Summary: Kehilangan orang yang kita sayangi memang menyakitkan, tapi jauh lebih menyakitkan jika kehilangan mereka satu per satu...
Genre: Friendship/Hurt/Comfort (sementara ini)
Disclaimer: of course bukan punyaku lah...
Ini Chapter 2 nya ! terima kasih buat saran dan reviewsnya. I hope you enjoy it!
I Want To Taste a Piece of Heaven
Cinta itu cuma bullshit! Nggak ada yang namanya cinta atau apalah sebutannya itu di dunia ini. Semua cuma klise, hanyalah sebuah kedok untuk memanfaatkan orang lain. Gara-gara kata itu juga hidupku menjadi kacau balau, berantakan. AHHH..! Kapan semua ini berakhir?
xxxxx
"NARUTO! NARUTO UZUMAKI!" teriak dosen.
"Eh….."
"Apakah mata kuliah saya begitu membosankan hingga kau tak memperhatikan apa yang baru saja saya jelaskan?!"
Naruto hanya diam. Dia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu keluar.
"HEI, NARUTO! MAU KEMANA KAMU?! SAYA BELUM SELESAI BICARA!" teriak dosen itu lagi yang sayangnya tak dipedulikan oleh Naruto yang tetap berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh sedikit pun.
"NARUTO! KEMBALI KE TEMPAT DUDUKMU ATAU KAMU TAK AKAN LULUS DALAM MATA KULIAH SAYA!" ancam dosen itu.
Naruto menghentikan langkahnya.
"Terserah! Saya tidak peduli" kata Naruto dingin lalu kembali melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan dosen dan teman-teman sekelasnya yang terheran-heran dengan sikapnya itu.
xxxxx
Naruto sedang duduk santai di salah satu bangku di taman utara kampus, di telinganya tersemat sepasang earphone, matanya terpejam sembari mendengarkan musik dari earphone yang terhubung dengan MP4 nya. Naruto menjadi seseorang yang sangat berbeda dan penyendiri sejak kepergiannya yang tanpa kabar beberapa hari yang lalu.
"Hei, Naruto! Ternyata kau di sini. Dari tadi aku mencarimu keliling kampus. Begini, aku mau minta bantuanmu untuk mempersiapkan acara pertunangan Sakura dengan Sasuke" kata Ino sambil duduk di sebelah Naruto.
Naruto hanya diam, tak bergeming sedikit pun, bahkan membuka matanya yang terpejam pun tidak. Itu membuat Ino merasa sangat kesal.
"Oi..! NARUTO!" teriak Ino setelah melepas earphone yang ada di telinga kiri Naruto.
"Auch..!" erang Naruto sambil memegangi telinga kirinya.
"Kau itu tidak mendengarkan kata-kataku"
"Hhhh… Apa maumu?" tanya Naruto dingin.
Ino terdiam. Dia berpikir bahwa kata orang-orang mengenai perubahan sikap Naruto setelah kepergiannya yang tanpa kabar itu ternyata bukanlah suatu kebohongan belaka. Naruto berubah, benar-benar berubah.
"I…ini" katanya sambil berusaha menutupi keterkejutannya, "aku ingin meminta bantuanmu mengenai acara pertunangan Sasuke dan Sakura. Kau bisa membantuku?"
Naruto menatap Ino dingin. Mendengar nama kedua 'SAHABAT'nya itu, membuat amarah kembali menyeruak dalam hatinya.
"Ba..bagaimana? Bisa?"
"Maaf. Aku sibuk" tolak Naruto lalu beranjak dari bangku itu dan berjalan menuju tempat parkir tanpa mempedulikan Ino yang masih duduk di bangku itu.
Ino masih duduk di bangku itu bahkan setelah Naruto tak terlihat lagi dari taman itu. Ino merasa sangat terkejut akan perubahan yang terjadi pada Naruto. Dia merasa tak mengenal Naruto yang baru saja berbicara dengannya.
Sepanjang Naruto berjalan ke tempat parkir mobilnya, pikirannya tak lepas dari acara pertunangan Sasuke dan Sakura yang akan diadakan akhir minggu ini hingga tanpa sadar Naruto mengambil jalan yang tak ingin dilaluinya... karena pasti dia akan bertemu dengan 'TEMAN-TEMAN'nya di sana.
"Hei, Naruto!" sapa seorang laki-laki berambut hitam yang berjalan ke arah Naruto sambil melambaikan tangannya. Sesuatu yang jarang sekali terjadi.
Ternyata perkiraanku benar... aku akan bertemu dengannya di sini
Naruto hanya diam, tak ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya untuk membalas sapaan 'teman'nya itu dan amarah pun kembali menyeruak dalam dadanya setelah melihat wajah laki-laki yang menyapanya tadi. Hati Naruto pun semakin teriris-iris setelah pancaran suatu sinar kebahagiaan dari mata laki-laki berambut hitam itu, hal yang belum pernah sekalipun dilihatnya dari Sasuke, tertangkap oleh matanya, yah... meski seharusnya ia ikut bahagia jika 'teman'nya itu bahagia.
"Hei!! Kau itu tuli atau apa? Ah.. sudahlah. Sekarang aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, tapi bukan di sini"
Naruto tetap membisu, berjalan dengan tujuan yang tak berubah tanpa mempedulikan Sasuke yang mengajaknya pergi.
"Ikut aku sekarang!"
"Maaf, Sasuke. Ada sesuatu yang harus aku lakukan" kata Naruto setelah sesaat menghentikan langkahnya.
"Tunggu!! Ini sangat penting!"
Tanpa menghentikan langkahnya, Naruto pun menoleh sembari berkata, "Aku benar-benar minta maaf. Aku ada urusan. Ehm... aku ada tugas kuliah."
Sungguh suatu pemilihan alasan yang salah.
"Ahh...! Sudahlah! Ikut aku! Masalah tugasmu itu akan ku bantu asalkan kau mau ikut denganku"
Apa-apaan dia? Apa maksud semua ini?
Sasuke mulai kesal karena Naruto tak merespon kata-katanya. Dengan agak kasar dia pun menarik bahu Naruto agar ia berhenti melangkah dan juga... berhenti menghindari Sasuke dan teman-teman yang lainnya seperti yang ia lakukan beberapa hari ini.
"Dobe! Apa kau—"
Kedua mata mereka bertemu. Sasuke tersentak dan terdiam. Tatapan yang sungguh dingin, dengan melihatnya saja sudah membuat bergidik. Naruto pun menyingkirkan tangan Sasuke dari bahunya tanpa berkata sepatah kata pun lalu kembali melangkahkan kakinya menjauhi Sasuke.
Sasuke benar-benar terkejut. Dia masih tidak percaya dengan mata yang baru saja dilihatnya. Mata penuh kebencian, kesedihan, kekecewaan, serta amarah. Dia lebih terkejut lagi karena mata itu adalah mata milik Naruto, sahabatnya yang biasanya selalu riang dan ceria meski sebenarnya menemui banyak masalah dalam hidupnya.
"Ternyata yang dikatakan orang-orang mengenai perubahanmu itu benar... Kini aku sungguh merasa tak mengenalmu lagi" ucapnya lirih, hampir tak terdengar dimakan suara-suara dari kerumunan orang di sekitarnya, tapi tetap saja masih terdengar oleh sepasang telinga milik seseorang yang sedari tadi bersembunyi tak jauh dari Sasukedan Naruto.
"Naruto... Apa yang membuatmu berubah seperti ini?" ujar orang itu lirih sembari menghilang di antara kerumunan orang-orang.
xxxxx
Tok...Tok...Tok...
Pintu apartemen Naruto diketuk oleh seseorang. Pemiliknya yang ada di kamarnya pun tak menjawab atau beranjak dari tempat tidurnya untuk membukakan pintu. Naruto tak ingin bertemu ataupun berbicara dengan siapa pun untuk saat ini. Kejadian bertemu-dengan-'teman' tadi sudah cukup, sudah cukup untuk membuatnya kembali merasakan sakit.
"Hmmm... Naru... I..Ini aku. A..aku tahu sebenarnya kau ada di dalam dan mendengar suaraku. Aku ke sini ha..hanya ingin mengantarkan makanan. A..aku tahu kau pasti belum makan dari tadi" ucap orang itu terbata-bata, takut membuat Naruto merasa terganggu dengan kehadirannya.
Aku? Siapa?
Hening. Tak ada satu pun kata yang terucap dari bibir mereka berdua, Naruto tetap diam dalam amarahnya. Orang itu pun akhirnya mengalah karena ia sadar berapa lama pun ia menunggu, Naruto tak kan pernah membukakan pintu itu untuknya. Akhirnya ia meletakkan makanan yang dibawanya itu di depan pintu dan menyelipkan selembar surat di celah pintu.
"Hhhhh... I..ini aku taruh di depan pintu. Kumohon makanlah! Ja..jangan sampai kau sakit nantinya" katanya lalu pergi dari tempat itu dengan beberapa tetes air mata yang mulai membasahi pipinya, "kau memang berubah..."
xxxxx
Pagi yang cerah tapi sayangnya tak secerah suasana hati Naruto. Pagi ini ia dibangunkan oleh mimpi buruk lagi. Benarkah itu buruk? Atau itu hanya anggapannya saja? Ahh... sudahlah itu tak penting. Yang jelas suasana hati Naruto kian memburuk ditambah dengan mimpi buruk yang selalu dialaminya setiap malam belakangan ini.
Naruto pun semakin dingin kepada setiap orang yang ditemuinya lebih-lebih terhadap orang yang dikenalnya. Dia semakin tak peduli pada apa pun. Naruto sudah tak ingin merasakan kebaikan orang lain lagi karena dia percaya, nantinya dia pasti akan kecewa dan terluka lagi. Yah... sudah terlalu banyak luka serta kekecewaan yang dialaminya meski sebenarnya dia masih terbilang sangat muda, umurnya saja baru 20 tahun.
"HEI NARUTO!!" panggil seorang wanita berambut pink dengan nada agak marah sambil berlari ke arah Naruto.
Hmm... kini aku bertemu dengannya...
Saat wanita itu sampai tepat di hadapan Naruto ia melancarkan sebuah pukulan super kuat pada Naruto. Naruto hanya diam meski sebenarnya ia tahu bahwa Sakura pasti akan memukulnya seperti ini, ia pasrah. Naruto merasa bahwa dia memang pantas untuk mendapatkan pukulan itu. Naruto segera berdiri lalu pergi meninggalkan
Sakura tanpa mempedulikan rasa sakit bekas pukulan Sakura yang membuatnya terlempar beberapa meter. Baru beberapa langkah ia berjalan, Sakura sudah menghentikannya.
"Mau lari kemana kamu, Naruto?!" tanya Sakura kesal kepada laki-laki berambut kuning yang sekarang ada di hadapannya itu.
"Aku tak lari" jawab Naruto singkat sambil menyunggingkan sebuah senyuman palsu dari bibirnya.
"Lalu kenapa kau pergi?"
"Tak apa-apa"
"Jawab aku yang benar! Kenapa telepon serta SMS ku tak ada yang kau balas?! Apa kau tahu aku beberapa hari ini berusaha mencarimu?! Aku menerima banyak keluhan dari teman-teman mengenai sikapmu yang tidak menyenangkan. Memangnya mereka pikir aku babysittermu hingga mereka menyuruhku untuk menasihatimu agar mengubah sifatmu itu?! Kau ini sungguh membuatku kesal!!"
Naruto diam seribu bahasa dan itu membuat Sakura semakin kesal.
"Naruto! Sebenarnya kau itu kenapa?! Bahkan dosen pun mengeluh tentang sikapmu itu. Kau itu Naruto bukan sih?!"
"Aku tak apa-apa"
"Jangan jawab pertanyaanku dengan kata tak apa-apa! Kalau tak ada apa-apa kau tak mungkin bersikap seperti itu. Memangnya kau pikir sudah berapa lama aku mengenalmu?! Kita sudah berteman sejak kecil, mana mungkin aku tak tahu kalau ada sesuatu. Aku mengerti kalau ada sesuatu yang mengganggumu" kata Sakura dengan nada yang mulai melunak.
Mengerti? Cih... apa yang kau tahu dan mengerti tentangku? Jangan sok tahu! Kau tak tahu dan mengerti apapun!
"Naruto!"
"Aku tak apa-apa" kata Naruto masih dengan senyuman yang sama.
"NARU—"
"Aku tak apa-apa! Berapa kali aku harus mengatakannya?! Kau tentu tidak tuli kan?!" bentak Naruto, memotong kata-kata Sakura.
"Na...Naruto..." kata Sakura yang tanpa sadar mundur selangkah setelah bentakan itu.
"Sudahlah! Jangan SOK TAHU tentangku! Kau tak tahu apapun tentangku!" ucap Naruto dingin.
Sakura tersentak dan terdiam. Tak ada satu kata pun yang terucap dari mulutnya. Dia sangat terkejut dengan sikap Naruto itu karena selama ia mengenal Naruto belum pernah sekali pun Naruto membentak dan berkata kasar padanya sepeti saat ini. Naruto pun melangkahkan kakinya sembari mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya akibat terbentur batu saat mendarat di tanah tadi, meninggalkan Sakura sendirian yang mulai berurai air mata.
"Kau tak tahu apa-apa tentangku Sakura... tak kan pernah, sampai kapan pun..." ucapnya lirih.
xxxxx
Maaf kalau tidak sesuai dengan yang diharapkan. Maka dari itu, mohon reviewsnya ya! :D
