Tittle : Dying Exhortation Document

Disclaimer : Masashi Kishimoto

this Story belong to UchiNami Naru-chan No Kawaii

Genre : Romance

Pair : SasuNaru

Rated : T

WARNING : YAOI, Gaje, Abal, Jelek.

Fic yang cuman bikin kesel, gak kuat buat muntah dll.

.

.

Chapter 2 Tidak Suka.

Sasuke's POV~

Aku sangat kesal sekarang. Bagaimana tidak kesal. Selama 17 tahun kau di bodohi oleh kedua orang tuamu mengenai acara perjodohan ini dengan dalih harta warisan. Tak bisakah mereka membiarkanku hidup tenang tanpa gangguan?

Kuhempaskan tubuh langsing berototku di sofa. Memejamkan mata barang sejenak untuk sekedar mengusir lelah. Otakku yang jenius seolah tak menerima semua ini, namun aku tak punya pilihan. Semua ini terlalu mendadak dan terkesan memaksa?

Ku alihkan pandanganku ke depan. Kuambil remote dan mulai menyalakan TV. Bosan sekali rasanya mengingat tak ada acara TV yang menarik. Bahkan gosip seorang artis sexy sekalipun tak bisa menarik perhatianku.

Sasuke's POV end~

Sasuke masih terlihat menonton TV, namun roh pemuda Uchiha itu tidak sedang berada di tempat. Mungkin sedang mengunjungi beberapa tempat di dunia (?). pikirannya melayang entah kemana. Dan terakhir kali yang ia bayangkan adalah seorang pemuda pirang beriris shappire yang mempesona.

'apa yang sedang kau pikirkan Sasuke. Kenapa kau memikirkan si Dobe itu?' batin Sasuke. Wajahnya masih datar padahal dalam hati ia sedang perang batin.

Pemuda tampan itu berdiri dan melenggang ke kamarnya. Ia akan mandi, mandi dengan air yang sangat dingin untuk menjernihkan otaknya yang serasa panas sekarang.

"ARRRGGGGHHH... kenapa Kami-Sama... kenapa kau takdirkan aku dengan si Teme Bastard bin Nista (Author digamprat Sasuke) seperti dia?" Oke sebenarnya ada apa ini. Kenapa pemuda pirang itu berteriak-teriak Gaje dengan memukul-mukul guling di dekapannya sebagai pelampiasan. Entahlah, Author juga tak tau apa yang sedang terjadi. Mari kita lanjutkan saja Fict Abal ini.

Naruto kesal meski hal itu tak ditunjukkannya saat berada di kantor tadi. Dengan tak berperikegulingan ia memukul, membanting, melempar, menjitak dan apapun yang dapat dilakukannya pada guling berwarna orange kesayangannya.

Naruto seolah menyesal dengan apa yang dikatakannya tadi. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur menyetujui keputusan itu. Ingin rasanya ia mati sekarang. Mungkin peribahasa Hidup Enggan Matipun tak Mau cocok dengan keadaannya saat ini.

TOK TOK TOK..~

Suara ketukan di pintu kamar sang pemuda blonde menyadarkan Naruto dari keterkejutannya. Ia mengalihkan pandangannya ke pintu coklat tua itu.

Ceklek~

Naruto membuka pintu. Di lihatnya sang butler tepat di depan mata. Senyumnya yang menenangkan itu berhasil membuat Naruto sejenak melupakan masalahnya.

"kau tak apa-apa kan Naruto?" tanya Iruka, sang butler. Ia memandang Naruto dengan raut cemasnya.

"aku tak apa-apa Paman Iruka. Hanya sedikit stress." Ungkap Naruto. Ia tak akan berbohong pada orang yang mengasuhnya semenjak kecil itu.

Iruka mengernyit. Merasa tak yakin dengan jawaban yang di berikan Tuan Mudanya itu. "kau bilang sedikit. Kau tampak tak baik-baik saja Naruto. Apa perlu kupanggilkan Dokter pribadi keluarga?"

"aku kan sudah bilang bahwa aku baik-baik saja. Paman tak usah cemas" ujar Naruto. Ia memberikan cengirannya berusaha menyakinkan sang pengasuh.

Iruka menghela nafas kemudian balas tersenyum. Ia meraih kepala Naruto dan mengelusnya pelan.

"aku mau mandi dulu paman." Suara Naruto memecah keheningan. "yasudah. Mandi sana. Jangan lupa makan malam ya." Nasihat Iruka. Naruto mengangguk mengiyakkan. Tubuhnya menghilang di balik pintu yang kini tertutup. Iruka menghela nafas, ia tahu orang yang sudah dianggapnya sebagai anak itu tak sedang dalam keadaan yang baik.

Dan bayangan Iruka menghilang di ujung koridor mansion.

Sasuke sedang makan malam sekarang. Ditemani oleh seorang pemuda berambut pirang yang kini duduk di sampingnya. Ia menunjukkan raut ketidaksukaan pada Naruto meski tak terlihat dari wajah stoic itu. Sang pemuda pirang bukannya tak menyadari, ia hanya pura-pura tak tahu akan hal itu.

Mereka makan dalam diam. Sejujurnya Naruto tak terlalu menyukai ini. Ia memang pemuda hyperaktif dan akan sangat sulit untuk membuatnya diam. Suasana canggung yang sangat nggak mendukung itu malah membuat mereka semakin bungkam.

Mereka makan malam bersama di kediaman Uchiha. Lebih tepatnya terpaksa makan malam bersama karena paksaan dari Kakashi dan Sasori yang selalu saja mengawasi keduanya. Sekali saja keduanya terlihat bertengkar, tak segan-segan Sasori dan seorang pria keperakan itu akan menceramahi mereka tentang banyak hal. Dan tentunya hal itu sangat membosankan.

"Dobe.." ujar Sasuke. Ia memandang sang calon tunangan yang tak ingin diakuinya.

"APA?!" ujar Naruto ketus. Masih kesal dengan Sasuke rupanya.

Sasuke menghela nafas. Ia pikir akan mudah berhadapan dengan bocah di depannya. Mengingat tampangnya yang ganteng dan kekerenannya yang tiada tara, ia berpikir muda untuk menaklukan Naruto. Aneh, mungkin. Entah mengapa ia hanya tak ingin pemuda itu pergi dari hadapannya.

"Lebih baik kau menginap saja Dobe. Lagipula rumah sedang sepi." Jelas aja sepi, orangnya pada udah beda dunia semua kok. Cuma ada pelayang aja di rumah gedong macam gitu.

"Untuk apa aku menginap di rumahmu? Lebih baik aku segera pulang." Kembali Naruto berujar ketus. Rasanya ia tambah kesal saja dengan pembicaraan ini.

"Ck, sekali Dobe tetap Dobe" Sasuke bersuara, sama kesalnya dengan Naruto. Kalau ia tak melihat Sasori yang sedang mengintainya bersama Deidara (pacarnya Sasori) ia tak akan pernah mau melakukan ini. Mungkin saja, ia akan langsung mengusir si Dobe di depannya.

Sasuke mendekati Naruto. Ia menggenggam tangan karamel tersebut. Ia membisikkan sesuatu di telinga sang rubah. "Sasori sedang mengawasi kita. Usahakan untuk tetap mesra, kau tahu apa maksudku kan?" setelah membisikkan sesuatu di telinga Naruto. Sasuke menarik kepalanya dan menatap wajah tan yang kini bersemu. Ia tahu, sepolos-polosnya Naruto, bocah itu pintar beracting juga. Dan disaat seperti inilah hal itu diperlukan.

"Uhh.. 'Suke, aku makin mencintaimuu..!~" pekik naruto. Ia memeluk Sasuke erat membuat orang yang dipeluk kaget. Jantung keduanya saling beradu menimbulkan semburat merah di pipi sang Uchiha maupun Namikaze. Sasuke membalas pelukan Naruto meski sebenarnya enggan. Entah mengapa keduanya sangat menikmati pelukan ini. Terasa sangat berbeda dari pelukan yang pernah mereka lakukan pada para wanita di luar sana.

"jadi kau akan menginap kan?" ujar Sasuke. Terselip nada senang di dalamnya. Entah itu senang karena apa Author tak dapat (baca : males) mengungkapkan dengan kata-kata.

Dapat dirasakannya jika Naruto mengangguk. Ia melepaskan pelukan maut itu dan berjalan menuju kamar sang Uchiha. Sesampainya di sana Naruto segera merebah di kasur Sasuke. Ruangan yang di dominasi warna biru itu begitu nyaman bagi sang Namikaze.

"Aku mau mandi dulu. Kalau kau mau segera tidur, tidur saja. Aku akan tidur di sofa nanti." Ujar Sasuke ogah-ogahan. Sebenarnya tak ada niat dirinya mengatakan hal itu. Entah darimana kalimat itu meluncur mulus dari bibir tipisnya.

"terserah kau saja lah Teme." Ujar Naruto. Ia memandang Sasuke yang mengambil selembar handuk dari almari.

"Oh ya Teme. Kau punya piyama?" tanya Naruto. Ia memandang Sasuke takut-takut sang pemuda Uchiha marah atas apa yang dia ucapkan.

"hn, ambil saja di lemari. Aku tak keberatan kok. Tapi jangan salahkan aku jika piyama itu kebesaran." WOW, baru kali ini Author mendengar Sasuke bicara sepanjang itu. Naruto mengangguk, nampak tak keberatan dengan apa yang dikatakan calon tunangannya itu. Ia melangkah menuju almari yang berbeda dari sebelumnya, mengambil sebuah piyama berwarna biru langit sama seperti matanya.

Sasuke sudah menghilang dari balik pintu kamar mandi. Tinggallah Naruto di kamar itu. Dengan segera ia mengenyahkan pakaian yang melekat di tubuh mulusnya. Memperlihatkan kulit tan eksotis. Ia mengenakan piyama Sasuke, agak kebesaran memang karena tubuhnya yang lebih kecil dari Sasuke.

Setelah memakai piyamanya, Naruto kembali merebah di ranjang Sasuke. Menyelimuti tubuhnya dengan selimut sebatas dada. Kemudia mulai terlelap ke alam mimpi.

Pemuda raven itu menyalakan shower, menyebabkan ribuan rintik air membasahi tubuhnya. Sebenarnya ia tak ingin mandi di malam hari apalagi setelah makan malam. Bukan kebiasaannya memang, hanya saja ia merasa canggung dengan Naruto. Maka dari itu ia memutuskan untuk kabur ke kamar mandi.

Sasuke hanya diam, tak bergerak untuk mengambil sabun ataupun shampoo sekedar untuk membersihkan tubuhnya layaknya orang yang sedang mandi. Ia tak bergeming dari tempatnya berdiri. Air yang menguncur dari shower masih setia menghujaninya. Dinginnya air mampun membuat sang Uchiha bungsu itu menggigil.

Setelah merasa cukup dengan acara mandi coretbasah-basahancoret yang dilakukannya. Ia mulai mengambil sehelai handuk dan mengaitkannya di pinggang. Dengan langkah pelan ia keluar dari persembunyiannya –kamar mandi-. Mengambil sebuah piyama yang nyaris sama dengan milik si pirang, hanya saja terdapat sebuah garis memanjang berwarna biru donker.

Selesai dengan acara memakai piyama, Sasuke melangkahkan kakinya ke ranjang di mana Naruto sedang berbaring. Di tatapnya wajah dengan kelopak matanya yang tertutup itu. Begitu damai, berbeda 180o saat ia tengah terjaga. Sasuke tak bisa mendefinisikan apa yang sedang dirasakannya saat ini. Suka atau Tidak suka dengan keberadaan si Pirang.

Tak mau bertambah beban. Ia membaringkan tubuhnya di samping Naruto. Menyelimuti keduanya dengan selimut dan menyusul si Pirang ke alam bawah sadarnya. Yang mereka yakini saat ini hanyalah, bahwa mereka tak saling menyukai.

.

.

.

TBC

Nami seneng banget masih ada yang mau review fic pertama yang saiia rasa sangat ancuurrr...

kalo gitu lanjut aja bales review ... :D

ela elo : makasih atas reviewnya. gak papa deh Flame .. Nami terima Ikhlas dan lapang dada selapang-lapangnya :v

Satsuki Naruhi : thanks buat Suki yang udah mau review, arigatou gozaimasu... Nami cuma gak nyangkan aja kalo responnya bakan POSITIF :D

uzumakinamikazehaki : arigatou senpai udah mau review Nami yang hanya seorang Author amatiran .. Hiks .. Hiks... Nami Ter-haru .. :'(

-chan : iya ni M-Preg .. khusus saya buat untuk para fujhosi dan Fundhasi macam saya... :D

kadek chan : bukan. di sini naruto itu cowok cuma bisa hamil aja... :D

Hikari No OniHime : arigatou Senpai udah suka sama fic Nami yang ancurr .. kalo buat greget .. entar deh Nami fikirin :) Arigatou :)