Sudah seminggu Hayama Kotarou meminta nomor Momoi ke Aomine. Sampai hari ini belum juga digubris. Momoi bukannya jahat, melihat teror pesan yang mampir di ponsel Aomine (sekarang sudah dihapus) itu membuatnya khawatir. Takut kalau harinya diganggu dengan serentetan pesan yang tidak sedikit meneror dan sungguh periferal.
Momoi juga tidak mengontak Akashi, sebab mantan kapten Teiko itu tak membalas pesan protesan Aomine sejak seminggu lalu. Maka Momoi mengurung niat dan semedi sendiri saja.
Kasih gak ya kasih gak ya kasih gak ya-begitu polemik batinnya.
Selagi tim basket sedang latihan rutin, Momoi duduk tanpa memandang rekan-rekannya. Di tangannya ponsel Aomine bertengger, ditimbang-timbang.
Lintasan bola nyaris menabrak, langsung dipotong oleh tangkapan Aomine. Momoi terlonjak kaget, merasa bersalah karena tidak memerhatikan latihan. Aomine menyiratkan amarahnya lewat tatapan mata.
Sakurai Ryou berlari dari seberang, membungkuk berkali-kali, "Maaf, Momoi-san! Operanku meleset, maaf! Maafkan aku, Momoi-san! Maaf! Maaf! Maaf! Seharusnya aku berlatih lebih baik, maaf! Maafkan aku!"
Momoi beranjak berdiri, meringis, "Ti-tidak apa-apa, Sakurai-kun..."
Wakamatsu menghampiri, "Kau juga, jangan bengong. Apa kau sakit? Kalau iya, kau boleh libur dulu."
"Ti-tidak, aku baik-baik saja," Momoi langsung menyahut.
Dasar anak Rakuzan, mengganggu aktivitas manajer tim Touou saja, batin Momoi, sembari mengulas senyum tipis.
.
.
"Aku mohon, Akashi!"
Hayama Kotarou sampai bersimpuh di hadapan Akashi Seijuurou, tidak jarang juga bersujud sambil memohon. Sang kapten tidak mengindahkan, tetap fokus menembak bola ke arah ring.
Reo dan Nebuya tetap apatis. Kotarou kalau ada maunya, ada-ada saja tindakannya.
"Kumohon, Akashi! Ayo buat proposal! Aku deh yang buat! Ayo latih tanding dengan Akademi Touou sekali lagi!"
Dan Akashi Seijuurou tidak perlu menuruti kemauan anggotanya. Mana ada sejarahnya Rakuzan mengadakan latih tanding dengan sekolah yang sama dalam jangka waktu kurang satu tahun. Bahkan lebih parahnya, kurang satu bulan.
Permintaan Hayama Kotarou sangat konyol, Akashi bersikap bijaksana dengan menolak ajuannya.
"Jangan biarkan dirimu dikuasi ego, Hayama. Bangunlah, minggu depan kita latih tanding dengan Universitas Kyoto."
"Aku tahu! Makanya-"
"Bangun."
Kotarou bergidik. Kalau sudah intensitas suara Akashi membuat bulu kuduknya merinding, maka tak ada lagi rayuan yang mampu meluluhkan hatinya.
Reo menariknya bangun, "Jangan manja, Kotarou. Cepat latihan, lawan kita minggu depan itu bukan tim biasa."
Kotarou melenguh, "Tapi sebelumnya kita menang lawan anak kuliahan, kan."
"Jangan meremehkan lawan," Reo mengoper bola, "nah, sekarang perbaiki kekuranganmu. Fokus, hei, fokus."
"A-ada pesan! Ponselku bunyi, sebentar, Reo-nee!"
Reo mendengus, Kotarou berlari menuju bangku di pinggir lapangan. Buru-buru membuka tas dan melihat ponsel.
Entah kenapa bibirnya ikut membentuk kurva. Kalau paras Kotarou sudah berubah, senyumnya mengembang, aura bahagianya menguar, maka hari ini Hayama Kotarou berada di kemampuan terbaiknya.
.
.
.
kenapa begitu sulit
an original fanfiction written by siucchi
Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
i gain no profit
PS : you are reading a crack pair fanfiction, Hayama Kotarou x Momoi Satsuki! XD
Enjoy!
.
.
.
Momoi sudah tidak berdebar lagi. Sampai malam ini ia sedang berkirim pesan dengan anak Rakuzan di luar sana. Karena tidak bisa membiarkan si anak Rakuzan mengganggu Aomine, akhirnya Momoi memutuskan untuk mengontak langsung. Mengirim pesan dan meminta Hayama Kotarou langsung menghubunginya ke nomor ini.
Fast respon, Momoi sampai tak enak hati kalau tidak membalas kilat juga.
Rupanya Kotarou tidak secaper pesan-pesan yang meneror Aomine. Momoi merasa anak Rakuzan bernomor tujuh itu asik juga. Apa pun yang diungkit Momoi, nyambung saja dengan Kotarou. Rasa-rasanya seperti Kotarou sangat pintar membawa diri. Supel, ramah, pandai bersosialisasi.
Sore tadi, setelah tim basket mengusaikan latihan rutin, atas dukungan teman seperjuangan sebagai manajer, Momoi akhirnya memberanikan diri mengontak Hayama Kotarou. Mengirimnya pesan dengan iming-iming minta maaf karena sudah mengabaikan si Anak Rakuzan, juga meminta Kotarou untuk mengirim apologi ke Aomine. Dan secepat kilat permintaannya disetujui.
Momoi merasa bersalah karena sudah ngeri duluan. Apa boleh buat, tatapannya memang menakutkan. Sewaktu latih tanding di Rakuzan, Kotarou menatapnya lamat-lamat seperti hendak memangsa. Belum lagi gigi taring yang menyembul ketika mulutnya terbuka.
Kalau sudah disuguhi pandangan seperti itu, gadis mana yang tidak takut?
Sebelum tidur, Momoi mengakhiri kegiatan berbalas pesannya.
Dibalas oleh Hayama;
Aku akan senang sekali kalau besok Momoi-san mau chattingan denganku lagi. Baiklah, selamat malam.
Momoi mengulas senyum, mematikan layar ponselnya, menarik selimut, memejam mata.
Setidaknya, satu beban berkurang.
.
.
Mibuchi Reo mendapati wajah temannya sumringah. Kabar baik itu masih berlangsung hingga sekarang. Hayama Kotarou menggebor-geborkan hubungannya dengan manajer tim basket Akademi Touou secara berlebihan, padahal cuma teman. Reo mau tidak mau harus mau terikut bahagia. Nebuya hanya menguap, selain makan tidak ada yang menarik perhatiannya.
Di kelas pun Kotarou suka iseng-iseng lirik ponsel. Reo memerhatikan gelagatnya. Kadang itu anak mukanya bahagia, kadang menekuk.
Ketika latihan rutin pun Kotarou suka iseng menghampiri bench. Ketika dilarang Akashi, ia tidak lagi mendekati tasnya.
Reo bersuara, "Jangan kelewatan, Kotarou. Kita sedang berlatih."
"Aku tahu, Reo-nee!" Kotarou tertawa.
"Kau daritadi bolak-balik terus."
"Sekarang sudah tidak, kok, hehehe!"
"Hm? Benarkah?"
"Benar! Momoi-san juga latihan kan jam segini, kami sepakat untuk tidak melihat hape!"
Ternyata itu alasannya.
.
.
Hari-hari berikutnya pun begitu. Kotarou terkadang terlihat sangat kuat, kadang juga uring-uringan, bergantung pada suasana hatinya. Akashi pernah menegur, Reo berkali-kali berpetuah. Kalau sudah diprotes Kotarou pasti balik lagi, lincah lagi, mencetak poin lagi.
Hingga tiba hari di mana mereka akan berangkat ke Universitas Kyoto, menghadiri undangan latih tanding dengan tim senior.
Kotarou sudah berkabar dengan Momoi, bahkan hampir seluruh aktivitasnya ia selalu memberi tahu. Hampir semua anggota tim basket mengetahui hubungan Kotarou dengan manajer tim Touou. Rekan-rekannya bilang Kotarou berlebihan, Kotarou bilang, namanya juga orang jatuh cinta.
Anggota lapis dua menyenggol siku Kotarou, menyelutuk, "Lalu, apa kabar mantanmu yang sekelas denganku itu?"
Kotarou menoleh, "Oh, dia, aku masih komunikasi, kok!"
"Iya, tau sih... manajer Touou itu orang jauh, lho, kau jangan membuatnya seperti mantanmu itu, Kotarou."
Kotarou terkekeh, "Mana mungkin, Momoi-san itu spesial! Aku jatuh cinta pada pandangan pertama!"
"Si mantanmu itu juga pada pandangan pertama, kan."
Kotarou masih tertawa, melanjutkan chat dengan Momoi sembari naik kereta, menuju universitas Kyoto.
Teman-temannya, termasuk para junior, ikut serta mendukung hubungan Kotarou dengan gadis nun jauh di luar sana.
.
.
Hari ini Momoi Satsuki sudah berkali-kali bilang ke Hayama Kotarou, sudahi dulu chatnya, fokus ke pertandingan. Mentang-mentang kondisi kaptennya sudah lebih baik, Kotarou jadi tidak tegas lagi kepada dirinya sendiri. Suka lalai dan kadang tidak mematuhi aturan.
Selama aku menang, tidak apa-apa, kan?
Pesannya kemarin membuat Momoi tertegun. Memang benar, Rakuzan hanya mengalami kekalahan saat winter cup tahun lalu, sisanya tidak lagi. Motto tim mereka bangkit lagi, semakin membaik. Tapi Momoi tidak ingin disalahkan juga kalau ia jadi penyebab perubahan kondisi hati mau pun mental Kotarou.
Sayang sekali hari ini Aomine Daiki membatalkan acaranya untuk membeli sepatu basket baru. Momoi jadi tidak punya aktivitas di hari minggu cerah ini.
Padahal sudah menolak ajakan karaoke bersama teman sekelas, bisa-bisanya Aomine juga batal. Sekarang Momoi jadi bete sendiri. Kotarou tidak lagi membalas pesan-karena ia sedang latih tanding dengan tim senior di Universitas Kyoto.
Maka, dengan dandanan yang sama ketika Momoi bersiap-siap untuk menemani Aomine belanja sepatu, Momoi segera bergegas ke luar rumah dan menghampiri rumah tetangganya. Memanggil Aomine, dan nyelonong masuk karena tidak dijawab.
Kedua orangtua Aomine bekerja, sering dinas ke luar kota, maka tugas Momoi juga untuk membangunkan Aomine kalau orangtuanya tidak di rumah. Sehingga tidak heran kalau Momoi punya kunci serep rumah teman sepermainannya.
Di ruang tamu, Aomine sedang tidur dengan urakannya. Urat marah tampak mencoret pelipis si gadis.
"Dai-chan! Ini sudah siang!" pikaunya.
Yang tertidur di sofa tidak menyambut, sudah bosan dengan gelegar suara yang sering mampir ke telinga untuk sekadar menyahut.
Momoi melangkahi beragam majalah dewasa yang terserak di lantar, menyerocos panjang sambil mengutuki Aomine, juga meminta agar kawannya segera tobat.
Remote AC di atas bupet segera diraih, tombol merah dipencet. Setelahnya Momoi membuka jendela, membiarkan udara pagi-hampir-siang menembus retina, menyalak Aomine yang langsung terlonjak seketika.
Momoi mendengus, selembar kaos di kursi segera dilempar.
Aomine mengucek mata seraya menangkap pemberian Momoi. Tanpa perlu mengenakan garmen, ia menguap lebar, masih duduk bersandar di sofa.
"Aku kesal karena Dai-chan tiba-tiba membatalkan janji, padahal aku sudah bangun pagi. Tapi ternyata itu semua karena Dai-chan begadang semalam dan kesiangan hari ini!" omelnya.
Aomine memangku kaos ke pundak, menguap sekali lagi, "Apa boleh buat, semalam aku bertemu Tetsu dan Kagami."
"Eeeh?!" Alarm imajiner langsung menyalak keras di benak Momoi. "Te-Te-Tetsu-kun?!"
"Aku one on one sampai malam, jadi telat."
"Kenapa Dai-chan tidak mengajakku?!"
Aomine mengintip dari sebelah matanya yang terpejam, mendecak, "Aku ke luar jam sepuluh untuk beli makan."
Momoi merengut, paham akan kelogisan alasan Aomine. Tapi tetap saja, tidak adil kalau hanya Aomine yang bertemu Kuroko.
Aomine meregangkan tubuh, menguap lagi, "Aku masih ngantuk."
"Tidak, kau harus bangun!"
"Kan hari ini batal."
"Kenapa kau tidak merasa bersalah sama sekali, Dai-chan?!"
"Apa sih, merepotkan."
Sumbu kesabaran Momoi tidak terbatas. Menghadapi Aomine yang seperti ini sudah seperti bernapas.
"Hari ini aku senggang, Dai-chan. Mumpung sudah bangun, ayo kita ke pusat kota saja, sekalian aku mau beli sesuatu." sahut Momoi seraya menghela napas.
Aomine terdiam, tatap setengah sadarnya menyelidik. Momoi tak gentar adu sorot, isyarat perang dingin. Tapi segera digugurkan oleh Aomine yang selalu mengalah. Sembari berdiri ia merentangkan tangan, "Pinjam hapemu."
Momoi mengerutkan dahi, "Buat apa?"
Aomine tahu, tidak biasanya Momoi menahan diri. Apalagi cuma sekadar pinjam handphone.
"Lihat jam."
Hampir di seluruh ruangan rumah Aomine jamnya mati, kehabisan baterai. Momoi sampai lupa kalau ia ingin memperbaharui dayanya.
Layar ponsel ditunjukkan, tapi masih dalam pegangan. Tidak biasanya Momoi menahan, Aomine penasaran.
"Mana, sini," katanya sambil merebut.
Momoi lantas memekik pelan, rupanya khawatir ponselnya diambil aih.
Aomine mengernyit. Jelas ada yang aneh.
Maka dengan cepat handphone teman sepermainan diambil paksa, dilayangkan ke atas (Momoi berusaha menggapai) dan tatap Aomine mengacu ke notifikasi pesan.
"Dai-chan, apa sih, kembalikan!"
Sebenarnya Aomine Daiki tidak peduli kepada siapa Satsuki berkirim pesan, tapi gelagatnya yang berusaha menyembunyikan ini membuatnya penasaran.
"Dai-chan!"
Pesan dibuka, Aomine mengerutkan dahi.
Ini si Anak Rakuzan.
Entah kenapa terlihat semakin dekat.
"Dai-chan!"
Aomine mengerjap, ponsel di tangan spontan direbut. Momoi sampai melompat demi menggapainya, apalagi Aomine sempat merasa ada sesuatu yang membentur tubuhnya ketika si gadis berontak.
Sambil mendekap ponselnya di dada, Momoi mengerut cemas, "Izin dulu dong kalau mau pinjam..." gumamnya sambil melirik layar, "ah! Kepencet calling!"
Aomine mengurut tengkuk. Astaga, sejak kapan Satsuki berani main rahasia padaku.
.
.
Setelah istirahat sepuluh menit, kuarter tiga dimulai. Hayama Kotarou sangat semangat menumbangkan lawan. Karena semakin cepat Rakuzan menang, semakin cepat pula ponsel kembali ke tangan. Kotarou tidak ada habisnya memikirkan kalimat-kalimat dramatis untuk mengabarkan kemenangannya atas tim senior.
Terlihat berang wajah lawan yang menghadapi Kotarou. Giringan bola diselesaikan, lalu dioper ke Reo yang langsung menembak tiga poin.
Akashi sesekali memberi perintah, semua yang mematuhi dipastikan mampu mencetak angka.
Peluit ditiup, istirahat dua menit sebelum memasuki kuarter terakhir.
Tim basket Rakuzan segera melepas lelah sejenak. Menerima sodoran handuk dan meneguk minuman isotonik. Sang pelatih masih berceramah sama.
Kotarou iseng mengintip ponsel, mendapati sebuah missed call dari Momoi Satsuki. Dahinya langsung terlipat, sementara tidak ada seuntai pesan pun yang masuk setelah panggilan itu.
Ia lantas menarik slide hijau dan kembali mengontak. Dalam hati meracau banyak kata, apa yang terjadi? Kenapa Momoi-san menelepon?
Shirogane Eiji berdehem, Mibuchi Reo langsung mendecak dan mengomel.
Kotarou tetap tidak peduli. Atensinya tercurah penuh ke operator di seberang yang berkata, nomor yang anda tuju tidak menjawab.
Dan Kotarou merutuk sendirian.
"Hayama." sahut Akashi akhirnya.
Peluit ditiup, kuarter empat dimulai.
Alih-alih bertekad menang, Kotarou justru ikut beranjak karena ingin berkata, "Aku khawatir sesuatu terjadi."
Kali ini Reo benar-benar berang, tapi masih berusaha ditahan, "Letakkan ponselmu, Kotarou."
"Momoi-san meneleponku, ini aneh sekali. Dia tahu aku sedang tanding, tapi kenapa? Pasti sesuatu terjadi, kan." sahut Kotarou cepat.
"Hayama," panggil Akashi lagi. Berniat memberi teguran, tapi langsung direduksi.
"Aku tidak tenang, sumpah. Aku keluar sebentar, ya? Kita sudah unggul sepuluh poin, maaf, ya!"
Punggung si nomor tujuh refleks dijerat Akashi, merah membara membakar tatapnya penuh intimidasi.
Kotarou melepas cengkraman tangan kaptennya, balik menatap tajam, "Aku harus melakukan sesuatu, Akashi!"
"Kembali ke lapangan. Sekarang." ujar Akashi tajam, penuh penekanan.
"Kita sudah unggul! Bahkan tanpa aku-"
"Aku tidak memimpin orang idiot di tim ini. Tunjukkan kehormatanmu di hadapan semua orang. Jangan kekanakan."
Peluit tanda peringatan ditujukan ke Rakuzan.
Merasa direndahkan, Kotarou menyorot intens, "Apa gunanya kau belajar simpati dan empati kalau kau tidak mampu menerapkannya?!"
"Kotarou!" sergah Reo langsung, menahan bahu Akashi yang baru saja akan memangkas jarak untuk memberi pelajaran pada anggota timnya.
Kotarou berniat mencari pembelaan, tapi paras yang ditampilkan Reo sungguh berbeda.
"Duduk di sana, sekarang."
Pemain bernomor punggung tujuh itu bergeming, menahan napas. Nada suara Reo-nee tidak lagi ringan. Itu artinya Mibuchi Reo kelewat marah.
"Kau, gantikan Kotarou sekarang," sahut Reo seraya menunjuk seorang anggota lain di bench, lalu menoleh ke Akashi, melembutkan wajah, "tidak apa kan, Sei-chan?"
Akashi menganggukkan kepala, berbalik pergi, "Ayo menangkan ini."
Kotarou melihat seorang pemain yang menggantikannya bersiap penuh semangat. Dibanding dirinya yang termakan emosi karena satu hal abu-abu, Kotarou tidak ubahnya bagai orang idiot seperti yang baru saja disebut Akashi.
"Duduk, dinginkan kepalamu." sahut pelatih.
Kotarou menarik napas dalam-dalam, kemudian mendaratkan tubuh di bangku besi. Memijat pelipis, menyadari kesalahannya.
Bagaimana mungkin ia tiba-tiba memutuskan untuk pergi-ke Tokyo? Jelas-jelas ia tidak pernah ke ibukota sejak berkomunikasi dengan manajer tim Touou. Setan dari mana yang memaksanya menuruti ego?
Kotarou merasa bodoh sendiri. Benar-benar idiot. Akashi tidak pernah salah, Kotarou memang yang salah.
Sekarang ia menonton pertandingan dari bangku cadangan. Seharusnya jiwa dan raganya bersemangat di tengah sana. Hanya karena hal konyol yang dibuatnya sendiri, sekarang ia merana.
Hayama Kotarou tahu ia harus meminta maaf. Kalau sampai tim Rakuzan membenci Momoi karena keterlaluannya sikap Kotarou, bukan hanya ia yang menanggung beban, tapi juga mencoreng nama baik orang lain.
Dari bangku besi ia menonton, menyesali tindakan barusan. Berharap seandainya waktu bisa diulang.
Peluit ditiup panjang, latih tanding usai.
Seluruh atensi jatuh ke papan poin, kemenangan jatuh ke tangan Rakuzan. Kotarou tentu tahu, tanpa ia di sana pun timnya pasti menang.
Satu persatu rekan yang menginjak lapangan kini mendarat di sampingnya. Kotarou menggigit bibir, mengepal tangan, bersuara dengan vibra samar, "Maafkan aku..."
Akashi hanya melirik, selebihnya ia mengisi waktu dengan meneguk minuman isotonik.
Reo yang duduk tepat di sampingnya menyahut, "Lain kali kendalikan dirimu."
Nebuya mengambil tepat di pinggir bangku agar bisa bersebelahan dengan Kotarou, "Aku tahu kau bodoh, tapi tak kusangka sangat bodoh," kekehnya sembari mengusap keringat di kepala.
Kotarou terprovokasi, langsung mendelik tajam ke Nebuya, "Kau lebih bodoh, Gorila! Kerjamu hanya makan!"
"Aku memang Gorila, haha."
"Siapa yang memujimu..." Kotarou mendengus.
Reo mengulas senyum tipis, "Kau terlalu berlebihan, Kotarou. Bisa saja itu khilaf, kan? Kepencet, atau iseng. Namanya juga wanita, yang seperti itu sangat biasa." sahutnya, seolah tahu seluk beluk wanita dan berbagai permasalahannya.
Kotarou menundukkan kepala, membenarkan Reo, menyesal dalam hati. "Ya, Reo-nee, aku terlalu cepat mengira. Maaf."
"Asal jangan diulangi," tambah Reo mendelik.
Selanjutnya Hayama Kotarou menyampaikan maaf ke Akashi, pelatih, dan seluruh tim basket Rakuzan karena sudah mengecewakan mereka.
Kini mereka beranjak keluar gedung, menuju bus sekolah yang sudah menunggu di gerbang.
Kotarou mengakselerasi langkah hingga sepadan dengan tempo sang kapten, "Akashi!"
Menunggu anggota tim masuk ke dalam bus, Akashi menoleh, "Hm?"
"Aku minta maaf, bukan Momoi-san yang salah. Dia sama sekali tidak tahu apa-apa soal ini."
Akashi mengulas senyum tipis, "Aku tahu."
Kotarou mengerut, tidak puas, "Apa?"
Hingga saatnya mereka yang tersisa, pelatih menyuruh agar keduanya masuk ke dalam bus.
Setelah mendapatkan tempat-di mana Kotarou harus mengalah karena lagi-lagi Reo-nee mengambil posisi di samping Akashi, Kotarou tetap mengajak bincang dari jok belakang, "Ada yang kau sembunyikan, Akashi?"
Akashi sedang mengecek notifikasi pesan di ponselnya saat Kotarou berniat memasok informasi.
"Aku mengerti kau tahu, tapi sepertinya ada sesuatu." selidik Kotarou.
Ponsel dimatikan, Akashi mematri seringai tipis, "Manajer yang kau sukai itu sudah punya orang yang disuka."
Satu alis terangkat, Kotarou agak enggan menjawab, "Si Ace Touou itu?"
"Bukan."
"Hah? Lalu siapa?"
"Kalau kau penasaran, coba cari tahu."
"Haaah? Jangan bilang kau mau menipuku lagi?!"
Di sebelahnya Reo terkekeh. Hatinya langsung berbunga-bunga kalau sudah mendapati kaptennya menunjukkan seringai. Sei-chan yang seperti ini yang membuatnya kesemsem separuh jiwa.
Kotarou meloloskan punggungnya ke sandaran jok, melirik Nebuya yang sibuk mengisi nutrisi demi mengembalikan kebugarannya.
Menghela napas sejenak, Kotarou kini memaku langit dari balik kaca bening. Menerawang, mengagumi gores tinta putih yang mencoret dirgantara. Memikirkan, cara apa yang harus ia lakukan untuk mengalihkan perhatian Momoi Satsuki hanya untuknya seorang.
Masalah orang yang disukai, pasti ada, tinggal bagaimana Kotarou bisa menggeser posisinya saja. Sekarang ia berpikir dalam-dalam.
Entah kenapa begitu sulit. Padahal jarak sudah dikikis lewat internet. Seharusnya tidak ada lagi halangan.
Tapi...
Bibir tegas yang menampilkan secuil taring melengkung.
Hayama Kotarou hanya perlu mengikis sendiri, pergi ke Tokyo dan menemuinya.
Mungkin besok, atau lusa. Tentunya setelah diskusi dan sesuai kesepakatan tim basket Rakuzan.
.
.
.
XXX
.
.
.
a/n : wah, akhirnya kesampean nulis OTP baru kesayangan nan crack, HayaMomo :'))) sengaja dibuat MC supaya punya arsip straight multichapter di ffn :')))
Terima kasih udah baca! xDD buat temen-temen yang kesemsem, ayooo ikutan buat ff HayaMomo /woy
Yang penting kokoro ini terpuaskan :'))) pokoknya hatur nuhun sangat yah udah baca sampai di sini! xDD
