~Hinata POV~
Aku berdiri di belakang Sakura dan Ino yang saat ini sedang berjalan memasuki kantin. Seperti biasa, aku menundukkan wajahku menghindari tatapan dari semua orang.
Karena tidak terlalu memperhatikan jalan, aku justru tersandung kursi yang baru saja digeser oleh seseorang. Badanku langsung terhuyung ke depan, aku memejamkan mataku erat bersiap merasakan sakitnya bersentuhan dengan lantai.
Tapi sebelum wajahku mencium lantai, ku rasakan ada tangan seseorang yang menahan tubuhku dari arah belakang.
Harum ini?
Deg. Deg. Deg.
Aku mengenal dengan benar siapa pemilik bau tubuh beraroma mint menyegarkan ini. Aku membuka mataku dengan cepat, berharap kalau dugaanku salah.
Seketika aku membolakan mataku melihat sosok yang berdiri dekat di sampingku.
Deg. Deg. Deg.
Itu kan?
U.. Chi.. Ha Sa-Sas.. Suke?
Tidak! Tidak! Kenapa aku harus bertemu sekarang dengannya? Aku masih belum siap untuk berhadapan dengan dia lagi.
Jarak kami sangat dekat, wajahnya hanya terpisah satu jengkal dari wajahku. Ooh, dapat ku rasakan kini wajahku yang terasa sangat panas, apalagi aroma tubuhnya yang sungguh sangat memabukkan, sama seperti dulu.
Tidak, Hinata! Sekarang kau sudah berbeda dengan dulu. Jangan beri dia kesempatan untuk mengacaukanmu lagi seperti tiga tahun lalu!
Sasuke masih belum melepaskan tangannya dari tubuhku. Dia memandangku tajam, kemudian dia mendecih. "Dasar ceroboh!" Lalu dia kembali duduk di tempatnya semula.
"Hei, apa katamu Uchiha? Aku tidak ceroboh. Aku hanya kurang hati-hati." Kataku tidak terima.
"Kau itu sekali ceroboh tetap ceroboh, Hyuga." Sasuke melihatku malas. "Aku kira tadi bukan kau, aku sudah curiga sih saat mereka mengatakan kau si gadis Hyuga. Ternyata kau banyak berubah, aku bahkan sampai pangling. Tapi tetap saja, sifatmu yang ceroboh masih saja kau pelihara."
"Hei, dengar ya Uchiha! Kau itu jangan berlagak seolah kau mengenalku. Dasar tuan sok tahu."
"Tidak perlu menjadi sok tahu untuk bisa menilai dirimu, Hyuga. Aah, apa sebenarnya itu hanya kode darimu agar aku belajar untuk mengenalmu lebih jauh, eh?" Sasuke menyeringai jahil menatapku.
Dasar Uchiha sialan! Dia masih saja senang mempermainkanku. Aaarrgg. Aku tidak boleh terpancing.
"Huh, percaya diri sekali kau ini, Uchiha. Jangan berlagak sok tampan ya!"
"Aku memang tampan."
"Cih, sungguh percaya diri! Sangat Uchiha." Aku mencibirnya.
"Uchiha memang selalu tampan dan penuh percaya diri, Hyuga." Sasuke menyeringai menatapku.
Dasar UCHIHA SASUKE MENYEBALKAN. Aku mengepalkan tanganku berusaha menahan amarah. Aku tidak boleh kalah darinya, lihatlah wajahnya sekarang. Dia menampilkan lagi seringai jahil menyebalkan yang membuatku kesal.
"Hei, hei, tunggu! Jadi kalian sudah saling mengenal?" Naruto memandangku dan Sasuke bergantian dengan tatapan bingung.
Aah, tiba-tiba aku tersadar dimana posisiku saat ini. Reflek aku mengedarkan pandanganku ke penjuru kantin, ternyata pertengkaranku dengan Sasuke cukup menarik perhatian seisi ruangan ini. Ish, ini semua gara-gara Uchiha sialan itu! Aku menggembungkan pipiku kesal sambil mendelik ke arahnya.
"Sudah lah Hinata, sini ayo duduk. Jangan kau dengarkan perkataan Sasuke-kun!" Sakura menarikku duduk di sampingnya, tepat di hadapan Sasuke.
"Jadi kalian sudah saling kenal?" Naruto mengulang lagi pertanyaannya.
"Dasar baka! Kita semua kan dulu satu sekolah saat Junior High." Sakura menatap Naruto malas. "Dulu aku, Ino, Hinata dan Sasuke-kun pernah berada di satu kelas. Tapi saat kenaikan kelas VII, Hinata pindah ke London."
"Ooh, pantas aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Perkenalkan, aku Shimura Sai. Kau bisa memanggilku Sai! Aku kekasih dari gadis cantik di sebelahku ini." Ino memerah mendengar perkataan dari Sai.
"Aku Uzumaki Naruto. Dan kau juga bisa memanggilku Naruto, Hinata-chan. Aku pacarnya Sakura." Naruto tersenyum lebar ke arahku.
"Nara Shikamaru." Kata seseorang berambut nanas sambil menguap.
"Ne Hinata-chan, apa sebelumnya kau dekat dengan Sasuke?" Naruto menatapku ingin tahu.
Aku mencerna pertanyaan Naruto baik-baik. Apa tadi dia berkata kalau aku DEKAT DENGAN SASUKE?
"Heh?" Aku masih belum mencerna pertanyaannya.
Melihatku yang kebingungan, Sai mencoba menjelaskan. "Karena kami baru melihat kepribadian Uchiha Sasuke yang seperti ini." Sasuke mendecih mendengar perkataan Sai. Sedangkan aku masih mengerutkan dahiku tidak mengerti. "Sasuke yang kami kenal, tidak akan mau bertengkar dengan seorang gadis."
"Itu benar sekali Hinata-chan." Naruto menimpali perkataan Sasuke dengan semangat. "Teme ini sangat dingin terhadap gadis-gadis. Bahkan dengan kami pun dia hanya akan menjawab perkataan kami seadanya."
"Hehehe. Kami tidak dekat seperti yang kalian pikirkan kok." Aku memikirkan deskripsi yang tepat untuk menjelaskan hubunganku dengan Sasuke. "Kami memang tidak dekat, tidak pernah dekat." Kataku tersenyum canggung sambil menggaruk pipiku yang tidak gatal.
"Selain satu kelas, Sasuke dan Hinata sebenarnya juga sering mengikuti kegiatan bersama. Mereka juga pernah menjadi perwakilan sekolah untuk kontes menyanyi dan kegiatan olimpiade matematika. Mereka sangat cocok disandingkan bersama."
"Ino, jangan bicara macam-macam!" Aku merasakan pipiku memanas mendengar kata 'cocok' dari Ino.
"Kau jangan merendah seperti itu Hinata! Apa yang dikatakan Ino-pig memang benar kan?"
"Aku memang selalu benar, jidat!"
Aku menunduk berusaha menyembunyikan wajahku yang memanas. Eh, aku merasa kalau dari tadi Sasuke sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Tumben sekali dia diam? Biasanya dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengusikku. Aku mendongakkan kepalaku mencoba mencari tahu. Saat itu pula aku merasa menyesal telah melakukannya. Karena di depanku, saat ini Sasuke sedang menatapku dengan tatapan dalamnya.
Deg, deg, deg.
Lagi-lagi aku terjebak dengan onix itu. Tatapan yang sama yang menenggelamkanku dalam kenangan cinta pertama yang menyakitkan. Aku menolehkan wajahku ke arah lain berharap dia tidak mengerti arti pandanganku padanya. Aku masih tak kuasa menatapnya yang masih belum juga mau mengalihkan pandangannya dariku.
Bagaimana ini? Kenapa rasanya masih sesakit ini?
"Hinata! Hinata!" Aku mengalihkan pandanganku pada Sakura.
"Ada apa Sakura?" Aku berusaha mengatur suaraku agar tidak bergetar.
"Kau sedang memikirkan apa, Hinata?" Tenten menatapku dengan wajah khawatir.
"Aah, tidak! Tidak! Aku tidak memikirkan apa pun kok." Aku menampilkan senyum yang ku paksakan.
"Kalau kau tidak memikirkan apa-apa, kenapa kau tidak menjawab pertanyaan Naruto tadi, Hinata?"
"Hehehe, maaf? Aku tadi hanya melamun. Eh, memangnya apa yang Naruto-kun tanyakan padaku?" Aku mencoba mengalihkan perhatian mereka padaku.
"Yosh, begini Hinata-chan. Sebenarnya kami memiliki sebuah band. Anggotanya, aku, Sai, Shika, Kiba dan Sasuke. Kau sudah mengenal Kiba kan?" Aku mengangguk menjawab pertanyaan Naruto. Kiba adalah sahabatku sejak kecil, dengan Shino juga sebenarnya. "Dan saat ini kami sedang mencoba mengikuti festival musik yang akan diadakan di Konoha. Jadi apa kau mau mencoba bergabung dengan kami?" Naruto menampilkan senyum lima jarinya padaku.
Aku terkejut mendengar pertanyaan Naruto tadi. "Heh? Kenapa aku?"
"Sebenarnya kami sudah berencana ingin mencari vokalis baru untuk band kami. Tapi kami masih belum menemukan sosok yang pas." Shikamaru memandangku dengan tatapan mengantuknya.
"Sebaiknya kau mencobanya dulu, Hinata."
"Ayolah, Hinata-chan. Lagipula kau kan sudah pernah bernyanyi bersama teme."
Aku menggaruk pipiku dengan bingung. "Bagaimana ya? Sebenarnya aku sudah lama tidak bernyanyi."
"Kau pertimbangkan saja dulu! Jangan buru-buru mengambil keputusan!" Sasuke yang dari tadi hanya diam akhirnya membuka suaranya. "Atau jangan-jangan kau tidak percaya diri harus bersanding denganku, eh?" Sasuke mengeluarkan seringai jahilnya lagi.
Aku menatap Sasuke berani, ternyata dia menantangku. "Mana bisa aku memutuskan begitu saja? Setidaknya aku harus melihat penampilan kalian dulu." Aku menatap Sasuke jengkel.
"Berani juga kau, Hyuga." Sasuke tersenyum mengejek ke arahku.
"Yosh! Karena sudah diputuskan, jadi Sabtu ini kita ke studio untuk berlatih, sekaligus memperkenalkan band kita pada Hinata-chan. Bagaimana Hinata-chan?"
Aku tersenyum menatap Naruto dan yang lainnya. "Tentu saja."
"Hinata-chaaaaan." Kami semua berbalik menatap ke arah pintu kantin.
"Hinata-chan?" Panggil seseorang itu lagi.
Aku melihat orang itu sedang tersenyum ke arahku. Aku berdiri dan berlari ke arahnya dengan senyum mengembang di bibirku. Ketika sampai di hadapannya, langsung saja aku melompat memeluknya yang juga sedang merentangkan tangannya menyambut pelukanku.
Dia memutar-mutarkan tubuhku beberapa kali. Sebelum menatapku dengan pandangan tidak percaya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku dan Shino tentang kepulanganmu, Hinata-chan? Kau sudah tidak menganggap kami sahabatmu lagi?" Kiba melepaskan pelukannya padaku dan menampilkan wajah cemberutnya.
Aku terkikik melihat Kiba yang merajuk. "Aku hanya ingin memberikan kalian kejutan sebenarnya. Tapi setelah aku berada di sini selama dua minggu, kalian justru baru menyadarinya sekarang." Aku menggembungkan pipiku kesal ke arah Kiba dan Shino.
"Hehe. Maafkan kami. Aku sangat merindukanmu, hime." Kiba memelukku lagi.
Aku melepaskan pelukan Kiba dengan tersenyum. Kemudian aku menghampiri Shino dan memeluknya. "Aku juga sangat merindukan kalian." Ku lihat Shino tersenyum kecil sambil membalas pelukanku.
"Kau tidak akan kembali ke London kan, Nata-hime?"
"Tidak, Kiba-kun. Aku akan tinggal di Konoha mulai sekarang."
"Ayo, kita ke kelasmu, Nata-chan. Aku ingin mendengar ceritamu selama di London." Kiba menarik tanganku keluar dari kantin diikuti Shino di belakang kami.
"Hei, Sasuke! Kalau kau tidak berkedip, matamu akan segera jatuh sekarang juga." Semua orang di meja memperhatikan Sasuke setelah mendengar perkataan dari Tenten.
"Aah, kau cemburu ya, teme?"
"Diam, kau dobe!" Sasuke menggeram menahan marah.
"Hei, teme. Aku kan hanya bertanya."
Sasuke pergi meninggalkan mereka begitu saja.
"Apa ada yang salah dari pertanyaanku?" Naruto bertanya pada Sakura dengan tatapan bingung.
