Onsite

Kim Taehyung & Jeon Jungkook

Friendship | Drama

[ tulisan ini hanya fiksi belaka ]

.

[ 2 ]

.

"Perhatikan langkahmu, Kim." Taehyung tidak menjatuhkan sedikit pun urusan kepada Robert yang sengaja menabrak kuat bahunya kemudian tertawa tidak jelas bersama kawanannya.

Jungkook justru menahan kekagetan saat beberapa orang asing baginya tiba-tiba berjalan begitu brutal melewati mereka. Jungkook hanya mengikuti langkah Taehyung, kemanapun bocah itu melangkah. Kelas mereka akan sama. Ntah, Jungkook harus merasa beruntung atau bagaimana. Pasalnya, tidak ada satu kata pun yang mengudara selepas kalimat terakhir Jungkook saat akan berangkat ke sekolah lepas landas dari lidahnya yang kelu.

Taehyung duduk dengan tenang pada bangku di sudut belakang kelas. Mengabaikan atau mungkin dia lupa keberadaan Jungkook di sampingnya.

Jungkook meremas jari. Dia mulai panik. Sangat ingin bertanya atau tepatnya meminta tolong, tapi begitu sulit. Semua pasang mata murid di kelas menatapinya atau suara berisik yang sangat yakin Jungkook dengar tadi berubah menjadi kebisuan mencekam.

Dia hanya berdiri gugup di samping bangku Taehyung. Tidak tahu harus duduk di mana karena Jungkook tidak mungkin bertanya. Yang benar saja, bertanya kepada orang asing adalah hal paling sulit di muka bumi baginya. Tanpa sadar, dia hanya berharap pada bocah dingin si Kim Taehyung itu.

"Perhatian." Tiba-tiba suara tegas mengalihkan kebisuan yang ada. Sosok pria dewasa mengambil alih kelas di depan sana.

"Hari ini murid baru akan berada di kelas kita. Kurasa saatnya maju ke depan dan memperkenalkan diri—Jeon Jungkook." Singkat. Padat. Dan tanpa pemanis apapun untuk sekedar penyambutan. Jungkook merasa semakin menciut mendapati sifat-sifat mencekam di sekolah barunya.

"H-hai. Aku Jeon Jungkook." Tersedak. Dan terdesak. Seolah dicekat paksa. Jungkook tidak mampu lagi berucap lebih ketika mendapati respon murid di kelas. Menatap tanpa minat sosok bocah baru itu. Tidak ada yang menarik dari sosok Jeon Jungkook bagi mereka. Hanya satu lagi tambahan manusia super membosankan dan kutu buku di sekolah, hanya itu. Tidak lebih. Mereka bahkan tidak tertarik untuk menatap lebih lama dari sepuluh detik.

"Duduklah. Tempati kursi kosong, semaumu saja." Bahkan guru itu juga tidak begitu minat untuk sekedar berpura-pura manis di awal perjumpaan.

.

.

.

Jungkook mengingat pesan ibunya. Dia selalu patuh, meski kadang memelas untuk sesekali tidak betul-betul menurut. Terlebih jika sikap ibunya mulai berlebihan lagi. Jungkook tahu dirinya payah. Payah untuk sekedar bersenang-senang dan berusaha untuk bebas dalam mengarungi kehidupannya.

Lihat dirinya. Berdiri menempelkan sebelah tubuh pada sudut pagar jaring-jaring kawat lapangan hijau. Kedua cengkraman tangan ada pada tali ransel. Melihat Taehyung bermain sepak bola selepas pulang sekolah. Melihat rambut sehitam gagak itu menempel di dahi karena keringat, mempertegas alis tebal yang kadang tersembunyi. Atau kaki-kaki itu yang menendang kuat bola hingga tembus masuk ke gawang.

Tidak betul-betul tembus, hanya pandangan Jungkook yang lupa cara berkedip. Dia ingin sekuat dan sekeren itu.

Menunggu Taehyung pulang bersama, meski Jungkook tidak yakin Taehyung ingin pulang bersama atau tidak sama sekali. Hanya saja, ibunya akan menjemputnya setiap hari jika di hari pertama dia pulang sendiri.

.

.

.

Taehyung menarik napas berat. Dari lapangan dia dapat memantau bocah Jeon itu. Berdiri bagaikan patung di sudut luar pagar lapangan. Membiarkan bayangan jaring-jaring pagar menerpa wajah putih bertampang lugu itu

Dia ingin berdecih, tetapi terlalu lupa akibat pendar matanya yang menusuk sunyi sosok Jugkook. Mengenai hari menuju ujung waktu pergantian. Juga membahas kemerahan awan di atas pijakan tanah. Apakah senja selalu diam dan terlampau mengintimidasi dengan pesona keindahan?

Taehyung meninggalkan tengah lapangan begitu saja di saat permainan belum usai, di saat timnya sedikit lagi mendapatkan kemenangan dan di saat sesuatu dalam dirinya penasaran akan desakan asing yang mengganggu.

Jungkook melebarkan kelopak matanya ketika Taehyung tepat di hadapannya. Menghalau pandangan. Mengikis jarak. Namun, pagar jaring-jaring menjadi pembatas yang sedari tadi menawarkan kebisuan.

"Oy, Kim! Yang benar saja? Sebentar lagi kita akan mengalahkan tim bocah Park itu! Aish!" Beberapa berceletuk tak terima, namun Taehyung tidak pernah peduli terhadap apapun. Ya, tidak pernah. Dan selamanya akan seperti itu.

"Apa kau bahkan ketakutan menuju rumahmu sendiri?" Taehyung tidak pernah terbiasa akan sebuah pertanyaan untuk seseorang. Dia tidak pernah betul-betul ingin membiarkan dirinya menjadi bocah gila urusan.

Mata mereka tidak bersepakat saling menatap, tentu saja karena Jungkook tersesat dalam pandangan matanya sendiri. Merekam jejak keringat di pelipis Taehyung. Mendengarkan deru napas berat putus-putus. Taehyung sedikit kelalahan dan Jungkook sedikit hilang kewarasan.

Kau tau, Jungkook hanya ingin menjadi keren dan macho seperti Taehyung. Hanya itu. Tidak lebih.

"A-apa kau dan aku bisa jalan bersama—ah t-tidak! Maksudku pulang bersama? Kalau tidak maka esok aku akan menjadi bahan tertawaan semua murid karena diejek anak mommy." Jungkook sebisa mungkin menghilangkan rasa gugupnya. Berusaha berucap sedikit tegas. Berusaha agar bibirnya tidak gemetar. Berusaha agar matanya berhenti menatap mata Taehyung. Apa itu sedikit berhasil?

Taehyung bahkan tak merespon sama sekali setelah Jungkook berucap begitu payah. Hanya matanya yang mengejek tatapan memelas Jungkook.

"Tentu saja mereka tidak akan mengejekmu, anak mommy." Taehyung berucap sinis mengabaikan kecamuk dalam pikirannya. Kali pertama obrolan mereka lumayan banyak. Terhitung dua puluh tujuh kata yang bocah Jeon itu lontarkan dengan payah termasuk kegagapan bodohnya itu.

Taehyung berjalan diam mengambil tasnya di sisi lapangan kemudian berjalan cepat menuju pagar sekolah. Tidak memberi respon yang jelas kepada Jungkook hingga membuat bocah Jeon itu lari secepat mungkin menyusul Taehyung.

Dalam memori masing-masing ingatan mengenai kebersamaan awal tanpa sadar terus mengalir.

/bersambung/tamat/dunno

AN : btw aku melongo ada yang review chapter 1 ff ini. secara itu bahkan tidak lebih dari seribu kata. makasih sudah review ya. belum lagi isi review kalian rada curhat. '-' juga yang bilang ff aku yang lalu lalu banyak dicari sama kalian. serius, aku bahkan sudah lupa apa saja ff yang kalian maksud. maybe, mic drop(action nih), save your breath(era britania raya & sedikit supernatural), love is love(hate-love), rage you damned nerd!(ini kesukaan aku sih, tentang friendship), ERROR (era teknologi digital+arsitektur) dan ada juga yang kata kalian saudara tiri gitu ya? serius aku coba coba ingat judunya tetap nda ingat. aku juga ingat satu lagi era perang dunia satu, latarnya tuh Berlin barat dan timur, ini juga judulnya lupa. menurut aku ff buatanku B aja sih, jangan berharap banyak ya mengenai gaya bahasa, konflik atau apalah dari ff ku, aku nda enak kecewain anak orang haha. review dongs, dah!

.

.

jangan kesel kalau tiba tiba ff masa lalu aku re-upload!(ndajanji)