.

.

Bangtan Sonyeondan (c) BigHit

iKON (c) YG

Hiding ; Skool Luv Affair (c) americhxno

.

.

.

Jeon Jeongguk mencintai Sains, karena Sains adalah satu-satunya ilmu pasti selain Matematika, dan menurutnya tidaklah sulit mempelajari sesuatu yang pasti.

Jeon Jeongguk mencintai Sains, karena setiap kalinya dia akan mempelajari sesuatu yang baru, sesuatu yang sebelumnya tidak ia ketahui, sesuatu yang tidak ia sangka.

Jeon Jeongguk bersungguh-sungguh ketika mengatakan bahwa ia mencintai Sains, karena gurunya menyenangkan dan tidak pelit nilai kepadanya. Pun, gurunya masih muda, tidak sulit untuk mengajaknya bercanda dan di ajak membicarakan hal-hal yang tidak penting.

Tatkala pergelangan tangannya tidak sengaja menyenggol proyek yang kelompok Sains-nya tengah lakukan untuk kegiatan praktikum, itu bukan berarti kecintaannya pada Sains berkurang dan berpindah ke pelajaran Seni—walaupun tidak bisa di pungkiri bahwa Jeongguk lebih mencintai Seni dari apapun.

.

"Jeongguk," Cengirannya semakin lebar ketika Junhoe melangkah mendekatinya, dan luntur seketika saat Junhoe mendorongnya ke luar dari ruang kelas yang mereka gunakan untuk membuat proyek tersebut. "Tunggu kami di ruang seni, oke?"

Tepat setelah pintu tertutup, Jeongguk menggumamkan, "Blah blah blah." Dan tersentak ketika pintu di hadapannya di ketuk beberapa kali secara agresif—yang Jeongguk asumsikan merupakan ulah Junhoe.

Tidak mau menghabiskan energinya lebih banyak dengan berdiri di koridor yang sudah beranjak sepi, Jeongguk segera melangkah menuju ruang seni, di mana Junhoe agaknya sedikit lebih berkuasa menyinggung dia adalah seorang ketua klub yang satu ini. Dalam hati mengutuk mengapa saat itu ia bisa kalah kampanye, padahal ia sudah mentraktir seluruh anggota klub seni untuk memilihnya menjadi ketua.

Adalah dengkuran halus yang Jeongguk asumsikan dari seorang pemuda, yang pertama kali menyambutnya ketika tiba di ruang seni. Dia bukanlah pemuda yang mudah percaya akan sesuatu yang berbau supernatural—tidak seperti Jimin yang selalu ia goda mengenai hal yang satu ini, maka dari itu ia mulai melangkah menggitari seisi ruangan, dan berhenti di depan sebuah lemari penyimpanan.

Lemari penyimpanan dengan warna dasar hitam ini memang selalu di biarkan kosong melompong, dan hanya di isi kalau-kalau lemari penyimpanan lainnya penuh—yang kemudian sia-sia Junhoe beli karena beberapa lemari penyimpanan yang lain bahkan sulit penuh. Jeongguk berjongkok, menarik salah satu pintunya dan pupilnya membesar ketika netranya memerangkap sosok yang agaknya familiar.

Kalau memorinya sedang tidak bermasalah kini, pemuda yang tengah tidur dengan nyaman di dalam lemari penyimpanan yang tidak besar dan menghasilkan dengkuran halus ini bernama Kim Taehyung. Pemuda kelas tiga yang seringkali menghabiskan waktu bersama Jimin karena keduanya merupakan sahabat sehidup semati (begitu kata mereka), pemuda yang seringkali Jeongguk perhatikan juga—atau pernyataan lebih tepatnya, Jeongguk selalu memperhatikan bibirnya yang akan selalu membentuk persegi panjang apabila tersenyum lebar, dan ia menganggap hal itu manis.

Oke, rasanya aneh memikirkan senyum berbentuk persegi panjang saat ini, karena dengan pemikiran tersebut saja mampu membuat Jeongguk mengulas senyum lebar. Mungkin hal yang harus ia pikirkan saat ini adalah, bagaimana caranya Taehyung bisa masuk ke dalam lemari penyimpanan dan tidur dengan nyaman di dalam sana. Secara, Taehyung termasuk pemuda yang cukup tinggi, dan ia selalu menghabiskan sebagian waktunya di sekolah di laboratorium komputer untuk menonton anime, atau di perpustakaan untuk membaca serial manga karena ia tidak suka terlibat dalam klub apapun (tidak, bukannya Jeongguk selalu mengikutinya kemanapun ia pergi, karena sungguh, hal yang satu itu terdengar menyeramkan. Ia hanya sering mendengar Jimin menceritakan tentang Taehyung, oke?). Mustahil rasanya untuk muat di dalam lemari penyimpanan ini, tetapi Taehyung mampu melakukannya.

Jeongguk mafhum, dan memutuskan untuk tidak menutup kembali pintu tersebut, untuk menjaga sirkulasi udara. Padahal, modus.

"Aduh!"

Fokus Jeongguk terpecah, kemudian menoleh ke arah Taehyung yang kini menggeliat berusaha keluar dari lemari penyimpanan yang jelas-jelas satu ukuran dengan tubuhnya, sembari mengusap puncak kepalanya yang Jeongguk yakini terantuk kayu saat terbangun.

"Taehyung-sunbae, tidak apa-apa?"

Taehyung menoleh, dan Jeongguk harus menahan diri untuk tidak menertawakan ekspresi lucunya saat menyadari ada orang lain di ruangan yang ia kira sudah tidak akan berpenghuni sampai malam nanti. "Shh! Aku sedang bersembunyi!" Taehyung melompat dari posisi duduknya, dan menimpa Jeongguk yang kini terkejut karena telapak tangan Taehyung sedang menutupi mulutnya saat ini.

Pemuda satunya yang tengah di timpa tersebut mendesis, mengeluarkan suara sejenis "mfhh" atau "pfhh", kendati kesulitan bernafas—telapak tangan Taehyung memang cukup besar, oke? Di sisi lain, Taehyung, seolah mengerti, menjauhkan tangannya, tetapi sama sekali tidak berniat untuk menjauhkan tubuhnya dari milik Jeongguk.

"Sekarang sudah malam." sahut Jeongguk menjelaskan, dan kemungkinan besar manusia yang sedang mencari Taehyung sudah kembali ke rumah.

Taehyung —yang entah sejak kapan memosisikan kepalanya dengan nyaman di dada milik Jeongguk— membesarkan pupilnya, sama seperti dirinya saat pertama kali menemukan Taehyung di dalam lemari, bedanya Taehyung memiliki ekspresi yang lebih... manis? Jeongguk meringis pelan, berusaha menghilangkan pemikiran 'nyeleneh'-nya. "Oh, ya? Kau sendirian di sini?"

Jeongguk mengangguk. "Tadi beberapa anggota klub seni pun datang, namun aku menutup lemari penyimpanan tersebut karena kukira sunbae terlalu lelah untuk di ganggu?"

Spontan Taehyung beranjak dari posisi meletakkan-kepala-dengan-nyaman-di-atas-dada-orang-asing-di-sekolah, sepertinya menyadari apa yang ia lakukan, dan Jeongguk dapat melihat semburat merah tipis di pipinya. "Taehyung saja."

"Jeon Jeongguk." Dia sengaja menyebut namanya dengan lantang, dalam hati berharap setidaknya Taehyung akan terus mengingat namanya.

Taehyung mengernyit, menunjuk sosok Jeongguk yang kini menunggunya menyuarakan apa yang ada dipikirannya. "Kau... teman Jimin-ie juga, 'kan?"

Jeongguk tertawa kecil, merasa aneh dengan sebutan 'Jimin-ie' menyinggung dirinya selalu memanggil Jimin tanpa sufiks apapun, dan ia tetap melakukannya karena Jimin sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. "Iya, aku temannya Jimin. Jimin pun sering menceritakan tentang sunbae kepadaku."

"Taehyung," Ia meralat, dan Jeongguk tidak tahu apakah ada yang salah dengan kalimatnya, sebab sejenak ia merasa kalau Taehyung sempat salah tingkah. "Kau tidak mau pulang?"

Pemuda Jeon itu menyengir, "Tentu saja mau, sunbhyung, tetapi rasanya tidak enak meninggalkanmu sendirian di sini." Sementara lawan bicaranya semakin salah tingkah, namun mampu menutupinya dengan beranjak dari duduknya dan mengajak Jeongguk keluar dari ruang seni.

Memang sudah cukup malam untuk tetap berada di sekolah, tetapi rasanya Jeongguk tidak akan menjadikannya sebagai masalah besar, karena tadi ia sempat disuguhkan wajah menggemaskan milik Taehyung saat terlelap di dalam lemari penyimpanan. Keduanya berjalan bersisian di koridor, dan entah perasaan Jeongguk saja atau bagaimana, semakin jauh keduanya berjalan, semakin dekat pula posisi Taehyung dengan lengannya.

"Hyung, mau kuantar?"

"...Huh?"

"Mau kuantar? Aku membawa motor untuk ke sekolah." Jeongguk mengulang perkataannya tanpa merasa kesal—sesungguhnya dia masih tergolong remaja yang emosinya labil, dan seringkali merasa kesal karena di suruh mengulang apa yang dia minta, kok. Karena, sekali lagi, ekspresi Taehyung tadi tidak kalah menggemaskan dengan wajahnya yang sedang tidur.

Taehyung mengusap tengkuknya. "Kau tidak masalah?"

"Kalau bermasalah, maka aku tidak akan menawarkan tumpangan, hyung." sahut Jeongguk, kemudian tertawa kecil dan memberikan helm cadangan yang memang selalu ia bawa—Junhoe yang mengaku irit padahal pelit selalu menumpang dengannya, kalau mau tahu. Tatkala Taehyung tidak juga beranjak, Jeongguk kembali turun dari motornya dan memasangkan helm yang hanya di genggam oleh Taehyung, hingga menutupi kepala milik Taehyung, dan dia kembali meloloskan tawa kecil.

Keduanya berada di atas motor milik Jeongguk yang melaju dengan kecepatan sedang saat ini, menuju rumah Taehyung yang berada di kawasan distrik Yongsan, saling membicarakan sesuatu yang tidak penting, sesuatu yang di sukai dan tidak di sukai keduanya. Memang karena Taehyung yang masih mengantuk, atau karena angin malam yang /adem/ dan membuatnya kembali mengantuk, Jeongguk bisa merasakan kepala berbalut helm milik Taehyung berbentur pelan dengan punggungnya, dan mendengar dengkuran halus dari arah belakang. Takut Taehyung terjatuh (sekali lagi, karena ia takut Taehyung terjatuh), ia meraih kedua tangan Taehyung yang menggantung di kedua sisi motornya agar melingkar di pinggangnya. Dan, Jeongguk bisa merasakan pelukan tersebut kian mengerat.

.

Taehyung, yang masih dalam kondisi setengah tidur tersebut, mengulas senyum tipis dan berpikiran untuk tidur lagi di dalam lemari penyimpanan, mengabaikan tubuhnya yang sedikit sakit karena ia paksakan untuk masuk ke dalam.

Jeongguk, di sisi lain, berasumsi mungkin ia akan memakan ucapannya tentang ia yang mencintai seni lebih dari apapun dalam waktu dekat. Karena eksistensi Taehyung sekarang.

.

.

.

A/N: ano— ada yang mau tukeran username Twitter sama saya? ceritanya butuh A.R.M.Y INA pula buat mengisi timeline (?)

dan, terimakasih buat yang udah mau review pointless-fic saya ; - ;