The Patient

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Sorry for typo , new author :)

Pairing : Naruto Namikaze Hinata Hyuuga

Slight : akan banyak karakter (maybe)

This is my story , so happy reading :)

Hinata pov

Brrrm..Brrrm.. Derungan motor di belakangku kini mengalihkan perhatianku. Entahlah aku merasa kenal dengan suaranya, rasanya tak asing lagi ditelingaku. "DEG" pacuan jantungku seakan berhenti. Aku tau mengapa suara motor itu begitu familiar. Itu memang motornya, lengkap dengan si pengendara dan yang di bonceng di belakangnya,Naruto dan Sakura. TIDAK! Lagi!ini terjadi lagi. Cukup!aku muak melihatnya. Tuhan kumohon jangan tunjukan ini dihadapanku , butakan mataku detik ini saja, atau tulikan telingaku kali ini saja. Kupaksakan kakiku lari bersembunyi dari pandangan mereka, kubiarkan mereka lewat tanpa mereka tahu aku mengetahuinya. Dan sekali lagi mataku membulat,dengan santainya Sakura memeluk Naruto ku. Bercanda-canda,tertawa,hal yang tak pernah ku lakukan bersamanya. Mereka berbelok menuju parkiran dan saat itu juga ku pacu langkahku meninggalkan tempat persembunyianku. Air mataku tak terbendung siap untuk keluar . Aku ingin kesana, seperti biasa aku ingin menangis disana.

Dan lagi aku menangis, di taman belakang sekolah yang sudah tak terurus. Tempat yang tidak satu orang pun menginjaknya lagi. Aku yakin tempat ini aman. Menangis?ya menangis dalam diam. Aku tak ingin seorang pun tahu akan hal ini. Aku tidak mau disebut lemah,cengeng,atau apapun. Dan lagi aku tidak ingin orang-orang bosan melihatku yang hampir setiap hari menangis. Kututup mukaku dengan kedua tanganku aku tak kuat lagi Tuhan.

"Masih pagi untuk kau menangis,Hinata! Apa kau tidak bosan hampir setiap hari menangis diam-diam disini. Seperti orang bodoh."ejeknya sarkastik.

Tubuhku menegang seketika , badanku rasanya bergetar, mengapa orang itu tahu? Saking takutnya aku sampai tak berani mengangkat kepalaku.

" Angkat wajahmu,cengeng. Tidakkah kepalamu akan merasakan sakit jika terus dalam posisi seperti itu?" ejeknya.

Perlahan-lahan kudongakkan kepalaku keatas.

"Sa..Sas..Sasuke?" begitu terkejutnya aku, tangisanku berhenti walaupun isakannya masih belum hilang.

"Terkejut melihatku,cengeng?" ujar sang uchiha sasuke. Masih dengan keterkejutanku, aku melihatnya. Oh Tuhan apalagi ini ?

"jangan melihatku dengan tatapan bodoh itu,cengeng" ujarnya begitu dingin.

Kata-katanya begitu kejam, membuatku kembali berkaca-kaca.

Sasuke hanya memutar matanya.

"Baiklah hentikan. Langsung saja ke topik permasalahannya. Kau menangis karena melihat Sakura datang bersama si dobe dan mereka semotor berduakan?Lalu melihat si pink itu memeluk Narutomu,apa benar?" ujarnya santai.

Aku terkejut (lagi) kenapa ia mengetahuinya?

"Semua orang tahu itu,cengeng." Ujarnya seperti membaca pikiranku."Teman-temanmu sering mengingatkanmu tentang ini, dan bodohnya kau tidak mau mendengarkan mereka. Hanya diam berpura-pura tegar dan berkata mereka hanya teman,itu biasa.lalu tersenyum palsu untuk menutupi semuanya. Sekarang setelah kesekian kalinya kau melihat mereka berdua , apa kau baru sadar kalau seperti itukah yang namanya pertemanan,Hinata?"ujarnya lagi dengan nada yang mengejek saat dia meniru gaya bicaraku dan melakukan penekanan diakhir kalimat.

"k..ka..kau ta..hu i…"

"Aku tahu semua yang terjadi ,cengeng. Aku tahu setiap hari kau menangis,tempat inilah yang menjadi persinggahanmu,. Aku tahu saat study tour kemarin kau menangis di bus,melihat si dobe tengah mencium si pink itu didepan wajahmu. Aku tau semua, Hinata. Tapi kau malah diam dan itu membuatku gila,Hinata!Gila." ujarnya setengah berteriak.

"a..ku…"

"Bisakah setidaknya kau protes sedikit saat dia mengacuhkanmu, atau kau berpura-pura marah saat dia lebih memperhatikan si pink daripada kau,HInata. JAWAB HINATA!" ujarnya kini benar-benar teriak. Aku tidak mengerti. Kenapa ini? Aku takut, apalagi ini Tuhan ?

"Aku telah membuatmu hancur sebelumnya. Aku tidak ingin ada yang menghancurkanmu lagi. Cukup aku yang membuatmu menderita,Hinata. Apa kau tidak lelah? Terus menerus menjadi patung pajangan bagi orang yang kau cintai? Apa kau tidak bosan Hinata ? "

Aku tersentak, luka lama itu untuk apa diungkitnya lagi. Rasa sakit itu untuk apa diingatnya lagi. Aku mundur sedikit-sedikit dari hadapannya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirku. Aku ingin pergi sekarang detik ini juga. dan ia kurasa mengerti.

"Hinata,aku tidak bermaksud…"

Aku hanya menggelengkan kepalaku lemah. Airmataku lagi-lagi turun semakin deras. Aku mencoba berlari dan berbalik pergi. Tapi ia menahan tanganku dan langsung memelukku erat.

"Maafkan aku,Hinata. Aku tidak bermaksud mengingatkanmu tentang luka pahit yang dulu ku buat, aku menyesal dan kesal pada saat yang bersamaan. Aku khilaf maaf,Hinata. Aku kesal Naruto terus menerus membuatmu seperti ini. Membuatku semakin merasa bersalah. Aku tahu kau kuat untuk menyembunyikan lukamu, tapi aku ingin kau kuat untuk membuktikan bahwa kau tidak bisa seenaknya diperlakukan sedemikian rupa olehnya." Ujarnya kini melembut suaranya serak seperti menahan tangisan. Aku hanya bisa menangis lebih keras dipelukannya.

"namun jika kau tak sanggup dan ingin menyerah,menyerahlah"ujarnya lagi

"bukan maksudku mempengaruhimu untuk putus dengannya. Tapi aku hanya tidak ingin melihatmu terus seperti ini. Luka yang kubuat belum tentu sembuh,ditambah lagi dengan lukanya, aku yakin itu lebih menyakitkan,Hinata"ujarnya semakin mengencangkan masih tetap menangis.

%

Teng..Teng..Teng.. Bel istirahat berbunyi. Hampir semua murid menghambur keluar kelas, termasuk Naruto dan Sa.. Sakura. "fiuh" aku hanya menghela nafas tak ada sedikitpun nafsuku untuk makan,ke kantin atau sekedar menggeser dari tempat dudukku. Hari ini Ino tidak masuk . Padahal aku ingin bercerita banyak padanya.

"" suara cempreng memekakan telinga itu sukses membuatku tersadar dari gerumulan pikiranku.

"Kau tak perlu berteriak seperti itu, " ujarku pelan sambil sedikit tertawa kecil .sebisa mungkin aku menutupi kegundahanku.

"Maaf aku kelewat tahu? Kemarin malam Shikamaru menelponku, ia menemaniku mengerjakan tugas semalam. Aku memaksanya tetap terjaga padahal aku tahu dia sepertinya mengantuk sekali,hihi. Tapi walaupun berulang kali kata merepotkan ku dengar darinya, ia tetap menemaniku. dan akhirnya ia tertidur, aku mendengar jelas suara dengkurannya haha." ujar Temari dengan bangganya. Dia memang sering bercerita mengenai Shikamaru. Temari dan Shikamaru sedang melakukan "pendekatan" akhir-akhir ini (mungkin) dilihat dari bagaimana cerita Temari tentangnya. Kurasa dua-duanya saling menyukai walaupun mereka tidak mengakuinya. Padahal aku ingat betapa dulu temari sering menjelek-jelekan shikamaru, dulu memang mereka bermusuhan tanpa alasan namun sekarang mungkin berubah saling mencintai tanpa alasan pula. Sungguh manis,dia membuatku iri.

aku hanya tersenyum "kau jahat sekali, aku yakin itu kesiangan hari ini." komentarku

"haha kau benar sekali,Hinata. Ia memang datang terlambat dan terus-menerus mengomeliku karena harus mengelilingi sekolah sebanyak 20 kali putaran. Tapi kasihan juga sih jadi tadi aku meminta maaf padanya walaupun aku masih tidak dapat menyembunyikan tawaku." ujar Temari tertawa puas kali ini.

"kau benar-benar jahat,Temari." ujar tenten yang tiba-tiba datang seraya menunjuk temari yang tengah tertawa puas.

Temari hanya tersenyum bangga.

"Kalau kemarin aku diantarkan pulang oleh, umm Lee." ujar Tenten tersenyum malu-malu.

"Benarkah, kyaaaaaaa ceritakan pada kami Tenten."

Tenten mulai bercerita namun aku tak menyimaknya pikiranku melayang jauh. Kenapa hanya aku yang tidak mempunyai kisah indah?

"Blablabla...dan Bla..." ujar Tenten lagi

"kyaaaaaaaaaaa, aku yakin sebentar lagi kau akan jadian dengannya." teriak Temari yang kembali menyadarkanku.

"Itu tidak mungkin, Lee sudah mempunyai kekasih."ujar Tenten,raut mukanya berubah menjadi sedih.

"ahaha,aku aku , maafkan aku." ujarnya tersenyum menyesal. "Lalu bagaimana denganmu Hinata? Ayo ceritakan tentangmu dan Naruto."ujar temari semangat sambil nyengir tanpa dosa pada Tenten.

"Ba...' Baru saja aku akan menjawab. Dua orang pemuda-pemudi masuk dan berdiri didepan pintu,mereka terlihat asik tertawa cekikikan. si pink dan si kuning. Dua insan yang tak menyadari sedang diperhatikan oleh kami. Aku,Temari dan Tenten tiba-tiba diam,keheningan terjadi diantara kami.

"Errr.. Kurasa aku lapar,Tenten,Ino,Hinata. Ayo ke kantin." ujar Temari menarikku dan Tenten terlihat sekali ia Tengah mencoba mencairkan suasana yang mendadak hening.

"emm,Temari? Ino tidak masuk hari ini." ujar Tenten mengingatkan.

"eh , hehe aku lupa. Kalau begitu ayo Hinata, Tenten" ujarnya dengan cengiran malu.

Diseretnya aku dan Tenten.

"MINGGIR! Aku mau lewat!" ujar Temari tajam menerobos dua insan yang masih cekikan di depan pintu.

"Biasa saja,Nona. Kau bisa menyakiti kami berdua jika jalanmu sekasar itu." ujar si pink sarkastik.

Temari mendadak berhenti.

"Kalian yang menyakiti orang,Tuan Putri. Bukan aku!" jawab Temari mendecih jijik. Segera ia berlari pergi dengan Tenten digandengnya dan aku di tinggalkannya di depan pintu.

"Dasar perempuan." gerutu si kuning.

Kulangkahkan kakiku untuk menyusul Temari. tapi dengan wajah yang dipura-purakan kaget tiba-tiba Naruto membukakan jalan untukku.

"Hime-ku akan lewat rupanya. Beri Hime-ku jalan semuanya." Ia membungkuk dalam seolah pengawal istana yang membukakan jalan untuk putri kerajaan.

Biasanya semarah apapun aku atau sekesal apapun aku padanya aku akan luluh dan tersipu-sipu jika digoda seperti ini olehnya. Namun kali ini entah mengapa aku hanya menatapnya sekilas bergantian antara Naruto dan Sakura sebelum akhirnya memalingkan wajah dengan raut muka yang kelewat datar tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Kau kenapa,Hime? Tidak biasanya kau seperti ini?" ujar Naruto menarik tanganku.

aku melihat kebelakang sebentar.

"Seperti biasa Naruto-kun,Aku tidak apa-apa." ujarku tersenyum dingin malah kelewat datar sambil melepaskan pegangan tangannya.
Aku melangkah pergi. Kurasakan mereka masih memandangiku dengan tatapan "Apa itu dia atau memang dia yang sedang dirasuki". Namun aku masih tetap melangkah terus,meninggalkan mereka yang masih menatapku tidak percaya.

"PLOK..PLOK..PLOK.. Kau sadar dengan cepat rupanya,Hinata" ujar seorang laki-laki sambil bertepuk tangan sarkastik.

"Kaau..."

.

.

.

.

.

.

.

fiuh chapter 2 selesai :) terimakasih untuk yang sudah review sebelumnya.

Hanazawa Rui : Terimakasih sebelumnya sudah menjadi orang pertama yang me review fic gaje ini *pelukerat*. Maafkan,mungkin dichapter depan Hinata tak akan selugu itu. Terima kasih sekali lagi terutama untuk motivasinya *peluuuuuuuuuuuuuk*.

Amazuki zyn : Terimakasih untuk sekarang sudah sedikit lumayan?iihihhi. Terimakasih juga untuk reviewnya *bighug*

Ritard. : Terimakasih untuk komentarnya. Maaf untuk kesalahn dimana-mana. Author belum tau banyak mengenai Fanfiction jadi mohon maaf.,ihihihi. Mungkin akan lebih diperhatikan lagi. Boleh saya minta contoh Jasa Beta Readers itu seperti apa? Ya memang brengs*k sepertinya Naruto disini *evillaugh*. Sekali lagi terimakasih :)

Setshuko Mizuka : Benarkah?*loncat*. Author senang sekali mendengarnya. Salam kenal juga Setshuko Mizuka-san *bungkukdalemdalem*. Masalah itu saya hanya salah meng-klik maafkan Author ini :)

MizunaRaira : Terimakasih banyak banyak untuk MizunaRaira-san. Saran anda sangat berarti. Terimakasih juga telah menjelaskan tentang cara penulisan yang benar. Apa sekarang tulisan author sudah agak mendingan? Mungkin author harus banyak belajar pada anda. Lain kali author akan menghubungi anda. Sekali lagi terimakasih :) . Salam kenal ya :::) *BIGLOVE..LUNG*

ramdhan-kun : pasti akan saya lanjut. terimakasih untuk reviewnya sangat berguna :) tetap read and review ya *ting*.

Cahyaputra: Terimakasih untuk Reviewnya sangat membantu. Terimakasih.

. Author senang responnya cukup membuat saya kelewat bahagia. Apakah ada yang percaya? Sebenernya sedikit atau lebih banyak cerita ini sesuai pengalaman pribadi Author,ihihihi.

Maafkan author yang banyak bacot,gaje dan malah curhat ini. terakhir seperti biasa

READ AND REVIEW YA

Melin-chan