A/N: Akhirnya update juga, meski telat. Terima kasih untuk reviewnya...^^
Disclamer: Bleach belongs to Tite Kubo
Warning: AU, OOC
The Best First Love
"Maaf... Aku sudah memiliki tunangan." ujar Rukia.
Bagai petir di siang bolong, ucapan Rukia itu langsung menusuk tepat di jantung Ichigo. Bagaimana tidak ia merasa sakit? Cinta pertamanya memiliki orang lain. Tapi Ichigo tahu mereka berpisah selama 12 tahun dan wajar saja jika Rukia memiliki seseorang dalam hidupnya.
"Maaf, apa aku salah dengar?" tanya Ichigo memastikan.
"Itu benar..."
"Kau bohong?"
"Tidak..."
Mereka berdua kembali terdiam. Ichigo merasa sangat sakit, gadis yang ada di hadapannya ini akan menjadi milik orang lain. Kenapa? Apa ia telat untuk mengatakan perasaannya atau ia telat menemui Rukia dalam jangka waktu 12 tahun ini?
Ichigo berjalan menjauhi Rukia. Rukia melihat ada kekecewaan yang mendalam dalam wajah Ichigo. Ia tahu itu. Rukia langsung menahan kepergian Ichigo.
"Ichigo, tunggu..." gumam Rukia sambil menggengam ujung baju Ichigo.
"Aku telat, Rukia..." ujar Ichigo. Ia hanya tersenyum pahit, tapi sejenak ia mengecup kening Rukia dan berjalan meninggalkannya sendiri.
Sedangkan Rukia, ia terdiam saja. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ichigo, pemuda yang 12 tahun lalu adalah sahabatnya dan sekarang menyatakan kembali perasaannya. Entah kenapa Rukia sedikit menyesal mengatakan hal itu.
"Ichigo, maaf..." gumam Rukia dan setetes air mata mengalir dari matanya.
Keesokan harinya, Rukia berjalan seperti biasa menuju universitas. Ketika ia menaruh tasnya tanpa sengaja ia menatap ke arah teman sebangkunya, Ichigo. Ketika Ichigo berbalik ke arah lain, pandangan matanya bertemu dengan Rukia. Mereka berdua terdiam.
"Pagi, Ichigo..." sapa Rukia.
"Pagi." jawab Ichigo datar.
Entah kenapa Rukia merasa sakit mendengar jawaban Ichigo seperti itu. Apa karena mereka sudah lama tidak bertemu dan membicarakan masalah sensitif seperti kemarin akan merenggangkan hubungan mereka lagi? Entah...
.
.
.
"Ah, tumben kita pulang lebih cepat." ujar Tatsuki sambil meregangkan badannya.
"Aku setuju," ujar Orihime. "Oh ya Kurosaki-kun dan Kuchiki-san kalian berdua mau ikut kami jalan-jalan tidak?"
"Ah... Kayaknya tidak bisa, Inoue." ujar Rukia.
"Kenapa?"
Rukia tidak menjawab pertanyaan Orihime, ia belum menemukan jawaban yang tepat. Sedangkan Ichigo hanya menghela nafas saja, apa ia merasa Rukia mulai segan terhadap dirinya?
Mereka berempat berjalan melewati gerbang universitas mereka. Tapi ada beberapa orang yang terheran-heran dengan adanya mobil mewah yang berada di depan gerbang universitas, termasuk mereka bertiga kecuali Rukia.
"Waw... Mobil siapa itu?" gumam Tatsuki.
Dalam hitungan detik, dari mobil itu keluarlah sosok pemuda berambut biru terang. Ia memakai jas dan memperhatikan jam tangannya. Ia melihat sekeliling universitas dan matanya tertuju ke arah Rukia.
"Hai, Rukia. Ayo, ikut aku." ujar pemuda itu.
"EH?" Tatsuki dan Orihime heran melihat tingkah pemuda itu.
"Kuchiki-san, kau mengenalnya?" bisik Orihime.
"Dia itu..." gumam Rukia.
Pemuda itu berjalan mendekati mereka berempat. Ia langsung berdiri di samping Rukia dan memeluk pinggangnya. Mereka bertiga atau tepatnya Ichigo sangat terkejut melihat hal itu.
"Aku, Grimmjow Jaegerjaquez. Tunangan Kuchiki Rukia." ujar pemuda bernama Grimmjow itu.
Mereka bertiga dan beberapa orang yang berada di dekat mereka kaget mendengarnya. Apalagi dengan kehadiran Grimmjow yang mencolok itu. Entah kenapa Ichigo merasa sangat hancur mendengar ucapan pemuda itu.
Tunangan? Katakan hal ini candaan atau bangunkan Ichigo dari mimpi buruk ini. Tapi tampaknya hal itu tidak akan terjadi. Kemarin Rukia juga bilang ia memiliki seorang tunangan. Inikah akhir dari cintanya?
"Tunangan..." gumam Ichigo lirih. "Selamat."
"Iya. Selamat ya, Kuchiki-san." ujar Orihime sambil tersenyum.
"Selamat." tambah Tatsuki.
Tapi Rukia tidak merasa senang dengan ucapan selamat teman-temannya itu. Terutama Ichigo, Rukia yakin ucapan selamat Ichigo tadi hanyalah rekayasa. Ichigo langsung saja berjalan meninggalkan mereka.
"Lho? Kurosaki-kun mau kemana?" tanya Orihime.
"Aku mau pulang. Maaf tidak bisa ikut." jawab Ichigo. Ia ingin pergi secepatnya dari sini. Melihat Rukia bersama pemuda lain, hatinya sangat sakit. Meski ia berusaha tegar, tapi nyatanya dirinya sangat terluka.
"Ichigo..." gumam Rukia dengan raut wajah yang sedih.
"Kau kenapa, Rukia? Kita juga harus pergi. Ayahmu ingin menemuimu." ujar Grimmjow sambil menarik tangan Rukia dan membawanya ke mobil. Meninggalkan Tatsuki dan Orihime berdua saja. Mereka berdua juga pergi meninggalkan universitas dengan agenda jalan-jalan tadi.
Akhirnya Grimmjow dan Rukia telah sampai di sebuah tempat. Rumah yang sangat besar dan mewah. Iya, rumah dari keluarga Kuchiki. Kepala keluarga Kuchiki adalah seorang pengusaha yang sukses di Jepang, jadi jangan heran jika rumahnya saja terlihat sangat mewah.
"Kenapa kau tahu ayahku ingin menemuiku?" tanya Rukia.
"Tadi aku kemari. Membicarakan bisnis dengannya." jawab Grimmjow.
"Oh..."
Rukia berjalan masuk ke rumah, disusul pula oleh Grimmjow. Mereka berdua disambut beberapa maid dan segera saja menuju ruang tamu, tempat dimana ayah Rukia sering sekali berada disana.
"Ayah..." panggil Rukia.
Seorang pria berambut hitam panjang menoleh ke arah Rukia. Wajahnya cukup rupawan dan tidak terlihat sebagai seorang ayah karena wajahnya masih terlihat muda.
"Ah, kau sudah pulang Rukia." ujar ayah Rukia, Kuchiki Byakuya.
"Iya. Grimmjow bilang, Otou-sama ingin bicara denganku. Ada apa?" tanya Rukia.
"Kau dan Grimmjow, kalian berdua duduk dulu."
Grimmjow dan Rukia duduk di satu deretan kursi yang berada di hadapan Byakuya. Suasana langsung hening. Tidak ada satupun yang memulai percakapan. Jujur Rukia penasaran apa yang ingin ayahnya bicarakan itu.
"Rukia, kau dan Grimmjow sudah bertunangan. Aku rasa, aku ingin kalian menikah dalam waktu satu minggu lagi." ujar Byakuya.
"APA?" jerit Rukia sambil bangun dari kursinya. Ia sangat terkejut dengan keputusan sepihak ayahnya itu. "Kenapa menikah? Dalam waktu satu minggu lagi?"
"Lebih cepat lebih baik, Rukia."
"Tapi..."
Grimmjow hanya terdiam saja melihat mereka berdua. Kalau mereka berdua sedang berselisih seperti ini, ia tidak berani menyela. Apalagi Kuchiki Byakuya, calon mertua-nya adalah investor perusahaannya. Ia masih bersikap sangat formal jika bertemu dengan Byakuya.
"Tidak ada tapi-tapian. Kau harus mau." ujar Byakuya.
"Ah... Sejak kematian ibu, ayah selalu memaksakan kehendak. Aku capek!" Rukia langsung saja pergi meninggalkan mereka berdua dan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Grimmjow yang sedari tadi diam melihat perselisihan antara ayah-anak itu hanya terdiam. Hal ini sering terjadi, tapi ia tidak pernah melihat Rukia seperti itu. Kalau boleh jujur, tunangannya dengan Rukia hanya dengan tujuan memperlancar hubungan bisnis.
Kejam? Melanggar kebebasan? Kebahagiaan yang terenggut? Mungkin itu yang perlahan-lahan terjadi pada Rukia karena Byakuya dan Grimmjow. Mereka berdua sama-sama memiliki ego yang dominan tanpa memperhatikan perasaan Rukia.
"Ano, Kuchiki-sama..." gumam Grimmjow.
"Kau jangan khawatir. Aku sudah mempersiapkannya. Kau hanya perlu membujuknya." ujar Byakuya datar.
"Baiklah..."
.
.
.
Rukia hanya berdiam diri saja di kamar. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Rasanya menyakitkan. Ia sudah berusaha sabar untuk ayahnya. Tapi tingkah dominannya itu malah makin menjadi.
"Otou-sama selalu seenaknya!" keluh Rukia sambil memukul bantalnya. Lalu ia kembali terdiam. Wajah cantiknya terlihat murung. Ia berharap ibunya masih hidup dan bisa memberinya solusi atas masalah ini.
Tiba-tiba saja terlintas sosok Ichigo di benak Rukia. Entah kenapa ia merasa sangat menyesal. Hatinya terasa sakit jika mengingat apa yang terjadi padanya kemarin.
"Aku telat, Rukia..."
Ucapan itu terus terngiang-ngiang di telinga Rukia. Kenapa? Kenapa Ichigo harus telat mengatakan perasaannya? Kenapa Ichigo baru muncul setelah 12 tahun tidak bertemu? Kenapa ia dulu pergi? Ia menyesal sekarang.
"Dulu... aku pergi meninggalkannya. Apakah aku berhak... mendapat cintanya?" gumam Rukia dengan wajah tertunduk.
Air mata perlahan mengalir dari wajah cantik Rukia. Ia merasa sangat sakit. Ia tertekan. Grimmjow memang baik, tapi ia tidak mencintainya. Perasaannya hanya sebatas teman saja. Tapi Byakuya ingin ia menikah dengan Grimmjow? Rukia tidak tahu harus berbuat apa.
Selama beberapa hari terakhir ini Rukia terlihat murung. Ichigo menyadari ada yang aneh dengan Rukia. Ia merasa sedih jika tidak melihat Rukia tersenyum. Ia melirik ke arah Rukia, wajah Rukia masih saja terlihat sendu.
"Ada apa, Rukia?" tanya Ichigo.
"Ah... tidak ada apa-apa." ujar Rukia pelan.
"Bohong. Pasti ada sesuatu."
"Maaf, Ichigo. Bisa kita tidak membicarakannya?"
Ichigo terdiam, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Rukia. Beberapa hari telah berlalu sejak kedatangan tunangan Rukia di universitas, dan sejak hari itu tunangannya sering menjemput Rukia.
"Masalah dengan tunanganmu?" ujar Ichigo asal.
"Iya." gumam Rukia pelan.
"Kenapa? Ia mencintaimu... harusnya kau bahagia."
"Kau tidak mengerti!"
Suara Rukia cukup keras hingga teman-temannya bisa mendengarnya. Rukia langsung saja berlari meninggalkan kelas, beberapa pasang mata memandang heran ke arah Rukia dan Ichigo.
"Rukia, tunggu!" seru Ichigo sambil berusaha menyusul Rukia.
Tapi Rukia tidak mendengarnya, ia terus saja berlari. Ichigo tetap pada pendiriannya, ia menyusul gadis berambut hitam itu. Cukup lama juga mereka berdua berlari, hingga sampai di taman belakang. Ichigo langsung saja menangkap tangan Rukia ketika ia berhasil menyusulnya.
"Sebenarnya ada apa, Rukia? Bilang saja." ujar Ichigo.
Rukia tidak menjawab apa-apa, tapi wajahnya penuh dengan air mata. Ichigo bisa merasakan bahwa gadis yang ada di hadapannya ini sangat terluka. Ichigo langsung saja memeluk tubuh mungil Rukia. Dan Rukia langsung menangis.
"Aku... tidak tahu lagi... Aku tidak ingin, Ichigo..." ujar Rukia terisak.
"Tidak ingin apa?" tanya Ichigo. Ia berusaha untuk menjaga perasaan Rukia dengan tidak bertanya macam-macam. Biarlah Rukia sendiri yang mengatakannya.
"Otou-sama memaksaku menikah dengannya. Aku tidak mau!"
Ichigo merasa lemas mendengar ucapan Rukia itu. Menikah? Itu sudah tahap yang dimana Ichigo tidak bisa mengganggu hubungan Rukia dan tunangan Rukia itu. Ichigo merasakan hatinya sangat sakit.
"Menikah ya?" lirih Ichigo. "Kapan?"
"Tiga hari lagi..." ujar Rukia sambil terisak.
"Tiga hari lagi?" Ichigo terkejut mendengarnya. Kenapa harus tiba-tiba seperti ini? Semuanya terasa cepat. Jauh di lubuk hati Ichigo, ia tidak ingin ada siapapun yang mengambil Rukia. Egois memang, tapi itulah yang ia rasakan.
"Aku..." air mata masih mengalir di wajah Rukia. Ichigo menghapus air mata Rukia itu dengan lembut. Ia kembali memeluk Rukia dalam diam. Seolah-olah keheningan mampu mengungkapkan isi hati mereka.
Masing-masing dari mereka tidak ingin berpisah satu sama lain. Cukup selama 12 tahun itu saja yang memisahkan mereka. Jangan ada lagi yang menghalangi mereka. Tapi bisakah?
"Rukia, aku tidak ingin kau menjadi miliknya." ujar Ichigo.
Rukia terdiam saja mendengarnya, wajahnya perlahan-lahan memerah. Ia merasa senang mendengar ucapan Ichigo itu. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ichigo melepaskan pelukannya itu dan menatap mata violet Rukia dalam.
"Aku ingin menepati janji kita dulu."
Rukia langsung saja memeluk Ichigo. Ia merasa bahagia mendengar ucapan Ichigo. Tapi cinta memang aneh ya? Perasaan yang hilang dalam waktu 12 tahun ini bisa kembali muncul. Apa ini yang namanya jodoh?
"Tapi, Ichigo... Aku... akan menikah..." gumam Rukia.
"Kau tidak mencintai dia kan?" tanya Ichigo.
"Iya."
"Kalau aku mendengar dari mulutmu sendiri kau mencintai tunanganmu itu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku."
Rukia hanya memaksakan dirinya tersenyum. Meski ada kesenangan dalam hatinya tapi rasa sakit juga perlahan muncul. Kenapa ia harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai? Kenapa hidupnya harus diatur?
"Aku akan melindungi." ujar Ichigo.
"Kau janji?" tanya Rukia.
"Janji."
Akhirnya hari yang tidak ingin dilalui oleh Rukia tiba, hari pernikahannya. Undangan telah disebarkan ke beberapa rekan bisnis Byakuya dan Grimmjow juga teman Rukia termasuk Ichigo.
Rukia berada di rumahnya, ia memakai gaun pengantin yang sangat indah. Tapi keindahan gaun itu tidak seirama dengan keindahan wajah Rukia. Kelam. Hanya kata itu yang terlihat jelas di wajah Rukia. Wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan kesenangan.
"Kenapa wajahmu begitu, Rukia-sama? Ini hari bahagia-mu, kan?" tanya maid yang membantu merapikan gaun pengantin Rukia.
"Hari bahagia, ya?" gumam Rukia. Wajahnya malah makin terlihat sendu. Hatinya terasa sangat sakit. Ia bahkan tidak ingin berjalan ke gereja, ia tidak ingin menangis disana. "Tapi aku tidak merasa bahagia."
Maid itu tidak bisa membantu Rukia, ia tidak berhak. Begitu ia selesai merapikan gaun pengantin Rukia, ia berjalan meninggalkan Rukia.
"Kalau Rukia-sama sudah siap, kita akan menuju gereja." ujarnya dan ia benar-benar meninggalkan Rukia sendiri.
'Tes'
Perlahan air mata jatuh dari mata Rukia. Ia merasa sangat sakit. Ia tidak ingin menikah, ia ingin menjadi milik Ichigo. Ia ingin bertemu Ichigo. Tapi selama tiga hari terakhir, ia disibukan dengan kegiatan mempersiapkan pernikahannya itu. Ingin rasanya Rukia berteriak mengatakan bahwa ia tidak ingin. Tapi perkataannya itu tidak akan mempan pada ayahnya.
"Ichigo..." ujar Rukia pelan.
.
.
.
Sementara di gereja sudah banyak tamu undangan yang datang, sang pengantin pria juga sudah berada di altar. Mereka semua menunggu kedatangan pengantin wanita. Tapi Rukia belum juga datang.
"Dimana sang pengantin wanita?" tanya sang Pastor. Grimmjow hanya mengangkat bahu. Ia memang tidak tahu dimana Rukia.
"Sebentar lagi." gumam Grimmjow.
Dan benar tidak lama kemudian Rukia sudah tiba di gereja. Ia melangkahkan kakinya dengan perlahan ke altar. Tapi seiring dengan langkahnya yang mendekati altar hatinya makin tidak tenang. Ia tidak ingin berada di sini. Ia melirik kiri dan kanan, hanya untuk mencari sosok Ichigo. Tapi ia tidak menemukannya.
'Tidak ada ya?' batin Rukia kecewa.
Akhirnya Rukia telah sampai di altar. Rukia hanya menundukkan wajahnya saja, ia tidak berani melihat Grimmjow ataupun sang Pastor itu.
"Baiklah, karena pengantin wanita sudah tiba. Kita akan mulai upacara pernikahan ini" ujar sang Pastor. "Tapi sebelum saya mengikat mereka berdua sebagai pasangan suami-istri di hadapan Tuhan adakah yang keberatan dengan penyatuan mereka? Kalau ada, lebih baik bicara sekarang atau tidak sama sekali."
Para tamu hanya saling berpandangan saja, mereka berharap pernikahan ini berjalan lancar. Sedangkan Rukia sudah pasrah saja, ia tidak melihat sosok Ichigo di dalam gereja. Apakah Ichigo tidak datang kemari untuk menyusulnya? Ingin rasanya Rukia menangis.
"Saya keberatan!" ujar seorang pemuda. Semua tamu undangan, Grimmjow, Rukia dan sang Pastor melihat ke arah pemuda yang berada di depan pintu gereja.
"Ichigo!" seru Rukia.
"Saya... sangat keberatan, Bapa." ujar Ichigo seraya berjalan menuju altar. Ketika sampai, ia melirik ke arah Rukia. Rukia terlihat senang atas kehadiran Ichigo.
"Kau keberatan?" tanya sang Pastor memastikan.
"Iya. Dialah cinta pertama saya, dan saya tidak rela ia menjadi milik orang lain. Permisi." setelah mengucapkan kata-kata itu, Ichigo langsung menarik tangan Rukia dan pergi meninggalkan gereja.
Para tamu undangan menatap kepergian mereka dengan berbagai macam ekspresi. Heran, kecewa dan sebagainya. Sedangkan Grimmjow, sang pengantin pria hanya tersenyum saja melihat kepergian Rukia.
"Kenapa kau tidak mengejarnya, Grimmjow?" tanya Byakuya. "Kau calon suami-nya, kan?"
"Tapi, kurasa ia lebih bahagia dengan pemuda itu. Aku tidak berhak menganggu mereka, begitu pula Anda, Kuchiki-sama." Grimmjow berjalan meninggalkan altar dengan santai. Para tamu undangan juga pergi meninggalkan gereja. Hari suci ini tidak jadi dilaksanakan karena sang pengantin wanita dibawa pergi.
Beberapa pasang mata melirik ke arah Ichigo dan Rukia dengan heran. Tentu saja, mereka berdua terus berlari dan Rukia masih mengenakan gaun pengantin yang mencolok. Tapi mereka berdua tidak peduli. Istilah run away bride sangat cocok untuk Rukia. Akhirnya ia bisa bebas dari pernikahan yang tidak ia inginkan.
Setelah beberapa waktu berlalu, mereka berdua berada di taman Karakura. Ichigo yang sedari tadi menggengam tangan Rukia langsung melepaskannya. Ia menatap ke arah Rukia sambil tersenyum.
"Kau tidak menjadi miliknya." ujar Ichigo.
"Iya. Aku akan menjadi milikmu, Ichigo. Aku sudah bersumpah pada Tuhan." gumam Rukia sambil tersenyum.
Ichigo tersenyum melihat Rukia, ia meninggalkan Rukia sejenak. Rukia heran dengan tingkah Ichigo, tapi ia tetap menunggu kedatangan pemuda yang ia cintai itu. Tidak lama Ichigo datang dengan beberapa bunga lily putih di tangannya.
"Rukia, ini untukmu." ujar Ichigo sambil memberikan bunga-bunga itu pada Rukia.
Rukia tersenyum melihatnya dan ia langsung menerima bunga dari Ichigo. Ia tersenyum saja melihatnya, ia merasa senang sekali. Tiba-tiba Rukia langsung saja memeluk Ichigo. Ichigo sedikit terkejut.
"Rukia?" tanya Ichigo.
"Ichigo... terima kasih kau masih mau mencintaiku selama 12 tahun terakhir." ujar Rukia. Ia tidak bisa menahan rasa bahagia di hatinya. Bahkan ia menangis. Melihat Rukia ynag menangis, Ichigo jadi bingung.
"Kau sedih?"
"Bodoh. Aku teramat sangat bahagia."
Ichigo tersenyum saja melihat tingkah Rukia itu. Ia menghapus air mata Rukia dengan lembut dan menatap mata violet itu. Ichigo tidak pernah bosan melihatnya, mata yang mampus menghipnotisnya.
"Kalau begitu, kau bahagia denganku?" tanya Ichigo.
"Tentu saja." jawab Rukia.
"Aku juga..."
Ichigo mendekatkan wajahnya pada Rukia. Rukia langsung memejamkan matanya, dan mereka berdua langsung memberi kehangatan satu sama lain di bibir mereka. Ciuman pertama yang manis dan seperti pengantin.
Cinta pertama Ichigo terwujud, Rukia menjadi miliknya. Ia hanya tersenyum, begitu juga Rukia. Mereka tidak bisa menahan kebahagiaan yang sedang melanda mereka berdua. Seolah-olah dunia itu milik mereka berdua.
The End
A/N: Akhirnya rampung juga.
Gomen kalau alurnya kecepatan. Tapi hanya ini yang ada di otak.
Kalau bersedia, silahkan review?^^
And I hope IchiRuki always together...
