-The Deal, Love, and Friendship-

©Koge-Donbo

©Haruka Hitomi 12

T-Romance, Friendship, H/C

Pairing : Kazune/Karin, Kazune/Himeka, Karin/Micchi

A/n: Untuk fict ini, menurut saya, peran sahabat Karin paling cocok diperankan oleh Himeka Kujyo. Jadi mohon terima saja untuk kelangsungan fict ya, di fict ini marga Himeka juga bukan Kujyo. Arigato ^^

Summary : Sebuah kisah cinta yang dimulai dengan sebuah taruhan dan kebohongan belaka. Sebuah kisah persahabatan yang diawali dari sebuah kebetulan. Semua menjadi rumit saat masalah dan bukti mulai muncul. Membuatnya harus memilih antara percaya atau tidak, perasaannya atau perasaan 'sahabatnya'. Dan saat semua terungkap, mampukah ia memaafkan lelaki itu? Siapa yang akhirnya harus terluka?

.

.

~CHAPTER 2~

.

.

'Dia manis sekali… andai aku bisa semanis itu… tapi… entah mengapa… melihat wajahnya… perasaanku gelisah… seakan… akan terjadi sesuatu diantara kami…' batinnya. Sesaat ia masih memandang kosong, dan selanjutnya ia menggeleng pelan.

'Ah, apa-apaan itu! Intuisi…'

.

.

.

Karin menggerai surai brunettenya yang tadi ia ikat twintail. Sesekali ia juga mengusap peluh didahinya. Memang berat harus melakukan pekerjaan sampingan disaat ia masih usia sekolah. Tapi mau bagaimana lagi? Ini semua ia lakukan untuk biaya kuliahnya nanti dan untuk membantu bibinya dalam hal ekonomi.

"Karin-chan!" ia menoleh dan seorang gadis bersurai tosca tengah melambaikan tangannya.

"Matte Miyon-chan!"

Karin segera menuju kesana. Ia melihat seorang gadis bersurai indigo dengan iris hazel duduk di meja tak jauh dari ia berdiri.

"Dia sudah selesai, tolong ambil gelasnya ya…" ucap Miyon. Karin mengangguk.

"Errr… sumimasen…" gadis itu menoleh lalu ia tersenyum manis sambil menatap Karin, "K-kalau… minumnya sudah selesai, bisa saya ambil gelasnya agar tak mengganggu kenyamanan anda?"

"Tak masalah," jawabnya. Karin mengangguk lalu mengambil gelas ocha itu.

"Ada yang kurang nona?" tanyanya.

"Tidak, arigato," Karin mengangguk lalu berbalik menuju dapur café.

'Dia manis sekali… sepertinya bukan orang sembarangan. Dari caranya duduk dan berbicara… ia berwatak lembut namun tegas. Yakin akan setiap kata-kata dan tindakannya. Ia takkan mempermalukan dirinya sendiri… hahh~… andai aku bisa sepertinya…' ia membatin dan tanpa ia sadari, gadis bersurai indigo itu tengah melakukan hal yang sama pula.

.

.

.

Kazune mengacak surai blondenya frustasi. Ia tak bisa membohongi Himeka, tapi ia juga tak mau Jin 'mendapatkan Himeka'. Sejak dulu, lelaki itu menyukai Himeka. Sayangnya saja, Himeka tak mneyukainya.

Flashback:

"Kau mau melakukan taruhan Kujyo?"

"Haahh… apa lagi kali ini?" tanya Kazune.

"Untuk nanti siang, aku sudah punya tantangan untuk permainan kartu kita, tapi kurasa akan lebih seru kalau kita menambahkan taruhan didalamnya bukan?" Kazune hanya menaikkan alisnya. Jin memutar iris onyxnya bosan.

"Kau tak mengerti? Hanya taruhan kita berdua,kalau kau menang, kau bisa mendapatkan Himeka. Tapi kalau aku yang menang, aku yang akan mendapatkan Himeka."

"Kau mempertaruhkan Himeka hah? Terserah kau saja, kami dijodohkan oleh orangtua, jadi kau juga tak bisa mengganggu gugatnya kan?"

"Oh ya? Aku bisa saja kalau aku mau mengingat aku bisa melakukan apa saja yang kuinginkan dengan sedikit bujukan bukan?"

" .Mau"

"Kau pengecut sekali sih? Ya sudah terserah, mau atau tidak itu urusanmu, tapi aku akan tetap melakukannya." Lelaki itu lalu melenggang pergi dengan seringai licik di wajahnya. Kazune menggertakkan giginya geram. Ia mengepalkan tangannya dan mendecih kesal. Ya, Jin itu adalah tipe orang yang akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya…

Flashback off:

'Apa…apa yang harus kukatakan pada Himeka? Dan aku harus memacari siapa? Dasar Kuga!'

Tok,tok,tok….

"Masuk!" seorang gadis bersurai blonde membuka pintu itu. Ia menggeleng pelan.

"Astaga onii-san! Sedang apa sih? Tidur tuh di tempat tidur, bukan di meja belajar! Dan lihat kamarmu! Berantakan sekali!" omelnya.

"Heh, kau seperti okaa-san…" balas Kazune.

"Terserah. Kau kenapa lagi hah?"

"Bukan urusanmu!"

"Huh, ya sudah. Tapi saranku, kalau kau kelelahan cobalah jalan-jalan ringan… dan kalau ini masalah perempuan, kau bisa minta saranku, mengingat aku juga perempuan… hehe…" ucap gadis itu-Kazusa sambil mengedipkan sebelah matanya lalu melenggang keluar kamar onii-sannya itu.

Kazune mendengus kesal, 'Sebenarnya disini siapa yang kakak, siapa yang adik sih? Dia selalu saja menasehatiku… tapi mungkin benar juga, aku butuh refreshing…' ia lalu mengambil jaketnya dan berjalan keluar kamar.

.

.

Karin mendesah lega. Ia lalu meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku akibat habis bekerja tadi.

"Haaahhh~…. Akhirnya… selesai juga… lelah sekali rasanya… oh ya, aku juga belum belajar ya…? Hum… beli bahan makan dulu deh, obaa-san pasti sudah menunggu di rumah…" gumamnya sambil tersenyum. Ia memasuki sebuah supermarket dan mengambil trolley.

"Apa ya untuk malam ini? Curry saja mungkin sudah cukup ya? Kalau begitu… ham, wortel, dan tomat!"

Ia baru saja akan menuju kasir ketika seseorang menabraknya dari belakang.

"Aduh! He-hei!" orang itu-yang ternyata lelaki- berbalik. Karin menatap kesal karena beberapa belanjaannya terjatuh dari tangannya. Lelaki bersurai blonde itu mendekatinya.

"Oh aku menabrakmu ya? Gomen," ucapnya sambil membantu Karin membereskan barang-barangnya.

Karin terpaku, 'Kami-sama… dia tampan sekali…'

"Hei kau melamun?" lelaki itu mengibaskan tangannya didepan gadis itu.

"Oh… eh.. m-maaf…" Karin berencana untuk mengambil barangnya yang terjatuh dihadapannya dan tanpa disangka,

GREP!

"E-eh…?" ia menarik tangannya yang tanpa sengaja bersentuhan dengan lelaki itu

"G-gomen…. A-ano…arigato!" ucap Karin lalu membungkukkan badannya dan buru-buru menuju kasir.

Lelaki itu memandangnya. Lalu ikut menuju kasir, tapi Karin sudah keluar dari supermarket terlebih dahulu. Tanpa sengaja, lelaki itu menemukan sebuah kuncir rambut berwarna hijau berbentuk cherry yang terjatuh didepan sepatunya.

Ia bergumam, "Dia manis juga, ini pasti miliknya, aku… jadi ingin bertemu denganmu lagi…"

'Entah kenapa... aku merasa akan ada sesuatu diantara kami nantinya…'

.

.

Karin menatap wajahnya didepan cermin, ia baru menyadari kalau salah satu ikat rambutnya yang berbentuk cherry hilang.

'Apa terjatuh di supermarket tadi ya…?' pikirnya sedikit sebal karena itu ikat rambut kesukaannya. Karena merasa mengantuk, akhirnya ia menarik selimut sebatas lehernya.

'Semoga ada orang baik yang menemukan dan mengembalikannya… tapi sulit juga ya? Kan ikat rambut itu tidak ada namanya…. Ah… sudahlah…'

.

.

.

Himeka berjalan pelan menuju sekolahnya sambil tersenyum disamping Kazune-kekasihnya yang mengantarkannya. Lelaki itu juga ikut menyesuaikan langkahnya.

"Kazune-kun?"

"Hn?"

"Kau agak menjadi pendiam… ada apa?" tanya Himeka.

"Memang biasanya seperti ini kan?" gadis itu menunduk kecewa. Ia berharap mendapat jawaban yang bisa pakai untuk bahan obrolan. Ia tipe gadis tenang, bukan pendiam. Kazune menoleh, ia menyadari ia salah bicara tadi.

"Gomen, Himeka. Maksudku… setiap hari aku memang selalu diam bukan?"

"Daijobu… menurutku, hari ini kau sedikit berbeda…" mereka diam lagi. Memang selalu seperti ini suasananya. Diam dan tenang. Mereka tak perlu banyak bicara untuk saling mengerti.

"Kazune-kun, aku ingin pindah dari Tokyo Female High School…" ucap Himeka.

"Kau mau pindah kemana?"

"Ke sekolahmu! Sakuragaoka Academy High School, aku ingin berkumpul bukan hanya dengan teman perempuan, aku ingin berteman baik dengan laki-laki dan perempuan. Boleh kan?"

"Kenapa kau ijin padaku? Kau harusnya ijin dengan otou-san mu bukan?" tanya Kazune. Padahal dalam hati ia berharap Himeka mengurungkan niat itu. Jika Himeka satu sekolah dengannya, ia akan bertemu dengan Jin Kuga, dan Jin pasti akan lebih mengejar-ngejar Himeka, Kazune tak mau itu.

"Itu mudah, tapi aku juga ingin Kazune-kun mendukung rencanaku…" tatapan Kazune terpaku. Ia melihat seorang gadis bersurai brunette tengah duduk di halte bis tak jauh dari mereka. Ia seperti mengenal gadis itu. Tanpa sadar, ia meraba ikat rambut cherry disakunya.

"Kazune-kun? Aku sudah sampai, aku duluan ya…" ucap Himeka.

"Kazune-kun?" Kazune tersentak.

"Ah, i-iya, jaa Himeka… kujemput kau nanti siang."

"Jaa…" Himeka memasuki sekolah khusus putrid itu. Sedang Kazune masih menatap gadis bersurai brunette itu.

'Aku bertemu lagi denganmu…'

.

.

.

~TSUZUKU~