Apa yang kurasakan ini? Mengapa… ?

Mengapa aku selalu mengingat hal itu? Hal yang jelas tidak mungkin terjadi!

Aku- … aku dan dia satu 'kan? Akan tetapi mengapa? Waktu itu….

Semuanya terasa begitu nyata, begitu cepat terjadi, dan begitu cepat sirna….

Merenung di balkon kamarku, menatap kelopak sakura yang terbang bersama angin pagi, percuma saja… aku tidak mendapat pencerahan sama sekali. Yang ada… kejadian itu semakin kuat tertanam di otakku. Membuat keringat dingin mengucur secara teratur dari keningku.

Mengapa jadi begini?

Mengapa semuanya begitu membingungkan?

Mengapa aku tidak bisa menemukan satu pun jawaban rasional untuk masalahku?

Lalu mengapa… akhir-akhir ini dia selalu muncul dalam mimpiku? Adakah yang bisa menjawab? Mengapa semuanya terasa ambigu?

Nurarihyon no Mago © Shiibasi Hiroshi

-BAB 1: 5Q-Why?-

Rated : T

Beta by Lunaryu

Genre : H/C/Angst/General/Romance/Fantasy/Supernatural/etc….

Warning : semi-cannon, AT, contain of BL, shounen-ai, typo(s) inside and many more?

As for my dream being somewhere

The shadow or shape are not visible

Mentari sudah kembali menduduki tahtanya, menyinari seluruh pelosok kota Ukiyoe dengan sinar hangatnya. Tak terkecuali Main House of Nura Clan, rumah bergaya Jepang kuno yang hampir seluruh penghuninya adalah yokai, jugaterasa hangat karena sinar sang mentari.

Semua penghuninya juga terlihat bahagia… ah~ tidak, tidak semuanya. Seorang pemuda dengan rambut berwarna coklat gelap pada bagian atas dan warna hitam di bagian bawah tampak murung memandang kelopak sakura yang terbang terbawa angin.

Beberapa kali helaan nafas keluar dari indra penciumannya, gerak-geriknya pun tampak tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang… mengganjal.

Dengan pakaian santai-yukata panjang yang dibiarkan agak longgar pada bagian atas, mengekspos bagian dadanya yang cukup bidang dengan sempurna. Walaupun ada beberapa luka sayatan di sana, seperti luka gigitan. Entahlah… sudah tidak begitu jelas.

Yang pasti, wajahnya kelihatan sangat murung… dengan mata sayu, bibir cemberut, dan kepala menunduk. Sudah sangat jelas 'kan?

Tanpa disadari oleh sang pemuda, dua sosok manusia-atau mungkin yokai… memperhatikannya dari jauh. Terlihat jelas kalau dua mahluk itu menunjukkan raut khawatir pada objek perhatian mereka.

"Menurutmu Master kenapa?"

Yang berambut coklat panjang memulai pembicaraan, berbisik pelan pada gadis berambut 'unik' di sampingnya.

Yang ditanya menggeleng, menghela nafas pelan lalu menatap sosok di sampingnya.

"Entahlah… sejak Rikuo-sama pingsan, dia jadi suka menyendiri dan merenung. Master juga lebih sering menunjukkan raut wajah murung sejak itu."

Gadis muda itu menjawab seadanya, setidaknya hanya itu yang dia dapatkan dari hasil pengamatannya. Karena memang sejak kejadian itu sang master –Rikuo jadi lebih pendiam, pemurung, penyendiri, dan semakin suka merenung.

Apalagi sejak mereka tahu, ada banyak luka sayatan, lecet, lebam, dan beberapa bekas gigitan di punggung dan dada master mereka, dan hal itu semakin ganjil karena master mereka sama sekali tidak mau buka mulut perihal luka-luka yang ada di tubuhnya. Nurarihyon-sang kakek yang biasanya bisa dengan mudah mengetahui-apa-yang-terjadi-pada-cucunya bahkan menyerah.

"Kuharap Master baik-baik saja."

Gadis itu berujar lirih, menatap sendu pemuda yang masih merenung-entah-apa-itu dalam kesendiriannya.

"Yah, semoga saja… dengan begitu kau juga tidak perlu terlalu khawatir Yuki-Onna."

Semburat tipis berwarna merah muda muncul tanpa diperintah di pipi putih Yuki-Onna. Menatap sanksi wanita berambut panjang di sampingnya.

"Jangan menggodaku Kejourou."

.

.

Berdiri dari tempatnya, berjalan tanpa arah menyusuri koridor rumahnya yang luas(baca : sangat luas). Dengan ramah membalas sapaan setiap yokai yang menyapanya. Sudah 4 hari ini dia tidak pergi untuk menimba ilmu, dan walaupun begitu… kondisinya belum bisa kembali seratus persen. Masih bisa ia rasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya.

"Aku akan dapat tugas menumpuk sepertinya."

Dengan suara yang nyaris seperti bisikan, pemuda beriris grayish-brown itu berujar. Tangan kanannya bergerak memijat kepalanya yang terasa pusing mengingat setumpuk tugas yang-sepertinya- akan ia dapatkan dari sekolah.

Berjalan-jalan, yang dia lakukan lebih mirip mondar-mandir mengeliling rumahnya dan berakhir kembali ke kamarnya. Menggeser pintu kayu di depannya, melangkahkan kakinya masuk.

Sebenarnya dia juga bingung mau melakukan apa, kalau mengikuti keinginan tubuhnya… dia pasti akan lebih memilih berbaring diatas futon(1). Tapi kalau begitu sakit di sekujur tubuhnya akan semakin terasa… lalu dia harus bagaimana?

Duduk di atas tatami(2) yang menjadi alas kamarnya, menatap-memperhatikan kamarnya dengan seksama. Mencoba mencari kegiatan sebelum ibunya datang dan memaksanya makan bubur encer yang kadang membuatnya mual.

Sudah berkali-kali ia mengatakan kalau dia sudah bisa memakan makanan biasa-nasi- tapi tetap saja, ibunya terus membawakan semangkuk bubur encer untuk menu makannya.

"Uuhh- masih sakit~."

Sang pemudapun mengerang pelan, memilih berbaring di atas futon-nya dengan bagian punggung di atas.

"Baka(3)!"

Menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal, umpatan-yang-entah-untuk-siapa terdengar jelas keluar dari mulutnya. Sosok itu kembali terbayang di benaknya, membuatnya tanpa sadar menggiggit bibir bawahnya. Terasa sakit jauh di dalam dirinya….

Salah siapa sebenarnya semua ini?

Jujur saja dia- dia benar-benar masih tidak bisa memahami apa yang telah terjadi malam itu.

Kalau dia bisa, ingin dia kunci rapat-rapat memori itu. Akan dia gembok dan dia buang kuncinya jauh-jauh…

Sayangnya itu hanya bisa menjadi angan semata, jelas saja dia tidak bisa melakukan itu. Sangat jelas kalau hal itu tidak mungin ia lupakan. Semuanya terlalu jelas terbayang dalam otaknya, menghantui hari-harinya.

"Sebenarnya… mengapa? Mengapa kau lakukan itu?"

Bermonolog dalam sepi, otaknya sudah benar-benar buntu untuk menemukan titik terang.

.

Cahaya rembulan dalam sepinya malam, sebuah visualisasi menenangkan sekaligus mengerikan. Dengan deru angin malam yang bergerak perlahan, menerbangkan kelopak-kelopak berwarna pucat dengan anggunnya. Seakan-akan mereka menari bersama di bawah cahaya minimalis sang rembulan.

Di atas batang kekar sang penaung sakura, seorang pemuda duduk. Matanya menerawang jauh pada sang dewi malam, sebuah benda berbentuk piring kecil yag biasa digunakan untuk meminum sake ada dalam genggamnnya. Berisikan cairan bening yang menampakan bayangan sosoknya yang tenang- walau ada sesuatu yang lain dalam rautnya. Sebuah kilat tipis di sepasang iris merahnya. Kilat kesedihan….

"Mengapa aku bisa sampai lepas kendali seperti itu?"

Bisiknya pelan, menggumamkan perasaannya lirih.

Mengapa?

Hanya kata itu yang memenuhi otaknya belakangan ini, mengapa dan mengapa?

Hanya satu kata tanya yang membuat hati bajanya dilanda pengeroposan mendadak.

Mengapa?

Kemudian hanya kata itu… setaip kali dia mengingat sosoknya hanya kata itu yang terlintas di otaknya.

Wajah lugu, kulit putih yang berubah kecoklatan karena terbakar mentari, senyum yang tulus tanpa sebuah paksaan, keluguan yag ada dalam dirinya, semua tentang bocah itu.

"Aku perlu bicara dengannya."

.

.

Sepasang matanya sama sekali tak mampu terpejam, seberapa pun mengantuknya ia matanya seakan tak mendukung untuk terpejam. Membuat rasa kantuk terus menderanya dan mengakibatkan kepalanya pusing.

"Uhk- menyebalkan."

Mengeluh pelan, memandang langit-langit kamarnya yang terbuat dari kayu, iapun mengela nafas panjang.

Lagi-lagi dia mengingat hal itu.

Terbayang jelas, menari-nari di otaknya. Huh- lama-lama dia bisa gila kalau begini-

SINGGGGG

Entaha kenapa, dia merasakan sesuatu yang dingin mengenai tengkuknya. Hawa yang- sungguh ia tidak sanggup untuk jelaskan. Jangan bahas soal bahasa, dia benar-benar tidak bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan sekarang.

Mendudukan dirinya, matanya menjelajah ke seluruh pelosok kamarnya. Memperhatikan secara detail tanpa melewatkan satu titik pun.

"…sakura no hana(4)?"

Kerutan tipis muncul di pelipisnya, darimana asalnya bau ini?

Shouji(5) kamarnya tiba-tiba terbuka, disusul dengan masuknya beberapa kelopak merah muda pucat yang kini berjatuhan di atas tatami yang menjadi alas kamarnya.

Badannya menegang, menatap lurus- menolak untuk melihat apa berikutnya yang akan datang melewati pintu. Dia tidak mau tahu…

"Hn, ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Keringat dingin membasahi keningnya, dia belum siap untuk mendengar suara itu lagi, belum siap untuk mendapat tatapan dalam jenis apapun dari sepasang ruby merah itu. Tidak… dia benar-benar tidak siap, dan tidak ingin-

"Soal malam itu."

Tubuhnya semakin menegang, sepasang tangannya mengepal erat. Sekarang ketakutan yang mendalam merambati dirinya, menghujam kalbunya.

"A- aku… aku tidak ingat!"

Memberanikan dirinya untuk menjawab, memejamkan erat sepasang kristalnya. ada Sesuatu yang terasa bergejolak dalam dirinya. Jauh di dalam sana….

"Jangan pernah membohongi dirimu sendiri."

Semakin erat mengepalkan jemarinya, ia bahkan bisa merasakan kukunya menancap di daging telapaknya. Apapun, siapapun… bisakah bawa dia keluar dari situasi ini?

Suara baritone tenang yang membuatnya semakin jatuh pada hal bernama dilemma.

"Buka matamu."

Telinganya masih normal dan dia bisa mendengar suara langkah kaki, langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Semakin erat memejamkan matanya, dalam hati dia sungguh berharap indra pendengarannya dilumpuhkan.

"Buka matamu."

Lagi- suara baritone itu membuat seluruh bulu romanya berdiri. Dia takut, sangat ketakutan…

Membuka matanya, menatap sanksi pada sosok yang ada di kamarnya, Rikuo menggigit bibir bawahnya keras-keras.

"Be- berhenti."

Cairan merah keluar melalui celah kecil akibat gigitannya yang terlalu kuat.

"Berhenti."

Sekali lagi, mengumpulkan semua keberaniannya.

Jangan…! Jangan terlalu dekat… jangan lagi.

Menundukan kepalanya, menatap selimut futon-nya.

Mengidahkan, perkataan itu seakan menjadi tantangan, membuatnya semakin tertarik untuk mendekat. Dia ingin, ingin menatap wajah itu… lagi. Menyentu-

"BERHENTI! JANGAN MENDEKAT!"

Mengapa?

Mengapa dia tidak boleh mendekat? Apa yang salah?

Menghentikan langkahnya, sepasang iris abu-abu gelap itu menatap merah darahnya. Dua warna yang sangat kontras bertemu….

"Ja- jangan… jangan mendekatiku."

Suaranya melirih, ada sebuah luka di sana. Dalam sepasang kristalnya….

"Mengapa?"

Dan kini, ia lontarkan sebuah kata yang selalu memenuhi otaknya. Mengapa?

Tak ada jawaban, tak ada balasan. Hanya sebuah isakan pelan yang berlanjut dengan turunnya cairan bening dari sepasang black-grayish.

Memilukan….

"Tidak ada yang perlu dibicarakan- tidak, tidak ada apa-apa yang terjadi diantara kita."

Mencoba mengungkapkan sebuah kalimat panjang yang jelas berisi kebohongan. Menutupi kenyataan dengan selaput tipis yang rapuh bernama ketakutan.

"…lalu mengapa kau menangis?"

"Aku-"

Mengunci bibirnya rapat, membiarkan kepalanya tertunduk… mengapa? Mengapa dia jadi begitu penakut?

There's nothing more frightening…

than losing something you've obtained

Mendekat, memeluk tubuh tegang pemuda di atas futon. Waktu itu memang kesalahannya….

"Maaf."

Satu kata yang hampir tidak pernah ia ucapkann dengan mulutnya, kata ya-

"Lepaskan…! Jangan-… jangan seperti ini."

Sakit…

Benar-benar sangat sakit….

Apa ini definisi rasa sakit yang sebenarnya? Mengapa jauh lebih menyakitkan dibandingkan saat tertebas katana(6) oleh musuhnya? Mengapa jauh lebih perih daripada luka yang ia dapat saat bertarung? Mengapa?

Mengalir teratur, semakin banyak… cairan bening itu membasahi yukata(7) tidurnya, membuat pandangannya sedikit buram karena terlalu banyak yang keluar.

Dia tahu, dia bisa merasakan kenyamanana tersendiri dalam pelukan ini. Sesuatu yang ia rindukan, sesuatu yang entah kenapa ia rindukan.

Ta- hanya saja…dia merasakan yang lain, rasa takut. Ketakutan yang tidak bisa dia ungkapkan.

Melonggarkan kepalannya… bisa ia rasakan perih di sana. Salahkan dirinya untuk hal itu….

"Kumohon…."

Suaranya serak, mengeluarkan sebuah permintaan penuh permohonan.

Enggan… dia tahu hatinya enggan, dia tahu dia tidak rela, tak mau untuk melepaskan pemuda dalam pelukannya.

Mempertahankan posisinya, mencium helaian coklat yang menjadi mahkota kepala itu.

Rasa yang ia miliki adalah sebuah rasa yang tidak bisa diberi batas. Sebuah rasa khusus yang hanya diberikannya pada satu orang… sebuah rasa tanpa batasan yang bisa bertumbuh dan semakin besar kapan saja. Tanpa memiliki batas… tak ada garis ambang untuk rasanya.

"Biarkan seperti ini."

Membalas dengan sebuah permohonan, bisikkan pelan yang tenang… penuh akan esensi yang menekan.

Kaku, tubuhnya kaku… ia tak sanggup melakukan pergerakan apapun. Permohonan itu meluluhkannya, meluluhkan hatinya. Tapi tidak dengan tangisnya… nyayian penyayat hati terus terlantun merdu dari sepasang bibirnya.

"Kenapa tubuhmu tegang?"

"Aku takut."

Kembali mempererat kepalannya, sesuatu bergejolak hebat jauh di dalam sana. Gejolak kuat yang sama sekali tidak ia pahami.

"Ku mohon… jang- jangan seperti ini."

Menurut, melepaskan pelukannya. Walau dia tahu… secercah luka telah tertoreh dalam kalbunya.

"Kau tahu bocah…"

Menggantung ucapannya, pemuda dengan aroma sakura menguar dari tubuhnya duduk di sebelah futon. Menatap intens lawan bicaranya.

"Aishiteru(8)."

Sepasang bola matanya membulat sempurna, mengangkat kepalanya cepat dan menoleh ke samping. Pendengarnnya tidak salah'kan? Apa yang tadi didengarnya itu nyata 'kan?

Dan sebuah raut lembut dengan senyum tipis menyambutnya.

+To Be Continued


(1): Perangkat tidur tradisonal jepang/tempat tidur lantai khas jepang.

(2) : Tikar khas jepang yang terbuat dari jerami yang ditenun.(Wikipedia)

(3): Bodoh

(4): Bunga Sakura

(5): Pintu geser khas Jepang

(6): Pedang

(7): Jenis kimono yag dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis/Kimono nonformal.(Wikipedia)

(8): Aku mencintaimu/I love you/I luph you

A/N : beberapa kata yang nyempil ditengah diambil dari lirik englishnya Sunshine dan Fast Forward karya Monkey Majik. Op 1 dan 2-nya Nuramago

Arigatou untuk yang sudah review dan membaca fic ini! ini sudah update dan semoga anda semua suka, yosh, sampai jumpa chep berikutnya~