["Ryouta..."] suara Akashi bagaikan menggema dalam ponsel milik model tercinta kita, Kise Ryouta. Dalam hening yang diam dan tatapan Tetsuya yang tenang, pemuda pirang itu menenggak ludahnya sembarangan, terlalu ciut nyali untuk bahkan hanya sekedar membalas sapaan sang kapten basketnya. Padahal mereka hanya bicara lewat telepon.

"I-iya... ada apa Akashicchi?" mengumpulkan segenap sesuatu berupa keberanian dan harapan, Kise menggenggam tangan Tetsuya dengan refleks. Si bayi mungil menatap ayah angkatnya dengan bingung. Sekarang Kise lagi yang bingung mau bereaksi bagaimana. Entah takut karena Akashi, atau teriak karena keunyuan bayi bermata besar di depannya.

["Lima belas menit lagi bel akan berbunyi. Kau tak datang latihan pagi ini, kenapa kau terlambat?"] nada yang sangat penuh akan otoriter seorang raja. Tangan Kise bergetar memegangi lengan mungil Tetsuya yang putih dan lembut. Membuat bayi itu meringis kesakitan.

Mata madu Kise berputar-putar. Cerita, tidak. Cerita, tidak. Cerita, tidak.

Antara kebingungan dan bimbang, Kise berbalik pandang. Tetsuya, ponselnya. Tetsuya, ponselnya. Begitu terus hingga akhirnya suara Akashi menginterupsi.

["Kalau kau berbohong, latihanmu kugandakan tiga kali lipat."] yang membuat Kise terpaksa menciut nyali kembali dan memandangi Tetsuya lagi.

Lagian, ini bayi kenapa tidak bersuara, sih? Menangis, kek. Atau apa, biar Akashi percaya kalau Kise sekarang sedang punya anak dadakan! Sang pirang mengacak rambutnya, frustasi. Sedangkan bayi temuannya itu memposisikan diri hendak merangkak.

Tanpa peduli sekitar, Kise mencoba menjelaskan pada Akashi. "Begini, Akashicchi. Sebenarnya tadi aku ada... eumm.. urusan sebentar, penting! Tidak boleh dilewatkan!" tidak bohong juga sih sebenarnya, karena meninggalkan Tetsuya sendirian di rumah sama dengan bencana.

Helaan napas terdengar, ["lalu?"]

Garuk-garuk pipi, Kise mencari kata-kata yang tepat. Kalau dipikir secara logika, mana mungkin Akashi percaya Kise baru saja dapat anak dan sekarang anaknya sedang ada di pangkuan—

...

...

...

...

...

...

...

—hilang. Anak itu, Tetsuya, hilang.

"TETSUYAAACCHIIIII!"


.

.


Baby's Crisis

Disclaimer:

Kuroko no Basuke (C) Fujimaki Tadatoshi

Warning:

Baby!Tetsuya, humor gagal, AR, agak OOC, awas typo, Teikou era, yang jijik-an atau yang lagi makan jangan baca dulu, ada kata-kata mengenai sesuatu seperti upil di fic ini #nista

Happy Valentine bagi yang tidak merayakan #saya error


.

.

.


Akashi menjauhkan ponselnya seketika, saat Kise berteriak memanggil nama seseorang yang tak ia kenal. Bukan hanya Akashi saja, bahkan semua orang yang ada di gym itu menutup telinga mereka, antara kaget akan suara yang keras tiba-tiba dan terganggu dengan jeritan bak lekong kelebihan gula. Frekuensi lengkingan Kise benar-benar luar biasa.

Menyadari ada sesuatu yang tak beres, sang kapten merah tidak menutup teleponnya. Ia biarkan ponsel itu masih tersambung hingga suara Kise kembali terdengar. Mungkin saja teriakan Kise tadi menguatkan alasan mengapa ia tidak ikut latihan pagi ini.

Ah, ralat. Pasti suara teriakan Kise tadi menguatkan alasan mengapa ia tidak ikut latihan pagi ini.

Sayup-sayup suara di seberang perlahan mulai menghilang. Pasti ponselnya tertinggal ketika Kise meneriakkan nama 'Tetsuyacchi' tadi. Samar, hanya ada suara memanggil dan gebrakan benda-benda berjatuhan yang berpotensi menghancurkan.

Dengan tenang dan ganteng, Akashi menutup ponselnya. Bunyi lipatan ponsel itu bagaikan musik pengantar para tahanan ke penjara bagi anggota Kiseki no Sedai—sebutan bagi lima jenius basket di SMP Teikou—yang lain.

Si rambut hijau berkacamata adalah yang paling waras di antara mereka. Dengan tsundere ia menaikkan kacamata berbingkai hitamnya yang sebenarnya sama sekali tidak turun. Ia melakukan itu semata-mata hanya untuk menghindar dari tatapan maut Akashi yang murka setengah mati gara-gara bolosnya Kise tadi pagi.

"Ada apa, Akashi? Sepertinya kau telah menemukan sesuatu," komentarnya dengan ketenangan tingkat tinggi. Padahal dalam hati gemetaran dan rasanya mau bunuh diri. Benar-benar sial nasibnya hari ini, padahal tadi ia sudah nonton Oha-Asa, peramal akurat seratus persen yang selalu membawa nasib baik bagi si brokoli.

Dalam hening, Aomine si rambut biru mengupil nista. Biasanya sih kalau ada Kise ia akan menempelkan bekas upilnya itu ke baju si pirang. Nista? Iya. Jorok? Banget.

—tapi, karena Kise sekarang tidak ada, ia akan menempelkannya di bawah bench tempat Momoi selalu duduk mengamati para pemain. Mohon jangan bilang-bilang, ya.

Di tengah-tengah perlakuan nista tersebut, hanya Akashi yang tahu kegiatan harian penuh kenistaan Aomine, tentu saja. Karena si merah itu tahu segalanya, ia yang bilang sendiri.

—sok tahu, kata Aomine suatu hari, yang dibalas dengan serbuan gunting secepat kilat hampir mengiris telinganya. Kasihan.

Di sudut lapangan, Murasakibara Atsushi, titan jadi-jadian tim Teikou, akan menonton sambil makan snack segunung yang tidak akan pernah ia bagikan pada siapa pun kecuali kalau lagi mood.

Akashi berjalan ganteng melewati brokoli wakil kaptennya. "Tidak ada apa-apa. Aku sepertinya sudah menemukan sesuatu yang membuat Ryouta bolos. Daiki, hentikan mengupilmu, atau aku akan kabarkan kegiatan menjijikkanmu itu kepada anak SMP sebelah bernama Taiga."

"TIDAK!" jerit Aomine penuh harap. Mata birunya berkaca-kaca bagai kena tinta, yang sekarang malah jadi mengenaskan di mata Akashi. "Aku mohon Akashi, demi cintaku pada Taiga! Dia gebetanku setelah pencarian sekian lama! Dia ditakdirkan untukku!"

Luarnya sih begitu. Dalam otaknya Aomine mencak-mencak pakai sumpah serapah yang ia ketahui dari Taiga si gebetan, yang katanya adalah anak pindahan dari Amerika. Akashi tahu sekali kalau kelemahan Aomine adalah Taiga, padahal ia sudah menyiapkan tubuh dan pikiran untuk menerima serangan gunting dadakan kalau-kalau Akashi memergokinya mengupil. Menjijikkan.

"Ih, Dai-chan jorok..." bunyi Momoi, memasang gestur muka jijik. Aomine mendelik tak terima pada sahabat masa kecilnya itu.

Perhatian, Momoi masih belum sadar kalau di bawah bench tempatnya duduk adalah sarang upil Aomine kalau Kise tidak ada. Untung saja si pirang rajin latihan—karena takut dengan ancaman gunting sakti Akashi—, kalau tidak, mungkin sudah...

... baiklah, tidak usah dibahas. Itu menjijikkan.

Midorima menghela napas, Akashi masih diam sambil pasang muka datar. Momoi dan Aomine masih lirik-lirik penuh kebencian. Murasakibara lanjut makan.

Untuk sementara, mereka melupakan Kise.

Bel yang berbunyi bagaikan suara ambigu di telinga para Kiseki no Sedai. Entah sedih karena harus belajar, atau senang karena selamat dari gunting maut Akashi.


.

.

.


"Tetsuyacchi, kau di mana?" akhirnya setelah sekian lama—dan gunting Akashi tidak lagi menerornya—Kise memutuskan untuk bolos sekolah saja. Apa boleh buat, habisnya sudah ketemu bayi dadakan, eh bayinya hilang lagi. Nasib macam apa yang sedang dideritanya?

'Kau jadi seperti itu karena tidak menuruti Oha-Asa nodayo,' kalau menurut Midorima si pecinta ramalan, jika Kise menceritakan pengalamannya.

Plis deh, sekarang bukan waktunya mengingat kalimat Midorima yang absurd dan tidak ada masuk akalnya itu. Sekarang waktunya mencari Tetsuya! Mencari Tetsuya!

Sambil menggumam nama si bayi, Kise terus mencari ke penjuru rumah. Ia sempat berpikir bayi itu akan keluar, namun ia sudah menutup pintu, tidak mungkin Tetsuya keluar karena bayi tidak mungkin bisa membuka pintu yang gagangnya tinggi sedangkan ia baru bisa merangkak. Jadi bayi itu pasti masih ada di rumah.

Si pirang berputar-putar, terus mencari di seluruh ruangan namun sampai sekarang tidak ketemu juga. Hampir saja ia menangis karena sudah menyerah.

Kise terduduk lesu, matanya berkaca-kaca, air mata sudah hampir keluar. Dengan punggung tangan, ia menghapus buliran air yang menggenangi matanya. "Tetsuyacchi hilang..." sesalnya, merasa bersalah. Kalau saja ia lebih memperhatikan Tetsuya, ia pasti tidak akan kehilangan—

"Kaa..."

—ah, sekarang Kise jadi berhalusinasi mendengar suara si bayi. Bagaimana ini?

"Kaa..."

Tuhan, sekali lagi, segitu baik hatinya kah diri ini hingga harus diberikan ujian yang berat tingkat nasional seperti ini?

Baiklah, Kise mulai narsis lagi.

—Kise merasa seragamnya ditarik. Ia menolehkan kepala.

Tidak ada.

Hii, seram. Kise ingat sekali, tadi memang ada yang memanggilnya, dengan sebutan 'Kaa', seperti seorang anak memangggil ibunya. Tapi saat dicari-cari, tidak ada apa pun di belakang, samping kiri, maupun sebelah kanannya.

Kise membawa kepalanya kembali ke depan.

Ctik.

"Tetsuyacchi!" lalu berseru girang saat menemukan sang dambaan hati—ehem, bukan. Hanya bayi—yang telah dicari-cari sedari tadi. Digendongnya tubuh mungil si biru muda, lalu diangkat-angkat saking senangnya. Lupa total kalau tadinya dia galau mati-matian karena Tetsuya menghilang.

Tangannya memeluk Tetsuya kecil yang diam saja walaupun sekarang pelukan Kise serasa menyesakkan dada dan meremukkan tulang belulang. "Hiks, Tetsuyacchi kemana saja ssu? Kenapa tidak bilang-bilang kalau mau main ssu? Aku kan khawatir!"

Plis deh Kise. Jangankan bilang 'aku mau main', wong Tetsuya saja baru bisa bicara satu kata!

Untuk semuanya, mohon dengan sangat. Bego jangan dipelihara, ya.

Setelah kembali ganteng karena air mata sudah terhapus, Kise mendudukkan Tetsuya kecil di atas sofa. Ia sendiri ikut duduk di sana sambil bermawas diri kalau-kalau bayi biru itu terjengkang ke lantai. "Tetsuyacchi mau makan apa?" tanyanya langsung.

Mata biru bulat yang besar menatap lurus ke manik madu. Kise tak bisa mengartikannya.

"Nasi?"

Tidak ada respon.

(Lagian, bayi ajaib macam apa yang bisa makan nasi padahal giginya baru tumbuh empat?)

"Bubur?"

Tetsuya memainkan remote tv.

"Sayur?"

Tetsuya menarik syal Kise yang lupa ia cuci tiga hari yang lalu. Entah bagaimana bau syal itu sekarang.

"Burger?"

Baiklah, Kise sarap.

"Susu?"

Tetsuya merespon, walau hanya dengan gumaman tak jelas karena ia belum bisa bicara.

Kise mengangguk-angguk, kini ia mengetahui permasalahan si bayi. Ia lapar, makanya menghilang untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Susu rupanya adalah keinginan Tetsuya.

Riang gembira, Kise menggendong bayi biru itu. "Ayo kita sekarang cari susu~" seru Kise ambigu. Dilambungkannya tubuh mungil Tetsuya di udara, tanpa takut—atau karena dia memang bodoh—bayi itu jatuh lalu tulangnya patah. Kemudian sekarat sebelum mati mengenaskan. Oh tidak, itu berlebihan.

"Kaa..." Tetsuya menunjuk dada Kise. Model pirang itu tercengang sementara. Berusaha mencerna sekuat daya dan karsa bahasa bayi yang baru saja disampaikan uhukanakangkatuhuk-nya.

Bayi itu cemberut sebentar. Sepertinya ia mengerti kalau ayah angkatnya ini tidak mengerti. Oh, tidak, kitakore!

Bukan, kembali ke laptop.

Si pirang memiringkan kepalanya, semakin tidak mengerti. Tadi minta susu, tapi sekarang tunjuk-tunjuk dada. Apa mak—

—tunggu.

"T-Tetsuyacchi mau nyusu... sama aku...?" Kise bertanya patah-patah, sambil pasang muka horor dan wajah memerah. Muka gantengnya makin horor saat Tetsuya mengangguk kecil—entah bagaimana caranya dia mengerti maksud si pirang—dan menempelkan kepala biru mudanya di dada Kise yang bidang.

Buset, ini anak kenapa ambigu banget coba?

Dengan mulut mungilnya, si kecil Tetsuya mencari-cari gundukan yang seharusnya ada di tubuh wanita, di badan Kise. Tentu saja tidak ketemu, orang Kise bukan perempuan. Merasa menyerah, mata biru besar itu mengalirkan air mata, yang entah kenapa raut mukanya datar-datar saja.

(Bagaimana caranya bisa begitu, silakan bayangkan sendiri).

"Hueee..." tangis Tetsuya membuat Kise membagi perasaannya menjadi dua. Entah mau panik karena ada anak kecil nangis di gendongan, entah mau tertawa karena muka datar si bayi tidak cocok sama sekali dengan kegiatan yang sedang ia lakukan.

Bingung mau melakukan apa, Kise akhirnya mengelus puncak kepala Tetsuya yang biru muda. "Cup, cup, jangan menangis, Tetsuyacchi. Aku tidak punya ASI untuk menyusui, karena aku laki-laki, kita akan beli susu di luar, oke?" tawarnya lembut.

Tetsuya berhenti menangis, berkedip beberapa kali, lalu menguap lebar. Kise tertawa kecil melihat bayi itu dengan imutnya membuka mulut dan memejamkan mata, sangat manis dan menggemaskan. "Tetsuyacchi sepertinya sudah mengantuk, ayo kita tidur ssu!"

Layaknya ibu yang mengasihi bayinya, Kise membawa Tetsuya dengan sangat berhati-hati dan waspada. Dipeluknya bayi itu agar tidak terjatuh, kemudian dibaringkan di atas tempat tidur miliknya yang cukup besar untuk mereka berdua. Ia sendiri berbaring menyamping menghadap si bayi, membelai rambut dan pipi gempalnya yang imut.

Hari yang melelahkan, sepertinya. Dan Kise terlelap tanpa memikirkan konsistensi apa yang kira-kira akan ia dapatkan karena bolos latihan tanpa alasan.

Dari atap SMP Teikou, seorang merah tersenyum.


TBC


A/N:

Akhirnya fic ini apdet juga /lega

Dan yah, saya ga menyangka review dan partisipasi reader untuk fic ini sangat memuaskan. Saya beneran kaget, sumpah. Selama ini belum pernah dapat review segitu dalam satu chapter. Saya sampe takut mau bikin chap 2 karena khawatir kalau mengecewakan #nangis

Terima kasih sebanyak-banyaknya buat yang udah review, fav, follow, dan yang udah meluangkan waktu berharga kalian untuk membaca fic ini. Maafkan saya karena ga bisa balas satu-satu... #kembali nangis

Ah iya, saya berencana membuat fic semacam ini untuk beberapa fandom lain. Saya sudah mencoba fandom Free!, bagi yang mau membaca, cari saja di story saya, judulnya sama, kok, dan itu oneshot /promo

Special thanks to: LiaZoldyck-chan Calico Neko Dee Kyou Himawari Wia ElisaYumi98 Seijuurou Eisha jesper.s evilfish1503 kaoruishinomori psychoarea AlanH fujiwarashion InfiKiss yuzuru kurokolovers Noir-Alvarez spring field sakuraRuki-chan SukiSuki'ssu

Tetap ikuti cerita ini dan review ya... #naiknaga

Sampai jumpa di chapter depan~