Hai, ketemu lagi dengan saya pair-san di chapter ini^^
Tidak banyak yang ingin saya sampaikan, hanya ingin berterima kasih kepada para pembaca yang sudah mau ngeluangin waktunya untuk membaca cerita abal-abal saya ini. Dan, saya sangat senang jika kalian paham dan suka dengan cerita ini : )

Disclaimer : Semua karakter yang ada di cerita ini adalah milik Square Enix. Saya hanya meminjamnya ; )
#sayacintadamai

Oke, selamat membaca (^,^)


"Chapter《1》Seorang Anak"

6 tahun kemudian...

Kringgg...

Seorang gadis terbangun dari tidurnya dan mematikan alarm. Gadis berambut coklat kehitaman itu kemudian merenggangkan tubuh. "Yosh, saatnya memulai hari baru." Gadis itu pun bangkit dan bergegas untuk memulai harinya.


V-I-I

"Hmm ... sepertinya aku harus belanja," ujar gadis itu saat melihat persediaan makanannnya yang mulai habis. Dia pun berjalan keluar dari bar yang bernama Seventh Heaven itu.

Dirinya berjalan diantara orang-orang di pagi itu, merasakan hembusan angin yang menyegarkan. "Tifa..." panggil seseorang. Gadis yang bernama Tifa itupun menoleh. "Oh, hai Jessie. Tumben pagi ini kau semangat."

"Tentu saja. Barret telah membayar gaji kami," pekik Jessie. Dia merupakan salah satu bawahan Barret Wallace. Barret sendiri adalah anggota penting di istana kerajaan.

"Baguslah. Aku hanya takut kalian akan menumpang di bar ku lagi," sindir Tifa. Jessie cemberut dibuatnya. "Haha ... tidak, tidak. Aku hanya bercanda, Jess. Ngomong-ngomong ... dimana Biggs dan Wedge?"

"Entahlah mereka dimana. Aku juga tak terlalu peduli," jawab Jessie sarkastik.

'Mungkin mereka bertiga sedang punya masalah,' pikir Tifa. "Umm ... bagaimana kalau kau ikut aku jalan? Persediaan di bar sudah habis jadi aku ingin berbelanja hari ini," tawarnya.

Wajah Jessie langsung ceria. "Siapa yang akan menolak ajakan seperti itu? Ayo!"


V-I-I

4 jam kemudian...

"Ugh ... berat sekali," keluh Jessie yang membawa dua kardus belanjaan.

Tifa hanya tertawa. "Maaf, Jess, telah merepotkanmu. Aku janji akan memasakkanmu makan siang hari ini."

"Benarkah?" Tifa mengangguk mengiyakan. Jessie pun semakin bersemangat mengangkat dua kardus itu. Bagaimana tidak, masakan Tifa adalah yang terenak sejagad raya. Itulah pendapat Jessie.

"Tunggu," kata Tifa. Mereka berdua pun berhenti tak jauh dari bar. "Ada apa, Tif?" tanya Jessie yang tak bisa melihat ke depan karena terhalang oleh dua kardus tadi.

"Siapa dia?" tanya Tifa. Jessie pun merendahkan bawaannya untuk melihat siapakah yang dimaksud sahabatnya ini. "Anak kecil?" beonya.

Mereka berdua pun mendekati anak yang sedang memandang papan Seventh Heaven Bar itu.

"Emm ... permisi. Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Tifa ramah.

Anak itu berambut coklat dan memiliki sepasang mata biru yang indah. Dilihat dari penampilannya, anak ini pasti bukan dari kalangan rakyat biasa. Memakai vest hitam dan kemeja putih yang sangat bersih dan rapi. Ditambah celana hitam panjang dan sepatu pentofel hitam ukuran anak-anak. Yah ... walaupun masih kecil, anak itu memiliki wajah yang terbilang tampan.

'Wah ... anak ini sudah seperti bos sebuah perusahaan saja,' batin Jessie.

Anak itu hanya diam menatap keduanya. "Apa kau tersesat?" tanya Tifa lagi. Namun bukannya menjawab, anak itu malah menunjuk papan yang terpampang di atas bar. "Itu... " katanya singkat.

Tifa pun ikut memandang apa yang ditunjuk oleh anak itu. "Oh, itu adalah tulisan Seventh Heaven Bar," jawabnya.

"Aku tahu itu. Aku bisa membaca, kok," cetus anak berambut coklat itu. "Maksudku ... nama itu sama seperti kerajaan ini," lanjutnya.

Tifa tersenyum. "Ya, karena bar ini terletak di Kerajaan Seventh Heaven." Anak itupun mengangguk-angguk mengerti.

"Apa aku bisa menemui ayahku disini?" tanya anak itu.

Tifa dan Jessie dibuat kebingungan olehnya. "Umm ... apa kau sedang mencari ayahmu? Kalau mau, aku bisa mengantarmu pulang. Dimana rumahmu?" tanya Tifa.

"Aku tidak ingin kembali kesana sebelum aku bertemu dengan ayahku!" bentak anak itu. Keduanya terkejut. Tifa berusaha menenangkannya. "Maaf, tapi kami tidak tahu siapa ayahmu. Bisa kau sebutkan ciri-cirinya?"

Anak itu memegang dagu, berpikir. "Hmm ..."
"Rambutnya pirang dan seperti ... chocobo?" Tifa tertawa kecil mendengarnya. Tapi tidak dengan Jessie. Dirinya berusaha mengingat seseorang yang sesuai dengan ciri-ciri tadi. 'Sepertinya aku tahu. Tapi tidak mungkin dia memiliki seorang anak,' batinnya.

Tiba-tiba terdengar suara aneh dari perut anak itu. Seketika wajahnya memerah karena malu.

Tifa senang melihat betapa polosnya anak itu. "Apa kau mau merasakan masakanku?" tawarnya.

"Jangan sampai kau menolaknya. Kau tahu? Masakan Tifa itu sangat enak," tambah Jessie. Anak itu menatap keduanya dengan mata yang berbinar-binar kemudian mengangguk.

"Baiklah kalau begitu, ayo masuk."


V-I-I

"Enak sekali ..."

"Benarkan apa yang ku bilang tadi?" kata Jessie. Anak itu menangguk. 'Ini lebih enak dari masakan di istana,' batinnya.

"Jadi ... siapa namamu?" tanya Tifa yang sedang mencuci piring. Awalnya anak itu enggan menjawab, tapi dia pun memutuskan untuk memberitahukannya. "Denzel."

"Denzel? Nama yang bagus," puji Tifa. Mendengarnya, Denzel sedikit tersenyum. "Ceritakan bagaimana kau bisa disini?" tanya Jessie.

"Sebenarnya ... aku kabur." Tifa dan Jessie melonjak kaget. Tifa langsung menghentikan kegiatannya untuk mendengarkan cerita Denzel. "Aku ... aku hanya ingin bertemu dengan ayahku." Lagi-lagi dia mengatakan itu.

Tifa mendekatinya. "Dimana ayahmu?" Denzel hanya terdiam. "I don't know," jawabnya. "Sudah 5 bulan aku tidak bertemu dengannya." Tifa dan Jessie merasa prihatin terhadap anak itu.

Kemana saja ayahnya selama itu? Apa yang dilakukannya? Apa dia tak merindukan anaknya? Apa dia tidak peduli lagi dengan anaknya? Ayah macam apa sebenarnya dia? Banyak pertanyaan yang muncul dibenak Tifa.

Kemudian, perhatian Tifa teralihkan oleh sebuah kalung yang dikenakan Denzel. "Apa ayahmu yang memberikan kalung itu?" tanyanya.

Denzel mengangguk. "Ini sebenarnya sebuah cincin. Tetapi karena terlalu besar, jadi aku tidak bisa memakainya. Dan supaya tidak hilang, ayahku membuatnya menjadi kalung," jelasnya.

Ditatapnya kalung itu. Tiba-tiba, dirinya menetesnya air mata. "Aku ... hiks, aku hanya ... hiks, ingin bertemu dengannya. Aku ingin bermain, hiks ... dengannya lagi, hiks ... hiks ... aku ingin, hiks ... jalan-jalan dengannya lagi." Denzel terus menyeka matanya yang berlinangan air mata.

Tifa yang melihat itu tak bisa berkata apa-apa. Dirinya langsung memeluk Denzel dan mengelus kepalanya agar tenang. Namun, Denzel malah menangis menjadi-jadi di pelukan Tifa.


Oke ... sampai sini dulu ya ceritanya^^
Maaf kalau kependekan : (
Moga aja kalian suka. Dan seperti biasa, karena saya adalah penulis yang masih amatiran, saya sangat membutuhkan saran dan kritik kalian (dengan bahasa yang baik dan benar loh ya). Yang terakhir, jangan lupa review-nya ya?

- pair-san