Pernikahan itu terjadi 3 bulan setelahnya.

Kehebohan yang terjadi diantara kedua belah pihak justru mengantarkan mereka pada gerbang pernikahan yang sah dan mewah namun tetap terlihat sederhana dan tidak terlalu mencolok.

Awalnya ayah Hyungseob masih meragukan penyataan Woojin, yang keesokan harinya datang bersama keluarganya untuk melamar putri tunggalnya, namun akhirnya ia harus mengalah karena kehebohan istrinya yang memaksanya dan mengatakan bahwa Hyungseob harus cepat-cepat menikah sebelum berat di jodoh—dan Hyungseob rasanya ingin mengubur diri hidup-hidup saja.

Pernikahan mereka berupa ijab qabul dan resepsi besar yang dihadiri kerabat dari Hyungseob, Woojin, orang tuanya, dan keluarga besarnya. Ternyata banyak sekali kerabat Hyungseob yang merupakan kerabat Woojin juga seperti kak Dani, kak Seongwoo—setelah mengetahui ini, Hyungseob langsung tersedak cabai ketika memakan Indomie dan rasanya ingin mati saja—, kak Youngmin, kak Donghyun, kak Yongguk—yang merupakan tunangan dari kak Kenta, teman satu kosannya juga bersama Jihoon dulu—dan masih banyak lainnya. Hyungseob tak menyangka dunia akan terasa sesempit ini.

Yang lainnya itu juga termasuk teman-teman di SMAnya dulu, kok. Hyungseobnya aja yang terlalu lebay.

Inilah cerita rumah tangga Hyungseob Anindya Putri dan Woojin Aditya Nugroho setelah sebulan pernikahan mereka berlangsung.

Nikahan Siapa? (SEQUEL)

Works by Kanashiaru

Ahn Hyungseob (Yuehua) x Park Woojin (Brand New Music; Wanna One)

Lokal!AU; Gender Switch!; Oneshot.

Sedikit Warning: bahasa kasar, kalimat gak baku, typo(s), rating yang naik karena hubungan suami istri... EHEHEHE. Gak banyak kok tapi, tenang aja.

And THIS GONNA BE SO LONG SERIOUSLY. Dikarenakan authornya yang lagi kangen banget sama JinSeob, huhuhu. Disarankan buat baca sambil dengerin lagunya Hyungseob x Euiwoong - I Like You Girl karena... Ya gak apa apa sih, dengerin aja soalnya suasananya mendukung. (?)

Selamat menikmati~!

"WAAAAA AKHIRNYA KETEMU JUGA, GENGS!"

Wanita bersurai hitam bergelombang berlari kearah kerumunan wanita lainnya dan memeluk mereka semua layaknya Teletubbies. Mereka semua saling berpelukan di cafe tempat janjian mereka, tak memperdulikan pandangan dari orang-orang di sekitarnya.

"Duh sekarang Nahira fix jadi artis ya, terharu banget gue!" Ujar Gunhee—berpura-pura menyeka air matanya, ceritanya terharu dengan teman-temannya yang sudah berubah setelah melewati masa kuliahnya.

"Masih baru, wey! Lebay banget Yuni!" Jihoon menoyor kepala Gunhee, sementara wanita lainnya tertawa melihat kelakuan mereka yang tidak berubah.

Kerumunan itu berisikan Hyungseob, Jihoon, Daehwi, Euiwoong, Gunhee, dan Dongbin. Setelah sekian lama tak bertemu, akhirnya mereka bisa menyempatkan waktunya untuk berjumpa kembali tanpa wacana. Dan mereka mengisi obrolan itu dengan banyak hal.

"Daehwi sekarang dipepet adik tingkat anak HI yang lagi skripsi itu, gila ya gue ganyangka. Makin pinter dah lo sama dia. Siapa tuh namanya.. Eum.. Guanlin?"

"Gue emang udah pinter, kali! Sama lo pada aja jadinya goblok!"

"Hahaha bodo amat! Terus juga Ung otw nikah ya sama Haknyeon? Gila, langgeng bener lo dari SMA sama dia. Mana doi lagi di Jerman ngelanjutin studinya."

"Eum eum, pada dateng ya lo pada!"

"Gunhee neh masih jomblo, padahal ada kak Hwanwoong nungguin lo tau!"

"Y-ya.. Gue kan butuh yang pasti, Hwi!"

"Lo juga, Binnie! Akhirnya bisa suka cowok juga, huhuhu gila! Kenalin cowoknya dong, Bin!"

"Nanti aja ya kalo udah siap! Ehe."

"Hm.. Lanjut ya. Jadi lo LDR sama Jinyoung apa gimana nih, Nahira?"

Jihoon—yang disebut namanya— mendengus geli, "Jakarta-Depok LDR apanya, masih bisa ditembus KRL ini. Lagian tiap liburan gue sering nyempetin buat dateng ke Depok kok, atau enggak doi yang nyempetin kalo gak sibuk sama praktikum dan ujian."

"Enak ya punya tunangan calon dokter."

"Hahaha apaan deh, enakan juga Anin tuh. Udah nikah, suaminya anak teknik pula!"

Hyungseob yang tengah mengunyah makanannya kini terhenti sejenak karena mendengar namanya disebut-sebut oleh teman-temannya.

"Apaan deh jadi ngomongin gue?"

"Nin, sumpah! Gue tuh masih shock lho pas tau lo nikahnya sama Woojin, si biang onar di SMA kita dulu!" Ujar Daehwi dengan sedikit membara karena terlampau penasaran dengan hal ini.

"Biang onar gitu bisa masuk teknik, Hwi," koreksi Dongbin lalu kembali menyeruput minumannya.

Sementara Euiwoong menopang dagunya dengan kedua tangan lalu tersenyum lebar, "padahal gue kira lo bakal sama Seunghyuk atau enggak kak Ong loh."

"Sssst, kak Ong kan udah nikah sama kak Dani, bego!"

"Ya mana gue tau sih, Nin? Toh jodoh gaada yang tau, kan?"

Hyungseob menunduk sambil memainkan ujung luaran bajunya, berusaha memikirkan sesuatu yang ingin disampaikan kepada teman-temannya.

"Yuni, lo udah fix kerja di sekolah itu?"

"Iyanih, langsung gue ambil jadi guru Fisika. Males juga nyari tempat lain."

"Ya ampun, gue nyari banyak job tapi belum di acc semua. Ambil reporter aja gapapa deh, yang penting gak nganggur.."

"Hwi, yang sabar ya.."

"Gak apa-apa Hwi, gue juga masih belum dapet kok! Yuk nyari bareng-bareng, gue juga pingin ngelamar di perusahaan TV nih!"

"Aduh Binnie, semangat ya kalian!"

"E-ehm.. Guys.." Sejenak obrolan teman-temannya terhenti begitu mendengar suara lirih Hyungseob yang wajahnya sedikit memerah dan bibir bawahnya digigit pelan, "gue mau curhat nih..."

Ia terdiam sejenak untuk mengatur napasnya. Tarik napas, lalu perlahan buang, dan..

"... Menurut kalian wajar gak kalau gue sama Woojin udah nikah.." Rasanya napasnya sedikit tercekat sebelum melanjutkan kalimatnya, "... Tapi belum pernah ngelakuin hubungan suami istri pada umumnya?"

Yang Hyungseob dengar setelahnya hanya gebrakan meja dan teriakan nyaring dari teman-temannya yang tak tahu malu itu.

"Anin, gue tau lo mantan aseksual, tapi jangan segininya juga dong? Mumpung udah halal!"

"Haish, sembarangan! Gue tuh bukan aseksual, tapi anime-seksual!"

"Ih, gue kalo jadi lo langsung gituan deh di malam pertama!"

"Itu sih otak lo aja yang ngeres, Yun."

"Gak usah begitu lo berdua, Yuni sama Daehwi tuh sama aja otaknya. Sama-sama ngeres."

"Bilang aja lo juga mau kan, Bin!"

"Heh heh heh, kalian tuh!" Hyungseob buru-buru menghentikan obrolan gak sehat itu dan mendelik kearah Dongbin, Daehwi dan Gunhee yang tengah ribut sendiri, "gue juga penasaran, tahu! Tapi dia gapernah ada niatan buat nyentuh gue or something.."

Suasana berubah menjadi sedikit tenang dengan teman-temannya yang menggumamkan 'oooh~' setelah mendengar penjelasan dari Hyungseob.

"Mungkin lo-nya kurang agresif?" Hyungseob menggeleng.

"Lo-nya kurang menantang kali?" Apa pula ini. Hyungseob menggeleng cepat.

"Kurang menggairahkan lo-nya, coba pake minyak bulus biar makin ge—"

"HEH HEH HEH, emang lo semua gak ada yang bener otaknya!" Hyungseob melebarkan matanya dan memotong ucapan Jihoon, sementara oknum-oknum yang baru saja berkomentar malah asyik tertawa puas.

Di tengahnya, ada Euiwoong yang menopang dagunya dan sibuk memikirkan sesuatu, entah sesuatu apa itu. Sampai akhirnya ia menjentikkan jarinya dengan heboh—membuat ke-empat kerabatnya terlonjak kaget.

"Gue kayaknya ngerti deh masalahnya."

"Ya Allah Ung, gue baru aja ngira lo jauh lebih normal dari mereka bertiga. Ternyata sama aja.." Ucap Hyungseob—masih mengelus dadanya karena kaget berkat ulah Euiwoong barusan.

Sementara wanita bersurai hitam sebahu dengan bandana itu melirik Hyungseob dengan tatapan 'dengerin gue dulu, cuk!' dan tersenyum kecil, "gue sih ngerasa, Woojin takut lo gak nyaman kalo dia langsung asal bertindak."

Wanita Ahn dengan surai hitam panjang berponi itu mengernyit, maksudnya?

"Coba lo pikir aja, gaada angin gaada apa tau tau ngajakin nikah, dan kalian gapernah ada hubungan apapun sebelumnya. SMA aja kalian gak begitu deket," Euiwoong menyeruput minumannya sebentar, "dia pasti ga ngerasa nyaman kalo maksain kehendaknya di elo, apalagi kalo misalnya tau lo pernah suka sama kak Ong—"

"Hush, itu udah lama banget!"

"Ya anggep aja masih, dan lo kalo dipaksain sama Woojin pasti rasanya bakal risih," Tahu-tahu Daehwi tersenyum lebar kearah Hyungseob dan menopang dagunya, "wah, cowok pengertian banget ya si Woojin."

Sejenak Hyungseob termenung memikirkan kalimat dari teman-temannya itu, "tapi.. Kalo misalnya dia minta pun, gue pasti bakal ngasih kok.. Dia gak perlu nunggu gue siap atau gimana, toh ini kan kewajiban seorang istri..."

"Lo udah suka ya sama Woojin?"

Hyungseob menggigit bibir bawahnya.

"Masa iya gue gak suka sama suami gue sendiri?"

"CIAAAAAA ngaku juga lo, buntelan ubi!" Tahu-tahu ketiga temannya yang lain—Jihoon, Daehwi, Gunhee—meledek Hyungseob yang wajahnya sudah memerah, sementara Euiwoong menertawai ekspresi sahabatnya yang langsung berubah drastis ini dan Dongbin yang menyeletuk 'dasar kampret.'

Bagaimana tidak diledeki? Hyungseob itu merupakan salah satu temannya yang sangat tsundere—sulit mengakui dan menunjukkan perasaannya di depan publik—dan sekarang ia berani mengakui perasaannya terhadap seorang Woojin Aditya Nugroho secara terang-terangan begini. Suatu momen yang langka.

"Padahal mayan Nin, sex after marriage. Udah halal, dan pasti terhindar dari zinah dan penyakit."

"Eeeeey, sejak kapan lo mikirin dosa, Yun?"

"Eh tapi serius lho, gue juga se nempel-nempelnya sama Bae, belum pernah tuh kita ngelakuin sex. Karena sama-sama nunggu buat halal, kan gak enak banget kalo kebobolan. Bisa dikawinin massal sama ortu gue nantinya."

"Hahaha iya sih, gue sama Haknyeon juga begitu. Mesti halal dulu ya baru begituan. Prinsip persahabatan kita banget gak, sih?"

"Iya nih, giliran Anin yang udah halal malah gak pernah begituan. Membuang-buang kesempatan aja lo!"

"Y-ya gue kan belum deket banget sama Woojin! Malu lah!"

Senyuman di bibir Gunhee melebar mendengar ucapan sahabatnya itu.

"Eh, Seob. Mau gue bantu kasih saran, gak?"

Mungkin sebuah saran dari sahabatnya bisa membantunya agar semakin dekat dengan suaminya sendiri?

(Tips #1: Bersikap jadi istri yang baik di rumah.)

...

...

...

DEMI APA HYUNGSEOB BENERAN NGELAKUIN INI UNTUK WOOJIN.

Hyungseob itu paling males yang namanya memasak, makanya Woojinlah yang selalu memasak untuk mereka berdua. Atau tidak ya delivery makanan diluar. Mereka gak pernah pergi keluar rumah untuk makan, karena Woojin sendiri gak pernah mengajaknya keluar.

DAN SEKARANG HYUNGSEOB MEMASAK MAKANAN UNTUK WOOJIN.

Ditatapinya meja makan yang penuh dengan makanan—diketahui Hyungseob membeli keperluannya bersama keempat sahabatnya yang lain seusai berada di cafe—, lalu ia melepas celemek berwarna pink bermotif kelincinya dan menghela napas panjang.

"Kira-kira dia bakal suka gak, ya..?"

Selama memasak, Hyungseob terus memikirkan bagaimana reaksi Woojin nantinya. Sedikit cemas juga, takut Woojin takkan menyukai masakannya—

Ah, daripada ia berdiam cemas begini, lebih baik ia menunggu suaminya itu pulang dan menonton TV di ruang keluarganya.

Cklek.

"Assalamualaikum," itu dia, sosok suaminya yang baru saja membuka pintu dengan satu tangannya yang memegang tas kerja dan tangan satunya lagi—yang sudah bergerak menutup pintu—melonggarkan dasi kemejanya begitu sampai di rumahnya.

"Waalaikumsalam!" Buru-buru Hyungseob menghampiri Woojin dan mengambil tas di tangannya, menimbulkan kerutan di dahi sang pria, "halo, Jin! Gimana kerjanya tadi, hm?" Tanya sang wanita dengan nada ramah dan riang—tak seperti Hyungseob yang biasanya.

"E-eh, Seob..?"

"Kamu pasti capek kan habis kerja? Udah udah, istirahat dulu ya?" Potong Hyungseob dengan cepat lalu tersenyum lebar, menimbulkan banyak tanda tanya di benak Woojin yang baru saja pulang itu.

Woojin sih sebenarnya tak masalah dengan perubahan sikap istrinya yang seperti ini, justru ia bersyukur karena istrinya terlihat 'welcome' kepadanya begini. Tetapi, sebenarnya apa yang sedang terjadi..?

Tahu-tahu tangan Woojin ditarik oleh sang istri ke ruang makan kemudian ia kembali dibuat kaget dengan apa yang ada diatas meja makannya.

"Ini..?" Woojin menatap Hyungseob dengan tatapan bingung, sementara yang ditatap hanya bisa menunduk malu.

"A-aku yang masak, ayo dima—"

"HAH SERIUS LO YANG MASAK?!" Woojin refleks memekik kaget mendengar ucapan gamblang istrinya—merasa sangat asing dengan kata-kata tersebut, "e-ehm.. Ini beneran?" Hyungseob mengangguk semangat, kemudian menarik kursi untuk Woojin duduki, kemudian wanita tersebut mengambilkannya nasi dan menyerahkannya kepada Woojin—yang tentu saja masih dibuat bingung tak tanggung-tanggung.

Setelah mengambil beberapa lauk yang ada, Woojin menyuapkan satu sendok makan ke dalam mulutnya—dan terus ditatapi dengan cemas oleh Hyungseob. Kemudian raut cemas itu tergantikan berkat ekspresi Woojin yang berubah menjadi senang.

"Ya ampun, Seob! Lo mesti sering-sering deh masak begini, soalnya enak banget kalo lo masak!" Tangan Woojin bergerak mengusak surai hitam Hyungseob dengan gemas dengan senyum bergingsulnya yang mematikan, "duh, suka banget gue sama masakan lo," lanjutnya dengan nada tenang, dan hati Hyungseob kembali berdebar tak karuan.

Setelah makan malam bersama—yang kembali menimbulkan banyak pertanyaan di benak Woojin—dan membereskan makanan juga piring kotor di meja, mereka berdua kini berada di ruang keluarga menonton TV bersama.

Dengan tangan Hyungseob yang bergerak memijiti lengan Woojin, entah kenapa.

"Eum, Seob?" Woojin melirik wanita disampingnya, sesekali tangannya meraih rambut-rambut tipis wanitanya dan menyelipkannya ke belakang telinga, "lo hari ini kenapa, deh? Tiba-tiba masak dan sekarang begini.. Lagi seneng, ya?"

Diam-diam Hyungseob mengerucutkan bibirnya, dan tertangkap oleh mata Woojin. Aduh, kok gemes ya.

"Emangnya salah ya kalo aku ngelakuin ini semua?"

Tangan Woojin bergerak mengusak rambutnya sendiri, sedikit bingung dengan pertanyaan yang terlontar itu, "eh.. Enggak, kok! Gue cuma kaget aja, tiba-tiba lo jadi istri pengertian begi—ADUH! Jangan dicubit dong, Seob!" Ringisnya begitu merasakan jemari Hyungseob yang mencubit lengan yang sedang dipijat itu.

Tiba-tiba Hyungseob mengalungkan tangannya ke lengan Woojin—menimbulkan kepanikan bagi Woojin dan debaran di dadanya terasa semakin kencang begitu merasakan lengannya bersentuhan dengan dada sang istri—lalu menghadap kearahnya dengan tatapan berkaca-kaca, "Aku cuma pingin jadi istri yang baik buat kamu, Jin. Pelan-pelan aja gitu. Kamu kan suamiku.."

"... Boleh, ya?"

Dan siapa Woojin berani menolak permintaan sang istri yang merupakan cinta lamanya ini?

Buru-buru Woojin menganggukan kepalanya dengan kaku lalu menggaruk pelipisnya dengan satu tangan yang bebas.

"Gue gak masalah kok," mata sang pria melirik satu tangannya yang masih dipeluk oleh Hyungseob, "... T-tapi tangan gue bisa dilepas dulu, gak?" Ujarnya dengan kaku. Sang istri langsung melepas pelukan pada lengannya kemudian membuang muka, lalu menangkup kedua pipinya yang memanas itu.

Keduanya terdiam di posisi duduknya masing-masing, sampai akhirnya Woojin berdehem dan memecah keheningan dengan sebuah perkataannya.

"Besok hari minggu.."

Dan kalimat setelahnya membuat hati Hyungseob semakin berdebar karena antusias.

"... M-mau gak, kalo kita kencan besok? Kemana aja."

Senyuman lebar itu kembali menghias bibir sang istri.

"Mau banget!"

Ah, sepertinya Hyungseob harus mencari baju yang bagus untuk kencannya bersama sang suami besok. Jadi gak sabar!

(Tips #2: Ketahui banyak hal tentang Woojin.)

Hari ini, hari Minggu, dan Hyungseob sudah 1000% siap dengan kencan hari ini.

Enggak, itu gak salah kok. Dia memang benar-benar siap seribu persen untuk mengetahui banyak hal mengenai suaminya, Woojin di kencan kali ini.

Pria itu bahkan menyerngit begitu Hyungseob mengatakan sesuatu seperti,

"Biarin! Aku mau ikut kemanapun kamu mau, jadi turutin aja ya? Suamiku?"

Ah, kalimat yang akhir itu kembali membuat wajah sang suami memerah seperti di tampar bertubi-tubi oleh rasa manis yang overload itu.

Sebenarnya Woojin masih clueless dengan perlakuan Hyungseob yang sangaaat berbeda dari yang biasanya, ia bahkan sudah berkali-kali menanyakan hal ini. Tetapi balasan Hyungseob tetap seperti biasanya; "memangnya salah kalau aku ngelakuin ini, Jin?" Dan Woojin merasa seakan-akan telah melakukan hal yang tidak benar pada sang istri, tetapi pada akhirnya Woojinlah yang terus menerus mengalah dan membiarkan istrinya melakukan hal seperti ini.

Ia malah berharap Hyungseob akan terus menerus seperti ini. Siapa juga yang tidak mau mendapatkan rejeki seperti ini? Terlebih, istrinya sangat manis dengan penampilannya untuk kencan hari ini.

Short dress berwarna putih tak berlengan yang menutupi mulai dari dadanya sampai ke paha—hampir ke lututnya—dengan polesan make up yang simpel seperti eyeliner tipis, maskara yang terlihat menebalkan bulu mata lentiknya, juga liptint pink yang membuatnya terlihat semakin manis. Dan wanitanya ini tak perlu bedak ataupun foundation karena wajahnya sudah cukup mulus dan cantik, sehingga sang wanita hanya cukup memberikan sedikit sentuhan pada wajahnya.

Dan kata pertama yang keluar dari bibir Woojin setelah melihat penampilan sang istri adalah; "kamu cantik."

Hyungseob menoleh, "apa?"

"Kamu cantik. Banget," Woojin tersenyum lebar, menampilkan gingsulnya yang kerap membuat wajah Hyungseob memerah tak karuan.

"H-hari ini kita mau kemana, Jin?" Tanya Hyungseob, berusaha mengalihkan rasa gugupnya begitu mereka memasuki mobil dan Woojin masih memanaskan mobilnya sehingga mereka duduk di kursi dan masih diam belum menjalankan mesinnya.

Nampaknya sang suami juga masih bingung dengan tujuannya, sampai akhirnya ia menjentikkan jemarinya dan tersenyum lebar, "aku mau ke Aeon Mall yang Jakarta Garden City itu! Pengen ngerasain ferris wheel terbesarnya itu—" kemudian Woojin tersadar bahwa permintaannya sangatlah kekanakan, "m-maaf, kalo kamu gak mau yang lain aja—"

"GAK! Aku mau ngikutin kamu kemana aja!" Hyungseob meraih tangan Woojin lalu menggenggamnya erat, "aku juga pengen tau apa aja yang kamu suka, apa aja yang kamu mau, jadi jangan ragu ya?"

Apa perlu di ingatkan bahwasanya Woojin Aditya Nugroho merupakan pria yang sangat lemah terhadap istrinya sendiri?

Sesampainya di Aeon Mall yang terletak di Jakarta, mereka langsung mencari restoran untuk mengisi perut terlebih dahulu.

Dan pilihan Woojin adalah restoran ramen.

Katanya, "disini tuh banyak restoran Jepang yang enak. Dan aku suka banget ramennya," yang tentu saja diikuti Hyungseob dengan semangat.

Karena kebetulan sekali, Hyungseob juga sangat suka ramen!

Oke, seleranya dengan Woojin ada yang sama. Baru satu, nih. Kira-kira apa lagi ya nanti?

"Saya pesan yang.." Hyungseob tak begitu mendengar ucapan Woojin saat memesan makanan kepada pramusaji yang ada, karena matanya sibuk melihat menu dan sibuk memilih apa yang akan ia pesan, sampai akhirnya ia menemukannya.

"Aku pesan yang ini aja deh," kebetulan Hyungseob duduk disamping Woojin dan mereka hanya menggunakan satu buku menu sehingga begitu sang wanita menunjuk ke gambar dalam menu, Woojin dapat dengan mudah melihat apa yang dipesan istrinya.

Tahu-tahu suaminya itu tersenyum, "kamu pesennya ngikutin, ya?"

"Ngikutin apanya?"

"Itu. Tadi aku juga mesen yang mirip kayak kamu, tapi aku pesen yang kuah Miso sih."

"Itu beda, Ujiiin!" Balas Hyungseob dengan gemas. Antara gemas karena kesal, atau gemas yang benar-benar gemas, keduanya hampir menyatu menjadi satu, "oh iya mas, aku pesan yang pedasnya banyak ya!"

"Sok berani kamu," ledek Woojin.

"Emang berani, kamu aja yang gak tau!"

Sang pria terkekeh sejenak, setelah mengkonfirmasi pesanan mereka dan pramusaji yang mencatat pesanan mereka pergi, barulah kedua tangannya bergerak mencubit kedua pipi gembil sang istri dan menimbulkan rengekan pelan darinya.

"Kalau gak kuat, gak usah dipaksain. Kasih ke aku aja, oke?" Ucapnya kemudian mengelus pipi Hyungseob yang memerah akibat cubitannya, sementara Hyungseob sendiri malah mengerucutkan bibirnya.

"Aku beneran bisa, ih! Gak percaya banget!"

"Iya deh iya, aku percaya," lagi-lagi Woojin tertawa, gemas melihat tingkah Hyungseob yang sangat lucu itu.

Beberapa waktu setelahnya, pesanan mereka pun datang. Mereka berdua pun menikmatinya dengan lahap, walau sama-sama memesan ramen yang pedas—berbeda pada tekstur mie dan kuahnya saja—, tetapi tidak ada diantara mereka yang mengeluh kepedasan. Mungkin hanya ada suara meniup karena panas, dan Hyungseob yang bergumam, "enak banget pedesnya."

Tangan Hyungseob yang masih memegang sendoknya, bergerak mengambil kuah ramen Woojin tanpa permisi—yang hanya dilirik oleh sang pemilik—dan mencicipinya, "kurang pedes ah, Jin. Cemen!"

"Itu sih kamunya aja yang seleranya selera setan."

"Tapi serius deh, ini enak. Mau coba?" Tawar Hyungseob, dan Woojin pun ikut menyendok kuah ramen milik Hyungseob lalu mencicipinya.

"Wow, thats totally crazy," gumam Woojin dengan sedikit kekehan.

"I know, right?! Tapi enak banget!" Seru sang wanita dengan semangat, dan tangannya yang tak bisa diam itu meraih sumpitnya lalu mengambil salah satu daging di ramen milik Woojin, yang membuat pemiliknya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Kamu ngapain?"

"Hm? Gak ngapa-ngapain."

"Gak ngapa-ngapain tapi nyolong?"

"Ehe."

"Ehe doang lagi, unyiiil!" Tak tahan dengan istrinya yang menggemaskan itu, satu tangan Woojin kembali mencubit pipi Hyungseob dan satu tangannya meraih sumpit miliknya hingga keseimbangan tangan Hyungseob sedikit terganggu—padahal daging itu belum sepenuhnya berada di mangkoknya.

Sampai akhirnya daging colongan itu terjatuh.

Mereka berdua terdiam menatap daging yang terjatuh itu, kemudian saling melirik satu sama lain.

Lalu tertawa kencang.

Lebih tepatnya—menertawai hal bodoh yang mereka lakukan bersama, sehingga menimbulkan korbannya, yaitu seonggok daging dari ramen milik Woojin.

(Tips #3: Buat atmosfir menyenangkan diantara kalian. Kalau bisa coba skinship duluan, bikin Woojin dugun dugun karena lo!)

"Waaa! Headshot!"

"Yak terus Jin, aduh! Zombienya ngegas banget, sih?!"

"Wanjir, apaan dah! Dikepung kita, Jin!"

Woojin terkekeh mendengar Hyungseob yang terus berceloteh ria, melihat dirinya yang sedang bermain tembak-tembakan di tempat bermain Happy World dengan heboh.

Seusai makan dan memutari mall mulai dari melihat-lihat ke bistro—tidak membeli, hanya melihat. Hyungseob memang suka begitu—, nyangkut di toko Adikdas—karena tatapan Woojin terhadap salah satu produk sepatu yang terjejer di depan tokonya seperti anjing pungut—, melihat-lihat ke toko gadget—dengan keduanya yang menatap gadget baru yang ada dengan tatapan berbinar seperti anak kecil—, hingga akhirnya berada di tempat bermain yang ada di mall itu.

Sebagai pembuka, mereka memutuskan untuk bermain tembak-tembakan ini. Hyungseob juga sepertinya tak ada ide harus memainkan apa, jadi ia hanya mengikuti Woojin saja.

"WOOOOOOH! Mati lo semua, jing!" Sorak Woojin dengan mulut yang membentuk O lebar seperti mengaum ala Tarzan dan tangan yang memegang pistolnya terangkat seperti seorang pemenang. Bayangkan saja ada backsound 'we are the champion~' saat Woojin melakukan hal ini.

Dan bukannya malu, Hyungseob malah ikut bersorak dengan bertepuk tangan lalu tertawa keras. Masa bodoh dengan orang-orang yang menatap mereka dengan pandangan anehnya.

"Ujin jago banget ya tembak-tembakan!" Hyungseob memuji dengan semangat lalu tangannya menepuk pundak lebar milik Woojin.

Woojin melirik Hyungseob, lalu membuang wajahnya.

"... Tapi gak jago nembak cewek."

"Hah? Apa?"

Tahu-tahu wajah Woojin terlihat sedikit memerah, "kalo aku jago nembak, harusnya udah dari dulu aku nembak kamu buat dijadiin pacar," ujarnya yang membuat Hyungseob terkekeh.

Eh, terkekeh?

"Hahaha, kalo dijadiin pacar mah pasti endingnya gak bakal langgeng, Jin! Bisa aja kandas di tengah jalan. Mending langsung diajak nikah, dong!" Apa Hyungseob gak memikirkan ucapannya? Karena berkat ucapannya, debaran di dada Woojin semakin terasa kencang, "udah ah, main yang lain yuk!" Kemudian wanita itu berjalan pelan meninggalkan Woojin yang masih memikirkan kalimatnya itu dan masih berdebar kencang.

Perlahan tangannya melepas jaket bomber yang sedari awal menutupi tubuhnya yang terbalut dengan kaos hitam pendek, lalu ia melangkah mengejar Hyungseob.

Pluk.

Dan melingkarkan jaketnya di bahu kecil Hyungseob, kemudian membenarkan posisi jaketnya.

"Pakaianmu terlalu terbuka untuk ukuran di tempat bermain di Happy World begini," Woojin melirik Hyungseob sebentar—tentu saja dengan pipi memerahnya itu—lalu membuang mukanya kearah lain, "itung-itung biar kamu gak kedinginan juga," dan pipi Hyungseob ikut memerah juga—sepertinya tertular Woojin.

Sejenak Hyungseob terdiam melihat Woojin yang pergi kearah permainan basket didekat mereka kemudian melirik jaket yang melingkar pada tubuhnya. Tangannya langsung masuk ke lengan jaket yang sizenya 2 kali lebih besar dari tubuhnya itu, kemudian menutup resletingnya sampai ke atas. Lalu senyumnya mengembang lebar.

Woojin itu.. Bukan tipe pria yang pintar bermain kata-kata, tetapi perlakuan sederhananya itu mampu membuatnya baper sebaper-bapernya seorang gadis. Dan juga ia merupakan tipe yang langsung bertindak ketimbang menebar janji manis lewat kata-kata.

Hyungseob tersenyum malu.

"Oi, Seob! Kok masih disitu a—"

Cup.

Keduanya terdiam sejenak, sampai akhirnya Hyungseob menyengir lebar dengan lucunya dan memeluk lengan Woojin erat.

"E-e-e-eh! H-Hyungs-seob! Kamu ng-ngapain—"

"Jin, ayo main balap mobil!" Setelah mencium pipi Woojin tanpa permisi, tangan yang terasa menebal akan jaket milik Woojin itu menarik sang pemilik jaket kearah mobil balap yang kosong dengan semangat. Sementara yang ditarik masih berusaha menetralkan wajahnya yang memerah itu—masih bertanya-tanya motif Hyungseob melakukan hal tersebut tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Biarkan saja mereka melakukan banyak hal romantis seperti orang pacaran itu, namanya juga pasangan suami-istri muda.

"WAAAAAH! Gede banget ferris wheelnya!"

Puas dengan banyaknya permainan di Happy World—sampai-sampai mereka menambah saldo kartu hingga 200ribu—, mereka langsung pergi ke tujuan awal Woojin mengajak wanitanya kemari yaitu ferris wheel terbesar yang menjadi logo iconic mall baru yang terletak di Jakarta ini.

Setelah mengantri, akhirnya mereka berdua memasuki bilik yang ada lalu duduk berhadapan dengan Hyungseob yang sudah heboh melihat pemandangan dari kaca—begitu juga Woojin yang memandangi pemandangan dalam diam namun mulutnya membentuk O bulat karena takjub.

"Ya ampun, tinggi banget ferris wheelnya, ya? Biang lalanya Dufan kalah!" Ujar Hyungseob lalu terkekeh pelan, "gak nyangka juga aku bakal ngerasain naik ini sama kamu, Jin."

Woojin menoleh, "hm? Maksudnya?"

"Ya gitu.. Aku dari jaman skripsian pingin ngerasain naik ini, soalnya dibikin iri terus sama Jihoon yang udah naik ini pas lagi skripsian sama Jinyoung."

"Hahaha, kok bisa dia nyempetin ke Jakarta pas lagi skripsian begitu?"

"Nahira emang begitu, suka nekat. Tau-tau udah sama Jinyoung berdua, nyebelin deh."

"Jinyoung untuk seukuran anak kedokteran gabut juga ya."

"Jinyoung kan emang begitu dari dulu, luarnya gabut tapi ternyata kerjaannya udah kelar semua."

Sekedar informasi, Jinyoung adalah teman mereka saat SMA yang mengikuti program akselerasi sejak SMP dan SMA sehingga ia dapat dengan mudah berada di satu tingkat lebih atas dibanding mereka. Tetapi karena Jinyoung lebih muda dari mereka, Jinyounglah yang memanggil mereka dengan sebutan 'kak'. Lucu sekali.

"Tapi.." Woojin melirik Hyungseob kembali, "kenapa gak bareng sama temenmu yang lain aja kesininya? Kan biar gak penasaran banget, gitu."

Awalnya Hyungseob terdiam karena merasa momen heart-to-heart ini cukup langka, hingga akhirnya senyumnya mengembang.

"Namanya juga korban drama dan anime hahaha! Aku pingin banget ngerasain ini sama pasanganku gitu. Kan lucu aja ngebayanginnya, iya gak sih?" Balasnya yang membuat Woojin menatapnya cukup lama dan lekat, sampai-sampai membuat Hyungseob tersipu sendiri.

Woojin tersenyum, tak melepaskan pandangannya dari sosok indah dihadapannya.

"Aku masih gak nyangka, lho," tutur Woojin kemudian, "dulu aku cuma bisa ngeliatin kamu dari belakang, dan sekarang aku ada disini. Ngeliatin dari depan dan berbagi cincin nikah sama kamu, Seob."

Belum sempat Hyungseob membalas, Woojin kembali berucap dan kembali dengan gaya bicara 'gue-lo'nya yang tengil itu, "emang ya gue tuh pengecut banget dulu, suka sama lo dari awal SMA tapi pacarannya sama yang lain. Nembak lo gak pernah, deket apalagi," tuturnya seraya mengacak pelan rambutnya.

Hyungseob lantas terdiam, mendengarkan semua ucapan Woojin mengenai dirinya saat SMA dulu. Itung-itung upaya mengenal suaminya lebih jauh, bukan?

"Saking frustasinya gue suka sama lo, sampe-sampe nembak banyak cewek buat dijadiin pelampiasan. Padahal gue udah lama pacaran sama Sohye, tapi tetep aja.."

"... Kalo gue cintanya sama lo, gue mesti apa?"

Dan wajah Hyungseob terasa memanas mendengar ucapan gamblang itu.

"T-tapi, banyak yang ngejar lo pas SMA. Woo Jinyoung juga ngejar kamu, kan?"

"Buat apa sih banyak yang ngejar, kalo ngejar lo aja rasanya gagal terus?"

Hyungseob menggigit bibirnya.

"Padahal kan, kita bisa jadi temen dulu.."

"Hadeh, Seobbie! Kalo gue berani sih, gue bakal ngelakuin itu!" Balas Woojin dengan nada frustasi, entah kenapa, "lo tuh.. Susah banget dideketin, untuk sekedar nyapa atau nanya sesuatu ke lo aja rasanya susah banget. Makanya gue cuma bisa ngeliatin dari belakang, berharap sekelas sampe akhirnya kesampean di kelas 12."

"Sampe-sampe gue tau kalo lo sering di ledekin suka sama adek kelas, atau enggak di ledekin temen-temen lo soal mantan lo.."

Manik Hyungseob melebar lalu menepuk dahinya, "astaga! Soal Felix itu udah lama banget, ya ampun! Seunghyuk apalagi! Temen-temenku tuh emang nyebelin banget!" Setelah ini, mungkin Hyungseob akan mendatangi Euiwoong yang selalu meledeknya dan akan mengacak-acak kamarnya sampai hancur.

Woojin tersenyum simpul, "gue juga tau kok kalo temen-temen lo suka ngeledekin kita berdua," butuh sedikit jeda dalam ucapannya, terlebih melihat reaksi lucu Hyungseob didepannya, "dan gue.. Seneng banget walau cuma di pasang-pasangin begitu dan dijadiin bahan ledekan. Hahaha! Aneh, ya?" Lanjutnya lalu tertawa, lebih tepatnya menertawai kebodohannya di masa lampau.

Hyungseob merasakan wajahnya semakin memanas dan mungkin semakin memerah akibat ucapan Woojin. Dulu, Hyungseob seringkali di ledek oleh teman-temannya dan dipasangkan dengan Woojin. Karena Hyungseob yang awkward dulu pernah mengalami satu kejadian yang di lihat Jihoon dan akhirnya menjadi bahan ledekan sampai akhir SMA.

(Sebenarnya banyak kejadian awkward dengan Woojin yang dialaminya, tapi tentu saja ia takkan mau menceritakannya pada Jihoon dan beberapa teman-temannya. Niatnya ia akan menceritakannya pada Euiwoong setelah lulus SMA, tetapi ia selalu lupa.)

Okay, lanjut.

Jadi saat kelas 12 dulu, di sekolahnya memiliki pelajaran Bahasa Arab yang mengharuskan murid-muridnya berpindah posisi duduk dengan posisi cewek di belakang dan cowok di depan—untuk menghindari zinah mata, katanya. Lalu saat itu Hyungseob dan Jihoon menempati tempat Woojin dan Hyunmin duduk yang letaknya ada di belakang pojok kelas. Dan saat itu Woojin menghampiri Hyungseob—yang saat itu sedang duduk di tempatnya sambil memainkan handphonenya—dan berucap sesuatu.

"Seob, boleh geser dikit gak? Gue mau ambil kamus bahasa arab di loker meja."

Namun Hyungseob bukannya menggeser badannya, ia malah bangkit dari tempatnya dengan kikuk dan membiarkan Woojin berjongkok dan mengambil kamusnya sendiri. Hal itu dilihat terang-terangan oleh Jihoon dan ditangkap aneh olehnya.

Ditambah panggilan 'Seob' yang terdengar sangat langka itu. Karena biasanya Hyungseob selalu dipanggil dengan 'Anin', entah oleh siapapun. Mau itu teman dekat ataupun orang lain yang tak terlalu dekat.

"Thanks ya, Seob," Woojin tersenyum tipis lalu kembali lagi ke tempatnya di bangku depan, sementara itu Jihoon tengah menatapnya yang masih berdiri itu dengan senyuman aneh.

"Duduk aja sih, Nin. Kikuk bener? Suka ya lo sama Woojin?"

Dan setelah kejadian itu, Jihoon menceritakannya kepada teman-temannya yang lain dan sibuk menjodoh-jodohkannya dengan Woojin—kemudian diikuti oleh teman-temannya yang lain. Semenjak itulah Hyungseob selalu malu tiap berpapasan dengan Woojin, karena selalu terbayang bagaimana teman-temannya meledeknya dengan cowok itu dan merasa malu sendiri.

Kembali lagi ke situasi saat ini, Hyungseob akhirnya kembali menatap Woojin yang tersenyum lebar kearahnya.

"Dari situ, gue mulai dapetin kepercayaan diri lagi. Dan gue makin semangat buat ngejar lo, bukan buat dijadiin pacar..." Ada jeda lagi pada ucapannya, "... Tapi buat dijadiin istri gue, temen hidup gue."

Tepat disaat Woojin mengucapkannya, bilik ferris wheel mereka saat ini tengah berada di puncak atas dan sinar matahari senja mulai terpancar—menembus bilik mereka, namun tak mengganggu suasana yang ada.

Dan tepat saat itu juga, Woojin mendekatkan tubuhnya...

... Untuk memeluk Hyungseob yang masih terpaku dengan situasi yang ada.

Butuh beberapa waktu untuk mereka terdiam dalam posisi itu, walau Hyungseob masih merasakan debaran jantung yang semakin menggila, tetapi tak dapat dipungkiri bahwasanya ia merasa sangat nyaman dengan hal ini.

Katakanlah Hyungseob memang payah soal percintaan, kalah dari Dongbin yang bahkan seharusnya jauh lebih payah darinya karena susah untuk menyukai seseorang. Tetapi bersama Woojin membuatnya merasa senang. Rasanya menyenangkan, berbeda dengan Seunghyuk, mantannya dulu. Seakan-akan Woojin adalah suatu keajaiban yang Tuhan berikan padanya—karena dapat membuatnya merasakan perasaan menakjubkan ini hanya dengan berbagai tindakan dan sentuhan.

Pada akhirnya, tangan Hyungseob bergerak membalas pelukan itu dan Woojin semakin mengeratkan pelukannya dengan posisi yang sama.

"I thought.. We would never meet again," lirih Woojin, "gue selalu berdoa supaya lo lah yang jadi jodoh gue, dan akhirnya sekarang gue ketemu lo lagi. Meluk lo, ngerasain detak jantung lo sedeket ini, Seob.."

Hyungseob membenamkan wajahnya pada bahu lebar Woojin, menghirup aroma kayu manis dari suaminya yang sedari tadi membuatnya merasa nyaman.

Tangan Woojin bergerak menyapu sedikit rambut yang berada di sekitar pipi Hyungseob kemudian mengelus pipi itu, lalu wajahnya kian mendekat dan mengecup kening wanitanya, cukup lama sampai akhirnya ia menjauhkan wajahnya dan kembali menatap Hyungseob dengan senyuman lebar.

"Aku cinta banget sama kamu, Hyungseob."

Dan ingatkan Hyungseob untuk bernapas dengan teratur karena nyatanya, ia merasa kalah telak hanya dengan mendengar pengakuan cinta dari sang suami yang tak pernah ia duga sebelumnya itu.

(Tips #4: Agresif, dan coba deketin buat.. Ya gitu deh, you know what I mean, right? Hehe.)

Setelah menaikki ferris wheel, mereka berdua memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin gelap.

Dan setelah pengakuan itu, tangan Woojin tak lepas dari genggamannya pada tangan Hyungseob—yang masih terdiam entah kenapa.

Selama di mobil pun, Hyungseob hanya terdiam menatap keluar jendela, sementara Woojin fokus menyetir dan melihat kedepan jalan.

"Assalamualaikum! Waaah, capeknyaa!"

Sesampainya di rumah mereka, Woojin langsung mendudukan badannya keatas sofa ruang keluarga dan menyandarkan tubuhnya senyaman mungkin pada sofa tersebut. Sementara Hyungseob masih terdiam di depan pintu rumahnya, yang entah sejak kapan sudah terkunci olehnya.

"Seobbie, kamu ngapain disi—"

Tiba-tiba sang wanita berjalan mendekati Woojin dan duduk dipangkuan suaminya.

Cup.

Lalu—dengan agresifnya—Hyungseob mencium—atau melumat?—bibir Woojin yang masih membelalakan matanya kaget, lebih tepatnya kaget dengan perlakuan yang mendadak begini.

Tak mau tinggal diam, Woojin langsung meraih tengkuk Hyungseob untuk memperdalam ciuman itu, sehingga kini Woojin berhasil mendominasi ciuman panas itu dan membuat Hyungseob melenguh pelan.

"U-ungh.."

Sadar setelah mendengar lenguhan yang terdengar sangat menantang itu, buru-buru Woojin melepaskan ciumannya yang menyisakan saliva—entah dari siapa—dan matanya langsung bersitatap dengan wajah sang istri yang sudah memerah dan sayu, yang tentu saja membuat Woojin terus menerus meneguk ludahnya karena istrinya dengan raut wajah begini.. Sangatlah seksi.

"S-Seob, maaf aku gak—"

Sebelum Woojin menurunkan Hyungseob dari pangkuannya, tangannya ditahan oleh sang istri yang masih menundukkan kepalanya, sementara satu tangannya hinggap pada dada bidang suaminya, sedikit mencengkram kaosnya.

"A-aku mau.."

"Eh?"

Hyungseob mengangkat wajahnya yang memerah padam, "aku mau.. Kita ngelakuin kegiatan 'suami-istri' pada umumnya, Jin.."

Dan Woojin kembali meneguk ludahnya.

"Hyungseob," pada akhirnya otak Woojin terus memaksa dan berusaha untuk meluruskan hal ini, "aku gak mau kalau kamu ngelakuin ini karena terpaksa. Aku mau kita ngelakuin karena sama-sama saling suka—"

"... Suka kamu..."

"Hah?"

"A-aku.. Suka kamu, Jin.." Hyungseob menangkup wajah Woojin dengan kedua tangannya lalu tersenyum kecil, "jadi.. Jangan nahan-nahan lagi, ya? S-soalnya.."

"... Aku juga pingin ngelakuin itu sama kamu, Woojin.."

Dan sepertinya mulai sekarang Woojin takkan lagi berlama-lama di kamar mandi untuk menuntaskan urusannya karena, siapa dia untuk menolak permintaan sang istri yang sangat manis ini?

"Eungh.. Aaahhh—!"

Suara desahan dan lenguhan seakan tak pernah lelah untuk di keluarkan disaat tangan nakal itu terus menerus bergerak diatas tubuh Hyungseob yang sudah telanjang bulat dibawah kungkungan Woojin, dan suaminya juga sudah bertelanjang dada—menyisakan boxer miliknya yang sudah mengetat sejak awal mereka saling menyentuh satu sama lain.

Dan tangan itu kini sudah berada pada kemaluan sang istri yang sudah basah sejak Woojin melepas seluruh pakaiannya dan bermain pada dua buah dadanya dengan lembut namun sedikit bernafsu, tentu saja. Bagaimana bisa Woojin tidak bernafsu, kalau melihat Hyungseob dengan pakaian tidur yang pendeknya saja sudah membuatnya terus terbayang-bayang akan tubuh itu hingga berakhir dengan urusannya di kamar mandi? Dan tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada dihadapannya ini.

"A-ahh—! Ahhh.."

Desahan itu kembali terdengar begitu Woojin memasukan jarinya pada kemaluan Hyungseob yang sudah licin dibasahi dengan cairannya sendiri. Satu jari pun perlahan masuk, dan tangan Hyungseob bergerak memeluk bahu lebar suaminya begitu merasakan sensasi aneh yang memasuki lubang kemaluannya itu.

"Jinnnhh~!"

Ah, rengekan manja itu.

Woojin mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir ranum sang istri, sementara jemarinya mulai bergerak perlahan didalam—menimbulkan pekikan yang justru mempermudahnya untuk mengeksplor mulut Hyungseob dan bermain lidah dengannya. Dan ciuman panas itu kembali terlepas dengan menyisakan benang saliva yang akhirnya membekas di sekitar bibir Hyungseob.

Tatapan sayu itu semakin menggodanya untuk menambah jemarinya ke dalam dan membuatnya bergerak dengan tempo yang agak cepat, membiarkan Hyungseob—dengan wajah memerah dan tatapan sayunya itu menatapnya dan,

"Nghhh.. Ahhh—! Jinniee~!"

Mendesahkan namanya terus menerus, membuat Woojin tersenyum lembut disela kegiatannya. Mendengar namanya didesahkan oleh wanita yang sangat dicintainya saja sudah membuatnya senang setengah mati. Dan ia merasa bahagia karena ini bukanlah mimpi lagi, seperti dulu disaat Woojin masih memerhatikan wanita ini hanya dari belakang saja.

Cukup puas bermain dengan jemarinya, Woojin melepas jarinya dan rengekan manja terdengar dari Hyungseob yang merasakan sensasi aneh namun nikmat itu hilang dari bagian kewanitaannya.

Tanpa banyak bicara, sang pria melepas boxernya, memperlihatkan kejantanannya yang dilihat Hyungseob dengan pipi memerah—malu-malu melihat suaminya yang sudah telanjang bulat sama sepertinya.

Woojin menoleh lalu tersenyum lebar, memperlihatkan gingsulnya yang terus menerus membuat Hyungseob berdebar tak karuan.

"Pipimu merah, mikir jorok ya?"

"E-enggak, tuh!"

Senyuman tak lepas dari bibir Woojin yang kini sudah kembali mengungkung Hyungseob. Tangannya bergerak menuntun kejantanannya memasuki lubang kemaluan Hyungseob, sementara satu tangannya lagi menahan beban tubuhnya agar tidak jatuh diatas tubuh sang istri.

"Ini bakal sakit banget di awal," sang pria mengecup dahi Hyungseob yang sedikit merintih merasakan sensasi aneh dibawah, lalu mengecup bibir merah nan bengkak sang istri dengan lembut, "kamu bisa peluk aku, jambak rambutku atau cakar aja punggungku, oke? Jangan di tahan, Seobbie."

Hyungseob—dengan mata terpejam menahan sakit karena sensasi aneh yang memasuki lubang kemaluannya—memeluk Woojin dan meringis ngilu sampai-sampai tak sadar bahwa air matanya yang terpupuk itu mengalir jatuh dan cengkramannya pada surai hitam Woojin semakin mengerat.

Jleb.

"AKHHH—! Hiks.. Uhuhu..." Isak Hyungseob pelan, begitu merasakan kejantanan Woojin sepenuhnya memasuki kemaluannya dan menerobos sesuatu yang terasa sangat menyakitkan—dan ia juga merasakan sesuatu mengalir keluar dari lubangnya, entah apa itu. Mungkin keperawanannya?

Mendengar isakkan itu, Woojin mengarahkan tangannya mengusap kepala Hyungseob dengan penuh sayang dan mengecup wajahnya satu persatu.

Cup. Kecupan di dahinya.

Cup. Kecupan di mata kirinya.

Cup. Kecupan di mata kanannya.

Cup. Kecupan di hidungnya.

Dan yang terakhir, kecupan di bibir ranumnya dan sedikit lumatan untuk membuat isakan itu reda. Tentu saja Woojin tidak menggerakan kejantanannya, ia membiarkannya sejenak agar Hyungseob terbiasa dulu sebelum mereka meraih kenikmatannya bersama.

"Ini memang sakit banget, Seob," satu tangannya meraih tangan Hyungseob dan menggenggamnya lembut lalu mengecupnya sekilas, "kalau kamu gak suka, kita stop aja—"

Sebelum ucapan itu selesai, Hyungseob mencium bibir Woojin, satu tangannya yang menganggur bergerak menahan tengkuk Woojin untuk memperdalam ciumannya. Kemudian ciuman itu terputus, dengan Hyungseob yang terengah-engah, menatap Woojin yang masih menatapnya dengan senyuman meyakinkan.

"Aku yakin sama kamu, Jin," ujar Hyungseob dengan lembut, "aku percayain semuanya sama kamu, oke?" Lanjutnya, membuat Woojin ikut tersenyum dan mengecup bibir itu sekali lagi.

Sebelum bergerak, Woojin menatap wanitanya yang sudah dipenuhi peluh lalu menatapnya dalam, "seob, aku cinta banget sama kamu. Jadi, serahin semuanya sama aku, ya?"

Malam itu terasa sangat panjang dan panas. Diiringi desahan, lenguhan, dan suara penyatuan suami istri dalam ruangan itu. Keringat dan peluh sudah memenuhi tubuh mereka, namun mereka tetap mengejar kenikmatan itu bersama-sama. Tak peduli dengan decit kasur yang terus terdengar, karena yang Woojin dengar saat ini hanyalah desahan dan rengekan sang istri yang terus menerus melontarkan namanya seiring kenikmatan itu muncul dalam proses penyatuan mereka.

"J-Jinh.. A-aku.."

"Bersama, sayang."

Dan mereka mengeluarkannya bersama, juga Woojin yang memompa cairannya untuk keluar di dalam.

Tangan mereka masih saling menggenggam satu sama lain, sejak awal penyatuan itu sampai akhirnya Woojin mengeluarkan cairannya di dalam lalu merebahkan tubuhnya di samping, tentu saja seusai melepas penyatuan mereka.

Setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua, Woojin melingkarkan tangannya—memeluk erat tubuh Hyungseob yang masih terasa naik-turun, sepertinya masih mengatur napasnya yang tak beraturan setelah penyatuan yang terasa panjang tadi.

Cup.

Ciuman itu kembali ia layangkan pada dahi berkeringat sang istri, "you've worked hard, dear."

"Hnn.. Thanks.." Hyungseob memejamkan matanya, merasa lelah dan kantuk bersamaan. Tangannya ikut memeluk Woojin dengan erat, dan senyuman di bibir Woojin tentu saja semakin melebar.

Sebelum benar-benar terpejam, Woojin masih menggumamkan sesuatu tepat di telinga Hyungseob.

"Aku cinta banget sama kamu, Seobbie."

Sebelum benar-benar terlarut dalam mimpi indahnya, Hyungseob tersenyum kecil dan membenamkan kepalanya pada dada bidang Woojin.

"Aku.. Juga.. cinta banget sama kamu.. Jinnie.."

Kemudian ia pun terlelap dalam dekapan hangat sang suami.

Ringtone handphone lagu opening Himouto! Umaru-chan dengan suara nyaring cukup untuk membuat Woojin tersadar dari tidur lelapnya dan terbangun untuk meraih handphone tersebut—yang diketahui adalah milik istrinya.

Dengan sangat terpaksa, ia melepas satu tangannya dari tubuh polos Hyungseob lalu mengangkatnya tanpa melihat penelponnya terlebih dahulu—tentu saja, karena matanya masih terpejam karena enggan bertatap langsung dengan matahari pagi yang terang itu.

"Ha—"

"Yuhuuu~ Aniiin! Mau ikutan lari pagi, gak? Ini ada gue, Ung, Daehwi, Yuni, Binnie nih!"

Suara riang khas Jihoon Nahira cukup untuk membuat Woojin membuka matanya lalu mengingat sesuatu yang ingin dia sampaikan kepadanya.

"Nahira."

"Woy Nin—eh, astaga! Woojin!" Sosok Jihoon dari seberang sana akhirnya menyadari bahwa penerima telponnya adalah suami dari sang subjek—Hyungseob, "maaf banget, gue kira yang ngangkat si Anin! Sori sori—"

"Hyungseobnya lagi tidur. Pules banget dia," Woojin melirik wanita didalam dekapannya yang masih terlelap dengan nyenyak. Satu tangan Woojin terus bergerak mengelus kepala Hyungseob dengan sayang, "jangan digangguin dulu ya. Dia lagi capek, jadi skip dulu ya, Ra."

"E-eh? Oke—"

"Oh iya," Woojin teringat sesuatu lalu menahan diri untuk tak menutup sambungannya, "gue gak tau kalian apain si Hyungseob sampe-sampe dia jadi se-agresif ini abis ketemu lo lo pada, tapi.."

Senyuman tipis terukir di bibir sang pria, "gue berterima kasih banget sama lo semua. Kalo gak ada kalian, mungkin sampe sekarang gue gak bakal pernah denger pengakuan cintanya pas abis ngelakuin hal suami istri semalem."

"EH? M-MAKSUDNYA—"

"Gue tutup, ya. Thank you, lho."

Pip.

Seusai sambungan itu terputus, ia merasakan pergerakan pada tubuh yang sedang didekapnya, lalu terdengar sebuah gumaman singkat.

"Uhm.. Pagi.. Hoammh~," terdengar gumaman singkat yang berasal dari sang istri namun tetap dengan mata terpejamnya.

Woojin terkekeh pelan.

"Pagi, Seobbie."

Akhirnya mata itu terbuka perlahan dan menatap pria di hadapannya dengan tatapan.. Takjub?

"Woah, kupikir kamu bakal pergi ninggalin aku sendiri di kamar ini, Jin."

Woojin mengerutkan dahinya.

"Kok ninggalin?"

"Iya, ninggalin. Kamu kan hobinya begitu, ninggalin mantanmu yang lagi sayang-sayangnya."

Bukannya marah, Woojin justru tertawa mendengarnya, "kok kamu mikirnya gitu banget, sih?"

Hyungseob mengerucutkan bibirnya, aduh lucu banget, "dari dulu kamu emang gitu, kan? Gonta ganti pacar udah kayak ganti kolor, terus ditinggalnya pas lagi sayang-sayangnya," tutur Hyungseob sejujur-jujurnya, "first impressionku ke kamu dulu udah jelek banget sih gara-gara itu."

Lagi-lagi, Woojin tidak bisa marah mendengarnya. Biasanya, Woojin akan memaki siapapun yang mengungkit kenangan jeleknya itu, tetapi mendengar istrinya yang berucap begitu membuatnya merasa gemas sendiri.

"Terus kamu percaya kalo aku bakal kayak gitu, hm?"

Sang pria merasakan tubuh mungil itu semakin memendamkan wajahnya pada dadanya dan juga mengeratkan pelukannya.

"Kalo kamu sampe ninggalin aku kayak waktu kamu main-main sama mantanmu dulu, ku potong anumu buat makan burung!"

Woojin gak bisa gak tertawa mendengar istrinya mendumel seperti itu karena, bukannya menyeramkan dan ngilu, tetapi malah terdengar sangat lucu dan menggemaskan.

"Aku kan begitu karena susah ngegapai kamu, yang. Jadinya main-main sama yang deket aja. Kamunya susah digapai sih, yang."

"Yang yang, peyang! Geli tau, gak?!"

"Tapi semalem ku panggil 'sayang' kamu gak protes, tuh."

"Y-ya.. I-itu kan aku lagi gak sadar!"

"Iya iya, udah ah yuk tidur lagi," Woojin mengeratkan dekapannya lalu mengecup puncak kepala istrinya. Sementara Hyungseob sendiri masih menatapi wajah Woojin dari posisinya, kemudian memendam kan wajahnya sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh sang suami.

"Jin, Woojin."

"Hm."

"Kamu bakal tanggung jawab, kan?"

Entah untuk yang ke berapa kalinya, Woojin gak bisa tahan mendengar ucapan menggemaskan Hyungseob yang tiba-tiba itu, "astaga, kamu tuh nanyanya.. Kayak kita ini pasangan abg labil yang gak sengaja keluar didalem gitu, sih."

"Ya habis.. Aku takutnya kamu gak mau tanggung jawab pas udah keluar didalem semalem.."

Sang pria terkekeh lalu menangkup wajah Hyungseob dengan kedua tangannya.

"Seobbie, apapun yang terjadi, aku bakalan tetep di sisi kamu, bakal terus ngejagain kamu. Dan soal tanggung jawab, itu udah kewajiban utama seorang suami. Jadi, kamu gak perlu mikirin hal yang aneh aneh begitu ya, sayang?"

Balasan dari Woojin kerap memunculkan senyuman lebar di bibir istrinya yang terus menerus bimbang memikirkan banyak hal yang akan terjadi kedepannya, tetapi tatapan teduh itu lagi-lagi bersikeras untuk meyakinkannya bahwa, semuanya akan baik-baik saja, bila mereka lewatinya bersama-sama.

"Atau jangan-jangan, kamu masih belum pingin punya sosok tambahan di keluarga kita ya, Seob?"

"Hah? Enggak sih, aku mau-mau aja. Tapi jadi susah dong kalo mau pacaran berduaan sama kamu.. EH—"

"Hm, hm, hm~? Ulangin doooong~!"

"E-enggak, tadi aku gak ngomong apa-apa!"

"Oooh~ tapi mukanya merah kenapa, tuh~?"

"I-ih! P-pokoknya, kamu harus tanggung jawab! Soalnya aku juga bakal ngebawa dia kemana-mana, apalagi pas aku kuliah nanti. Sampe kamu ninggalin aku, awas aja!"

"Hahaha, iya iya Seobbiekuuu~," Woojin terkekeh lalu mengecup bibir sang istri, yang dibalas dengan baik olehnya.

Dan pagi itu, mereka menghabiskan waktunya bersama-sama dengan bersenda gurau diatas kasur dengan saling mendekap dengan sangat dekatnya.

Woojin tersenyum.

"Dari awal SMA, sampe sekarang, aku cinta banget sama kamu, Hyungseob Anindya Putri."

Kemudian ditutup dengan kecupan panjang yang lembut nan manis pada pagi hari itu.

Halo! Maafkan ya kalo sequelnya kelamaan (BANGET), tapi ku seneng banget loh ada yang baca works ini dan malahan minta sequelnya.. Makasih banyak yaa! Ku senang sekali huhuhu. :")

Dan maaf kalo bagian *ehem* rated *ehem*nya kurang memuaskan, maklumin aja authornya kurang berpengalaman h3h3 dan emang gak begitu suka naro banyak 'ah uh ah'(?) kalo di bagian begitu, enakan ngasih penjelasan jadi biar dibayangin aja gitu (?) tapi sekali lagi, maafkan ya kalo kurang memuaskan huhuhu ;_;

Btw, ada yang mau prequelnya gak? Tentang Anin dan Adit di masa-masa SMA dulu, dan sedikit diambil dari cerita nyata temenku (yang punya mimpi/?) juga. Kalo pada mau, ku bikinin juga nih :^)

Pokoknya, makasih banyak buat yang udah baca dan ninggalin review+fave+follow! Sampai berjumpa lagi di prequelnya! (kalo jadi) /o/~