TUSSEN

[ Chapter 1 ]

Story (Shampo-san)

Naruto (Masashi Kishimoto)

...

...

"Jadi kapan kau bakal pergi?"

Asap nikotin membubung bersama tanya ketus. Terselip di antara dua jari tangan kiri, masihlah panjang puntung rokok guna dibuang. Butuh beberapa kali hisapan agar membuatnya pantas dijadikan sampah. Ya, sampah. Tak beda ketika kelereng safirnya memandang Hinata--gadis aneh--membuntutinya hingga rumah, dan gemar memercik bara pada setiap klausa yang ia lontar.

"(aum..)" Hinata melahap donburinya, "...bisa diam? Tolong biarkan mulutku mencerna ini dengan baik. Jika pintar seharusnya kau mengerti, mengajak bicara orang yang sedang menikmati makanannya itu tidak sopan."

Terang dalam hati Naruto mengumpat.

Dia tidaklah si kepala dingin, berhati besar, yang cukup sabar meladeni gadis bermulut pedas seperti Hinata.

"Lalu kau pikir kau sopan? Kau bahkan memakan makanan yang seharusnya bukan untukmu. Itu donburiku!"

"Tcih ..."

Dan bukan Hinata jika diam mendengar Naruto menyanggahnya. Perempuan beriris amethyst itu sedari dulu paling tidak suka jawabannya dibantah.

"Hah? Pemuda di sebelahmu tak protes kok. Dia yang membeli, terserah dong mau diberikan pada siapa. Asal kau tahu, bukan berarti ini rumahmu lantas semua yang ada di dalamnya milikmu."

"K-kau--"

Sai berusaha meredam amarah Naruto dengan mengusap-usap punggung pria itu.

"Ta-tapi kan--?"

Sai menggeleng pelan,

Naruto pada akhirnya mengalah. Ia harus ingat, Sai berada di sampingnya.

Selaras petang-petang biasa ketika ia pulang larut. Sai pasti menyempatkan membeli makanan, mengingat perangai Naruto yang jarang memasak. Alhasil, ia sebatas membeli satu porsi dan tidak menahu bila penghuni rumahnya bertambah menjadi tiga orang.

Mulanya Sai bingung, mengapa seorang gadis remaja tiba-tiba berada di rumahnya dan membukakan pintu. Namun ia mengerti usai Naruto menjelaskan awal dari hal ini.

Sai bukan sosok posesif, yang mengekang segala tindak lelakinya dalam menjalin sebuah relasi. Tak peduli perempuan pun laki-laki, di mata Sai, semua sama saja. Jika membutuhkan pertolongan, tak perlu menunggu jiwa sosialnya tergerak, dengan sendiri hatinya kan mengerti.

"Bisa tuangkan air putih ke dalam gelasku?" Hinata menyodorkan gelas kosongnya pada Sai. "Aku haus,"

Hal ini tak pelak memepas keributan selanjutnya.

"Kami sudah menyediakan makanan! Setidaknya ambil minuman mu sendiri!" Naruto berdiri menunjuk wajah Hinata.

Perempuan berhelai indigo panjang tersebut membalas dengan lirikan malas. Ia segera mengambil kembali gelasnya, selepas Sai menuanginya air dari dalam teko.

"Naruto-kun, jangan begitu..." tepuk Sai pada bahunya.

"Ke-kenapa kau malah membelanya?"

Menatap dalam-dalam, Sai meletakkan jari telunjuk di depan bibir, instruksi agar Naruto lebih diam atau semua takkan menjadi baik.

"Yattaa... kenyangnya. Aku ngantuk," rambut ungunya ia garuk-garuk. Sesekali bibir tipis Hinata menguap. Rautnya nampak lelah. "Di mana kamar ku?" ungkapnya bangkit dari duduk.

"Oi, setidaknya cuci piringmu."

Hinata kembali menguap, "(...hoamm)"

"Angkat piringmu dan cuci sekarang!"

"Aaah... kau ini cerewet sekali. Aku janji akan melakukannya besok. Sekarang aku mengantuk. Lagi pula jika kau merasa risih, mengapa tak kau saja yang membawa piring itu ke wastafel, lalu mencucinya?"

"Ke-kenapa harus aku?! Bukankah kau yang menghabiskan makanannya?"

"Ya sudah letakkan di situ saja. Toh aku mencucinya besok,"

"Ambil atau aku akan benar-benar marah--?!"

"...aah?!" Naruto menarik tangan Hinata.

"Sudah-sudah." Sai kembali menepuk bahu Naruto, "Ayo Hinata-chan, aku antar ke kamar mu." Sai memisah pertengkaran itu, dan menggiring Hinata ke kamarnya

...

"Maaf ya, tadi sikap Naruto sedikit kurang menyenangkan. Tapi percaya, Naruto orang yang sangat baik. Mungkin dia sedang lelah dengan tugas yang menggunung."

"Hmm... hemp..."

Hinata langsung merebahkan punggung. Ruangan itu tidak terlalu besar, namun kurang pas disebut sempit. Ruangan ini memiliki ukuran sedang, akan tetapi dimanfaatkan secara optimal sehingga menimbulkan kesan luas. Hanya terdapat sebuah lemari kaca memanjang di dekat pintu kamar mandi, sebuah tempat tidur, dan meja di samping ranjang. Warna pastel masih menjadi dominan corak dinding ruangan ini. Sentuhan salmon terang membuat ruangan terkesan lebih hidup. Warna azure pada pembaringan memberi sentuhan netral, terlihat feminim, jadi cocok untuk Hinata.

"Kamu marah?" Sai menghidupkan lampu di atas meja dan mematikan sakelar pada dinding. Ruangan itu kini tampak remang.

Hinata menggeleng,

Sai duduk di pinggir ranjangnya, sementara gadis itu memunggunginya.

"Aku heran kenapa kau bisa tahan lama tinggal bersama orang seperti dia."

"...lama?"

Ada sepenggal tanya mencubit hati Sai. 'Apa Naruto-kun bercerita banyak padanya?'

"Aku tidak akan menanyakan kalian memiliki hubungan seperti apa. Bagiku dua lelaki dewasa tinggal bersama, itu afirmasi yang lebih dari cukup." Hinata kemudian bangun dari tidur, lalu menyandarkan punggung. "Jika mencintainya maka tak perlu kau sembunyikan dari ku,"

"...eh?"

Tumpukan bantal dibelakangnya ia ambil. Satu paling atas Hinata peluk seraya membenamkan wajah pada kumpulan bulu empuk tersebut.

Hinata terdengar menghela napas panjang. Setiap tarikannya seolah menggambarkan beban yang begitu dalam.

"Terkadang aku iri, dengan orang-orang seperti ini. Mereka mampu mengungkapkan tanpa peduli pendapat orang lain. Kau dapat mencintainya, bahkan menembus batas yang tabu. Sementara aku? Jangankan mengelak. Keberanianku saja terkurung oleh ketakutan yang kucipta sendiri."

Gadis itu perlahan sedikit terbuka akan dirinya. Pelan-pelan, wajahnya yang masam dan acuh bergulir melembut, menampakkan sisi rapuh seorang perempuan. Bagaimana pun, Hinata tak benar-benar menyebalkan seperti yang Naruto sangkakan. Ada banyak hal melatarbelakangi sikap dan sifatnya.

Hal ini tentu dimanfaatkan Sai guna menggali informasi mengenai Hinata. Bukan selengkap-lengkapnya, cukup sampai ia mengetahui sedikit, alasan mengapa seorang Hyuuga mengikuti pemuda seperti Naruto sampai ke tempat ini.

Jika di atensi dari nama marga, kemungkinan gadis itu bukan berasal dari keluarga sembarangan. Maksudnya, keluarga penting dan terhormat.

"...Sai-kun? Boleh aku memanggilmu demikian?"

Sedikit terkejut, Sai tak lama mengangguk.

"Oh ya, apa aku boleh menanyakan sesuatu?"

"...hmp?"

"Apa kau pernah merasa kebebasanmu tertawan? Apa kau sempat di hadapkan pada pilihan di mana semua opsinya tak kau suka? Apa kau pernah merasa mati dalam raga yang bahkan masih sanggup berlari? Jantungmu masih berdetak, tetapi yang mengambil kendali adalah orang lain. Apa kau pernah merasa dilahirkan oleh sosok yang salah? Atau... apa kau pernah merasa terlahir sebagai sosok yang seharusnya bukan ini? Entah mengapa aku merasakan yang seperti itu sekarang."

Wajah Hinata semakin terlihat sedih. Sai mencoba menenangkannya dengan menepuk puncak kepala gadis itu. Ia berharap Hinata tak terlalu larut dengan masalahnya. Lebih-lebih, kalau Hinata mau bercerita.

"Mungkin aku bisa membantumu?"

Untuk beberapa saat Hinata membungkam. Sai tahu masih tersimpan keraguan dalam batinnya. Terlebih ia memang sosok baru yang bahkan belum genap satu hari Hinata kenal.

"Percaya atau tidak, menceritakan masalah pada orang lain akan membuat hati lebih lega. Paling tidak ada sosok tempat mu berbagi, sehingga kamu tak lagi menyangganya sendirian."

"...hmm, jadi kau mau aku cerita?"

"Jika itu tak bertentangan dengan kemauan mu. Bila tidak--"

"Baiklah, aku akan cerita. Alasan ... kenapa aku sampai jadi tamu tak diundang di rumahmu."

Dan Hinata mulai ceritanya..

Hinata terlahir dari keluarga penganut paham ortodoks. Mempertahankan tradisi turun temurun dalam urusan jodoh keturunan mereka. Ketika seorang Hyuuga terlahir sebagai wanita, maka wajib baginya mengikuti apa yang disebut perjodohan enam belas--di mana pada usia ini, secara paksa Hinata bakal dijodohkan.

Tapi yang tak habis membuat ia berpikir adalah, lelaki pilihan sang Ayah.

Bagi sebagian wanita mungkin bukan masalah--jarak lima belas tahun belum terlalu tua, mengingat ia juga masih berusia enam belas. Namun lain orang, lain pula pemikiran. Lima belas tahun bukan jarak ideal mengingat Hinata begitu mendamba menikah dengan pria yang tak terpaut jauh usianya.

Dan sebenarnya ... tradisi ini sedikit menggelitik dirinya. Perjodohan enam belas sama hal perdangan wanita--hanya saja dikemas halus menggunakan bungkus tradisi.

Bagaimana tidak ... si gadis bakal diikat dengan sejumlah mahar yang besarnya ditentukan oleh pihak perempuan. Kelak setiba waktunya--sang calon pengantin bakal menjemput sang calon istri untuk dibawa pulang dan dinikahi. Jika itu terjadi, pihak wanita sama sekali tak boleh mengambil peran (tanggung jawab sepenuhnya dari keluarga laki-laki, dan pihak perempuan harus melepas putrinya). Apapun terjadi setelahnya--entah bahagia, pun sebaliknya--keluarga akan tetap diam sampai dengan sendiri keluarga pihak laki-laki mengembalikan sang putri secara suka rela.

Hinata tak mau hidupnya diikat tradisi aneh, nun amat sangat tolol. Ia memilih kabur, walau sebenarnya dia yakin, Ayahnya berusaha mencarikan jodoh terbaik. Tapi percaya, kemungkinan terburuk itu ada. Menikah hanya sekali. Hinata tak mau salah mengambil langkah.

"Jadi kupikir ... dengan kabur, masalah ini dapat sedikit kuhindari,"

"Tapi Ayahmu pasti akan sangat khawatir..."

Bibir Hinata cemberut. Lengannya erat memeluk bantal dalam dekapannya. "Biar saja. Toh Ayah juga tak peduli dengan perasaan anaknya."

"Tidak ada orang tua yang tak peduli, Hinata-chan. Omong-omong sudah menemui calon yang hendak dijodohkan dengan mu? Kalau belum, sebaiknya kamu mencobanya. Siapa tahu setelah bertemu kamu jadi tertarik."

"Huh, ini lebih terdengar seperti kau mengusirku. Lagian mana mungkin aku menemuinya. Dia pria dewasa yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, lebih dari siapapun. Bayangkan, kata Ayah, dalam seminggu dia bisa empat sampai lima kali keluar negeri untuk bisnis. Ayah hanya berusaha menjamin kesejahteraan duniawi ku, selebihnya ... tak ada. Aku sempat melihat fotonya sekali. Tetapi dia memakai kaca mata hitam, dan netranya tak terlihat. Rambutnya putih mirip orang tua. Bisa jadi dia hanya mengaku-ngaku karena usianya lebih dari itu."

" Hmp ... hmp ... ya sudah, waktunya tidur. Besok bisa cerita lagi kalau kamu mau. Dan lagi ... aku sama sekali tak ada niatan mengusirmu. Kamu bisa tinggal sampai kapanpun, sampai hatimu merasa baikan dan lebih tenang." Sai tersenyum, "biar Naruto nanti aku yang mengurusnya." Bantal itu ia terik dan ia posisikan ke belakang tubuh Hinata agar gadis itu berbaring, "Oyasumi, Hinata-chan..."

Hinata mengangguk.

Sai kemudian menuju pintu untuk keluar. Namun baru hendak tangannya memegang gagang pintu, Hinata kembali memanggil.

"... Sai-kun?!"

"...?" Sai menoleh.

"Etto ..."

"... iya?"

"Bi-bilang pada si pirang itu, pagi-pagi sekali, sebelum dia bangun, aku pasti sudah mencucinya!" Hinata memalingkan wajah.

Sai tersenyum,

Seperti dugaannya. Hinata tak seburuk apa yang Naruto sangkakan.

"Iya, aku mengerti."

Pintu lantas terbuka, dan tak lama Sai keluar.

...

"Kau lama sekali? Apa jangan-jangan dia berusaha meracuni otak mu agar tak kuusir?"

"Apa sih? Kenapa marah-marah begitu?" Sai naik ke tempat tidur dan menyembunyikan tubuhnya di balik selimut bersama pria itu.

Sedetik berlalu, Naruto terlihat menyandarkan kepalanya pada bahu Sai. "Kau terlalu baik. Jangan berlebihan membela orang yang tak kau kenal ..."

"Humm ... aku tahu. Tapi Hinata-chan gadis yang baik kok ..."

Batin Naruto langsung tersentil mendengar kalimat mustahil itu, "Tahu dari mana?"

"... rahasia." Sai menyentuh ujung hidung Naruto, "tadi dia juga mengatakan akan mencucinya sebelum kau bangun."

"Piring itu?"

Lagi, Sai mengangguk.

"Tch ... mustahil. Siapa yang akan percaya padanya? Aku jamin dia bangun kesiangan, dan pada akhirnya tetap kau yang mencuci." Naruto mensedekapkan tangan di depan dada--kesal.

"Kenapa kamu jadi pesimistis? Yakin saja. Lagi pula ia bercerita banyak hal."

"... ?" Naruto menatap curiga.

"Sudah, tidur. Bukankah blaBloe menantimu besok pagi?"

"Aggrrrr ... jangan ingatkan, Sai. Aku benar-benar ingin segera keluar dari majalah itu, tapi manajer tetap melarang."

"Aku bahkan mendukungmu bekerja di sana lo. Apalagi di sana pasti banyak gadis cantik."

"Jangan menggodaku!" Naruto memeluk pinggang Sai, "Tak ada satupun yang mampu menarik perhatian ku selain kau,"

Ia manja memeluk pinggang Sai. Hidung mancungnya mengendus leher, menikmati wangi kesukaannya. Tubuh Sai sedikit menggelinjang kala Naruto mengecup lehernya--menyesap bagian tersebut hingga muncul bekas serupa gigitan serangga. Merah, wajah Naruto tak jauh dari warna itu, "... aku merindukanmu,"

Dalam dirinya--Sai--besar gairah kurang lebih sama. Hasratnya semakin bergejolak mengingat betapa 'perkasanya' Naruto saat menyentuh kulit pucatnya dengan ganas, dan menimbulkan sensasi panas. Ia sangat suka bagaimana cara pemuda itu memperlakukannya. Sedikit 'kasar' tak menjadi problematika, satu, dua tahun tamparan pada bokongnya bahkan terasa menyenangkan.

Sai Menarik dagu Naruto ... menciumnya.

"Aku tak keberatan bila malam ini kamu memelukku ..."

...

Distrik 16

Pusat Perkantoran Setagaya

Blauwe Bloemen: tertulis horizontal dan sangat besar, setakat terbaca jelas dari jarak tiga meter. Tulisan itu menempel pada bagian atas sebuah gedung empat lantai. Corak perak menggambarkan sensualitas, serta potret gadis berbikini pada papan iklan di samping pintu bak menerangkan apa itu BlaBloe.

Ruang depan adalah bagian resepsionis. Masuk sedikit ke belakang, mulai nampak sejumlah orang duduk di depan komputer mengerjakan tugas mereka.

Lantai atas adalah studio. Di bawah-- selang beberapa ruang dari tempat kerja--terdapat kolam renang yang sering digunakan untuk sesi foto underwater.

Di dalam gedung terdapat mini kafetaria. Bangku-bangku berjejer bersama meja, dimaksudkan agar pegawai sejumlah menit dapat melepas penat.

Griet ...

Seorang pria berkaca mata duduk di salah satu kursi. Netranya ia kucek beberapa kali setelah kaca mata minusnya ia lepas.

Seorang pemuda berambut terkuncir tak lama datang membawakan dua gelas coklat panas untuk dinikmati bersama.

"Sepertinya buruk ... ada apa?"

"... haaah--" si mata empat menghela napas panjang. "Pusing. Manajer minta model baru untuk sesi foto minggu depan,"

Terpaksa Naruto mendengar obrolan ini. Konversasi memuakkan, di mana sang Manajer--bukan--sang Direktur mulai bosan terhadap koleksi model seksinya. Ia cukup khatam perangai si paruh baya mesum berambut putih itu. Jiraya pasti meminta Ebisu segera mencarikan wajah baru guna edisi BlaBloe akhir bulan ini, yang kuat diprediksi bakal meledak.

"Bagaimana ini? Kau ada ide?"

Si lawan bicara menggeleng,

Seketika si mata empat lesu dan merebahkan kepalanya di meja.

"Bagaimana kalau tanya dia saja?"

"... eh? Siapa?"

Ia langsung menoleh. Mimik mukanya berubah drastis dari yang awal penasaran, menjadi wajah syarat kekecewaan.

Naruto enggan menghiraukan dan kembali fokus pada laptop, pun sekaleng susu di atas meja. Ia tidak begitu peduli terhadap hal yang dianggapnya tak begitu penting. Terserah saja pria tua tersebut bertambah tingkat kemesumannya. Toh dia tidak dipekerjakan untuk melakukan itu (mencarikan model).

"... maksudmu Naruto? Bercanda,"

Sudah lama Naruto prominen sebagai karyawan paling tidak peduli. Ada kala ia jadi pemerhati, tetapi besar intensitas tak sesering tatkala ia menebar virus acuh. Naruto hanya akan peduli pada hal-hal yang berada dalam wilayah tanggung jawabnya. Seperti--walaupun benci--Naruto tidak pernah menyerahkan tugas mengedit dan memilahnya pada siapa pun.

Anehnya, kecuekan Naruto ini justru membuat pemuda berumur dua puluh enam tahun tersebut pegari memikat. Padahal ia sebatas pegawai biasa. Namun pesonanya ... hmmm, dapat menarik model cantik, naik daun, sekelas Zhizuka tertarik.

"Naruto-kuuun!" tangannya langsung menggelayut manja--memeluk lengan Naruto.

Ekspresi ditunjukkan Naruto sesekon kemudian amatlah mudah ditebak.

Jelas, pemuda pirang, sedari sananya tak begitu tertarik pada perempuan itu bakal memasang wajah risih, tanda tak nyaman. Terbukti belum genap setengah menit, Naruto melepas tangan Shizuka dari lengannya--paksa.

"Na-Naruto-kun--?!"

"Jam istirahatku habis. Aku harus kembali ke ruangan ku,"

"Tu-tunggu ... kenapa kau seperti menghindari ku?"

"Tidak ada satu pun yang kuhindari. Masalahnya sudah sejak tadi aku di sini," Naruto membereskan barang-barangnya.

"Ti-tidak apa-apa, kau bisa kembali nanti ..."

"Jadi maksudmu tidak apa-apa jika aku dipecat?" Naruto telah rampung membereskan barang-barangnya. "Yosh, kau bisa memakai tempat ini ..."

"Tu-tunggu Naruto-kun!"

Naruto memilih pura-pura tuli,

"... Naruto-kun!"

Malas sekali berlama-lama bersama gadis centil macam Shizuka. Rengekannya bahkan membuat kepala Naruto pening.

Shizuka mendecih. Terang gadis berambut hitam tersebut kesal setengah mati. Naruto selalu memperlakukannya kurang baik. Seolah ia mahluk menjijikkan yang harus di hindari, atau bakal tertular penyakit mematikan.

"Kurang ajar ..."

...

...

"Kamu sudah memikirkannya matang-matang? Bukankah kamu bisa sekolah sambil kerja?"

"Jika itu kulakukan, mereka pasti menemukan ku. Aku tidak mau itu terjadi."

"Tapi Hinata-chan, jangan gara-gara masalah seperti ini kamu mencampakkan pendidikan mu. Kamu tahu sekarang mencari pekerjaan tidak semudah menemukan jarum dalam setumpuk jerami. Makin ke sini, makin sulit. Kecuali kamu memiliki kemampuan dalam bidang tertentu."

Bagaimanapun ini pandangan gadis remaja yang usianya bahkan belum genap tujuh belas tahun. Sai pikir ... Hinata terlalu dini mengambil keputusan dengan memasabodohkan risiko, atau akibat dari keputusannya.

Tokyo memang permisif. Tetapi cenderung lebih pada hal negatif, bukan semacam dengan lulus sekolah menengah pertama lantas mudah menemukan pekerjaan. Hidup tak sesimpel saat lapar lalu makan, atau, bagaimana roda menggelinding kala digerakkan. Sejujurnya hidup lebih kompleks dibanding perjodohan yang sedari beberapa hari lalu giat disuarakan Ayah Hinata. Sai sebatas tidak mau, jikalau masa depan gadis itu kacau gara-gara keputusan sehari dalam ketidakdewasaan.

"Keputusan ku sudah bulat. Lagi pula jika pindah sekolah, mereka juga bakal mengendusnya. Ini keputusan terbaik. Akan kubuktikan aku juga bisa tanpa embel-embel keluarga Hyuuga. Jadi biar aku yang menentukan masa depanku sendiri."

"... sungguh? Lantas kamu mau kerja di mana?"

"Itu ..." Hinata menggaruk rambutnya yang sama sekali tak gatal.

"... di mana?"

"I-itu ..."

Ding ... dong ...

"I-itu ada bel!" Tukas Hinata cepat.

Sai berdeham, lalu menggeleng pelan. Ia terlihat berjalan membuka pintu itu.

Clek ...

Tampak lelah, Naruto memijat tengkuknya.

"Semua baik-baik saja?"

Naruto mengangguk, meyakinkan Sai bila ini tak seburuk yang ia sangka. Semua masih dalam kendalinya.

Sai mengambil tas kerja Naruto. Mengalungkan jas hitam tersebut ke lengan usai Naruto melepasnya.

"Selamat datang, tuan pekerja keras." Potong Hinata saat Naruto berjalan ke kamarnya.

Manik safir itu kemudian terlihat bergulir melirik si sumber suara.

"Bagaimana, apa harimu menyenangkan?"

"... ya menyenangkan jika kau cepat pergi."

"A-apa katamu--?!"

"Sudah-sudah, ayo makan malam." Lerai Sai menurunkan telunjuk Hinata yang tengah menunjuk wajah Naruto tanda protesnya.

"Aku mau langsung tidur. Tadi aku sudah makan di kantor." Naruto menguap,

"...beneran?"

"Iya. Dan lagi ... jangan lupa cuci piringmu, Hinata."

"Ya aku tahu! Memang aku anak kecil ..."

"Oke, aku mau ke kamar."

"Oh iya Naruto-kun--"

"... hmp?"

"Hinata-chan bilang mau bekerja. Apa di kantormu ada lowongan? Kebetulan posisi waiters di cafe ku sudah terisi seminggu lalu."

"Oh itu ... Manajer sedang mencari model baru untuk edisi majalah akhir bulan ini sih. Bila kau mau aku bisa menelepon manajer--"

"Aku mau!"Jawab Hinata cepat.

"Ta-tapi Hinata-chan, majalah tempat Naruto-kun bekerja itu ..."

"Aku tahu kok. Tidak masalah. Lagi pula aku ingin mencoba hal baru."

"...kamu yakin?"

Hinata mengangguk.

"Baguslah," Naruto berlalu, membiarkan dua orang 180 beda sifat tersebut melanjutkan obrolan. Ia ingin istirahat. Tidur sejenak, sebelum Sai menyusulnya.

...

Satu Minggu kemudian,

"Di-dia gadis yang kau maksud? Howaaah ..."

Hinata memasang mimik datar saat leleki 'aneh', hobi mengenakan kaca mata hitam itu mengatensinya sedetail mungkin : memutari tubuhnya, memerhatikan setiap lekuk, tanpa satu bagian terluput.

Walau Hinata masih sangat muda, perkembangan fisiknya terbilang lebih mencolok daripada gadis-gadis sepantaran. Lihat ukuran D-cup yang tak lagi mampu dikamuflase oleh kaos merah lengan panjang yang dipakainya. Padu padan rok wiru empat centi di atas lutut itu, malah-malah semakin mempertegas kesan seksi.

"Pas sekali. Cocok! Direktur pasti senang." Ebisu menarik siku Hinata.

Naruto mengekorinya dari belakang. Ia harus menjaga amanah dari Sai untuk melindungi perempuan itu dari tempat yang Sai tahu penuh pria hidung belang.

Tok ... tok ...

Cleck ...

"... Bos?" wajah Ebisu jelas begitu sumringah.

"Ebisu? Dan ... Naruto?"

"Pagi Direktur ..." tubuh Naruto membungkuk.

"Aah ... kau formal sekali. Hanya ada kita-kita di sini. Bersikap seperti biasalah," ujar pria tua itu menenggak wine tak jauh dari jangkauan tangannya.

Naruto mengangguk,

Sesungguhya baik Naruto, Ebisu, pun Jiraya telah saling mengenal dengan baik. Ketiganya sangat sering menghabiskan malam selepas pulang kantor guna minum-mium di kedai sake langganan mereka.

Di ruangan itu, juga duduk Utakata. Sang fotografer ganteng, dan lumayan akrab dengan Naruto.

Untuk beberapa hal, Naruto dan Utakata bahkan memiliki sejumlah kesamaan. Mereka tampan dan digilai banyak pegawai wanita. Sama-sama pria rantau, dan memilih menetap di Tokyo. Utakata anak tunggal, Naruto pun sama. Mereka sama-sama pula ditakdirkan sebagai penggila ramen. Bedanya, jika Utakata normal, sedang kenormalan bagi seorang Uzumaki Naruto sedikit berbeda. Utakata tahu Naruto tak tertarik dengan perempuan. Utakata juga tahu, bilamana pemuda itu menjalin relasi spesial bersama laki-laki cantik bernama Sai.

"Oi, oi, dia siapa? Kenapa kalian tak mengenalkannya?" lirik Jiraya pada Hinata.

Pemilik sepasang mutiara amethyst tersebut kontan menundukkan badan.

"Sampai lupa." Lekas Ebisu memperkenalkan Hinata.

"Namanya Hyuuga Hinata. Taraaa ... model baru yang bos inginkan!"

Bak diinterupsi, iris hitam Jiraya memindai, mencari cela. Tubuh yang ideal, batinnya. Gadis itu mungil, namun dadanya kencang plus melebihi ukuran rata-rata. Dan lagi, wajah manisnya tipikal yang laku dijual.

"Salam kenal Direktur,"

"Sa-salam kenal Hinata-chan ..." untuk sesaat Jiraya dibuat terkesima. 'Benar-benar cantik.'

"Kau pintar sekali memilih model Ebisu. Dia bahkan lebih menarik dari Shizuka.

"Hehehe ... bos berlebihan. Sebenarnya Naruto yang membawa,"

"Naruto?!" Jiraya tampak terkejut.

Naruto berpaling pura-pura tidak tahu.

"Pufff ... jangan bilang dia kekasihmu?

"Kalau benar begitu, kau benar-benar hebat!" Ebisu menepuk-nepuk punggung Naruto.

Dari depan meja Direktur, Utakata tersenyum geli. Bagaimana pun ia tahu Naruto menyukai laki-laki. Mendengar kata 'dia kekasihmu', perutnya serasa diaduk. Lucu.

Mendapati raut Utakata berubah (terkikik), Naruto berdeham.

Tidak hanya Utakata, hal ini justru memancing Ebisu dan Jiraya unyuk tertawa.

Sedang hal lain dirasakan Hinata ... ia bingung.

Naruto menggeleng-geleng, heran.

...

Duduk pada jalinan rotan yang dibentuk menjadi sebuah kursi, tidak henti Shizuka meremas kain dalam pangkuannya.

Melihat Naruto bisa akrab dengan wanita seperti di hadapannya kini merupakan kejadian langka. Menjumpai si tidak peka, tukang acuh itu memilihkan pakaian untuk model, tak beda seperti melihat purnama di penghujung bulan yang mustahil. Tetapi ... ini sungguh terjadi. Dan sialnya yang Naruto pilihkan adalah jenis pakaian dalam.

Naruto memilih bikini ungu untuk Hinata. Model monokini top, Naruto rasa cocok dengan kulit gadis itu yang putih bersih. Monokini top sendiri ialah design pengembangan dari standart one piece swimsuit (modelnya praktis tidak mengganggu pergerakan, dan anti slip). Bedanya, monokini lebih menonjolkan keseksian dan kepolosan kulit si pemakai dengan memperlihatkan bagian tubuh yang terbuka, tergantung lokasi potongannya.

"Yup, bagus. Sedikit menoleh ke kanan ... aaah, sempurna!"

Ckrek ... ckrek ...

Lensa kamera Utakata menangkap dengan sempurna tubuh elok Hinata kala berpose seperti interupsi Ebisu. Wajah polosnya, dan tatapan datar itu benar-benar pas. Dalam kamera tak terlihat Hinata seorang pendatang baru yang mencoba peruntungan dunia model hari ini juga. Ia serupa model profesional yang sedang berbinar cerah.

"Yosh! Sekarang waktunya foto bersama- sama. Ayo merapat ke tepi kolam renang ..."

Kesepuluh model berjajar, melakukan sejumlah pose. Shizuka yang kebetulan berdiri di samping Hinata, sesaat memerhatikan rupa Hinata dari dekat. Ia penasaran. Bagian mana dari wanita ini yang membuat seorang Uzumaki tertarik. Padahal dillihat dari sudut manapun ia lebih cantik, pikir Shizuka.

'Bisa-bisanya Naruto suka pada gadis semacam ini. Murahan!'

"Segera dimulaiii! Awas hati-hati, licin ..."

Kata-kata Ebisu, sekejap memberi pasokan ide jahat dalam otak Shizuka.

'Bagaimana jika aku mendorongnya?'

"Satu ... dua ... tiga--!" Ebisu menginterupsi.

Byuurrr ...

"A-ada apa--?!" Teriak Ebisu mendengar seperti suara benda jatuh ke dalam kolam.

"Ga-gadis baru itu tercebur!" Teriak salah satu model.

"A-apa--?!"

"Sudahlah tenang. Dia pasti bisa berenang ..." ujar Naruto santai.

"Eeeh, kenapa kau bisa setenang itu?" Ebisu menoleh cepat--menatap Naruto. "Bukankah dia pacarmu?"

Naruto kembali menghela napas ...

Hal aneh terjadi. Sudah beberapa detik, namun entitas Hinata tak muncul jua kepermukaan.

Hal ini, secara langsung menjadikan hati Naruto resah, tiada ampun.

"Jangan-jangan dia tenggelam?"

"Mana mung--"

Sampai seseorang di tepi kolam renang berteriak, "Dia benar-benar tenggelam!"

Naruto sampai lupa melepas sepatunya. Tiba-tiba saja kakinya berlari, lalu tanpa sadar menceburkan diri ke kolam renang.

Naruto perlahan melihat gadis itu. Matanya memejam, dengan posisi nyaris bersentuhan dengan dasar kolam.

Naruto menarik tangan Hinata.

...

"Sadar! Sadaar!"

Manik Hinata tetap memejam meski ia sudah berada di tepian kolam. Naruto memposisikan kepala Hinata lebih tinggi, guna meminimalisir cidera yang bisa jadi ada.

Ia kemudian menjepit Hidung Hinata menggunakan dua jari, lantas mendekatkan mulut untuk memberinya napas buatan. Naruto melakukannya berulang kali.

"UHUK--" Hinata tetbatuk, sadar dan muntah.

Buru-buru Naruto memiringkan kepalanya, supaya Hinata tak tersedak.

Ebisu, beberapa detik setelahnya menyerahkan handuk pada Naruto. Pemuda itu langsung menyelimutkannya ke tu bubuh Hinata.

"Kau baik-baik saja?"

Hinata mengangguk. Ia nampak masih sangat-sangat syok.

"Apa yang terjadi sih? Kenapa kau bisa tercebur? Kau tidak hati-hati--?!"

"Apa yang kau katakan di saat seperti ini Naruto?!" Potong Jiraya tak habis pikir dengan sikap keterlaluan Naruto. "Cepat bawa Hinata masuk. Di sini dingin. Bajunya basah, dan kau juga harus ganti atau kalian akan sama-sama masuk angin!"

Sial!

Sial!

Sial!

Tak henti-hentinya Shizuka mengumpat dalam diam.

Tujuannya ingin membuat malu Hinata, malah berujung pada Naruto yang memberi napas buatan untuk perempuan itu. Bukankah, ini bisa disebut ciuman tidak langsung?

"Aggrrrr!" Shizuka menjambak rambutnya sendiri. 'Seharusnya Naruto-kun menciumku, dan membopongku! Bukan malah dia!'

Hal ini tentu menarik perhatian rekan-rekan--sesama model--di sampingnya untuk menatap dengan heran ke arah Shizuka.

'Ada apa dengannya?' batin mereka.

...

Ding ... Dong ...

Bel pintu rumahnya berdenting lebih lima kali. Langkahnya pelan, ia baru saja bangun dari tidur.

Entah, rasanya sedikit capek. Hari ini lumayan banyak kepala yang minta dibuatkan kopi olehnya.

"... Na-Naruto-kun?" Sai tampak terkejut.

Bukan hal aneh sebenarnya. Siapapun pasti berpikir sama jika melihat Naruto yang sekarang mengizinkan punggungnya ditunggangi seorang perempuan, dengan wajah memerah pekat.

"Hinata demam. Bisa ambilkan air dingin untuk mengomprenya?"

"A-apa yang terjadi dengan Hinata-chan, Naruto-kun--?"

"Sekalian ambil sirup penurun panas di kotak obat. Aku akan membawa Hinata ke kamar."

"... a ... i-iya,"

Sungguh tak seperti biasanya. Naruto jauh lebih acuh, bahkan terkesan sedikit mengabaikannya.

"... apa yang telah terjadi?"

Buru-buru Sai menggeleng cepat.

Tidak mungkin.

Tidak mungkin seperti itu!

Pemikiran negatif nun menyesatkan tersebut harus ia buang jauh-jauh.

Nyaris saja ia berpikir buruk terhadap dua orang sekaligus. Pertama, gadis yang baru ia kenal, dan kedua, pemuda yang telah membuang segalanya untuk sekadar dapat hidup bersama orang penuh kekurangan seperti dia.

Sungguh, salah mempertanyakan apa Naruto tetap setia.

Terlampau kejam menuding lelaki itu bakal berkhianat. Menjatuhkan terka, yang sedetikpun belum tentu Naruto pikirkan.

Sai menarik napas, lalu mengembusnya perlahan.

"Aku percaya pada Naruto-kun!"

Sai kemudian menyusul Naruto.

.

.

TBC

Thanks for Fav/Fol/ n review :)Bila ada kalimat, atau kata-kata dari fanfic saya yang belum jelas, bisa buka kbbi, atau tanya saya langsung di kotak review. Shampo bakal menjawab di chap berikutnya ;)

Happy Read

Tanpa kalian "Tussen" tiada arti.

Tinggalkan jejak demi kelangsungan ff ini.

salam,

Shampo-san~~