Kuroko No Basuke Belongs Tadatoshi Fujimaki

.

.

.

Midorima

Midorima meringis ngilu melihat pergelangan tangannya dengan bentuk cap gigi manusia disana. Terlihat memar dan mengeluarkan darah. Mati, cepat atau lambat dirinya akan mati. Seharusnya Midorima mematuhi apa yang oha asa katakan tadi pagi.

'Bagi para cancer berhati-hatilah dan pastikan untuk tidak keluar rumah. Untuk berjaga-jaga lucky item mu hari ini adalah pistol.'

Midorima memang membawa pistol- pistol mainan lebih tepatnya karena Midorima tidak mungkin membawa pistol asli kestadion untuk menonton pertandingan final antara Rakuzan dan Seirin dan lagipula Midorima juga tidak punya pistol sungguhan. Pistolnya masih dalam genggamannya saat orang-orang mulai menjerit dan berteriak. Berlari untuk menyelamatkan diri mereka sendiri tidak peduli menabrak, menginjak atau memukul seseorang. Pun dengan Midorima, manik hijaunya menyipit saat kakinya melaju dengan kecepatan tinggi untuk mencari tempat persembunyian yang aman untuk sementara. Tidak peduli dimana rekan anggota timnya yang lain kecuali Takao yang berlari dibelakangnya.

Terus berlari dengan sesekali menendang undead yang menyerang dan memukulnya menggunakan pistol mainannya tepat dikepala. Tidak pecah, namun cukup untuk membuat benjolan dikepala undead. Takao dibelakangnya menggunakan pecahan vas bunga untuk menyerang undead secara membabi buta dengan tubuh gemetaran yang untungnya efektif untuk mengahambat laju undead berkat kemampuan matanya.

"Shin-chan kita tidak bisa terus berlari kedepan." Takao berucap perlahan. Nafasnya tersengal-sengal dan matanya menyipit memindai keadaan sekitar. "Terlalu beresiko hanya dengan senjata yang kita miliki." Lanjutnya sambil melirik pecahan vas bunga dan pistol mainan Midorima.

"Kamu benar." Midorima menarik nafasnya, kacamatnya terlihat miring diwajahnya. "Kita harus cari tempat persembunyian."

"Nuuuu !!! Tidak Shin-chan !!! kita harus keluar dari sini. Aku yakin pemerintah akan mengirimkan bantuan untuk menyelamatkan kita."

"Tapi bagaimana kita akan keluar dari sini jika mereka memblokir jalan keluarnya." Midorima berucap kesal dan menjentikkan dagunya kearah sekumpulan undead diujung lorong. "Kalaupun kita harus keluar, kita harus cari jalan keluar lainnya."

Takao merengut namun membenarkan perkataan Midorima. Yang harus dilakukannya sekarang adalah tenang dan berpikir untuk mencari solusi agar dirinya dan Midorima dapat keluar dari sini. Jelas pintu masuk stadion tidak bisa dilewati, pintu keluar darurat pun sama karena orang-orang akan berpikir untuk keluar lewat sana. Pintu belakang stadion ?

Takao menggaruk bagian belakang kepalanya, terkekeh geli memikirkan stadion sebesar ini memiliki pintu belakang seperti dirumahnya. Kalaupun ada jalan untuk keluar, maka itu harus tidak diketahui orang, tersembunyi, dan sedikit sempit serta kecil seperti difilm-film yang ditontonnya ditv.

"Shin-chan kita lewat ventilasi udara !!!" Seru Takao senang. "Sedikit sempit, kecil, tersembunyi dan aku yakin sekali orang-orang tidak akan punya memikiran yang sama dengan kita."

Midorima merenung memikirkan ucapan Takao. Benar, hanya orang-orang seperti Takao yang akan berpikir untuk keluar lewat ventilasi udara. Berharap saja tubuhnya dapat masuk dan tidak terjempit nantinya.

"Baik aku masuk duluan." Katanya egois. Sabodo amat dengan Takao. Midorima yakin otak Takao lebih pintar dari pada undead.

"Okeyy Shin-chan tapi aku jangan ditinggal."

Midorima menatap kelangit-langit stadion dan itu hanya satu meter jaraknya dari tempat mereka berdiri Midorima melihat ventilasi udara. Tanpa berpikir dua kali, Midorima melangkah cepat keventilasi diikuti oleh Takao.

" Takao Jongkong." Perintah Midorima. Takao tanpa banyak tanya berjongkong menghadap kedinding dan menempelkan kedua tangannya untuk membantu menahan bobot Midorima.

Boleh jujur ? Midorima berat dan tidak adil dimana seharusnya Takao lah yang masuk terlebih dahulu serta berdiri diatas bahu Midorima untuk mencapai ventilasi udara.

Ini lah resikonya jadi pengikut setia Midorima. Takao mendadak nelangsa dengan air mata imajiner.

"Berhasil dibuka." Suara Midorima terdengar dari atasnya dan Takao bersyukur berat badan Midorima akan segera hilang dari bahunya. "Aku akan naik lalu aku akan menarikmu."

Takao mengangguk, menunggu dengan sabar saat Midorima mulai bergerak untuk naik keatas.

"Takao."

Takao mendongak menatap wajah serius Midorima diatasnya. "Saat kepalaku sudah masuk bantu dorong tubuhku."

Takao mendengus dan menganggukkan kepalanya. Pikirannya komat-kamit menyuruh Midorima untuk segera naik karena Takao hampir tidak dapat merasakan bahunya lagi. Perlahan Takao merasakan berat badan Midorima mulai menghilang dan berdiri untuk membantu mendorong tubuh Midorima masuk kedalam ventilasi.

"Dorong Takao." Seru Midorima dari atas. Suaranya sedikit terendam atap stadion.

Takao mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong Midorima keatas, dan mata rajawalinya tidak sengaja melihat sekumpulan undead yang dilihatnya diujung lorong mulai bergerak kearahnya.

Tubuhnya mulai gemetaran dan lemas. Wajahnya memucat dan kepalanya pening menghadapi situasi dalam salah satu adegan film saat sang tokoh utama mulai terpojok dan hanya punya satu jalan keluar.

"Sedikit lagi Takao." Suara Midorima terdengar lagi, tapi tubuh Takao sudah lemas. Tenaganya hilang entah kemana hanya melihat sekumpulan undead berjalan kearahnya. Bergerak sialan, Takao mengumpat dalam hati. Sekuat tenaga mencoba mendorong tubuh Midorima dengan tubuh gemetaran saat sekumpulan undead hanya berjarak 2 meter darinya.

2 meter

Sial, sial, sial, sial

1,5 meter

Sial !!! Shin-chan kenapa berat badanmu mirip ayahku.

1 meter

Ayah ampuni Kazu karena gembesin ban motor ayah.

Hanya tersisa lima langkah jaraknya dengan salah satu undead yang berjalan paling depan seolah memimpin sekumpulan undead untuk menuju kearahnya. Tubuhnya mati rasa, tenaga yang berhasil dikumpulkannya kembali hilang menjadi butiran keringat ditubuhnya.

Bagaimana ? Bagaimana ? Bagaimana brengsek !!! Takao tidak mau mati disini dan menjadi undead. Takao juga tidak mungkin lari dan meningglkan Midorima dengan tubuh setangah tergantung diventilasi.

Apa ?

Tarik. ! Tarik Midorima untuk turun dan berlari menuju ujung lorong satunya.

Sail, maaf Shin-chan.

Dengan sisa tenaganya Takao menarik Midorima jatuh tepat dengan undead yang mencapai kearahnya. Mata Midorima melebar, tubuhnya mendadak tegang menatap tidak percaya pergelangan tangan kanannya tepat mendarat diantara mulut undead diikuti oleh rasa sakit yang menyengat dipergelangan tangannya.

"SHIN-CHAN LARI !!!!!" Takao menarik tangan kiri Midorima setelah menendang undead yang menggigit pergelangan tangan Midorima.

Murasakibara

Murasakibara menatap gulungan tisu ditoilet dengan pandangan bosan, mengira-ngira berapa banyak lembar tisu yang akan digunakannya nanti untuk membersihkan bagian belakang tubuhnya. Perutnya masih terasa melilit tidak karuan setelah melahap Tokayaki dari Aomine yang ternyata buatan Satsuki.

"Eng...kira-kira Aka-chin menang tidak yah ?" Gumam Murasakibara sambil menarik gulungan tisu.

Menarik celananya keatas setelah selesai dengan 'panggilan alamnya' dan memeriksa kembali barang-barangnya sebelum melakah keluar dari bilik kamar mandi. Slot pintu ditarik perlahan hingga terbuka dan menutupnya sekencang yang dia bisa.

Tangan besarnya dengan cepat merogoh saku celananya dimana ponsel flip ungunya berada. Mencari nama pengasuhnya dikontak telephon dengan cepat dan mengiriminya pesan.

[Muro-chin kenapa dikamar mandi ada orang makan orang ?]

Tbc

Fans Midorima tolong jangan gebukin saya :v