Naruto (c) Masashi Kishimoto
Antara Kita dan Musik (c) Chousamori Aozora
PERHATIAN!: OOC, AU, miss-typo, alur berantakan, pendek
Anda tidak suka? Silahkan tekan 'back' pada browser anda
Flame diterima dengan senang hati
Selamat Membaca!
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
Sang surya masih setia menemani setiap penduduk Bumi, dengan sinarnya yang terik membanjiri setiap inchi bagian Bumi yang sedang mengalami siang hari tersebut. Arakan awan di atas hamparan kanvas biru seolah mengatakan kalau mereka juga menemani sang mentari yang sejak pagi hingga kini masih memancarkan pesonanya pada setiap penjuru belahan Bumi tersebut. Namun mereka tidak sendiri. Masih ada tiupan angin sepoi yang terkadang membuat dedaunan pepohonan maple yang sedang berguguran beterbangan, menari mengikuti irama sang angin.
Siang yang tidak buruk, mungkin seperti itu isi pikiran sebagian penduduk Bumi selain bekerja, uang, keluarga, dan hal-hal yang mungkin akan sangat tidak penting jika dibahas di sini. Jadi, lupakan saja.
Di siang yang cerah ini, tidak membuat semangat seorang gadis berambut merah jambu leleh karena panas dari radiasi sang mentari, malah semangatnya semakin berkobar-kobar seperti api yang membara. Hal ini agak mengejutkan, mengingat hampir sebagian penghuni kolong langit lebih memilih untuk bermalas-malasan di dalam rumah mereka dengan pendingin ruangan yang disetel pada suhu terendah dan meminum minuman-minuman segar yang dingin karena bongkahan-bongkahan bening air yang dibekukan.
Beberapa tetes peluh menghiasi wajah ayu gadis pemilik mata sehijau jamrud dan rambut merah jambu itu. Dahinya berkerut tatkala ia memelototi lembaran partitur dihadapannya. Tangan kanannya masih setia memetik senar-senar tebal benda musik bernama bass, sedangkan tangan kirinya menari dengan lincah dari fret yang satu ke yang lainnya.
Kerutan di dahinya terlihat semakin jelas ketika ia berulang kali salah melakukan teknik. Lelah perlahan menguasai kesepuluh jarinya yang sudah dua jam tanpa henti menari di atas senar-senar tebal itu. Ia memutuskan untuk berhenti sejenak, menaruh bassnya dengan hati-hati di atas tempat tidurnya.
Ia hempaskan tubuhnya di atas ranjangnya, menghela napas keras-keras dan memejamkan kedua mata hijau beningnya itu. Kantuk perlahan menguasai alam sadar gadis itu. Hampir saja ia jatuh tertidur ketika pintu kamarnya diketuk sekali dengan keras dan kemudian di dobrak hingga pintu kamarnya yang semula terkunci, menjadi terbuka dengan satu engsel yang rusak karena dobrakkan seseorang yang begitu kencangnya itu. Sang gadis terbangun dengan mata memerah terbuka lebar dan debaran jantung yang menggila karena terkejut akan dobrakan paksa itu. Pendobrak pintu kamar itu hanya nyengir dan menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Nii-chan! Apa yang kau lakukan dengan pintu kamarku, hah?" pekik gadis itu dengan nada agak mengantuk.
"He he... maafkan aku imotou-chan. Habis, kau dari tadi tidak turun kebawah sewaktu kaa-chan memanggil—meneriakimu," balas seorang pemuda berambut pirang dengan mata sebiru lautan. Pemuda itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar adiknya yang bernuansa coklat dan putih itu. Ia berhenti di sebelah tempat tidur adiknya, lalu mencubit kedua pipi adiknya dengan gemas. Yang dicubit hanya mengerang tidak suka seraya menepis kedua tangan tan kakaknya.
"Argh! Apa sih? Kau mengganggu tidur siangku, baka-onii-chan!" protes sang gadis. Ia mengambil bantal di bawah kepalanya kemudian menaruhnya di atas wajahnya. "pergi, sebelum bantal ini melayang dan menimpuk kepala durianmu!" ancamnya dengan suara tertahan karena bantal. Pemuda yang mendapatkan ancaman tersebut hanya nyengir. Sedetik kemudian, diambilnya bantal itu dari atas wajah adik perempuannya.
"Tidur siang? Setahuku, tidur siang itu membuat orang bertambah bodoh dan malas. Kau mau dicap seperti itu, hm?"
"Tidak, tapi aku lelah sekali. Jadi, biarkan aku istirahat,"
Pemuda tersebut hanya memutar bola matanya. Tidak lama kemudian, ia mendapatkan ide.
"Hei, Sakura-chan, bangun dong," rayunya pada gadis yang masih membaringkan dirinya di atas kasur berseprei putih dan bermotif garis-garis paranada beserta not-not balok yang terletak bervariasi. Yah, bisa dibilang, seprei kasurnya bermotif partitur musik.
"Tidak mau!" kata Sakura dan menarik selimutnya hingga menutup seluruh wajah dan hanya menyisakan beberapa helai rambut merah jambunya yang terurai begitu saja di atas bantal.
"Oh, ayolah adikku yang cantik dan manis seperti onii-channya ini... ayo bangun,"
"Tidak,"
"Kalau begitu, bassmu kuambil ya? Tidak akan kukembalikan selama seminggu, bagaimana?"
"Kau ambil, biolamu melayang,"
Pemuda itu, hanya menghela napasnya kesal. Ia terpaksa menjalankan rencana B miliknya.
"Baiklah kalau begitu. Kemari kau anak nakal..." katanya lalu menyelinap di balik selimut yang bermotif sama seperti sprei kasur queen-size itu. "rasakan pembalasanku! Hahaha!"
"KYAAAA! Hentikan! Geli! Ah! Hentikan! Hentikan baka-Naruto-nii-chan! Hentikan, kataku!" teriak Sakura dari balik selimut dengan agak terkekeh. Ia lingkarkan kedua tangannya hingga terlihat ia seperti memeluk dirinya sendiri. Kakinya bergerak menendang-nendang selimut, atau lebih tepatnya menendang-nendang Naruto yang sedang menggelitik pinggangnya dan menyeringai puas.
"Tidak akan, sebelum kau turun,"
"Oke! Oke! Aku turun! Tapi, hentikan gelitikanmu," kata Sakura sebal dan memukul kepala Naruto dengan guling. Naruto langsung menghentikan gelitikannya dan menarik paksa tangan Sakura yang akan menarik selimutnya lagi.
"O, tidak bisa, ayo ikut aku!"
"Iya! Aku bisa jalan, jadi, lepaskan tanganku." gerutu Sakura. Dengan terpaksa ia mengikuti kakaknya yang sekarang menyeringai puas.
"Itu baru imotou-ku. He he."
.
.
.
"Sudah selesai makannya?"
Sakura yang baru selesai makan, mendongakkan kepalanya ke arah Naruto yang tiba-tiba berwajah serius. "Ya, sudah,"
Tanpa pikir panjang, Naruto segera menarik tangan Sakura dan berjalan menuju pintu depan. "Hei, hei, aku mau dibawa kemana?" protes Sakura.
Naruto tidak menjawab. Ia mengambil dua buah helm, mengangsurkan salah satunya yang berwarna putih dengan motif bunga sakura ke adiknya yang sedang memasang ekspresi bingung. Sementara ia sendiri memakai helm hitam dengan corak api berwarna oranye. "Naik. Dan kau akan tahu,"
"Fine. Aku ikut. Tapi kalau sampai aku tahu kau membawaku ke tempat yang tidak menyenangkan untukku, aku akan mengadu kepada kaa-chan,"
"Hn. Kau akan suka, imotou-chan. Jadi tenang saja," kata Naruto kemudian menstarter motornya. "Pegangan yang kuat, aku akan ngebut."
"Oke."
.
.
.
Naruto memelankan laju motornya yang sebelumnya menggila. Ia memasuki halaman parkir sebuah gedung yang sangat luas. Ia mematikan mesin motornya dan melepas helm hitam-oranyenya. "Sampai. Ayo. Kita sudah ditunggu, Sakura."
Sakura turun dari motor Naruto dan melepaskan helm putih-pinknya. Kedua mata hijau bening Sakura sukses melebar setelah ia tahu tujuan Naruto membawanya.
"Tempat ini... ah, tidak mungkin."
.
.
.
BERSAMBUNG
Bacotan Author: Well, well, sepertinya telat sekali saya updatenya. Gomen ne. Karena saya nunggu UAS selesai dan karena sudah selesai, jadi saya bisa lanjutin fic ini lagi deh. Hehe.
Maaf banget yak, udah telat, chapter pendek. Benar-benar MENGECEWAKAN. Gomen ne, gomen gomen... /bungkuk-bungkuk/
Okay, buat yang udah review chapter kemarin, arigatou! Ini balesan reviewnya!
HannaTierra: Nih apdetannya nyim... sori mengecewakan /pundung/. RnR lagi yak? Arigatou.
Kim Geun Hyun: Wuah, maaf banget baru apdet. Kakak berlebihan deh... tulisan kakak juga bagus kok, aku yang envy sama deskripsinya kakak. Kita sama-sama belajar kok, hehe. Ah, soal pemuda itu, rencananya (?) emang Saskey. Tapi kayaknya bisa ganti deh, hehe... *inner: dasar plin-plan* RnR lagi yak? Arigatou.
4ntk4-ch4n: Yang main gitar kayaknya memang Sasuke (lho?). Ya, dilihat saja nanti, hehe. RnR lagi yak? Arigatou.
Hatake-sama: Oh, soal summary ya? Udah kuganti kok. Gomen ya. Karena waktu itu memang bingung mau nulis summary apa. Dan itu yang terpikirkan, ya jadinya kayak gitu deh. RnR lagi yak? Arigatou.
Oh iya, kalau chapter ini sepi review, gak bakal kulanjutin atau kuremove /ngambek/. Jadi, review ya, flame boleh juga kok... /kabur/
Salam hangat,
Sign
Chousamori Aozora
