Chapter 2 : The Ordinary Black Witch, Marisa
"Nah." ujar Marisa sambil mengambil sapunya yang tergeletak di tanah "Hari sudah gelap. Sebaiknya kau sementara menginap di tempatku. Jalan malah hari di hutan sangat tidak aman-ze."
Entah aku harus mengeluh atau aku harus bersorak gembira. Maksudku...aku memang terdampar di dunia yang hanya kukenal dari game dan tidak tahu bagaimana cara kembali, tapi di saat yang sama, aku bertemu dengan salah satu karakter utama dalam game itu bahkan aku diajak menginap dirumahnya. Kalau ada fan touhou meihatku, dia pasti bersedia membunuhku untuk bertukar tempat.
"Tunggu apa lagi-ze ?"
Marisa melompat naik ke atas sapunya yang kini sudah melayang rendah diatas tanah.
"Hah ?"
Aku menjawab seperti orang dungu.
"Naik ke sini !" ujar Marisa sambil menepuk bagian belakang gagang sapunya yang masih lowong "Kita pergi sekarang ! Kalau buang-buang waktu, nanti lebih banyak youkai lagi yang datang-ze !"
Mungkin ini terdengar gila. Tapi aku mengikuti perintah gadis penyihir itu dan naik di atas gagang sapu itu.
"Lalu apa ?"
"Pegangan yang erat-ze !!"
Tiba-tiba saja, sapu itu melesat naik dengan kecepatan yang luarbiasa. Aku beruntung refleksku terlatih baik akibat sering bermain wargame, sehingga aku masih sempat mencengkram erat gagang sapu Marisa. Kalau tidak aku pasti terguling dan jatuh.
Angin berhembus kuat dan membuat rambutku yang sedikit panjang berkibar-kibar dengan liar. Aku membuka mata dan hampir tidak percaya dengan pemandangan yang kulihat.
Aku melayang tinggi diudara, mungkin sekitar 50-100 m diatas kanopi hutan.
Matahari sudah hampir tenggelam sehingga cahayanya sudah sangat temaram. Tapi itu masih cukup bagiku untuk terpana melihat ke bawah. Pohon-pohon tampak begitu kecil di bawah sana.
Baiklah...ini memang luar biasa.
"Pegangan lagi-ze !"
Sayangnya, seperti yang sering kubaca di internet, sepertinya informasi mengenai pribadi Marisa benar. Dia adalah sosok yang energik dan impulsif. Benar saja, dia memperingatkanku tepat ketika dia tiba-tiba membuat sapu terbangnya melesat kencang.
Aku hampir jatuh terhempas ke belakang kalau aku tidak segera berpegangan erat pada gagang sapu Marisa.
Sungguh suit dipercaya ! Sapu kecil itu terbang dengan kecepatan yang menakjubkan ! Bahkan bisa kubilang kalau kami terbang dengan kecepatan sekitar 90-100 km/jam kalau diukur dengan speedometer motor.
Perjalanan kami cukup gila kalau boleh aku mengakuinya. Marisa terbang dengan kecepatan tinggi dan beberapa kali berganti arah begitu mendadak sehingga aku nyaris terlempar dari sapu. Tak lama kemudian, kami akhirnya mendarat di depan sebuah rumah yang berukuran cukup besar, hanya saja rumah itu terletak di tengah hutan.
Begitu menyentuh tanah, aku berlutut dan mencium tanah. Rasanya nyaman sekali kembali menginjak tanah.
"Sedang apa kau-ze ?"
Marisa memandangiku dengan heran ketika melihat aku berlutut di tanah.
"Tidak...aku hanya pusing..." ujarku sambil bangkit dan membersihkan tanah yang menempel di lututku.
Marisa tertawa riang.
"Ahahaha...tentu saja !" ujarnya sambil tertawa riang "Kurasa manusia biasa tidak pernah terbang dengan sapu-ze !"
Yup ! Benar sekali Marisa. Bahkan kalau boleh kukatakan...tidak pernah ada orang yang benar-benar terbang dengan sapu, setidaknya di duniaku.
"Jangan berdiri saja !" seru Marisa sambil membuka pintu rumahnya "Masuk-ze !"
Aku berjalan dengan ragu dan memasuki rumah Marisa.
Aku tidak perlu terkejut dengan kondisi rumah Marisa. Setidaknya aku pernah membaca doujin yang menunjukkan kondisi rumah Marisa dan rupanya itu benar.
Berbagai macam benda dan buku bertumpuk di lantai dan di lemari. Ada terlalu banyak benda di lantai sehingga aku kesulitan untuk berjalan tanpa membuat gunungan benda-benda aneh itu jatuh. Tapi tampaknya Marisa tidak peduli dan terus saja melangkah ke bagian belakang ruang tamu itu. Ruang utama tidak berbeda dengan ruang tamu. Hanya saja ada cukup banyak ruang di sekitar sebuah meja bundar yang berada di pojok ruangan itu.
"Duduklah di situ-ze !" ujar Marisa sambil menunjuk meja di pojok ruangan.
Aku menarik sebuah kursi dan duduk di sana dan terdiam sementara Marisa entah sedang apa di ruangan lain.
Aku meletakkan ranselku diatas meja dan membuka ritsletingnya dan menuang benda-benda yang ada didalamnya.
Benda-benda itu jatuh dengan suara berisik di atas meja. Aku mengamati.
Perlengkapan perangku masih ada dan kondisinya masih bagus walaupun sedikit kotor. Alat-alat tulis dan sebuah buku catatan kecil yang selalu kubawa juga masih ada. Aku membuka saku lain dan mengambil ponselku yang tidak bisa digunakan karena tidak ada sinyal. Lalu aku menyadari aku membawa mp3 playerku, tapi aku hanya membawa 4 baterai cadangan. Tadinya aku berniat menyalakan mp3 player itu dan menenangkan diriku, tapi akhirnya aku mengurungkan niatku karena baterai yang kupunya hanya segitu dan kurasa tidak mungkin aku bisa menemukan baterai lain di Gensokyo.
"Maaf menunggu lama-ze !"
Marisa tiba-tiba datang dan membawa senampan kue dan 2 cangkir minuman dan meletakkannya di atas meja.
Tiba-tiba saja mata gadis itu tertuju pada barang-barangku yang berserakan di atas meja. Matanya tampat berbinar-binar.
"A...apa ?" tanyaku heran.
"Barang-barang yang kau bawa aneh !" ujar Marisa sambil menatap benda-benda yang berserakan diatas mejanya "Apa ini-ze ?"
Marisa menunjuk ke arah se-pak peluru bb berwarna putih milikku.
"Apa ini makanan-ze ?"
Aku menggeleng.
"Ini namanya peluru bb." ujarku. Kurasa tidak ada salahnya kalau aku menjelaskan apa dan fungsi benda-benda ini pada Marisa.
"Peluru bb ini sebagai peluru senjata gas ini." aku menjelaskan sambil mengangkat handgun milikku "Dan senjata gas ini memerlukan gas dalam kaleng ini untuk dapat berfungsi." Sekali lagi aku menjelaskan sambil mengangkat kaleng gas handgunku.
"Woah !" seru Marisa dengan mata berbinar-binar "Jadi ini senjata ? Aku baru pertama kali melihat yang seperti ini-ze !"
Gadis itu mengambil handgunku yang lain dan mengamatinya.
"Bagaimana cara kerjanya-ze ?"
Tapi untuk cara kerja, aku merasa sebaiknya aku tidak memberi tahu Marisa soal ini.
"Sayangnya benda itu dibuat hanya untuk ditembakkan olehku saja." ujarku berbohong.
"Wah ! Sihir untuk mengenali hanya pemiliknya saja !" seru Marisa gembira "Aku harus belajar yang seperti itu-ze !!"
Dia lalu meletakkan handgun itu dan mengambil mp3 playerku dan mengamatinya sambil memainkan kabel earphone-nya "Kalau ini apa-ze ?"
"Alat untuk memainkan musik." ujarku.
"Sekecil ini ?" tanya Marisa "Kau pasti bercanda-ze."
"Tidak. Ini benar-benar alat untuk memainkan musik." ujarku sambil mengambil mp3 itu dari genggaman Marisa dan menekan tombol ON di mp3 player itu "Letakkan ujung kabel berbentuk bulatan itu di telingamu."
Marisa tampak heran, tapi dia melaksanakan perintahku. Tak lama dia terkejut dan berseru kegirangan.
"Hebat !!" seru Marisa "Luar biasa ! Benda kecil ini benar-benar bisa mengeluarkan musik-ze !!"
Marisa tampak menikmati musik yang dia dengar, tapi tiba-tiba saja dia melepas earphone dari telinganya dan bangkit dari kursinya.
Aku terkejut melihat tindakat Marisa itu.
"Ada apa ?"
Marisa mengambil topinya dan berlari ke arah pintu. Aku cukup terkesan karena dia berlari dengan mudah diantara tumpukan barang-barang yang berserakan di sekitarnya.
"Ada yang melewati kekkai (dinding penghalang) rumahku-ze !"
Aku memiringkan kepala karena tidak mengerti, tapi akhirnya kau bangkit dan mengejar Marisa.
Aku melihat gadis itu membuka pintu, berlari keluar dan tiba-tiba saja berdiri terpaku. Aku melihat hal itu dan buru-buru menyusulnya dan ikut terpaku di tanah.
Kalau tadi siang monster yang mengejarku 1, sekarang ada 5.
"Berani sekali youkai-youkai ini mendatangi rumahku-ze !"
Tampak gadis itu tidak gentar sama sekali menghadapi kelima ekor makhluk yang berkeliaran di sekitar rumahnya itu.
Tapi tidak denganku. Kakiku gemetar hebat hingga aku tidak bisa bergerak dan otot seluruh tubuhku tegang. Makhluk yang kutemui tadi siang sudah cukup untuk membuatku hampir pingsan. Tapi kali ini LIMA ?! Kali ini kalau bisa, aku ingin sekali pingsan.
"Mundur !" seru Marisa sambil menaiki sapunya "Ini bagianku-ze !"
Marisa lalu melesat ke arah salah satu makhluk yang dinamai Youkai itu dan mengibaskan tangannya. Kejadian berikutnya cukup menakjubkan. Beberapa buah bintang bersinar, ya...bintang, tapi bukan seperti bintang di langit, tapi benar-benar bentuk 'bintang', tiba-tiba saja muncul dan melesat ke arah lawannya. Bintang-bintang itu meledak ketika mengenai tubuh lawannya dan membuat makhluk besar itu terhempas ke arah salah satu pohon dan tidak akan bangun lagi.
Keempat ekor youkai lainnya segera menjadikan Marisa sebagai target ketika melihat salah satu rekannya terbunuh. Tapi Marisa yang bisa terbang, dengan mudah menghindar dan terbang tinggi di angkasa. Gadis itu lalu mengibaskan tangannya lagi dan lebih banyak bintang muncul dan, seperti hujan, menghujani tubuh lawannya. Ledakan-ledakan kecil namun mematikan terbentuk disekitar keempat youkai itu. Asap tebal lalu menyelimuti tubuh keempat youkai yang tidak bernyawa itu.
Sambil tersenyum penuh kemenangan, Marisa mendarat di depanku.
"Bagaimana-ze ?"
Aku tentu saja tidak bisa berkata apapun.
"Kenapa diam saja ?" ujar Marisa dengan nada kesal "Memangnya kau belum pernah lihat Danmaku-ze ?"
Aku tiba-tiba teringat sesuatu ketika Marisa mengucapkan kata Danmaku.
Benar juga ! Dalam Game Touhou, semua karakternya bisa mengeluarkan peluru-peluru magis yang dinamakan Danmaku, dengan warna dan pola tembakan yang bervariasi dan seringkali membuatku frustasi kalau berhadapan dengan lawan yang Danmaku-nya bisa memenuhi layar komputer.
"Oh...hebat ! Aku tidak menyangka kalau Danmaku sesungguhnya seperti itu !"
Marisa memiringkan kepalanya dengan heran.
"Hah ?" ujarnya "Kau ini memang aneh...jangan-jangan..."
Sudah kuduga Marisa pasti curiga.
"Jangan-jangan kau ini Outsider ya-ze ?"
Aku tertegun.
Apa itu Outsider ?
"Apa itu Outsider ?" tanpa sadar aku mengucapkan apa yang ada dalam pikiranku.
"Outsider itu...bagaimana menjelaskannya ya ?" ujar Marisa sambil menggaruk kepalanya "Itu sebutan Yukari bagi orang-orang yang tersesat masuk ke Gensokyo karena suatu sebab...atau karena 'diculik' oleh Gap-Youkai itu-ze."
Mendengar nama Yukari, aku langsung teringat salah satu boss di game Touhou. Yukari Yakumo, kalau tidak salah, adalah Youkai yang sangat kuat dan mampu memanipulasi 'gap'' sehingga dikatakan mampu membuka pintu ke dunia lain.
Tapi tetap saja, responku adalah "Hah ?"
Marisa tampak cukup kesal karena tampak baginya, aku hanya orang yang tidak tahu apa-apa mengenai Gensokyo.
"Begini !" ujar Marisa sambil mengetukkan sapunya ke tanah "Gensokyo itu dilindungi oleh The Great Hakurei Border sehingga orang tidak bisa keluar masuk seenaknya. Tapi bagi Yukari, border itu bukan jadi masalah besar dan dia bisa saja membuka pintu dari Gensokyo ke dunia lain-ze."
Oke. Jadi kedatanganku ke Gensokyo itu mungkin karena Yukari bermain-main dengan salah satu gap-nya dan membuatku jatuh ke sini. Yang benar saja ! Ini semakin membuatku bingung. Bagaimana mungkin dunia yang hanya ada dalam game bisa eksis sungguhan dan bahkan karakter dari dunia khayalan itu benar-benar nyata dan bisa pergi ke duniaku.
"Yang benar saja !" ujarku masih tidak percaya "Kalau begitu, kenapa dia tidak bertanggung jawab dan mengembalikanku ke dunia tempatku berada ?"
Marisa menaikkan kedua bahunya.
"Mana aku tahu." ujar Marisa "Biasanya Yukari segera muncul kalau ada Outsider, tapi mana kutahu kenapa dia tidak muncul sekarang-ze."
Aku terdiam. Tapi aku cukup lega karena baru saja menemukan salah satu jalan keluar dari dunia ini.
"Jangan dipikirkan-ze !"
Marisa berjalan dan menepuk punggungku dengan riang.
"Kalau kau mau, besok aku akan mengantarmu ke Kuil Hakurei." ujar Marisa sambil masuk ke dalam rumahnya "Reimu pasti punya cara untuk memulangkanmu-ze."
Mendengar nama Reimu disebut, aku langsung teringat salah satu tokoh lain dalam seri game Touhou itu. Reimu Hakurei, seorang Shrine Maiden yang tinggal di kuil Hakurei dan menjaga kedamaian Gensokyo dan keberadaan Great Hakurei Border. Setidaknya itu yang kutahu dari informasi yang kudapat di internet.
"Baiklah..." ujarku sambil mendesah.
"Kalau begitu, tidurlah !" seru Marisa sambil masuk ke dalam rumahnya "Besok pagi-pagi kita pergi ke tempat Reimu-ze."
Aku menatap bintang-bintang di langit dan berharap bahwa semuanya tidak akan bertambah buruk.
