Chanyeol terbangun dengan kondisi tubuh yang menyentuh lantai. Kepalanya tiba-tiba sakit dan berdenyut tak karuan. Teryata ia baru sadar,jika malam tadi ia tertidur dibawah lantai sedangkan sosok dengan perut sedikit buncit itu masih terlelap diatas tempat tidur nya yang empuk. Chanyeol beranjak berdiri, ia meregangkan sedikit tubuh berotot nya yang sedikit kaku akibat tidur ditempat yang tak semestinya. Namun ketika ia melihat kesamping, rasa kesal karena tidur yang tak berkualitas itu akhirnya sirna. Dengan gerakan yang lembut Chanyeol menarik ujung selimut dan menyempurnakan posisi benda itu untuk lebih menutupi tubuh mungil Baekhyun.
Ia mendesah berat nyatanya ini seperti mimpi, kehidupan yang ia pikir akan berjalan normal seperti 80% penduduk dunia tersebut. Seperti, sekolah, kerja dan menikah lalu mempunyai anak tak seindah dan semudah yang ada dipikiran nya.
Chanyeol berjalan keluar kamar dan membuka pintu pelan-pelan. Seolah-olah tak ingin membangunkan yang sedang asyik dengan mimpi alam bawah sadarnya ditempat tidur.
Jam di dinding menunjukan pukul 9 siang. Tak biasanya Chanyeol yang dulu sangat menggilai pekerjaan nya itu masih duduk di kursi meja makan sambil memijat-mijat pelan kening nya diwaktu ketika para karyawan diperusahaan nya bahkan sudah hampir mencampai target.
Ponsel yang tergeletak di meja dekat tv itu berdering. Alis Chanyeol berkerut, ia kembali berjalan kesana untuk mengambil benda persegi itu. Tapi kemudian sosok dengan rambut berantakan tiba-tiba keluar dari kamar membuat Chanyeol kaget bukan main.
"Astaga Baek, kau ya tuhan. Hampir saja jantung ku meledak"
"Bluarrrrrgh" Baekhyun tiba-tiba mual dan ia menutup mulutnya rapat sambil masuk ke kamar mandi. Yang padahal didalam kamar pun tersedia kamar kecil itu. Chanyeol langsung bergegas menyusul Baekhyun. Ini aneh sudah masuk tri semester kedua tapi Baekhyun masih saja sering mual-mual.
"Masih mual ?"tanya Chanyeol sembari mengusap pundak Baekhyun pelan dan sedikit dengan pijatan.
"Aku pusing yeol, ini benar-benar menyiksa ku" Baekhyun terkulai lemas bagai tubuh tak diberi makan sebulan. Jalan nya sempoyongan sehingga membuat Chanyeol harus membopong Baekhyun hingga terduduk diruang tengah.
"Mau ku buatkan apa, hm ?" Tanya Chanyeol perhatian " susu coklat ? Atau strawberry?"
Baekhyun hanya tertunduk lemas sambil menggelengkan kepalanya seperti isyarat menolak.
"Kau harus makan pagi Baek"
"Aku tidak mau makan yeol, ya tuhan kau tidak pernah merasakan hamil sih ! Ini semua gara-gara kamu tau!"
Chanyeol mencium bau-bau perdebatan. Dengan begitu ia mengalah dan mencoba diam seperti Baekhyun.
"Yasudah terserah, selagi aku masih ada disini kau boleh minta bantuan apapun itu. Tapi jangan harap panggilan mu akan ku angkat kalau aku sudah bekerja dikantor nanti. Aku bahkan sudah merelakan waktu jam kerja normal ku hanya untuk menemani mu. Jadi sekarang urus dirimu sendiri, aku harus pergi ke kantor" ucap Chanyeol. Tanpa mandi atau bersolek lain nya Chanyeol benar-benar pergi hanya dengan pakaian yang melekat kemarin dan genggaman handphone ditangan nya.
Baekhyun melipat tangan dan bersender disana. Rasanya ingin marah dan juga kesal seperi menyatu. Ia ingin meremas perut yang kini menjadi rumah bagi makhluk hidup yang sedang berkembang disana. Ini seperti tidak adil, ketika laki-laki itu. Sosok yang menyimpan benih didalam rahim nya berlaga seolah ia telah mengorbabkan segalanya untuk rasa tanggung jawab dan empati yang memang seharusnya manusia itu tanggung. Tapi ia lupa kalau Baekhyun bahkan sudah mengorbankan seluruh hidup nya hanya demi janin ini.
Dan andai saja jika dulu Baekhyun tak pergi memohon untuk belas kasih Chanyeol. Mungkin kini ia sudah berada di tepi jembatan sungai han dan meloncat hingga terbawa arus sungai terbesar sekorea itu hingga berakhir dengan aparat kepolisian yang menemukan jasad nya mengambang dipinggir kota.
Tapi tiga bulan silam yang lalu, laki-laki itu berkata bahwa ia siap untuk melakukan apapun untuknya. Namun kata-kata "Urus saja dirimu sendiri" seolah tembakan yang paling menyakitkan bagi Baekhyun.
...
Chanyeol sudah memasuki mobil yang terpakir di apartement. Ia baru mencheck ponselnya dan seketika kaget dengan 25 panggilan tak terjawab.
"Hallo kai ?"
"Dimana ?"
"Sebentar lagi aku berangkat. Ada apa kau menelpon ku dengan banyak sekali panggilan yang masuk ?"
"Klien incaran mu dari china menyetujui proposal perusahaan kita dia ingin berinvestasi dengan group ini yeol"
Muka kesal yang tadi mendominasi seolah sirna Chanyeol benar-benar segera bersiap untuk menggas mobilnya.
"Dan dia ingin bertemu dengan mu jam 9 sekarang"
Kaki kirinya menginjak rem, ia melihat jam arloji yang melingkar ditangan nya menunjukan pukul 09:25.
"Shit kai, what the hell !"
"Yeol, dia benar-benar sudah menunggu"
"Tell to him, i'm coming now"
"Ok, sure"
Seolah-olah ada yang menekan tombol reset pada tubuh Chanyeol, seorang Hardworking itu kini kembali hidup. Bunyi decitan ban akibat goresan bahan karet dengan aspal itu memekik telinga. Laju nya yang super cepat kentara sekali membuat Chanyeol harus memecah pagi menuju siang di jalan Seoul yang sedang ramai-ramainya dipadati pengendara roda enpat.
Emosi nya kian memuncak ketika ia mendapati traffic jam yang super padat. Bunyi klakson dikeraskan berharap waktu berhenti sebentar saja. Namun lampu lalu lintas itu akan kembali hijau dalam 15 detik kemudian. Bagi seorang enterpreneur seperti Chanyeol hitungan detik saja adalah dollar, dan jika ia membiarkan waktu itu pergi sama saja dengan membakar semua uang hasil keringatnya.
Chanyeol pasrah namun panik ia terus memantau keramaian dijalanan. Hingga sosok seorang wanita yang dengan perut buncitnya berjalan agak lambat karena beban si janin yang sedang dikandungnya,menyebrangi jalan seorang diri. Ingatan Chanyeol kembali buyar. Ia berubah memikirkan sosok yang ditinggalkan nya sendiri dalam kondisi tak baik.
"Astaga, aku lupa Baekhyun" Chanyeol mengusap keningnya. Seperti tombol power pada komputer pertanyaan. Apakah dia sudah meminum susunya ? Apa dia sudah berhenti mual-mual ?seolah muncul begitu saja.
"Aku harap dia baik-baik saja"
...
"Akh sakit"
Baekhyun mengaduh,ia terus memegang perutnya namun tak berani menekan kuat. Luhan yang ditelpon Baekhyun segera datang dan memberikan bantuan seadanya.
"Aish janin ini, aduh perut ku jadi sakit" dan seperti itulah Baekhyun. Ia menyumpahi kehamilan nya namun tak ingin membuat janin didalam nya terkena bahaya.
"Baek aku jadi kasihan pada anakmu bukan dirimu"
"Yak ! Aku yang mengandung kau tau apa tentang hamil. Aishh"
"Apa ?! Aku juga carrier omega tau ! Aku juga bisa hamil"
Baekhyun menggeleng kepalanya "Bukan kau, tapi si brengsek yang menanam benih diperutku ini"
Luhan keheranan, sebenarnya ia dianggap ada atau tidak sih disini.
"Aku ingin tiduran"
"Sini, biar ku bantu"
Dan hanya dengan berbaring rasa sakit itu bisa teratasi. Kandungan nya akan semakin membesar,mungkin ini efek dari pelebaran di area abdomen seorang carrier yang pertama kali baru merasakan kehamilan.
"Apa Chanyeol pulang kemarin ?"
"Si brengsek itu tidak berguna,dia kemarin pulang larut malam tapi dengan tangan kosong. Terus tadi pagi dengan lantang nya dia bilang 'urus saja dirimu sendiri'. Brengsek brengsek,tahu begitu untuk apa aku meminta pertanggung jawabanya"
Luhan duduk ditepian tempat tidur itu. Mengupaskan kulit jeruk untuk Baekhyun.
"Lalu ? Kau akan melepaskan Chanyeol begitu saja ?"
"Yah tentu tidak"
"Rencana mu untuk menikah bagaimana ?"
"Aku akan menikah dengan nya hanya untuk pencitraan, bagaimanapun anak ini harus lahir dalam keadaan orangtua yang lengkap"
Luhan tersenyum, menggeleng kepalanya karena kebingungan.
"Baekhyun Baekhyun, lalu bagaimana nasib bayi mu nanti ? Kau akan meninggalkan nya ?"
Mata Baekhyun melebar ia mendekap sijabang bayi yang sedang tertidur didalam perutnya "K-kan ada si Brengsek itu, biarkan saja dia yang mengurusnya. Lagi pula dia kan kaya"
"Chanyeol itu si alpha penggila kerja, yang ada dipikiran seorang pengusaha seperti Chanyeol hanyalah kerjaan. Yah mungkin suatu saat nanti ia akan menikah -" Luhan melirik ke arah Baekhyun "Tapi setelah bercerai denganmu. Lalu ia akan mencari seorang wanita yang bisa mengurus bayi. Kau pikir wanita atau carrier jaman sekarang ada yang mau menikah dengan seorang duda ?"
"Maksudmu?"
"Apa yang ada dipikiran Chanyeol nanti adalah bagaimana caranya untuk menyingkirkan bayi mu ini. Dan ia bisa menjalani hidup dengan normal,Chanyeol itu pria kaya baek dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Termasuk mengurus bayimu, kalau dia enggan dia bisa mengirimkan bayi mu kepanti asuhan. Kau tidak berpikir sampai sana ?"
Baekhyun merungut,ia tiba-tiba tutup mulut dan tatapan kedua bola matanya menghilang. Mungkin ia tidak menginginkan janin ini sama hal nya seperti Chanyeol. Namun tak pernah sekalipun untuk melakukan hal sekejam itu. Seperti apa yang barusan Luhan katakan.
"Mungkinkah dia akan melakukan nya han ?"
"Aku tidak tahu,hanya prediksi ku saja. Soalnya dia ingin bertanggung jawab hari ini karena tidak ingin kau menganggu bisnis nya atau mungkin mencoreng nama baik keluarga nya. Jadi untuk menutup mulut mu itu dia bersedia menjadi kacung untuk sementara waktu"
Baekhyun kebingungan, ia melirik ke bawah perut buncit nya yang semakin membesar. Masukan dari Luhan lumayan logis. Tapi terlalu kejam untuk didengar.
"Yak ! Kau jahat sekali menakut-nakuti ku"
"Aku tidak menakut-nakuti mu aku hanya -"
"Menyebalkan. Kau sama saja seperti Chanyeol. Mood ku buruk hari ini"
"Yak ! Kalau aku sama seperti Chanyeol untuk apa aku jauh-jauh dari namchidong ke gangnam hanya untuk mengupas kulit jeruk untuk mu ?!"
"Menjadi orangtua itu bukan pekerjaan setahun duatahun baek, tapi untuk selamanya"
...
Jabatan tangan kedua orang penting itu mendapat tepuk tangan meriah dari beberapa orang yang hadir dalam meeting tersebut. Senyum senang pemimpin Loey Corp itupun mengundang banyak tanggapan positif. Target yang dicapai perusahaan ini diluar ekspektasi, dalam 5 tahun Chanyeol baru saja bekerja sudah ada 15 investor besar yang menanam saham diperusahaan nya.
Kai sang sekertaris juga sahabatnya semenjak kuliah di amerika itu saling berangkulan. Tak ada kata canggung diantara mereka.
"Kai-ah, berkat mu aku tidak kehilangan target perusahaan tahun ini"
"Sama-sama, kalau begitu mungkin aku boleh pulang agak siang kan ?"
"Eyy, kenapa terburu-buru. Bagaimana kalau kita makan malam berdua ? Aku yang traktir"
Kai tersenyum "kau lupa yah ? Aku ini sudah punya istri, dia sudah memasakan ku makan malam dirumah"
Seperti terjatuh diketinggian tertinggi, ia melupakan fakta lain dari hidupnya. Chanyeol menelan ludah, kai baru saja akan segera beranjak dari tempat duduknya.
"Kai-ah"
"Hm ,apa ?"
"Boleh aku ikut kerumah mu tidak ?"
"Wah tumben, kalau begitu ikutlah. Biar ku kenalkan dengan masakan terenak buatan istri ku"
Next...
