Seharusnya pertemanan yang singkat itu tidak terjadi. Sehingga aku tidak perlu memikirkannya sampai saat ini.


Prologue 2

Dunia ternyata lebih luas dari ekspektasi Kuroo. Tapi kemudian, dunia menyempit jadi seukuran satu lapangan voli. Dia tak mengerti lagi di mana daya tarik dunia selain dari bunyi decitan sepatu, dan tangan yang memerah karena bola berwarna-warni. Dia tidak tahu apa lagi yang menarik selain melompat melewati jaring, dan tersenyum puas akan hasilnnya.

Tapi, tetap saja tidak ada yang berubah. Setelah enam tahun, dia masih tidak mengetahui keberadaan anak bernama Kenma itu. Dia yang masih duduk di tahun kedua SMA, tidak memiliki petunjuk apapun dan tidak memiliki kesempatan untuk menyebrang dan mencari sosoknya.

Sedikit banyak dunia terasa kosong, namun terkadang tidak. Lalu kosong lagi, dan tidak. Dunia berputar monoton, begitu pula dengan warna yang dilihatnya.

"Kuroo! Kuroo, hei!"

Dia sudah bersusah payah memanggil Kuroo dari tadi. Bahkan harus sedikit melompat untuk mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Kuroo. Pemuda itu tak mengerti lagi.

"Kuroo!"

"Oh." Kuroo tiba-tiba saja tersentak, dan diam selama beberapa saat. "Maaf, Yakkun. Aku melamun." Tanpa diberitahu pun, lawan bicaranya tahu kalau Kuroo sedang melamun. Setiap hari, ada saja saat dia terlihat seperti itu. "Menurutmu, kami bisa bertemu lagi?" tanyanya tiba-tiba.

Yaku Morisuke—si lawan bicara—tidak mengerti arah topik yang dibawa Kuroo. Dia mendongak dengan alis yang bertaut. "Kau ini bicara a—"

"Puding."

"Hah?"

"Aku melihat kepala puding."

"HAH?"

"Kau duluan saja, aku pergi dulu sebentar. Bilang pada kapten, aku punya urusan. Tidak penting juga sih, tapi aku ada urusan."

"HAH?!"

Yaku sudah cukup bingung dengan tingkah laku Kuroo. Namun kali ini adalah yang terburuk setelah satu tahun berada dalam tim yang sama. Pada akhirnya, dia hanya melihat punggung pemuda jangkung itu menjauh tanpa mendapat kesempatan untuk tahu apa yang ada di dalam kepala ayam itu.

-o-

Instingnya mengatakan kalau dia harus berlari tanpa alasan yang jelas. Kata kuncinya adalah puding, dan dia berlari menuju kata kunci itu. Sibuk melalui orang-orang yang berlalu-lalang. Meminta maaf tanpa jeda karena tak sengaja menyenggol.

Hingga tangannya berhasil meraih sebuah telapak tangan yang lembut. Dia menatap dengan penuh pengharapan. Tangan milik si kepala puding itu, berhasil di dapatkannya, dan dia berhasil menarik si pemilik tangan menyingkir sehingga punggungnya bertemu dengan tembok.

Harapan itu tiba-tiba saja sirna. "Maaf," katanya, "kukira kau adalah temanku…." Kuroo melepaskan genggaman tangannya. Merasa tidak enak dan malu pada dirinya sendiri. "Temanku itu … dia laki-laki. Tapi aku pernah menyebutnya cantik. Jadi kukira kau adalah—"

"Kuroo."

"Dari mana kautahu namaku?"

Hening. Gadis itu memalingkan wajahnya yang bersemu. Bingung harus mengarang alasan yang bagaimana. "Kau … terkenal. Kau juga … tampan. Senpai." Alasan itu tiba-tiba saja keluar. Meskipun bahasanya menjadi sangat kacau.

"Aku?" Kuroo tak percaya, bahkan setelah mendengar semua itu. Dia tidak pernah tahu kalau dia terkenal, dan dia tak pernah mendengar kata tampan selain dari ibunya.

Gadis itu mengangguk, dan atmosfer di antara mereka menjadi canggung.

"Kau mengenalku meskipun kau masih kelas satu, masih musim semi, dan tim voli putra belum seberapa kuat?"

"I—iya."

Mereka canggung. Tidak tahu harus bagaimana. Kuroo tidak mengerti apa yang harus dilakukannya terhadap penggemar-nya itu. Pun, gadis itu tidak bisa menyingkir dari tempatnya berdiri. Tubuh Kuroo terlalu besar dan menutupi jalannya.

"Tidak adil. Kau tahu namaku, tapi aku tidak tahu namamu." Wajahnya mendekati wajah gadis itu tanpa tahu malu, dan dia menyeringai dengan cara yang aneh. "Jadi, beritahukan aku namamu."

"Maki. Kozume Maki."

Kuroo tersenyum, timbul perasaan dimana dia ingin berada di sana sedikit lebih lama lagi. Tapi dia tahu dia punya tanggung jawab untuk pergi ke gimnasium untuk berlatih. Senyumannya berubah, dan dia menghela napasnya berat. "Kozume, aku harus pergi berlatih dulu. Sampai besok!"

Sementara Kuroo berlari, Maki hanya melihatnya dari kejauhan. Di matanya, Kuroo memiliki bahu dan punggung yang lebar, selain itu dia sangat tinggi, dan kulit tannya benar-benar mendukung. "Sepertinya aku tidak salah menyebutnya tampan," gumamnya pelan.

-o-

Kuroo menyadarinya dengan sangat baik. Bahwa hari ini adalah hari terberatnya selain hari itu. Masih segar di ingatannya kala dia ditinggal oleh seorang anak bernama Kenma. Bahkan dia masih ingat hari pertama mereka bertemu.

Kakinya yang jenjang melangkah panjang-panjang meninggalkan gimnasium. Tidak ada yang ingin dilakukannya kecuali pulang, dan tidur setelah seharian berada di sekolah. Kepalanya mendongak, dan langit Tokyo nampak gelap. Lalu tanpa sadar dia tersenyum. Ketika dia kecil, dia harus pulang sebelum matahari terbenam. Tapi setelah sebesar ini, terkadang dia pulang ke rumah setelah matahari terbenam.

"Kuroo!"

Sebuah suara memanggil namanya.

"Eh. Kuroo Senpai."

Suara itu mengoreksi panggilannya.

Mau tidak mau Kuroo memutar tubuhnya, dan dia menemukan wajah yang baru dikenalnya di bawah temaram lampu jalan. "Kozume? Kau belum pulang? Apa yang dilakukan gadis sepertimu di malam hari?"

Kozume Maki, bukannya menjawab justru menaruh tangannya di balik tubuhnya. Tidak tersenyum—lebih tepatnya, dia tidak menunjukkan ekspresi apapun. "Menunggumu," jawabnya pelan. Lalu dia berjalan di depan Kuroo, membuat Kuroo melihat punggungnya yang sempit dan ditutupi oleh ransel.

"Kalau kau mau menungguku, lain kali masuk saja ke dalam gimnasium, Kozume. Bisa bahaya kalau kau sendirian." Kaki-kaki panjang itu berusaha menyamakan langkahnya dengan Maki.

Maki mendongak untuk melihat wajah Kuroo. "Tidak perlu terlalu sopan denganku, panggil saja Maki." Dia mengatakan seolah mudah untuk memanggil nama seorang gadis tanpa disertai pikiran aneh dari yang lain.

"Kalau begitu, kau boleh memanggilku apapun yang kau mau. Kuroo atau Tetsurou. Tanpa san atau tanpa senpai, itu juga tidak masalah."

Setelah itu tak ada pembicaraan lainnya dari mereka. Mereka hanya berjalan berdua, berdampingan. Hanya sesekali Kuroo mencuri pandang ke arah Maki. Seluruhnya yang dilihat dari Maki itu benar-benar familiar. Meski begitu, Maki adalah orang yang berbeda dengan orang yang dikenalnya.

Mereka masuk ke dalam stasiun yang sama, tapi berbeda arah. Jadi mereka berdiri berhadap-hadapan dengan rel di tengah-tengah mereka. Kuroo tersenyum kecil melihat Maki yang mulai sibuk dengan konsol gim.

"Hei, Maki! Apa kau suka bermain gim?"

Maki mengangguk dari kejauhan, dan itu membuat Kuroo diam lagi. Dari matanya itu, Maki benar-benar mirip dengan seseorang yang dikenalnya. Tapi Kuroo harus menerima kenyataan bahwa mereka berdua sama sekali tidak mirip. Tidak mungkin seorang laki-laki berubah menjadi gadis yang menawan—apa?

Wajah Kuroo bersemu begitu dia memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya. Mereka berdua baru saja kenal, dan akan aneh kalau Kuroo tiba-tiba berubah. Tapi bagaimana hati tak tersentuh begitu mendengar bahwa Maki menunggunya selama itu hanya untuk pulang bersama—meskipun tidak benar-benar bersama.

-o-

Ketika bulan perlahan naik dari peraduan, Kuroo sengaja berhenti di depan sebuah taman bermain yang sudah sepi. Dia melihat pohon sakura yang masih sibuk menggugurkan kelopak-kelopak sakura. Lalu menghela napas dengan berat.

"Aku … kalau aku terlalu banyak membandingkan antara kau dan Maki, aku bisa gila. Kalian tidak mungkin orang yang sama. Tapi Maki, dia benar-benar terlihat sepertimu. Lalu hatiku ini dengan lancang memikirkannya. Hei, apa kau pikir aku mungkin menyukainya? Meski kami baru saja bertemu? Atau itu karena Maki benar-benar mirip denganmu, Kenma?"

Dia tidak bicara pada pohon sakura itu, tapi dia bicara pada bayang-bayang anak laki-laki hasil proyeksi dari ingatannya. Anak laki-laki itu sedang duduk di atas akar pohon, memegang konsol gim dan memainkannya tanpa memperhatikan dunia. Anak itu yang bernama Kenma, jelas sekali tak akan menjawab. Karena dia hanya hasil proyeksi yang berasal dari Kuroo. Sementara Kuroo tak tahu jawaban dari pertanyaannya, maka Kenma itu tak akan tahu jawabannya.

"Sial. Aku benar-benar bisa gila."

Hari ini sangat berat untuk dipikul oleh bahunya. Meski bahu itu terlihat lebar dan kokoh. Meski sudah seperti itu….

.

.

.

.

.

To be continued


A/N

UPDATE!

Makasih untuk yang udah review, fav, dan follow! Seneng banget ternyata FF-ku dapet sambutan yang baik. Padahal ini cuma FF remake doang :") walaupun semuanya jelas beda, tetep aja ini FF remake dari FF ChanBaek. Ohiya, karena ini FF remake, aku jadi kepikiran genre awalnya. Ok, main genres emang yang tercantum (Drama/Romance). Tapi aslinya, selain itu ada genre Mystery dan Music. Genre Music udah jelas aku hapus, soalnya ini versi KuroKen dan lebih ngarah ke Sports (ya gak detail tapi adalah bagiannya). Aku lagi kepikiran mau masukin Mystery ke sini? Nanti juga aku tambahin Tragedy. Tapi kalo gak pas ya gajadi -_- gimana menurut kalian?

Alurnya kecepetan ya? Namanya juga prolog :'v aku lagi yang buat /slap/ Tapi, mulai chapter berjalan, gak akan ada lagi yang kecepetan. Aku juga bakal mikirin semua setting-nya baik-baik biar gak berantakan, begitupun dengan plotnya.

Ohiya, namanya memang Kozume Maki, tapi dia itu Kenma. Jadi yang bener yang mana? Dua-duanya bener kok. Kenapa? Liat di upcoming chapter ya :) karena di sana aku bakal ambil perspektif Kenmaki (aku gabung hehe xD). Dua prolog ini kan semuanya perspektif Kuroo. Dan kenapa Kuroo gak aku tulis Tetsurou? Karena aku lebih nyaman pake Kuroo, ngetiknya juga lebih singkat /slap/

Udah deh itu aja kayaknya. Gak ada cuap-cuap lagi. Mohon tinggalin jejak (lagi) dan ikutin terus He is Beautiful ya!

Regards,
Khairunnisa Han