dan memandang ke luar jendela. Pikirannya terbang entah kemana. Otaknya tidak dapat fokus sejak Ino dan Hinata memaksanya untuk mengutarakan perasaannya pada Sasori. Yang ada di otaknya hanyalah bagaimana Ia dapat mengutarakan perasaannya kalau berterima kasih saja membutuhkan waktu lebih dari satu tahun! Sakura pun menjatuhkan kepalanya ke atas meja kemudian menghela nafas panjang.

"Oh iya, Kurenai sensei menungguku," kemudian Sakura mengangkat tumpukan buku tugas milik teman-teman sekelasnya dan mulai berjalan meninggalkan kelas. Selama Sakura berjalan, pikirannya masih terbang entah kemana sehingga Ia tidak fokus pada apa yang ada di depannya. Di belokan menuju tangga sebelah Selatan secara tidak sengaja Sakura menabrak seseorang.

"Uuu… hei kalau jalan jangan mela—"

"Oh, Sakura. Sedang apa masih di sekolah sesore ini? Hari ini tidak ada latihan kan?"

Hampir saja Sakura membentak Sasori! Untungnya suara Sasori menghentikan niatnya untuk marah-marah. Betapa malunya Sakura kalau Ia sampai marah-marah pada Sasori padahal jelas sekali disini dirinya lah yang bersalah.

"Oh… senpai. Aku mau mengumpulkan buku tugas ini ke ruang guru, Kurenai senpai yang menyuruhku," ucap Sakura pelan sambil menundukkan kepalanya karena malu.

"Seperti biasa kau suka membawa barang-barang bertumpuk tinggi seperti itu ya," Sasori memberikan senyuman tipis pada Sakura, "Sini biar ku bantu setengahnya."

"A—ah, tidak usah sen…pai."

"Tidak apa-apa, ayo ke ruang guru bersama."

Hampir sepanjang perjalanan ke ruang guru mereka berdua hanya saling terdiam. Tapi secara tiba-tiba apa yang ada di dalam pikiran Sakura terucapkan begitu saja.

"Sasori senpai… baik ya."

Sasori menolehkan kepalanya ke arah Sakura, "Hm?"

Baru menyadari apa yang dikatakannya barusan, Sakura menjadi panik, "Ma—maksudku…" Sakura terdiam sebentar, "Ya… Sasori senpai memang baik. Aku heran kenapa laki-laki seperti senpai tidak jadi tipe yang populer di sekolah."

Terdengar suara tawa dari Sasori, "Aku bukan tipe yang bisa dengan mudah berbaur dengan orang lain, jadi orang-orang kebanyakan mengira aku ini dingin. Hmm… atau mungkin aku memang dingin?"

Sakura menggelengkan kepalanya sekuat tenaga, "Tidak! Senpai sama sekali tidak dingin! Bahkan senpai itu hangat!"

"Benarkah? Haha…"

Rasanya saat ini Sakura malu sekali. Kalau ada lubang, ingin rasanya Ia mengubur dirinya hidup-hidup seolah takkan melihat matahari lagi.

Tanpa terasa mereka sudah tiba di depan ruang guru. Sakura dan Sasori pun masuk dan menyerahkan buku tugas tersebut pada Kurenai sensei kemudian pamit.

Sakura dan Sasori berjalan menuju tangga, hendak kembali ke kelas masing-masing. Namun Sakura merasa ini adalah saat yang pas untuk menjalankan segala yang menjadi pikirannya selama ini. Sakura menghentikan langkah kakinya dan menanggil Sasori.

"Ano… senpai! Apa hari ini kau sedang… sibuk?"

Sasori menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menghadap Sakura, "Tidak, aku tidak sibuk sama sekali. Ada apa?"

"Bisa… temani aku ke atap gedung sekolah…?"

-oOo-

Angin berhembus cukup kencang sore ini. Pepohonan bergoyang searah dengan gerak angin. Suara daun yang saling bergesekan bagaikan musik yang mengiringi suasana canggung kedua orang manusia yang sedang berdiri di atap gedung sekolah.

"Anginnya sejuk juga," komentar Sasori saat Ia merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya. Rambut merahnya bergoyang karena tertiup angin.

Sakura berdiri di samping Sasori sambil menundukkan kepalanya. Tidak yakin akan apa yang akan keluar dari mulutnya, berhubung lagi-lagi isi kepalanya menjadi putih dan kosong. Wajahnya sudah memerah, beradu warna dengan cahaya matahari yang sebentar lagi terbenam.

"Senpai… apa senpai masih ingat kejadian setahun yang lalu?" tanya Sakura pelan, "Kejadian saat hujan dan senpai… menolong seorang gadis di tengah sebuah gang gelap."

Sasori hanya terdiam dan mendengarkan untaian kalimat yang diucapkan oleh Sakura.

"Mungkin senpai sudah melupakannya, tapi gadis itu masih belum bisa—tidak bisa melupakannya sampai detik ini. Baginya, kejadian tersebut telah mengubah kehidupannya…" Sakura menarik nafas kemudian menghembuskannya lagi, "Gadis itu masih merasa memiliki hutang budi, dan gadis itu adalah aku… senpai." Sakura memutuskan untuk mendongakkan kepalanya dan menatap intens sosok pria berambut merah yang ada di hadapannya. "Yah, mungkin senpai benar-benar sudah melupakan—"

"Siapa yang bilang aku sudah lupa?" terdengar Sasori memotong kalimat Sakura, "Aku tidak lupa. Aku masih ingat kejadian itu."

Sakura cukup terkejut karena ternyata Sasori masih mengingatnya, selama ini Sakura selalu mengira Sasori sudah melupakan kejadian itu. "Ahaha… masih ingat ya? Umm… itu…" Sakura dengan segera membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, "Terima kasih. Aku sangat berterima kasih pada senpai karena telah menolongku waktu itu. Kalau tidak ada senpai… aku… aku…"

Sasori jadi canggung ketika Sakura bertingkah seperti itu. "A... syukurlah Sakura tidak membenciku."

Sakura mengangkat kepalanya dengan sangat cepat, "Benci?!"

Sasori menggaruk belakang lehernya dengan kaku, "Waktu itu, di 'hari itu' satu tahun yang lalu. Ketika aku mau menutup luka di lehermu dengan sapu tanganku, kau langsung lari sambil menangis," Sasori memperhatikan luka pada leher Sakura dan pancaran matanya menyorotkan penyesalan, "Jadi kukira kau membenciku."

Secara refleks Sakura menutupi bekas luka di lehernya, "Ma—mana mungkin aku bisa membenci orang yang telah menolongku! Bahkan sebenarnya selama satu tahun ini aku selalu mencari-cari saat yang tepat untuk berterima kasih padamu, senpai!"

Keheningan menyelimuti mereka berdua. Hanya suara angin yang berhembus dan daun yang bergesekan yang jadi latar belakang suasana bagi mereka. Keduanya terdiam sambil menatap satu sama lain. Detik berikutnya keduanya saling tertawa lepas.

"Hahaha… jadi selama ini kita berdua saling salah paham?"

"Sepertinya begitu senpai, hahaha…"

Sasori terlebih dahulu menghentikan tawanya. Ia berjalan maju satu langkah dan mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh bekas luka di leher Sakura, "Maafkan aku, gara-gara aku telat datang kau jadi terluka seperti ini…"

Entah sudah semerah apa warna muka Sakura saat ini. Lehernya terasa sangat panas ketika bersentuhan dengan kulit tangan Sasori. Terasa panas, namun tidak membuatnya ingin menghindar, malah sebaliknya. Sakura menikmati sentuhan Sasori pada lehernya saat ini.

Seolah tersambar petir, pada detik selanjutnya Sakura melompat mundur satu langkah kemudian membuang muka dari Sasori. Hal ini tentu saja membuat Sasori sangat terkejut. Apakah Sakura memang membencinya?

"Senpai jangan berbuat baik padaku terus…" Sasori yang tidak mengerti maksud dari perkataan Sakura hanya bisa diam dan membiarkan Sakura melanjutkan kalimatnya, "Senpai curang… jangan membuatku berharap terus."

Karena Sasori semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini, Ia pun memutuskan untuk angkat bicara, "Curang? Maksudmu apa, Sakura?"

"Senpai selalu berbuat baik padaku, menolongku… senpai memberiku harapan seperti itu… padahal senpai menyukai Konan senpai," saat ini ekspresi wajahnya tengah tertutupi oleh bayangan dari poninya sehingga Sasori tidak tahu bagaimana ekspresi Sakura saat ini.

"Konan? Sakura, kenapa tiba-tiba membawa nama Konan disini?"

Sakura meremas kain roknya kuat-kuat, "Iya kan? Senpai terlihat sangat akrab dengan Konan senpai. Senpai pasti… menyukai Konan senpai kan?"

Sasori mentap heran ke arah Sakura. Dilihatnya tangan Sakura yang mengepal roknya dengan kuat. Mulanya Sasori berusaha menahan, tetapi pada akhirnya Ia tidak bisa lagi menahannya. Sasori tertawa lepas, lebih daripada yang sebelumnya.

"Hahaha… kau kira aku menyukai Konan? Yang benar saja. Bisa-bisa aku dibunuh duluan oleh Pein hahaha…" Sasori sampai memeluk perutnya sendiri karena sulit menghentikan tawanya.

Dengan cepat Sakura mengangkat wajahnya dan menatap dengan mata yang membulat, "Pe…in?"

Setelah hampir satu menit lamanya akhirnya tawa Sasori mereda. Ia menyeka air mata yang berkumpul pada ujung matanya karena terlalu puas tertawa, "Iya, Pein. Aku dan Konan adalah teman sejak SMP. Kami berdua bersahabat dengan sejumlah orang dan salah satunya adalah Pein, namun kami semua terpisah sekolah saat SMA ini. Orang yang bernama Pein ini adalah kekasih Konan sejak kelas 1 SMP. Mana mungkin aku berani menyukai gadis yang kekasihnya protektif seperti Pein haha…"

Wajah Sakura memerah sampai ke telinga-telinganya. Malu sekali rasanya ternyata asumsinya selama satu tahun ini adalah kesalahan konyol! Sakura, kemana otakmu selama ini!

"Jadi… jadi senpai dan Konan senpai tidak ada… hubungan apa-apa?"

"Hmm… kalau yang lebih dari teman sih tidak ada," jawab Sasori sambil memindahkan berat tubuhnya ke satu kaki.

Kaki Sakura terasa lemas sekali sehingga saat ini Sakura langsung terduduk lesu. "Aku kira… aku kira… hiks…" kalimatnya tidak bisa dilanjutkan karena ternyata air matanya mulai mengalir dan Sakura mulai sesenggukan.

Sasori ikut berjongkok di hadapan Sakura sambil menatap khawatir gadis merah muda di hadapannya, "Sakura? Hei Sakura, kenapa tiba-tiba menangis?" tangannya terulur untuk menyentuh pundak Sakura.

Untuk beberapa saat Sakura masih menangis, membiarkan air matanya mengaliri pipinya. Lega. Entah kenapa saat mendengar jawaban Sasori tadi hatinya terasa lega sekali sampai-sampai tanpa disadari air matanya keluar. Perasaan macam apa ini?

Sasori membiarkan Sakura menangis untuk sementara. Tangannya mengulurkan sebuah sapu tangan berwarna merah kepada Sakura, "Ini, pakailah."

Sakura merasa nostalgia dengan kondisi ini. Rasanya ini seperti keadaannya satu tahun lalu saat pertama kali Ia bertemu dengan Sasori. Dirinya yang sedang menangis dan Sasori mengulurkan sapu tangan. Namun kali ini tanpa hujan dan luka berdarah di lehernya. Dan kali hari ini, sore hari ini, akan berbeda dengan sore hari tahun lalu.

Sakura menerima sapu tangan dari Sasori. Sakura menggenggam sapu tangan Sasori dengan erat.

"Senpai!" Sakura mendongakkan kepalanya untuk bertemu pandang dengan mata hazel Sasori, "Senpai, aku… sebenarnya aku…!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

THE END

.

.

Author's note: Haloha! Aria update chapter 2 dan chapter terakhir ini nih XD Gimana komentarnya? Semoga feels nya dapet yah. Yaay akhirnya ada cerita lain selain Onii-chan or Aniki punya Aria yang udah tamat. Kalau berkenan coba baca twoshot Aria yang itu ya! #promosi #plak

Ending twoshot ini gantung ya? Haha… Aria sengaja bikin kayak gitu biar greget! #plak Dapet gak sih gregetnya? Sekalian anti mainstream aja gitu kan ending gantung :3 Hoho…

Untuk chapter ini judulnya Aria ambil dari judul lagu juga, Listen to My Heart! – NicoRinPana dari Love Live! Lagi suka banget nih Aria sama Love Live! Ada yang LLiver juga kah disini? :3

Special thanks buat yang udah review chapter sebelumnya ya: AzuShima-Nyan, ReginaIsMe16, Sherry Hoshie Kanada, .9847, aeon zealot lucifer, hinatasakura. Mohon maaf kalau ada kesalahan pengetikan nama. Dan minna-san yang masih malu-mau review jadi cuma silent reader aja :3 No worries, I don't bite hoho…

Sampai bertemu di cerita Aria yang lainnya!

Dimohon review nya ya senpai-tachi XD Bukan flame nya o3o