2
Sakura's POV
"ANAK?"
Bahkan bagi kedua timpanikku sendiri, suaraku terdengar mengerikan. Aku ingin berdehem karena setelah teriakan itu tenggorokanku mendadak terasa tidak nyaman. Tapi aku menahan diri untuk tidak melakunanya. Selain karena itu kelihatannya sangat tidak cool, fokus utamaku juga tidak bisa teralihkan dari kenyataan yang baru dilemparkan Fugaku ojisan padaku.
"Anak?" Sekali lagi kuulangi, kali ini dengan intonasi yang lebih terjaga. "Tapi ... ojisan nggak pernah bilang kalo ojisan udah punya anak?" Mataku melirik anak cowok itu. Selain rambut dan ekspresi yang sama-sama datar, tidak ada jejak DNA lainnya yang bisa memberitahuku bahwa anak cowok itu anak Fugaku ojisan. Kontur wajah Fugaku ojisan yang keras berbanding terbalik dengan wajah anak cowok itu yang lembut. Terlalu lembut untuk ukuran seorang anak laki-laki. Sial. Dia bahkan lebih cantik dari aku.
"Yakin ini anak ojisan? Kok nggak mirip?"
"Hush, Sakura," tegur kaa-san.
Fugaku ojisan hanya tertawa datar. "Sasuke ini lebih mirip sama almarhumah kaa-sannya. Satu-satunya yang dia ambil dari ojisan hanya ini," telunjuknya mengarah pada rambutnya yang sehitam jelaga.
Aku kembali memperhatikan baik-baik anak cowok itu. Sasuke, kalau tidak salah namanya. Dia masih duduk anteng di atas sofa, kedua tangannya memegang kontroler PS, dan walaupun atensinya kelihatan terpaku penuh pada layar tv besar yang sedang menampilkan permainan bola, aku bisa menebak bahwa dia masih mendengarkan percakapan kami. Tiba-tiba aku merasa tidak nyaman—lebih tidak nyaman dari sebelumnya. Pindah jauh dari rumah ke tempat asing jadi satu masalah, tapi pindah jauh dari rumah ke tempat asing yang juga dihuni oleh anak dari pacar slash calon suami kaa-sanmu yang baru hari ini kau ketahui eksistensinya adalah hal besar. Namun belum sempat aku menyuarakan apa yang aku rasakan, anak cowok itu bersuara untuk yang pertama kalinya. Nadanya pelan, dengan lantunan suara bariton khas cowok. Tapi sayang, isinya bikin sakit hati.
"Tou-san kok nggak bilang obasan bawa pembantu?"
"ENAK AJA BILANG AKU PEMBANTU!"
"Sakura," tegur kaa-san lagi. "Anak gadis kok teriak-teriak."
Aku manyun. Kaa-sanku sendiri lebih membela anak orang. Tapi seperti aturan semesta yang sudah berjalan semenjak Adam turun ke bumi, orangtua memang lebih memperhatikan anak orang lain. Apalagi dengan status kami berempat. Kasarnya, kaa-san mungkin sedang mencari perhatian Sasuke, sedangkan Fugaku ojisan...
Di mana berarti Fugaku ojisan lebih memperhatikanku dibanding anaknya sendiri. Muhehehehe.
"Sasuke." Suaranya terdengar tegas, baru pertama kali ini aku mendengarnya menggunakan intonasi semacam itu. "Minta maaf sama Sakura."
Si Sasuke hanya memutar kedua bola matanya sebelum menatapku dengan tidak sopan. Mula-mula tatapannya diarahkan pada ujung kakiku, lalu lambat-lambat naik merayap hingga kedua iris kelam itu bersibobrok dengan kembar emerald milikku.
"Nama lo kebagusan. Nggak cocok sama muka lo," komentarnya sadis.
Aku mendengar seseorang menarik napas tercekat yang kemudian kusadari bahwa itu mungkin aku. Kaa-san hanya bisa nyengir di tempatnya sembari melirik Fugaku ojisan. Sedangkan yang terakhir itu... well, marah mungkin terlalu dangkal untuk mengartikan jenis ekspresi di wajahnya. Merah mendominasi kedua telinganya dan satu urat berkedut di pelipis kanannya.
"Masuk kamar kamu. Sekarang," kata Fugaku ojisan lamat-lamat. "Dan jangan keluar sebelum makan malam."
Kalau saja insiden dengan Sasuke tadi tidak terjadi, mungkin saat ini aku akan berpikir-pikir lagi tentang apakah aku harus terus merajuk karena dipaksa pindah atau tidak. Begitu yang aku katakan pada kaa-san.
Tapi bohong. Aku hanya mengatakannya untuk menambah bensin di atas api. Dengan atau tanpa Sasuke, aku tetap tidak suka tempat ini. Sekalipun kamar yang ditawarkan Fugaku ojisan bagus—lebih bagus dari kamar lamaku di Suna—tidak juga menghilangkan perasaan frustasi yang sudah kupendam selama berminggu-minggu. Luas kamarnya memang dua kali lipat dengan dominan warna biru muda (mungkin kaa-san sudah mewanti-wanti pada Fugaku ojisan kalau aku paling benci warna merah jambu.) Kasurnya pun jenis queendengan seprei warna putih, beda dengan kasur lamaku yang single berusia hampir setua diriku. Tepat di depan ranjang ada komputer dengan layar besar (aku langsung memikirkan jadwal Skype bersama Temari dan drama-drama Korea yang bisa aku tonton sampai puas,) dan satu lemari dengan tiga pintu di sisi kanan kamar. Satu-satunya yang tidak kusukai adalah fakta mengenai non-kamar mandi di dalam kamar ini. Fugaku ojisan menunjukkan kamar mandi tepat berada di ujung lorong koridor kamarku. Dia juga bilang bahwa Sasuke biasa menggunakan kamar mandi itu.
Sial.
Kaa-san sendiri untuk sementara akan tinggal di kamar hotel dekat kuil tempat pemberkatan pernikahan. Menurutku hanya tinggal masalah waktu sebelum keduanya tinggal dalam satu kamar. Kenapa? Karena pernikahannya akan dilangsungkan esok hari.
Aku dan kaa-san tidak punya kerabat yang bisa diundang. Kaa-san adalah yatim piatu sedangkan semenjak tou-san meninggal, kami tidak lagi berhubungan dengan keluarga tou-san. Kaa-san bilang itu karena keluarga tou-san sangat jauh (di ujung pulau Kiri sana) dan kami juga sibuk sehingga tidak sempat menjaga komunikasi. Kaa-san tidak tahu kalau semenjak umurku tujuh tahun aku sudah mengetahui fakta yang sebenarnya. Terima kasih kepada adik dari tou-sanku yang membisikku soal rahasia besar itu.
Sedangkan keluarga Fugaku ojisan hanya terdiri dari kedua orangtuanya yang sudah renta dan satu orang adik perempuan yang pernah kutemui beberapa bulan lalu. Ditambah Sasuke, jadi total tamu ketika resepsi nanti adalah lima orang. Miris.
Kaa-san tidak mau mengundang ataupun melakukan resepsi besar-besaran. Setelah acara pemberkatan, kami dengan status keluarga baru, akan pergi ke restoran milik Fugaku ojisan dan melakukan penjamuan ala kadarnya. Aku tidak keberatan, selama Kaa-san bahagia.
Well, kecuali fakta kalau aku diseret keluar dari rumahku sendiri.
Makan malam berjalan tidak sedramatis yang ku bayangkan. Selain aksi lovey-dovey yang ditunjukkan oleh kaa-san dan Fugaku ojisan, tidak ada hal buruk yang terjadi. Mungkin Fugaku ojisan sudah berbicara dengan Sasuke, atau mungkin cowok itu sudah memutuskan bahwa mencari perkara denganku tidak akan menguntungkannya apa-apa. Yang jelas Sasuke memilih untuk diam sepanjang malam. Dia hanya bersuara ketika meminta garam yang kebetulan berada di dekat siku kaa-san.
"Besok kalian jangan bangun telat," kata Kaa-san. Dia menyerahkan piring bersih yang sudah dicuci untuk aku lap. "Paling lambat jam delapan udah siap semuanya."
Fugaku ojisan yang dibantu Sasuke melap meja makan dan mengatur kursi-kursi, mendekat dan memeluk Kaa-san dari belakang. Tidak tahan lagi, aku berbalik memunggungi mereka dan membuat wajah ingin muntah. Sasuke melihat ekspresiku dan dia menyeringai.
"Besok," bisik Fugaku ojisan.
Kaa-san mengikik seperti anak gadis umur belasan yang baru tahu apa itu pacaran. Sekarang gantian Sasuke yang memasang ekspresi horor. Tidak menyadari ada dua anak di bawah umur yang bisa saja bermimpi buruk malam ini, Kaa-san dan Fugaku ojisan lanjut berbisik-bisik.
Kerutan di dahi Sasuke sudah mengalahkan keriput neneknya sendiri sebelum kemudian dia memutuskan untuk berdehem keras. "Umur, woy, umur."
Aku masih punya perasaan untuk tidak menganggu dua orang yang lagi kasmaran. Jadi, alih-alih mengikuti jejak Sasuke yang terang-terangan menyindir kedua orangtua kami sendiri, aku menaruh piring yang sudah bersih di tempatnya lalu kabur dari dapur. Di belakangku terdengar cekikikan kaa-san yang semakin kencang.
"Itu belum sah. Gimana kalau udah sah? Satu rumah dipake buat ngeseks kali."
Komentar blak-blakkan Sasuke membuatku terlonjak. Aku berbalik dan mendapati cowok itu berjalan di belakangku dengan raut wajah kesal. "Itu kamar lo?" tanyanya sambil mengedikkan dagunya ke pintu yang ada tepat di belakangku.
Aku mengangguk, tapi tidak mengeluarkan kata apapun.
Tiba-tiba dia menyeringai. "Hati-hati aja."
"Hati-hati kenapa?" tanyaku was-was.
"Itu kamar bekas tempat penyiksaan. Dulu, rumah ini bekas rumah penjajah. Pemilik sebelum kami bilang, kamar lo yang sekarang itu, bekas tempat penyiksaan tahanan-tahanan."
Aku mendengus. "Kamu pikir aku percaya?"
"Terserah." Setelah itu dia kembali berjalan dan masuk ke sebuah kamar yang berada tepat di depan kamar mandi. Aku yakin itu kamarnya. Aku sudah ingin mengabaikan peringatannya dan masuk ke dalam kamar namun mendadak Sasuke melongokkan kepalanya dari balik pintunya, menatapku masih dengan seringai menjengkelkan itu. "Tiap jam dua lewat lima belas, ada suara kayak orang garuk-garuk dinding. Kadang malah di langit-langit kamar suka ada jejak kaki anak kecil. Kasih tahu aja sih."
#####
Selama dua tahun ketika aku duduk di bangku menengah pertama, aku menghabiskan waktu untuk mendalami ilmu perdukunan. Ide konyol itu kudapatkan setelah menonton sebuah tayangan tengah malam di salah satu channel televisi. Seorang wanita cantik dan seksi mengaku bisa melihat dan berkomunikasi dengan hantu. Bagiku yang saat itu berumur 12 tahun dan tidak sedang dalam masa perkembangan, hal itu sangat keren.
Jadi aku belajar mengenai hal-hal astral.
Semua jenis film horor, cerita-cerita mistis, atau jurit malam aku lakukan. Namun setelah hampir dua tahun aku juga masih tidak bisa berkomunikasi dengan hantu yang kuinginkan, aku menyerah. Lagipula, saat itu pubertas sudah menyerang. Fokusku langsung berpindah pada Justin Bieber yang saat itu menurutku adalah cowok paling imut—lebih imut dari gambar tuyul yang ku dapat dari internet. Dunia astral lantas terlupakan.
Saat Sasuke memberitahuku soal 'acara garuk dinding jam dua lewat lima belas' dan 'jejak kaki anak kecil di langit-langit kamar', aku ragu. Aku pernah jurit malam di sebuah bekas rumah sakit yang terkenal angkernya dan tidak terjadi apapun—bahkan tidak ada angin yang bertiup menakutkan. Aku ragu sebuah rumah dengan perlengkapan PS paling lengkap yang pernah kutemui bisa lebih seram dari rumah sakit itu.
Jadi aku menunggu.
... menunggu ...
... dan terus menunggu. Persis seperti Temari yang menunggu untuk dinotis mahasiswa PPL yang bertugas di sekolah lamaku.
Dan sama seperti penantian Temari yang berakhir sia-sia di acara perpisahan mahasiswa PPL, penantianku juga berakhir kosong. Ketika dibangunkan kaasan, hal pertama yang aku cek adalah langit-langit kamar—mencari jejak kaki yang bisa dijadikan pembuktian bahwa kamar ini memang dihantui, seperti kata Sasuke. Nihil. Bahkan aku rela tidur sampai pukul empat pagi hanya untuk mendengar suara-suara aneh yang dijanjikan Sasuke. Nihil juga.
Payah.
Karena begadang semalaman suntuk, kantung mataku menghitam persis seperti panda. Dua cangkir kopi yang aku konsumsi untuk menahan kantuk juga tidak begitu efektif. Begitu sudah duduk nyaman dalam mobil, aku memutuskan untuk tidur sebentar. Tidak cool kalau ketika pengucapan janji aku tertidur sementara yang bertugas sebagai bridesmaid sekaligus pembawa cincin adalah aku. Dan Sasuke.
Prosesi pernikahan berjalan khidmat dan lancar. Kurang dari sejam, kaasan sudah berganti nama menjadi Nyonya Uchiha. Kedua orangtua Fugaku ojisan, yang secara hukum sudah menjadi kakek-sobaku, menangis terharu. Kami lantas menghabiskan hari di salah satu restoran milik Fugaku ojisan.
Sasuke kembali tidak berulah hari itu. Dia mengikuti jalanan pemberkatan dengan tenang. Dia tidak berusaha untuk mengungkit-ungkit mengenai hal yang dia katakan semalam. Bahkan tidak ada seringai menjengkelkan, ataupun tatapan meremehkan yang pernah aku saksikan saat pertemuan kami yang pertama kali. Dugaan terbaikku adalah Sasuke sudah minum obat penenang.
"Nanti Sakura satu sekolah sama Sasuke, ya?" tanya soba baruku.
Sambil memotong-motong potongan daging di atas piring, aku hanya bisa tersenyum polos. Mau jawab apa juga tidak tahu. Salah-salah malah nyinyir karena memang aku belum bisa terima dengan kepindahan ini.
"Sasuke nanti jagain Sakura di sekolah, ya?" Matanya yang keriput beralih pada Sasuke. "Temenin Sakura kalau mau kemana-mana, ya? Jagain jangan sampai digangguin anak-anak nakal, ya?"
"Iya, obaachan," jawab Sasuke patuh.
Satu hal yang bisa kusimpulkan hari ini adalah betapa patuh dan sayangnya Sasuke pada sobanya. Kaasan bilang itu karena sejak kaasan Sasuke meninggal, orang yang mengurus dan membesarkan Sasuke adalah sobanya. Bukan hanya sebagai seorang soba, Sasuke juga menganggap wanita tua itu sebagai orangtua, sahabat, dan mentor. Pertama kali mendengar soal fakta ini responku adalah ber-aww. Sasuke yang pada saat itu duduk tepat di belakangku di bagian belakang mobil langsung menarik rambutku kasar. Aku balas menampar keningnya dengan keras.
"Nanti kalian satu kelas?"
Fugaku ojisan menggeleng menjawab pertanyaan dari kakek baruku. "Sayangnya nggak. Kepala sekolahnya bilang kelas Sasuke sudah penuh, jadi Sakura harus ditempatkan di kelas lain. Nggak apa-apa kan, Saki?" Saki?!
Informasi itu baru untukku, tapi kusyukuri dengan sepenuh hati.
"Nggak apa-apa, ojisan," jawabku dengan senyum polos. Siapa juga yang mau sekelas dengan titisan Dajjal?
"Nanti kamu sering-sering bantuin Sakura ya Sasuke, ya? Kasihan di sana nggak ada temennya, ya?" lanjut soba.
Kebiasaan berbicara soba baruku ini memang lucu. Sejak bertemu pagi tadi aku sudah menghitung berapa kali dia mengucapkan kata 'ya?'. Namun sejak memasuki restoran aku sudah kehilangan konsentrasi di hitungan ke seratus dua puluh dua—atau tiga, atau empat, entahlah. Aku tidak ingat.
"Iya, obaachan," jawab Sasuke dengan tenang. Aku menangkap matanya dari seberang meja dan dia menyeringai. Aku memutar kedua bola mataku imajinatif. "Aku sudah kasih tahu teman-temanku soal Sakura," cara dia menyebut namaku terdengar menjengkelkan, "dan mereka bilang ada pesta penyambutan untuk Sakura." Akhirinya sambil tersenyum sok polos.
Tidak butuh jadi anak indigo untuk tahu apa makna dari perkataan Sasuke barusan. Aku tahu dia tidak pernah berniat baik menyambut kedatanganku, sama sepertiku yang ogah menyambut kedatangannya sebagai saudara tiri. Tapi kalau memang Sasuke berpikir dia bisa membuatku takut atau bahkan tunduk padanya, biarkan saja, aku tidak mau menghancurkan daya imajinasinya. Kakak mahasiswa yang menjadikanku sebagai objek penelitian tidak tahu bahwa pada saat mengisi kuisioner penelitian aku berbohong sepenuhnya. Aku bukan tipe melankolik. Aku tipe kolarik yang kuat, dan tidak ada satupun makhluk yang bisa macam-macam denganku dan lolos begitu saja.
Hah.
Pesta penyambutan my ass.
Tbc.
Hm. Ada yang mau ngetes kepribadian nggak? DM saya saja :D
Btw, chapter kemarin banyak typo soalnya saya lagi nyobain posting lewat aplikasi di mobile. Kebetulan kan lagi beta. Dokumennya saya salin ke hape, udah ke edit segala macam nggak taunya malah banyak typo gitu. Kalau yang ini upload langsung dari komputer jadi semoga nggak ada typo lagi ya :3
Ara.
