Ketika kau tak tahu lagi kemana harus melangkah, aku ingin menjadi mata bagimu. Tangan dan seluruh tubuhku kuberikan padamu. Karena sejak awal, kau sudah memiliki hatiku
-0-0-0-0-0-
Declaimer © Masashi Kishimoto
Story : Blind
-0-0-0-0-0-
Normal POV
Sasuke mengemas beberapa barang yang sekiranya akan dibutuhkan untuk jalan-jalan di luar. Dompet, ponsel, topi, ehem, dan tak lupa ia juga membawa alat rias perempuan. Semua itu usul siapa lagi kalau bukan Tuan Putri Yamanaka Ino.
"Apa kau harus membawa semua ini?" tanya Sasuke. Sebagai seorang laki-laki tentu ia tak membutuhkan apapun, kecuali uang, untuk sekedar jalan-jalan. Selama ada uang, semua akan baik-baik saja, pikirnya. Berbeda dengan gadis ini. Yaah, ia mengerti kenapa. Ibunya juga seperti itu setiap kali jalan-jalan keluar.
Sasuke menghela nafas. Ia tahu dan seharusnya ia tak bertanya tadi.
"Kenapa memang?" balas tanya Ino yang sudah siap keluar dan kini tengah menunggunya di dekat ruang tamu.
"Bukan apa-apa. Lalu, siapa yang akan membawa barangmu ini?" Sasuke mengacungkan tas mini dengan model feminimnya ke udara. Tas selempang kecil yang berisi semua peralatan perempuan.
"Kau. Tentu saja kau Sasuke."
Sasuke terhenyak. "Aku?"
"Iya, kau. Siapa lagi?"
Sasuke terhenyak. "Aku?"
"Iya, kau. Siapa lagi?"
Sasuke kembali menatap tas ungu di tangannya. Ia tak keberatan bila disuruh membawa barang-barang berat sekalipun, tapi .. tas perempuan? Yang benar saja.
"Apa kau tak punya tas lain?"
"Memang kenapa dengan tas itu? Kata ayah tas itu cantik kok." Ino masih saja berwajah polos. Kepalanya mendelik ke samping seolah ia benar-benar tak mengerti maksud Sasuke.
Sasuke membuang nafas. Tak seharusnya ia bertanya lagi. Kalau ingin cepat berangkat, ia juga harus bertindak cepat.
"Aku tak punya tas lain selain itu."
Mendengar ini, Sasuke tak heran kenapa. Ia berjalan mendekati Ino yang tengah bersandar di dinding itu.
"Kita ke rumahku dulu, apa kau keberatan?"
Ino tampak sedikit kecewa. Ia sudah sangat siap untuk segera jalan-jalan. Dan bila harus ke rumah Uchiha lebih dulu, artinya waktunya bersenang-senang di luar jadi berkurang.
"Ino―"
"Tidak, aku tidak keberatan. Ayo ke rumahmu dulu!"
Ino langsung berbalik memunggunginya dan berjalan ke arah pintu. Perasaan bersalah pun akhirnya mengisi hati Sasuke. Lagi, untuk ke sekian kalinya, Ino mengalah padanya. Gadis itu sama sekali tak memperlakukannya sebagai pelayan. Terlalu baik demi harapan terpendamnya.
Sasuke mengikutinya dari belakang. Tepat ketika gadis itu akan membuka pintu, ia kembali bicara, "Kita pergi saja."
Perlahan, Ino berbalik dengan tanda tanya di wajahnya.
"Aku agak malas pulang ke rumah. Jadi, yaah .. kita langsung berangkat saja."
Kali ini menimbulkan sumringah di wajah Ino. "Benarkah?" Ia memekik kegirangan.
Sasuke mengangguk, pun lagi-lagi tidak dilihat Ino. "Ya."
Dan mereka pun berangkat. Mari kita cari sisi positifnya. Bila seorang tampan bah semua-perumpamaan-tampan, sedang jalan-jalan dengan membawa tas perempuan, kemungkinan terbesar yang muncul di benak siapa saja yang melihatnya akan berpikiran dia sedikit tidak 'lurus'. Itu sisi negatifnya.
Namun, di samping itu tampaknya ia harus bersyukur. Kalaupun di tengah perjalanan mereka nanti, ia bertemu salah satu fan-girl-nya, bukannya mendekat, mereka akan menjauh dengan sendirinya. Merasa jijik? Biarlah. Toh, Sasuke justru untung.
Jadi, kenapa ia merasa berat hati membawa tas perempuan itu? Yaah, alasan terbesarnya adalah image-nya, tentu saja.
"Kau mau kemana?" tanya Sasuke tepat sebelum mereka melangkah lebih jauh dari pelataran rumah Yamanaka.
Ino terhenti, diam mengedipkan mata di atas kedua kakinya seolah tengah memproses pertanyaan yang sulit di benaknya. Tak lama kemudian, Ino menggeleng. "Aku tidak tahu."
"Kau tidak tahu?"
Ino kembali menggeleng, kali ini menghadap Sasuke. "Aku tidak tahu."
Sasuke menghela nafas.
"Sasuke, beritahu aku supaya aku tahu."
Mungkin ia sudah kesal sekarang kalau saja Ino tidak menunjukkan wajah polos itu. Hatinya luluh. Ia mulai bertanya-tanya mengapa ia tak bisa marah bila Ino sudah seperti itu di depannya.
"Kita bicara sambil berjalan. Bagaimana?"
Ino mengangguk semangat. Tiba-tiba dirasakannya tangannya yang ditarik perlahan dan ia pun mengikuti langkah seseorang yang menuntunnya.
Sunyi mengisi. Tak ada yang bicara. Membiarkan langkah kaki mengambil alih kemanapun mereka pergi.
"Ada wahana bermain, olah raga―"
"Aku ingin taman bermain yang ada tempat terbangnya. Ada?" Ino tiba-tiba memotong. Saat melihat pancaran cahaya di mata aquamarine itu, Sasuke hanya bisa meng'iya'kan. Lagipula, kalaupun ia menawari pusat belanjaan, hal itu hanya akan sia-sia. Pun tempat itu adalah tempat terfavorit perempuan.
"Tempat itu agak jauh. Naik bis setengah jam, naik kereta dua puluh menit, dan naik taksi .. membosankan," kata Sasuke. Ia mulai merasa menyesal tidak memakai mobil sebelum berangkat tadi. Tak tahu kalau tujuan jalan-jalan nanti akan ke tempat yang berjarak tak dekat.
(Harusnya kau memikirkannya sebelum berangkat, Sas. #chidoried)
"Naik bis saja," jawab Ino setelah agak lama terdiam.
"Kau yakin?"
"Um."
Sasuke mengedarkan pandangannya kesana kemari, mencari tanda-tanda halte yang seingatnya ada di sekitar daerah itu. Tapi, setelah melewati hampir dua perempatan, ia tak menemukan halte bis sama sekali.
"Kurasa tidak ada bis lagi di sini."
"Kenapa?"
"Naik kereta lebih cepat dan jalurnya ada dimana-mana. Bagaimana? Tidak apa kan?"
Ino mengangguk mengerti. Kali ini tidak ada mimik kecewa seperti tadi. Sasuke pun kembali menuntunnya pergi ke stasiun terdekat. Sambil berjalan, Ino terus saja bertanya tentang wahana permainan mereka nanti. Sewaktu kecil ia memang pernah ke taman bermain, tapi tak semua permainan di sana ia mainkan. Mengingat zaman juga sudah berkembang, mungkin saja banyak pula yang sudah berubah.
"Aku tak sabar."
Sasuke tersenyum melihatnya. Kini, mereka tengah menunggu sebuah kereta untuk tiba. Kepalanya menoleh sana kemari demi mendapati banyak calon penumpang yang juga ingin naik.
Apa? Banyak?
Sekali lagi, Sasuke baru menyadari kereta akan penuh hari ini. Bukan suatu yang baik bila seorang wanita cantik ikut masuk ke dalamnya. Kasus yang sering terjadi, banyak tangan-tangan mesum yang mendapat banyak kesempatan di kondisi seperti ini. Ia menoleh pada Ino di sampingnya yang tengah tersenyum seperti biasa. Tangannya perlahan melepas genggaman gadis itu dan beralih pada pinggangnya, menimbulkan tanda tanya besar di benak Ino.
"Kenapa?"
"Hari ini kereta akan ramai, tetaplah menempel padaku, mengerti?"
Sejenak Ino tampak berpikir, kemudian mengangguk mengerti.
Dan kereta pun tiba. Sebisa mungkin Sasuke memposisikan mereka di dekat pintu. Benar juga, kereta jadi berdesakan saking banyaknya penumpang. Sasuke semakin mendekap tubuh mungil gadis itu yang dibalas dengan pelukan eratnya.
"Kalau merasakan ada yang menyentuhmu, katakan padaku."
Ino mengangguk-angguk dalam dada bidang Sasuke. Perjalanan pun terkesan diiringi hawa dingin di salah satu sisi kereta. Pemuda Uchiha itu tak henti-hentinya mengirimkan death-glare kepada setiap laki-laki yang mencoba mendekat ke arah mereka. Bahkan terhadap bapak-bapak sekalipun. Saat itulah lagi-lagi Sasuke merasakan perasaan aneh yang tiba-tiba membuat hatinya berdesir. Seperti saat gadis itu tanpa sengaja jatuh di atasnya ketika bermain petak umpet beberapa hari lalu. Ia pun segera menepis perasaan aneh itu, walau ia akui rasanya cukup .. menyenangkan. Alhasil, posisi itu hanya dikelilingi perempuan dan wanita.
Dua belas menit kemudian, mereka sudah berdiri di depan gerbang masuk taman bermain. Suara anak kecil perlahan mengalun di telinga Ino. Ada teriakan, tawa, suara-suara itu semakin lama semakin jelas, membuat Ino yakin mereka sudah semakin jauh ke dalam taman bermain itu.
"Kau ingin naik apa dulu?" tanya Sasuke. Pandangannya masih kesana kemari melihat-lihat wahana yang ada di sana. Mencoba mencari kesenangan sendiri. Mungkin ia bisa menemukan permainan yang menghiburnya, juga cocok dimainkan Ino.
"Aku gugup."
Sasuke mengernyitkan alis. "Gugup?" Bagaimana bisa seseorang justru merasa gugup padahal ia akan bersenang-senang?
Entahlah.
Ino menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Perasaan senang yang menggebu beraduk di dalam perutnya, membuatnya justru merasa gugup. Setelah sekian lama, hal ini seperti keajaiban yang tak disangka-sangka. "Ayo naik.."
%Blind%
"Siap?" tanya Sasuke.
"Ooh! Sasuke, apa kau yakin?" balas Ino tampak takut. Ia tengah berada dalam satu wahana yang diajukan Sasuke. Beberapa petugas wahana memasangkan beberapa sabuk pengaman dan tali di pinggang dan kakinya.
"Sasuke?"
Setelah dirasanya semua siap, Sasuke mendekat dan memeluk pinggang Ino. "Bungee jumping akan menyenangkan. Regangkan kedua tanganmu, aku akan menjagamu."
Ino mengangguk mengerti walaupun wajahnya masih menunjukkan ketakutan. Tangannya ia renggangkan sesuai perintah Sasuke dan ia menelan ludah paksa.
"Aku siap."
Dalam hitungan ketiga, Sasuke memberi aba-aba.
"Lompat!"
Dan merekapun jatuh dari ketinggian seratus meter itu.
"KYAAA!"
Melawan angin, Ino merasakan terbang yang sesungguhnya. Tak dipedulikannya mata yang tak bisa melihat. Yang terpenting saat ini adalah menikmati kesempatan yang ada.
Mereka pun sampai di ketinggian dua meter dari air. Perahu petugas sudah siap di bawah mereka. Mereka masih melayang-layang di atas air, namun Sasuke sudah tak tahan untuk bertanya, "Bagaimana?"
"Menyenangkan."
"Kau tidak takut?"
Ino malah semakin menunjukkan cengirannya. "Takut. Tapi, sekarang tidak."
"Mau lagi?"
Gadis itu mengangguk semangat. "Um." Ino tak bisa menggambarkan perasaan senangnya lebih dari ini. Dadanya berdesir, entah karena aktifitas mereka barusan atau memang kesenangan yang sudah dinanti-nantikannya akhirnya tiba. Dan ia suka. Yang manapun itu, Ino hanya ingin mengatakan kalau sekarang ini ia sangat senang.
Begitu kaki mereka berhasil menginjak perahu, mereka turun dan kembali memesan tiket. Walaupun Sasuke sudah terlalu sering bermain adrenalin seperti ini, tapi tak mengurangi sedikitpun kesenangan yang berujung pada kebosanan. Yang ada, ia semakin menikmati wahana ini, karena selain bersenang-senang, ia bisa melihat senyum merekah itu dari bibir Ino. Mata aquamarine yang kosong itu, sempat ia lihat bersinar, berhasil membuatnya terpaku. Lagi-lagi, senyum membentuk dengan sendirinya di bibirnya.
Dan begitulah kegiatan mereka sepanjang di taman bermain. Mereka tak hanya bermain Bungee Jumping, Sasuke juga menawarkan permainan-permainan lain yang cocok untuk keadaan Ino. Gadis itu terlihat sangat bersenang-senang. Tak jarang, ia minta untuk bermain ulang sekali lagi, seolah ingin mengingat betul setiap kesenangan wahana yang ditawarkan, karena belum tentu ia bisa merasakannya lagi nantinya. Ia tak tahu tepatnya kapan ayahnya dan ayah pemuda itu berhasil menyelesaikan masalah di perusahaan, oleh karenanya, Ino ingin waktu-waktu seperti ini menjadi waktu yang tak terlupakan.
%Blind%
"Sasuke, hari ini hari apa?" tanya Ino saat mereka istirahat di salah satu bangku setelah mencoba hampir seluruh wahana yang ada di sana, hampir.
"Minggu."
"Minggu?" Ino tampak terkejut. Kemudian, gadis itu terdiam sejenak sebelum kembali bicara, "Bagaimana kalau Shika dan Chouji ke rumahku?"
"Aku sudah minta izin ayahmu. Kalau mereka mencarimu, ayahmu akan menghubungiku. Bisa saja mereka justru langsung menghubungiku," balas Sasuke sambil sesekali menyeruput minuman gelas di tangannya.
"Kau kenal mereka?"
"Kami satu universitas."
"Oh." Ino hanya mengangguk-angguk paham. Ia tak bertanya lebih karena ia tak tahu harus bertanya apa lagi.
Dan benar saja, tak lama setelah Sasuke menduga-duga, ponselnya berbunyi yang menampilkan nomor salah satu pemuda yang disebut Ino tadi.
"Hn," adalah kalimat pembuka yang diucapkannya pada seseorang di seberang sana. (benar-benar tidak sopan #amaterasued)
Sepanjang pembicaraan telepon yang tak berlangsung lama itu, Sasuke terkesan hanya menjawab dengan jawaban singkatnya. Ia juga sempat membicarakan lokasi tempatnya berada kini.
Begitu selesai, Ino bertanya, "Ada apa?"
"Temanmu akan segera kemari."
Ino sempat terkesiap, namun gadis itu kembali menunjukkan senyumannya. "Siapa? Shika dan Chouji?"
"Hn."
Mendengar itu, semakin membuat hati Ino berbunga-bunga. Karena suatu alasan, hatinya selalu bergetar ketika mendengar salah satu nama dari kedua temannya. Perasaan gembira yang dirasakannya sedari kecil sebelum ia mengalami cobaan ini. Dan itu juga mengapa ia tak bisa menolak setiap kali pemuda itu meminjam rumahnya untuk beristirahat di hari Minggu, padahal ia sangat ingin mengajak mereka bermain di luar bersama.
Dan sekarang, pemuda itu sudah dalam perjalanan kemari, mencarinya. Jantung Ino sudah mulai berpacu seiring rasa bahagia itu membesar.
Shikamaru.
"Sasuke!"
"Hn?"
"Dandani aku dong."
Sasuke terdiam sejenak. Ia menatap heran gadis yang tersenyum lebar ke arahnya itu. Dan kalau tidak salah, ia sempat melihat semburat merah di kedua pipinya.
"Apa?" tanyanya tek percaya.
"Tolong rias aku!"
Sasuke menatap Ino dalam diam. Antara menilai apakah sesuatu terjadi di kepala Ino dan apakah ia bisa melakukan perintahnya atau tidak.
Merasa tak ada jawaban yang akan diberikan Sasuke dalam waktu dekat, Ino mulai memelas, "Ayolah Sasuke, kumohon! Kumohon!"
"Aku tak tahu cara merias."
Dan senyum lebar muncul di bibir Ino. "Aku bisa membantumu," katanya, "ayo rias aku!"
Sasuke menghela nafas. Entah apa maksud gadis itu. Memintanya meriasnya sementara dari kata-katanya barusan jelas-jelas mengandung arti bahwa gadis itu sudah bisa merias dirinya sendiri. Mungkinkah gadis itu tengah manja sekarang?
Entahlah yang mana pun itu, tugas adalah tugas.
"Baiklah. Tapi, tidak di sini."
Ino hanya mengangguk mengerti. Cengiran lebar itu masih menghiasi bibirnya. Sasuke berdiri dan menarik tangan Ino ikut bersamanya. Sudah cukup malu ia hanya dengan membawa tas perempuan, ia tak mau lebih malu lagi dengan dilihat orang tengah merias seorang perempuan.
Sasuke membawanya ke tempat penyimpanan barang. Tempat itu memang disediakan khusus untuk pengunjung yang membawa banyak barang hingga tak efektif membawa barang-barang itu kemanapun ketika mencoba wahana permainan.
Sasuke mengamati daerah sekitar dan matanya menemukan tempat tersembunyi di pojokan. Disebut tempat tersembunyi karena tempat itu tak mudah diketahui kalau tidak benar-benar jeli. Beruntung mata onyx itu bisa menemukannya. Kemudian, Sasuke menuntun gadis itu ke pojokan.
"Apa yang harus kulakukan?" tanyanya.
"Ambil bedak dari dalam tasku."
Sasuke merogoh tas Ino dan menemukan benda persegi berwarna putih. Dibukanya benda itu dimana salah satu sisinya terdapat kaca. Dengan begitu, ia yakin benda itu adalah bedak.
"Oleskan bedaknya di wajahku. Yang rata dan sedikit-sedikit saja. Bayangkan seperti kau membuat sketsa gambar."
Dengan begitu saja, Uchiha Sasuke sudah mengerti. Pelan-pelan, dia mengoleskan saput pada bedak dan dengan hati-hati juga ia mengoleskan bedak itu pada wajah Ino yang sudah siap sedari tadi.
Pertama pipi, dahi, hidung, mata, dan daerah sekitar bibir. Kejadian ini serupa dengan dulu ketika gadis itu meraba seluruh wajahnya.
Deg
Lagi-lagi, perasaan itu muncul. Jantungnya ikut berdegup dalam kehangatan yang ia sendiri tak bisa mengerti.
"Sasuke?"
Sasuke masih terus diam. Tangannya berhenti memoles, sementara matanya tak lepas dari sosok cantik di depannya. Kali ini, ia tak berusaha membuang perasaan itu. Diusapnya pelan pipi kiri Ino dengan jempolnya.
"Di sini .. terlalu tebal," katanya pelan. Benaknya tak henti-hentinya menggumamkan kata 'lembut' akibat sentuhan itu. Ia rasa, ia tak ingin melepasnya.
"Sasuke, kalau sudah ganti dengan lipstik."
Sasuke tersentak. Ia menarik tangannya kembali dan memasukkan bedak serta mengambil alat rias lainnya. Tangannya menemukan benda berbentuk tabung berwarna merah. Setelah dibukanya, ia yakin itu adalah lipstik.
"Oleskan tipis di bibir bawahku."
Sasuke boleh pintar, tapi bukan berarti ia pintar dalam hal ini. Layaknya seekor burung. Ia tak pandai berenang. Tapi, lagi-lagi hanya satu kalimat yang membuatnya tak bisa hanya diam saja dalam keraguannya. Tugas adalah tugas.
Sasuke membuka tutup lipstiknya dan memutarnya sedikit, menunjukkan lipstik berwarna ungu.
"Ungu? Kau pilih warna ungu untuk bibirmu?" tanya Sasuke tak mengerti yang hanya ditanggapi dengan tawa geli.
"Hihi.. Bukan. Itu hanya warna lipstiknya. Akan berubah merah kalau dipoleskan di bibir."
"Hn." Sasuke tak ambil pusing dengan benda aneh yang bisa berubah warna itu, walaupun ia cukup penasaran dengan bahan apa yang membuat lipstik bisa seperti itu. Ia mengangkat lipstik itu tepat di depan bibir Ino yang tengah menganga. Perlahan, ia memoleskan benda itu pelan di bibir bawah Ino.
"Sudah," katanya.
Ino kembali mengatupkan bibirnya dan menggerakkannya demi merapikan olesan lipstik itu. Sasuke sendiri dibuat terdiam dengan pemandangan itu.
"Bagaimana? Sudah rapi?"
"I-iya." Untuk kesekian kalinya Sasuke berhasil dibuatnya kehilangan kata-kata.
Ino .. cantik sekali.
Saat Ino menata rambutnya, saat itulah Sasuke tersadar dari keterpanaannya. "Kau bisa merias sendiri, kenapa menyuruhku melakukannya untukmu?"
Ino tersenyum lebar. "Kalau aku merias sendiri, aku takkan tahu apa riasanku cantik atau tidak."
Setelah selesai, Ino kembali menarik baju Sasuke, memintanya untuk menuntunnya kembali.
"Hanya itu saja?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Apa?"
"Kau hanya memakai bedak dan lipstik. Apa itu cukup?"
Detik berikutnya, Sasuke baru sadar kalau pertanyaannya adalah pertanyaan bodoh yang tak seharusnya ia tanyakan.
Tampak sekali Ino yang terpaku kemudian dengan perlahan seringaian muncul di bibirnya. "Benar juga. Kalau begitu, rias aku lagi. Kita belum menaruh eyeshadow, blush on juga."
Sasuke sweatdrop. "Kau yakin? Memangnya sejak kapan kau belajar merias hingga mau berlebihan seperti itu?"
Ino merengut. "Aku sudah belajar merias sejak masih kecil. Dan itu tadi tidak berlebihan." Senyum kembali hadir di bibir Ino. "Karena kau sudah mengungkitnya, berarti kau mau meriasku lagi, kan?"
"Tidak."
Ino memasang wajah polosnya. "Apa?"
"Kubilang tidak. Aku tadi hanya memastikan. Itu saja. Aku tak bisa merias lagi. Kau tahu betapa aku sangat takut tadi?" cerca Sasuke panjang lebar. Kalau saja gadis di depannya ini adalah gadis yang sudah lama mengenalnya, tentu ia takkan mau bicara panjang lebar seperti tadi. Itu hanya akan mengotori image-nya.
Ino kembali merengut kesal. "Huft! Kalau tidak mau membantu jangan memberi harapan begitu dong."
Baiklah. Kali ini Sasuke mengakui kalau ini salahnya. Lain kali ia harus bisa mengurangi rasa penasarannya sebelum rasa penasaran itu membuat bibirnya bertanya sesuatu tanpa berpikir lebih dulu. Kalau begitu, salahkan rasa penasarannya, pikirnya. Itu terasa lebih baik.
"Baiklah. Ayo kita berangkat. Mungkin mereka sudah sampai."
Dengan begitu, Sasuke berhasil menghilangkan wajah kesal Ino dan membawa gadis itu untuk bertemu temannya.
%Blind%
"INO!" Terdengar suara seseorang yang memanggilnya tak jauh dari tempatnya berdiri dengan pelayannya kini. Ia menoleh ke sumber suara, tersenyum sambil menunggu pemilik suara itu mendekat.
"Chouji! Apa itu kau?" tanya Ino begitu dirasakannya ada dua benda bergerak yang barusaja mendekat ke arahnya.
"Ya. Tak kusangka kau ada di sini, Ino. Kami barusaja dari rumahmu."
Ino tak tahu kalau suasana di sekitarnya telah berubah tak ramah. Lebih tepatnya, aura dingin yang keluar dari dua pemuda lain selain yang tengah diajaknya bicara kini.
"Shika! Apa kau juga ada di situ?" tanya Ino. Pemuda yang dipanggil Shika barusan hanya menjawab dengan gumaman singkat sementara matanya tak lepas dari mata onyx lain di sana. Barulah ketika Ino melepas genggamannya pada Sasuke dan menjulurkan kedua tangannya di depan, saat itu aura dingin menghilang. Semua mata menatap heran tangan itu.
"Shika! Chouji! Ayo kita jalan-jalan!"
Dan tidak perlu benak jenius Shikamaru untuk mengerti maksud tangan yang terulur itu. Baik Shikamaru maupun Chouji meraih masing-masing tangan Ino dan menggenggamnya. Senyum pun semakin lebar menghiasi bibir Ino.
Mereka mulai berjalan bersama. Ino langsung meluncurkan berbagai pembicaraan yang cocok untuk ketiganya. Sementara di belakang mereka berjalan seorang Uchiha Sasuke yang tak henti-hentinya mengamati genggaman Shikamaru dengan teliti. Entah apa yang mesti diteliti, tapi pandangannya tak bisa lepas dari dua sejoli itu.
"Aku senang kalian datang," kata Ino.
"Kami selalu datang, Ino," balas Shikamaru sesekali menguap.
"Aku sempat akan menghubungi paman Inoichi ketika kami sampai di rumahmu yang terkunci. Kau tidak bilang kalau ingin keluar jalan-jalan." Kali ini Chouji yang angkat bicara. "Apa kau sudah mencoba semua wahana di sini?"
Ino menggeleng. "Belum."
Dan dari jawaban singkat itu, muncullah berbagai usulan dari kedua pemuda di samping Ino untuk mencoba sisa wahana yang belum dicoba. Yang kebanyakan hanya ditanggapi dengan persetujuan si gadis. Tak lama setelah itupun, Sasuke malah ditinggal sendiri di belakang. Kalau saja Sasuke tak berusaha ikut tingkah aktif ketiganya, ia bisa saja masuk sebagai daftar 'anak hilang' di taman hiburan itu.
Hari yang dikiranya akan menyenangkan, kini justru berakhir dengan dia yang mendengus kebosanan di salah satu bangku taman hiburan itu. Walaupun dia seorang pelayan Yamanaka Ino, tapi ia lebih memilih menyendiri daripada harus menemani Ino dan 'pemuda' itu tertawa bersama.
Sasuke menghela nafas. Pandangannya naik menatap langit biru di atasnya. Entah mengapa, ia tak suka melihat Shikamaru dan Ino. Padahal, ia merasa baik-baik saja bertemu pemuda itu selama di kampus. Bahkan, kalau disuruh memilih antara hang-out dengan Naruto dan Shikamaru, ia akan memilih pemuda pemalas itu. Tapi, kalau sudah berhubungan dengan Ino, ia merasa tak suka. Mereka terlalu akrab dan Ino terlalu sering tertawa. Bahkan lebih dari ketika gadis itu bersama dengan dirinya.
Sasuke tahu kalau dunia itu tak selamanya datar. Pasti akan ada gejolak atau gelombang di dalamnya. Tapi, ia tak menyangka dalam satu hari, ia sudah mengalami dua mood yang sangat berlawanan.
%Blind%
"Hari ini sangat menyenangkan," pekik Ino dikala perjalanan pulang mereka. Shikamaru dan Chouji masih ada di samping kanan kirinya. "Kapan-kapan main lagi, ya?"
"Ya, tentu saja. Kalau itu tak merepotkan," jawab Shikamaru sedikit bercanda dan diikuti dengan lagi-lagi mulut yang menguap.
"Minggu depan .. kurasa aku tidak akan bisa."
Semua mata kini beralih pada Chouji, termasuk Sasuke yang sebenarnya sama sekali tak berminat dengan pembicaraan mereka.
"Kenapa Chou?" tanya Ino. Dari wajahnya, jelas terlihat ia sedikit kecewa.
"Yaah.. Kalian tahu kan kalau aku sudah berpacaran sama Ayame satu tahun terakhir ini. Dan minggu depan orang tuaku akan mengadakan makan malam bersama."
Ekspresi kecewa yang Sasuke kira akan muncul di wajah Ino, namun justru tampak gembira.
"Benarkah? Apa itu artinya kau akan segera menikah? Benarkah itu, Chouji?" tanyanya amat sangat menikmati berita menggembirakan itu. Kali ini Sasuke tak bisa membedakan apa itu benar-benar yang dirasakan Ino atau usahanya demi menutupi kesepian hatinya karena minggu depan mereka takkan lengkap tiga orang lagi.
Sasuke menggelengkan kepala. Tampaknya ia terlalu jauh menduga-duga tentang gadis itu. Tak seharusnya ia berpikir negatif seperti ini. Mungkin saja Ino memang tengah gembira saat ini.
"Hehe.. Aku tak tahu kalau itu."
"Aku mendoakanmu, Chou."
"Terimakasih, Ino."
Sunyi pun kembali mengisi. Ino sempat menunduk malu-malu sebelum akhirnya ia angkat kepala, menatap Shikamaru di samping kanannya. "Shikamaru!"
"Hn?"
(Tampaknya Shikamaru mulai tertular virus 'hn' milik Sasuke, saudara-saudara #death-glared(?))
"Minggu depan .. kau masih bisa menemaniku, kan?"
Shikamaru sedikit melirik Ino, kemudian menampilkan senyumnya. "Yaah, walaupun itu merepotkan aku tetap akan datang ke rumahmu."
Dan kali ini, Sasuke jelas tak salah lihat.
Pipi Ino .. merona.
"Ah! Benar juga. Kenapa kau tak mengajak Temari sekalian, Shikamaru?" usul Chouji.
"Temari? Siapa itu?" Pertanyaan itu menarik perhatian Ino. Ia mulai tampak khawatir. Ia tak mungkin salah duga kalau nama itu milik perempuan.
"Akhir-akhir ini gadis itu sering mengejar Shikamaru. Tidak heran, katanya dia menyukai Shikamaru. Mungkin, Shikamaru juga menyukainya."
Deg
Tak bisa bicara lagi. Tenggorokan Ino terasa kelu. Perasaan was-was yang barusan menyerangnya kini berubah menjadi takut. Ia menoleh ke kanan, wajahnya menampakkan tanda tanya yang ingin segera dijawab. Dan Shikamaru tak bodoh untuk menyadari hal itu.
"Dia Sabaku Temari, teman satu jurusan di universitas." Shikamaru menghela nafas. "Dan yaah .. dia menyukaiku, gosipnya seperti itu."
Perasaan takut dan was-was itu membuatnya hanya bisa menundukkan kepala. Rasa percaya diri yang dibangunnya beberapa waktu lalu berhembus entah kemana. "A-apa .. kau juga menyukainya?" lirih, sebisa mungkin ia tak bergetar ketika bicara. Harap-harap cemas Shikamaru tak mendengarnya dan tak memberi jawaban yang akan menyakiti hatinya. Tapi, ia juga berharap Shikamaru mendengarnya dan memberi jawaban yang melegakan hatinya.
Dari belakangnya, Sasuke jelas melihat bahu gadis itu yang sempat menegang. Kedua tangannya menggenggam erat tangan-tangan lain itu yang tampaknya sama sekali tak disadari si empunya. Kini, Sasuke baru menyadarinya. Alasan Ino memintanya meriasnya agar tampak cantik dan pipi yang merona, hal itu karena .. Ino menyukai Shikamaru.
"Perempuan itu merepotkan, walaupun dia anak yang baik. Tapi .. aku tak tertarik dengannya saat ini."
Tak ada hal lain lagi yang lebih menggembirakan dari hal ini selain penglihatannya yang bisa kembali normal. Bibir Ino perlahan membentuk senyumnya. Ia masih punya kesempatan. Shikamaru tidak akan berpacaran dengan gadis Temari itu, itu artinya Shikamaru takkan menyukai perempuan itu. Ino benar-benar merasa lega.
Mata kelam Sasuke tak lepas sedikitpun dari perempuan di depannya. Bahu gadis itu yang sempat menengang, kini terlihat lebih rileks. Dan niatan membawa gadis itu menjauh yang sempat membisiki hatinya perlahan surut begitu saja. Bahkan, tanpa disadarinya tangannya sudah mengepal sedari tadi.
Menghela nafas, ia mengacak rambutnya frustasi. 'Perasaan tak enak apa tadi?' pikirnya.
%Blind%
Beberapa hari berlalu seperti biasa, kecuali Ino yang sering tersenyum. Sasuke bahkan jarang mendapati gadis itu yang termenung di pinggiran kasurnya lagi. Wajahnya lebih ceria dan bersinar. Sasuke tahu semua karena pemuda Nara itu.
Mereka tengah bersantai di ruang tengah. Sasuke duduk di sofa dan menonton tv. Sementara Ino bermain boneka di bawahnya. Sesekali gadis itu bersandar pada sofa dan ikut mendengarkan acara tv.
"Kira-kira masalah ayah kita selesai kapan ya, Sasuke?" tanya Ino tiba-tiba.
"Aku tak tahu. Memang kenapa?"
Ino geleng-geleng. "Bukan apa-apa. Hanya penasaran. Kalau urusan perusahaan selesai artinya kau sudah selesai bekerja. Lalu, siapa yang akan mengurusku?"
Kali ini, Sasuke berhasil dibuat berseringai. Ino benar-benar bertingkah seperti anak-anak. Wajahnya yang merajuk tampak begitu polos.
"Kheh! Jangan dipikirkan. Mungkin masih lama."
"Hihi. Syukurlah."
Sunyi sempat mengisi di ruangan itu, hingga lagi-lagi Ino yang angkat bicara, "Sasuke, ayo jalan-jalan!"
"Lagi?"
Ino mengangguk semangat. "Um."
Tak ingin menolak dan tak bisa menolak, Sasuke mematikan siaran tv dan berdiri. Diikuti Ino yang berdiri. Toh, ia juga bosan di rumah terus.
"Eit! Tapi, dandani aku lagi, dong."
Sasuke menghela nafas. Ia tak percaya akan melakukan ini lagi. Bukannya ia tak mau melakukannya, namun ketika wajah Ino begitu dekat dengannya, jantungnya terasa berdegup kencang. Dan perasaan aneh itu juga selalu datang.
"Baiklah."
Dan gadis itu kegirangan lalu mencari alat rias yang disimpannya di kamarnya sendiri.
Sasuke menyentuh dadanya, tepat dimana detak jantungnya terasa. Dan ia bisa mendengarnya begitu jelas bahkan sebelum Ino benar-benar ada di depannya. Entah bagaimana nanti bila ia tak bisa menahan perasaannya.
%Blind%
Burung berkicau mengisi hari. Hembusan angin hangat mengalir, pohon-pohon rindang nan hijau serta langit biru tanpa mendung menambah lengkap indahnya hari ini. Sasuke rasa ini akan jadi hari yang menyenangkan. Firasatnya berkata seperti itu.
"Kita akan kemana hari ini?" tanya Ino.
"Memang kau ingin kemana?"
Ino tampak berpikir sebentar. "Kita jalan-jalan ke tempat yang sejuk dan segar, tidak bising. Apa ada tempat seperti itu di sekitar sini?"
"Ada. Di bukit."
"Baiklah. Kita berangkat ke sana," pekik Ino gembira.
Tak berapa lama kemudian, mereka sudah berjalan mendaki bukit. Ino terus menggumamkan lagu yang entah apa itu, Sasuke pun tak ambil pusing akan melakukan apa. Suasana sekitar sudah cukup membuatnya merasa nyaman.
Tiba-tiba, dari belakang, Ino merasa seseorang menepuk pundaknya. Gadis itu terlonjak kaget.
"Ino, ini aku."
Nara Shikamaru berputar dan berdiri di depan Ino, sukses menimbulkan perang death-glare tanpa aba-aba antara dia dan Sasuke.
"Shika? Kau itu?"
"Hn. Sedang apa di sini?"
Semburat merah itu kembali muncul di kedua pipi Ino. Salah satu alasannya mengajak keluar Sasuke adalah untuk ini juga, mungkin saja ia bisa bertemu pemuda Nara itu. "Jalan-jalan. Kau sendiri?"
"Aku sedang lari dari seseorang," katanya sambil memutus death-glare Sasuke. Matanya kini menatap sekitar dan tampak gelisah.
"Siapa? Apa kau baik-baik saja?" Ino berubah khawatir. Tangannya refleks melepas genggaman Sasuke dan beralih pada Shikamaru di depannya.
"Ya, aku baik-baik saja. Orang itu merepotkan dan aku harus lari sebelum ia―"
"SHIKAMARU!" Saat itulah Sasuke bisa tertawa sinis. Wajah Shikamaru tak ada bedanya dengan orang yang terburu-buru dan baterai ponselnya tengah habis. Saat ia menatap Ino, gadis itu menunjukkan kebingungannya.
Satu orang perempuan dan satu orang laki-laki membawa tas berpakaian kasual datang mendekati mereka. Perempuan itu tampak dewasa dan berambut pirang dikucir empat, sementara pemuda di sampingnya berambut hitam dan memakai jaket. Anehnya, ada banyak tato di wajahnya. Ino sempat tegang ketika dua orang lain itu mendekat.
"Aku tertangkap," gumam Shikamaru yang hampir tak terdengar siapapun.
"Shikamaru, apa maksudmu kabur begitu saja? Kita kan punya tugas kelompok," kata perempuan itu.
"Mendokusei na.."
"Mereka siapa, Shika?" tanya Ino.
"Mereka teman-temanku. Kami sedang dalam proyek kuliah kami. Temari dan Kankuro."
Tepat ketika nama perempuan itu disebut, Ino menegang. Matanya sedikit melebar demi didengarnya nama perempuan yang beberapa hari lalu sempat membuatnya takut. Dan kini ketakutan itu mulai kembali.
'Akhir-akhir ini gadis itu sering mengejar Shikamaru. Tidak heran, katanya dia menyukai Shikamaru. Mungkin, Shikamaru juga menyukainya.' Kata-kata Chouji hari Minggu lalu kembali masuk ke gendang telinganya. Hatinya pun menjadi gelisah. Digenggamnya tangan Shikamaru erat seolah tak ingin terlepas darinya.
"Shikamaru, baiklah, maafkan aku telah mengganggumu. Tapi, ini tugas. Kita harus segera menyelesaikannya." Gadis bernama Temari tadi mendekat ke arah Shikamaru, sebelah tangannya langsung mengait lengan Shikamaru yang bebas, menimbulkan desahan 'merepotkan' dari si empunya. Lagi-lagi pundak Ino menegang saat dirasakannya ada yang bergerak mendekati Shikamaru.
"Kalau kita kerjakan di rumahku, aku akan masakkan makanan enak untukmu."
"Hei, kalian! Berhenti bermesraannya. Aku di sini untuk mengerjakan proyek kita bukan untuk melihat ini." Pemuda bernama Kankuro itu membungkuk maaf pada Sasuke dan Ino atas kelakuan kakaknya itu yang sama sekali tak mendapat respon dari keduanya.
"Diamlah, Kankuro! Aku akan membuat Shikamaru jatuh cinta padaku." Bahkan Temari tak malu-malu mengatakan itu di depan dua orang lain di depannya.
Kala itu, Ino benar-benar merasa hatinya dihujam pisau. Menyayat dan menggores hati. Tangannya bergetar, nafasnya mulai tak teratur menahan emosi. Ino ingin lari dari sana. Mendengar semua kata-kata Temari hanya membuat hatinya memanas. Dan itu tak luput dari perhatian Sasuke.
"Sasuke!" panggilnya berusaha sebisa mungkin menahan suaranya agar tak bergetar. Tangannya melepas genggamannya dengan Shikamaru. "ayo pulang!"
Dengan sigap, pemuda bermarga Uchiha itu menarik bahu Ino dan bersiap membawanya pergi dari sana. "Kami pergi dulu."
Ia mengerti benar apa yang tengah terjadi, lantas ia menggenggam tangan Ino dan mengajaknya berjalan cepat jauh dari sana. Toh, itu juga yang diinginkan Ino. Sempat ia dengar Shikamaru yang berteriak memanggil Ino yang dipotong oleh suara Temari. Sasuke tak tahan lagi untuk memperhatikan gadis di sampingnya. Seketika ia tercekat. Gadis itu menangis, air mata jatuh di kedua belah pipinya, walaupun tak ada suara isak tangis yang dikeluarkan. Ino berusaha menahan goresan hatinya, seperti sebelum-sebelumnya.
Merasa tak tahan dengan apa yang dilihatnya, ia pun menarik bahu gadis itu dan membawanya dalam pelukan. Ia tak bisa bicara apa-apa selain mengelus punggung gadis itu memberi kenyamanan yang dibutuhkan Ino. Ternyata firasatnya salah. Hari yang dikiranya menyenangkan ternyata berubah oleh orang yang sama yang sempat mengacaukan moodnya hari Minggu lalu.
Dan melihat Ino yang menangis ini, semakin ingin membawanya pergi jauh-jauh dari bukit itu.
"Aku ada di sini. Tenanglah." Ia melepas pelukannya dan menatap Ino yang sedikit tenang. Dihapusnya air mata dari pipi gadis itu dengan kedua jarinya. "Kita pulang, oke?"
Ino menggangguk sambil sesekali terisak walaupun tak ada suara yang keluar. Digenggamnya kembali sebelah tangan Ino dan mereka pun kembali berjalan.
Sasuke menghela nafas. Pikirannya mengarah pada pemuda Nara itu. Benaknya bertanya-tanya, apakah pemuda Nara itu menyadari tingkah aneh Ino?
Semoga saja tidak, karena ia tak ingin pemuda itu semakin mengganggu Ino. Untuk sementara ini, ia akan menahan Ino di rumah dan mungkin .. menghiburnya.
Perasaan aneh itu kembali muncul. Hatinya berdesir, bercampur antara senang dan sedih di saat bersamaan. Melihat Ino yang menangis, ia tak suka. Sasuke kembali menghela nafas. Mungkinkah apa yang dirasakannya ini ..
Tidak. Tak seharusnya ia memikirkan itu. Yang terpenting sekarang, bagaimana cara memenangkan hati Ino.
Berdalihkan 'tugas', Sasuke berusaha menyangkal apa yang dikatakan hatinya. Entah sampai kapan ia tahan dengan pemikiran seperti itu.
%Blind%
TBC
Big Thanks for : Ageha Hanazawa, kaname, INO Innocentric, azzuradeva, syalalalalala, INOcent Cassiopeia, lastri nara, Lmlsn, zielavienaz96, Red Malfoy, L.A Lights, amay, xoxo, guest
Next Chap. in process.
Review
wa
naze?
