Naruto bukan punya Rikai.

Genre : maunya sih romance, sedikit gore, crime, dan sedikit mystery. Ga tau ceritanya membuat genre seperti itu atau tidak.

Pair : chap 2 belum ada pair. Vote aja deh

Warning : BL atau Boys Love, atau Yaoi. Jadi bagi yang tidak suka jangan baca okeeehhh.. yah kecuali kalau penasaran sama cerita rikai, boleh kok baca. -_- cusss baca...

DIFFERENT FATE

Cuaca hari ini yang sangat gelap yang diakibatkan oleh awan hitam yang terus menjatuhkan butir – butir air, menjadi pengantar dua peti mati yang kini akan dimasukkan kedalam liang kubur. Tak begitu banyak pelayat yang datang dalam acara pemakaman ini, namun hampir seluruh dunia bisa menyaksikan wajah pilu dan bisa merasakan kesedihan pria dewasa bersurai kuning dan anak laki – laki bersurai jingga. Air mata mereka yang tidak nampak, karena terhapus oleh hujan. Seluruh siaran Tv di Jepang kini tengah menampilkan tayangan live pemakaman dari keluarga orang yang sangat berpengaruh bagi Negara matahari terbit itu.

"Kini peti mati Kushina Namikaze dan Naruto Namikaze, memasuki peristirahatan terakhir mereka. Kami penduduk Jepang mengucapkan turut berduka. Sungguh mereka adalah orang – orang yang baik, bagi keluarganya, saudaranya, dan negaranya. Selamat tinggal Kushina Namikaze – san dan Naruto Namikaze – san. Saya Tsunami dan rekan melaporan dari lokasi." Wanita berambut hitam itu muncul dilayar kaca seluruh Jepang. Namun kini digantikan dengan wajah tampan Minato Namikaze yang terlihat berduka sambil merangkul anak sulungnya. Wajah tampan itu besok akan dikenal sebagai duda tertampan diJepang. Dan kini kameramen itu kembali menampilkan wajah dari anak sulung dari keluarga Namikaze. Raut kekanakan masih terlihat walau diwajah dan mata rubynya kini dihalangi awan kesedihan yang mendalam. Jiwanya sebagian dari jiwa dari Kyuubi Namikaze, meninggalkannya. Bahkan ditubuhnya terlihat kemerahan (ingat Naruto dan Kyuubi bisa merasakan kesakitan yang dialami satu sama lain).

Flashback 6 jam yang lalu

Jalan Nami no kuni

Mobil Kushina terseret laju truk itu, Kushina sudah tak sadarkan diri, dengan wajahnya dipenuhi darah yang mengalir dari kepalanya, tangannya bahkan terlihat tulangnya yang patah. Naruto melihat itu semua, mata birunya melihat betapa banyak darah ibunya yang keluar. Bahkan kondisi tubuhnya tidak bisa dikatakan lebih baik. Naruto hanya mengerang kesakitan dibagian kaki dan tubuhnya.

Laju mobil dan truk itu berhenti, sang supir truk yang merasa tak bersalah keluar dari truknya, mengambil pematik korek api, ia terus memasang seringainya yang menakutkan. Mata biru Naruto terus melihat kedepan, melihat wajah dari pelaku kejahatan yang telah menabraknya dan ibunya. Melihat bagaimana si supir truk itu membuang korek apinya kearah mobil yang kini ia tumpangi. Melihat bagaimana si supir jahat itu mengucapkan sesuatu.

"DIE" wajah garang dengan surai biru pucat, tubuhnya yang terlihat besar dengan guratan – guratan otot besar memenuhi seluruh tubuhnya. Dan jangan lupakan baju berwarna denim sungguh khas sekali dengan baju –baju narapidana bahkan tercetak jelas nama dan nomer pada baju tersebut

Mizuki 2899

Sapphire Naruto bergerak gelisah pematik api yang laki –laki bernama Mizuki lemparkan kini mendekati arah mobil miliknya. Tubuh kecil Naruto merengek sakit bahkan kakinya berasa mati rasa.

'Bergerak' pikir Naruto untuk bergerak. Mata birunya terus mengamati arah melambung pematik besi yang terus bergerak mendekati. Otak kecilnya menghitung.

' Sekarang.' Kaki kanan Naruto menghadap udara dan menendang kembali kearah sipematik datang. Tangan kiri bocah berkulit tan itu kini mengeluarkan darah segar. Kaca pintu mobil yang menjadi tumpuan berdiri Naruto membuat luka besar menganga untuk ukuran anak kecil.

"Ba...gaaimana bisa" Mizuki tergagap saat atraksi anak yang harusnya kini ia bakar malah menyerang kembali.

"Kalian Uzumaki, memanglah darah iblis" urat kekesalan pria besar itu tampak terlihat jelas. Sapphire biru itu terus melihat dengan cermat, meski tubuhnya meronta ingin istirahat.

'Tidak boleh, dia tidak boleh melukai Kaa-chan' pikir polos Naruto.

"Matiiii kau Uzumaki." Mizuki mengeluarkan senapan Hand gun semi otomatis. Telunjuk tangan kanannya telah bersiap menarik pelatuk Handgun tersebut.

DOORR

Timah panas itu kini bersarang didada sebelah kiri laki – laki bersurai biru pucat a.k.a Mizuki.

"Kaa..uu.." bibir Mizuki mengucap terbata – bata. Mata hazelnya menatap nyalang seorang laki – laki yang kini berdiri tegak dihadapan tubuh kecil Naruto.

"Bawa dia." Perintah laki – laki yang telah menembak Mizuki. Beberapa orang yang berada dibelakang mobil merah Kushina, kini bergerak membawa Mizuki. Tubuh Mizuki tak sanggup untuk meronta akibat luka peluru yang bersarang didada sebelah kirinya itu.

"Bocah hebat, keturunan Uzumaki memang berbeda bukan." Si pelaku penembakan tubuh Mizuki kini mensejajarkan tubuhnya dengan Naruto. Mata sapphire Naruto menatap heran dan sedikit sayu, tubuhnya kini sudah tak mampu bertahan, bahkan hanya untuk berdiri. Tubuh mungil itu kini terhempas ke tubuh tegap laki – laki yang telah menyelamatkannya dan ibunya.

"Arigat..ouu.. Paman." Si penyelamat itu tersenyum, hal yang tidak mungkin dilakukan oleh klan miliknya.

"Sama – sama, Bocah pirang." Nadanya melembut seketika.

"Selamatkan Kaa-chan Nalu, paman. Nalu mohon." Sedetik kemudian kesadaran Naruto menurun, lelah dan kehilangan banyak darah adaah hal yang membuatnya cepat kehilangan kesadaran. Laki – laki itu hanya tersenyum dan menggendong Naruto, tanpa peduli baju berwarna cream itu memerah karena darah Naruto. Sedangkan Kushina, ibu dua anak itu telah dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat, setelah dikeluarkan dari badan mobil dimana bagian depannya kini hampir tak terbentuk lagi. Untuk Mizuki, tubuh besar Mizuki telah menggantikan posisi Kushina, duduk dibagian kemudi mobil yang sebelumnya dibuka paksa oleh orang - orang suruhan si penyelamat duo Uzumaki tersebut.

"Ba..gaimana bisa, seharusnya kalian juga sepertiku." Mizuki menatap tak percaya akan pemuda berambut hitam bermata hitam, pemuda itu berdiri tegap dengan bocah pirang digendongannya. Pemuda onyx tersebut hanya memberikan tatapan hina dan seringai keji untuk Mizuki.

"Kau tidak perlu tahu. Sampah sepertimu hanya akan merusak pandanganku." Nada dingin keluar dari bibir pemuda onyx tersebut, pemuda itu mengibaskan tangan kirinya keudara, untuk memberikan sinyal kepada anak buahnya. Kemudian pemuda itu berjalan memasuki mobil sport hitam didepannya. Anak buah pemuda onyx kini bergerak dengan teliti tanpa kesalahan sedikit pun mereka perlahan namun pasti membuat kecelakaan yang sebelumnya tampak lebih dramatis. Lokasi kejadian kecelakaan kini menjadi tempat yang panas ditengah terik panas matahari yang menyengat. Api berwarna jingga kemerahan itu membesar, dan kian membesar membakar truk besar serta mobil merah, dimana Mizuki kini telah menjadi abu.

Rumah Sakit Konoha

Lorong UGD yang semula sepi kini telah ramai. Begitu ramai dengan kedatangan orang – orang dari manusia berambut mencolok hingga manusia bertampang datar atau muka teflon. Masing – masing dari mereka memiliki kesamaan. Bisa kita lihat wajah mereka yang memiliki raut cemas, gelisah dan takut. Bahkan salah satu dari tampak berjalan kekanan dan kekiri pada garis yang sama layaknya seterika baju. Lampu merah yang menandakan ruangan tersebut sedang digunakan kini telah padam atau bisa diatakan mati.

Pintu kaca buram sebatas dada dewasa kini terbuka. Keluarlah seorang wanita dewasa berjubah putih layaknya dokter, berambut pirang yang kini dikuncir dua. Mata coklat emas itu telihat sayu, terlebih wajahnya yang menyiratkan kelelahan pikiran dan badan. Tak lama dokter pirang itu keluar, nampak 4 suster laki – laki atau bisa dipanggil deangan bruder dengan seragam putihnya mereka pergi sambil mendorong ranjang pasien wanita berambut merah terang, matanya masih tertutup rapat, terdapat selang infus, selang oxigen serta selang darah yang menggantung rapi di tiang sebelahnya. Tubuhnya yang penuh dengan perban yang terlihat menyesakkan. Tak lama berselang ke – 4 bruder keluar kembali dari ruangan yang sama, namun hospital bed itu membawa anak kecil bersurai pirang dengan kondisi yang tidak lebih baik dari pasien pertama yang keluar.

"Bagaimana dengan kondisi mereka." Laki – laki berusia senja, berambut hitam panjang, menampilkan raut cemasnya.

"Kondisi Kushina, nampak parah Otou-sama. Tibia dan Fibula sebelah kanan miliknya patah, metatarsal kaki kirinya remuk, sehingga kemungkinan jika sudah sembuh Kushina akan mengalami kecacatan dengan kaki kirinya. Pelvic girdle Kushina juga bergeser, kemungkinan akibat dari hantaman keras yang diterima oleh mobil miliknya. Tulang hasta kanan miliknya juga patah dan menusuk keluar dari dagingnya, namun kami berhasil memulihkan 80% tubuhnya. Otou-sama, siapa yang berani melakukan ini kepada adikku?" Dokter pirang itu hampir menjawab seluruh pertanyaan yang ternyata adalah ayahnya.

"Aku juga kurang yakin, Tsunade. Tapi yang kita sudah dapatkan adalah si pengeksekutor adalah Mizuki." Laki – laki bermabut panjang bermata coklat kayu kembali memasang pose berpikir.

"Hentikan kalian, masalah ini nanti saja membahasnya. Hasirama, Tsunade." Suara lembut keluar dari wanita dewasa berusia kurang lebihnya sama dengan laki – laki senja yang tidak lain adalah Hasirama.

"Tsunade, bagaimana kondisi cucuku?" wanita itu kini terlihat tidak sabar, bagkan rambutnya yang biasanya tergelung rapi elegan, kini terlihat acak –acakan.

"Maafkan Tsunade, Okaa-sama." Tsunade menundukan kepalannya, tak berani menatap ibu kandungnya, mengambil napas panjang dang menghembuskannya perlahan.

"Keadaan anak itu, emm sebenarnya justru lebih parah. Pertama kedua pipinya terkena goresan kaca mobil yang cukup dalam sehingga saat ia tumbuh besar nanti akan menimbulkan bekas lukanya. Lalu tulang clavicle miliknya retak, tulang rusuknya patah, Femur dan Pattela miliknya retak. Telapak tangan sebelah kiri terluka dalam. Serta yang lebih parah anak itu sangat kekurangan darah, akibat banyaknya darah yang megalir bebas keluar dari tubuhnya. Untuk sementara hingga mereka terbangun, aku memindahkan mereka keruang ICU yang sangat privasi, Okaa-sama." Tsunade mengakhiri penjelasannya.

Wanita berambut merah yang tergelung itu kini terduduk lemas di bangku lorong UGD rumah sakit besar itu. Wajahnya seperti seseorang yang sedang berduka, Hasirama menghampiri wanita tersebut yang tidak lain istrinya.

"Mito, kau harus kuat jika kau berduka dan bersedih seperti ini, akan membuat keadaan semakin runyam." Hasirama menatap lembut istrinya Mito. Mito hanya mengangguk lemah, menyenderkan kepalannya ke dada suaminya.

"Kulihat tugasku kini selesai disini Paman, aku akan memberitahukan kepada Ayah dan keluarga yang lain peri hal kejadian ini." Pemuda bermata onyx yang membawa Naruto serta yang menyelamatkan Kushina menatap kedua pasutri yang sedang berangkulan.

"Terima Kasih Shisui, sampaikan ucapan terima kasihku kepada ayahmu, Madara. Dan bilang padanya Mansion Iwaperm, malam ini." Hasirama menatap tegas Shisui. Uchiha Shisui yang telah menyelamatkan anak dan cucunya yang hampir saja meregang nyawa. Rambut hitam pendek Shisui bergerak pelan saat ia mengangguk, mengiyakan perintah orang yang didepannya, kemudian dia berbalik menuju pintu keluar.

Breaking News Konoha.

"Telah terjadi kecelakaan dijalan Nami no kuni. Mobil merah ferrari yang disinyalir ditabrak Truk berukuran besar. Kedua jenis kendaraan tersebut terbakar hangus. Pemilik kendaraan Ferrari merah yang diketahui bernama Kushina Namikaze telah ditabrak dengan keras hingga terseret beberapa meter. Truk besar tersebut ternyata dikendarai oleh buronan narapindana yang berhasil kabur dari penjara Konoha dua hari yang lalu. Pihak kepolisian memberitahukan buronan yang bernama Mizuki dengan nomor tersangka 2899 tersebut telah mencuri truk yang biasanya bermuatan sayur dan buah, disekitar lokasi setelah berhasil kabur. Kecelakaan ini memakan korban jiwa sebanyak 3 orang. Kushina Namikaze, Naruto Namikaze serta Mizuki narapidana yang seharusnya dihukum mati 3 tahun lagi. Saya Tsunami dan Aoba melaporkan dari tempat kejadian." Layar tv besar itu menampilakan iklan – ikalan yang tidak penting sedangkan orang yang melihatnya kini seperti orang yang sudah kehilangan nyawanya. Tubuhnya menegang, matanya melebar tak percaya berita yang baru saja dia dengar.

"Ti...dakk mung..kin" suaranya bahkan bergetar, tubuhnya terasa mati. Dunianya seaakan menghilang, bahkan telinganya kini tak bisa mendengar suara pintu diruang kerjanya telah diketuk dari sebrang sana. Laki – laki bersurai pirang itu adalah Minato suami dari korban kecelakaan yang baru saja ia dengar. Pintu yang terus diketuk itu terbuka perlahan menampilakan seorang laki – laki bersurai coklat dengan garis melintang dihidungnya.

"Minato-sama." Laki – laki itu adalah Umino Iruka, sekretarisnya yang sangat loyal kepadanya yang sudah dianggap keluarga oleh Namikaze. Iruka yang telah mendengar berita kecelakaan yang menimpa istri bosnya, langsung berlari untuk melihat bosnya.

Namikaze Mansion

Kyuubi yang telah terbangun sendiri dikamarnya hanya termenung. Ia bangun diwaktu yang seharusnya ia masih terlelap, bahkan ia belum tertidur selama satu jam. Salahkan yang tiba – tiba ia merasakan sakit dibagian kaki dan tubuhnya. Mata rubynya menatap sekeliling, ruby itu berair mencari kemana sebagian dari jiwanya pergi. Biasanya si pemilik sappihire itu akan belari sambil menangis jika terluka. Kyuubi merasakan sakit yang tidak tertahan dibagain tubuh dan kakinya. Bibir kecil itu bergetar memanggil nama kembarannya. Kemana, kemana si sapphire itu pergi. Mata ruby itu terus berair hingga pelupuk matanya tak mampu menampung air matanya. Ruby itu menangis,kaki mungilnya ia paksakan turun dari kasur miliknya, keluar dari kamarnya.

"Naru...Naruu dimana ? hiks Naruu... nii-chan takut Naruu..." suara Kyubi bergetar, ia benar – benar takut kini. Sungguh kemana separuh jiwanya itu pergi.

Salah satu pelayan yang mendengar suara tuan mudanya segera berlari menghampiri, pelayan itu heran mengapa tuan mudanya sudah bangun padahal baru beberapa menit yang lalu ia tertidur.

"Kyuubi - sama, kenapa sudah terbangun? Tuan muda ingin susu?" si pelayan itu dengan sabar membenarkan pakaian Kyuubi yang acak – acakan akibat tidurnya.

"Naruu... dimana Naruu... bibi" Kyuubi benar – benar nampak lemah dan tidak berdaya kini. Pelayan itu benar – benar terlihat iba dengan kondisi tuan mudanya itu.

"Naruto - sama sedang pergi bersama Kushina - sama. Sebentar lagi juga kembali. Mereka hanya mengantarkan makanan untuk Minato – sama." Pelayan itu menatap mata ruby milik tuan mudanya.

"Bawa aku ke Naru, bibi. Aku mau Naru..." runtuh sudah pertahanannya untuk tidak menangis. Kyuubi yang selalu jahil dan usil di mansion besar itu kini menangis dengan kencang. Napasnya terputus – putus karena tangisannya. Si pelayan hanya bingung dengan tindakan tuan mudanya yang benar – benar berbeda dari biasanya. Mau tak mau si pelayan membawa Kyuubi turun menuju ruang keluarga, pelayan itu menyalakan tv, bermaksud membuat tuan mudanya menonton cartoon kesukaannya. Namun ia tidak tahu, sungguh salahh besar ia menyalakan tv itu, tv yang kini hampir seluruh chaneel tengah menayangkan perihal kecelakaan yang menimpa Kushina dan Naruto. Tak ayal membuat Kyuubi menangis hingga menjerit.

1 jam setelah pemakaman

Namikaze mansion.

Minato, cahaya sapphire matanya memudar. Hari ini ia telah kehilangan anak dan istrinya. Istrinya yang selalu tersenyum, sedikit garang, ceria, selalu semangat,dan tentunya sedikit galak. Hahahaha siapa yang menyangka musibah ini akan menimpa dirinya. Ia tak pernah menangis bahkan saat kehilangan keluarganya, lalu kehilangan saudara kembarnya(rikai pernah baca blog yang menyatakan sebenarnya minato itu kembar tapi kembarannya meninggal saat dikandungan). Kini nyawa minato seakan mengikuti perginya Istri dan anaknya. Mansion besar ini benar – benar terasa dingin dan gelap. Sungguh Minato rasanya ingin menjerit dan meneriakan wanita yang ia cintai segenap jiwa dan raganya. Meneriakkan bahwa ia belum siap kehilangan mereka, belum siap kehilangan istrinya, belum siap kehilangan anaknya, sungguh ingin, amat teramat ingin. Namun ia simpan semua keiinginannya, tubuh kecil yang ia peluk kini lebih penting bahkan nyawanya sendiri.

Anaknya yang harus kehilangan ibu dan adiknya pada hari yang sama. Kejam, yah dunia ini sangat kejam mereka memisahkan anak sulungnya dengan ibu dan adiknya. Bibir mungil itu tidak ada habis – habisnya memanggil nama adiknya yang telah meninggalkannya.

"Kyuu... malam ini kita tidur dikamar Otou-san, yah" Minato harus tegar, ia tak boleh bersedih didepan anaknya. Peninggalan terakhir istrinya, yah ia harus bisa menjaga Kyuubi. Tidak menjawab pernyataan ayahnya, Kyuubi hanya terus memanggil nama adiknya seperti mantra yang terus diulang dan diulang tanpa henti, berharap adiknya pulang, berharap adiknya akan mendengar suaranya yang terus memanggil namanya.

"Naru...Naruu...Naruuu...Naruuu...Naruuu..."

Ruang ICU VVIP

Elektrokardiogram berbunyi seiramadengan hembusan napas dari kedua pasien yang kini sedang menutup matanya. Jemari tangan berkulit putih bergerak perlahan, menimbulkan perubahan yang berarti pada EKG tersebut. Perlahan namun pasti jemari tangan itu bergerak kembali lebih tegas, menimbulkan suara yang sedikit berisik pada salah satu EKG didalam ruangan tersebut. Kelopak matanya bergerak gelisah, bulu mata lentik itu bergerak cepat mencoba memperlihatkan warna matanya. EKG disamping hospital bed itu berbunyi memekakan telinga. Pintu kaca buram keseluruhannya terbuka menampilkan gadis berusia pertengahan berambut coklat, napasnya yang terengah – engah, bahkan gadget yang berisi data pasien serta aktivitas dari EKG itu terjatuh dari ketinggian tubuhnya.

"Tii..dak mu..ngkin.." terlihat matanya yang melebar terkejut.

Sangat berterima kasih untuk para senpai yang telah mereview dan memberikan masukkan...

BlackCrows1001,Sany migiukharin,LNaruSasu,kyuubi no kitsune 4485,Siti583,kazekageashainuzukaasharoyani,Kynha-Chan, dan Yami No Be.

terjawab yaa senpai. Gomen lama renka updatenya lama, renka lupa kalau sudah buat fic pertma. Jangan lupa kritik dan sarannya ya senpai. Diusahakan Update kilat

TBC

Read and review yaa senpai, sensei, dan para pembaca sekalian. Kalau bisa kritiknya sangat dibutuhkan. Flame juga ga apa yang penting rame deh. ^^