Ino Yamanaka merupakan satu-satunya perempuan yang masuk ke dalam lingkaran pertemanan diantara Sasuke, Sai, Naruto, dan Gaara sejak masa SMA. Kedekatannya dengan Sai yang merupakan sepupu Sasuke mungkin menjadi alasan awal bergabungnya Ino dengan kumpulan laki-laki populer di kampusnya. Ino diam-diam bersyukur karena empat teman dekatnya itu memilih untuk melanjutkan kuliah di kampus yang sama. Meskipun sedikit menyayangkan keputusan Neji yang justru ingin melanjutkan kuliah di kampung halaman sang ayah.
Jika ditanya apakah Ino juga dekat dengan Hinata, maka Ino akan dengan tegas menjawab tidak. Neji dan Sasuke terkadang memang berdebat saat membahas mengenai 'Hinata' saat hang out sepulang sekolah. Namun Ino cukup sadar diri untuk tidak terlalu penasaran dengan pembicaraan orang-orang di sekitarnya.
Ino pernah dikenalkan dengan Hinata sekitar empat tahun yang lalu saat berkunjung ke kediaman Hyuuga untuk pesta barbeque merayakan ulang tahun Neji. Pada saat itu Hinata masih duduk di kelas delapan. Wajah manisnya masih jelas menunjukkan sisi kekanakan, namun pembawaannya yang tenang dan santai membuat Ino yakin bahwa gadis kecil itu mampu mengimbangi pergaulan lingkaran pertemanan mereka.
Tidak ada yang memberitahu Ino tentang fakta bahwa Sasuke menyukai Hinata saat itu. Namun saat melihat perhatian Sasuke yang tampak lain terhadap gadis itu, Ino dapat segera mengambil kesimpulan. Dan bukan sekali dua kali Ino pernah melihat Sasuke bastard memberikan kecupan di bibir gadis yang bahkan usianya masih belum genap lima belas tahun. Well, tentunya Ino tidak perlu berpikir dua kali untuk menyimpulkan bahwa sang Chiken butt yang seolah sok jual mahal itu ternyata bukan seorang homo kesepian.
Dan setelah sekian lama, Ino kembali melihat Hinata yang kini menjadi sosok perempuan yang cukup dewasa di kantin kampusnya. Meskipun tetap ada beberapa hal yang tidak berubah darinya. Ino masih mendapati senyum menenangkan Hinata, suara jernihnya, dan pandangan matanya yang ramah. Ah, memiliki pembawaan yang riang juga jelas membuat Hinata dengan cepat bisa menyesuaikan diri dengan konten obrolan absurd teman-teman dekatnya.
Bunyi dentingan gelas membuyarkan lamunan Ino sejenak. Diliriknya laki-laki yang duduk di sebelahnya dengan pandangan datar.
"Kau sudah memandanginya sekitar…" laki-laki itu melirik jam yang melingkari pergelangan tangan kanannya. "sepuluh menit,"
Ino menaikkan sebelah alisnya sejenak kemudian mendengus pelan. "Demi Tuhan, kau jadi semakin menyebalkan," Sasuke meringis pelan saat kepalan tangan Ino mendarat di tulang rusuknya.
Ino tidak bisa memungkiri bahwa Sasuke belakangan ini memang lebih terlihat lebih ekspresif. Dan kembalinya Hinata di keseharian Sasuke jelas menjadi satu-satunya alasan yang dapat Ino pikirkan. Well, dengan adanya Hinata jelas membuat Ino merasa sedikit senang karena sekarang. Ino tidak akan lagi dilabeli sebagai satu-satunya perempuan yang dapat masuk dalam lingkaran pertemanan para laki-laki tampan.
.
.
.
Fluffy Love
Oleh Kecebong
Naruto milik Masashi Kishimoto
.
.
.
Sepanjang perjalanan pulang, Hinata tidak berhenti bercoleteh tentang betapa senangnya dia bertemu kembali dengan teman-teman dekat Sasuke. Selama Hinata berada di Suna, dia hanya dapat beberapa kali bertemu dengan Naruto dan lainnya pada saat libur panjang. Rasanya keputusan untuk kembali ke Konoha adalah keputusan paling tepat yang pernah dibuatnya.
Hinata juga menceritakan tentang ajakan Ino untuk membeli referensi buku-buku yang menunjang perkuliahan semester pertama Hinata di fakultas Ilmu Pendidikan. Selama di Konoha Hinata susah mendapatkan teman perempuan yang membuatnya merasa nyaman. Sebagian besar perempuan yang berteman dengan Hinata saat SMP dulu memiliki maksud lain: ingin dekat dengan Neji dan Sasuke misalnya. Dan sekarang bisa berteman akrab dengan Ino benar-benar membuat Hinata merasa bahagia.
Mobil yang dikemudikan Sasuke berhenti untuk menunggu lampu hijau menyala. Tangan kiri Sasuke menggenggam pelan jemari-jemari kecil perempuan yang duduk di sebelahnya. Hinata tersenyum perlahan, merasa senang dengan afeksi sederhana dari laki-laki yang selalu memenuhi isi kepalanya. Mata pucat Hinata terpejam saat bibir Sasuke menyentuh bibirnya perlahan. Hinata selalu menyukai jenis ciuman yang santai seperti ini.
"Jangan lupa berteman dengan teman seangkatan denganmu juga," Sasuke berbisik pelan kemudian mendaratkan kecupan singkat di pipi kiri Hinata.
Hinata tersenyum dan mengangguk dengan semangat. Sasuke benar, Hinata juga harus berteman dengan teman-teman seangkatannya juga. Kau tahu? Teman adalah salah satu faktor penting yang dapat membuat kehidupan perkuliahanmu menjadi lebih berwarna.
.
.
.
Pada bulan pertama menjalani perkuliahan Hinata sudah mendapatkan beberapa teman yang cukup menyenangkan. Sakura dan Tenten adalah teman sekelas yang belakangan sering mengajak Hinata untuk hang out bersama saat usai perkuliahan. Hinata merasa nyaman saat bersama mereka berdua. Sejauh ini Hinata belum pernah mendengar mereka mengungkit mengenai latar belakang keluarganya ataupun masalah kedekatannya dengan Sasuke dan yang lainnya. Well, sepertinya Hinata sudah menemukan teman yang dapat membuatnya menjadi diri sendiri kapan saja.
.
.
.
Sabtu malam biasanya Hinata akan menginap di kediaman Uchiha. Sabtu siang Hinata akan dimonopoli oleh Mikoto dengan dalih ingin mengajari Hinata membuat berbagai macam cake. Sore ini Mikoto dan Hinata akan membuat choco chips cookies yang rencananya akan diberikan kepada Sakura dan Tenten sebagai ungkapan terimakasih karena sudah mengajari Hinata bermain gitar. Instrument musik yang dapat Hinata mainkan sampai saat ini hanya piano. Saat mendengar Tenten mahir memainkan gitar, Hinata dengan semangat ingin mencoba belajar.
Sasuke kurang suka makanan manis, sehingga Hinata sengaja membuat dua adonan dengan kandungan gula tepung dan susu bubuk yang berbeda. Saat dua loyang cookies sudah dimasukan ke dalam oven waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Masih butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk menunggu cookies-nya matang.
Hinata segera mencuci tangan kemudian melepas apron birunya. Setelah meminta izin sebentar kepada Mikoto, Hinata segera melangkah ke ruang tengah untuk menemui Sasuke yang sedang menonton acara berita di televisi.
"Sudah selesai?" Sasuke bertanya setelah Hinata duduk di sebelahnya. Setelah merapatkan posisi duduknya dengan Hinata, Sasuke kembali memfokuskan pandangannya pada layar televisi.
"Tinggal menunggu matang," Hinata tersenyum saat merasakan tepukan lembut di puncak kepalanya. "Besok aku tidak mau lari pagi," Hinata merebahkan kepalanya di pundak kiri Sasuke.
"Basket?" Sasuke menawarkan pilihan lain. Hinata tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk pelan. Minggu pagi biasanya Sasuke mengajak Hinata berolahraga. Entah hanya sekadar jogging di sekitar kompeks, bersepeda, atau bermain basket di lapangan belakang rumah.
"Love you," Hinata berbisik pelan sembari memberikan ciuman di leher Sasuke.
.
.
.
Sasuke melepas headphone saat mendengar ketukan dari pintu kamarnya. Mata gelapnya melirik layar laptop yang menunjukkan pukul dua dini hari. Hinatakah? Sasuke segera bangkit dan melangkah ke arah pintu.
Dengan mata pucat yang tampak mengantuk, Hinata masuk ke kamar Sasuke. Dia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur kemudian memejamkan kedua matanya.
Sasuke melangkah pelan dan duduk di dekat Hinata. Tangan kanannya mengelus pelan pipi kiri Hinata. "Mimpi buruk?" tanyanya pelan.
"Um," Hinata membuka kedua matanya kemudian meringis pelan. "Aku takut,"
Sasuke menghirup udara dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan. Dia cukup paham kebiasaan Hinata ketika bermimpi buruk.
Sasuke bergerak menuju meja belajar, merapihkan buku-buku yang tadi dibacanya, mematikan laptop, dan mematikan lampu kamar. Lampu di atas meja nakas sebelah kiri sengaja dibiarkan tetap menyala. Hinata menggeser posisi tidurnya ke sebelah kiri sehingga menyisakan sisi kanan tempat tidur yang akan ditempati oleh Sasuke.
Setelah Sasuke ikut berbaring, Hinata memiringkan posisi wajahnya agar berdekatan dengan wajah kekasihnya. Hinata membiarkan tangan kirinya membelai pelan wajah Sasuke.
"Kurasa mimpi buruk hanya alasan," Sasuke tersenyum pelan saat melihat wajah cemberut Hinata. Laki-laki itu memberikan ciuman yang sedikit menuntut pada bibir perempuan yang sangat disayanginya.
Baik Sasuke maupun Hinata sangat memahami bahwa jenis ciuman yang mereka lakukan akan selalu berkelanjutan. Dan tentunya akan berakhir di saat keduanya mulai kelelahan.
.
.
.
Terimakasih sudah menyempatkan membaca fic super singkat ini. Sebenarnya nggak niat mau ngepublish, tapi rasanya sayang kalau dihapus gitu aja tanpa ada satu dua orang yang baca. Ini fic ternyata udah lamaaaaaa banget bong tulis. Nemu ini fic pas beres-beres file.
Hm, intinya sih sedikit lanjutan. Nah, jadi mohon maaf apabila minna kurang berkenan dengan fic bong yang ini ya. Kesibukkan di dunia nyata lebih banyak bikin bong nggak punya banyak waktu buat bikin plot SasuHina. Jadi, sekali lagi mohon maaf dan terimakasih udah setia nungguin dan ngasih dukungan ke bong.
