Weh..weh..weh… gak nyangka ada yang bersedia rifyu *terbang kelangit ketujuh ma Kakashi..* dapet tanggapan positif pula dari para rider dan senpai-senpai semua..*potong tumpeng* ne updatenya tak publis *ngelemparin Fic…*
TERIMAKASIH UNTUK SAMBUTAN YANG HANGAT INI...
Balas rifyu ah…
Hikari Uchiha Hatake : arigatou Hikari dah mau rifyu.. nasib mereka? Author juga masih bingung nasib mereka gimana *dikejar kawanan unta..* tunggu aja ide apa yang selanjutnya muncul dikepala yah.. "PIS" *mengacungkan dua jari membentuk huruf V*
Awan Hitam : YIHAY… gak nyangka kak awan mau baca pe rifyu pe ngasih tanggapan segetonya..*melayang-layang… * Arigatou kak.. fic Kakak juga bagus bagus kok, aku sering baca tapi cuma jadi silent riders *Di Chidori,.* terus rifyu yah kak terus kasih semangad *sendirinya gag pernah rifyu..*
dei hatake : wah… ko banyakan yang penasaran ma nasip Hinata ya? Makacih ya senpai dah bersedia rifyu
Azuka Kanahara : tengkyuh Azuka senpai.. susah banget mengakali typo neh.. ne udah di Update rifyu lagi ya…
LuthMelody : Arigatou Luth… eya nih Update… Ficnya Luth Juga keren2 banget lho…
aya-na rifa'i : Wah… senengnya tengkyuh tengkyuh aya-chan… author sendiri juga masih bingung tu Sakura yang sama pa bukan *di lempar going Marrynya Lufi* nih… di chap ne bakal ketauan siapa Sakura ini… tangkyuh ya… rifyu lagi ya..
Chrystha McDohl Suikogirl : Makasih… *Blushing tinggkat tinggi* terus rifyu yah… buat semangat saiya nulis Fic.. ups..ngetik Fic maksutnya.
Masahiro 'Night' seiran: Arigatou senpai bersedia rifyu. sempet kepikiran gitu ceh… pi muncul alternative lain *jalan kale..alternatif..* iyah.. kesian Hinata-channya.. dia terlalu lembut wat di sakitin… mksh tas rifyunya ea? Disini Kakashi udah cinta mati ma Sakura, dia cuma sebatas sayang ma Hinata *Di Rasengan Naruto gara2 ngegituin Hinata*.
Kuroneko Hime-Un : Arigatou…senpai…
Haruchi Nigiyama : hehehe…arigatou…Kakashi-niichan nyebutin Nama Sasuke waktu Kurenai mencoba memperingatkan Kakashi-nichan…
BUAT SEMUANYA ARIGATOU GOZAIMAZU..
_0oOo0_
Disclaimer : Mau ngamuk-ngamuk ampe Titanic utuh lagi juga Naruto tetep punya om Masashi
Warning : AU, aoutor baru.. jadi sorry bangget kalo gaje.. OOC, OC mungkin, typo N' segala macem temen satu paketnya…so… mohon bantuannya ya…
Kakashi = 28 tahun
Itachi, Kurenai, Iruka, Ibiki, Yamato, dan yang lain sesuai dengan yang di mangga kalau lebih tua dari Kakashi berarti mereka diatas 28 tahun, kalau lebih muda dibawah 28 tapi tidak kurang dari 25 (*maksa_ditendang..
Hinata, Naruto, Sasuke, Ino, Kiba, Shino, Shikamaru, Chouji dll yang seumuran = 21 tahun
Neji, Tenten, Lee= 22 tahun
Sasori = 24 tahun
Sakura Haruno = meninggal di usia 19 tahun, seharusnya berusia 21 tahun saat cerita dimulai.
Sakura Akatsuna= 17 tahun
Hanabi = 17 tahun
Author minta maaf sebelumnya karna mengubah usia seenaknya…Gomen…Gomen…
Happy Riding
Chaps 2 : 2nd Sakura
_0oOo0_
Sakura benar-benar heran. Sejak kejadian kemarin entah kenapa Nii-channya jadi lebih protek terhadapnya, memang sih sebelumnya Sasori selalu protek, tapi kali ini Sakura merasa terlalu berlebihan. Padahal yang memeluknya kemarin adalah Ketua Divisinya bukan orang jahat atau semacamnya. Sakura menggerutu sebal saat Nii-channya merangkul Sakura dari halaman parkir gedung Konoha's School hingga ruang Head Educationnya.
"Nii-chan.. aku bisa sendiri, kalaupun Nii-chan ingin mengantarku tak perlu merangkulku beginikan? aku malu, ini hari pertamaku disekolah." Gerutu Sakura.
Hampir sepanjang jalan siswa-siswi yang melihat mereka menoleh, sebagian besar memang karna tertarik wajah tampan Sasori atau wajah manis Sakura, tapi tak sedikit pula yang memandang mereka dengan tatapan mencela seakan berkata –jangan-pacaran-disekolah-kami-.
Konoha's School adalah sekolah terbesar, terluas, termegah, terlengkap dan terbaik di Konoha, memiliki pendidikan mulai dari playgroup hingga universitas. Berdiri diatas tanah seluas puluhan hektar yang terdiri dari empat bangunan, satu bangunan seukuran rumah biasa dengan taman kecil dan berbagai area permainan adalah "gedung A" yang digunakan untuk anak-anak dibawah usia 6 tahun belajar, kemudian sebuah gedung berlantai sepuluh "Gedung B" yang merupakan tempat bagi anak berusia 6-18 tahun atau dari Elementary School hingga Senior High School, lalu sebuah bangunan sedang dua lantai "gedung C" yang merupakan tempat bagi para sensei, dan management serta kepala pendidikan ada disana, dan terakhir "gedung D" gedung berlantai sepuluh yang sama identik dengan gedung B yang merupakan universitas dari Konoha's School.
"Nii-chan, lepaskan dong." Sakura berusaha melepaskan rangkulan Nii-chan.
Keduanya tengah berjalan kearah bangunan bertuliskan "C Building" yang berada diantara dua gedung tinggi megah. Mereka menaiki tangga keramik putih kemudian berbelok kekiri, kemudian berhenti di ujung koridor.
"Tunggu disini, Aku perlu bicara dengan kepala sekolahmu." Perintah Sasori menunjuk sebuah sofa panjang yang tergeletak bawah jendela besar. Sakura hanya bisa pasrah dia duduk menopang dagu dan memandang taman luas didepannya.
Sasori mengetuk pintu sebelum kemudian masuk saat suara seorang wanita mempersilahkannya.
"Selamat Pagi." Dia membungkuk hormat pada seorang wanita berambut pirang berusia tiga puluhan, mata coklat madunya memangdang Sasori sedikit terkejut. "Saya Sasori Akatsuna, Aniiki dari Sakura Akatsuna, sekaligus satu-satunya wali dari adik saya."
"Oh, Selamat pagi tuan Akatsuna. Sakura Akatsuna, gadis pindahan yang direkomendasikan langsung oleh Anbu? Silahkan duduk, pasti ada yang penting hingga akhirnya anda sendiri datang menemui saya. Saya Tsunade, Head Education Konoha's School."
'Oh, jadi beliau Tsunade? Benar-benar terlihat muda' batin Sasori, dia pernah mendengar reputasi seorang wanita ahli kedokteran terhandal di Konoha yang juga merupakan kepala pendidikan di sekolah Konoha.
"Benar sekali. Memang ada yang penting yang perlu saya sampaikan secara lansung. Apakah anda mengenal gadis ini?" Tanya Sasori sambil mengulurkan sebuah foto.
Tsunade mengambil foto itu, dan dalam sekejap mata dia langsung mengenalinya sebagai siswi terbaik kedua setelah Uchiha, siswi yang telah banyak membawa piala kemenangan untuk sekolahnya, meskipun sayang sekali usianya tak panjang. Dia tersenyum sebelum menjawab.
"Ya, tidak mungkin saya melupakan gadis blirian seperti dia." Tsunade kembali mengangsurkan foto itu pada tamu didepannya, tapi pria itu tidak menerimanya justru berkata…
"Amati lebih baik lagi. Siapa dia."
"Apa maksud anda tuan Akatsuna?" Tsunade mangernyikan alisnya, dia tidak mungkin salah mengenali murid kesayangannya itu. "Dia Haruno Sakura, dia siswi disini sebelum meninggal dua tahun yang lalu." Kini matanya memancarkan kerinduan, dan suaranya agak bergetar.
"Maaf tapi anda salah, Inilah masalah yang ingin saya bicarakan. Ini pertama kalinya saya membawa adik saya SAKURA AKATSUNA ke Konoha, dan kemarin seseorang menyangka dia adalah SAKURA HARUNO. Saya telah mendapat banyak informasi tentang Sakura Haruno, dan perlu saya tekankan disini adik saya bukan Sakura Haruno, dia lahir dan dibesarkan oleh orang tua yang sama dengan saya, dan yang kedua saya tidak ingin adik saya tahu tentang Sakura Haruno, meskipun dia akan tahu cepat atau lambat, tapi bukan saat ini."
"Apa maksud anda." Tsunade tak mengerti, dari sekian panjang kata-kata tamunya ini dia hanya bisa menangkap dua nama Sakura Haruno dan Sakura Akatsuna.
Sasori menghela nafas. "Sepertinya saya harus menjelaskan secara detail." Katanya sebelum kemudian mulai bicara tentang kemiripan adiknya dengan siapapun Sakura Haruno ini.
_0oOo0_
Sakura masih duduk menopang dagunya di sofa berlengan itu. Suasana disekolah mulai sepi karna bel pelajaran telah berbunyi. Udara pagi menerpa dan memainkan rambut pinknya. Beberapa kali dia menghela nafas bosan.
Dug.. dug.. dug...
Suara bola yang memantul dilantai menarik perhatiannya, saat bosan bahkan suara bola pun bisa jadi menarik. Tapi tak ada siapapun di koridor itu selain dia.
Dug.. dug.. dug..
Suara itu semakin mendekat.
Sakura bangkit dan mencari, hingga akhirnya dia menemukan sosok berambut pirang yang mencuat seperti kulit duren tengah memainkannya mendrible bola naik turun menyentuh lantai dan telapak tangannya. 'sepertinya mahasiswanya ya..' batin Sakura mengenali dari pakaiannya bukan seragamnya, dia memandang pria itu yang mendekat..
Dug... dug... dug...
Kali ini suara bola yang mengelinding terlepas dari tangan pemiliknya. Mata biru itu terpaku menatap Sakura. Mulutnya terbuka, lalu menutup lagi, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tercekat ditenggorokan.
"Hey.." Sakura menyapanya heran. Tapi pria itu tak bergeming."Helow.. kau baik-baik saja?" kata Sakura.. "Hei.." Sakura mengulurkan tangan untuk menyentuhnya tapi detik berikutnya pria itu berteriak keras sekali..
"WAAAAAAAAA..." dan kemudian berlari kencang meninggalkannya.
'kenapa sih orang-orang ini, aneh sekali...'
"Sakura." Suara yang sangat dikenalnya memanggil, Sakura berbalik dan melihat Nii-chan berdiri di ambang pintu."Masuklah, kepala sekolahmu ingin bertemu."
_0oOo0_
"TEME! TEME!" Naruto berlari secepat dia bisa sambil meneriakkan panggilan pada sahabatnya sekeras pita suaranya mampu."Teme!" dia berbelok cepat masuk kelapangan basket, "TEME!" dia masih berlari menuju ruang ganti pakaian."TEME!" dia berteriak lagi, memanggil seorang pemuda berambut hitam yang tengah memakai kaos olahraga berwarna biru didepannya.
"Hn." Jawab pemuda itu memberi tatapan –kenapa-kau-selalu-berteriak-.
"Teme aku melihat Sakura."
"Hn?" kali ini memberi tatapan menghina pada Naruto."Tentu saja kau melihat sakura BAKA. Ini masih musim semi." Katanya sambil membungkuk mulai memakai sepatunya.
"Bukan bunga Sasuke.. tapi Sakura.. Sakura Haruno." Sejenak Sasuke menghentikan kegiatannya mengikat tali sepatu saat mendengar nama itu, sudah lama sekali nama itu tidak pernah menjadi topik pembicaraan diantara mereka.
"sebaiknya kau bangun sebelum mimpimu itu menggangu semua orang." Balas Sasuke dengan nada kesal.
"Teme kau yang BAKA." Detik berikutnya Naruto telah menarik tangan Sasuke yang baru memakai sepatu dikaki kirinya dan membawanya berlari menuju ruangan Head of Education.
_0oOo0_
"Sudak cukup sampai disini saja." Kata Sakura kesal pada Nii-channya yang masih saja bertekad mengantarnya hingga masuk kelas. 'kami-sama ada apa dengan Nii-chanku'.
Sasori mengusap kepala adiknya dengan sayang. "Baiklah cantik, aku juga sudah terlambat kekantor, baik-baik dihari pertamamu ya. Nii-chan jemput sepulang sekolah." Katanya, kemudian mengecup kening Sakura dan berlalu pergi meninggalkan adiknya yang tengah mengetuk pintu. 'semoga saja setelah ini semuanya akan baik-baik saja'. Dia berjalan menuruni tangga dan berbelok kekiri, didepan kantor HOE (Head Of Eduation) Sasori melihat dua orang remaja pria yang tengah berdebat.
"Aku serius teme.. aku tidak melihat hantu... aku yakin itu dia." Kata yang berambut kuning blonde.
"kurasa kau harus memeriksakan otakmu dobe."
Sasori tersenyum kecil mendengar keduanya saling mengumpat.'Dasar remaja'.
_0oOo0_
"Sakura?" Sakura berbalik saat mendengar namanya dipanggil. Saat itu bel istirahat baru saja berbunyi. Sakura melihat siapa yang baru saja memanggilnya, seorang gadis berwajah lembut rambut hitam keunguannya tergerai panjang, mata lavendernya memandang Sakura takjub membuat Sakura kembali mengernyit. Ini sudah keempat kalinya Sakura mendapat pandangan seperti itu dari orang-orang yang ditemuinya."Apa kau benar-benar Sakura?" tanya gadis itu membuat Sakura mengernyit lebih dalam hingga kedua alisnya hampir menempel.
"Benar, ma—"
"Maaf aku tidak bermaksud tidak sopan, namaku Hanabi Hyuuga." Gadis itu mengulurkan tangannya, Sakura menyambutnya.
"Sakura Akatsuna."
"Kau mirip sekali dengan seseorang yang kukenal."
"Benarkah? Apa sebegitu miripnya? Kemarin ada seorang pria yang memelukku gara-gara mengira aku kenalannya."
"Yah, mirip sekali. namanya juga sama dengan namamu."
"Masa?" Sakura tidak percaya.
"Iya, kau mirip sekali dengan Sakura Haruno senpai." Kata Hanabi, "dia seangkatan dengan Nii-san ku dulu."
"Dulu?"
"Yah dulu sebelum dia me—"
"Oi, Hanabi gantian dong, kami juga ingin berkenalan." Seorang laki-laki berambut coklat mendekati mereka.
"Iya benar." Yang lain ikut berdiri dari kursi mereka. Beberapa saat kemudian Sakura telah menjadi semacam matahari yang dikelilingi benda langit lainnya.
"Hufh..." Sakura menghela nafas panjang.
Hampir sebagian besar anak-anak satu kelas mengajaknya berkenalan, membuat kepalanya terasa berputar di kelilingi nama-nama yang seolah secara paksa dijejalkan kedalamnya. Dari sekian banyak nama itu Sakura hanya dapat mengingat beberapa yang tak begitu asing ditelinganya, meskipun ada satu yang asing tapi dapat diingatnya Hanabi Hyuuga. Sakura merasa ada yang aneh dengan tatapan matanya. 'jangan berfikiran buruk Sakura' dia mencoba mengingatkan dirinya. 'ngomong-ngomong dimana kantinnya? Kata Kyoku ada di koridor utara, bukankah ini koridor utara? Jangan-jangan aku tersesat.. hufh.. menyebalkan sekali hari ini, Nii-chan bersikap aneh, beberapa orang juga memandangku dengan—'
"OWCH..." karna sibuk dengan fikirannya sendiri Sakura telah menabrak seseorang hingga membuat kakinya kembali mundur kebelakang. "Maaf" dia segera membungkuk.
"Sa...Sa-ku-ra." Suara itu terbata.
Sakura mendongak 'oh, tidak lagi.' Dan melihat sepasang mata biru indah memandangnya sama dengan tatapan yang didapatkannya dari Kakashi, pria berbola basket yang ditemuinya dikoridor tadi pagi, Tsunade-sama yang merupakan HOE Konoha's School, dan Hanabi Hyuuga. Mata itu membelalak terkejut, wajahnya berubah pucat pasi.
"Ka..kau.." dia menunjuk wajah Sakura dengan jari telunjuknya dan..
Gadis itu limbung dan Sakura mencoba menangkapnya, tapi karna tubuhnya lebih kecil dari gadis itu dia ikut terjatuh.
"Hey.." Sakura menepuk pipi gadis yang sekarang pingsan disampingnya. "hey kau kenapa?"
'hah… Sakura Haruno.. siapapun kau, kau benar-benar menyusahkanku kali ini.'
"Tolong!" teriak Sakura keras, teriakan yang membuatnya berakhir di ruang UKS siswa.
Sakura duduk ditepi ranjang memandang dua gadis yang pingsan karna melihatnya. Tadinya hanya si gadis berambut pirang yang pingsan karna bertabrakan dengannya, dan kemudian datang seorang gadis lain dengan rambut bercepol dua yang –kemungkinan teman sigadis pirang- ikut pingsan karna melihatnya yang diharuskan menjaga sigadis pirang oleh dokter sekolah.
"Kami-sama…" Sakura mengeluh pelan. Kali ini mau-tak-mau dia jadi bertanya siapa si Sakura Haruno ini, apa mungkin dia semirip itu dengannya hingga membuat seorang ketua divisi pertahan ANBU memeluknya dan pingsan, seorang lain lari terbirit-birit, HOE begitu gugup dan terbata-bata dan sekarang dua orang mahasiswi pingsan. Sakura yakin semua ini ada hubungannya dengan Sakura Haruno, nama yang baru didengarnya sekali dari sigadis Hyuuga.
"Sakura."
"Ya." Sakura berbalik kearah pintu yang terbuka sedikit, terlihat kepala wanita berambut hitam sebahu yang melonggok memandangnya.
"Aku ada rapat bersama Tsunade-sama, bisakah kau tetap disini sampai aku kembali? Setidaknya sampai mereka sadar."
"Baiklah dokter." Jawab Sakura dengan senyum tipis.
"Ariga—"
"Dokter Shizune apa anda mengenal Sakura Haruno?" Potong Sakura cepat
"Sakura Haruno?"
"iya, mungkin seumuran dengan senpai-senpai ini." Sakura menunjuk dua gadis itu.
"Aduh maaf Sakura, tapi aku belum lama disini, kalau seumuran mereka itu berarti sekitar empat tahun yang lalu saat mereka disekolah."
"Oh, baiklah. Arigatou."
Sakura hanya bisa menghela nafas pasrah. Yang bisa dilakukannya sekarang hanya menunggu salah satu dari mereka sadar dan dia bisa menanyainya langsung.
Tiga puluh lima menit kemudian saat Sakura hampir menjatuhkan kepalanya diatas tempat tidur disamping gadis berambut pirang dia mendengar suara rintihan pelan dan tertahan. Sakura mendongakkan kepalanya dan memandang wajah cantik yang menyernyit dengan tangan memijit kepalanya pelan.
"Kau sudah sadar? Syukurlah." Sakura bangkit berdiri sambil ikut memijit kepalanya yang jadi terasa pusing.
"KA...KAU... SAK..KURA.."
"Jangan pingsan lagi. Aku mohon." Sakura berkata cepat sebelum gadis itu mulai kehilangan kesadaran.
Keheningan menyusul diruangan itu, membawa keduanya kedalam fikiran masing-masing. Ada gejolak yang begitu besar dihati Sakura yang memintanya segera menanyakan tentang keberadaan Sakura Haruno yang sekarang seolah menjadi bayang-bayang baginya. Tapi akal sehatnya melarang hal itu sekarang. Kalau melihatnya saja bisa membuat gadis ini pingsan bagaimana kalau dia bicara dan menanyakan hal itu.
"Apa aku bermimpi?" suara parau menyeruak pelan.
Sakura kembali kedirinya, dia memandang mata biru laut yang tampak tidak begitu fokus. Tak tahu apa yang bisa dikatakannya, kalau benar dia mirip dengan Sakura Haruno, dan kalau benar Sakura Haruno sudah meninggal seperti yang dikatakan Kakashi-sama maka pantas saja gadis ini menganggap ini mimpi, sama seperti Kakashi-sama yang juga mengira bermimpi saat bertemu dengannya. Sakura meremas jari-jarinya sendiri berharap bisa menemukan cara yang tepat untuk memberi tahu bahwa gadis itu tidak bermimpi.
"Aku merindukannu." Sebuah pelukan menyadarkannya dari fikirannya. Tanpa dia sadari gadis itu telah turun dari tempat tidurnya, memeluk Sakura erat dan terisak dipundak Sakura yang lebih pendek dari pundaknya sendiri. "Aku... sang..ngat merindukanmu.." gadis itu terbata.
"sejak kau pergi, aku merasa sepi.. tak ada lagi jidat lebar yang bisa ku ledek, tak ada lagi pinky yang bisa kuteriakki dengan makian, dan balas meneriakiku, tak ada lagi yang memanggilku Babi dengan wajah memerah, tak ada lagi yang bisa membuatku iri karna kedekatannya dengan Sasuke, aku merindukanmu.. sangat merindukanmu Sakura..." Sakura merasakan pundaknya basah, air mata telah mengalir deras dari mata biru laut itu. Tubuh itu bergetar dipelukannya. "Jangan pergi lagi, kau pasti melihat dari sana bagaimana aku sangat merindukanmu, bagaimana Sasuke semakin dingin tanpamu, dan Kakashi dan Hinata dan semua yang kau tinggalkan..."
"Aku tidak akan pergi.. kau lihat aku disini, memelukmu, mendengarmu menangis, dan memanggilmu Babi bila kau mau." Kata Sakura, dia merasa iba dan yakin hanya kata-kata itu yang bisa menenangkan hati gadis itu. Setidaknya sedikit meringankan kerinduannya.
"Ino." Sebuah suara lain menyeruak diantara mereka.
"Ten…ten." Ino menyahuti panggilan itu dengan terbata.
"Sa..Sakura…" gadis bercepol dua yang kini juga telah tersadar kembali membelalak memandang Sakura.
"Benar, tenten.. dia Sakura.. dia—"
"Senp- maksudku Ino, maaf bisakah kalian mendengarkanku sebentar? Ada yang harus ku… konfirmasikan disini." Kata Sakura mencoba setenang mungkin meskipun jantungnya jelas berdetak sangat cepat.
"Kau Sakura?" suara tenten penuh dengan keraguan.
"Maaf mengecewakan kalian tapi… aku bukan Sakura.. maksudku aku Sakura tapi bukan Sakura Haruno."
"Sakura kau bicara apa?" Ino tampak terkejut.
"Aku bukan Sakura yang kalian kenal, aku baru di Konoha dan jujur aku tidak mengenal kalian."
"Maksudmu kau melupakan kami?" suara itu lemah tapi terasa begitu menusuk Sakura, dia memandang kegadis yang bernama Ino.
"bukan, maksud ku—"
"Kau jahat Sakura. Kami disini selalu mengingatmu dan kau melupakan kami?"
"Bukan begi—Ino… Ino tunggu…"
Sebelum Sakura selesai bicara Ino telah berlari keluar ruangan dengan air mata yang kian merebak. Sakura hendak mengejar saat kemudian dia menyadari Ino telah menghilang entah di belokan mana. Akhirnya dia hanya bisa mengharap gadis ini. Tenten, atau siapapun dia.. kelihatannya lebih bisa menguasai keadaan.
"Aku mohon dengarkan aku sampai selesai. Ini semua membuatku gila, orang-orang memelukku, menatapku dengan tatapan aneh, bahkan ada yang lari terbirit-birit melihatku." Teriak Sakura emosi.
"Ka..kalau be..begitu.. ka..katakanlah.. akankuu dengar..kan." Tenten masih terbata.
"OKE. Sebelumnya aku perkenalkan diriku. Namaku Sakura Akatsuna, bukan Sakura Haruno dan aku bukan Sakura Haruno. Aku baru dua hari tinggal di Konoha sebelum itu aku selalu ada di Suna, mungkin beberapa bulan di Ame. Aku tidak tahu siapa Sakura Haruno, dan kenapa semua orang mengira aku adalah dia, padahal dari informasi yang aku dengar bukankah dia sudah meninggal?" Sakura menggeleng tak percaya."Benarkan dia sudah meninggal?"
"I..iya.. dia meninggal dua tahun yang lalu."
"Lalu kenapa kalian semua mengira aku adalah dia? Apakah kalian tidak bisa berfikir rasional bahwa orang yang sudah meninggal tidak bisa hidup lagi? Benarkan.. Tenten?"
"I..iya.."
"Lalu kenapa kau pingsan melihatku? Temanmu tadi juga pingsan."
Tenten tak menjawab, tapi tangannya bergerak menarik sesuatu dari saku roknya, melihat itu membuat Sakura sedikit lega. Setidaknya gadis itu telah sadar dari kebekuannya. Tenten menarik sebuah dompet berwarna hijau muda dengan motif bunga-bunga putih indah, kemudian mengeluarkan sebuah kertas dan mengangsurkannya pada Sakura.
"I.. itu fo..foto kami." Katanya.
Sakura mengambil foto itu sambil bergumam "Bisakah kau jangan tergagap?" membuat rona merah muncul dipipi gadis bermata coklat itu.
"Dia ada diteng..ngah.." mati-matian Tenten berusaha agar tidak tergagap. "Gadis berambut pink, bermata hijau yang duduk diantara pria berambut hitam berwajah dingin dan pria berambut kuning yang nyengir lebar."
Sakura memperhatikan foto itu, ada sekitar lima belas anak difoto itu, semuanya berpakaian seragam Senior High School yang sama persis dengan yang sekarang dikenakan Sakura. Tapi matanya langsung tertuju ketengah, kearah seorang gadis berambut pink, yang tengah tersenyum manis, kedua tangannya merangkul pundak dua pria dikanan kirinya.
"Di..dia.." kali ini Sakuralah yang tergagap.
"Sakura Haruno." Jawab tenten, kali ini nadanya terdengar lebih tenang. "Kalian bukan hanya mirip. Tapi kalian Satu."
"Aku bukan dia."
"Kau yakin? Kau tahu, sedari tadi aku terus berfikir benarkah kau sudah meninggal atau mungkin tubuhmu tertukar dengan orang lain saat dimakamkan dan kau masih hidup. Hanya saja mungkin kau hilang ingatan atau sebagainya.."
"AKU BUKAN DIA, SEJAK KECIL AKU HIDUP BERSAMA NII-CHANKU, DAN AKU MEMANG BELUM MENINGGAL JADI TAK ADA TUBUH YANG TERTUKAR ATAU APAPUN." Teriak Sakura dengan wajah merah padam."DAN KALAU KALIAN SEUMURAN, ITU BERARTI USIANYA SAMA DENGANMU, SEDANGKAN USIAKU SAAT INI ADALAH TUJUH BELAS TAHUN. AKU MASIH MEMAKAI SERAGAM KAU LIHAT?"
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Maaf."
"Aku bukan dia." Nadanya melemah.
"Beri aku, tidak maksudku, kami waktu untuk bisa menerima ini."
"Lalu aku? Aku harus bisa terima begitu saja dianggap sebagai orang lain yang tidak pernah kukenal selama hidupku?"
"Apa yang bisa kulakukan? Kalian memang mirip sekali.."
"Ceritakan siapa Sakura aku tidak tahu siapa dia tapi dia seolah menjadi bayang-bayang untukku sekarang, bantu aku menyakinkan semua orang bahwa aku bukan dia bukan Sakura Haruno. Dan maaf aku telah marah-marah padamu, aku malah menumpahkannya padamu."
"Aku tidak bisa menolak permintaan siapapun kamu yang membuatku merasa kamu adalah sahabatku. Aku sangat merindukannya… dia.. dia sahabat yang sangat bisa diandalkan, dia.. sahabat yang mau mendengarkan.." Tenten mulai terisak.
Sakura maju perlahan, mendekati gadis yang kini menangis diatas tempat tidur itu."Kau boleh memelukku, kau boleh menganggapku sebagai sahabatmu. Dan aku akan menjadi sahabat yang mau mendengarkan kalau kau menginginkannya." Bisik Sakura lembut, dia memeluk Tenten dengan hangat, membiarkan gadis itu menangis dan meluapkan kerinduannya pada sosok Sakura, hingga Sakura terpaksa melepaskan pelukan itu saat Tenten mulai berbicara tentang perasaan-perasaan bersalahnya pada Sakura Haruno selama dia hidup. Dan bel tanda akhir jam sekolah membuat Sakura harus segera kembali kekelasnya.
"Boleh aku meminta nomor HPmu Sakura? Agar aku bisa menjelaskan padamu seperti apa Sakura bagi kami."
"Oh, tentu saja, tapi dari cara kalian merindukannya juga menangisinya aku yakin dia gadis yang baik." Sakura menyodorkan HPnya yang telah menampilkan nomornya sendiri dan membiarkan Tenten mencatatnya di Hpnya sendiri."Oh, iya.. bisakah kau juga memberi tahu pria berambut kuning yang tersenyum lebar difoto bahwa aku bukan Hantu? Dia lari terbirit-birit saat melihatku tadi sepertinya dia mengira aku hantu.." Kata Sakura menahan tawa.
"Naruto? Baiklah akan aku sampaikan." Tenten tersenyum.
Dan keduanya berpisah di ujung koridor, Sakura berbelok kekiri menuju kelasnya sementara Tenten berbelok kekanan menuju gedung Universitas. Kelas Sakura telah kosong saat dia masuk. Dia segera menata buku-bukunya dan meninggalkan kelas dengan menenteng tasnya menuju kegerbang sekolah, sebuah mobil BMW hitam dengan lambang Anbu di pintunya telah menunggu Sakura. Sakura membuka pintu dan masuk begitu saja… tanpa dia sadari siapa yang tengah berada dibelakang kemudinya.
"Nii-chan hari ini menyebal… Kakashi-sama?" Sakura membelalak kaget. "Maaf aku kira ini mobil Nii-chan yang menjemputku, aduh.. aku pasti salah mobil."
"Tidak, kau tidak salah mobil ini memang mobil jemputanmu. Nii-chanmu sedang ada misi, jadi aku yang mengantikannya menjemputmu, kau tidak keberatankan?"
"Ti..tidak.." jawab Sakura gugup berada dibawah tatapan seorang pria tampan. Dan saat itu Sakura menyadari satu hal yang membuatnya tak mengerti. Jantungnya berdetak tak normal.
"Baiklah, kita ketoko Ice Cream sekarang." Sahut Kakashi sambil mulai mejalankan mobilnya.
"Kenapa diam? kau keberatan kalau aku yang menjemput?" Tanya Kakashi ramah. Sakura yang sedari tadi pandangannya tertuju pada sebuah revolver diatas dasbor mengalihkan perhatiannya dan menggeleng pelan.
"Tidak, meskipun sejujurnya aku kecewa, aku pikir kalau Nii-chan menjemputku aku bisa lebih sering bertemu dengannya."
"Maaf membuatmu kecewa."
"Tidak. Tidak." Sakura mengggeleng pelan."Nii-chan memang selalu sibuk, tidak apa-apa kalau Kakashi-sama atau teman Nii-chan yang lain yang menjemputku, Sungguh." Sakura berkata meyakinkan, dia takut membuat Kakashi merasa tak enak.
"Nii-chanmu orang yang hebat, jadi pantas saja kalau dia sibuk karna diandalkan dalam banyak misi."
"Aku tahu, Nii-chan memang heb—." kata-kata Sakura di intrupsi oleh suara perutnya yang minta diisi.
"Kau belum makan siang? Kita makan siang dulu kalau begitu?"
"Ah,tidak usah aku takut Ayame sudah masak untukku, kalau Kakashi-sama makan dirumahku saja bagaimana?"
Sejenak suasana hening. Kakashi tidak menjawab.
"Kakashi-sama boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ada apa? Wajahmu serius sekali?" Tanya Kakashi dia tersenyum sedikit.
"Apakah waktu itu Kakashi-sama mengira aku adalah Sakura Haruno?" sukses membuat senyum lemah itu hilang sama sekali.
_0oOo0_
"ada apa? Wajahmu serius sekali?" Tanya Kakashi heran melihat perubahan air muka Sakura yang begitu tiba-tiba, Kakashi mencoba sedikit tersenyum, hal yang akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang sangat sulit baginya.
Sakura menatap Kakashi dengan cemas, dia membuka bibir, lalu menutupnya lagi, seakan ingin bicara tapi takut kata-katanya bisa membuatnya meledak. Gadis itu menghela nafas pelan.
"Apakah waktu itu Kakashi-sama mengira aku adalah Sakura Haruno?"
DEG…
Kakashi tak mengira Sakura akan menanyakan ini.
Sakura Haruno.. nama yang begitu dekat tapi juga begitu jauh, rasa pahit menghantam Kakashi sekarang. mendengar nama itu seakan memaksa mengingatnya pada luka yang menganga besar dihatinya yang terus dicoba dilupakannya. Dan kenyataan lain ikut menghantam Kakashi telak. Gadis ini telah mengetahui keberadaan Sakura Haruno, keberadaan yang seharusnya tidak boleh diketahuinya. Bukan tidak boleh, tapi Nii-chan tidak ingin dia mengetahuinya. Kakashi bisa memaklumi keinginan anggota baru didivisinya itu, bagaimana pun juga dia hanya ingin melindungi adiknya, tidak ingin adiknya hidup dibawah bayang masa lalu orang lain, dan terpengaruh oleh itu. Sama seperti Kakashi yang juga takut bahwa hidupnya akan terpengaruh oleh gadis ini. Meskipun pada kenyataannya kedatangan gadis ini saja sudah membawa pengaruh bagi siapapun yang mengenal Sakura.
"Kau tahu nama itu?" Suara Kakashi begitu sangat dipaksakan.
"Bukan hanya anda yang mengira aku adalah dia."
Tentu saja BAKA. Sakura bersekolah di Konoha's School, tempat yang sama dengan Sakura-ku, dan... Shit...Sasuke... Kakashi meruntuk dalam hati.
"Benar aku mengira kau adalah dia. Kalian sangat mirip."
"Aku tahu." Jawab Sakura cepat."Aku sudah melihatnya."
Kata-kata Sakura dengan sukses mengambil perhatian Kakashi dari jalan dan fikirannya. Kakashi segera menghentikan mobilnya ditepi jalan. Sakura terkejut dengan reaksi Kakashi dan berfikir apa ada yang salah dengan ucapannya.
Kami-sama…runtuk sakura dalam hati.
"Maksudku melihat fotonya." Ralat Sakura cepat begitu melihat perubahan wajah Kakashi yang begitu cepat. "Tapi aku rasa dia lebih cantik dariku, dia manis sekali difoto itu, melihat fotonya saja aku seperti merasakan ada sesuatu yang membuatku... membuatku nyaman, seolah dia memberikan sentuhan yang lembut dihatiku." Katanya kemudian untuk mengurangi gugupnya akibat kesalahan tadi.
"Aku tahu." Kali ini Kakashi yang menjawab dengan cepat. Tentu saja dia tahu bagaimana rasanya berada disamping malaikatnya, kau bisa lupa pada dunia saat menatap mata emeraldnya. Dan dia takkan pernah lupa bagaimana aroma tubuh itu bisa menyihirnya.
"Aku pikir aku tidak sama dengannya, dia terlalu cantik untuk disamakan denganku."
"Kalian memang tidak sama, tapi tetap saja kalian seperti bukan dua orang yang berbeda." Kakashi memandang gadis itu, mata emeraldnya.. mata yang sanggup meruntuhkan dunianya. Kakashi tersenyum miris. "Dua tahun aku tidak melihatnya."
"Kakashi-sama, boleh aku tahu kenapa Sakura Haruno Meninggal?"
Deg…
Deg…
Luka itu berdenyut menyakitkan lagi...
Kenapa Sakura Haruno meninggal?
Kenapa dia meninggal? Bukankah itu salahmu Kakashi?Itu salahmu. kau tak bisa menjaganya.. kau tak bisa melindunginya..
Yah.. itu salahmu Kakashi...
…..
…
Dia meninggal karna kesalahanku..
Kebodohanku...
…..
Kalau saja saat itu aku tidak egois...
Tidak begitu bodoh, dan belajar bagaimana berkorban untuk orang lain...
Padahal Sakura terus mengajarkan itu padaku..
Berkorban...
"...anda baik-baik saja?" sebuah tepukan dipundak Kakashi mengembalikan fikirannya pada dunia.
Dia tersenyum dan menggeleng pelan."Tidak, bukan ap—"
"Kakashi-sama menangis.." entah pernyataan atau pertanyaan, tapi tangan Sakura yang telah terulur kini menyentuh pipi Kakashi dan mengusap setetes air yang mengalir tanpa disadarinya. "Maaf kalau pertanyaanku mengganggumu."
"Sakura…" suara lemah Kakashi hampir berbisik, dia menggenggam tangan sakura yang berada diwajahnya, Kakashi memandang wajah gadis itu yang tampak mulai merona, tersenyum tipis kemudian tatapannya terfokus pada permata emerald indah, yang sama seperti pemilik sebelumnya mampu menyihir Kakashi hingga dia merasakan suatu kenyamanan dan ketenangan seolah dunianya berada dalam mata itu. Kakashi mengecup tangan yang kini tengah digenggamnya tanpa mengalihkan pandangan dari warna emerald kehidupannya. Tangan yang lainnya mulai menyentuh wajah lembut didepannya, tangannya gemetar merasakan kulit terhalus seolah terbuat dari awan yang terajut dengan susu terbaik yang pernah ada.
Perlahan dia mendekatkan wajah itu dengan wajahnya, hingga dia bisa merasakan kening hangat menyentuh keningnya, dia bisa mendengar hembusan nafasnya, dan detak jantungnya… ya… detak jantung yang kini berdetak. Tidak diam, tidak bisu seperti waktu itu. Jantung itu berdetak cepat, Kakashi bisa mendengarnya bagai alunan musik terindah digendang telinganya. Kemudian ujung hidungnya pun mulai bersentuhan dengan ujung hidung Sakura. Dan dia bisa merasakan bagaimana hidung itu bekerja, mengambil udara agar paru-paru didalamnya tetap bergerak seirama dengan dada yang naik turun tidak membeku, dan tidak mengalirkan darah seperti waktu itu. Paru-paru itu masih utuh, itulah sebabnya hidung itu hangat. Kakashi memiringkan sedikit wajahnya dan mengecup bibir Sakura sekejap hanya sekejap. Hanya untuk sekedar tahu rasanya. Dan rasanya masih sama, lembut dan hangat. Dia mengecupnya lagi, lebih lama… manis.. lalu mengecupnya lagi.. lebih lama lagi.. Kakashi bisa merasakan tubuh itu mengejang saat dia sedikit menikmatinya lebih dalam, Kakashi melumat bibir bawah Sakura lembut, dan merasakan tangan sakura didalam genggaman tangan kirinya sedikit mengerat. Tangan kanan Kakashi yang semula hanya mengerakkan ibu jarinya dipipi Sakura kini mulai menarik rahangnya, memintanya lebih mendekat.
Kakashi merasakannya, bagaimana sentuhan-sentuhan itu seolah mengisi jiwanya yang telah kosong. Sedikit demi sedikit kehangatan itu memberi perasaan nyaman dihatinya, seakan ada air yang tetes demi tetes jatuh membasahi hatinya yang telah kering meski masih terus mengeluarkan darah dan nanah itu. Memberi rasa pahit diatas kehampaan. Pahit yang mulai berubah menjadi asam. Dan Kakashi menikmatinya… benar-benar menikmatinya.. dia terus mengecupi bibir itu, sesekali melumatnya lembut, lalu melepasnya dan kembali mengecupnya…
Give me freedom, give me fire,
give me reason, take me higher..
Lagu theme song piala dunia 2010 dengan sukses membekukan Kakashi. Seakan terkena serangan sepuluh ribu volt dari Pikachu Kakashi terpental kembali kealam nyata. Dengan cepat dia melepaskan tangan Sakura dan menarik tangannya dari wajah Sakura serta kembali keposisi duduknya sebagai pengemudi.
See the champions, take the field now,
you define us, make us feel proud
"Ni..Nii-chan.." suara Sakura terbata, dia menunjuk layar ponselnya. Kakashi mengangguk gugup. Meski dalam hati dia begitu bahagia, lama sekali dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya gugup didepan wanita. Karna hanya Sakura yang bisa membuatnya begitu.
"Moshi-moshi…" sahut Sakura lembut agak gugup.
"Apa kau sudah dijemput?"
"Iya sudah kok Nii-chan, tak perlu khawatir."
"Maaf Nii-chan tidak bisa menjemputmu, Nii-chan ada misi penting ke Oto, dan mungkin baru pulang dua hari lagi."
"Hah.. memang malang nasibku punya Aniiki yang jarang dirumah."
"Iya, maaf.. Nii-chan janji—"
"Jangan janji lagi, janji yang kemarin saja belum ditepati mau janji lagi." Sakura memotong kalimat Sasori.
"Jangan ngambek donk Saku-chan.."
"Aku gak ngambek, kayak anak kecil saja ngambek."
"Ya sudah kalo begitu, Nii-chan takut lama-lama telepon sama Saku-chan yang lagi marah, takut tiba-tiba keluar tendangan dari ponsel."
"NII-CHAN!" seru sakura marah. Kakashi bisa melihat wajahnya yang kini berubah merah."hati-hati." Lanjutnya kemudian.
"Iya, bye honey.. baik-baik dirumah, segera telepon kalau ada apa-apa."
"Aku bukan anak kecil lagi, jangan mengkhawatirkanku karna hal yang tak mungkin kulakukan."
"Tidak bukan begitu…."
"Aku sudah besar sekarang jadi sebaiknya Nii-chan mulai mengkhawatirkan dengan siapa aku berkencan." Dia kembali memotong kalimat Aniikinya
"Haha, baiklah adikku yang sudah besar, kalau begitu jangan sampai kau membawa cowok kerumah, atau cowok itu akan bernasib malang seumur hidupnya."
"Dan akan terjadi perang saudara diantara kita SASORI JELEK."
"Hehehe..maaf.. Jidat.."
Sambungan telepon terputus.
_0oOo0_
Tubikontinyu
_0oOo0_
TALI JEMURAN…
TALI JEMURAN…
TALI JEMURAN…
BARANG KALI ADA YANG MAU NYEKEK NI AUTHOR…
Gomen ngegantung gini… sudah cukup baikkah kali ini? Atau masih perlu banyak REVISI? Mohon Refyunya.. senpai senpai sekalian mohon bantuannya…
Buat aya senpai udah kejawab tuh siapa Sakura sebenernya...puaskah anda? Gomen ya Hinatanya belum keluar… padahal disini dia masuk tokoh sentral.. Gomen.. Oh eyah… senpai-senpai sekalian itu tadi masuk M pa gak sih? Pa ratednya di M-kan ajah ya…?
Chaps satu dapat tanggapan positif, jadi takut chaps 2nya mengecewakan... mempertahankan memang lebih sulit dari pada meraih... Mau lanjut atau udahan ajah baca fic gagal gini...
Mohon Rifyunya yah…
