Baru pukul dua belas malam‚ dan baru pula Sehun memejamkan mata selepas menyelesaikan beberapa tugas. Lelaki itu mendengar seseorang menekan-nekan tombol password apartemennya‚ lalu membuka pintu begitu saja. Sehun mengernyitkan kening‚ dengan malas duduk dan turun dari tempat tidur. Ia sudah tahu siapa yang masuk ke apartemennya semalam ini. Tidak ada yang tahu password apartemennya kecuali dirinya sendiri‚ juga perempuan itu.
Sehun baru memakai sandal apartemen namun pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Sehun membuka sebelah matanya‚ mengintip dengan mengantuk. Dapat ia lihat perempuan itu datang kepadanya dengan bayangan yang buram.
Ah‚ ya Tuhan… Sehun terlalu mengantuk untuk mengumpulkan kembali kesadarannya.
"Sehun‚" suara perempuan itu terdengar parau. Lantas si pemilik nama mengerjap pelan‚ bebarengan dengan menyalanya lampu. Butuh sepersekian detik untuk menyadari keadaan perempuan di depannya sekarang.
Matanya merah berair‚ dengan eyeliner yang luntur mengotori sekitar kelopak dan kantung matanya. Sementara riasan wajahnya berantakan karena air mata membasahi wajahnya. Rambutnya sedikit kusut‚ basah‚ dan berantakan. Sehun mengernyit kebingungan melihat betapa kacaunya perempuan ini. Apakah diluar sana sedang hujan sampai-sampai wajah cantiknya bisa terlihat mengerikan seperti ini?
"Kau dari mana‚ eh?" tanya Sehun serak. Ia menguap sekali‚ hendak melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Supaya Sehun bisa sadar sepenuhnya‚ dan bisa mengerti situasi sekarang ini.
Tapi kemudian tubuhnya terdorong hingga jatuh kembali ke tempat tidur. Perempuan ini tiba-tiba memeluknya‚ sehingga membuat tubuh mereka berdua terbaring di atas tempat tidur.
Mata Sehun sudah sepenuhnya terbuka‚ terkejut lebih tepatnya. Oh‚ astaga. Haruskah ia melompat dari balkon apartemennya setelah ini? Ia rasa semakin ke sini perempuan yang berada di atas tubuhnya sekarang semakin membuatnya sinting.
"Sehun…" si perempuan kembali menyebutkan nama Sehun dengan parau. Sedetik setelah itu‚ Sehun bisa mendengar suara isak halus si perempuan yang memeluknya.
Sehun menghela napas kasar. Bukan karena kesal karena tiba-tiba perempuan ini mengganggu acara tidurnya. Melainkan marah karena ia sadar‚ seseorang sudah menyakiti perempuannya.
Hah‚ perempuannya.
…
Fragment
1. Kau Anggap Aku Siapa?
WARNING!
Bagi yang tidak suka Yifan-Luhan‚ mending langsung lompati aja chapter ini. Terserah kalian juga sih mau tetep baca atau ngga. Tapi yang pasti‚ jangan kesel sama Yifan yang sedikit bangsat ke Luhan setelah ini. Emang karakternya gitu. Makasih buat yang udah ngerti. :')
…
Perempuan yang kini duduk di kursi komputer Sehun sembari membersihkan make up nya yang berantakan itu bernama Luhan. Statusnya sebagai seorang mahasiswi teknik kimia semester akhir. Umurnya sama seperti Sehun‚ hanya berbeda delapan hari lebih muda dari Sehun. Tingginya kurang lebih seratus enam puluh satu koma sekian sentimeter. Dia bahkan protes karena tingginya tidak bisa mencapai seratus enam puluh lima sentimeter karena masa pertumbuhannya sudah berhenti. Sehun selalu menggosok puncak kepala Luhan dengan gemas untuk menggodanya‚ atau memanggilnya dengan sebutan‚ "Pendek." sehingga Luhan akan kesal padanya. Selain itu Luhan suka es krim rasa strawberry‚ tidak terlalu suka menggunakan rok mini tapi ia akan memakainya untuk memikat kekasihnya sendiri. Luhan juga tidak suka memakai make up. Wajahnya sudah cantik tanpa riasan. Tapi Luhan juga akan menggunakannya saat ia berkencan dengan seseorang.
Oh‚ dan lihatlah Luhan yang sekarang ini. Sepatu ber-hak sepuluh sentimeter itu berada di sebelah kaki Luhan yang polos tanpa alas. Selain itu Luhan sekarang mengenakan baju putih lengan panjang berbahan tebal‚ juga rok mini berwarna merah muda. Kini perempuan itu sedang sibuk menghapus eyeliner yang sisanya masuk ke bagian dalam matanya. Bibirnya menggumam-gumam tak jelas setelah ia berhenti menangis tanpa sebab.
Eh‚ tidak juga. Karena sebentar lagi Sehun akan tahu penyebabnya.
"Biarkan dulu dan cerita kau ini kenapa." celetuk Sehun. Ia meletakkan semangkuk es krim strawberry di meja komputernya kemudian. Untuk membujuk Luhan bercerita lebih tepatnya.
Mata Luhan beralih dari kaca kecil yang ia bawa‚ menuju mangkuk es krim‚ lalu mendongak menatap Sehun. Luhan merengut. "Aku harus membersihkannya kalau tidak ingin mataku sakit." katanya serak.
Sehun menghela napas pelan. Ia bangkit dari tempat tidur‚ menarik kursi yang lain dan duduk tepat di depan Luhan. Sehun mengambil alih cutton bud yang Luhan pegang‚ lalu berkata‚ "Biar aku saja yang membersihkannya. Tugasmu sekarang hanya makan es krim itu dan cerita padaku."
Luhan mengangguk patuh. Ia membiarkan Sehun menarik kantung matanya ke bawah‚ lalu membersihkan sisa-sisa eyeliner yang masuk ke dalam sana selagi ia mengulum es krim yang terasa dingin membekukan lidah. Mata Luhan melirik ke arah lain. Ia tidak akan membuat Sehun terganggu.
"Tadi malam aku berkencan dengan Yifan."
"Lantas?"
"Dia bilang dia akan datang tepat pukul delapan malam. Aku sengaja datang lebih dari lima belas menit‚ berharap apakah dia menungguku atau tidak. Tapi setelah aku berada di sana‚ aku sama sekali tidak melihatnya. Jadi aku menunggu." cerita Luhan. Ia kembali memasukkan sesendok es krim ke dalam mulut.
"Kau menunggunya?"
"Hu'um." Luhan mengangguk saat Sehun mengganti cutton bud yang baru. "Karena dia bilang sebelumnya kalau dia harus berkencan denganku hari ini. Jadi‚ ya… Aku menunggunya."
Sehun mengerutkan kening. "Kau menunggunya hanya karena itu?" tanyanya. Luhan mengangguk dengan mulut sibuk mengulum es krimnya. "Kau bodoh atau apa?"
Luhan merengut. Ia tidak akan menanggapi Sehun tapi ia akan melanjutkan ceritanya. "Aku menunggunya sampai dua jam."
Sehun yang hendak membersihkan mata Luhan lagi jadi terurung karena mendengarnya. Ia menatap Luhan kesal namun Luhan masih saja tidak peduli.
"Karena lelah menunggu‚ akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Tapi saat di jalan pulang‚ aku melihatnya bersama perempuan lain. Dan parahnya lagi‚ itu adik tingkat kita! Aduh‚ siapa ya namanya‚ aku lupa." Luhan terlihat mengingat-ingat. Lucunya‚ sama sekali tidak ada wajah marah atau sedih karena mengingat-ingat kejadian itu.
Bukankah seharusnya Luhan menangis lagi? Sehun jadi ikut berpikir karena hal ini.
"Lupakan namanya siapa." Sehun mengibaskan sebelah tangannya kesal. "Jadi itu yang membuatmu menangis?" tanya Sehun. Luhan mengangguk lagi‚ berekspresi seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Justru ia sibuk mengulum es krim strawberry kesukaannya.
Sehun sebenarnya heran. Tapi ia tidak akan meminta Luhan untuk menangis lagi karena itu tindakan yang bodoh. Lagipula Sehun juga tidak ingin melihat Luhan menangis hanya karena masalah kecil. Melihat Luhan tersenyum saja sudah cukup bagi Sehun.
"Kau pulang jam sepuluh‚ lalu kenapa ke apartemenku jam dua belas?" Sehun bertanya lagi. Luhan diam sejenak.
"Aku menangis dulu di bangku taman." jawab Luhan lugu.
Oh‚ astaga… Kenapa perempuan ini mampu membuatnya kesal dan gemas secara bersamaan?
Sehun menepuk kening seketika. "Bodoh." kesal Sehun pada akhirnya. Luhan lagi-lagi tidak menanggapi karena memang Sehun selalu menyebutnya seperti itu‚ dan pada kenyataannya ia memang bodoh.
"Setelah puas menangis aku baru ke apartemenmu. Aku tidak ingin diejek Ziyu karena aku menangis sehabis kencan. Jadi aku kemari." lanjut Luhan. Ia menghela napas pelan‚ kembali membiarkan Sehun membersihkan sisa eyeliner di mata kirinya.
"Sebelumnya aku sudah memperingatkanmu kalau Yifan bukan laki-laki yang baik untukmu." kata Sehun masih fokus dengan pekerjaannya. "Tapi kau keras kepala‚ ya sudah. Kau terlalu berharga untuk kuserahkan pada Yifan."
Secara refleks Luhan berkedip dengan bola mata yang bergerak menatap Sehun. Sebenarnya ia ingin bersuara tapi tiba-tiba semua yang akan ia katakan berhenti di ujung lidah. Wajah Sehun begitu dekat dengannya saat lelaki itu sibuk membersihkan matanya. Tujuh senti? Sepertinya segitu. Sedetik kemudian Luhan melihat kerutan samar di antara kedua alis Sehun sebelum Sehun balas menatapnya dengan kesal. Tatapan mata mereka beradu. Lalu Luhan merasa jantungnya meledak dan ia tidak bisa bernapas dengan benar.
Apalagi ketika Sehun mengubah tatapannya menjadi tatapan lembut. Luhan pikir Tuhan sedang memberinya cobaan berat karena sebelumnya Luhan jarang pergi ke Gereja untuk berdoa.
"Besok-besok‚ kalau ada lelaki yang mengajakmu berkencan‚ bilang padaku dulu. Biar aku memeriksanya dulu sebelum mengijinkanmu untuk berkencan dengannya. Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi hanya karena masalah kencan. Kau bodoh dalam hal-hal seperti ini."
Luhan berkedip tiga kali. Merasa Sehun yang ia lihat sekarang justru membuatnya aneh sendiri. Luhan berusaha keras untuk mengalihkan pandangan tapi ia tidak bisa entah karena alasan apa. Namun begitu Sehun menepuk-nepuk puncak kepalanya‚ seluruh kesadaran Luhan mulai berkumpul dan membuat perempuan itu tersentak kecil. Luhan menampik pelan tangan Sehun di kepalanya‚ lalu merengut.
"Memangnya kau Ayahku?" cibir Luhan yang membuat Sehun terkekeh geli.
"Habiskan es krim mu‚ lalu pergilah tidur. Aku akan tidur di luar." kata Sehun. Lelaki itu berdiri dari duduk lalu pergi berlalu keluar dari kamar.
Luhan memandangi Sehun sampai ia menghilang dari jarak pandangnya. Kemudian Luhan melirik jam dinding kamar Sehun. Pukul satu lebih sekian menit. Mata Luhan membulat samar setelah sadar akan sesuatu.
Oh‚ apakah ia mengganggu tidurnya Sehun?
…
Oh Sehun adalah seorang lelaki yang hampir irit bicara. Seorang mahasiswa teknik kimia semester akhir kesayangan dosennya. Oh‚ dia juga pernah menjadi pemilik jabatan tertinggi di beberapa organisasi yang ia ikuti. Singkatnya‚ Sehun orang yang sibuk. Atau hanya sok sibuk? Nyatanya‚ lelaki itu punya banyak waktu luang untuk menggoda Luhan. Sekali mereka bertemu‚ bukan sapaan dan candaan menyenangkan yang terdengar. Tapi pekikan kesal dari Luhan dan tawa puas dari Sehun. Selain itu‚ karena Sehun orang yang sibuk‚ sehari ia hanya bisa tidur selama empat jam atau kurang dari itu. Jadi Luhan tidak akan mengganggu tidurnya lelaki itu meski sebenarnya ia ingin. Melihat Sehun begitu kelelahan membuatnya merasa kasihan.
Tapi kalau ia sudah menjadi korban leluconnya Sehun‚ Luhan justru merasa kesal.
Seperti sekarang‚ misalnya.
Sedari tadi Luhan hanya duduk dengan wajah tertekuk-tekuk sementara Sehun yang menjadi pelaku atas tertekuknya wajah cantik itu tergelak bersama temannya. Ah‚ rasanya Luhan ingin mengunyah Sehun bersama daging yang baru saja diambilnya dari panggangan.
"Hei‚ hei‚ itu belum matang!" seru Kyungsoo‚ satu-satunya teman Luhan yang tidak tertawa. Perempuan bermata bulat itu hanya sibuk memperhatikan makanan dan membolak-baliknya di panggangan. Sepertinya perempuan itu kelaparan.
Luhan berhenti mengunyah‚ lalu memuntahkan daging yang memang belum matang itu. Wajahnya tertekuk lagi‚ tidak mengatakan terima kasih pada Kyungsoo. Sementara Sehun yang mulai berhenti tergelak‚ akhirnya kembali duduk di sebelah Luhan. Lelaki itu menyendok bokkeumbab (nasi goreng) lalu mengarahkannya pada mulut Luhan yang mencebik-cebik lucu.
Luhan melirik nasi goreng yang membuat perutnya semakin lapar itu‚ lalu melirik Sehun yang tersenyum padanya.
Ah‚ Luhan lupa kalau Sehun juga orang yang perhatian. Entah hanya padanya atau juga pada orang lain.
"Astaga‚ astaga. Oh Sehun… Kau tidak ingin menyuapiku?" goda lelaki berkulit eksotis di sebelah Kyungsoo. Ia tertawa saat Sehun mencibir padanya sebagai tanggapan.
"Sudah tahu ada bokkeumbab di sebelahmu tapi kenapa makan daging yang belum matang?" tanya Sehun pada Luhan‚ memilih untuk tidak menyahuti teman lelakinya. Luhan melirik Sehun sinis lagi. "Mau dimakan‚ tidak?" tanyanya lagi.
Luhan melirik sesuap nasi goreng yang sudah berada di depannya‚ berpikir sejenak‚ lalu melahapnya. Ia tidak peduli Sehun terkekeh karenanya tapi setelah itu Luhan menarik-narik lengan kemeja flanel yang Sehun kenakan. Sehun yang saat itu sedang mengobrol dengan lelaki tan di sebelah Kyungsoo‚ Jongin namanya‚ jadi beralih lagi pada Luhan. Perempuan itu berkedip-kedip padanya dengan senyum sok manis yang membuat Sehun hampir terkena serangan jantung kalau tidak segera mengendalikan diri.
"Kau ini kenapa? Sawan?"
Luhan merengut. "Suapi aku lagi‚ ya…"
"Hah‚ kau benar-benar terkena epilepsi." sahut Sehun asal. Ia menarik lengannya lalu memegangi kepala Luhan. "Kalau kau ingin kusuapi‚ kau akan tetap pendek‚ tahu."
Luhan merengut lagi dan Sehun terkekeh setelah Luhan menepis tangannya dari kepala. Menyebalkan.
"Kau ini‚ ya. Tadi kesal sama Sehun‚ lalu tiba-tiba minta Sehun menyuapimu‚ dan sekarang kesal lagi sama Sehun." komentar Kyungsoo. Ia kembali membalik daging panggang yang hampir matang itu sebelum menatap Sehun dengan mata bulatnya. "Kurasa Luhan bukan sekedar terkena epilepsi‚ Sehun."
Lantas Sehun tertawa. Luhan makin menekuk wajah.
"Kau benar‚ kau benar." Sehun mengangguk-angguk setuju disela-sela tawa. "Pulang nanti aku antar kau ke rumah sakit‚ ya?" tawar Sehun pada Luhan.
Luhan meniup poninya sebal‚ menatap Kyungsoo dongkol. "Kau pasti iri karena Jongin tidak ingin menyuapimu." balasnya. Kyungsoo berdecak kemudian.
"Akunya yang tidak ingin‚ bodoh!" sungut Kyungsoo. "Minta disuapi dan bermanja-manjaan dengan pacarmu sendiri itu menurutku menggelikkan. Aku tidak suka." tambah Kyungsoo santai. Ia tidak peduli pada Jongin yang mendumel sendiri di sebelahnya.
"Tapi Sehun hanya sahabatku." Luhan tak ingin mengalah.
"Siapa yang bilang kalau Sehun pacarmu?" ketus Kyungsoo ikutan kesal. Ia mencibir namun sepertinya Luhan tidak mempedulikannya. Luhan justru memeluk lengan Sehun sementara si pemilik lengan diam saja tidak ingin berkomentar apapun.
"Iya 'kan‚ Sehun?" tanya Luhan sok manis pada Sehun.
Sehun melirik Luhan yang tersenyum padanya. Rasanya Sehun ingin menangkup wajah itu‚ menariknya‚ dan menciumnya kalau tidak ingat Luhan barusan mengakui hubungan diantara mereka berdua hanya sekedar sahabat.
"Memangnya aku temanmu?" balas Sehun cuek. Tangannya yang bebas terulur untuk mengambil daging panggang yang baru saja matang itu dan melahapnya.
Luhan mengerutkan kening sembari mengendurkan pelukannya pada lengan Sehun. "Ya‚ kau ini sahabatku. Lalu siapa lagi? Pacarku?" kata Luhan. Ia tertawa sementara Sehun meliriknya dan menghela napas pelan tanpa Luhan ketahui.
"Oh‚ ya ampun. Mana bisa aku berpacaran denganmu?" tanyanya lagi. Mengabaikan aksi saling lirik-melirik yang dilakukan oleh ketiga temannya itu sementara Luhan larut dalam tawa.
"Habiskan makananmu dan setelah itu kuantar kau pulang." kata Sehun datar.
Luhan berdecak. "Kenapa harus terburu-buru? Aku 'kan juga masih ingin mengobrol dengan Kyungsoo."
"Ada yang harus kuselesaikan di apartemen sebelum kembali ke rumah Ibuku."
Luhan menatap Sehun sejenak sebelum kembali menghela napas. Perempuan itu mengambil sumpitnya lalu mulai makan daging panggang yang dimasak Kyungsoo malam itu dalam diam. Sehun memang selalu sok sibuk.
…
Setelah kenyang dan merasa puas bertemu kembali dengan teman semasa SMA‚ akhirnya Sehun dan Luhan memilih untuk pulang. Mereka berdua berjalan beriringan di trotoar yang masih saja ramai. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Sedari tadi‚ keduanya hanya saling diam. Mungkin menikmati suasana kota di malam hari. Namun Luhan tidak bisa menikmati suasana malam itu. Ia hanya melirik Sehun yang berjalan di sebelahnya beberapa kali‚ lalu mengerucutkan bibirnya beberapa senti. Daritadi Sehun hanya diam memandang lurus ke depan. Seolah jalan yang mereka lewati hanya jalan lurus tanpa ada apa-apa di setiap sisinya.
Apa Sehun marah padanya?
Luhan mempercepat langkah‚ lalu menghadang Sehun di depan. Perempuan itu menatap Sehun serius namun lelaki yang ditatap justru menatap Luhan datar.
"Kau diam saja sedari tadi. Kau marah padaku?" tanya Luhan pada akhirnya.
"Siapa juga yang marah padamu." jawab Sehun jutek.
"Kau diam saja soalnya." Luhan mencebikkan bibir bawahnya. "Kenapa? Karena aku memintamu menyuapiku?"
Sehun tetap diam. Luhan mulai menyipitkan mata pada Sehun‚ memberi tatapan selidik pada lelaki itu.
"Oh‚ jadi tebakanku benar?" Sehun menaikkan sebelah alis pada Luhan. "Kau marah padaku karena aku bersikap manja padamu di depan teman-teman?"
Sehun masih betah diam. Lelaki itu kembali berjalan‚ melewati Luhan yang cemberut karena tak mendapat jawaban juga karena ditinggal begitu saja oleh Sehun. Oh‚ pasti lelaki itu benar-benar marah padanya. Sehun sama sekali tidak menjawab pertanyaannya‚ berbicara padanya pun sepertinya enggan.
Seperti inilah Sehun kalau sedang marah. Bagi Luhan cara Sehun marah sama seperti seorang perempuan yang sedang merengek. Menyebalkan.
Luhan menghentakkan kaki kesal sebelum menyusul Sehun. Ia berlari‚ lalu kembali berjalan beriringan di sebelah Sehun. Setelah itu‚ hening yang tersisa.
"Sehun‚" panggil Luhan pelan. Sehun tak menjawab‚ melainkan hanya menoleh padanya sebentar. Setelah itu Luhan berkata‚ "Kalau dipikir-pikir‚ aku selalu melihatmu bersama Chanyeol atau Jongin. Kau tidak ada niatan untuk dekat dengan seorang perempuan‚ begitu?"
Sehun berhenti melangkah‚ begitu pula dengan Luhan. Untuk sesaat Sehun diam. Lelaki itu baru membalas setelah ia menghadap Luhan.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Luhan menggidikkan bahu sekilas. "Soalnya aku curiga saja kalau orientasi seksualmu menyimpang. Kau tidak begitu 'kan?" tanya Luhan hati-hati. Ia melirik Sehun yang menaikkan sebelah alis tinggi-tinggi padanya‚ sebelum menjelaskan. "Kau tidak menyukai Jongin atau Chanyeol 'kan?"
Lantas Sehun tergelak. "Itu lucu." sahut Sehun. Ia menghabiskan tawanya seraya berkata‚ "Aku normal. Kau bisa mengeceknya kalau aku mengajakmu ke klub setelah ini."
"Hah‚ sinting." Luhan mendengus. Dalam diam ia lega karena sahabatnya ini mengaku normal.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu?" tanya Sehun kemudian. Membuat Luhan mendongak padanya‚ lalu menunduk lagi.
"Aku tak pernah mendengarmu menyebut nama seorang perempuan. Kau selalu bercerita padaku seolah kau memang ditakdirkan untuk melajang seumur hidup." jelas Luhan.
"Wah‚ kau kejam sekali mendoakan sahabatmu sendiri seperti itu." kata Sehun. Nada suaranya terdengar lebih santai. Dan itu membuat Luhan lega lagi karena sepertinya Sehun sudah mulai melupakan marahnya tadi.
Ah‚ Sehun memang mudah marah padanya. Tapi Sehun juga mudah memaafkannya. Lelaki ini memang lucu.
"Ish‚ aku 'kan juga ingin kau bercerita padaku soal perempuan yang kau sukai." kata Luhan setengah jengkel. Ia menatap Sehun kemudian. "Kau tak menyembunyikan pacarmu dariku 'kan?"
Sehun menggeleng. "Aku tidak menyembunyikan apapun darimu." eh‚ kecuali perasaanku padamu. "Dan aku tidak punya pacar." aku Sehun jujur.
Luhan menyipitkan matanya lagi. Namun Sehun tidak peduli tentang Luhan yang menatapnya selidik. Lelaki itu kembali berjalan‚ Luhan juga berjalan di sampingnya. Setelah memastikan bahwa Sehun jujur padanya‚ Luhan menghembuskan napas lelah. Perempuan itu kembali memandang lurus ke depan.
"Padahal aku ingin sekali mendengarmu bercerita soal perempuan yang kau cintai padaku. Aku jadi merasa tidak enak karena aku selalu bercerita padamu soal orang yang kusuka." kata Luhan pelan.
Sehun meliriknya‚ tersenyum getir. "Santai saja."
Santai apanya‚ bodoh?!
Mereka sampai di halte yang secara kebetulan sebuah bus sedang berhenti untuk mengangkut dan menurunkan penumpang. Kali ini Luhan yang beralih menghadap Sehun. Ia tersenyum sangat manis pada Sehun sehingga Sehun tidak bisa menahan senyumnya untuk Luhan.
"Maaf tidak bisa mengantarmu sampai rumah karena ada yang harus kuselesaikan di apartemen." kata Sehun. Luhan mengangguk mengiyakan.
"Tidak apa-apa. Lagipula kau juga harus pulang untuk menemui Ibumu." kali ini Luhan melangkah mundur. Tangannya sudah memegang pegangan pintu bus sebelum ia naik ke dalam sana. "Jangan tidur terlalu lama. Jaga kesehatanmu. Salam untuk Ibumu‚ ya!"
Sehun mengangguk. Sedetik setelah itu Sehun melihat Luhan telah masuk ke dalam bus‚ melambaikan tangan lewat kaca bus‚ dan pergi meninggalkannya. Sehun menurunkan tangannya yang membalas lambaian tangan Luhan tadi. Senyumnya luntur‚ tergantikan helaan napas pelan.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan perasaanku darimu?
…
Esoknya‚ Luhan tidak mendapati Sehun di kampus. Luhan mengiriminya pesan‚ bertanya di mana Sehun saat itu‚ dan Sehun membalas beberapa jam kemudian. Lelaki itu bilang kalau ada masalah kecil di keluarganya. Untuk beberapa hari ke depan‚ mungkin Sehun tidak bisa pulang ke kota. Luhan mengerti‚ Ibunya Sehun sakit-sakitan jadi Sehun harus menjaganya selagi lelaki itu ada di sana. Jadi Luhan tidak akan mengganggu Sehun.
Dua hari berlalu‚ dan Luhan sudah merasa bosan. Sehun belum bisa pulang karena kondisi Ibunya. Sementara Sehun jauh di sana‚ Luhan merasa bahwa hidupnya tanpa Sehun terasa hambar-hambar saja. Tidak ada yang menjahilinya‚ tak ada yang mengajaknya makan gratis‚ juga tak ada yang namanya tidur sampai larut untuk menemani Sehun menyelesaikan tugas-tugasnya.
Luhan menghela napas. Selesai menemani Baekhyun untuk meminjam beberapa buku di perpustakaan‚ Luhan mengajak perempuan bermata sipit itu untuk langsung pulang saja. Luhan ingin istirahat dan tidur di kamarnya. Jadi Baekhyun mengiyakan saja karena ia juga butuh rumah untuk mengerjakan tugasnya kali ini.
Namun begitu mencapai tempat parkir‚ seseorang tiba-tiba memanggil nama Luhan dengan keras. Lantas Luhan menoleh pada sumber suara‚ dan mendapati seorang lelaki bernama Wu Yifan berlari kecil ke arahnya. Baekhyun menyikut lengan Luhan‚ memberi isyarat kalau dia akan menunggu Luhan di dalam mobil. Luhan mengangguk. Ia membiarkan Baekhyun pergi sementara dirinya menunggu Yifan berada di depannya.
"Ada apa lagi?" tanya Luhan begitu Yifan sudah berada di depannya. Perempuan itu bersedekap‚ memandang Yifan setengah kesal‚ setengah serius.
Oh‚ Yifan tahu kalau Luhan marah soal kejadian beberapa hari yang lalu.
"Maaf aku baru bisa menemuimu sekarang." kata Yifan. Napasnya terengah-engah sehabis berlari. "Aku ada banyak urusan akhir-akhir ini."
"Tidak perlu bertele-tele. Katakan apa yang kau mau."
"Kau marah?" tanya Yifan‚ sadar bahwa Luhan menatapnya kesal. "Karena aku tak datang di acara kencan kita?"
Luhan tersenyum. "Lupakan saja." sinisnya. "Aku tak ingin mengingatnya."
"Maaf." sesal Yifan. "Aku tak bisa hari itu karena aku harus menemui temanku."
Luhan diam saja. Tanpa Yifan menjelaskan pun Luhan sudah tahu kenapa lelaki ini tidak bisa menemuinya di malam itu.
"Atau kau ingin kencan yang kemarin gagal itu kita ganti kencan di hari lain?" tanya Yifan.
"Tidak‚ terima kasih." jawab Luhan. Ia mengibaskan sebelah tangannya. "Aku terlalu sibuk untuk berkencan denganmu."
Bukannya menghela napas atau apapun itu‚ Yifan justru tertawa mendengar jawaban Luhan. Lelaki itu mengusap puncak kepala Luhan dengan lembut lalu berkata‚ "Ternyata kau masih marah soal kencan yang kemarin itu. Aku benar-benar minta maaf‚ Luhan sayang."
Luhan mengerutkan kening tidak suka. Tangannya menepis tangan Yifan dari kepala dan menatap Yifan tajam. "Sudah kubilang aku tidak mau." katanya dongkol. Ia tak menghiraukain Yifan lagi karena setelah itu Luhan pergi dari sana dengan langkah cepat. Tiba-tiba keinginannya untuk pulang semakin besar setelah bertemu dengan Yifan yang dengan percaya dirinya meminta kencan kembali.
Huh‚ Luhan tidak akan luluh untuk yang kesekian kali!
Tapi begitu keesokannya Luhan menemukan Yifan berada di depan rumahnya‚ sedang bersandar pada kap depan mobil untuk menunggunya‚ Luhan jadi tidak bisa menahan diri. Meski Luhan gengsi mengatakan‚ "Ayo kita pergi kemana pun kau mau." Luhan tetap ikut bersama Yifan. Perempuan itu hanya diam menatap Yifan supaya Yifan peka membukakan pintu mobil untuknya.
Ah‚ mau bagaimana lagi. Luhan benar-benar menyukai Yifan meski lelaki itu secara tidak langsung sudah menyakiti hatinya beberapa kali. Luhan memang terlihat gampangan di depan Yifan‚ dan Luhan tidak peduli. Tapi jika Sehun tahu soal ini‚ Sehun pasti akan marah padanya. Mengingat Sehun bilang kalau ia tidak rela menyerahkan Luhan pada Yifan beberapa waktu yang lalu.
Wah‚ lelaki itu. Sebenarnya apa sih yang ada dipikirannya? Kenapa Sehun bertindak seolah ialah orang kedua yang berhak melindunginya setelah Ayahnya sebagai orang pertama? Tsk‚ menyebalkan.
Malam itu‚ Luhan berada di mobil yang sama dengan Yifan. Mobil Yifan membelah jalanan kota yang ramai. Luhan menikmati waktu yang berlalu bersama Yifan. Lelaki ini sudah membuatnya gila sebelum dan sesudah mereka berpacaran. Sampai Sehun saja menyerah memberitahu Luhan kalau Yifan bukan lelaki yang baik.
"Ikut denganku dulu‚ ya?" ujar Yifan pada akhirnya‚ memecah keheningan setelah sekian lama yang mengisi ruangan dalam mobil itu hanyalah suara musik dari tape mobil.
"Kemana?" tanya Luhan. Tapi setelah itu ia melanjutkan sebelum Yifan membalas pertanyaannya. "Oh‚ tidak apa-apa. Aku akan ikut denganmu kemana saja."
Yifan tersenyum lebar. Ia mengusak puncak kepala Luhan dengan gemas‚ lalu mempercepat laju mobil. Setelah itu‚ mereka berhenti di sebuah klub yang ramai. Keduanya keluar dari mobil dan masuk ke dalam sana.
"Aku harus menemui temanku dulu." kata Yifan setengah berteriak pada Luhan. Ia harus menandingi suara musik yang berisik supaya Luhan mampu mendengarnya.
Luhan mengangguk‚ tersenyum. Ia membiarkan Yifan menggandengnya untuk menembus keramaian di klub waktu itu. Yifan membawanya masuk ke sebuah ruangan yang hanya dibatasi oleh tirai. Baru setelah itu Luhan melihat tiga orang lelaki yang sudah berpasangan. Salah satunya sedang asyik bercumbu sementara yang lain sibuk mengobrol dan menegak wine bersama para perempuan dengan pakaian kurang bahan itu. Luhan sampai harus melipat bibirnya ke dalam supaya ia bisa berlagak biasa saja di depan teman-teman Yifan.
Jujur saja‚ Luhan merasa risih dengan pemandangan seperti ini‚ suasana ramai dan memekakan telinga seperti di klub. Hanya saja‚ ia sedang bersama Yifan. Tidak mungkin pula Luhan merengek minta pulang pada Yifan setelah baru saja menginjakkan kaki ke klub.
Saat Yifan datang‚ kegiatan mereka jadi terinterupsi. Mereka menyambut Yifan dengan riuh dan bertanya siapa perempuan yang diajak Yifan setelahnya.
"Ini Luhan‚ pacarku." jawab Yifan setelahnya. Ia pun duduk di sofa yang tersisa‚ dengan Luhan di sebelahnya.
"Uh‚ dia manis sekali." celetuk seorang lelaki berambut pirang yang tidak Luhan kenal. Luhan hanya tersenyum canggung sebagai jawaban. Setelah itu ia mempersilahkan Luhan untuk minum sementara dia harus mengobrol dengan Yifan.
Luhan sebenarnya enggan. Ia tidak bisa minum karena ia takut mabuk. Oh‚ itu lucu sekali. tapi begitu Yifan bertanya‚ "Kau tidak minum?" padanya‚ Luhan akhirnya meraih gelas berisi wine itu dan menegaknya sampai habis.
Itu tegukan wine pertamanya. Tegukan yang pertama itulah yang menjadi pembuka dari tegukan wine yang lain.
Semakin banyak Luhan meneguk wine nya‚ semakin Luhan merasa mengantuk. Ia tertidur di bahu Yifan sehingga lelaki itu terkekeh geli ketika menyadarinya. Yifan menepuk-nepuk puncak kepala Luhan yang kemudian membuat Luhan terbangun.
"Ayo… Pulang…" Luhan merengek serak. Suaranya terdengar sayup namun Yifan masih mampu mendengarnya.
Yifan tertawa kecil. Ia mengiyakan permintaan Luhan‚ pamit pada teman-temannya‚ lalu membawa Luhan pergi dari sana. Suara musik yang keras terdengar lagi‚ membuat Luhan melompat-lompat mengikuti irama. Luhan senang sekali‚ ia mabuk dan ia tidak sadar akan hal itu. Luhan menarik Yifan untuk mengikutinya bergabung bersama orang-orang di lantai yang sesak akan banyak orang. Melupakan keinginannya untuk pulang. Tubuhnya sedang tidak sinkron dengan perintah otaknya.
Luhan menari seraya melompat-lompat senang. Yifan tak bisa untuk tertawa dan memegangi pinggang Luhan supaya Luhan tidak jatuh. Kemudian Luhan memeluk leher Yifan. Ia tersenyum dan tiba-tiba Yifan mengecup bibirnya sekilas. Luhan terkekeh kecil. Pun ia membiarkan Yifan menciumnya di tengah-tengah para pencari kebebasan di klub ini.
Oh‚ inilah yang Luhan tunggu-tunggu sedari dulu. Berciuman dengan Yifan.
Bagi Luhan‚ semua yang ada di sekitarnya kali ini menjadi kelabu. Sadar tidak sadar‚ ia dibawa Yifan ke sisi klub yang lebih sepi. Luhan sama sekali tak masalah ketika Yifan mengungkungnya diantara tubuh lelaki itu dan dinding. Yifan terus menciumnya‚ dan tak sadar bahwa dua kancing teratas kemeja Luhan sudah tak mengait lagi‚ juga tangan Yifan yang menyusup di balik kemejanya.
Ciuman itu terus berlanjut. Namun tiba-tiba ciuman itu berakhir karena bahu Yifan tertarik ke belakang sehingga Yifan berbalik‚ dan mendadak mendapat serangan dari seorang lelaki. Yifan terjatuh karena ia mendapat bogeman mentah tepat di rahang. Sedetik setelah itu suara pekikkan para perempuan terdengar menyaingi musik keras di ruangan ini. Pandangan Luhan tiba-tiba berkunang‚ ia hanya melihat bayangan buram seorang lelaki yang berusaha membuat Luhan berdiri dengan benar.
Sementara itu‚ Yifan memejamkan matanya sejenak‚ menggeleng kecil‚ dan memfokuskan matanya. Tiga detik setelah itu ia bisa melihat seorang lelaki bernama Oh Sehun menarik kerah kemejanya dengan kasar‚ seraya berteriak‚ "Apa yang kau lakukan pada Luhan‚ brengsek?!"
Sudah banyak pandangan orang-orang mengarah pada Sehun dan Yifan. Musik tetap mengalun‚ hanya saja volumenya sedikit dikurangi.
Yifan berdecih‚ tidak menjawab.
"Jawab aku‚ brengsek!" dan Yifan mendapat pukulan di tempat yang sama.
Sementara itu‚ Luhan yang perlahan mulai mendapat seperempat kesadarannya‚ berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya ketika ia berdiri. Luhan berjalan dengan pelan dan sempoyongan menuju ke arah Yifan. Tangannya terulur‚ menarik lengan baju Sehun yang berada di depannya. Waktu itu ia tidak sadar bahwa lelaki yang menghajar Yifan adalah Sehun. Jadi Luhan marah karena kegiatannya dengan Yifan diganggu oleh seseorang.
"Jangan menggangguku!" kesal Luhan. Ia menarik lengan baju Sehun dengan kuat sehingga secara refleks Sehun menghempaskan tangan Luhan kasar. Luhan jatuh terduduk‚ punggungnya membentur dinding.
"Kau juga‚ jangan menggangguku!" tunjuk Sehun marah pada Luhan.
Baru setelah itu Luhan tersadar. Ia bisa melihat wajah marah Sehun dengan jelas‚ dan ia bisa mendengar suara Sehun yang ia kenal. Mendadak Luhan diam‚ tidak bisa berkutik. Sehun tiba-tiba mengejutkannya‚ dan marah padanya.
Sehun belum pernah semarah ini. Dan Luhan baru melihatnya sekarang.
…
To be continue…
Hai! Terima kasih sebelumnya udah baca bagian prolog. Respon kalian buat aku senang hehe.
Maaf ya buat kalian yang nggasuka sama Yifan-Luhan di sini. Maaf sekali‚ ceritanya memang kubuat begitu. Luhan dengan kepolosannya‚ Yifan dengan kebangsatannya‚ juga Sehun yang jadi pelindungnya Luhan. Intinya gitulah hehe.
Btw ini cerita ngga nyambung sama projectnya :((
Buat kemaren yang nanya in project apaan‚ ku jawab deh. Jadi maksud project ini‚ author harus menulis cerita tentang filosofi warna yang sudah mereka pilih. Gitcuu…
Udah‚ ah. Aku ngga mau banyak omong lagi. Terima kasih sudah mau membaca cerita ini dan jangan lupa review setelah baca!
See you!
