Haii! Ini chapter kedua dari fic pertamaku "My Dear Brother". Maaf baru bisa update…. Lagi banyak tugas nih, jadi susah konsen waktu nulis cerita. Sebenernya waktu nulis cerita ini aku belum nentuin jalan ceritanya. Bakal jadi Yaoi atau nggak? Hehhe *bletak! Dipukul Kyuubi*. Hiks~~

Ok! Selamat menikmati! *emang ada makanannya?*

- Chapter 2 : Mirripp? -

"Heeiiii! Sasukeeee! Ayo pulang sama-sama!" teriak Naruto yang langsung lari ngejar Sasuke n Sakura yang udah jalan duluan. Ngapain sih tuh anak ngajak bareng mulu!

"Cukup 'Sasuke' aja – kebanyakan 'e' tau! - " kata Sasuke begitu Naruto sudah berhasil nyusul dia.

"Ehehe."

"Emmm…. Maaf gue duluan ya." Sakura langsung ngacir duluan.

"Eh? Kenapa tuh anak? Kok malah duluan?" Naruto langsung kecewa soalnya dia kan nyamperin Sasuke biar bisa bareng sama Sakura, cewek yang doi sukain dari TK.

"Entah! Udah bosen ngikutin gue kali!"

Salah Sasuke-kun! Gue masih trauma kalo' musti pulang bareng sama Naruto! Mana mungkin gue bosen sama elo…. (suara hati Sakura).

"Gue heran sama elo, kenapa sih elo bisa segitu sok kenalnya sama semua orang?"

"He? Gue nggak seramah itu kali." Jawab Naruto PeDe.

"Heh! Emang siapa yang bilang elo ramah? Gue bilang elo itu sok kenal! Kayak waktu Gaara jadi murid baru dikelas kita, semua anak pada ngejauhin, gue sih nggak peduli. Eh elo-nya malah SKSD. Elo nggak takut tah kalo' misalnya dia penjahat or sebangsanya?" lanjut Sasuke sambil menyilangkan tangannya didada.

"He? Gue nggak nyangka kalo' elo sepenakut itu."

"Ha! Siapa yang penakut? Gue Cuma nggak suka aja kalo' harus sok kenal kayak elo! Bodoh!"

"Elo ngatain gue?"

"Iya! Apalagi tampang elo kemarin! Bodoh banget!"

"Ukh! Gue malu sama Sakura-chan."

"Che'. Sempet mikirin begitu?" Sasuke buang muka. Geleng-geleng. Eh? Btw kenapa gue malah ngobrol kayak gini sama siBodoh ini? Ngabisin waktu, tenaga, suara, dst.

"Heh, Naruto. Elo pernah ngeliat hasil tes psikolog-nya kakak elo itu nggak?" tiba-tiba Sasuke jadi serius dan inget buat ngasih tau sesuatu ke Naruto.

"Nggak. Gue nggak pernah liat."

"Udah gue duga."

"Nih! Gue punya copy-annya." Kata Sasuke sambil nyerahin selembar kertas yang doi taruh disaku seragam SMP Konoha-nya.

"Gue nggak mau liat."

"What?"

"Gue nggak mau liat!" Tegas Naruto.

"Heh! Elo harus ngeliat hasil tes ini!"

"Kenapa? Setiap orang itu butuh privasi. Dan itu adalah privasi-nya Kyuu."

"Bukannya elo itu SKSD? So, elo butuh info sebelum elo terlanjur deket sama seseorang!"

"Gue kenal Kyuu dari kecil! Dan gue udah tau siapa n gimana Kyuu itu! So, gue nggak butuh itu! Elo ternyata cerewet n nyebelin ya."

"Gue mau nolong elo!"

"Nolong gue dari apa, huh?" Naruto bener-bener kesel sama sikap Sasuke yang menurutnya mau ngejauhin dia n Kyuubi.

Iya juga. Gue mau nolong dia dari apa? N kenapa gue mau repot-repot kayak gini? Gue Cuma…. "Ngerasa sama."

"Apa?"

Whuusshh….

Kertas copy-an hasil tes psikolog Kyuubi itu terbang melintasi kepala Sasuke n terus bergerak kebelakang. "He? Gimana kertas itu bisa terbang? Padahal kan nggak ada angin." Kata Naruto.

"Kau/Gaara?" kata Sasuke n Naruto serentak begitu tau siapa biang keladi yang ngelakuin itu, Gaara si penggerak benda. Gaara memicingkan matanya sedikit melihat tulisan-tulisan yang terketik rapi diatas lembaran itu. "Darimana kau dapatkan ini."

"Elo tanya ama gue? Pake nada dikit kenapa?" sungut Sasuke kesal sama nada bicara Gaara yang keseringan datar.

"Hm, jadi begitu ya. Naruto, hari ini kita belajar dirumahmu saja ya. Soalnya dirumahku sudah dipakai Temari untuk arisan dengan teman-temannya."

"Ah! Padahal gue suka banget belajar dirumah elo. Tapi ya sutra lah."

.

.

.

"Ini pertama kalinya Gaara maen kerumah gue kan!" seru Naruto semangat. Hm. Ternyata rumah Naruto besar juga ya. Pikir Gaara begitu sampe didepan gerbang rumah Naruto. Selama diperjalanan pulang tadi, Sasuke udah nggak banyak bicara. Kesal sama Naruto tuh. Abisnya dia udah susah payah ngeluarin tenaga buat ngomong, eh malah jadi berantem gitu.

"Ayo! Gue kenalin sama kakak gue."

Gaara Cuma mengangguk aja n ngikutin Naruto yang udah masuk duluan.

"Kyuu…." Kok nggak ada jawaban? Naruto ngelongok keruang TV. "Kyuu…." Nggak ada. Didapur juga nggak ada. "Jangan-jangan Kyuu belum pulang sekolah atau lagi dikamar ya?"

"Udah nggak usah dicari. Mungkin lagi sibuk. Kita kesinikan mau belajar."

"Oh iya. Dikamar gue aja yuk."

.

.

"Elo udah pulang?" tanya Kyuubi yang baru keluar dari kamarnya, bangun tidur, begitu ngeliat seseorang yang mau ngebuka pintu kamar adeknya itu.

"Eh?" mata Kyuubi terbelalak begitu tau kalo' seseorang itu bukan adeknya. Melainkan sosok berambut merah n berwajah dingin. "Huh! Udah lama ya." Lanjut Kyuubi.

"Apa maksudnya. Kau pasti Kyuubi-kun." Gaara rada getir juga kalo' ditatap kayak gitu sama mata merah Kyuubi.

"Hm…. Ternyata nada bicara elo berubah tapi itu nggak akan bisa nipu gue."

"?" Gaara bingung.

Dengan gerakan cepat, Kyuubi ngelempar lima panah yang doi bawa dari kamar buat maen apa lah itu yang ngincer titik merah ditengah dari sebuah papan yang digantung didinding ruang TV dilantai bawah. Ke lima panah itu nyerang beberapa titik tubuh Gaara yang berjarak 4 meter dari Kyuubi.

Prang! Prang! Prang! Prang! Zleb!

Gaara narik piring-piring pajangan yang ada disekitar lorong itu, tentunya dengan pikirannya. Sayang, piringnya Cuma ada empat n doi nggak sempet berkelit dari satu panah terakhir yang langsung kena telak dibahu kirinya.

"A…. aduh!".

"Gaara, jadi elo udah kenal ama kakak gue?" tanya Naruto yang baru muncul dari dapur buat ngambil beberapa bungkus makanan mini-market dari kulkas. Nggak tau keributan apa yang baru terjadi.

"Ukh!" Naruto mual begitu nyium bau darah Gaara yang keluar dari luka dibahu kirinya – nggak terlalu banyak sih - .

"Kyuu! Elo apain si Gaara?" Doi setengah teriak karna ini pertama kalinya doi ngeliat kakaknya melukai temennya yang maen kerumah. Biasanya kan Cuma hewan doang.

"Siapa? Gaara?" ulang Kyuubi.

"Gaara maen kesini karna mau ngajarin gue. Dia bukan pencuri. Emang gue yang nyuruh dia masuk kekamar gue duluan karna kita mau belajar dikamar." Jelas Naruto polos.

"Eh? Pe, pencuri? Eh, I…. iya…. Gue kira tadi elo pencuri." Kyuubi celingukan.

"Udah. Nggak apa-apa kok."

"Sini biar gue obatin." Lanjut Kyuubi dengan senyum malaikatnya. Gaara tersepona, eh terpesona…. Auranya beda sama yang tadi. Lebih ramah. Pikir Gaara kalem – tuh kan, apa kubilang. Kyuubi itu pinter ngatur suasana orang-orang atau pun hewan-hewan disekitarnya. Jadi lebih nyaman gitu – .

"Gue bener-bener minta maaf. Gue nggak tau kalo' elo temennya Naruto"

"Tidak apa-apa. Lagipula sepertinya tadi Kyuubi-kun salah mengira aku sebagai orang lain."

"Ee? Apa keliatannya seperti itu?"

"Maaf."

Qiesha d' ariaseta

Kyuubi memacu kencang mega pro-nya, melibas adeknya yang berangkat 20 atau 30 menit lebih dulu – di sini Naruto pulang-pergi sekolah dengan jalan kaki – nggak biasanya Kyuu nyuekkin gue.

Nggak sampe 10 menit Kyuubi udah memarkirkan motornya diparkiran sekolahnya, SMA Konoha, tentunya parkir sembarangan aja. Satpam-satpam nggak ada yang berani menegurnya, abisnya meski si Uzumaki sulung ini punya wajah anggun bak malaikat tapi death-glarenya nyaingin Raja Setan! Kyuubi kacau. Sebenernya doi masih berpikir tentang kejadian semalam saat dia secara sadar mengira bahwa Gaara adalah…. Gimana gue bisa salah orang sih? Padahal mereka sama sekali nggak mirip! Cuma rambut merah n wajah dingin-nya aja yang sama…. Gue terlalu paranoid?

BRUKK!

"A…. aduhh…."

"Elo jalan pake mata nggak sehh?" bentak Kyuubi ke seseorang yang bertabrakan dengannya sampai membuat dia jatuh dipangkuan orang itu dengan wajahnya duluan.

"Kyuu-chan, elo itu yang jalannya nggak pake mata. Jelas-jelas elo yang nabrak dia." Itachi yang tiba-tiba muncul sambil geleng-geleng. Hari ini dia sensi banget.

"Aduh…. Kyuubi-kun berat sekali…." Kata Anko, kakak kelas yang bertabrakan dengan Kyuubi dilorong depan kelasnya.

"Wah~~ ternyata Kyuu-chan pandai memanfaatkan kesempatan ya~~" goda Itachi yang melihat Kyuubi tidak segera beranjak dari posisi jatuhnya. Dipangkuan Anko.

"A. Apa? Huh! Gue lebih suka kalo' muka gue jatuh kelantai aja!" sungut Kyuubi kesal.

Jeledugh!

"Aduh!" jidat Kyuubi bener-bener mencium lantai! Soalnya Anko tiba-tiba berdiri dan sudah pasti menyebabkan wajah Kyuubi yang masih dipangkuannya itu langsung nyosor lantai.

"Apa-apaan sih loe? Bilang dulu dong kalo' mau berdiri!" Kyuubi makin sensi.

"Kan tadi elo bilangnya lebih suka kalo' muka elo jatuh kelantai. Apa gue salah denger ya?"

"What?"

"Aduh. Maaf kan Kyuu-chan ya senpai-Anko! Hari ini mood-nya memang jelek." Kata Itachi sambil menekan kepala Kyuubi hingga memaksa Kyuubi untuk membungkuk ala Jepang. "Apa-apaan sih loe?" Kyuubi hampir tersungkur lagi. Meski badan Itachi itu nggak jauh beda sama Kyuubi – Itachi lebih tinggi 2 atau 3 cm dari Kyuubi – tapi tenaga gede Kyuubi sama sekali nggak berpengaruh ke Itachi, soalnya Itachi ini punya kemampuan memanfaatkan tenaga lawan. Gue pasti kalah telak kalo' berantem sama nih anak. Pikir Kyuubi kesal.

Qiesha d' ariaseta

"Uah…. Capeknya~~" Naruto merebahkan tubuhnya disofa panjang yang ada diruang tamu. Tangannya meraba-raba mencari sesuatu yang biasanya digunakan untuk mengendalikan channel TV (?) – bilang aja remote - . Lalu menyalakan TV dan mulai memindah-mindah channel, mencari anime bagus.

"Naruto, kau menyuruhku datang kesini untuk mengajarimu kan."

"Ahh…. Sebentar dulu ya, Gaara. Gue pusing mikirin tugas! Refreshing bentar lah…."

"Jangan hanya dipikirkan tapi dikerjakan." Jawab Gaara yang ditanggapi Oh yeah oleh Naruto.

GRAK

BRUKK…

DRAP…DRAP…DRAPP…

BRAKKK!

PRANG…

"A. Apa itu Naruto?"

"Kyuu pulang." Jawab Naruto santai seolah sudah biasa, biasa banget. "Kyuubi-kun?" Ulang Gaara yang tersirat makna kok bisa sampe seribut itu?

"Dia pasti nemuin sesuatu yang bisa dijadiin objek pembedahan. Tunggu aja, biasanya Kyuu bakal ngelapor tentang objek-objeknya itu."

"…."

"…."

"…."

Berbicara dalam diam (?) – gimana tuh? - .

"Heh! Naru!"

"Eh, Gaara?" Kyuubi yang buru-buru nongol nggak sadar kalo' Gaara duduk disamping Naruto yang lagi rebahan, ikutan nengok. Gaara mengangguk.

"Em, tadi dijalan gue nemu tumbuhan yang bisa ngebunuh hewan dalam selang waktu hanya sedetik! Hebat bukan? Tapi ternyata setelah gue bawa ke laboratorium, tuh tumbuhan Cuma kena zat adiktif tertentu yang cukup berbahaya buat hewan bahkan manusia pun mampu dibuat pingsan."

Gaara menarik napas lega mendengar penjelasan Kyuubi barusan. Oh… aku pikir apa yang dibedah-

"Oh ya! Gue juga nemuin ini nih!" lanjut Kyuubi semangat sambil nyodorin sesuatu yang dipegang ditangan kanannya.

Kepala tikus yang lagi melet!

"Huekkhhh!" Naruto n Gaara mual!

"Ahhahahhha." Kyuubi berlalu kedapur.

"Kyuubi-kun bisa makan sambil ngeliat itu?" bisik Gaara ke telinga Naruto. "Ada darah yang ngalir didepan meja makan pun dia santai aja tuh! Bahkan lebih semangat buat nikmatin makanannya." Naruto sedikit pucat menceritakan pengalamannya itu.

GLEK. Gaara Cuma bisa menelan ludah. Sepertinya hasil tes psikologi yang dibawa Sasuke-kun memang benar.

.

.

.

"GYAAAAA!"

"Ada apa Kyuu?" Naruto bergegas lari kedapur setelah mendengar teriakan kakak satu-satunya tadi, tidak, lebih tepatnya miliknya satu-satunya – milik? Yah, karna memang Naruto Cuma punya Kyuubi - .

Wajah Kyuubi jelas menampakkan mimik-nggak-suka-n-ngapain-lo-kesini?- keseseorang yang ada dipintu belakang yang mengarah kehalaman luar. "Hn, Itachi-kun?"

"Darimana elo tau rumah gue?" sungut Kyuubi. Mereka itu (Kyuubi n Itachi) memang punya hubungan yang rumit. Nggak bisa dibilang akrab. Nggak setiap hari mereka adu mulut, nggak salah lagi. Tapi mereka itu cukup deket, sejauh mata memandang – cie elah – nggak afdhol rasanya kalo' melihat Kyuubi tanpa iring-iringan Itachi. He? Kata siapa? Suara hati Kyuubi.

"Bukan hal yang sulit untuk mengetahui seluk-beluk orang lain bagi jenius seperti gue."

"Cih! Sombong banget!"

"Rasanya gue pernah ngelakuin dialog tadi deh." Kata Naruto lebih kedirinya sendiri.

"Hai, Naru-chan. Apa kabar?" sapa Itachi begitu menyadari bocah blonde yang melongok dari balik pintu dan seseorang lagi….

"Emm, elo pasti Akamizu Gaara."

"Iya."

"Rumor yang beredar memang benar ya. Akamizu Gaara, siswa cerdas yang mendekati jenius namun belum bisa mengalahkan kejeniusan gue, duduk di kelas VII di SMP Konoha. Beberapa juga mengatakan tentang nada bicara elo yang dingin sekali. Yah, memang persis bapak-bapak."

Apa-apaan sih nih orang? Seenaknya bicara!

"Dan lagi, elo memang mirip dengan seseorang. Apa karna hal itu?" lanjut Itachi sambil melihat kearah Kyuubi mengingat kejadian pagi tadi.

"Keluar dari rumah gue!" Kyuubi nge-death glare.

"Ahhahha. Gue nggak takut sama tatapan mata loe!" ya, memang Cuma Uchiha bersaudara lah yang nggak gentar menghadapi tatapan mata merah Kyuubi yang cukup sangar tapi tetap manis. Hehhe.

"Maaf, Itachi-kun. Sebaiknya Itachi-kun pulang saja. Gue takut Kyuu marah kalo' dia bener-bener nggak suka."

Kyuubi melengos.

"Wah, wah. Adik elo penyayang banget ya~~"

"Gue dateng kesini bukan bermaksud untuk membuat Kyuu-chan marah kok. Jadi Naru-chan tenang saja."

"Terus elo mau ngapain kesini?" tanya Kyuubi sinis. "Ada hal penting yang mau gue bicarain sama elo." Jawab Itachi dengan nada serius.

"Jadi bagaimana kalau Naru-chan pergi bermain saja dengan Gaara-chan?" lanjut Itachi.

"Ukh! Berhenti manggil gue pake' chan! Kesannya kayak anak kecil aja! Lagian gue sama Gaara mau belajar bukan bermain!" sungut Naruto kesal dan berbalik kekamarnya untuk memberi waktu Kyuubi dan Itachi berbicara berdua. Gaara mengikuti Naruto dan mengangguk pada mereka berdua sebelum hilang dibalik pintu.

"Hmm. Adik elo juga mudah percaya banget ya. Ciri-ciri orang yang gampang ketipu. Sayang, ya~~" Seringaian licik tersungging disudut bibir Itachi.

?

"Apaan sih maksud Loe?" Kyuubi mulai curiga sama tingkah sobatnya ini (sobat?). Kenapa gue rasa hawa ruangan ini dingin begitu Itachi masuk ya?

"Bukan apa-apa kok. Gue kesini Cuma mau ingetin elo satu hal."

"Apa itu? Gue nggak ngerasa lupa apa pun." Jawab Kyuubi ketus.

"…. Dia sudah mati, Kyuu."

"Dia?"

"Ya, dia yang mirip dengan Gaara sudah mati n bukankan elo sendiri yang memastikan kematiannya?"

"Gue bener-bener nggak ngerti sama maksud loe. Gue tau kalo' elo itu jenius yang serba tau, tapi elo udah tau sampe kehal-hal yang berbahaya." Geram Kyuubi. Tak sedikit pun gentar tertampak diwajah Uchiha Itachi, justru dia malah makin menyeringai licik. Kyuubi tertegun. Sejauh manakah yang diketahuinya?

"Elo nggak mau tau tah? Misalnya, gue dapet info tentang elo darimana? Or sekedar pengen tau buat apa gue kumpulin semua info tentang elo?" Kyuubi makin tertegun. Doi mematung didepan kulkas yang pintunya tetap terbuka. "Ehm. Kyuu-chan, elo masih mau ngadem dikulkas?"

Cih! Kyuubi baru ingat kalo' hawa dingin yang dari tadi dirasakannya itu dari kulkas yang terbuka lebar menunggu tangan Kyuubi yang nggak sempat mengambil barang sepotong kue pun.

"Hahha. Sudah gue duga ternyata elo nggak sejenius itu, tapi bagaimana elo selama ini bisa menghindar dari tuduhan-tuduhan bahwa…."

"Stop! Gue nggak mau Naruto sampe denger hal ini! Gue nggak peduli sama mau elo datang kerumah gue! Tapi gue suruh elo buat angkat kaki detik ini juga!"

"Aduh, Kyuu-chan~~ gue udah bilangkan kalo' elo teriak-teriak kayak gitu, elo jadi keliatan manis~~"

"Got damn you!"

"Oke2. Gue kesini Cuma mau ngasih tau kalo' elo musti hati-hati sama pion baru yang dikeluarin oleh Madara-san buat…."

"What? Madara? Kenapa elo bisa tau dia?" Kyuubi paling anti sama orang yang namanya Uchiha Madara itu. Ah! Uchiha! Benar sekali! Sudah gue duga…. Raut muka Kyuubi kali ini benar-benar kacau. Ketakutan. Pelarian. Kekerasan. Semua kini terlintas ulang dibenaknya. Entah, mungkin Kyuubi benar-benar takut?

.

.

.

Kyuubi memeluk erat bahu adiknya. Malam ini Kyuubi tidur dikamar Naruto lagi dan mulai menyanyikan lagu nina bobonya untuk Naruto, suara Kyuubi tergolong enak didengar sih.

Naru sayang

Oh Naru sayang

Naru milikku cepat tidur terlelap

Naru sayang

Oh Naru sayang

Something in the morning can make you happy

"Naru, jangan pernah coba buat ninggalin gue. Bilang ke gue kalo' ada orang yang mau misahin elo dari gue. Gue sayang sama Naru." Kata Kyuubi sambil mengecup ubun-ubun bocah blondie itu.

Udah lama banget Kyuu nggak nyanyiin lagu nina bobo yang khusus dia ciptain buat gue, ah, nggak Cuma buat gue, tapi buat semua benda yang Kyuu sayang. Lagi ada masalah, ya? Kyuubi mulai menyanyi lagu itu buat benda-benda – termasuk Naruto – yang disayangnya dari kelas 7 SMP. Dia hobi banget nyanyiin lagu nina bobonya itu ke semua peralatan bedahnya yang ada dilaboratorium. Tengah malam pula! Suaranya itu terdengar sayup-sayup merambat melalui dinding-dinding rumah yang akan diresapi oleh semua yang terjaga ditengah malam.

Kyuubi turun dari kamar Naruto. Beberapa menit kemudian Naruto mendengar kakaknya yang mulai menyanyi. Bulu kuduk Naru meremang.

Apa sih yang paling disukai sama peralatan bedah?

- bersambung -