.
.
.
Kau tidak bisa melenyapkannya dari pikiranmu meskipun kepalamu terpisah dari tubuhmu, kau tahu?
Karena semua itu berasal dari hatimu.
Jack Up
Rise of the Guardians (c) Dreamworks
Warning: Bestial, plot naik-turun, picis.
.
by Ratu Obeng (id: 1658345)
.
.
.
「 It's like my mind knows what's right but my heart is being retarded and still cares.
—Anonymous 」
.
.
.
"Kenapa banyak sekali Yeti di sini?"
Di sebuah ruangan selesa, para makhluk besar berbulu bernama Yeti hilir-mudik menggotong nampan berisi kue yang nampaknya baru matang. Aroma manis tercium kental memenuhi ruangan, menciptakan sensasi yang sangat menggoda selera.
"Tentu saja. Para yeti tidak hanya membuat mainan, mereka juga aktif di dapur bersama elf. Kami membuat kue untuk dibagikan pada anak-anak di seluruh dunia pada hari Natal."
"Natal masih lama tapi kalian sudah membuat kue dari sekarang? Akan lebih basi daripada desain telurku yang kalian tuduh ketinggalan jaman itu." Bunny menggerutu sinis.
North hanya menanggapi dengan tertawa. Dibantu beberapa elf, sekarang sang Santa meletakkan sebuah loyang sebesar badannya di atas kompor. Bersiap dengan segala peralatan yang juga sama besarnya.
"Pakai loyang ini saja, Aster! Akan meriah jika kita membuat coklat yang banyak!"
"Terlalu besar, aku bahkan tidak bisa meraih ujung-ujungnya, Nick."
Lagipula dia tidak berniat membuat coklat dalam jumlah banyak. Satu saja cukup!
—dan hanya ditujukan untuk berandal cilik yang seenaknya mengumpat kemudian pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan terlebih dahulu.
Tanpa membuang waktu, Bunny melangkah santai melintasi tengah ruangan ke arah kulkas—yang tanpa diminta, berdiri sosok Yeti dengan ramah membukakan pintu lemari pendingin tersebut untuknya.
Hawa dingin yang menyeruak dari bagian dalam kulkas membuat kelinci raksasa itu mundur beberapa langkah. Bulu di ujung kulitnya seketika berdiri sebagai reaksi untuk membantu menghangatkan tubuhnya. Manik zamrudnya menyapu berbagai jenis coklat batangan beku yang tersusun rapih, menunggu siapapun untuk mengolahnya menjadi penganan lezat penuh cita rasa.
"Woiii, Nick!" teriak Bunny dari depan kulkas berukuran jumbo.
"Apaaa?" terdengar jawaban yang tidak kalah kencang.
"Coklat yang mana yang bisa kupakai?"
"Semuanya!"
"Semua?"
North mengangguk singkat, "Coklat susu, coklat putih, kokoa, couverture*, apapun! Kau tinggal pilih menurut seleramu, karena ini hari spesial!"
"Kemajuan. Kupikir hari spesial untukmu hanya Natal…"
Sang Pooka bermaksud mengambil salah satu batangan coklat yang menarik minatnya sampai sepasang tangan kecil gesit menghentikannya. Wajah manis dengan bingkai surai hijau itu memelas menatap Bunny, berharap agar kelinci itu kembali mengecat telur saja dibandingkan harus membuat coklat yang menurut teorinya sangat bertentangan dengan hukum tabula rasa.
"Kumohon Bunny, jangan yang terlalu manis. Jangan yang membuat gusi bengkak, dan jangan yang membuat gigi bolong." pekik Tooth panik, sekilas melirik sumber karies dari dalam kulkas—yang kalau semuanya dikonsumsi, akan membuat orang yang memakannya dijamin sibuk bolak-balik ke dokter gigi.
"Kan bukan aku yang makan. Tidak apa-apa deh, yang penting cepat selesai!"
Mendengar jawaban Bunny, gadis itu meremas genggamannya lebih kuat.
"OUUUCH!"
Untuk ukuran tubuhnya yang mungil, Tooth benar-benar memiliki daya cengkeram yang luar biasa.
"Jangan. JANGAN pakai karamel! Gigi Jack bisa berkarat!"
Ancaman dari intensitas tatapan Tooth hanya direspon Bunny dengan tampang datar.
Mendadak, sekelebat pasir berwarna emas hadir diantara mereka, menyeruak ke dalam mesin pendingin kemudian mengambil sepotong besar coklat dengan warna paling gelap.
"Sandyyyyyyy! Kau pintar sekali! Coklat hitam memang tidak terlalu manis, aku yakin Jack pasti suka!" sorak Tooth yang akhirnya melepaskan siksaannya dari pergelangan Bunny.
Sandy yang mendengarnya tersipu sejenak, lalu menyerahkan coklat hitam itu ke tangan Tooth. Sementara dia sendiri mengambil karamel dalam jumlah banyak yang langsung dicicipinya di tempat.
"North... kita akan menggunakan coklat ini." desak Tooth lagi yang kini terbang rendah ke arah North.
Sementara Bunny yang sudah kehilangan pengawasan kembali meraih sepotong besar coklat putih incarannya dari dalam kulkas. Berusaha mengabaikan perdebatan—yang tertangkap oleh pendengarannya yang sensitif.
"Coklat hitam? Jack itu masih anak-anak, Tooth. Sebaiknya dia diberi coklat susu, itu baik untuk pertumbuhannya! Hei Phil, ambilkan coklat susu lalu taruh di wadah ini!" Pria berjanggut putih tebal itu memberikan komando pada salah satu Yeti andalannya.
"Dia sudah jadi pelindung seperti kita, North. Dia tidak akan pernah bertambah tinggi lagi..." koreksi sang peri gigi kesal. Tang kecil tooth merebut wadah stainless steel yang akan dipakai North untuk melumerkan coklat, lalu melemparnya pada elf terdekat sehingga makhluk malang itu terperosok di lantai.
"Ho-ho, kau akan ikut memasak, sweetheart? Para Yeti lebih tau cara membuat coklat yang enak. sebaiknya kau diam saja dan melihat mereka bekerja." komando North tidak habis akal seraya memantau para Yeti memasukkan pecahan besar coklat susu ke dalam wadah lain.
"Coklat hitam sajaaa!" kata Tooth memaksa.
"Diamlah kalian berdua! aku ingin hari ini berakhir dengan damai!"
Teriakan Bunny di kejauhan memecah pertengkaran kecil yang terjadi antara Santa Claus dan peri gigi. Bunny sendiri sudah selesai melelehkan coklat putih di wadahnya.
"OH, TIDAK! Coklat putih terlalu ngilu, Bunny!"
"Yeah! Coklat hitam terlalu pahit, Mate!"
"Coklat susu baik untuk pertumbuhan!"
Setiap suara tidak ada yang mau kalah. Bahkan Sandy—walau tidak bersuara, namun cukup vocal dalam menyuarakan aspirasi melalui pasir-pasir ajaib miliknya. Pemilik acara yang sedari tadi mencoba sabar mulai naik pitam,
"Dengar! Ini keputusanku apakah aku mau pakai coklat putih atau hitam, memakai coklat susu atau karamel, memakai bubuk teh atau kopi atau sambal terasi ataupun pakai bumbu soto! Bukannya kau yang tadi bilang padaku kalau aku harus mengerjakannya sendiri, Nick? JADI BIARKAN AKU MELAKUKAN DENGAN CARAKU!"
Kalimat asertif Bunny telak membuat semua yang ada di ruangan kicep.
"Emm... kita semua sayang Jack, kawan. Paling tidak biarkan kami membantu..." urai North mencoba menenangkan Bunny.
yang iris Hijau hanya bisa mendengus pasrah dan mempersilahkan rekan-rekannya melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Di pihak lain, Sandy masih sibuk dengan karamelnya. Diam-diam dia memasukkan coklat pilihannya ke dalam loyang milik Tooth. Walaupun tidak ada yang tahu apakah Sandy bisa memasak coklat atau tidak, tapi keputusannya untuk menambah karamel ke dalam coklat hitam kelihatannya bukan sebuah keputusan yang tepat.
"Di mana cetakannya?" tanya Bunny lagi.
"Di sini!" seru North seraya menunjuk pada bagian teratas barisan loyang yang baru saja dibereskan. Terlihat talam-talam yang terbuat dari kuningan itu sedikit bergoyang karena ditumpuk terlalu tinggi.
"Aku ingin cetakan berbentuk bintang!" Tooth bergegas mengambil jenis cetakan yang diinginkannya. Namun saat kembali pada hasil kerjanya—yang seharusnya berwarna hitam kini dihiasi dengan garis-garis oranye hasil campuran karamel yang dileburkan oleh tangan usil Sandy, sang fairy menjerit.
"Astaga! Apa yang kau lakukan, Sandyyyyyy!"
Sandy yang terkejut lantas menyelamatkan diri untuk menghindari amarah Tooth. Namun tanpa sengaja dia menabrak Yeti yang sedang mengangkat coklat susu sehingga lelehannya terjun bebas ke dalam cetakan.
"Heiii! Hati-hati!" teriak North ikut-ikutan panik.
Terlambat.
Yeti yang beradu fisik dengan Sandy menjadi oleng hingga kemudian menimpa Yeti sebelahnya, Yeti sebelahnya dan Yeti sebelahnya. Bagai tumpukan domino, Yeti terakhir dalam urutan lintas kecelakaan itu pun menabrak North dengan sukses. Refleks, North pun menyikut elf yang sedang membawa kue coklat berhias lilin.
Percikan api menyambar kompor.
Kompor itu kemudian meledak.
Ledakannya sungguh meriah.
Dalam reka adegan lambat, suasana yang baru saja terjadi sepertinya cocok dalam klimaks sebuah film action, ketika para pemeran di dalamnya sedang berlari slowmotion menghindari lemparan granat.
Tumpahan coklat susu, hitam, karamel dan putih bercampur menjadi satu, berceceran ke seluruh penjuru ruangan. Ditambah sentuhan akhir jatuhnya loyang-loyang dengan bunyi memekakkan telinga, membuat atmosfir dapur bertambah semarak.
"Baiklah... Ada yang mau menjelaskan ini semua...?"
Sang Pooka menatap kumpulan pelaku yang terjatuh tumpang tindih di bawah kakinya. Tersembunyi luapan emosi di balik suara renyah beraksen Australia itu ketika bulu-bulu biru keabuannya kini terasa lengket dan berubah warna menjadi coklat di beberapa tempat.
"Tentu saja! Para yeti jatuh menimpaku dan elf sehingga membuat dapurku meledak!" jelas North tanpa bersalah. Jarinya menyingkirkan lelehan coklat dari sudut matanya kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Hmm, manis—" lanjutnya.
"Uhhh... sekujur tubuhku jadi kotor... ini lebih parah daripada tidak sikat gigi selama dua hari." Tooth mengerang sambil mencoba berdiri, mengibaskan tangannya yang sukses berlumuran coklat hitam serta karamel. Saking kesalnya—gadis itu mengusap tangannya ke bahu Sandy, yang diikuti ekspresi kesal lantaran pasir-pasir di tubuh pria mungil itu sekarang menyatu dengan coklat.
Para Yeti dan Elf sendiri kesulitan bangun karena tertimpa oleh loyang dalam berbagai ukuran.
"Apa kalian hanya bisa mengacau? Aku sedang berusaha memperbaiki nasibku dan kalian malah membuat semuanya semakin buruk!" Bunny mulai geram mengingat kesialan yang menimpanya sepanjang hari itu.
Kelinci itu sempat menyesal pernah berpikir untuk mengunci teman-temannya lalu membakar mereka hidup-hidup. Tidak disangka kalimat serapah itu hampir menjadi senjata makan tuan.
Untuk sekarang, dia lebih ingin mengikat semua oknum kerusuhan lalu menendang mereka dari tebing.
"—kalau saja hari ini bukan tanggal empat belas! Kalau saja hari ini bukan Valentine! kalau saja hari ini Paskah dan tiap hari adalah Paskah, aku tidak perlu mengurusi bocah brengsek itu, mengurusi kehebohan kalian, juga mengurusi coklat-coklat laknat ini!" rutuknya setengah berteriak.
Tiga sekawan itu hanya bisa hening menerima amarah Bunny.
"Aku memang tidak paham seberapa berharganya hari Valentine, tapi aku tidak mau setengah-setengah dalam memberikan sesuatu. Baik itu telur di hari Paskah, maupun hanya sekedar coklat di hari yang-sangat-sangat-sangat biasa seperti Valentine. Jadi jangan menggangguku lagi karena akulah yang bertanggung jawab memberikan coklat ini untuk Jack, PAHAM!?"
"Untukku?"
Seluruh pasang mata di ruangan seketika beralih ke arah sumber suara yang kini berada di ambang pintu. Dilihat oleh mereka sang winter spirit sedang berdiri disana memeluk tongkat kebanggaannya diiringi air muka heran.
Bulu kuduk Bunny sekali lagi berdiri.
"J-Jack...?
To be Continued...
.
.
.
*Couverture: jenis coklat batangan yang menggunakan Cocoa Butter dengan presentasi tinggi.
(Masih) Curhat Author:
Chapter berikutnya adalah chapter terakhir. Bersiaplah menyantap rating M untuk 'Manis'.
#jadi dari awal author nipu rating?
#kenyataannya humor, kan?
#dilempar ke sumur
R&R maybe?
